Ballad of The Dragonstone, Part 4

wp-1482589250612.jpg

 

Melody tinggal disebuah rumah kecil diatas bukit kecil di pinggiran kota. Tiap pagi dia akan turun dan membeli dua buah roti untuk makan siang serta makan malamnya, biasanya Toby sang pemilik toko roti akan menyelipkan sedikit kentang tumbuk, pasta ikan, atau kadang sedikit daging kedalam roti yang dibeli oleh Melody; agar memberi sedikit rasa pada roti hambar yang selalu dibeli Melody.

Melody sadar akan hal itu, beberapa kali dia mencoba mengatakan pada Toby untuk tak melakukannya lagi. Melody tahu Toby hanya mendapat sedikit dari toko roti miliknya, tapi tetap saja pemilik toko roti kecil itu menyelipkan sedikit makanan kedalam roti Melody dengan cara yang baru; sehingga akhirnya Melody berhenti mencoba dan membiarkannya.

Setelah mendapat makan siangnya, Melody akan pergi ke toko kecil yang berada diujung jalan untuk membeli sedikit bubuk Ayana untuk malam hari. Sama seperti Toby, Aendra selalu memberikan bubuk Ayana lebih banyak kedalam kantung yang dibeli Melody. Sama seperti Toby, Melody tahu jika toko Aendra bukanlah toko yang ramai tapi tetap saja sang pemilik berkeras dan membuat Melody terpaksa menerimanya.

Setelah itu semua Melody akan kembali ke rumahnya untuk makan semangkok sup Jagung sebagai sarapan. Ada kebun kecil dibelakang rumah yang ditanami oleh berbagai macam tanaman oleh Melody, dia akan memetik hasilnya sedikit karena kadang dia tak punya cukup koin untuk membeli roti hambar. Tentu Toby akan dengan senang hati memberikan rotinya secara Cuma Cuma, tapi Melody tak ingin lebih menyusahkan peri baik pemilik toko roti itu.

Setelah itu semua barulah Melody berangkat menuju perpustakaan. Jalan kesana cukup jauh karena perpustakaan berada di pusat kota. Sepanjang jalan Melody akan menyempatkan diri untuk memberi salam kepada peri peri lain yang lewat, mereka semua akan membalas salam tersebut, atau minimal memberikan senyum; itu menyenangkan dan Melody sangat menikmatinya.

Dan setiap pagi saat Melody sampai di perpustakaan seorang peri kecil sudah menunggunya. Dia selalu datang lebih awal dari Melody, berdiri tepat didepan pintu dan akan memberikan senyuman lebar kepada Melody saat dia sampai.

“Apa yang ingin kau baca hari ini Eve ?” tanya Melody.

“Aku tak tahu, aku sudah sampai pada bangsa manusia yang hampir punah; mungkin hari ini aku ingin membaca tentang Nephilim yang sudah benar benar punah,” jawab gadis itu dengan senyum ceria yang belum juga hilang.

“Nephilim ya, satu lagi topik yang tak seharusnya dibaca peri seusiamu,” ucap Melody saat memutar kunci perpustakaan.”Kenapa kau tak mencoba membaca yang lebih mudah, kau tahu seperti kuda poni,”

“Bu Melody, aku sudah membaca semua topik mudah itu saat aku berumur 200 tahun. Aku hanya membaca yang belum aku tahu,” ucap Eve yang sedikit merasa kesal mendengar komentar Melody.

“Beberapa ratus tahun lagi, maka semua buku diperpustakaan ini akan habis kau baca,”

“Aku harap begitu,”

Melody membuka pintu perpustakaan dan membiarkan Eve masuk duluan, peri kecil itu lalu terbang ke sesi dimana topik tentang Nephilim berada. Melody seperti biasa akan pergi ke mejanya duluu dan mempersiapkan buku peminjaman jika ada yang ingin meminjam buku, dia lalu melepaskan para babi terbang untuk membersihkan perpustakaan.

Setelah para babi selesai membersihkan perpustakaan, Melody akan memberi mereka tikus panggang sebagai makanan. Lalu dia akan memasukan mereka lagi ke kandang untuk dilepaskan lagi keesokann harinya. Setelah itu semua selesai dia akan melakukan tugas utamanya sebagai penjaga perpustakaan, duduk menunggu sambil kadang memperhatikan Eve terbang lalu lalang mengambil dan mengembalikan buku; seperti itulah harinya dihabiskan.

 

Istana kerajaan, Blood palace.

Sang ratu para monster sedang bermalas malasan diberanda kerajaannya, dia sedang memandangi kota yang sekarang menjadi tempat tinggalnya. Dia tak benci kerajaan ini, dia senang punya tempat untuk tinggal dan gelar ratu bukanlah tambahan yang buruk.

“Sedang menikmati pagi,” ucap sebuah suara dari bayang bayang.

“Ya begitulah,” jawab sang kakak sambil memakan bola mata panggang yang ada dimeja.

“Aku senang kau akhirnya kau bisa menikmati tempat ini,” ucap Godin sambil keluar dari bayang bayang.

“Aku tak pernah membenci tempat ini,” ucap sang Ratu sambil mengambil satu lagi bola mata dan mengigitinya.

“Aku rasa memang sifat Ayah lebih banyak dalam dirimu,” ucap Godin saat melihat wajah cantik kakaknya sedang mengigiti bola mata.

“Ya aku rasa,” jawab sang kakak sambil meludah sisa bola mata keluar beranda.

Godin lalu memberikan gulungan yang dia bawa kepada sang kakak, sang Ratu menghentikan sarapannya dan mengalihkan pandangannya kepada isi gulungan yang diberikan oleh adiknya.

“Kau ingin menyerang para peri ?”

“Iya aku butuh sesuatu dari tempat itu,” jawab Godin.

“Kenapa kau tidak mengirim prajurit untuk bernegosiasi saja ? kau tahu lebih itu lebih gampang,”

“Sesuatu yang kuinginkan tak akan bisa didapatkan dengan negosiasi,”

“Ya terserah, kau yang mengerti apa yang harus dilakukan,”

Sang Ratu mengeluarkan cap yang selalu dia bawa dan membubuhkannya keatas gulungan itu, sebagai bukti persetujuannya atas rencana itu. Dia tak terlalu peduli apa yang sebenarnya diinginkan oleh adiknya, atau rencana yang dibuat adiknya. Dia percaya adiknya tahu apa yang harus dilakukan, dan dia hanya harus duduk dan menunggu hasilnya.

“Terima kasih kak,” ucap Godin saat menerima kembali gulungannya.

“Lakukanlah apa yang terbaik menurutmu,”

“Tentu saja,”

Godin menghilang kembali kedalam bayang bayang, sementara sang Ratu menikmati sisa bola mata yang ada diatas meja; sambil menikmati suasana pagi, sementara sang adik yang berencana kembali mengirim banyak prajuritnya untuk mati; demi kelanjutan dari rencana besarnya.

Luar dinding kerajaan Vulcan.

Didalam sebuah gubuk kecil yang berada diluar dinding kerajaan Vulcan, Chris sang monster pemenang permainan sedang terbaring lemah. Hampir seluruh badannya hancur setelah melawan pimpinan prajurit bangsa mesin.

Dua bangsa mesin berada didalam gubuk itu bersama Chris, seorang mesin tua yang sedang mencoba mengobati luka luka yang diderita Chris, mesin kedua adalah yang membawa sang monster yang tergelatak dipinggir jalan.

“Bagaimana keadaannya ?”

“Lukanya parah, kedua anggota pengeraknya akan kuganti tapi matanya, aku tak bisa melakukan apapun tentang itu,” jawab sang mesin tua.

Sang mesin yang lebih muda memperhatikan monster yang diselamatkannya dari jalanan, dia cukup terkejut melihat keadaan sang monster yang jauh berbeda dari saat dia berada di arena permainan.

“Lakukanlah yang bisa kau lakukan,”

“Kenapa kau melakukan ini Ratu ? bukankah ini sama saja kau melanggar perintah Raja ?”

“Sang Raja tak pernah memberikan perintah atau larangan tentang ini, kau tak perlu khawatir,” ucap Lisa mencoba menyakinkan mesin tua yang membantunya.

“Baiklah, aku akan melakukan semampuku, kali ini saja aku akan membantumu,”

“Aku tahu aku bisa mengandalkan mu Yoran,”

“Tentu saja, sekarang keluarlah dan cari bahan serta alat yang kubutuhkan. Ini aku sudah menyiapkan daftarnya,”

“Baiklah,”

Lisa pergi setelah menerima daftar yang diberikan oleh sang mesin tua dan kembali ke kota, meninggalkan Yoran mencoba memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh satu perintah dari Rajanya. Kerusakan yang sebenarnya hampir mustahil untuk diperbaiki, hanya karena Lisalah yang meminta bantuan Yoran mau mencoba.

Goldshade, istana kerajaan EarthBound.

Penyerangan monster tak pernah menyenangkan, banyak hal yang harus dilakukan setelah penyerangan selesai. Memperbaiki dinding, mengumpulkan senjata musuh yang masih dapat digunakan, mengubur para prajurit yang gugur, tapi tak ada yang lebih menyebalkan daripada menyingkirkan mayat mereka.

Mayat para monster berbeda dengan yang lain, saat para peri mati mayat mereka akan memudar dan berubah menjadi bubuk, saat bangsa mesin mati kau bisa mengunakan sisa sisa tubuh mereka untuk hal lain seperti meleburnya menjadi senjata, saat bangsa monster mati mayat mereka akan membusuk dengan cepat dan meninggalkan bau menyengat.

Karena itulah kami harus mengumpulkan mayat mereka jadi satu dalam suatu lubang lalu membakar mereka. Sisa sisa pembakaran itu adalah bubuk mesiu yang bisa digunakan untuk menembakan meriam.

Itulah rencananya, tapi mayat mayat ini sungguh bau. Aku sudah menutup hidung dan mulutku dengan kain untuk menghalangi baunya. Tapi aku masih bisa mencium bau busuknya dan itu sangat menyakitkan jika harus berlama lama menciumnya.

Tentu aku bisa tak melakukan ini semua, lagi pula aku seorang adik Raja dan mengumpulkan mayat troll dan cylops bukanlah tugasku. Tapi tidak Kyla menyuruhku untuk melakukan ini semua setelah aku menceritakan kepada Zara bagaimana aku mendapat julukan penghancur. Semua usaha Kyla selama ini untuk menjauhkan itu semua gagal, karena aku sendiri yang bercerita bahwa aku disiksa lalu aku kabur setelah membunuh satu pasukan peri.

Tentu para prajuritku berkata aku tak perlu melakukannya, mereka memintaku duduk dan mengawasi saja, terdengar menyenangkan tapi aku tak bisa melakukannya. Kyla akan tahu aku tak benar benar mengumpulkan mayat mayat ini, dan hukuman yang diberikannya akan jauh lebih buruk dari ini; dan aku tak mau sampai itu terjadi.

Jadi aku menolak bantuan dari mereka dan tetap mengangkat mayat mayat bau ini dan melemparkannya kedalam lubang. Butuh waktu seharian untuk mengumpulkan seluruhnya kedalam lubang, setelah itu kami beristirahat dibawah langit yang sudah berubah warna menjadi oranye.

“Silahkan diminum tuan,” ucap seorang prajuritku sambil memberikan ku segelas air.

“Terima kasih,” ucapku.

Air itu terasa nikmat, aku meminta sedikit lagi air untuk membasuh wajahku. Aku membaringkan badanku diatas rumput, aku sudah lama tak merasakan lembutnya rumput saat kau berbaring diatasnya. Mereka semua mengikuti contohku dan mulai berbaring, masih ada sedikit pekerjaan lagi tapi kami akan melakukannya nanti setelah beristirahat.

“Tuan kenapa anda melakukan ini, maaf saya tak bermaksud lancang,”

“Ini adalah hukuman,”

Mendengar jawabanku itu para prajuritku bangkit berdiri dan ekspresi tak percaya terpampang jelas dari wajah mereka. Itu wajar karena gambaran mereka terhadapku adalah prajurit kuat, kejam dan begis, lagi pula sang penghancur adalah julukanku.

“Apakah anda melakukan kesalahan terhadap Raja tuan ?”

“Bukan Raja yang menghukumku,”

“Maaf tuan, tapi siapalagi yang punya kewenangan untuk menghukum anda ?”

“Istriku,” jawabku singkat.”Tertawalah aku tak akan marah,”

Tak ada gelak tawa yang pecah, karena aku yakin mereka masih tak percaya apa yang mereka dengar dan lagi pula siapa yang berani mentertawakan atasan mereka sendiri. Tapi aku tahu dibalik diam mereka itu ada tawa yang tertahan, dan aku tak ingin mereka tertawa dibelakangku.

“Ayolah, apa hanya aku disini yang pernah dimarahi dan dihukum istriku ?” ucapku lagi.

Aku duduk dan memandangi wajah mereka. Menunggu ada sedikit senyum yang mulai membelokan bibir mereka, aku cukup ahli membaca ekspresi wajah dan aku tahu bahwa ada tawa yang tertahan dari mereka.

“Hahahahahaha,”

Akhirnya satu demi satu mereka membuang diam dan mengantinya dengan tawa riang. Jika dipikir aku ingin anak buahku untuk mentertawakanku memang terdengar bodoh, tapi aku ingin membangun rasa percaya dengan mereka dan kejujuran mereka yang sekarang berbentuk tawa adalah dasar dari itu semua.

“Tuan saya pernah dihukum untuk membersihkan kandang kuda karena menghabiskan terlalu banyak uang di bar,” ucap prajurit yang ada dibarisan belakang.

“Saya pernah tak diberi makan malam karena mengatakan dia terlihat gendut,” sambung yang lain.

Tawa menjadi lebih riuh, mereka bertepuk tangan dan tertawa lebar mendengar bagaimana mereka juga pernah dihukum sama sepertiku. Setelah istirahat dan puas tertawa kami menyelesaikan pekerjaan kami, membakar mayat mayat busuk itu lalu kembali pulang. Aku senang karna bisa lebih mengenal dan dekat dengan mereka semua, aku tahu aku akan butuh kepercayaan mereka nanti.

Moonlight.

Satu lagi hari yang melelahkan berhasil diselesaikan oleh Melody. Dia membakar bubuk ayana diperapian untuk penerangan dan agar malam tak terasa begitu dingin. Roti hambar yang dibelinya tadi pagi dibakar dan diberi garam untuk sedikit rasa, dan sedikit teh melati untuk menemani makan malamnya.

Melody duduk didekat perapian untuk menghangatkan tubuhnya, ditariknya selimut yang melingkar ditubuhnya agar lebih erat menghangatkan badannya. Melody belum ingin tidur, dia masih ingin menikmati teh melati yang masih tersisa sebelum tidur.

Tak ada yang spesial dirumah kecilnya, hanya ada sebuah kasur kecil yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Sebuah meja kecil yang digunakannya untuk makan dan membaca buku. Perapiannya juga berfungsi sebagai dapur kecil, dimana dia membakar roti hambar atau kadang membuat sup, jika dia sedang beruntung.

Tapi tak sedikitpun Melody mengeluh, dia suka rumah kecilnya, dia suka orang orang baik yang selalu membantunya. Jika kau sudah hidup sekian lama, saat kau sudah merasakan semua hal buruk atau hal baik yang bisa terjadi. Tinggal dengan damai didalam rumah kecil adalah hal terbaik yang bisa kau dapatkan.

Sebuah ledakan mengejutkan Melody, teh melati nya tumpah berantakan dilantai. Melody melihat keluar jendela dan melihat asap menjulang tinggi dari luar tembok kerajaan. Belum sempat Melody menenangkan diri pintu rumahnya didobrak jatuh. Sekumpulan monster memaksa masuk, dari kumpulan itu berdiri didepan sang pimpinan.

“Apa yang kalian lakukan ?” ucap Melody dengan suara tinggi.

Para monster itu hanya terkikih melihat Melody, sang pimpinan bahkan tak segan untuk tertawa. Dia tak percaya harus capek capek membuat pengalih perhatian, hanya untuk seorang peri tua.

“Nenek, aku akan membantumu untuk bertemu dengan Petros lebih cepat,” ucap sang pimpinan dengan nada yang menghina, dan Melody sadar akan hal itu.

Dengan hidup lebih lama, kau punya banyak waktu untuk mempelajari dan mengetahui banyak hal. Budaya, sihir, taktik perang dan mungkin bela diri. Melody mempelajari banyak hal dalam hidupnya, dan banyak hal itu tak digunakannya lagi, karena dia tak memerlukan mereka.

Dengan adanya sekumpulan monster yang mendobrak masuk, dan merusak teh melati yang sangat disukai oleh Melody; membuat dia harus mengunakan lagi sihir yang sudah sangat lama tak digunakannya. Melody memandangi para monster itu, dia menghitung jumlah mereka. Disakunya ada dua hal yang selalu dibawanya, beberapa koin untuk membeli beberapa hal yang dibutuhkannya, dan sebuah tongkat kecil.

Tongkat itu panjangnya hanya dua kali jari kelingking, terbuat dari tulang burung elang, diwarnai hitam dan ada sebuah permata kecil diujungnya. Melody sudah sangat lama tak mengeluarkan tongkat itu, dan sekarang dia mengarahkannya pada kumpulan monster yang membuat teh nya berantakan diatas lantai.

“Apa yang ingin kau lakukan nek ?” hina sang pimpinan “ merubahku menjadi cacing tanah,”

Para monster lain tertawa terbahak bahak mendengar ucapan pimpinan mereka, sang pimpinan sampai memukul seseorang yang ada disampingnya.

“Jika itu mau mu.” Ucap Melody sambil tersenyum, bukan senyuman ramah yang selalu dia berikan pada Eve, senyuman yang sama yang diberikan oleh Veranda pada malam dia ingin menjemput Eve.

Seketika sebuah cahaya terang menutupi tubuh sang pimpinan, cahaya itu meremukan tubuhnya. Teriakan kesakitan mengaung diatas bukit, para monster lain tak mengerti apa yang terjadi. Mereka mundur dalam ketakutan, melihat tubuh pimpinan mereka hancur dan hanya menyisakan potongan kecil yang mengeliat seperti cacing tanah.

“KAU,” teriak seorang monster lain.

Monster itu berlari membawa kapaknya, mencoba menyerang Melody. Tapi sang peri mengayunkan tongkatnya layaknya pedang, dan tubuh monster itu terpotong potong tak berbentuk.

Tapi para monster bukannya berlari menyelamatkan diri, karena itulah yang Melody harapkan. Dia ingin menjadikan dua monster itu contoh sehingga para monster lain ketakutan dan berlari tunggang langgang. Tapi tidak dia harus membunuh dan menghancurkan tiap monster yang maju mengayunkan senjata padanya, menyisakan potongan tubuh dan darah busuk dilantai dan dinding rumah kecilnya.

“Huh,” Melody menghembuskan napas pendek, dia merasa sedih harus membunuh mereka semua. Dia memandangi kekacauan yang baru saja dia buat, meski merekalah yang menyerangnya tapi dia tak merasa membunuh mereka semua itu hal yang benar. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya sekarang, dia mengayunkan tongkatnya sekali lagi dan semua kekacauan itu lenyap.

“KAU BAIK BAIK SAJA,”

Toby sang pemilik toko roti menghambur masuk, keringat membasahi wajahnya; peri baik itu baru saja berlari dari tokonya hanya untuk memastikan Melody baik baik saja. Saat melihat Melody duduk dikursi, dia merasa lega karena dia baik baik saja.

“Aku baik,” jawab Melody singkat.

“Apa yang terjadi dengan pintunya ?” tanya Toby saat melihat pintu rumah menancap didinding.

“Aku tak tahu, tiba tiba saja ada ledakan. Dan tiba tiba pintuku menancap didinding, ledakan apa itu ?” ucap Melody berbohong.

“Aku juga tak tahu,” ucap Toby sambil berusaha menarik pintu dari dalam dinding “Aku sedang menutup tokoku saat aku mendengar ledakan, aku khawatir karena itu aku kemari untuk memastikan kau baik baik saja,”

“Aku baik tapi jantungku terasa seperti melompat keluar,”

Toby berhasil menarik pintu dari dalam dinding, menyisakan lubang besar ditempat pintu sebelumnya menancap. “Syukurlah kau baik, untuk malam ini aku akan merekatkannya saja, besok pagi aku akan memperbaikinya dan menutup lubang didinding,”

“Terima kasih, dan maaf aku menyusahkanmu,”

Melody sadar jika Toby akan tetap membantu, meski dia menolaknya. Peri baik itu merekatkan pintu itu dengan sedikit tanah yang dicampur bubuk ayana.

“Terima kasih kau selalu baik padaku,”

“Sama sama yang mulia,”

Toby menutup mulutnya dengan cepat karena sadar sudah salah berbicara, dia tak seharusnya memanggil Melody seperti itu. Sudah beberapa ratus tahun semenjak Melody tak dipanggil seperti itu, dan dia terkejut saat Toby kembali memanggilnya dengan panggilan yang sudah lama dia tinggalkan.

“Pulanglah aku ingin tidur,” ucap Melody.

“Ba..baik,”

Toby tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi selain menuruti perintah dari Ratu bangsanya yang pertama. Ratu yang membangun kerajaan ini, yang sekarang ingin menghabiskan sisa harinya dengan tenang.

 

Chris.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s