Gelap

Apa sebenarnya esensi dari menendang kaleng kosong saat sedang berjalan? Meredakan amarah? Menunjukkan betapa putus asanya dirimu? Atau apa? Karena meskipun sekarang aku berkali-kali melakukannya, meskipun benar aku putus asa, rasa kesal yang kurasakan tak kunjung reda malah sepertinya rasa itu semakin mengganggu.

Sekarang aku resmi menjadi seorang pengangguran, lagi. Beberapa waktu lalu Pak manager menyematkan gelar itu padaku. Sebenarnya dia orang baik, semua karyawan menghormatinya, termasuk aku. Ramah, berkharisma, dan tak pernah merendahkan orang lain, ciri-ciri atasan yang didambakan semua orang. Aku yang baru bekerja dua minggu di sana langsung merasa betah, namun takdir sepertinya tak menginginkan aku terlalu lama menjalin kerja sama dengan beliau.

Semua karena seorang pelanggan menyebalkan, bukan yang pertama tapi dia yang paling menyebalkan. Seorang wanita sosialita, individu yang sebagian besar jadwalnya dipenuhi dengan menghadiri arisan, sosok menyebalkan yang bangga pada barang-barang imitasi di badannya, bahkan aku meragukan bentuk wajahnya itu asli atau tidak.

Mungkin aku belum cukup terlatih untuk bekerja di bawah tekanan. Suasana restaurant sedang ramai saat itu dan jumlah pegawai yang sedikit benar-benar memperkeruh suasana. Aku yang biasanya hanya duduk di meja kasir terpaksa harus ikut melayani para tamu, berinteraksi dengan orang asing yang sedang lapar. Awalnya semua berjalan lancar, meskipun staminaku terkuras dua kali lebih cepat dari biasanya, tapi situasi tersebut bisa kami atasi.

Namun semua tak ada yang abadi bukan? Bahkan hal baik sekalipun jika sudah waktunya akan berubah menjadi buruk. Seorang wanita datang bersama dua temannya, dari penampilannya mungkin seumuran dengan ibuku mungkin sedikit lebih muda, mereka berjalan menghampiri aku yang tengah beristirahat sejenak di dekat kasir. Mereka meminta satu meja yang berada di sudut ruangan dekat dengan aquarium yang berisi ikan-ikan hias berharga cukup mahal. Aku berusaha untuk melayanin mereka sebaik mungkin, mencoba mengatakan jika meja itu sudah ada yang menempati karena nyatanya memang seperti itu karena beberapa saat lalu aku baru mengantarkan pesanan ke sana.

Mungkin binatang liar lebih beretika, mendadak wanita itu marah, mencaci dan mulai berteriak. Dia bersikeras ingin duduk di sana, mengatakan jika dirinya merupakan pelanggan tetap, bahkan dia tidak perduli jika aku harus mengusir dua orang pasangan yang tengah menikmati santapan mereka.

Seluruh mata memandang ke arahku, namun tak ada yang bertindak, bahkan ketika kau berusaha membela hak orang lain tak ada satupun yang datang membantu. Suasana makin panas hingga akhirnya sang manajer datang menghampiriku. Dia meminta maaf dan mengatakan jika aku adalah pegawai baru. Awalnya aku heran mengapa justru pak manager yang meminta maaf? Bukannya wanita ini sedang berusaha mengusik hak orang lain?

Pak manajer tetap menundukkan kepalanya sementara sang wanita terus mengeluarkan ancaman-ancaman yang membuat beberapa orang bergidik ngeri. Hingga akhirnya pak manajer memenuhi semua keinginan sang wanita, bahkan dia memberikan sebuah hidangan spesial secara cuma-cuma, bentuk permintaan maaf karena sudah membuat suasana tidak nyaman. Meskipun tidak terlalu mulus tapi masalah berhasil diatasi, kegiatan di restaurant kembali berjalan dan aku di bawa ke dapur untuk mendengar pidato pemecatan.

Depresi? Tidak, aku sudah akrab dengan pemecatan. Lagipula sang manajer melakukannya dengan baik, terlihat dia berusaha mempertahankanku tapi mengingat reputasi tempatnya bekerja terancam wajar jika memecatku merupakan jalan terbaik.

Medadak kaleng yang sedari tadi kutendang melesat cukup jauh, sepertinya mengingat kejadian tadi memicu sedikit amarah yang berusaha kutahan. Bisa saja aku mengabaikan kaleng tersebut namun badanku seolah bergerak sendiri, berjalan pelan menghampiri benda yang sudah remuk di beberapa bagian itu.

Kaleng tersebut tergeletak di depan gang, aku sampai di sana dan mendadak kaleng tersebut tak menarik lagi. Aku memalingkan wajah ke arah gang tersebut, seolah ada energi yang memaksa untuk melakukan itu. Tidak ada yang spesial, hanya sebuah gang kecil yang hanya muat untuk pejalan kaki mungkin sepeda motor juga. Gang tersebut cukup gelap, aku tidak bisa melihat apa yang ada di ujung sana. Seperti gang pada umumnya, kondisi di sana kotor, sampah berserakan dimana-mana bahkan beberapa bau busuk mulai terasa menusuk.

Aku berniat meninggalkan tempat itu namun tiba-tiba terdengar sesuatu dari dalam sana. Aku kembali melihat ke arah gang tersebut, menyipitkan mata, mencoba mengerahkan seluruh kemampuan pengelihatanku untuk mengetahui apa yang ada di dalam sana.

Sebenarnya suaranya tidak terlalu besar, seperti sekarung beras yang sengaja di lemparkan ke tanah namun suasana gang yang sepi justru membuat suara tersebut terdengar mencurigakan.

Mataku menangkap sesuatu. Seseorang berusaha keluar dari balik kegelapan, merangkak menggunakan kedua tangan, berusaha menyeret tubuhnya ke arah sini. Siapapun yang melihat pasti sadar jika ada yang tidak beres dan karena itulah aku memasuki gang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Aku berjalan mendekati sosok tersebut sambil meraba dinding. Semakin dalam rasa takut mulai menyelimutiku, rangkaian adegan-adegan mengerikan mulai tercipta dalam otakku dan sesekali membuat bulu kuduk berdiri. Semakin dekat suasana makin mencekam dan mendadak bau anyir mulai terasa menyengat. Reflek aku langsung melindungi hidungku, menyembunyikannya di balik kaos oblong berwarna biru yang kukenakan.

“To…lo…ng…,” ucap sosok tersebut dengan suara parau.

Ternyata memang ada yang tidak beres, hal buruk pasti tengah menimpa orang itu. Kupercepat langkah karena mendadak rasa keadilanku sampai pada tingkat maksimal hingga akhirnya tepat di depanku nampak seorang wanita dengan darah yang mengucur deras dari luka sayatan di lehernya. Dia melihat ke arahku, satu matanya sudah rusak, aku tidak tahu bagaimana menyebutnya yang jelas darah juga mengalir dari sana.

Tubuhku langsung bergidik ngeri hingga membuat kakiku melangkah mundur dengan sendirinya. Sosok wanita itu tetap merangkak dan terus merangkak, mendekat lalu kemudian mencengkram erat salah satu kakiku.

“To…long…, saya….”

Aku berusaha menutup mulutku, mecoba bertahan dari serangan rasa mual yang bertubi-tubi. Bau anyir darah, penampilannya yang menjijikkan, semua tentang sosok ini membuatku ingin mengeluarkan makan siangku.

Aku hanya terpaku, seolah otak ini memerintahkan untuk tak beranjak, bukan karena cengkeraman sang wanita. Kuberanikan diri untuk melihat lebih jelas keadaan wanita tersebut. Sebentar, aku mengenal wanita ini, dia adalah orang menyebalkan yang membuatku dipecat dari tempat kerja. Apa yang dia lakukan di sini? Ah lebih tepatnya kenapa dia bisa ada di sini?

Mungkin aku merasa senang  jika saja tidak meyadari jika seseorang telah melakukan ini. Ya, ini pasti perbuatan seseorang, entah apa motifnya dan yang jelas pelakunya masih berada di sekitar sini. Bagaimana mungkin dia membiarkan korbannya luka parah tanpa menghabisinya?

Sadar keselamatanku juga terancam tubuhku menjadi lebih waspada, bersiap jika ada serangan mendadak yang muncul entah dari mana. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, peluh menetes derah dan keringat dingin mulai membanjiri tanganku. Ibarat seorang kelinci yang jadi santapan ular, hanya bisa terdiam, menanti ajal tanpa kemampuan untuk melawan.

“AAAAAKRRKKGGHKK!” Wanita itu tiba-tiba menjerit, jeritan memilukan yang mampu membuatku merasakan kesakitan yang ia rasakan.

Darah tersembur ke wajahku, menghadirkan rasa perih luar biasa serta bau anyir yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Perlahan aku mengusap mataku, pelan-pelan aku melihat wanita itu tergeletak tak berdaya, bermandikan darahnya sendiri. Samar-samar aku melihat sebuah tangan muncul dari balik kegelapan, menggenggam gagang pisau yang entah sejak kapan tertancap di tengkuk si wanita tersebut. Tanpa ragu, tangan tersebut mencabut gagang pisau, menciptakan bunyi menjijikan yang membuatku ngilu setengah mati.

Gawat, ternyata perkiraanku benar, pelakunya masih ada di sini. Apa yang sebenarnya dia lakukan? Merampok? Apapun itu semuanya tak akan berakhir baik bagiku, saat ini aku berada di waktu dan tempat yang salah, menjadikanku saksi atas aksi brutalnya.

Dari balik kegelapan muncul satu lagi sosok wanita, kali ini lebih muda, dia berjalan, menginjak mayat korbannya sembari memegang pisau yang sudah berlumuran darah. Dia hanya berdiri di sana, wajahnya tertunduk, sebagian besar tubuhnya dipenuhi noda merah yang tak perlu lagi dijelaskan dari mana asalnya. Meskipun penglihatanku masih kabur tapi aku bisa melihat jika tubuhnya bergetar, bahunya terangkat sesekali dan perlahan dia memiringkan kepalanya.

“Heh…heh…heh…,” suara itu keluar dari mulutnya, terdengar putus-putus, mungkin karena nafasnya yang tersengal.

“He…he…he…,” lagi-lagi sosok itu mengeluarkan suara, terdengar seperti sebuah tawa dan perlahan-lahan wajahnya mulai terangkat.

“HWAHAHAHAHAHA!” tawanya meledak, terdengar nyaring, mengerikan. Aku bisa melihat dari balik poni di dahinya, sebuah tatapan mengerikan, matanya terbuka lebar, secara instant menghadirkan kengerian yang tak pernah kurasakan.

Aku kembali bisa menggerakkan tubuhku, rasa takut yang hadir memaksa seluruh syarafku untuk bekerja lebih cepat. Segera aku berbalik, mencoba untuk keluar dari tempat ini, sejauh mungkin, secepat mungkin.

Sayang ada satu hal yang terlupa, tangan sang korban masih mencengkeram salah satu kakiku, membuatku jatuh cukup keras.  Aku berusaha bangkit namun rasa panik yang kurasakan membuat semuanya terasa sulit. Beberapa kali aku bertopang pada dinding namun tak jarang tanganku terpeleset akibat lumut yang menempel di sana hingga aku terjerembab di tumpukkan plastik berisi sampah basah.

Aku ingin hidup.

Aku tak boleh mati sekarang.

Aku…takut…mati….

Seberapapun seringnya aku mengutuk hidupku, seberapa bencinya aku dengan orang-orang tetap saja aku tak mau mati sekarang, apalagi mati konyol karena tak sengaja menyaksikan sebuah aksi pembunuhan. Tuhan, dewa, atau siapapun tolong selamatkan aku, bantu aku untuk mempercayai bahwa kalian memang nyata, bahwa kalian memang memiliki kuasa untuk melakukan apapun yang kalian inginkan.

Tiba-tiba seusatu terasa menghantam tubuhku, membuatku terjerembab untuk sekian kalinya diikuti dengan suara nyaring  yang menggema hingga ke seluruh gang. Aku tak berani melihat ke belakang, mungkin dia melempar salah satu tong sampah yang ada di sini. Sedikit lagi, iya, sedikit lagi aku bisa sampai ke ujung gang.

“ARRRRGHH!” jeritanku pecah seiring dengan sesuatu yang terasa meremukkan tulang punggungku.  Mendadak aku kesulitan bernafas, teriakanku tak lagi keluar, tubuhku sulit untuk ku gerakkan.

Aku masih tak berani melihat apa penyebab hal itu. Sekuat tenaga ku gerakkan kedua tangan untuk membawa tubuhku keluar dari tempat sial ini.

Beberapa hembusan nafas terasa menerpa telingaku, membuatku menoleh menuju sumber rasa hangat tersebut. Itu dia, gadis itu di sana, gadis brutal yang baru saja membunuh seorang wanita tanpa ragu. Matanya mendelik, menatapku, memperkuat kengerian yang sedari tadi kurasakan.

Dengan sekuat tenaga aku membalikkan badan, berharap wanita sinting itu terhempas dan memberikanku celah untuk kabur. Wanita itu memang terhempas, namun sayang tak cukup kuat, dengan mudah dia bisa duduk di perutku, kembali mengunci pergerakanku.

Aku bisa melihat matanya yang berbinar dari balik poni yang sudah berantakan, menatapku seolah mengatakan ‘kau adalah target berikutnya’. Dia mendekatkan pisaunya perlahan, hingga akhirnya aku bisa merasakan besi dingin itu menempel di pipi dan perlahan-lahan menembus lapisan terluar hingga mengeluarkan darah. Aku ingin berteriak tapi dengan sigap satu tangannya langsung menutup mulutku.

Dia mulai meggerakkan pisaunya, mengukir sebuah garis lurus ke arah mataku. Tubuhku meronta akibat rasa perih yang luar biasa, aku bisa merasakan pisau tersebut membentur tulang pipiku dan saat itu aku yakin jika dia tidak ingin sekedar membunuh, dia berniat menyiksaku.

Persetan dengan dewa atau semacamnya, berharap pada mereka tak membantu sedikitpun. Tak ada yang bisa menolong selain diri sendiri, ya itulah yang kupelajari saat ini. Dengan sedikit semangat yang tersisa aku menggigit telapak tangan si wanita sekuat tenaga. Karena terkejut dia menarik tangannya, membuat mulutku dibanjiri darah.

Perutku kembali terasa mual, untuk pertamakalinya mulut ini merasakan daging manusia dan jujur itu merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Wanita itu memperhatikan luka di tangannya namun ekspresi yang ditunjukkan tak sesuai dengan perkiraanku. Dia bukannya menjerit kesakitan ataupun menggeram kesal. Wanita itu tersenyum, menyeringai lebar hingga akhirnya tertawa lepas sambil mendongakkan kepala.

Dia gila.

Itulah yang sedari tadi coba kuyakinkan pada diri sendiri. Bahkan imajinasi terliarku tak pernah menyentuh kegilaan yang seperti ini. Nyata, di depan mataku, bukan sekedar ilusi dalam dunia fiksi atau urban legend untuk menakut-nakuti anak kecil.

Mendadak dia mengayunkan pisaunya ke arah wajahku. Beruntung aku bisa selamat meskipun harus membiarkan telapak tanganku berlubang.

“ERRRGGGHH!” dia menarik pisaunya perlahan, benar-benar pelan, menciptakan rasa perih bercampur ngilu yang tak terbayangkan.

Akhirnya aku sampai pada fase dimana lebih memilih mati daripada harus diperlakukan seperti ini. Tangisan tak cukup untuk menggambarkan rasa sakit yang kurasakan. Tak ada lagi perlawanan, aku tak lagi menahan dorongan tangannya, membiarkan mata pisau itu sedikit demi sedikit mendekat ke mataku.

Tiba-tiba tubuh gadis itu terpental, seperti dihantam oleh sesuatu dengan cukup keras. Badannya terlempar, menciptakan bunyi nyaring ketika mendarat di atas tong sampah yang ada di sebelahku. Wanita itu mencoba bangkit, kali ini aku bisa melihat ekspresi kesalnya.

Rasa nyeri yang luar biasa kurasakan saat pisau yang menembus tanganku dicabut dengan cepat, saking cepatnya hingga aku tak sempat berteriak. Dalam sekejap pisau itu sudah berpindah tempat, menancap di bahu wanita itu. Tak ada balasan, wanita itu hanya menatapku kesal lalu berlari, menghilang di tengah kegelapan.

Aku merebahkan kepalaku, semuanya sudah berakhir, rasa lega yang kurasakan mengalahkan rasa sakit di telapak tanganku.

*****

Aku terbangun di sebuah ruangan, ruangan yang familiar. Langit-langit putih dengan sarang laba-laba di berbagai tempat merupakan hal pertama yang kulihat. Aku mencoba bangkit, mendadak rasa nyeri langsung menyerang kepalaku membuat tanganku tanpa sadar mencoba menyentuh sumber rasa sakit tersebut.

Aku memperhatikan sekeliling, pantas saja ruangan ini terasa familiar, ini adalah kamarku. Meja belajar yang penuh kertas berserakan, gelas-gelas bekas kopi yang berada dalam formasi tak jelas, juga beberapa potong pakaian yang tersebar di beberapa sudut kamar. Hal-hal itu sudah cukup menyakinkanku akan tempatku berada.

Kenapa aku bisa berada di sini? Bukannya tadi aku…, ah mungkin yang sebelumnya hanya mimpi.

Sesuatu terasa aneh saat tanganku mengusap kepala. Entah sejak kapan kulitku terasa halus seperti ini, lembut, bahkan terkesan tipis dengan beberapa rumbai-rumbai. Hah? Rumbai-rumbai? Ada yang aneh. Segera kuangkat telapak tanganku dan melihat sebuah perban terlilit di sana.

Aku segera bangkit dan berlari menuju cermin. Di sana aku melihat pantulan wajahku dengan sebelah pipi tertutup perban yang dihiasi noda merah di tengahnya. Mendadak buluk kudukku kembali berdiri, ternyata itu bukan mimpi, aku benar-benar terluka, disiksa oleh seorang gadis sinting yang tak tak dikenal.

Luka di telapak tanganku terasa gatal seiring dengan terproyeksinya ingatan-ingatan mengerikan itu dalam otakku. Perasaan itu muncul lagi, perasaan takut karena hampir mati, perasaan menyedihkan ketika nyawamu dipermainkan seolah tak ada harganya dan senyuman mengerikan dari sang pelaku menambah buruk semuanya.

“Emang efek pengangguran itu luar biasa ya, bikin orang bisa tidur lamaa banget.”

Aku tersentak dan langsung berbalik. Di sana ada seorang pemuda, seumuran denganku, duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur sambil membaca komik dengan santai.

“Tatapan macam apa itu? Harusnya elu bersyukur udah gue tolongin.” Sosok itu menutup komik di tangannya. Dia bangkit dan berjalan mendekatiku, menyunggingkan senyuman menyebalkan yang hampir selalu ku lihat selama beberapa tahun ini. Belum lagi rambutnya yang berantakan dan tak terawat, ah jelas berada di satu ruangan dengannya bukan salah satu hal yang kuinginkan.

“Maaf Dirga senpai.” aku sedikit menunduk.

“Fian Fian, dari dulu gak pernah berubah, selalu kejebak masalah yang gak bisa diatasi.” pemuda itu berjalan menuju meja belajarku, menyalakan laptop lalu bersandar di kursi plastik sambil meregangkan tangannya. “mendingan elu tiduran, entar kalo banyak gerak malah makin parah lagi.”

Aku menyetujui saran dari Dirga, meskipun menyebalkan tetapi apa yang dia katakan tidak salah juga.

Dirga, dia adalah salah satu temanku bahkan mungkin satu-satunya orang yang kupercaya untuk berada di kamar ini, kamar kos kecil yang sangat berantakan. Kami sudah cukup lama saling kenal, mungkin sejak SMP. Awal perkenalan kami cukup klise, aku sedang dibully oleh senior dan dia datang, menyelamatkanku sekaligus menghajar tiga orang sok jagoan itu. Di saat orang lain menutup mata hanya dia yang berani bertindak. Semenjak kejadian itu kami jadi akrab, para senior tak lagi berani menggangguku bahkan untuk mendekat saja mereka enggan mungkin karena Dirga yang telah memberikan pengalaman buruk pada mereka.

Berbeda denganku, Dirga adalah sosok yang sangat bersemangat, percaya diri dan lebih memilih bertindak dahulu sebelum berpikir, tipikal anak muda yang selalu berapi-api. Entah apa yang membuatnya nyaman berteman denganku, dengan segala kelebihannya dia bisa saja bergabung dengan kelompok-kelompok populer yang dipuja oleh para wanita. Yah, mungkin benar kata orang-orang, bukan keseragaman yang mempererat sesuatu melainkan perbedaan yang diterima dengan ikhlas.

“Denger-denger elu abis dipecat ya?” tanya Dirga tanpa melepas fokus dari layar laptopnya.

“Iya, udah biasa,” balasku sambil meraih telepon genggam yang ada di sisi tempat tidur.

“Alasannya?”

“Cuma ulah pelanggan yang menyebalkan.”

“Oh.”

Mungkin aku tidur terlalu lama. Mata ini rasanya sangat sulit untuk terpejam. Aku melihat ke layar smartphone di tanganku dan di sana terpampang notifikasi untuk panggilan tak terjawab.

“Dir, apa kau jawab panggilan dari ibuku? Dia menelpon hingga 9 kali.”

“Mana mungkin, apa yang mau gue bilang? Anaknya hampir jadi korban pembunuhan? Bisa kena serangan jantung dia.” bunyi tuts keyboard mulai terdengar.

Aku menghela nafas lega. Ya, lebih baik jika ibu tidak mengetahui apa yang tengah kualami. Menyadari aku tak lagi tinggal satu atap dengan ibu mungkin sudah cukup berat baginya, mana mungkin aku menceritakan sesuatu yang malah membuatnya khawatir.

Kucoba untuk membuka portal berita di dunia maya, sekedar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia sembari mengusir rasa bosan yang perlahan mulai menggerayangiku. Mataku langsung tercengang begitu melihat salah satu headline yang terpampang di sana. Sebuah berita tentang mayat wanita yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan di sebuah gang, tak jauh dari tempat kerjaku sebelumnya.

Di situ tertulis jika mayat wanita tersebut mati karena beberapa luka. Tusukan di mata, sayatan melintang di leher dan yang terakhir luka tusuk di tengkuk yang mana langsung menghabisi nyawanya. Polisi sedang melakukan penyelidikan namun hingga saat ini belum ada petunjuk yang mengarah pada si pelaku.

“Kau sudah melihat berita hari ini?” ucapku sambil menatap Dirga yang sedang asik berselancar di dunia maya.

“Yah, lokasinya sama kayak tempat gue nyelametin elu,” balas Dirga santai.

“Jadi kau tau pelakunya?” entah kenapa aku jadi bersemangat.

“Santai kawan, gang itu gelap, gue gak bisa liat jelas, tapi gue yakin pelakunya cewek, soalnya senyuman kayak gitu gak mungkin punya laki-laki.”

“Maksudnya?”

“Ya itu, senyum mengerikan tapi manis hahaha,” tawa Dirga pecah.

Aku hanya menggeleng. Bagaimana mungkin senyum mengerikan dari seorang psikopat bisa dianggapnya manis? Dasar, kalo soal wanita Dirga memang punya teori sendiri.

“Yah tapi ini agak aneh, entah kenapa belakangan makin marak kasus pembunuhan serupa, mayat tergeletak mengenaskan, tanpa petunjuk apapun tentang siapa pelakunya?” Dirga memijit pelan dagunya.

“Maksudmu wanita mengerikan itu adalah dalang dari semua kasus?”

“Bukan gitu, kasusnya terlalu banyak untuk dilakukan sendiri, bahkan beberapa kasus terjadi pada waktu yang bersamaan di tempat berbeda,” jelas Dirga.

“Artinya?”

“Yah mungkin hal ini sudah menjadi trend dan otomatis banyak orang yang melakukannya.”

“Gila, sejak kapan membunuh menjadi trend?”

“Ayolah Fian temanku, apa yang tidak bisa terjadi di dunia ini?” Dirga berbalik sambil menatapku remeh. “Bahkan hal itu udah jadi trending topic di deep web.”

“Astaga! Sudah berapa kali kubilang jangan lagi masuk ke sana menggunakan laptop pribadiku!”

“Lebay, gue cuman main ke forum doang kok, gak sampe terlalu dalem.”

“Permisi! Paket untuk Fian Sandjaya.” terdengar suara seseorang dari arah pintu yang diikuti dengan bunyi ketukan.

“Dir, itu ada paket, tolong bukain.” Dia hanya diam, bahkan terkesan tidak peduli. Sial, memang sulit untuk berkomunikasi dengan seseorang yang sedang asik dengan dunianya sendiri.

Aku berusaha bangkit meskipun terkadang rasa nyeri di kepalaku muncul ketika aku bergerak terlalu banyak. Secepat mungkin aku berjalan menuju pintu dan mendapati seseorang dengan kemeja orange memegang sebuah bungkusan berwarna kotak. Seluruh aliran darahku mendadak berhenti ketika orang berkemeja orange itu mengangkat wajahnya. Senyum yang terukir di sana membuat seluruh luka yang ada di badanku bereaksi, nyeri bahkan sesekali ingatan tentang kejadian buruk itu kembali terkenang.

Sesuatu yang berkilau terlihat dari balik kotak yang ada di tangannya. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui benda apa itu mengingat ujung tajamnya tersembul ke luar. Sekuat tenaga aku berusaha menjauh, dua langkah mundur dan badanku seperti membentur sesuatu, payah, aku tidak mengingat pernah meletakkan apapun dekat dengan pintu. Aku menoleh ke belakang dan di sana berdiri Dirga yang menatapku heran. Perlahan-lahan tatapan itu berubah menjadi seringai yang mengerikan, seringai yang tak pernah kulihat, seringai yang memicu ketakutan terdalam yang pernah kurasakan.

“Bukannya udah gue bilang kalo kemaren gelap Fi?” ucap Dirga datar sambil tetap menyeringai.

 

End

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s