Ballad of the dragonstone Part 3

 

wp-1482589250612.jpg

Itu adalah hari ke 93 dari perang yang berada di RedCliff, wilayah perbatasan dengan kerajaan para peri. Mereka membawa jutaan prajurit dan ribuan pasukan berkuda berniat untuk mengambil alih kerajaan. Waktu itu kesepakatan damai dengan Ratu Veranda belum bisa tercapai dan sejujurnya aku pikir kerajaan tak akan bertahan.

Aku ditugaskan untuk menghalangi laju pasukan berkuda milik kerajaan peri, hal itu sangat sulit karena kuda yang mereka miliki jauh lebih cepat dari kuda biasa. Satu satu nya yang berhasil memperlambat mereka adalah jebakan jebakan yang ku pasang, tapi sebanyak apapun jebakan yang ku buat rasa nya tak akan pernah cukup.

RedCliff yang berada dekat dengan MoonLight membuat wilayah itu sangat dingin. Para prajurit banyak yang mati karena rasa dingin yang menusuk langsung ke tulang. Persedian yang kami bawa tak cukup untuk membuat perut kami tetap terisi, tapi yang membuat ku khawatir adalah semangat mereka yang terus turun.

Aku harus bekerja keras untuk menjaga semangat mereka untuk membuat jebakan dan melakukan serangan tiba tiba, tapi perut yang kelaparan dan badan yang kedinginan membuat hampir semua nya gagal. Jebakan yang dibuat asal asalan membuat musuh bisa menyadari nya dan suara perut mereka yang kelaparan membuat serangan kami gagal.

“Lalu apa yang terjadi Ayah ?” tanya Zara dengan wajah yang penasaran.

Aku seharusnya tak menceritakan pengalaman perang ku kepada putri ku sendiri. Itu bukan sesuatu yang bisa kau banggakan kepada putri mu, bahwa kau sudah membunuh banyak orang. Tapi aku tak tahu cara lain untuk menjelaskan kepada Zara kenapa aku dipanggil sang penghancur dan kenapa dia tak perlu memperdulikan itu.

Hasil dari rasa dingin yang membunuh dan kelaparan membuat hampir seluruh pasukan ku mati. Sisa nya mati saat pasukan musuh menyerang dan menangkap dan membawa ku sebagai tawanan. Aku tak tahu aku berada dimana tapi saat aku bangun aku sudah berada disebuah sel dengan tubuh yang dirantai ke dinding.

Tempat itu gelap dan lembab dengan lantai yang licin, dari udara dingin yang masuk dari ventilasi membuat ku bisa tahu aku berada di kastil yang berada di dekat perbatasan RedCliff dan MoonLight. Kastil yang beberapa hari lalu berniat ku serang, aku tak melihat prajurit ku yang lain aku rasa para peri membunuh mereka semua dan membawa ku karena aku adalah pimpinan pasukan.

Aku berada di sel itu selama dua hari sebelum ada seorang peri datang, dari penampilan nya yang lebih baik dari sebagian besar pasukan nya yang pernah ku hadapi aku bisa mengira dia adalah pimpinan mereka.

“Kau adalah pimpinan dari pasukan yang sudah membuat strategi ku kacau,” ucap nya dengan suara keras.

“Segelas air akan bagus untuk permulaan, lalu kau bisa melanjutkan nya dengan memberi ku makanan,”

Dia merebut tombak yang dipegang oleh prajurit yang ada disamping nya dan memukul ku dengan bagian bawah nya. Serangan itu tak terasa sakit lagi karena wajah ku sudah mati rasa dengan semua udara dingin yang menyerang nya.

“Kau pikir kau lucu, kau hanya hidup karena aku ingin informasi tentang pasukan mu yang lain,”

“Dan kau pikir aku akan memberikan nya,”

“Oh…kau akan memberikan nya, aku sendiri yang akan memastikan nya,” ucap peri tua itu sambil mengores wajah ku dengan ujung tombak nya.”Oh lihat wajah mu mati beku, tenang saja sebentar lagi seluruh tubuh mu juga akan bernasib sama,”

Dia berbalik dan membisikan sesuatu kepada dua orang prajurit yang ikut bersama nya, setelah itu peri tua itu meninggalkan ku bersama kedua prajurit nya. Para peri sangat kreatif dalam banyak hal, dan metode menyiksa tahanan adalah salah satu nya.

Mereke memulai nya dengan menelanjagi ku dan meninggalkan ku satu hari lagi didalam sel, yang kali ini jauh terasa lebih dingin dengan tak ada nya pakaian yang menghalagi udara dingin untuk mengigiti tubuh ku.

Saat mereka kembali mereka membawa palu dan membuat lubang tepat diatas ku, dari lubang itu lalu mereka mencurahkan air. Air yang dicurahkan terasa menyakitkan karena udara dingin yang merubah mereka menjadi jarum jarum kecil yang menancap diseluruh badan ku, sudah ku bilang mereka sangat kreatif.

Setelah merasa cukup menyiksa ku dengan air dan udara dingin peri tua itu kembali mengunjungi sel ku, kali ini dengan senyuman diwajah nya; mungkin dia sangat yakin aku akan membocorkan informasi tentang markas pasukan ku agar siksaan ku berakhir.

“Jadi apa kau menikmati waktu mu disini,” ucap peri tua itu.

“Tak pernah lebih baik,”

Nampak nya mendengar jawaban ku yang masih penuh semangat membuat nya terkejut, dia mundur beberapa langkah dan menanyakan sesuatu kepada prajurit nya. Kedua prajurit yang ditanyai oleh peri tua itu cepat cepat mengangguk, dugaan ku dia bertanya apa aku sudah disiksa dengan benar.

Nampak tak percaya peri tua itu kembali menghampiri ku, dia memeriksa keadaan ku mencari tanda bahwa aku sudah benar benar menderita; dan untuk membuat nya kecewa aku memberikan senyuman terbaik ku.

“Aku tak ingin membuang waktu, jadi katakan dimana letak markas mu dan semua siksaan ini akan berakhir,” ucap peri tua itu dengan suara yang tak terlalu menyakinkan.

“Kau tahu aku lapar, jika kau memberikan ku sepiring bison bakar, mungkin aku akan ingat dimana letak markas ku,”

Tentu saja aku tak akan memberi tahu nya tapi aku lapar dan bison bakar bukanlah ide yang buruk. Peri tua itu diam nampak nya dia mempertimbangkan ucapan ku, salah satu prajurit nya berbisik kepada peri tua itu nampak nya dia tahu aku tak akan benar benar memberi tahu dimana markas ku.

“Kau tahu kau hampir menipu ku tapi untung nya aku tak sebodoh itu,” ucap si peri tua.”Aku tahu meski aku memberi mu makan, kau tak akan memberi tahu ku dimana markas mu. Jadi kau akan tetap disini sampai kau memohon kepada ku untuk membebaskan mu,”

Peri tua itu pergi dan aku memberikan pandangan membunuhku kepada prajurit yang mengagalkan makan malam ku. Beberapa hari berikut nya para peri kembali menunjukan kreativitas mereka dengan mengoleskan selai kacang keseluruh tubuh ku lalu memasukan beberapa tikus ke sel ku dengan harapan mereka semua akan mengigiti ku, kesalahan besar karena para tikus itu menjadi makan malam ku.

“Jadi Ayah makan tikus ?” ucap Zara memandang ku dengan wajah yang tak percaya.

“Ayah kelaparan dan saat itu para tikus itu kelihatan begitu lezat,” jawab ku.

“Ihhh jijik,”

“Mereka tak terlalu buruk,”

“Benarkah ?”

“Iya, mereka hampir terasa seperti ayam,”

“Ayah bohong,”

“Ya Ayah tidak terlalu ingat, tapi itu tidak penting. Yang penting adalah apakah Zara masih ingin mendengar lanjutan nya atau Zara sudah siap untuk minta maaf kepada Ibu,”

“Zara masih ingin tahu apa yang selanjutnya terjadi setelah Ayah makan tikus tikus itu,”

Para tikus itu tak benar benar terasa seperti ayam, itu tidak penting karena daging mereka cukup untuk membuat ku kenyang dan cukup kuat untuk melepaskan ikatan rantai yang melilit ku. Aku mengunakan rantai untuk membuka pintu sel yang terkunci, lalu mengendap endap keluar,ukuran kastil itu tak terlalu besar, setelah keluar dari ruang bawah tanah aku langsung mendapati lapangan tempat prajurit berlatih. Ada seorang peri yang sedang tertidur, aku membunuh nya dengan mengunakan rantai ku dan mengambil pakaian nya.

Lalu aku menuju ruangan utama dari kastil ini, sekali lagi kedua penjaga sedang tidur jadi aku bisa dengan mudah membunuh mereka. Aku masuk ke dalam ruang utama kastil dan itu tak seperti yang ku harapkan.

Aku bisa dikatakan masuk pada saat terburuk, saat aku membuka pintu aku mendapati para prajurit sedang makan. Tentu saja saat melihat ku mereka semua langsung mengambil senjata mereka dan menyerang kearah ku.

Rantai yang ku bawa dari sel cukup membantu, aku mengunakan nya sebagai cambuk untuk mempertahankan diri dari serangan mereka. Aku mulai menghantamkan rantai ku ke wajah dan badan para peri, itu menjatuhkan mereka tapi tak cukup untuk membunuh mereka; mereka terus berdiri dan menyerang kembali membuat ku berada dalam situasi yang mendesak.

Lalu aku melihat lampu gantung yang ada diatas ku, aku mengunakan rantai ku untuk menarik nya jatuh dan menghantam mereka. Itu berhasil membunuh beberapa dari mereka tapi itu tak cukup bagus karena jumlah musuh yang ingin membunuh ku masih terlalu banyak.

Aku melihat ke sekeliling dan mencari sesuatu yang bisa ku gunakan untuk menyerang, atau paling tidak mempertahankan diri. Aku mengambil pedang yang tergeletak dilantai, sambil masih terus mencoba mencari sesuatu yang bisa ku gunakan.

“Ayah rasa cukup sampai disini cerita nya,”

“Yah tapi kan Zara belum tahu bagaimana Ayah bisa selamat,” ucap Zara yang terdengar kecewa.

Ini adalah bagian yang membuat ku mendapat julukan sang penghancur dan aku tak ingin Zara tahu bagaimana. Aku menyesal sudah mulai menceritakan kisah ini tadi dan bagaimana aku membuat pengalaman kelam dalam hidup ku menjadi seperti dongeng anak anak.

“Zara, bagaimana Ayah bisa selamat bukan lah sesuatu yang seharusnya kau dengar,”

“Kenapa Yah, apa Ayah melakukan sesuatu yang sangat buruk ?”

“Iya sangat buruk, dan mungkin nanti saat kau sudah lebih dewasa untuk memahami nya Ayah akan lanjutkan cerita nya,”

Aku kira putri ku akan marah tapi dia memeluk ku, lalu mengusap usap kepala ku seperti sedang ingin menenangkan ku.

“Maaf Yah, Zara udah buat Ayah mengingat lagi kejadian buruk waktu itu,” ucap Zara dengan suara yang aku tahu sedang ingin membuat ku nyaman.

“Putri Ayah memang yang terbaik.”

Kami berpelukan untuk beberapa saat, aku tak mengira bahwa Zara akan melakukan sesuatu seperti ini. Aku tahu dia tak mendapatkan ini dari ku, sifat baik nya ini pasti didapatkan dari sang Ibu; tak mungkin dari ku.

“Zara,”

“Iya Ayah ?”

“Kamu juga harus minta maaf pada Ibu, Ibu sangat sedih sekarang,”

Zara menganggukan kepala nya tanda bahwa dia mengerti maksud perkataan ku, dia melepaskan pelukan nya pada ku lalu berjalan keluar, aku lalu bangkit berdiri dan menyusul nya pergi keluar. Aku harap Zara mengerti bahwa dia tak perlu mengkhawatirkan perkataan orang lain, aku tak membantah sudah melakukan sesuatu yang sangat buruk yang membuat ku mendapat julukan itu, yang aku ingin dia tahu bahwa aku tak bangga atas perbuatan ku itu dan aku harap aku tak harus menceritakan kepada nya apa itu.

 

Istana kerajaan Vulcan, Arena permainan utama.

Tepuk riuh penonton memenuhi arena permainan utama yang terletak di pusat kota, para penonton meneriaki para peserta untuk saling memukul lebih keras, teriakan makin riuh saat ada anggota tubuh yang patah atau terpotong.

Yang sedang dipertandingkan adalah satu dari sekian banyak “permainan” yang dilakukan oleh para tahanan, permainan permainan itu memiliki banyak jenis dan cara bermain tapi hanya ada satu cara menang; menjadi yang terakhir hidup.

Tentu saja para peserta bukanlah sesama bangsa mesin yang suka rela melakukan , mereka semua adalah para prajurit yang dulu nya mempertahan kan wilayah mereka dari invasi Vulcan. Saat kerajaan mereka kalah semua penduduk dan prajurit ditangkap, wanita dan anak anak menjadi budak, dan para pria dijadikan peserta untuk ikut dalam permainan yang diselengarakan di arena arena permainan yang tesebar diseluruh wilayah kerajaan Vulcan.

Di bangku penonton duduk sang Raja dari kerajaan Vulcan, seseorang yang mempunyai ide untuk membuat bangsa lain sebagai mainan, sang mesin pertama Eduardo. Dia sangat menikmati melihat peri, monster dan manusia saling membunuh, dia tak peduli siapa yang memenangkan permainan dia hanya ingin melihat mereka saling membunuh.

“Kau tahu ini membosankan,” ucap Lisa Ratu kerajaan Vulcan.

“Ayolah sayang ini lucu, kau lihat peri kecil itu dia berusaha lari dengan satu kaki, itu mengelikan,” balas Eduardo.

“Ed, bisakah aku kembali ke istana. Kau bisa tetap disini dan menikmati permainan,”

“Ada apa ? apa ada yang salah dengan sambungan mu ? atau kau merasa ada bagian yang berkarat ?”

“Aku baik, aku hanya bosan,”

Lisa berdiri dari kursi nya para dayang nya mengikuti langkah Lisa untuk berjalan pergi, sementara Eduardo tertawa puas melihat bagaimana peri yang mencoba kabur tadi mati dilempari senjata oleh para penonton, para penonton yang sulit dihibur.

Permainan dimenangkan oleh seorang monster, Raja Eduardo berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah yang diikuti oleh seluruh penonton di arena. Beberapa mesin masuk dan memberikan hadiah oleh sang pemenang, pakaian, makanan, dan beberapa keping emas. Tapi monster itu tak peduli semua hadiah yang bergelimpangan didepan nya.

“Monster siapakah nama mu ?” tanya Eduardo.

Salah satu mesin memberikan sebuah alat pengeras suara kepada sang monster, dia mengambil alat itu dengan malas karena dia tak punya niat untuk lebih lama lagi menghibur para mesin yang berada di arena.

“Chris,” ucap sang monster.

“Bukankah itu terlalu bagus untuk nama seekor monster ?”

Para penonton tertawa mendengar perkataan Raja mereka, Chris ingin sekali membunuh para mesin yang mentertawakan nya. Tapi dia sadar dia bahwa dia tak akan bisa membunuh mereka sekarang, jadi dia hanya diam dan mengengam alat pengeras suara nya erat erat.

“Maafkan aku, kau adalah pemenang jadi kau seharus nya dipuji. Kalian beri tepuk tangan yang meriah untuk sang pemenang kita.”

Sekali lagi tepuk tangan kembali bergemuruh di arena, Chris tak peduli, dia hanya ingin bisa pergi dari sana.

“Sesuai dengan tradisi kami, para pemenang akan diberikan hadiah, dan kebebasan yang telah dijanjikan juga akan menjadi hadiah kepada mu,”

Chris hanya diam dan itu mulai membuat Eduardo kesal, sang Raja menunggu terima kasih yang selalu diucapkan oleh para pemenang saat dia memberikan hadiah kepada pemenang permainan; tapi monster satu ini hanya diam.

“Kau boleh pergi sekarang,” ucap Eduardo yang hampir memberikan perintah kepada prajurit nya untuk membunuh sang pemenang yang membuat nya kesal.

Chris berjalan pergi meninggalkan arena, para penonton mulai berbisik bagaimana bisa seorang monster bisa bertingkah kurang ajar kepada Raja mereka. Melihat Chris yang pergi tanpa menyentuh hadiah, dan tanpa terima kasih membuat kesabaran Eduardo habis, dia seorang Raja dan dia tak akan membiarkan seorang monster bertingkah kurang ajar kepada nya.

“Bunuh dia saat dia berada diluar gerbang,” perintah Eduardo kepada prajurit nya.

“Siap yang Mulia,” ucap sang prajurit.

Menurut tradisi di Vulcan siapa pun yang memenangkan permainan akan mendapatkan kebebasan mereka. Sekarang Chris berjalan meninggalkan ibukota kerajaan Vulcan, seluruh bangsa mesin memberikan jalan kepada Chris untuk pergi, beberapa dari mereka memberikan selamat dan ada yang meneriakan dukungan kepada nya, Chris tak peduli dia hanya ingin pulang kembali ke rumah nya dan dia tahu bahwa itu akan menjadi perjalanan yang panjang.

Tapi dari sudut jalan, dari gang gang sempit beberapa prajurit Eduardo sedang mengintai. Mereka mendapat perintah khusus dari Raja mereka untuk membunuh sang pemenang, saat Chris berjalan keluar dari gerbang mereka akan membunuh nya.

Tapi satu hal yang tidak diketahui oleh para prajurit itu adalah para monster menpunyai insting yang kuat, insting membunuh yang membuat mereka mengetahui jika ada musuh yang mendekat; dan Chris memang tak membawa satupun hadiah nya tapi dia membawa beberapa belati dari arena permainan.

Dia akhir nya sampai di gerbang dan penjaga gerbang membukakan gerbang dan membiarkan Chris lewat, dia mengeluarkan kedua belati dan mulai memusatkan energi nya yang tersisa, para prajurit itu juga mengeluarkan senjata mereka dan bersiap untuk menyerang.

Saat mereka cukup jauh dari tembok kota, dan jalanan berbatu berganti dengan jalan setapak dari tanah para prajurit itu melompat dan menyerang Chris. Dengan insting nya Chris melempar belati yang ada ditangan nya, membuat dua prajurit jatuh; melihat kedua teman nya mati membuat para prajurit itu waspada. Chris mengeluarkan lagi dua belati dan bersiap menghadapi serangan lanjutan.

“Aku sudah mendapat kebebasan ku, itulah yang dikatakan Raja kalian,” ucap Chris.

“Itu benar, tapi itu tak memberi mu hak untuk bersiap kurang ajar kepada Raja,” balas salah seorang prajurit.

Chris sadar dia tak akan bisa pergi tanpa membunuh seluruh musuh yang ada didepan nya, dia tak menyesal sudah bersikap kurang ajar kepada Raja para mesin; dia tak menyesal harus membunuh para mesin ini untuk bisa pergi, dia bersyukur mungkin itu akan bisa meredakan sedikit amarah nya.

Tak ingin menunggu Chris berlari menyerang dengan dua belati ditangan, dia melemparkan satu yang ada ditangan kiri nya dan itu mengenai roda pengerak utama dari prajurit itu membuat nya jatuh tersungkur. Belati yang ada ditangan kanan ditancapkan nya tepat ke pergelangan tangan dari mesin lain yang ada didepan nya, dia lalu menarik tangan dari mesin itu membuat nya terlepas.

Bersenjatakan tangan dari sebuah mesin Chris menyerang sisa dari pasukan itu, dia menarik, mematahkan, melempar bagian tubuh dari sebuah mesin dan mengunakan nya untuk menghancurkan mesin lain. Mereka hampir tak bisa berbuat apa apa, dengan Chris yang memusatkan semua energi nya, serangan nya menjadi lebih cepat dan kuat; kekuatan mengerikan dari bangsa monster.

Semua mesin sudah jatuh kecuali satu, sang pimpinan pasukan. Dia berhasil menghindari serangan brutal Chris karena dia berhasil memaksimalkan gerak roda gigi dan pengerak nya, tak hanya itu dia adalah golongan mesin elit membuat sistem nya jauh lebih baik dari sisa pasukan nya.

“Kau adalah mesin yang mengerikan,” ucap Chris saat melihat satu satu nya mesin yang selamat.

“Bukankah itu yang seharus nya ku katakan MONSTER,” ucap mesin itu menekankan kata kata nya.

Mesin itu mencoba menganalisa Chris dan sisa sisa pembantaian yang baru dilakukan nya, dia mencoba mencari pola, mencoba memprediksi serangan yang akan dilakukan oleh Chris. Sementara Chris mencoba memulihkan sedikit energi nya, dengan luka dan sedikit nya sisa energi yang dia punya, Chris hanya tak yakin akan bisa selamat menghadapi musuh yang  berdiri menghalangi dia dan kebebasan nya.

Chris menendang kepala mesin yang ada didepan nya tapi sang pimpinan sudah memprediksi hal itu dan membuat gerakan menghindar, dia lalu menembakan peluru kearah Chris yang hampir tidak bisa menghindar. Terluka di kaki Chris maju menyerang, melihat itu mesin tadi melompat dan menusuk punggung Chris membuat nya jatuh.

“Terlalu mudah,” ucap mesin itu.

Dia berjalan santai menghampiri Chris yang merangkak mencoba menjauh, dia lalu menembak kaki kanan Chris yang belum terluka membuat dia tak bisa bergerak. Mesin tadi mengeluarkan pedang nya dan membalikan tubuh Chris menghadap nya.

“Mahluk seperti mu lah monster sesungguh nya,” ucap Chris yang kesakitan.

Mesin itu menusuk mata kiri Chris dengan pedang nya membuat Chris meraung kesakitan.

“Kau lah monster yang membunuh banyak pasukan ku,”

Chris meludahkan darah yang ada dimulut nya dan mengenai wajah dari sang mesin, sang mesin membersihkan wajah nya lalu menusuk Chris tepat di dada mengincar jantung dari sang monster.

“Kalian para monster memang tak tahu sopan santun, sekarang aku tak akan membunuh mu. Aku akan meninggalkan mu disini dan membiarkan para binatang yang menyelesaikan pekerjaan ku.”

Sebelum pergi dia memotong tangan kanan dari Chris dan membakar yang kiri, dia tak ingin Chris punya kesempatan untuk selamat dan untuk memastikan itu dia menusuk satu lagi bola mata dari sang monster. Lalu berjalan pergi dengan santai meninggalkan sang pemenang dari permainan hari ini menderita dan meraung kesakitan, dia sengaja tak memotong lidah dari Chris dia ingin mendengar raung kesakitan sang monster hingga saat terakhir.

 

Chris.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s