Pengagum Rahasia 2, Part 26

*Deg…Deg…Deg…

            (Suara detak jantung seseorang)

“Hangat,”

“Siapa yang usap-usap kepala ya…,”

“DEV!”

“Uh…S-Siapa!? Siapa yang manggil!?”

“Deva! akhirnya kamu sadar!”

“Eng…umm,”

Dengan tatapan yang kosong, ia hanya melihat langit-langit sambil bernafas teratur.

“Syukurlah!”

“V-Ve…,” ucapnya begitu lemas

Ia mulai bangun dan sedikit menopang tubuhnya yang lemas itu.

“Ekh!”

“Jangan maksain Dev!”

Namun karena begitu lemasnya, Deva langsung jatuh ke pelukan Ve.

“Kenapa ini? Kenapa badan aku lemes banget,”

“Kamu jangan terlalu banyak gerak dev, kondisi badan kamu masih belum pulih,” ujar Ve sembari membaringkan Deva kembali

“Dimana ini?” ucap Deva sambil memegang kepalanya

“Ini…di kamar aku,” sembari tersenyum menunjukan garis pipinya

“Eh!?” Deva tampak kaget

“3 Hari yang lalu kamu ketabrak mobil dev,” Jelas Ve

“Ah…,” Deva berusaha mengingat sesuatu

“Seriusan? Perasaan enggak deh,”

“…mungkin kamu sedikit lupa, hehe…,”

“Jadi maksud kamu aku udah gak sadarkan diri selama 3 hari?”

Ve hanya mengangguk.

“Uh…,” Deva berusaha bangun

“Jangan terlalu…,”

“Makasih ya sayang,” Deva tiba-tiba memeluk Ve

“EH!” Ve terkejut namun ia juga membalas pelukan itu

“udah cukup dev, kamu harus istirahat yang banyak,” ujar Ve sambil melepas pelukan itu

Deva mengelus pipi Ve, lalu mulai mencubitnya. “Iya, aku bakalan istirahat kok,”

“Hihi…,” Ve terlihat begitu bahagia

“umm, kak Melody…tau soal ini?”

Ve terdiam sejenak lalu menarik nafas panjang. “Dia tau dev, sekarang dia lagi ngurus biaya rumah sakit kamu,”

“Eh!? B-Beneran!?”

“Iya,”

“Duh…Aku malah jadi ngerepotin gini,”

“Sshhhh…jangan menyalahkan diri sendiri kayak gitu sayang,”

“Lagipula kan ini semua karena kecelakaan,” tambah Ve

“…kamu bener, ini karena kecelakaan,” ucap Deva

“Ah Ve, kamu bisa lepasin perban ini di kepalaku gak? Bener-bener ngerepotin,”

“J-jangan sayang! Kamu ini maksa banget sih! Huh!”

“Ah…Gak bisa yah,”

*Dert! Dert-Dert!

“Tunggu sebentar…,” Ve mengangkat panggilan di Handphonenya

“Halo?”

“Ve,”

“Eh Mel, kalau soal Deva sekarang dia udah siuman kok,”

“AH! Beneran Ve!”

“Iya bener mel,”

“Ya ampun syukurlah!”

“Eh bukan itu yang mau aku omongin!,”

“Ha? Terus apa dong?”

“Hari ini aku mau minta surat cuti di cafe, terus tadi dokter bilang ada hasil laporan fisik dan mental yang baru untuk Deva,”

“Jadi?”

“Kamu bisa tolong ambilin hasil laporan itu gak Ve?”

“Oh bisa-bisa! Kapan emangnya?”

“Ya sekaranglah!”

“Oke deh aku siap-siap dulu,”

“Yaudah, thankyou ya Ve bye!”

“Bye!”

*Tet…

Panggilan itu berakhir.

“Dari kak mel ya?’

“Iya, hihi…dia khawatir sama kamu,”

“Hemm…ternyata emang malah ngerepotin ya,”

“Enggak kok enggak! Kamu kan…,”

*Dert! Dert-Dert!

“Heeeeh! Siapa lagi sih ini yang nelfon!” ucap Ve geram

Ve langsung mengangkatnya.

“Halo?”

“Halo selamat sore, apa saya sedang berbicara dengan dek Jessica Veranda?”

“Ah iya betul,”

“Saya dokter yang merawat Deva selepas kecelakaan kemarin,”

“Oh iya, ada urusan apa ya pak?”

“Begini…karena hari ini saya ada urusan penting, jadi mungkin saya tidak akan sempat memberikan hasil laporan terbaru untuk kondisi fisik dan mental nak deva,”

“Ehmmm…,”

“Oleh karena itu, mungkin saya beritahu saja langsung pada dek Jessica di telfon, boleh?”

“Oh boleh-boleh pak, tunggu sebentar…,”

Ve beranjak dari kasur.

“Tunggu bentar ya sayang,”

Ve diam di depan pintu itu dan kembali menempelkan handphonenya di telinga.

“jadi hasil laporan fisiknya cukup baik, karena tidak ada luka cacat akibat kecelakaan itu, hanya saja ada sedikit luka goresan di kepalanya,”

“Syukurlah kalau gitu,”

“Akan tetapi, hasil laporan mentalnya sedikit terganggu,”

“Ah, begitu ya dok,”

“Dan juga sepertinya nak Deva terkena sedikit luka kepala, singkatnya ingatan jangka pendek nak Deva sedikit terganggu,”

“Hah!?” Ve sedikit kebingungan sekaligus tidak percaya

“Lupa ingatan sementara ini diakibatkan karena benturan keras di kepalanya tersebut. Nak Deva untuk saat ini tidak memiliki kemampuan untuk mengingat sesuatu yang pernah ia alami selama seminggu,”

“M-Maksudnya dok!?”

“Singkatnya, Nak Deva tidak mampu mengingat suatu kejadian atau peristiwa yang ia alami selama seminggu, 4 hari, atau bahkan 1 hari,”

Ve terlihat shock sembari menutup mulutnya.

“T-Terus dok!?”

“Dek Jessica tidak perlu khawatir, karena ingatannya akan kembali pulih dengan bantuan dari lingkungan di sekitarnya,”

“Nak deva bisa kembali mengingat semua hal dengan melakukan pengobatan rutin serta di bantu juga oleh lingkungan disekitarnya,”

“Saya mengerti dok,”

“Hanya itu saja yang dapat saya sampaiakan, terimakasih dek Jessica,”

“Iya sama-sama dok,”

Ve menutup Handphonenya.

“Tadi yang nelfon siapa Ve?”

“Ah, cuma dokter dari rumah sakit kemarin kok,”

“Oh…Apa katanya?”

“EH! Eng…katanya kondisi kamu udah pulih dev, untuk sekarang kamu cuma harus menstabilkan kondisi badan kamu aja,,”

“umm,” Deva mengangguk

“Kalau gitu aku temenin kamu yah,” Ve tidur di samping Deva

“Eh, emangnya gak apa-apa ya ve? Nanti kalau ada tante sama om gimana? Terus si aaron juga,”

“Gak apa-apa kok, mereka juga udah pada tau, eh maksudnya aaron udah tau kok,”

“Hah?”

“Papa sama mama kemarin emang baru pulang dari singapur, tapi mereka udah pergi lagi ke malaysia,” Jelas Ve

“Terus adik kamu?”

“EH! kalau adik kamu tau kita sekamar kayak gini gimana!? Bisa jadi gosip disekolah nih!” lanjut Deva

“aku bakal suruh dia tutup mulut kok dev,”

“Eng…bagus deh kalau gitu,”

“Jadi…kamu beneran mau tidur bareng sama aku…Dev?”

“Untuk sekarang aku gak mau jauh-jauh dari kamu Ve,” ucap Deva sembari mencubit-cubit pipi Ve

Ve tampak begitu bahagia di lihat dari senyuman yang terpancar di wajahnya.

“Tadi kamu bilang aku gak sadarkan diri selama 3 hari, itu berarti sekarang hari…,”

“Rabu,” ucap Ve menambahkan

“emangnya kenapa sayang?” lanjut Ve

“Duuh…sering banget aku bolos sekolah,”

“Sakit! Bukan bolos!” ucap Ve sembari mempelototi Deva

“Ahaha…jangan gitu lah, aku jadi takut Ve,”

“Eh, Eng…hihi…maaf sayang,”

“…apa ada anak 48 yang jenguk aku?” lanjut Deva bertanya

Ve tiba-tiba terdiam.

“Ve?”

“Ada dev…,” jawabnya pelan

“Oh, siapa?”

“Sinka,” balas Ve singkat

“Sinka? Oh…,”

“Loh? Kok keliatannya biasa aja dev?”

“Emm-maksud? Harusnya gimana emang? Kan Sinka temen kelas aku Ve, aku masih bersyukur ada yang jenguk aku,”

Ve terdiam

“Sayang…kenapa sih? Mau aku cubitin pipi?” ucap Deva

“Hiiiih! Genit deh!”

“Dih, aku kan cuma mau cubit bakpao yang ini! Nih!” Deva mencubit pipi Ve

“Ah-ah! Sakit ih!”

“yaudah di elus-elus aja deh,” Deva mengelus pipi Ve

Ve yang merasa nyaman pun hanya diam.

“Ve, sini deh lebih deket,”

“Eh?” Ve hanya menuruti perkataan Deva

Tanpa disangka deva langsung memeluk ve, kemudian ia menarik selimut itu untuk berdua.

“Aku sayang sama kamu Ve,” ucapnya di telinga Ve

“De…Va…,”

Ve tiba-tiba meneteskan air mata.

“K-Kenapa kamu nangis Ve!” ucap Deva terkejut

“Aku…Aku cuma bahagia dev…,”

“Kok bisa gitu!?”

Ve mengelap air matanya. “dah, gak usah di pikirin,”

“Btw sekarang udah jam 9 malem, tidur gih,” ujar Deva

“Harusnya aku yang bilang gitu dev,”

“Hemm…,”

“Aku boleh kan nemenin kamu semaleman?” tanya Ve

“yah…asal gak keliatan sama adik kamu, bisa gawat nanti,”

“Gak akan kok sayang,” ucap Ve sembari mengelus pipi Deva

“Oh iya, mulai besok aku harus mulai sekolah lagi deh,”

“EH! J-jangan sayang!”

“Kenapa? Lagian aku udah gak apa-apa kok,”

“Gak boleh!”

“yah ve…aku mau sekolah, bosen kalau diem di rumah terus,”

“Pokoknya gak bol…,”

“Ssssshhhh….,” Deva begitu dekat dengan Ve

“Kamu ini terlalu berlebihan Ve,” ucap Deva

“Eng…umm…,” *CUPS!

Ve tiba-tiba mengecup bibir Deva.

“Hiih! Kenapa tiba-tiba nyium!?”

“Yah karena kamu maksa pengen sekolah, anggap aja ciuman aku yang tadi tuh sebagai jimat kamu,”

“Huh, ada-ada aja kamu,”

“Dah cukup, kalau gitu selamat tidur sayang,”

“Selamat tidur Ve…,”

~oOo~

            Di pagi hari…

*Shhhhrrrrrr….

“Hmm? Siapa yang mandi sepagi ini?”

“Huah…padahal aku aja baru bangun tidur, ternyata ada yang lebih rajin daripada ak…,”

*Ceklek!

“Eh Ve,”

“D-deva!? Jadi kamu yang daritadi ada di kamar mandi!?”

“yah, lumayan seger juga airnya,” balas Deva

“Loh, itu perbannya kamu copotin?”

“Iyalah, susah kan kalau di pake pas mau mandi,”

“Lagian cuma ada luka kecil doang kok,” tambah Deva

“Sayang! Kamu mandi sepagi ini, padahal kan sekolahnya juga masuk jam 7,”

“ya gak apa-apa, kan biar santai,”

“Belum lagi seragamnya masih ada di rumah kamu kan?” ucap Ve

“Eh iya juga yah, mungkin aku bakalan pulang dulu kali,”

*Teng-Tong!

“ya ampun, siapa yang bertamu subuh-subuh gini sih…,” ucap Ve dengan wajah mengantuknya

Ia berjalan menuju pintu rumahnya. Ketika sampai, ia pun membuka pintu itu.

“Melody!?”

“Ah Ve, udah bangun ternyata,”

“Masuk cepetan! Huah….,” ucap Ve dengan mata yang sedikit terpejam

Melody pun masuk ke dalam.

Kini mereka berdua berada di ruang tamu.

“Kamu datang sepagi ini cuma mau liat kondisinya Deva!? Ya ampun mel…,”

“Jelas lah ve! Lagian kan aku ini kakaknya,”

“Hemm, iya deh…,”

“Ah, soal laporan dari dokter kemarin…,” ucap Ve menggantung

“Aku tau kok,” ucap Melody melanjutkan

“umm, menurut kamu gimana mel? Jujur aku sedikit takut,”

“Jangan negative thinking gitu…semoga aja nanti kepala dia bisa pulih lagi kayak dulu,”

“Ah, kak Melody ya,” ucap seseorang dari belakang

“Loh!? Dia udah bangun!?”

“Bahkan dia bangun lebih pagi daripada aku mel,” Jelas Ve

“Ngapain sih bangun pagi-pagi!?” tanya Melody

“Kan mau sekolah,”

“What!? Bukannya kondisi badan kamu masih belum pulih dev!?” ucap Melody lagi

“Kalau badan Deva belum pulih, mana mungkin deva bangun pagi terus langsung mandi kayak gini,” timbal Deva

“nanti aku pinjem motor adik kamu ya Ve, mau ambil seragam di rumah,” lanjut Deva

“Ek…Gak! Biar kakak aja yang bawa,” ucap Melody

“Hah? Beneran?”

“Iya! Karena kamu maksa banget pengen kesekolah, ya terpaksa deh…,”

“yaudah deh aku buatin sarapan dulu ya sayang,” Ve pergi dari ruang tamu

Kini hanya tinggal melody dan Deva saja disana.

“Jangan lupa di minum obatnya dev,” ujar Melody

“Iya-iya,”

“yaudah, kakak mau langsung bawa seragamnya,”

“Sendirian?”

“Dih, jangan kira kakak takut jalan sendirian dev,”

“Bener?”

“Iya bener! Dah sarapan dulu sana!”

~oOo~

~Kreeeeng…

~Kreeeeng…

~Kreeeeng…

“Loh? Suara belnya beda lagi,”

“Ayo cepet-cepet masuk! Gerbangnya mau di tutup!” ucap satpam itu

“Eh, iya-iya pak,”

“Deva!?”

“Ah Sinka, kebetulan kita ketemu,”

“K-Kamu kenapa sekolah!? Bukannya masih dalam proses penyembuhan!?”

“Penyembuhan apaan?”

“Eh lupakan dulu soal itu, tadi kamu bilang kita kebetulan ketemu…ada apa emang?”

“Gak ada apa-apa sih, aku cuma mau bilang terimakasih karena udah jenguk aku kemarin,”

“Ek!” Sinka tampak malu dengan memalingkan pandangannya

“Aku pikir kamu itu orangnya gak pedulian, ternyata kamu masih care sama orang-orang, bahkan orang yang dibenci sekalipun,”

“Eh-Haha…bukannya kemarin aku udah bilang dev, aku gak pernah benci sama kamu kok,”

“Eng…kapan kamu ngomong kayak gitu sin?”

“Kemarin dev! Pas kita pulang dari bioskop!”

Deva berusaha mengingatnya.

“Terakhir kali aku ketemu kamu itu pas waktu kita latihan band buat seni musik deh,”

“Ish! Jangan main-main dev!” bentak Sinka tepat di depan wajah Deva

“Hiih! A-Aku serius kali sin!” balas deva namun sedikit ketakutan

“Ah!?”

Sinka pun menyentuh dahi deva dengan tangannya.

“Kamu masih sakit kayaknya dev,”

“kagak lah sin,”

“Terus luka kamu akibat ketabrak mobil kemarin gimana?” tanya Sinka

“Eh…cuma goresan aja sih, di kepala sini…,” tunjuk Deva

“Kita gak akan masuk sin? Nanti di marahin guru,” lanjut Deva

“santai aja deh, selagi kita udah ngelewatin gerbang ya gak masalah,” ucap Sinka

“Ngomong-ngomong aku bingung kenapa bisa dapet luka ini,”

“Tadi kan udah di bilang kamu ketabrak dev, Heh!” Sinka geram

“ya semua orang bilang gitu, tapi…perasaan enggak deh,”

“aku sama sekali gak inget kalau aku pernah ketabrak sama mobil, yang ada tuh aku yang pernah nabrak mobil pake motornya ihza, Hahahaha,” Jelas Deva

“Masih aja bercanda yah,” ucap Sinka

“Hehe sorry…,”

“Terus kamu bilang sehabis pulang dari bioskop, aku kan belum pernah ngajak kamu ngedate lagi sin semenjak waktu itu gagal,” lanjut Deva

“Duh kamu malah bikin aku bingung dev, udah deh kita masuk kelas,” Sinka langsung memegang tangan Deva dan menuntunnya

“eh…aku ini bukan anak kecil sin, gak usah di tuntun,”

“Kamu ini masih sakit, jadi harus aku tuntun sampai kelas,” ucap Sinka

Deva terdiam dengan wajah polosnya.

“Ngomong-ngomong dev, jangan bilang-bilang yah soal kejadian kita yang kemarin itu,” bisik Sinka

“Eng…,”

“Jangan bilang kalau kamu lupa,”

“Ehehe, kejadian yang mana sin?”

“ya ampun dev, yang pas kamu nembak aku di warteg itu loh!”

“Emm…,” Deva menggaruk-garuk kepalanya

“Aku kan gak pernah nembah kamu sin,”

“Uwaaa! Kamu ini kenapa sih dev!”

“Eh-eh! kenapa jadi ngamuk!?”

“udah deh ah! Kamu bikin aku tambah pusing dev!”

Sinka pun pergi menuju kelas lebih dulu.

~oOo~

Kegiatan belajar pun berjalan seperti biasanya. Guru-guru yang masuk ke kelas melontarkan pertanyaan pada Deva karena ketidakhadirannya kemarin. Bahkan murid-murid pun banyak yang bertanya-tanya padanya.

Sedangkan Deva hanya menjawab seadanya karena ia sama sekali tidak tau apa-apa.

Di saat jam pelaran ketiga, seseorang wali murid datang ke kelas untuk menjemput Deva.

“Oh, kakaknya deva yah,”

“Iya buk, saya mau jemput dia karena dia masih bener-bener sakit,”

“Tapi deva sakit apa ya dek…,” ucapnya menggantung

“Melody,” lanjut Melody

“Begini buk…saya gak bisa jelaskan penyakit Deva sekarang, tapi mungkin nanti saat waktunya tepat akan saya jelaskan kok,”

“Baik kalau begitu, berhubung saya juga wali kelasnya deva,”

“Oh buk mela ya,”

“ya, saya buk mela wali kelasnya deva,”

“Ah, mungkin kita bisa ngobrol secara pribadi di meja saya sekarang,”

“Tapi nanti akan mengganggu proses belajar kan buk?” ucap Melody

“Jangan khawatir, nanti tinggal saya beri mereka tugas,”

“yasudah mari saya antar…,” ucap buk Mela

“Mari,”

Melody pun menuruti guru tersebut untuk mengobrol secara pribadi dengannya.

Sementara itu…

*

*

“Kok kita di tinggal!?” ucap Shania

“Gak ada tugas lagi,” ucap Lidya

“Eng dev, yang ini gimana?”

“Oh, kalau yang ini kita bisa pake KPK sin,”

“ya ampun malah mesra-mesraan nih di belakang kita shan,” ucap Lidya

“hei, kalian udah jadian yah?” tanya Shania

“Heee! Enggak shan!” ucap Sinka

“Ah sin, yang ini pake KPK yah, jangan sampai lupa.” ujar Deva

“Kan udah kamu bilang tadi dev,” timbal Sinka

“Oh udah ya? Ahaha…,”

“Eng…,” Sinka tiba-tiba terdiam begitu juga dengan Shania dan Lidya

“Dev…,” ucap Sinka pelan

“Ya?”

“Aku…sedikit khawatir sama kamu,” lanjut Sinka

“Gw juga sama dev,” ucap Lidya

“Kamu tau dev, kondisi kamu sekarang benar-benar mirip dengan penderita amnesia” ucap Sinka

Sinka memegang kedua tangan Deva.

“Kamu harus jujur dev, kamu gak kenapa-kenapa kan?” tanya Sinka

“Y-yah, sekarang kalian semua malah bikin gw takut. Ahaha…,”

“Lagian aku gak kenapa-kenapa kok sin,” Jelas Deva

“Shan! Ngomong sesuatu dong!” ucap Sinka

Shania terlihat hanya bisa diam saja sembari melihat ke arah Deva.

“Ekhem dev!” panggil seseorang dari arah pintu kelas

“Eh kak Melody,” timbal Deva

“ayo cepetan!”

“Ah? I-iya deh,” Deva membawa tasnya

“Kamu mau pulang dev?” tanya Sinka

“Iya sin, sorry ya gak bisa nemenin kamu,”

“Aku anterin deh!” Sinka lekas beranjak dari kursinya dan langsung memegang tangan Deva

“umm shan? Lo gak mau nganterin deva juga?” tanya Lidya

Shania hanya menggelengkan kepala.

“yaudah deh,” Lidya pun kembali duduk

~oOo~

“Dev kamu tunggu dulu ya sama Sinka, Kakak ada urusan dulu sama buk mela,”

“Oke,” balas Deva

“umm kak melody,”

“Iya sin kenapa?”

“Sebenaranya sekarang Deva sakit apa kak?”

“Ah, gak apa-apa kok, biasalah cuma kurang istirahat,” Jelas Melody

“Tapi dia bener-bener mirip orang yang kena amnesia kak!” Kata-kata Sinka begitu keras sampai membuat melody terkejut

Tiba-tiba melody terdiam.

“M-maaf kak, Sinka tadi gak bermaksud…,”

Melody menarik nafas panjang dan berkata. “yah, seperti yang kamu bilang sin,”

“Eh!?”

“Sekarang Deva emang lagi bermasalah dengan ingatannya,”

*DEG!

            Jantung Sinka seperti berhenti berdetak.

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s