Breakers, The Super-Powered Agent: Part 9

breakers-cover-arc-1-copy

Sosok Seorang Pemuda ber-iris Kelabu dengan rambut hitam yang acak-acakan, terlihat sedang berdiri di sebuah ruang terbuka di atap sekolah. Dihadapan Pemuda itu tampak dua orang Pemuda yang memakai seragam yang sama dengannya. Seragam SMA putih abu-abu dengan balutan Jaster berwarna Abu-abu juga.

“Aku butuh bantuan kalian”Pemuda ber-surai hitam itu tampak serius dengan yang diucapkannya. Sepasang Iris kelabu miliknya menatap lekat kearah dua Pemuda yang kini berada dihadapannya.

“hah ?”Kedua Pemuda itu tercekat ketika mendengar ucapan barusan. Untuk memastikan, mereka berdua menatap penuh tanya kearah Pemuda ber-surai hitam itu.

“Saat ini Black Crows sudah hancur dan aku tidak punya hak apapun lagi untuk menghukum Sampah-sampah yang berada diluar sana.”Tutur Pemuda itu. Tatapan darinya tampak menggambarkan suatu kebingungan. “Jadi aku ingin minta bantuan kalian untuk membantuku menangkap kedua orang ini”Pemuda itu memberikan dua buah kertas foto berukuran kecil kepada dua Pemuda yang kini berada dihadapannya.

Foto yang diberikan merupakan dua foto laki-laki paruh baya yang umurnya bisa dibilang masih lumayan tua :v.

“bagus. APS juga sedang menyelidiki mereka berdua”ujar Pemuda bernama Willy. Nama itu bisa dilihat di tag name yang ada di atas saku seragamnya.

“Kalo begitu, bantu Aku”Pemuda ber-surai hitam itu menatap lekat Pemuda bernama Willy barusan.

“Apa kamu melakukan semua ini demi Michelle ? Fadhill”Pemuda itu mencoba meyakinkan. Sepasang Iris Cerulian miliknya menatap penuh dengan keingin tahuan kearah Pemuda itu.

Foto yang Pemuda itu berikan adalah Foto Ayahnya Michelle dan Ayahnya Erik.

“mungkin. Aku hanya ingin menolong anak itu dan mengembalikan senyumannya”Pemuda yang dipanggil Fadhill itu mengubah arah pandangannya. Sepasang Iris Kelabu miliknya menatap langit berwarna biru kebiruan yang dipenuhi dengan awan beragam bentuk.

“Tumben lo peduli dengan orang lain. Lo aja gak peduli dengan hidup lo sendiri”Pemuda lainnya yang sedari tadi diam, mulai angkat bicara. Sepasang Iris sewarna Lilac miliknya menatap kearah Pemuda itu datar.

“tenang Jack gak usah bahas, entar Gue cariin cewek yang mau bunuh diri sama lu deh”Pemuda itu mengubah arah pandangannya. Menatap Pemuda yang dipanggil Jack olehnya

“oke gue setuju, gue bakalan bantu lo Dhill, tapi satu lagi, jangan panggil gue Jack”Senyum semringah tampak jelas dibibir Pemuda itu dan langsung menyalami Fadhill yang kini berada dihadapannya.

“oy Ar, maksud si Fadhill itu. Cepet lo mati aja sana”Willy menatap sinis Pemuda yang dipanggil Jack itu. Sementara Jack tidak menanggapi ucapan barusan.

“ternyata lo ini orangnya baik juga ya. Maaf ya waktu itu gue ngerobek perut lo”Pemuda yang dipanggil Jack itu, Aryo teringat dengan kejadian dirinya ketika melawan Pemuda yang kini berada dihadapannya.

“sudah lupakan. Jadi gimana Wil ?”Pemuda ber-surai hitam itu kembali meyakinkan.

“oke, gue bakalan bantu lo tapi dengan satu syarat”Willy sedikit tersenyum licik menatap kearah Pemuda yang Ia panggil dengan sebutan Fadhill itu.

“Syaratnya ?”Pemuda itu menatap kearah Willy, akan tetapi kini tatapannya terlihat tenang.

“lo harus masuk APS. Biar gue yang urus prosesnya”Cetus Willy kemudian.

“oke, tapi lo juga harus kasih tau gue semua kebenarnan tentang lo dan Aryo masuk APS juga apa hubungannya dengan si Pak Tua itu”Pemuda bersurai hitam itu menatap Willy serius.

“gak usah di perjelas, rencana gue emang begitu. Kalo lo udah masuk APS. Gue bakal cerita semuanya”tutur Willy.

Akhirnya mereka menyetujui persayaratan satu sama lain.

FLASHBACK OFF

Willy kini lebih mempercepat laju kendaraannya menuju alamat yang diberikan oleh Ridwan tadi. Sementara Michelle, Gadis itu sedari tadi tidak berhenti menanyakan apa yang sebenarnya mereka lakukan. Karena menurutnya melakukan hal seperti ini untuk menyelamatkannya terlalu berlebihan.

tapi Willy masih fokus untuk mengendarai mobilnya dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari gadis yang kini berada di sampingnya. Ia bermaksud menjelaskannya setelah masalah ini diselesaikan.

“Tunggu saja sampai Fadhill selesai, dialah yang akan menjelaskan semuanya”ucap Willy yang masih fokus dengan kendaraannya.

di lain tempat…

Sosok seorang Pemuda ber-surai hitam tampak berkelit ketika sebuah peluru dari sebuah mobil melesat cepat kearah wajahnya. Pemuda itu berlari dan melompat sampai pada akhirnya Ia berdiri di atas salah satu mobil yang paling depan. Membuat Supirnya tercekat dan refleks menepikan mobilnya.

“Cih merepotkan”Decih Pemuda ber-surai hitam. Kemudian Ia melompat turun dari mobil ketika enam orang berpakaian hitam yang berada di dalam mobil mulai keluar dan menodongkan pistol kearahnya.

“Simpan tangan dibelakang dan menyerahlah”Perintah salah satu dari mereka.

Mendengar hal itu, si Pemuda ber-surai hitam sedikit menyeringai. Sepasang Iris kelabu miliknya menatap tajam dan dingin kearah enam orang berbaju hitam itu secara bergantian.

“Apa kalian yakin masih ingin melanjutkan ini ?”tatapan si Pemuda tiba-tiba berhenti menatap salah satu sosok yang terlihat seperti komandan dari mereka.

“Hahaha, jangan menggertak kami. Kau tidak tau siapa kami kan ?”Tukas Pria berbaju hitam yang di ketahui sebagai komandannya.

“Apakah pertanyaan itu tidak terbalik Tuan James T. Schnyder mantan Anggota M16”Tatapan tajam mengintimidasi masih terlihat jelas di matanya. Menatap Pria berbaju hitam yang sudah Ia ketahui namanya. Seringai menakuktan tak hilang dari bibirnya, membuat Pria bernama James itu sedikit tertekan.

“Bagaimana kau tau namaku ?”James mulai panik. Raut wajahnya berubah penuh ketakutan. Sementara anggota yang lainnya menatap tajam kearah Pemuda ber-iris Kelabu itu. “siapa kau sebenarnya ?”tanyanya kemudian.

Dengan santainya Pemuda itu berjalan kedepan. Tepatnya kearah Pria bernama James itu. Sementara tangannya mulai merogoh kedalam Jasnya dan mengambil sebuah Pistol yang langsung Ia todongkan kedepan.

“Cepat kalian semua menyerah. Aku sedang tidak ingin membunuh seseorang saat ini”Cetus Pemuda ber-iris kelabu yang kini tengah berada di hadapan James.

“Oy, lo jangan bunuh mereka Dhill”

Sebuah suara dari arah samping membuat Pemuda itu tercekat. Dengan cepat Ia menoleh dan mendapati sosok seorang Pemuda tengah tergantung di pohon dengan kondisi Kaki terikat dengan tali. Posisi kepalanya yang dibawah membuat Pemuda itu tampak konyol, ditambah dengan senyuman yang tidak hilang dari bibirnya.

“Oy Ar. Ngapain Lo ?”tanya Pemuda itu yang menatap kearah Aryo yang tak lain adalah Pemuda yang kini tergantung.

“Gue lagi nyoba metode bunuh diri pake tali. Tapi kok Gue gak mati ya. Malah Kaki Gue yang sakit”ucap Aryo.

Mendengar hal itu, Ridwan yang kini masih disibukkan dengan pekerjaannya mulai mengabaikannya dan kembali menatap kedepan. Sementara James dan kelima pengikutnya tampak bingung dengan kehadiran Aryo yang tergantung di pohon.

“Cukup cukup. Kalian jangan lihat kearah lain, abaikan saja orang itu”ucap Fadhill. Sepasang Iris kelabu miliknya kembali terlihat tajam dan dingin.

“Jangan harap kau bisa menang. Kami disini jauh lebih diuntungkan dengan jumlah anggotanya”ucap James.

Sementara Ridwan, Pemuda ber-iris kelabu itu kembali menyeringai. Dalam hitungan detik, Pemuda itu sudah berada di hadapan James dan mencengkeram lehernya. Kelima anggotanya tercekat ketika melihat hal itu dengan cepat mereka mulai mengarahkan Pistol kearah Fadhill.

Ridwan menatap kearah lain. Tepatnya menatap kelima Pria berbaju hitam yang menjadi anak buah James“Jika kalian menembak, orang ini akan mati. Apakah itu yang kalian ingingkan ?”ucapnya kemudian.

Mendengar hal itu, kelima Pria tersbut tampak ragu untuk menembak. Dengan cepat Ridwan memukul tengkuk James dan berlari cepat kearah yang lainnya. Dalam hitungan detik Ia telah berhasil membuat mereka semua pingsan dan kini tugasnya tinggal membawa mereka dan menangkap dua orang kriminal yang berada di Kediaman Keluarga Michelle.

Pemuda itu menoleh. Menatap Pemuda yang kini masih tergantung di pohon. “Oy Ar, Lo beresin mereka semua. Gue harus pergi sekarang”dirinya mulai mengarahkan Pistol kearah Pemuda itu. Dengan cepat tapi pasti, pelatuk mulai Ia tarik dan peluru melesat kearah tali dan membuatnya terputus.

Duak

Aryo pun terjatuh dengan kepala menghantam batu yang ada dibawahnya.“Anjir sakit”kedua tangannya mulai meraih kepala dan mengelusnya dibagian yang sakit.

“Sialan lo Dhill. Lo masih dendam sama Gue”Aryo pun berdiri dan berjalan mendekati Ridwan yang masih menatap keenam orang itu.

Sepasang iris Pemuda itu menatap lekat kearah enam orang berbaju hitam. “Kenapa orang itu bisa menyewa James dan pengikutnya. Siapa sebenarnya orang yang telah membantu mereka”batinnya.

Pemuda itu terhenyak ketika sesuatu Ia rasakan menyentuh bahunya. Dengan cepat Ia menoleh dan mendapati sosok Pemuda ber-iris hitam tersenyum kearahnya. “Cih, Cuma Aryo ya”batinnya.

“Urus mereka, urusan Gue disana belum selesai”Pemuda ber-iris kelabu itu pun bergegas pergi. Tampak dirinya berlari dengan cepat di dalam kegelapan malam.

Semenetara Aryo, Pemuda itu langsung saja menghampiri keenam orang yang pingsan secara bergantian. Kemudian Ia mengumpulkannya di pinggir jalan tepat di dekat pepohonan.

Entah dari mana Ide nya. Pemuda itu langsung saja mengambil beberapa tali yang Ia gunakan tadi. Talinya yang cukup panjang dapat digunakan untuk mengikat keenam orang itu walaupun hanya tangannya saja.

Seringai menakutkan tiba-tiba terlukis dibibir Pemuda itu. Sepasang Iris-nya tampak berkilau menyeramkan. Sementara tangannya mulai mengikat keenam orang itu dimulai dari James, kemudian yang lainnya.

[CHAPTER 9: Case Close ]

Di sebuah Ruangan gelap. Ruangan yang di penuhi dengan berbagai macam peralatan dan benda seorang Ilmuwan. Tampak sosok seorang Pemuda tengah berbicara dengan seorang Gadis yang berada di hadapannya.

Sepasang Iris Biru Pemuda itu menatap dingin ke arah Gadis tersebut. Namun gadis tersebut tampak sudah biasa dengan ekspresi dari pemuda itu dan tidak takut sama sekali atau pun merasa risih.

Pemuda itu memutar tubuhnya, menatap kearah lain dengan tatapan yang masih dingin“Oh, Jadi kamu sudah membunuh Pak Tua itu ya, Queen”ucapnya kemudian.

“Tentu, Jika aku menunggumu, mungkin Pak Tua itu sudah berhasil melarikan diri”Cetus si Gadis yang menatap lekat kearah Pemuda itu.

Pemuda itu mendongah. Menatap langit-langit gelap yang sangat minim cahaya. Kemudian Ia menghela nafas panjang, kedua tangannya Ia masukkan kedalam saku celana dan mulai berjalan kearah pintu yang kini sudah Ia dapati di matanya.

“Tunggu King”

Pemuda itu menghentikan langkahnya. Kemudian Ia sedikit menoleh kebelakang tanpa mengubah posisi tubuhnya. Sepasang Iris dingin berwarna biru miliknya menatap kearah Gadis yang Ia panggil sebagai Queen.

Gadis itu sedikit menunduk. Raut wajahnya tiba-tiba menunjukkan kegelisan yang tiba-tiba muncul begitu saja. Sementara Pemuda itu masih menatap si Gadis dengan tatapan tajam dan dingin serta wajah tanpa ekspresi.

“Naomi”Panggil Pemuda itu.

Gadis itu tercekat dan langsung menatap Pemuda ber-iris biru itu. Wajahnya yang tampak gelisah masih tidak bisa Ia sembunyikan. Sementara pemuda itu kembali menatap kedepan, kemudian Ia melanjutkan langkah kakinya.

“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan” ucap Pemuda itu sebelum pada akhirnya menghilang ketika pintu tertutup.

Gadis itu kembali menundukkan kepalanya. “Aku sudah membunuh orang itu. Orang yang telah membunuh kedua orang tuaku. Tapi…”tangan Gadis itu mulai meraih dadanya. Dirinya mencengkeram erat pakaiannya dan tampak sangat kesakitan. “Tapi kenapa ? Perasaan aneh apa yang ada dihatiku ini

Klek

Gadis itu kembali tercekat ketika suara pintu mengagetkannya. Dengan cepat Ia menyembunyikan rasa kegelisahannya dan menatap kearah pimtu. Seorang Pria berpakaian putih panjang layak sebuah seragam seorang Professor berjalan santai kearah Gadis itu dengan tangan yang Ia masukkan kedalam saku celananya.

Gadis itu langsung menurunkan tubuhnya. Tepatnya ia berlutut ketika Pria itu sudah berada di hadapannya. “Aku siap melakukan perintah Professor”ucap Gadis itu kemudian.

“Aku punya misi spesial untukmu Naomi”Pria itu meraih puncak kepala si Gadis. Kemudian Ia mengelusnya lembut penuh kasih sayang. ”Kemas barang-barangmu, karena mulai besok kamu akan kembali bersekolah”ucap Pria itu.

“Baik Professor”Ucap Naomi yang masih berlutut di dahapan Pria itu.

Dilain tempat…

Ridwan yang sudah tiba di halaman rumah Michelle langsung berhenti ketika dua Pria bertubuh besar menghadangnya didepan. Sepasang Iris kelabu miliknya kini tampak berbeda dengan sebelumnya ketika dirinya bersama Michelle. Tatapannya berubah tajam dan dingin ketika menatap kedua orang itu dan wajahnya kini tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Kedua Orang itu sedikit panik. Keringat mulai bercucuran dari pelipis mereka, karena Aura membunuh dari Pemuda yang kini berada dihadapan mereka tiba-tiba saja terasa. Ketika kedua orang itu mengerjapkan matanya, Ridwan dengan cepat sudah berada di hadapannya.

Kedua orang itu tercekat tapi. Serangan yang dilakukan Ridwan tidak bisa mereka tahan, karena terlalu cepat.

“Cih, Merepotkan, akan lebih mudah jika aku boleh membunuhnya”Decih Pemuda itu sebelum pada akhirnya melanjutkan langkah kakinya lebih dalam memasuki halaman rumah.

Tepat di depan Pintu Kediaman Michelle. Dua orang Pria paruh baya menatap penuh ketakutan kearah Ridwan. Sementar Ridwan, Pemuda itu menatap kedua Pria itu lekat. Tatapan tajam dan dingin tanpa artilah yang dipancarkan dari sorot matanya.

“haahh, tunggu aku tidak bersalah”Pria paruh baya yang diketahui sebagai Ayahnya Michelle tampak sangat ketakutan. Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhnya. Sementara Ayahnya Erik mulai kembali memanggil para Bodyguard-nya.

“Oy Pasukan cepat kesini”Teriak Ayahnya Erik yang tampak ketakutan juga.

Tapi teriakan tersebut tidak ada yang menggubrisnya. Hanya keheningan malamlah yang saat ini menghiasi suasana mereka. “Oy cepat, Jika tidak kalian semua akan aku pecat”bentak Ayah Erik kemudian.

“Mereka tidak akan datang. Orang Gue udah beresin mereka semua”

Suara seorang pemuda diatas atap membuat kedua Pria paruh baya itu menoleh. Sosok seorang Pemuda berambut hitam dengan pakaian yang Rapi sedang santainya berjongkok dan menatap mereka dengan seringai yang tidak lepas dari bibirnya.

“Oy Dhill, Gue boleh bantu kan ?”Tanya Pemuda itu.

“Cih, ini bukan urusan lo Ar. Lebih baik lo pergi sekarang atau lo bakalan kena juga”Jawab Ridwan yang masih menatap kedua orang yang jadi incarannya.

“Gue udah bilang lo jangan bunuh mereka”cetua Aryo dari atas atap.

“Cih, merepotkan”Decih Ridwan kemudian.

Dengan cepat Ridwan berpindah tempat kebelakang mereka. tangannya mulai mencengkeram tangan kedua orang itu. Dalam satu hentakan Ridwan berhasil mematahlan tangan mereka masing-masing. Walaupun hanya masing-masing satu tangan, tapi teriakan dari mereka cukup keras. Membuat seorang Gadis ber-surai panjang keluar dari rumahnya dan menatap dari arah pintu.

Ridwan pun langsung memborgol tangan mereka kemudian membuat mereka pingsan sebelum pada akhirnya kedua orang itu diseretnya pergi meinggalkan rumah besar yang kini sedang dalam keadaan acak-acakan. Sementara Aryo, Pemuda itu mulai turun dari atap dan menatap Gadis yang sedang berdiri di pintu.

Sepasang Iris pemuda itu tampak berbinar. Mungkin jika di Anime, mata Pemuda itu tampak berkilau dan berubah menjadi bentuk Love ketika menatap Gadis itu.

Gadis itu kan Desy, teman sekelasku”Aryo langsung saja berjalan kearah Gadis itu. Sementara Desy, Ia mulai ketakutan ketika Aryo berjalan kearahnya.

Dengan cepat Aryo berlutut dihadapan Gadis itu, kedua tangannya meraih tangan gadis itu dan mulai memainkan jari-jemarinya dengan lembut. Desy yang sedari tadi ketakutan malah menatap penuh tanya kearah Pemuda itu.

“Desy, kamu Desy kan ?”Aryo mulai berbicara dengan tangan yang masih memainkan jari-jemari gadis itu.

“I…iya”Jawab Desy pelan.

Di Lain Tempat….

Willy masih melajukan mobilnya dengan kecepatan yang bisa dibilang cepat. Sementara Michelle, Gadis itu sedari tadi melihat kebelakang, menatap jalanan kosong yang hanya disorot oleh cahaya-cahaya lampu. Terlihat sangat jelas bahwa Gadis itu saat ini sedang dilanda kepanikan, raut wajah yang dapat diartikan dengan kata panik itu tampak terlihat sangat jelas.

“Sebenarnya apa yang dilakukan Rif… Ridwan ?”tanya Gadis itu. Sementara tatapannya masih menatap kebelakang.

“Aku sudah bilang, serahin masalah itu sama Fadhill”jawab Pemuda itu.

Gadis itu tiba-tiba tercekat ketika mobil berhenti dengan tiba-tiba. Dengan cepat Ia menoleh, menatap Willy yang tampak ternganga ketika sepasang matanya mendapati dua orang Laki-laki berpakaian Tentara dalam keadaan mengenaskan.

Kedua Tentara itu sudah dapat dipastikan meninggal. Posisinya yang terbaring di tembok di sebuah bangunan yang cukup besar. Leher yang dipenuhi luka sayatan yang menyebabkan darah merembes keluar. Perut yang robek membuat Organnya terlihat sangat jelas ketika lampu mobil menyorotnya.

“Apa benar tempat ini yang dimaksud Fadhill ?”ucap Willy kemudian.

Michelle yang mendengar itu langsung mengubah arah pandangannya. Sepasang Iris coklat miliknya menatap ke arah yang dilihat Willy. Pupilnya tiba-tiba melebar ketika mendapati kedua mayat tersebut. Dengan cepat Ia memejamkan matanya, kedua tangannya mulai menutup mulutnya, mencoba untuk menghilangkan rasa mual yang tiba-tiba begitu saja.

“Apa yang terjadi ?”Pekik Michelle pelan. Sepasang irisnya mulai mengeluarkan butiran air mata, dirinya sungguh ketakutan melihat pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya.

“Aku tidak tau pasti. Tapi disini ada yang tidak beres”sahut Willy.

Willy langsung membuka pintu mobilnya, Kakinya mulai melangkah keluar untuk memeriksa keadaan. “Michelle, kamu tunggu disini”Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Michelle.

Pintu gedung yang kini berada dihadapannya, mulai Ia buka secara perlahan. Suara derit dari pintu menggaung di seluruh ruangan yang kini di seluruh koridor maupun tangga tampak di penuhi dengan mayat.

Melihat itu, Willy langsung saja berlari. Menelusuri koridor-koridor dan sesekali Ia masuk kedalam ruangan-ruangan yang Ia dapati di matanya. Sampai pada akhirnya Ia berhenti, ketika matanya mendapati sebuah ruangan dengan tulisan yang tampak begitu Familliar baginya.

“Shania Gracia ?”Guman Willy.

Firasat buruk yang tiba-tiba dirasakanya membuat Pemuda itu mengambil pistol dibalik Pakiannya. Secara perlahan tapi pasti, dengan langkah yang teratur, Pemuda itu langsung membukan pintu tersebut. Pintu bertuliskan nama pasien Shania Gracia yang Ia ketahui sebagai adik Ridwan.

Klek

Willy mulai membuka pintu. Sepasang Iris pemuda itu menatap nanar kearah depan ketika pintu terbuka lebar. Firasat buruk yang Ia rasakan ternyata benar-benar terjadi.

 

To Be Continued

Iklan

Satu tanggapan untuk “Breakers, The Super-Powered Agent: Part 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s