Siapa?

lrm_export_20170109_214329

Shit!” Ingatanku kembali dihantui oleh wajah seorang gadis yang tadi sore membuatku sangat kesal. Entah apa yang ada di pikirannya hingga dengan sengaja menumpahkan jus keatas bajuku.

Aku hanya bisa terdiam bingung sambil memandanginya heran. Aku bahkan tidak mengenalnya, jadi bagaimana ia sampai berani melakukan hal itu padaku. Setelah melakukan kesalahannya, dia malah seenaknya pergi meninggalkanku tanpa penjelasan.

Kejadian tadi terjadi saaat aku lagi makan di sebuah cafe kecil langgananku di pinggir kota. Entah dari mana datang gadis itu, tiba-tiba saja ia sudah berdiri di sampingku dan tanpa makian atau kata-kata kotor, gadis itu menyiramku dengan jus dari gelas yang ada di tangannya.

What the f**k!” Kalimat pertama yang keluar dari mulutku. Tapi, gadis itu seperti tidak perduli dengan ekspresiku saat itu dan setelahnya ia juga langsung pergi meninggalkanku. Begitu sadar gadis itu pergi keluar, aku pun mengejarnya. Tapi aku terlambat, gadis itu sudah masuk ke dalam mobilnya dan pergi.

Sakarang bajuku basah, noda berwarna pink juga menghiasinya. Dari baunya aku bisa menebak, ini adalah jus strawberry yang tadi sempat terasa sangat dingin menyentuh kulitku.

Musik yang berdentum keras di headsetku saat ini, masih tidak bisa juga menghilangkan pikiranku tentang gadis tadi. Otakku terlalu sibuk mencari clue siapa sebenaranya gadis itu dan apa masalahnya denganku.

Aku baru sampai rumah dan langsung diiringi pandangan heran dari ibuku. Otaknya pasti sedang bertanya-tanya kenapa bajuku bisa berwarna seperti ini.

“Kamu habis ngapain, baju kamu kok bisa-bisanya jadi gitu?”

“Gak habis ngapa-ngapain kok Mah, cuman aja tadi ada cewek gak sengaja ngebalikin jusnya ke baju aku.”

“Ohh, gitu yah? ya udah, kasih ke Bibi gih buruan! biar langsung dicuci, nanti warnanya bisa nempel tuh.”

“Iya Mah, Arez mau ke kamar buat ganti baju dulu.”

“Ya udah, buruan sana.”

~oOo~

Pintu kamarku diketok seseorang ketika aku baru saja merebahkan badan di kasur setelah menyerahkan baju kotorku ke pembantu untuk dicuci.

“Masuk!” ucapku sambil beranjak duduk. Pintu kamarku terbuka dan ternyata yang tadi mengetok adalah adikku, Shani.

“Kakak lagi sibuk?”

“Sibuk apaan? lagi duduk di kasur gini.”

“Hehe, kali aja kan Kakak lagi sibuk.”

“Ada apaan?”

“Besok Kakak sibuk gak? Ada kerjaan gitu yang gak bisa ditinggalin.”

“Emm.., gak ada sih, emangnya kenapa?”

“Temenin aku nonton dong, please!

“Kenapa kamu gak ngajak temen-temenmu? kan rame.”

“Ihh…, aku maunya sama Kakak aja, kan udah lama tuh kita gak jalan bareng,” ucapnya sambil tersenyum.

“Iya deh, iya, besok aku temenin.”

“Yeaayy, makasih Kak.” Shani nampak bahagia, “Oh iya, perginya sore yah, biar sempet jalan-jalan dulu,” tambahnya.

“Emang kapan film-nya diputar?”

Midnight.”

“Emm.., Ya udah.” Aku pun beranjak turun dari ranjang lalu berjalan mendekatinya, “dah, keluar! Kakak mau tidur, udah ngantuk banget nih.”

“Yahh, ngusir,” ucapnya dengan nada kecewa, ”Ya udah, met tidur Kakakku yang ganteng,” ucapnya sambil berjalan mundur, lalu pergi meninggalkanku.

“Malam juga adekku yang bawel,” ucapku pelan sambil menutup pintu.

Kamar pun kembali sepi, tak ada suara apapun selain detak jarum jam di dinding yang terdengar. Perlahan kupejamkan mata sambil berdo’a, semoga malam ini aku bermimpi indah.

~oOo~

“Kakak… bangun!” Sebuah bantal melayang tepat mengenai wajahku diiringi dengan teriakan adikku.

“Emmhhh…” Aku terlalu malas untuk membuka mataku dan bergerak untuk bangun. Dinginnya hari membuatku ingin tetep berada di dalam selimut saja. Kutarik selimutku kembali dan menutupi seluruh tubuhku lagi dengan benda itu.

“Yaahh, malah tidur lagi dia.” Shani terdengar kecewa, “Mamah udah nungguin di bawah Kak, buat sarapan, cepetan!” ucap Shani, lalu setelahnya terdengar suara langkah kakinya pergi meninggalkan kamarku.

Kusisihkan selimut dari tubuhku lalu beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi. Airnya terasa sangat dingin ketika menyentuh kulitku, cuaca yang dingin sudah mengubah semuanya menjadi es.

“Ehh…, anak mamah udah bangun. Mau sarapan apa sayang?” Tak biasanya ibuku bertingkah seperti itu. Aku jadi curiga, ada apa sebenarnya.

“Ada apaan sih Mah? tumben pagi-pagi udah baik banget, gak kayak biasanya,” ucapku sambil menuang sendiri air teh panas ke gelasku.

“Mamah kan hari ini mau pergi, Kak,” jawab Shani yang terlihat meniup-niup nasi yang asapnya masih mengepul dan panas di piringnya.

“Nasi jangan ditiup-tiup gitu Shan, gak baik. Biarin aja dingin sendiri!”

“Iya tau Kak, bawel amat sih… bwee.” Dia menjulurkan lidahnya mengejekkku. Dasar Shani, pagi-pagi udah ngajak ribut.

“Oh iya, emang Mamah mau kemana?” Aku melihat kearah ibuku yang sedang menyuap potongan terakhir roti dari piringnya, ”Loh, mamah gak makan nasi?”

“Hari ini Mamah mau ke Bandung buat urusan kantor, sekalian mau ke rumah teman Mamah yang di sana. Udah lama banget gak ketemu,” jawabnya.

“Emm… gituh. Ya udah, hati-hati di jalan yah,” ucapku kemudian menyuap nasi di sendokku.

“Oh iya Mah, jangan lupa nanti bawa oleh-oleh yah,” ucap Shani.

“Dasar anak kecil, minta oleh-oleh mulu.”

“Biarin, suka-suka aku lah, kan bukan Kakak juga yang beliin,” ucapnya sambil memasang senyuman mengejek.

“Udah udah, pagi-pagi udah berantem aja. Ya udah, Mamah berangkat dulu.”

“Kapan pulang, Mah?” Tanyaku sebelum ia beranjak dari kursinya.

“Bentar aja kok, palingan hari minggu udah balik,” jawabnya lalu pergi meninggalkan kami.

Shani menyusul ibuku keluar rumah untuk mengantarnya pergi, sedangkan aku dengan perlahan memulai sarapanku, nasi goreng telur ceplok.

Setelah sarapan aku pun beranjak menuju ruang keluarga untuk menonton TV, sambil menunggu sore yang masih sangat lama datangnya.

~oOo~

Entah jam berapa sekarang, karena aku baru saja terbangun dari tidur. Aku baru ingat, ternyata tadi aku ketiduran sambil menonton TV dan kutinggalkan dengan keadaan menyala. Tapi, entah kenapa sekarang TV itu sudah mati? mungkin Shani yang sudah mematikannya.

“Kak, yuk siap-siap, udah sore nih.” Tiba-tiba Shani datang mendekatiku yang sekarang sudah duduk sambil menggerak-gerakkan leher yang terasa pegal akibat tidur di sofa.

“Udah jam berapa sekarang?”

“Hampir jam enam nih, cepetan deh Kakak mandi.”

“Iya.. iya. Ya udah, aku mandi dulu,” ucapku beranjak dari sofa menuju kamarku.

Pukul 19.16, kami baru saja sampai di Mall tempat kami bakal nonton, tapi sebelumnya Shani mengajakku untuk jalan-jalan dahulu, sepertinya dia bakal banyak belanja kali ini. Terlihat dari ekspresinya yang bahagia dia bakal melakukannya, sepertinya sebelum ibuku pergi dia sudah diberi duit yang banyak.

Hampir satu jam berkeliling Mall menemani Shani, perutku mulai terasa lapar. Aku pun mengajak Shani untuk makan, biar nanti bisa menikmati film tanpa ada rasa lapar di perut yang mengganggu. Setelah makan, kami pun langsung bergerak menuju bioskop.

Tempat duduk yang dipilih Shani sangat pas sekali, tepat di barisan tengah dan nyaman untuk menonton. Film berdurasi 2 jam sangat menyiksa kadang-kadang bila salah ambil tempat duduk.

Filmnya terlalu asik, hingga membuatku tak sadar bahwa filmnya sudah habis. Entah berapa lama durasi film itu, yang pasti film tadi membuatku dan semua penonton merasa terhipnotis. Sedih, senang, bahagia, semua tercampur dalam adegan film tersebut.

Lampu theater sudah menyala, membuat mata perlu membiasakan cahaya yang masuk melalui mata. Entah kenapa tiba-tiba pandanganku terfokus pada seseorang yang sepertinya kukenal. Gadis yang kemaren menumpahkan jusnya di bajuku ternyata juga sedang berada di sini.

Aku langsung beranjak dari kursiku cepat hendak mengejarnya, tapi aku agak terkejut ketika sebuah tangan menarikku. Aku baru sadar ternyata aku sedang bersama Shani.

“Mau kemana Kak buru-buru? tungguin kali.”

“Ehh! Maaf, kakak lupa lagi bareng kamu.”

“Dasar.” Ucapnya sebal, “Emang ada apaan sih? kayaknya buru-buru banget deh.”

“Emm…, gapapa kok.” Aku menjawab sekenanya.

“Jangan bohong deh Kak, cepetan ada apaan?”

“Gini, tadi kakak ada liat seseorang yang kayaknya kakak kenal.”

“Ohh…, emang siapa?”

“Gak tau,” jawabku.

“Lah! katanya Kakak kenal, gimana sih?”

“Entar deh aku ceritain, yuk pulang!” Aku pun menarik lengan Shani, menuntunnya pergi meninggalkan theater bioskop yang sudah mulai sepi.

Selama di mobil, aku menceritakan semua kronologis kejadian di cafe saat aku bertemu gadis itu pada Shani. Sebenarnya aku tidak dendam dengannya, cuman aku sangat penasaran kenapa dia melakukan itu. Kalaupun itu tidak sengaja, kenapa dia langsung pergi dan tidak meminta maaf, kan aneh.

“Ihh…, kalo gitu kenapa tadi gak Kakak kejar?”

“Gimana aku mau ngejar, tangan Kakak kamu pegang.”

“Ehh! Hehe… maaf deh Kak, gak sengaja,” ucap Shani sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Ahh… sudah lah, Kakak gak mau mikirin dia lagi, gak ada manfaatnya juga.”

“Hemm…, kalo jodoh entar ketemu lagi kok Kak.”

“Ya kali jodoh, kenal juga kaga.”

“Kan mana tau Kak,” ucap Shani mengakhiri semua pembicaraan karena kami sudah sampai di depan rumah.

Setelah turun dari mobil, aku langsung pergi menuju kamarku. Jalan-jalan hari ini lumayan melelahkan, yang pasti menemani Shani berbelanja yang paling menyakitkan. Setelah sampai kamar, langsung kurebahkan badanku di kasur untuk melepas penat sebelum pergi mandi.

Aku baru hendak beranjak dari kasur ketika sebuah pesan masuk di ponselku.

“Errr… siapa sih kirim pesan malam-malam gini?”

Kuambil benda itu dan kulihat sebuah nama yang kukenal di pesan itu, ibuku. Langsung kubuka pesan itu dan kubaca. Ternyata dia memintaku untuk menyusulnya ke Bandung. Entah ada apa? tak ada alasan yang ia berikan, hanya perintah.

Kuletakkan kembali ponselku setelah membalas pesan ibuku, kemudian pergi mandi. Air hangat yang menyentuh kulit terasa nikmat sekali malam ini. Sangat efektif menghilangkan penat ditubuhku setelah jalan-jalan melelahkan sore tadi

~oOo~

“Kak, temenin aku ke supermarket dong.” Pagi-pagi sekali Shani mengajakku pergi, padahal aku terlalu malas bergerak meninggalkan novel yang sedang kubaca.

“Kamu pergi sendiri aja lah, kan udah bisa bawa mobil sendiri.”

“Cepetan, pesanan Mamah banyak.”

“Heh! Pesanan?”

“Iya, pesanan Mamah. Malam tadi dia SMS aku buat bawa pesanannya ini ke Bandung.”

“Laah, kamu dapat SMS juga?”

“Iya,” jawabnya sambil menarik tanganku untuk beranjak dari kursi yang sedang kududuki.

“Emang pesanannya apaan sih? Kan mamah bisa beli sendiri di Bandung.”

“Eitt…, Kakak gak boleh tau.”

“Kok gak boleh tau?” Tanyaku bingung.

“Entah, tapi kata Mamah sih gitu, ‘Kakak kamu gak boleh tau!’, udah.”

“Kalo aku gak boleh tau, ngapain kamu ngajak aku pergi?”

“Kan perintah Mamah juga, jadi aku cuman ikut aja.”

“Hesshh…, bikin bete aja.”

Karena semua perintah ibuku, terpaksa aku harus meninggalkan singgasanaku yang nyaman, yang dari jam tujuh tadi menemaniku bersantai. Aku penasaran apa saja yang bakal dibeli Shani untuk dibawa ke Bandung atas perintah ibuku.

“Weii… kak, cepetan berangkat!” perintah Shani yang duduk di sampingku  menyadarkanku dari lamunan.

“Iya.. iya, bentar, mobilnya dipanasin dulu.”

“Makanya cepetan.”

“Isshh…, bawel amat sih.”

Setelah beberapa menit memanaskan mesin mobil, aku pun langsung memacunya menuju supermarket.

Matahari mulai memancarkan sinarnya yang hangat menembus jendela mobil, menyentuh kulit dengan lembut. Jalanan terlihat masih sangat sepi dengan pengguna jalan, padahal hari ini adalah weekend.

Shani langsung turun dari mobil ketika aku baru saja selesai memarkirkan mobil. Dia terlihat sangat buru-buru, membuatku bingung. Aku sedikit penasaran dengan apa yang bakal dibelinya, sepertinya aku perlu melihatnya secara diam-diam.

Kutinggalkan mobil di parkiran dan langsung menyusul Shani kedalam. Market ini terlalu besar, membuatku bingung harus menuju kemana mencari Shani yang sudah tak terlihat lagi batang hidungnya.

Mungkin aku perlu menceknya di barisan makanan terlebih dahulu. Aku langsung menuju barisan rak makanan yang super duper banyak, tapi aku tak menemukannya juga. Aku pun beranjak pindah menuju rak yang lain. Alangkah terkejutnya aku ketika seseorang menabrakku saat berjalan.

“Huff, sorry, gak sengaja,” ucapku sambil memungut keranjang yang tadi sempat terjatuh saat ia menabrakku.

“I-iya, gapapa,” jawabnya sambil menerima keranjangnya yang kuberikan sambil membetulkan kacamatanya.

“Hei! Kamu?” Aku sangat terkejut setelah menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapanku. Entah nasib apa yang sudah membuatku selalu bertemu dengannya, karena ia adalah gadis yang beberapa hari yang lalu membuatku kesal.

Ketika dia hendak beranjak pergi, langsung saja kupegang tangannya dan membuatnya berhenti.

“Ehh! Ada apa?”

“Kamu yang kemaren nuangin jus di baju aku kan?”

“Heh!? Aku?”

“Iya, kamu. Bener kan?”

“Kamu siapa?” Dia bertanya berlagak tidak mengenalku dan itu membuatku sedikit bingung.

What!? kamu yang siapa? kemaren seenaknya aja ngebalik jus di baju aku. Aku salah apa sama kamu? aku aja gak kenal kamu.”

“Heii.., aku juga gak kenal kamu, kamu salah orang kali,” ucapannya sedikit menyadarkanku. Sepertinya aku memang salah orang, tapi aku masihingat wajahnya, walau ia menggunakan kacamata,aku yakin bahwa dia pelakunya. Tapi, entah kenapa dia tidak mengenalku.

“Tidak.. tidak, aku gak salah orang. Itu kamu, jujur aja!” paksaku.

“Gak bisa gitu dong! kenal kamu aja aku enggak, gimana aku bisa begitu sama kamu? konyol,” ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkanku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Aku terdiam olehnya. Termenung, sambil melihatnya pergi dan menghilang di balik rak keperluan sehari-hari.

“Hei!” Sebuah suara mengagetkanku dari belakang dan ternyata itu berasal dari Shani.

“Dueehh… Shan, ngagetin aja.”

“Heeeh? Kakak juga sih, pagi-pagi udah bengong aja.” Dia memandangku heran, “betewe, kakak ngapain di sini? mau liatin apa yang aku tukar yah?”

“Hemm…, tau aja,” ucapku sambil tersenyum.

“Gak boleh.”

“Yee, sedikit aja Shan.”

“Tetep gak boleh. Semuanya udah masuk dalam kotak,” ucapnya sambil memasang senyum kemenangan.

What? Semua udah kamu beli?”

“Udah lah, kan barangnya tinggal aku ambil aja.”

“Heh? Tinggal ambil?”

“Iya, tinggal ambil. Temen aku kan kerja di sini, jadi daftar barangnya udah aku kirimin sama dia malam tadi dan pagi tadi dia nyariin semua barangnya. Kalo semua udah dapat, langsung dimasukin ke kotak.” Shani menunjuk ke beberapa kotak berwarna coklat di dalam troli tak jauh dari meja kasir.

“Sial!” Shani nampak tersenyum melihatku kesal.

~oOo~

“Kak, buruan deh, siap-siap buat packing!” Shani menarik-narik tanganku untuk segera mengemas pakaian untuk pergi ke Bandung buat menyusul ibuku.

“Duuh, bentar dong Shan, masih belum kelar nih baca novelnya.”

“Baca di mobil aja kali Kak, udah mau siang ini, entar sampai di sana bisa-bisa kemalaman.” Shani seraya merampas novel di tanganku, ”Buruan!”

“Iya… iya, bawel amat. Kenapa sih aku perlu ikut? aku kan lagi pengen santai.” Gerutuku sambil berjalan menuju kamar.

Setelah bersusah payah memilih baju untuk kubawa dan keperluan lainnya, aku pun menyusul Shani menuju mobil yang sedari tadi sudah siap meluncur pergi.

“Kakak bawa apa aja sih, sampe lama banget packingnya?” tanya Shani sambil matanya menatap jalanan.

“Ya keperluan biasa lah,” jawabku yang beranjak duduk di jok belakang hendak menyambung novel yang tadi sempat direbut Shani. “Oh iya, kamu tau gak alasan Mamah minta kita menyusul dia ke Bandung?” sekarang aku yang bertanya padanya.

“Gak tau,” jawabnya, “Kakak tau gak?” tanyanya balik.

“Ya mana aku tau, makanya nanya kamu, kali aja kamu tau. Kan kamu yang disuruh Mamah buat beli barang-barang pesanannya.”

“Ya kan aku cuman disuruh doang Kak,” jawabnya

“Ya udah deh.” Aku kembali memfokuskan pandanganku ke novel yang ada di pangkuanku, “Nyetirnya bener-bener yah!” pesanku padanya.

Setelah menempuh tiga jam lebih perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami sampai di depan rumah kami yang ada di Bandung. Terlihat mobil ibuku terparkir di garasi, tapi rumah nampak sangat sepi sekali.

“Kok sepi banget yah?” aku agak bingung dengan suasana sepi ini.

“Wajar kali kak, kan beda sama rumah yang di Jakarta,” balas Shani sambil menenteng tas pakaiannya yang ternyata lumayan banyak, keluar dari mobil.

“Buset, bawa tas sebanyak gitu buat apaan Shan? emang ada acara pesta?”

“Yee, kayak gak tau keperluan cewek aja, Kak.” Dia berjalan meninggalkanku masuk ke dalam rumah.

“Tuh kan bener, Mamah gak ada di rumah, makanya sepi,” ucapku setelah memeriksa sekeliling rumah dan tak ada seorangpun. “Tapi, dia perginya bareng siapa yah? mobilnya gak dipake.”

“Berisik amat sih Kak,” celetuk Shani dari dalam kamarnya, “Palingan mamah pergi sama temen kantornya.”

Ahh, benar juga sih apa yang dibilang Shani, biasanya kalau ibuku pergi dan gak pakai mobil pribadi, pasti perginya pakai mobil kantor. Ya sudahlah, palingan nanti ada aja kirim pesan ‘lagi di mana?’ pikirku sambil berjalan menuju kamar untuk istirahat.

~oOo~

Aku dan Shani baru saja sampai di depan sebuah rumah yang sangat besar, dengan gerbang yang menjulang tinggi yang menurutku hampir tak ada yang berani menaikinya.

“Ini rumah siapa sih?” tanyaku pada Shani yang duduk di balik kemudi.

“Gak tau, kita liat aja nanti.”

“Aku penasaran, siapa sih temen Mamah yang punya rumah segede gini.”

“Ya liat aja nanti, habis pintu rumahnya kebuka,” balas Shani sambil melirik spion mobil, berusaha memarkirkan mobil dengan pas di sisi jalan.

“Kalo itu aku juga tau Shan,” ucapku kemudian membuka pintu di sampingku.

Aku dan Shani berjalan berbarengan, menuju pintu rumah yang terlihat sangat besar dan megah. Aku yakin pemilik rumah ini sangat kaya raya, hingga mampu membuat pintu depan rumahnya sebesar yang kulihat sekarang.

“Buruan pencet bell-nya.” Shani memintaku karena bell berada tepat di depan sebelah kananku.

Tanpa ragu kupencet bell itu, lalu menunggu respon dari si pemilik rumah. Butuh waktu beberapa detik menunggu hingga pintu di hadapan kami terbuka.

“Ehh… udah pada datang, mari masuk!” ucap wanita cantik di hadapan kami yang membuatku sangat terkejut. Bukan karena ucapannya, tapi karena aku sangat mengenal siapa wanita yang berdiri di hadapan kami sekarang.

Sungguh pertemuan yang sangat tidak kuduga. Setelah sekian lama tidak bertemu dengannya. Wanita di hadapanku sekarang adalah teman lama ibuku, yang dulu sering datang ke rumahku. Tapi setelah ia pindah kerja, ia tak pernah datang lagi.

“Arez, buruan masuk! jangan bengong aja,” ucapnya menyadarkanku dari ingatan yang panjang dan juga rasa terkejut.

“I-iya, Tante.” Aku langsung melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah, menyusul Shani yang lebih dulu masuk, meninggalkanku di depan pintu. Kelakuan tuh cewek.

“Waahh, gede banget yah rumah Tante,” ucap Shani yang kagum dan terlihat mengamati seluruh isi rumah, “gak kayak rumah Tante di jakarta dulu.”

“Sebenarnya dulu ini bukan rumah Tante, tapi setelah orang tua pada meninggal, ya diwariskan sama Tante.”

“Ngomong-ngomong Mamah mana, Tante?” tanyaku yang tidak melihat ibuku dari tadi.

“Ohh…, ada kok, lagi di dapur tuh, nyiapin makanan buat kalian kalo udah datang,” jawabnya dengan wajah yang nampak tersenyum.

“Emm.., gitu.” Aku menganggukan kepala paham, “kalo gitu, aku boleh ke dapur juga gak, Tante?”

“Boleh, silahkan aja,” jawab si Tante mempersilahkan.

Aku pun langsung melangkah menuju dapur setelah mendapat izin dari si Tante. Aku punya beberapa pertanyaan pada ibuku, makanya aku ingin secepat mungkin bertanya padanya. Yang pasti, aku sangat ingin menanyakan alasan kenapa ia memintaku untuk datang ke kota ini.

Aku baru saja masuk pintu dapur, tapi aku tidak menemukan ibuku di sana, hanya bertemu seorang cewek kurus berambut panjang yang terlihat sedang menggoreng sesuatu. Kupikir sebaiknya aku bertanya padanya di mana ibuku.

Namun, saat aku hendak menyapanya, aku mendengar sebuah suara datang dari arah belakangku. Aku menoleh, dan ternyata itu ibuku.

“Ehh.. Mamah..”

“Kamu ngapain di sini?”

“Nyariin Mamah lah,” jawabku.

“Kalo nyariin Mamah, terus kamu ngapain deketin dia?” tanya ibuku sambil melihat kearah cewek yang sedang memasak tadi.

“Gak ngedeketin kok, cuman mau nanya aja, Mamah ada di mana.”

“Masa? Emang kamu tau dia siapa?”

“Pembantu, bukan?”

“Enak banget yah Tante, si Arez ngatain aku pembantu,” ucap si cewek yang nampak sudah selesai memasak, lalu berpaling.

Alangkah terkejutnya aku setelah melihat wajah si cewek. Wajah yang sangat aku tidak bisa lupakan setelah kejadian hari itu. Kecelakaan yang disengaja olehnya yang membuatku sangat kesal.

“Kamu!?”

“Siapa?” ucapnya dengan wajah santai.

“Udah ingat belum?” tanya ibuku mengalihkan pikiranku.

“Ingat apa, Mah?”

“Udah ingat belum dia siapa?” tanyanya lagi.

“Dia itu yang ngebalik jus di baju aku tempo hari, Mah.”

“Oh,” balasnya dengan santai, “terus, selain itu? ingat gak dia siapa?”

“Emm… Enggak,” jawabku dengan nada bingung, “emang dia siapa?”

“Masa gak ingat?” ucap si cewek sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Dia kan anaknya Tante Manda, yang dulu sering main sama Kakak.” Tiba-tiba Shani datang bersama Tante Manda dan berdiri di depan pintu dapur, “masa lupa?”

Aku langsung melihat tepat kearah si cewek, menyisiri setiap lekuk tubuh dan wajahnya, mengingat apa saja yang mirip dari si cewek yang bisa mengingatkanku pada bocah yang dulu sering bermain bersamaku.

“Chika?”

Akhirnya aku bisa mengenali siapa dia sebenarnya, dan akhirnya aku juga mengerti kenapa beberapa hari ini terjadi kejadian aneh yang berulang-ulang. Ternyata semua hanya akal-akalan mereka berempat.

 

TAMAT.

 

Pesan Author:

Jangan pernah percaya dengan cover! belum tentu isinya sesuai harapan lu.

 

– efekutang.wordpress.com –

Iklan

4 tanggapan untuk “Siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s