Kuat Karena Kita Bersama Part – 4

Kemudian Riki dan Henri bergegas menuju kantin untuk menemui Adit.
Henri yang tak mengerti permasalahan coba bertanya pada Riki. Tetapi
Riki hanya diam dan terus berjalan tanpa menghiraukan Henri.
Sesampainya di kantin, mereka tak melihat Adit yang bilang akan
menunggu. Akhirnya mereka memutuskan untuk memesan makanan untuk
menghabiskan waktu istirahat. Tanpa mereka sadari tiba tiba Gracia
datang bersama Michelle menghampiri mereka.

“Hai Riki… Hai Henri… Aku sama Gre boleh duduk sini gak, yang lain
penuh soalnya.” Sapa Michelle.

“Iya Gre duduk aja.” Jawab Henri.

“Hen.. Kok Gre kesini sih ntar kalo ada Adit gimana ?” Bisik Riki kepada Henri.

“Paling juga gak dateng. Udah lo tenang aja.” Balas Henri menenangkan.

Melihat ada yang gak beres dari mereka berdua. Gracia dan Michelle
mulai curiga karena sedari tadi mereka berbicara dengan berbisik.

“Kok kalian dari tadi bisik bisik terus sih. Ada yang aneh ya.” Ucap
Michelle tiba tiba yang membuat mereka kaget.

“Iya nih, ada yang salah ya sama kita.” Tambah Gracia sambil melihat
apa ada yang salah dengan penampilannya.

“Eng.. Enggak kok. Kalian berdua oke oke aja. Beneran deh, Ya gk Hen
?” Balas Henri untuk menghilangkan kecurigaan mereka. Dan Henri pun
hanya mengangguk.

Yang mereka takutkan pun akhirnya terjadi. Adit dan teman temannya
menghampiri meja yang di duduki Riki dan yang lain. Sontak Riki pun
kaget dan sedikit cemas karena takut teman temanya larut dalam
masalahnya. Suasana yang dari tadi tenang sekarang menjadi tegang.
Sebab Adit dan teman temannya bisa dibilang sebagai penguasa sekolah.

Tiba – tiba…

Bbrraaakk.. Salah satu teman Adit menggebrak meja Riki dan sahabatnya.
Riki pun langsung berdiri, Henri hanya bisa terdiam sedangkan Gracia
dan Michelle cuma bisa berlindung di balik mereka berdua.

“Lo yang namanya Riki .” Bentak Tio, salah satu teman  Adit sambil
menunjuk muka Riki.

“Kalo iya emang kenapa. Ada masalah ?” Ucap Riki dengan tenang.

“Wahh.. Songong lo ye.. Baru kelas X aja udah belagu .” Balas Tio
sedikit meremehkan Riki.

“Cukup Tio.. Gak usah bikin malu gue disini. Lo tau kan gue kesini mau
ngapain .” Bentak Adit pada Tio.

“Ehh Dit.. Bocah kaya dia gak usah di baikin .” Balas Tio yang tak mau kalah.

“Lo tuh yang bocah. Di bilangin gak usah pake emosi. Biar gue yang
nyelesaiin permasalahan gue sendiri .” Bentak Adit lagi mengingatkan
Tio.

Akhirnya Tio terdiam sedangkan yang lain hanya sanggup melihat.
Suasana kantin menjadi tegang karena tak ada yang berani melerai. Riki
dan teman temannya tak mengerti apa yang akan di lakukan Adit. Dia
cuma akan berusaha melindungi temannya yang tak tahu masalah
sebenarnya.

“Ki.. Gue kesini cuma mau minta maaf masalah kemaren.”
“Sama kamu juga Gre. Aku mau minta maaf.” Ucap Adit dengan senyum ramah.

Sedangkan yang lain melongo melihat sikapnya yang berbeda. Karena Adit
yang mereka kenal, Adit yang suka cari masalah dan kasar dengan murid
lain.

“Oohh.. Iya Bang udah kita maafin kok.” Jawabnya dengan senyuman pula
karena melihat Adit yang sudah berubah.

“Ya kan Gre ?” Tambah Riki.

Gracia yang sedari tadi ketakutan selalu memegang lengan Riki. Riki
juga mengerti tentang perasaan Gracia yang masih takut dan shock. Lalu
Riki melihat Gracia seraya tersenyum dan mengangguk untuk meyakinkan
Gracia agar memaafkan Adit.

“Iya kak. Udah aku maafin juga kok.” Balas Gracia.

Akhirnya suasana kantin kembali tenang. Adit dengan teman temannya
juga sudah meninggalkan  kantin. Sedangkan Henri yang dari tadi diam
mulai merasa aneh dengan Riki dan Gracia. Karena entah apa yang Gracia
pikirkan dia tetap memegang lengan Riki. Meskipun Adit yang menjadi
biang ketakutannya sudah menghilang.

“Ki.. Lo pake magnet model apa sih sampe Gre mau nempel mulu sama lo
?” Tanya Henri iseng.
“Suee lo. Lo kira gue speaker aktif pake magnet segala.” Jawab Riki sewot.

“Iya tuh. Mukanya Gre sampe merah gitu.” Ucap Michelle menimpali serta
terdengar bunyi bel tanda masuk.

“Iihh.. Kalian apaan sih ?, gak lucu tau. Mending masuk kelas aja,
udah bel tuh.” Ucap Gracia sambil meninggalkan mereka bertiga.

Merekapun kembali ke kelasnya untuk belajar kembali. Ketika berjalan
ke kelas Gracia tiba tiba terlintas dalam  pikiran Gracia, mengapa ia
merasa begitu nyaman dan merasa aman ketika bersama Riki. Apa dia
mulai merasa suka dengan Riki. Teman temannya yang berjalan di
belakang Gracia cuma bisa menggelengkan kepala, karena melihat Gracia
jalan begitu riang.

“Tuh chell, temen lo kesurupan kayaknya, gak biasanya dia kayak gitu.”
Ujar Henri sambil berjalan menuju kelas.

Jam demi jam pun berlalu hingga saat pulang sekolah tiba. Semua
muridpun bergegas meninggalkan sekolah untuk beristirahat di rumah.
Nampak beberapa murid menunggu jemputan mereka di depan sekolah. Ada
pula yang nongkrong di warung dekat sekolah. Dari lorong sekolah
terlihat Adit dan teman temannya sedang berjalan menuju parkiran
untuk mengambil kendaraan masing masing.

“Dit.. Kok bisa sikap lo bisa berubah gara gara ntu bocah. Gak habis
pikir gue.” Ucap salah satu temannya yang mengungkit kejadian di
kantin.

“Lo gak bakal ngerti selama lo masih nganggep yang kuat yang
berkuasa.” Ucap Adit menerangkan.

“Emang yang kuat yang berkuasa. Yang lemah cuma bakal jadi keset.”
Ucap Tio dengan nada jengkel.

“Udah kali gak usah debat. Dan buat lo Yo, biarin lah serah Adit mau
ngapain kalo berubah baik gini kan enak juga.” Ucap teman Adit yang
lain.

“Gak usah sok bijak lo Lan.”
“Biar gue cari tuh bocah sekarang. Geram gue gara gara dia
persahabatan kita rusak.” Ucap Tio sambil meninggalkan Adit dan Alan.
“Serah Lo Yo, moga aja lo dapet pelajaran.” Balas Alan sedikit berteriak.

Tio pun segera mencari Riki untuk menyelesaikan masalahnya. Dia mulai
mencari dari lorong sekolah yang mulai sepi, tinggal beberapa murid
yang sedang berjalan menuju gerbang. Sampai sudut sekolah ia cari agar
Riki tak terlewat karena ia sudah amat marah dan ingin menghajar Riki.
Setelah berputar putar akhirnya Tio menemukan Riki di parkiran yang
hendak mengambil motornya.

“Bakal gue habisin lo”  Batin Tio sambil berjalan menghampiri Riki.

Setelah jarak cukup dekat, dan Riki menoleh untuk melihat siapa yang
menghampirinya. Dan dengan sekuat tenaga ketika Riki menoleh Tio
menghajar wajahnya. Riki pun langsung terkapar karena tanpa persiapan
sedikitpun.

“Gila mantep juga pukulan Tio. Gue harus hati hati.” Batin Riki sambil
memegangi wajahnya.

Tio yang sudah emosi langsung membangunkan Riki lagi serta memukul
perut lalu menendangnya. Riki yang tak mengerti permasalahannya mulai
menghindar seraya bertanya apa masalahnya pada Tio.

Riki : “Lo kenapa Bang tiba tiba hajar gue, apa masalahnya ?”

Tio : “Gak usah belaga bego lo, kemaren lo hajar Adit kan sampe dia
berubah gitu.”

Riki : “Kagak Bang, dia aja gak lecet sama sekali masak gue hajar.”

Tio : “Gak usah ngeles lo, gak mungkin dia berubah secepat itu.” “Ayo
bales gue, takut lo ?”

Riki : “Bagus kalo dia berubah. Kemaren dia gangguin temen gue, gue
cuma peringatin dia.”
“Nggak Bang, gue gak mau beranten sama lo.”

Tio : “Banci lo, ayo kita buktiin siapa penguasa sekolah ini. Mentang
mentang lo atlet silat sekolah gak usah sok jago depan gue.”

Riki : “Gak Bang siapa juga yang mentingin kayak gitu. Gak ada gunanya juga.”

Tio : “Ccuuiihh..   Munafik lo.”

Tio yang sudah benar benar marah terus mencoba menghajar Riki meskipun
Riki selalu menghindar. Tio yang memiliki tenaga besar pun sampai
terlihat tak punya rasa lelah. Riki juga mulai berpikir bagaimana
menghentikan Tio yang sudah seperti orang kerasukan.

“Okelah Bang gue bakal ladenin.” Batin Riki.

Tiba tiba Riki sengaja menahan pukulan Tio hingga ia mundur beberapa
langkah. Dalam kesempatan itu Riki langsung memanfaatkan dengan
bersiap dengan memasang kuda kudanya.

“Akhirnya lo mau melawan gue.” Ucap Tio.

“Oke Bang, sini maju. Ayo kita mulai.” Jawab Riki tenang.

“Dibilang gak usah sok jago lo.” Teriak Tio sambil hendak memukul Riki.

Tio pun hendak memukul wajah Riki, kemudian Riki menangkis serta ingin
membalas tapi hanya di  dorongnya dada Tio hingga mundur beberapa
langkah. Tio maju lagi dengan percaya diri seraya menendang Riki.
Kuatnya tendangan Tio berhasil menembus dada Riki, lalu ia kembali
hendak menendang lagi tapi Riki sudah siap untuk menghindar dan
menendang kaki Tio hingga ia terjatuh. Tio pun langsung bangun serta
hendak memukul Riki lagi. Riki menangkisnya lagi tetapi kemudian ia
genggam tangan Tio dan di kuncinya. Tio pun tak bisa berkutik karena
menahan sakitnya akibat tangan yang terpelintir jika ia bergerak.
Kemudian Riki mulai berbicara kepada Tio tentang apa masalahnya.

Riki  : “Lo kenapa Bang, tiba tiba ngajar gue ?”

Tio : “Gara gara lo Adit gak asik lagi, udah kayak orang asing bagi
gue. Puas Lo.”

Riki : “Kan bagus kalo jadi baik. Masak malah gak seneng. Gimana sih !”

Tio : “Lo tau kalo gak ada Adit, geng gue ngerasa kurang, Karena dia
paling kuat. Ngerti Lo.”

Riki : “Lupain tentang siapa yang paling kuat Bang, gak ada gunanya
pamerin kayak begituan.”

Tio : “Gak usah sok bijak lo di depan gue. Lo tuh bocah kemaren aja
udah songong.”

Riki : “Kalo gue mau juga udah ngebales pukulan lo tadi Bang. Terus
gue patahin nih tangan, tapi gue inget kalo lo juga temen gue Bang,
gak harusnya pake kekuatan buat nyelesain masalah. Yang ada cuma
dendam doang, gue harap gak ada kayak gitu lagi Bang di. Sekolah ini.
Karena kita semua teman.

Setelah mendengar perkataan dari Riki, Tio terus terdiam dan berpikir.
Merasa Tio udah mulai tenang, dengan perlahan Riki melepaskan
kunciannya dan pergi meninggalkan Tio. Riki pun kembali merapikan
bajunya dan beranjak pergi meninggalkan Tio.

“Gue harap Lo berubah kayak Adit Bang.!” Ucap Riki seraya meninggalkan Tio.

Tio pun termenung dan menatap Riki dari jauh. Karena ia tak pernah
melihat Riki yang sejatinya kuat untuk memperlihatkan kekuatannya.
Hatinya pun tersentuh mengingat perkataan Riki tadi.

“Lo bener Ki. Kekerasan gak nyelesain masalah. Bahkan lo yang udah gue
hajar gak bales sedikitpun meski lo juga punya kesempatan mukul gue.
Gue salut sama lo Ki.” Batin Tio sambil berbalik meninggalkan
parkiran.
Setelah keributan itu mereka berdua meninggalkan sekolah dan pulang
kerumah masing masing. Tio yang sedang mendorong motor sampai gerbang
sekolah terhenti melihat dua orang temannya yang belum pulang tapi
malah menunggunya. Tio pun hanya lurus dan tak menghiraukan mereka
namun ia di hentikan oleh salah satu temannya.

“Gimana Yo, udah puas apa belum lo ?, kita nungguin lo disini karena
kita takut lo mati lawan Riki.” Ledek salah satu temannya.

Pltak.. Pltak.. Tio pun memoles kepala teman temanya hingga mereka
berdua meringis kesakitan.

“Kampret. Lo berdua jadi nyumpahin gue mati.” Ucap Tio geram.

“Gak nyumpahin panjul. Cuma jaga jaga doang. Ntar kalo lo mati gak ada
yang nyeret. Terus jadi bangke gimana, mau lo ?” Ganti salah satu
temannya meledek.

Pltak..

“Aadidih..”
“Kok lo molesin pala gue mulu. Lo kira ni batu akik apa.” Umpat temannya tadi.

“Makanya jangan sekate kate, ya udah yuk balik aja capek gue.” Balas Tio.

“Yak udah yuk. Yang penting lo gak kenapa kenapa.” Balas mereka berdua.

“Kayaknya Lo udah berubah Yo meskipun belum sepenuhnya.” Batin salah
satu teman Tio.

Sementara itu yang Riki sudah sampai rumahnya, langsung mendapat
pertanyaan bertubi tubi dari ibunya. Karena ia pulang dengan baju acak
acakan serta muka dengan luka lebam.

“Kamu berantem lagi Ki ?”
“Kan udah mama bilang gak usah berantem berantem lagi !”
“Kapan sih kamu bakal dengerin omongan mama ?”
“Mama gak mau kamu kenapa kenapa Ki. Kamu anak mama satu satunya.”
Ucap ibunya bertubi tubi sedang Riki hanya bisa tertunduk.

“Tadi Riki tiba tiba di pukul ma. Tapi Riki gak ngelukai dia kok ma,
cuma berusaha menghentikan aja. Mama juga gak usah khawatir, Riki kuat
kok.”
“Ya udah Riki mau masuk dulu ma. Udah gerah pengen mandi terus
istirahat.” Jelasnya seraya meninggalkan ibunya yang termenung melihat
keadaan anaknya.

Setelah beberapa saat ibunya kembali menengok Riki untuk melihat luka
anaknya. Rasa khawatir dan takut kehilangan amat terasa di benak
ibunya. Riki yang sadar ibunya datang mengetuk pintu kamarnya langsung
membuka pintu. Ketika ia membuka pintu, Riki terkejut karena melihat
papanya juga berada di sutu.

“Papa sama mama mau ngomong sebentar bisa Ki ?” Tanya papa Riki.
“Tumben rombongan ke kamar Riki. Pasti penting.”
“Pasti bisa kok.” Jawab Riki sambil menuntun mereka masuk.

Suasana hangatnya keluarga amat terasa dalam perbincangan tersebut.
Riki yang menjadi objek pembicaraan merasa tidak enak, karena orang
tuanya begitu mengkhawatirkannya. Sampai sampai ibunya hendak menangis
melihat wajah Riki penuh luka lebam. Riki pun hanya bisa memeluk
ibunya untuk menenagkan dan memberi keyakinan bahwa ia baik baik saja.

“Ya sudah, inget ya Ki. Semakin kuat dirimu pasti makin banyak yang
ingin menjatuhkan kamu.”
“Lain kali hati hati ya. Kasihan ibu kamu juga tuh sampe mau nangus
tadi.” Ucap papanya mengingatkan.

“Sip kok Pa, Lain kali bakal hati hati. Papa sama mama gak usah
khawatir. Riki bisa jaga diri kok.” Ucap Riki meyakinkan mereka
kembali.

“Ya udah kamu istirahat aja, ntar mama anter makanan ke kamar biar
kamu bisa istirahat penuh.” Ucap mama Riki.

“Iya ma, Makasih ya ma.” Balas Riki.

“Iya sama sama.” Ucap kembali ibunya sambil meninggalkan kamr bersama ayahnya.

Hari pun telah berganti, mentari mulai menampakkan sinarnya. Cuaca
cerah menyambut mata yang mulai terbuka bersama timbulnya kembali
semangat melakukan aktivitas.
Riki yang masih tertidur lelap mulai membuka mata akibat pancaran
sinar mentari. Ia pun terkejut karena ibunya sudah berada di kamarnya,
karena hal tersebut amat asing baginya terkecuali jika ia kesiangan.

“Sekarang jam berapa sih ma ?” Tanya Riki sambil mengucek ucek matanya.

“Setengah tujuh, kalo kamu masih sakit gak usah masuk aja gak apa Ki.”

“Kok gak dari tadi sih ma banguninnya ?” Tanya Riki sambil beranjak
dari tempat tidurnya.

“Kirain mama kamu tadi gak mau sekolah, ya jadi gak mama bangunin.”
Balas ibunya sambil merapikan kamar Riki yang meninggalkan kamarnya
untuk mandi dan bersiap.

Setelah beberapa saat akhirnya Riki selesai mandi dan bersiap. Namun
karena terburu buru ia tak mempedulikan penampilannya meski sedikit
acak acakan.

“Ma.. Riki berangkat dulu takut telat. Sarapan di sekolah aja nanti.”
Ucap Riki sambil mengambil apel di meja.

“Iya. Hati hati jangan ngebut bawa motornya.” Ucap ibunya sambil
menggelengkan kepala melihat tingkah Riki.

Riki pun bergegas berangkat ke sekolah karena jaraknya cukup jauh.
Dengan motor bebeknya ia melaju dengan penuh harap agar tak terlambat.
Karena ia tahu akibat jika terlambat pasti akan habis di hukum oleh
pak Agus. Meskipun terlihat kalem tapi ia sangat tidak suka dengan
anak yang terlambat.

Bersambung…..

Mohon tinggalkan kritik dan saran buat para reader terima kasih.

-Febrianto Eri Setiawan-

Iklan

Satu tanggapan untuk “Kuat Karena Kita Bersama Part – 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s