Breakers, The Super-Powered Agent: Part 8

Seminggu telah berlalu. Tapi Michelle tak kunjung masuk ke sekolah. Grace dan Sisca selalu berencana untuk pergi kerumahnya. Tapi Michelle selalu melarangnya lewat pesan.

Karena sudah kebingungan, Grace dan Sisca juga di damping Willy memutuskan untuk bertanya kepada Ridwan apa yang terjadi dengannya dan kenapa Michelle bersikap aneh.

Di atap Sekolah Ridwan terlihat sedang mengobrol dengan Aryo. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang menyangkut Code 01: King. Tapi obrolan itu segera dihentikan karena Grace dan Sisca juga Willy sudah berada di sana.

“hey Fadhill, cepat ceritakan apa yang menimpamu dan Michelle waktu itu ? kenapa Michelle tidak masuk sekolah selama seminggu dan melarang kita kerumahnya”ucap Grace yang sudah mulai marah.

“entahlah, aku tidak tau”balas Ridwan tanpa melihat kearah mereka.

“sudah-sudah kalian tenang dulu. ada apa ini sebenarnya dan apa yang dilakukan anak ini”ucap Aryo sambil tersenyum kearah Grace dan Sisca.

“dia siapa ?”bisik Sisca kepada Grace.

“aku juga enggak tau. Tapi kayaknya dia itu murid pindahan dari kelas 3 itu loh. Yang banyak dibicarakan kemarin-kemarin”ujar Grace.

“ya ampun. Kalian pasti bingung denganku. Namaku Martinus Aryo dari kelas XII MIPA 2 panggil saja Aryo”ucap Aryo tersenyum ramah

Sisca dan Grace mulai berjabar tangan dengan Aryo secara bergiliran. Tepatnya saling berkenalan. Setelah itu….

Tiba-tiba Aryo menekuk kedua kakinya. Kedua lututnya menopang tubuhnya, tepatnya Ia berlutut. Sementara kedua tangannya menggenggam erat tangan gadis bernama Sisca yang saat ini berada dihadapannya.

“nama kamu Sisca ya ? tangan kamu lembut sekali,”. Jari-jemari Pemuda itu bergerak secara perlahan merasakan kulit telapak tangan Gadis yang saat ini Ia genggam kedua tangannya” Apa kamu mau bunuh diri ganda bersamaku ?”Cetusnya kemudian. Semburat garis senyum terlihat di bibirnya. Matanya menatap lekat sepasang iris milik Gadis itu.

Gadis bernama Sisca itu hanya menatap penuh heran Pemuda yang sekarang berada dihadapannya. Seluruh otaknya dipenuhi dengan kebingungan mendengar ucapan Pemuda itu yang menurutnya tidak masuk di akal.

Pltaakk

Willy yang datang bersama mereka mendaratkan sebuah “elusan sayang” kearah Aryo. Refleks Aryo pun melepaskan genggaman tangannya dan langsung mengelus kepalanya yang tesasa sakit itu.

“jiaahh…sakit sakit”Dengusnya kemudian.

“disaat gini lo masih sempet-sempetnya nanyai kek gitu”Pemuda itu, Willy menyilangkan kedua tangannya di depan. Kedua matanya menatap sangar kearah Aryo yang masih dalam posisi berlutunya.

“maaf maaf”ujar Aryo. Masih mengelus kepalanya dan mencoba untuk berdiri.

“minta maaf nya bukan ke gue woy”ucap Willy.

“Sisca maaf ya. Tapi kalo lain kali berubah pikiran, hubungi aku saja”ucap Aryo. Sepersekian detik sebelah matanya berkdeip. Sementara Sisca hanya menatap heran sebelum kemudian Alisnya bertaut.

SKIP

Setelah menanyakan kejadian kemarin. Sisca dan Grace pun pergi meninggalkan atap, Sementara itu Willy, Aryo dan Ridwan melanjutkan pembicaraan yang tadi juga membicarakan keanehan yang menimpa Michelle.

“jadi menurut lo gimana ?”tanya Willy.

“entahlah, tapi aku memang merasakan hal aneh”jawab Ridwan.

“mungkin sebaiknya kamu menghubunginya Dhil, bisa saja itu semua ada hubungannya denganmu”ujar Aryo.

Ridwan tidak membalas ucapan mereka. Kepalanya menunduk kebawah, sepasang matanya menatap lantai yang mengarahkan ke pintu. Lalu Ia berjalan dengan posisi seperti itu.

“oy lo mau kemana ?”tanya Willy.

“bukan urusan kalian”jawab Ridwan tanpa menoleh kearah mereka sedikit pun.

Setelah Ridwan pergi. Willy dan Aryo kembali mengobrol di atap. Kali ini pembicaraan mereka mulai berubah. Membahas tentang pesan terakhir yang mereka terima dari Ketua Black Crows.

“sepertinya Pak Tua itu sudah meninggal”ucap Aryo. Kedua kakinya Ia langkahkan ke pinggir. Tepatnya kearah pagar.

“ya, sepertinya begitu. Mungkin itu sebabnya Ia mengirimkan pesan itu kepada kita”sahut Willy. Sepasang mata miliknya mengikuti Aryo yang kini berpindah posisi.

“mungkin”ucap Aryo. Kepalanya mendongah keatas. Sepasang Iris miliknya menatap langit yang berwarna biru itu. Sesekali Ia memejamkan matanya mencoba untuk menghilangkan rasa kegelisahan di hatinya.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang ?”Willy juga berjalan kearah Aryo dan kini posisi mereka sudah bersebelahan.

“aku tidak yakin. Tapi perintah itu langsung darinya. Jadi kita benar-benar harus membuatnya masuk ke Agen Pertahanan Sipil ?”ucap Aryo. Masih dengan kepalanya yang mendongah kearas.

“tapi bagaimana ? apa kita harus menceritakan kebenarannya ?”Willy tampak sedikit gelisah. Keraguan yang terlihat dimatanya mulai tampak dengan jelas. Seakan dirinya sudah tidak dapat berpikir dengan jernih lagi.

Aryo menoleh. Sepasang matanya mendapati sosok Pemuda yang tampak mengkhawatirkan sesuatu.“sepertinya harus. Sudah tidak ada waktu lagi. orang tua itu menyuruh kita menjauh karena hari itu pasti akan datang”Cetusnya.

“iya, sekarang dia sudah mati dan tugas kita sekarang adalah untuk menghentikan King dan si Professor gadungan itu”rasa khawatirna tiba-tiba berubah. Kedua matanya kini menatap sangat seakan dipenuhi dengan kemarahan.

“kita harus menunggu dulu waktu yang tepat. Saat ini dia pasti masih kebingungan”ujar Aryo.

“ya”

Rantai yang Mengikat

Sementara itu di Rumah Michelle. Michelle terlihat sedang berkumpul di ruang tengah dengan keluarganya karena di sana mereka kedatangan tamu yang sangat penting. Tamu yang dimaksud adalah Keluarganya Erik. Mereka datang untuk membahas tentang pertunangan Erik dan Michelle.

“bagaimana kalo tempatnya disini ?”tanya Ayahnya Michelle.

“boleh deh. Sudah diputuskan besok di sini”ucap Ayahnya Erik. Kemudian mereka berjabat tangan menandakan mereka saling menyetujui usul tersebut.

Selama di sana Michelle hanya menunjukkan raut wajah yang lesu. Ia tampak sangat sedih sekali karena Ia harus melakukan pertunangan dengan orang yang tidak Ia cintai sama sekali. Kemudian Michelle langsung berlari dari mereka menuju kamarnya yang berada di lantai 2.

“Michelle kamu mau kemana ?”tanya Ibunya Michelle.

Tapi Michelle tidak menjawabnya. Ia masih saja terus berlari dan pada saat itu juga sepasang iris coklat miliknya mengeluarkan Butiran air mata yang menggambarkan kesedihannya. Si Ibu yang tampak khawatir mulai beranjak dari kursi dan berlari kecil mengejar anaknya itu.

Sampainya dikamar. Michelle langsung melempar tubuhnya keatas kasur. Kedua tangannya memeluk sebuah guling. Lalu wajahnya Ia benamkan kesana. Mencoba meluapkan semua rasa sedih yang saat ini menimpanya. Di dalam hatinya, Gadis itu sangat ingin menolak keinginan Ayah tirinya. Tapi apa Daya ? saat ini yang bisa Ia lakukan hanya menangis. Sementara didalam lubuk hatinya paling dalam Ia mengharapkan ada seorang pangeran yang menyelamatkannya seperti di dongeng-dongeng kebanyakan.

Tok tok tok

Suara ketukan dibalik pintu kamar terdengar pelan di telinganya. Namun Gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya.

“Michelle, ini Ibu nak. Kamu tidak apa-apa kan ?”tanya Ibunya Michelle dari balik pintu kamar.

Michelle tidak menjawabnya. Saat ini Ia tidak mau mendengarkan apapun yang Ia inginkan saat ini hanyalah sesuatu yang dapat membatalkan pertunangannya.

Seberhentinya Ia menangis dan dirasa Ibunya sudah pergi dari pintu kamarnya. Gadis itu, Michelle memutuskan untuk kabur dari rumahnya melewati jendela kamarnya. Walau pun tinggi Ia masih tetap ingin melanjutkan aksi kaburnya itu, Karena Ia sudah tidak tahan dikurung dikamarnya terus apalagi harus melakukan tunangan esok harinya.

Dengan Ide briliant, Gadis itu melepas Sprey di atas kasurnya. Membentangkannya seperti tali dan menyambungkan ujungnya dengan ujung selimut, mengikatnya dengan kuat membentuk sebuah tali. Dirasa belum cukup panjang, Gadis itu juga melepas Gorden kamarnya. Membentuknya sama seperti tadi juga menyambungkan ujungnya.

Setelah diperhatikan cukup panjang. Gadis itu mengikatkan tali buatannya ke kaki ranjang miliknya. Ia bentangkan. Lalu dengan hati-hati Ia melemparkannya ke Jendela. Tepatnya keluar. Kini talinya sudah cukup untuk dirinya turun kebawah.

Dengan penuh perjuangannya, Gadis itu berhasil turun dari lantai 2 tepatnya kamarnya dan kini Ia sudah berada di halaman rumah. Dengan penuh perhatian, Gadis itu mulai berlari secara hati-hati agar tidak menimbulkan suara dikakinya. Sepasang matanya menatap liar ke segala arah. Mencoba untuk memperhatikan sekitar.

DEG

Semua usaha yang telah Ia lakukan kini sia-sia. Seorang Wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman dihalaman, melihat Gadis itu tanpa beralaskan kaki.

“Non Michelle mau kemana ?”tanya Pembantu itu.

“aku mau beli cemilan dulu Bi”jawab Michelle berbohong. Kemudian Ia segera berlari menjauh dari rumahnya.

Tak terasa Ia sudah sangat lama berlari dan sudah jauh dari rumahnya. Ia langsung beristirahat karena rasa capek yang sangat berat baginya. Apalagi hatinya saat ini masih tidak tenang karena Ia takut Ayahnya akan mengejarnya.

Disekolah Ridwan terlihat sedang berjalan menuju gedung Kelas XII. Ia terlihat sedang ingin mencari seseorang di sana. Sepasang Iris kelabu miliknya menatap liar ke segala arah. Mencari sosok yang saat ini sedang Ia cari. sementara Semua orang yang berada di sana melihat kearahnya dengan tatapan tanpa arti. Pasti mereka semua tidak kenal dengan Pemuda itu. Karena selama bersekolah, Pemuda itu tidak pernah berbicara dengan siapapun dan ketika istirahat Ia selalu menghilang entah kemana.

Tepat di ruang kelas XII MIPA 1. Pemuda itu berhenti. Dengan santai Ia berjalan kedalam. Tepatnya kearah seorang Gadis berpostur paling tinggi yang sedari tadi terlihat mengobrol bersama beberapa Gadis lainnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Michelle ?”tanya Pemuda itu tiba-tiba walaupun dengan nada santai.

Si Gadis berpostur tubuh tinggi itu seketika tercekat mendengar suara seorang Pemuda dari belakang. Dengan cepat Gadis itu memutar tubuhnya menghadap Pemuda yang datang itu. Sosok Pemuda ber-iris kelabu dengan rambut acak-acak Ia tangkap di kedua matanya. Walaupun sedikit merinding karena tatapan Pemuda itu yang sangat dingin.

“orang ini Siapa ?”Batin Gadis itu.

“cepat katakan ?”tambah Pemuda itu masih dengan nada santainya.

“Kamu siapa ? temannya Michelle ?”tanya Gadis itu. Sepasang mata miliknya menatap heran kearah Pemuda itu. Tentu saja lah, seorang Pemuda yang tidak Ia ketahui tiba-tiba datang dan menanyakan keadaan adiknya. Tidak aneh bagaimana.

“mungkin”Jawab Pemuda itu acuh.

“ikut Aku”Gadis itu segera berjalan kearah pintu.

“teman-teman aku ada pergi sebentar ya”Pami Gadis itu sebelum benar-benar pergi meninggalkan Ruang kelas.

Gadis itu membawa Pemuda ber-iris kelabu ke Sebuah tempat sepi dengan suara gaduh yang sangat pelan. Di salah satu sisinya di tanami pohon-pohon yang berjajar bagaikan itik berbaris yang bersebrangan dengan sebuah tembok bangunan. Halaman belakang sekolah ? Tepat sekali, tempat itulah yang kini sedang mereka datangi

“kamu siapa ?”tanya Gadis itu.

“Aku Ridwan”Pemuda ber-iris kelabu.

“kamu mau apa nanyain Michelle ?”tanya Gadis itu. Sepasang matanya menatap penuh pertanyaan kearah Pemuda bernama Ridwan dihadapannya itu.

“namamu Desy kan ? kakaknya Michelle ?”Cetus Ridwan. Sementara kedua tangannya Ia masukan kedalam saku.

“iya, kamu ada hubungan apa dengan Michelle ?”Tanya Gadis itu yang diketahui sebagai kakaknya Michelle.

“itu tidak penting. Aku hanya ingin tau alasan Michelle tidak pergi ke sekolah”Tukas Ridwan. Pemuda itu mengalihkan pandangannya kearah lain. Di tatapnya pohon-pohon berwarna hijau yang tampak berbaris itu.

“Dia sedang sakit demam. Lumayan parah sih”jelas Desy. Tentu saja gadis itu juga mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Lalu kenapa Michelle tidak mengijinkan teman-temannya untuk menengoknya ?”Kini sepasang iris kelabu milik si Pemuda menatap penuh tanya Gadis bernama Desy yang saat ini berada di hadapannya.

Gadis itu tampak ragu-ragu. Wajahnya pucat seperti sedang terkena masalah“itu…it..u karena…”

“sudahku duga, ada yang tidak beres”Ridwan langsung memotong perkataan yang kurang jelas itu.

Pemuda itu langsung memutar tubuhnya kearah lain. Kini posisinya memunggungi Gadis bernama Desy itu. Tanpa berucap apapun, Pemuda itu mulai berjalan dalam diam meninggalkan Gadis itu sendirian.

“tunggu”teriak Desy.

Ridwan langsung memberhentikan langkahnya. Kemudian Desy sedikit berlari kecil dan menghampiri Ridwan, lalu Ia menceritakan semua kejadiannya kepada Ridwan juga memberi nomor HP-nya.

Rantai yang Mengikat

Michelle kini tengah beristirahat di bawah pohon di pinggir jalan. Ia sudah tidak tau lagi mau pergi kemana. Jika Ia pergi kerumah temannya, Pasti akan langsung ketahuan oleh Ayahnya.

Lama Ia beristirahat dan hal yang Ia takutkan pun terjadi. Mobil berwarna hitam berhenti didepannya dan keluarlah Laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Ayahnya. Michelle langsung diseret paksa oleh Ayahnya itu dan Ia langsung dimasukan kedalam mobil. Lalu mobil tersebut melaju dengan sangat cepat menuju rumahnya.

Sampainya dirumah Michelle langsung di marahi oleh Ayahnya. Bentakan demi bentakan Ia terima di kedua telinga mungilnya, beberapa tamparan juga Ia terima di Pipinya yang kini tengah membekas berwarna merah. Si Ibu yang melihat perbuatan itu, tampak tidak tega. Dengan perasaan yang tidak karuang Ia mengehtikan perbuatan Suaminya dan membawa Anaknya ke kamar.

Selama berada di kamar. Michelle hanya menangis sambil memeluk Ibunya itu. Ia sudah tidak tau lagi apa yang harus Ia lakukan. Mungkin Ia hanya bisa pasrah. Saat ini hanya itulah yang berada dipikirannya.

SKIP

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 kini Michelle dan keluarganya sedang berkumpul di Ruang tengah bersama dengan Keluarga Erik dan hanya Desy lah yang tidak terlihat disana. Mereka sedang mendiskusikan tentang acara besok. Sementara di halaman rumahnya terlihat banyak sekali orang yang sedang bekerja menghiasi seluruh area halaman.

“kamu kenapa Chell ?”tanya Erik kepada Michelle yang duduk disampingnya.

“enggak kok”jawab Michelle singkat. Kepalanya menunduk kepala. Sepasang Iris kecoklatan miliknya menatap kebawah dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan.

Di tenga-tengah pembicaraan Desy datang dan menghampiri Michelle. Kemudian Ia berbicara.

“Dek, ada telepon tuh”ujar Desy.

“sudah Ayah bilang semua panggilan untuk Michelle langsung ditutup saja”ucap Ayah.

“Ayah gimana sih, biarin lah. Itu Telepon dari Kepala Sekolah”ucap Desy.

“Cepat dek, katanya ada hal penting. Mungkin ini menyangkut pendidikanmu di sana”lanjut Desy sedikit memaksa.

Michelle langsung menoleh kearah Ayahnya dan Ayahnya hanya mengangguk dengan wajah yang dibuat-buatnya sangar. Michelle pun segera pergi dan mengangkat telepon tersebut.

“halo, ada apa ya Pak ?”tanya Michelle.

“Hey, kenapa kamu tidak masuk sekolah ?”Suara seorang Pemuda terdengar sedikit nyaring di telinganya.

“Suara ini…kamu Rifall ?”ucap Michelle.

“Sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama itu”Suara seorang Pemuda kembali terdengar ditelinganya.

“kenapa kamu nelepon ? kamu tau nomor kak Desy dari mana ?”tanya Michelle.

“itu tidak penting. Sekarang kamu lagi ngapain ? kenapa kamu tidak masuk sekolah selama seminggu ini ?”Pemuda yang menelepon itu tepatnya adalah Ridwan.

“aku sudah bilang ke Grace dan Sisca kalo aku sakit”jawab Michelle.

“kamu jangan bohong deh, kalo kamu bohong aku akan kerumahmu”ucap Ridwan.

“aku engggak bo….”

“jika kamu memang tidak ingin. Kamu bisa menolaknya. Jangan turuti semua kemauan ayahmu”tiba-tiba Ridwan memotong pembicaraan.

“maksudmu ?”tanya Michelle.

“aku sudah tau semuanya. Kamu tidak mau kan dijodohkan dengan orang itu. Sebaiknya kamu pergi dan jangan turuti semua perkataan Ayahmu”Tukas Ridwan.

“tidak bisa”Michelle mulai menangis. Tangan kirinya yang memang tidak memegang apapun Mulai menutup mulutnya.

“kenapa tidak bisa ?”tanya Ridwan.

“Aku sudah terikat dengan keluarga ini”jawab Michelle yang mulai terdengar menangis.

“dengar ya Le, di dunia ini, tidak ada rantai yang boleh digunakan seseorang untuk mengikat orang lain”ucap Ridwan dengan suara keras.

Sepersekian detik Michelle terdiam. Matanya menatap kearah depan, perasaan aneh sakit tidak bisa berbuat apa-apa kini semakin terasa di dalam hatinya ketika mendengar ucapan dari Pemuda itu.

“aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku”ucap Michelle

TUT TUT TUT

Dengan perasaan berat. Gadis itu menutup panggilannya. Ia sungguh tidak ingin mendengar suara orang itu, karena dirasanya sangat menyakitkan jika itu adalah terakhir kalinya Ia mendengar suara Pemuda itu barusan. Seberakhirnya panggilan Gadis itu mengembalikan HP milik kakaknya itu. Dengan perasaan sedih Ia mulai kembali berjalan dalam kesedihannya dan berkumpul kembali bersama keluarganya. Sebelum pergi, Ia juga menghapus air matanya, supaya tidak ada orang yang mengetahu jika Ia baru menangis.

“apa yang dikatakannya ?”tanya Ibunya Michelle.

“bukan hal penting kok Bu”jawab Michelle.

“bagaimana kalo kita pergi keluar Chell ?”ujar Erik.

Sebelum Michelle menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba Pembantunya datang.

“Maaf Pak, ada orang yang mengaku temannya Non Michelle dan ingin bertemu dengannya”ucap Pembantu itu.

Sudahku bilang, jangan kesini”batin Michelle.

“siapa orangnya ?”tanya Ayahnya Michelle.

“tidak tau Pak, tapi dia bilang teman sekelasnya Non Michelle”Jawab Pembantu itu.

“Suruh dia pergi. Menggangu saja”ucap Ayahnya yang mulai kesal.

“baik Pak”kemudian Pembantu itu pergi meninggalkan mereka.

“iya, setelah pertungan ini. Sebagian saham dari saya akan menjadi milik anak bapak ini”ucap Ayahnya Erik.

“baguslah Pak. Sekarang masa depan anak saya jadi terjamin”ucap Ayahnya Michelle.

DUUUUUAAAARRRR

Tembok-tembok juga jendela yang berada di samping mereka. Tiba-tiba meledak dengan sendirinya. Asap dan debu dari ledakan menutupi pandangan sehingga tidak terlihat jelas apa penyebabnya, hanya saja halaman rumah sedikit terlihat di mata mereka.

“Apa yang terjadi ?”tanya Ayahnya Michelle yang mulai panik.

Debu mulai menipis, sosok siluet seorang Pemuda dengan rambut yang sedikit acak-acakan di dapatinya sedang berdiri di reruntuhan tembok itu.

“siapa kau ?”tanya Tanya Ayahnya Erik.

“Permisi, maaf ya kalo ada orang disini”Pemuda iu sedikit menyeringai. Sepasang iris kelabu miliknya menatap kedua Laki-laki paruh baya yang tampak panik. Tapi mereka tidak ada yang menyadarinya, karena matanya tertutup dengan kaca mata berwarna hitam.

Sosok Pemuda itu mulai berjalan kedepan. Tepatnya berjalan kearah laki-laki paruh baya yang menjadi Ayah Michelle. Kini mereka bisa melihat sosok Pemuda itu dengan jelas. Seorang Pemuda dengan baju putih yang dibalut jas berwarna hitam menatap tajam dan dingin kearah Ayahnya Michelle.

“Sudah kubilang, jika kamu berbohong. aku akan ke rumahmu kan ?”Pemuda menoleh kearah seorang Gadis, Michelle. Senyum tipis terlukis dibibirnya. Tipis sekali, bahkan tidak ada seorang pun yang menyadarainya terkecuali Michelle seorang.

“apa-apaan kau ? masuk dan menghancurkan rumah orang lain. Itu semua kejahatan”ucap Ayahnya Michelle.

“Kejahatan ? Hahahaha…Lucu sekali. Kau bilang kejatahan ? bukannya kalian disini yang seorang penjahat”Pemuda ber-iris kelabu itu berjalan dengan tenang mendekati Ayahnya Michelle.

“apa maksudmu ? apa yang kamu inginkan ?”tanya Ayahnya Michelle.

“aku disini untuk menangkapmu. Atas tuduhan Penganiayaan dan pembatas Hak orang lain”Tutur Pemuda berkacamata itu.

“dan untukmu”tatapannya beralih memandang laki-laki paruh baya yang menjadi ayahnya Erik.

“melakukan Korupsi dan menganiaya bawahanmu. Itu semua sungguh kejahatan yang luar biasa”Pemuda itu menyeringai.

“Apa maksudmu ?”tanya Ayahnya Erik.

“Rifall, apa yang kamu lakukan ? jika kamu berbuat seperti ini kamu akan berperang melawan pemerintah”Michelle tampak khawatir melihat Pemuda yang kini sedang adu argumen dengan dua orang laki-laki paruh baya itu.

“iya aku tau itu. Aku sudah siap untuk melakukannya”balas Pemuda itu santai. Kemudian ia memutar tubuhnya dan beridiri dihadapan Gadis itu.

“hanya demi aku. Kamu melakukannya sampai seperti ini”Gadis bernama Michelle itu tidak dapat membendung lagi tangisannya. Dirinya merasa terharu dengan hal yang dilihat olehnya.

“kamu belum paham juga ya ? itu karena hanya inilah yang bisa aku lakukan untukmu”Tukas Pemuda itu yang ternyata adalah Ridwan.

“aku seharusnya mati saja. dulu kita sudah berpisah dan sekarang…” Gadis itu mengantungkan ucapannya, kedua tangannya menutupi semua wajahnya. “kamu memang bodoh”lanjut Gadis itu.

“aku sudah tidak peduli lagi dengan masa lalu, saat ini kamu yang sekaranglah yang paling berarti untukku. Aku tak ingin dipisahkan lagi denganmu”Ucap Pemuda itu jujur. Sepasang Iris kelabu miliknya menatap Gadis yang kini sedang menagis terharu itu. “Bagaimana denganmu ?”lanjutnya.

Kedua tangan Gadis itu Ia turunkan dari wajahnya. Sepasang iris kecoklatan miliknya menatap lekat Pemuda yang kini berada dihadapannya itu. Air mata semakin deras keluar dari matanya, mengalir ke pipinya dan mulai berjatuhan ke lantai.

“Katakan padaku perasaanmu yang sebenarnya!!”Pemuda itu semakin meninggikan suaranya.

“Aku ingin bersamamu. Selama ini aku terus mencarimu dan akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi. Tapi semua itu tidak berjalan lancar, aku malah harus dipisahkan kembali denganmu. Aku ingin selalu bersamamu”akhirnya Michelle pun bisa jujur dengan perasaannya. Perasaan yang selama ini Ia pendam di dalam hati kecilnya. Kini Ia bisa ungkapkan sejujur-jujurnya.

“kalo begitu ayo pergi bersamaku”Pemuda itu masih menatap lekat Gadis yang kini berada dihadapannya. Tangannya Ia ulurkan kehadapan si Gadis dengan sangat yakin.

Michelle pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan perasaannya yang masih terharu, Ia raih tangann Pemuda itu dan terbenam di dalam pelukan Pemuda ber-iris kelabu itu.

“apa ini ? siapa kamu sebenarnya ?”sosok Pemuda sombong yang sedari tadi diam kini mulai angkat bicara.

“yo, tangan lo udah sembuh ? mau gue patahin sekarang ?”Pemuda ber-iris kelabu itu sedikit menyeringai sambil menatap tajam dan dingin kearah Pemuda yang bicara itu.

Pemuda ber-iris kelabu itu membopong Gadis yang kini berada di dalam pangkuannya. Dengan santai Ia berjalan kearah Pemuda yang berbicara itu. Mulutnya Ia dekatkan dengan telinga Pemuda itu “Lo udah Gue bilang, jangan dekati Michelle!! Tapi lo masih aja dekatin dia. Mau Gue patahin semua tulang lo” bisiknya kemudian. Seringai dingin menakutkan terlukis dibibirnya. Sementara sosok Pemuda bernama Erik itu hanya bisa diam. Seluruh tubuhnya gemetaran dan dengan dipenuhi rasa takut, Pemuda bernama Erik itu berlari ke arah pintu. Mencoba bersembunyi di ruangan lain.

“apa yang kamu inginkan ? kamu ingin kabur bersama dengan Anakku”Bentak Ayahnya Michelle.

Pemuda ber-iris kelabu itu berbalik. Laki-laki paruh baya yang menjadi Ayah Michelle itu ditatapnya tajam dan dingin. “Anakmu ? jangan bercanda. Lo itu Cuma ayah tirinya, jadi jangan berlaga sok jadi ayah setelah lo siksa dia”tukasnya kemudian.

“cepat tangkap dia”Ayahnya Erik yang mulai marah mulai memberikan perintah kepada para bawahannya.

Semua Bodyguard yang berjaga disetiap ruangan mulai masuk dan menodongkan pistol kearah Pemuda ber-iris kelabu itu.

“gue akan beresin lo nanti”Pemuda ber-iris kelabu itu tersenyum tipis sebelum pada akhirnya Ia melompat keluar melewati reruntuhan tembok yang tadi.

“disini oy”sebuah suara seseorang Ia tangkap ditelinganya. Sepasang Iris kelabu Pemuda itu menatap liar kesegala arah dan pada akhirnya mendapati sebuah mobil silver di dekat gerbang rumah.

 

Pemuda ber-iris kelabu itu langsung berlari kearah mobil dan masuk bersama Gadis bernama Michelle itu. Sosok Pemuda yang sedari tadi menyetir langsung saja menjalankan mobilnya keluar gerbang, menjauhi rumah besar yang kini telah hancur sebagian temboknya.

“wuh, aksi lo keren Dhill”Sosok Pemuda yang menyetir tiba-tiba menoleh kebelakang. Tepatnya menatap Pemuda ber-iris kelabu itu.

Pemuda ber-iris kelabu itu tidak menggubris ucapan barusan. Sepasang mata miliknya menatap tajam kebelakang. Menatap 3 buah mobil hitam yang kini mengejar mereka.

“lo jangan lupa ya, setelah ini lo harus bayar hutang lo”ucap Pemuda yang menyetir.

“hm”Pemuda ber-iris kelabu hanya mendehem pelan meresponnya dan tatapannya masih menatap kebelakang.

“Willy ? Sebenarnya apa yang kalian lakukan ?”Michelle yang sudah berhenti menangis kini menatap heran Pemuda yang sedang menyetir mobil itu.

“menyelamatkanmu”ucap Pemuda ber-iris kelabu itu yang masih menatap kebelakang.

“Will, lo bawa Lele ke alamat ini. Gue mau tahan mereka dulu”Pemuda ber-iris kelabu itu merogoh saku celananya dan langsung menyerahkan secarik kertas yang diambil kepada Pemuda bernamka Willy itu.

“oke, tapi lo jangan bunuh mereka”ucap Willy.

Michelle yang tidak mengetahui alur pembicaraan itu hanya bisa menyimak dengan kepala yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan.

Klek

Pemuda ber-iris kelabu itu membuka pintu mobil dan menatap kearah luar. Bersiap untuk melompat

“tunggu, apa yang coba kamu lakukan ?”Michelle langsung menggenggam erat tangan Pemuda ber-iris kelabu yang berada di sampingnya. Ia tidak ingin pemuda itu melakukan hal berbahaya lagi.

Pemuda itu melepaskan genggamannya dengan lembut. Sepasang iris kelabunya menatap Iris kecoklatan milik Michelle sebelum akhirnya Ia melompat keluar dari mobil

“serahkan semua kepadanya”ucap Willy.

 

To Be Continued

 

Hai hai…sorry FF ini udah lama gak update. Karena banyak sekali kendala yang membuatku tidak bisa melanjutkannya. Tapi pada akhirnya aku bisa juga update ff ini walaupun tidak sempurna sih..hehehe.. :v

Terima kasih juga kepada Admin KOG yang mau nunggu ff ini dan tidak menghapusnya selama dalam masa Vacum. Terima kasih juga kepada para readers yang setia menunggu update-annya.. walaupun aku pikir tidak ada yang menunggu sih hahahahaha… :v

Sudahlah kita akhiri ucapan yang gak penting diatas itu. Kritik dan sarannya mohon ditulis di kolom komentar, karena hanya itulah yang bisa membuat para Author semangat untuk menulis.

Thanks…bye bye wkwkwkwk…:v

 

Idline              : nabilaholic1412

Twitter           : @nabilaholic1412

Wattpad         : @rideinstein4869

Iklan

Satu tanggapan untuk “Breakers, The Super-Powered Agent: Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s