Smuthie

sm-1

WARNING: MENGANDUNG KALIMAT dan KATA 18+, BUAT YG DI BAWAH UMUR HARAP JANGAN DIBACA. KALO MASIH TETAP BACA, TANGGUNG BAPER SENDIRI.

Di sebuah kamar yang cukup besar, dihiasi lampu-lampu kecil yang menggantung panjang di dinding yang berwarna pink. Nampak dua orang gadis sedang melepas lelah dari kegiatan yang mereka lakukan dari tadi sore.

“Duh, capek banget yah latihan hari ini,” ucap gadis berpipi tembem yang nampak sedang merebahkan badannya di kasur.

“Iya, udah lama gak kayak gini, capek banget.” Balas temannya yang sedang duduk di ujung ranjang, menyelonjorkan kakinya yang penat.

“Koreonya susah lagi, bikin ngulang mulu kalo salah,” ucap si pipi tembem yang nampak menarik bantal di sampingnya lalu merebahinya.

“Ihh…, jangan tidur dulu, Sen!”

“Kenapa?” tanya Cesen melirik kearah temannya yang terlihat berdiri dan sedang melepas satu-persatu pakaian yang menempel di tubuhnya, hingga menyisakan hotpants dan bra.

“Kamu kan belum mandi.”

“Tapi aku udah ngantuk, Nads,” jawab Cesen yang pura-pura memejamkan mata.

“Ceseeen.., mandi dulu!” Nadse berjalan kearah ranjang lalu menarik tangan Cesen untuk bangkit dari bantal yang direbahinya, “make up juga belum kamu hapus lagi.”

“Nadse apaan sih?” Cesen berusaha melawan tarikan Nadse di tangannya, “aku kan udah ngantuk.”

“Gak! mandi dulu!” Nadse kembali menarik Cesen untuk bangun.

“Gak mau,” jawab Cesen lalu membalas tarikan tangan Nadse padanya, membuat Nadse tak seimbang berdiri dan jatuh tepat berada di atas tubuhnya, “mending kamu yang ikut aku tidur.” Cesen terkekeh setelahnya.

“Ishh…, bangun!” Nadse memukul dada Cesen pelan, dan itu membuat Cesen membuka mulutnya lebar.

“Berani yah main pukul,” ucap Cesen sambil menyipitkan kedua matanya, “di dada lagi.”

“Kamu juga sih gak mau bangun,” jawab Nadse sambil tersenyum jahat, “makanya buruan bangun!” ucapnya lagi.

“Gak mau, sebelum balas dendam,” ucap Cesen kemudian membalik tubuhnya untuk menindih badan Nadse yang tadinya berada di atasnya.

“Kamu mau apa?” Nadse tiba-tiba meronta, melawan tangan Cesen yang langsung menyerang dadanya yang sayangnya hanya menggunakan Bra saja, “jangan dong Sen, jangan!” Nadse meminta Cesen untuk berhenti menyerangnya.

“Gak mau, siapa suruh tadi ganggu aku mau tidur.”

“Kamu juga sih yang belum mandi,” jawab Nadse sambil menahan tangan Cesen yang mencoba menggapai Bra yang sedang ia kenakan, “Cesen udah deh!”

“Enggak! Hehe..” Cesen langsung tersenyum jahat ketika tangannya sudah bisa memegang kedua tali Bra yang Nadse kenakan.

“Eee Eeh…” Nadse terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya meminta Cesen untuk tidak menariknya.

“Engg… gak.” Dengan cepat Cesen langsung menarik kedua tali itu dan meninggalkan bunyi ‘Plak’ ketika menyentuh kulit Nadse.

“Ahhh…” Nadse meringis dan hampir mengeluarkan air mata sambil memusut kedua belah bahunya yang sekarang nampak berwarna merah.

“Enak kan?” tanya Cesen yang masih berada di atas tubuh Nadse, menindihnya.

“Sakit tauk,” jawab Nadse sambil merengutkan wajahnya, dan tanpa aba-aba ia beranjak duduk, memeluk Cesen, membalik tubuhnya dan menindihnya untuk kedua kali.

“Aaaa…,” Cesen memekik saat Nadse membalik tubuhnya dan langsung menyerang kearah dadanya yang lumayan besar. Tanpa segan, Nadse langsung meremasa isi Bra yang dikenakan Cesen, dan membuatnya langsung merintih.

“Mau mandi gak?” tanya Nadse sambil terus meremas dada Cesen.

Cesen terus meronta, bergerak-gerak tak karuan untuk melepaskan tangan Nadse dari dadanya dan juga tindihan di atas tubuhnya, “Enggak!” jeritnya tapi dengan nada suara yang begetar.

“Mandi, Sayang!” ucap Nadse dengan nada lembut tapi masih bertahan untuk tidak melepas kedua tangannya dari dada Cesen.

“Udah, Nads… udah!” pinta Cesen yang bersikeras menjauhkan tangan Nadse dari dadanya.

“Gak mau, kecuali kamu mau mandi,” jawab Nadse.

“Iya…, iya.” Cesen akhirnya mengalah setelah berjuang sia-sia melawan remasan tangan Nadse.

“Bagus! ayo mandi.” Nadse turun dari atas badan Cesen lalu bergerak menuju lemari untuk mengambil handuk, “buruan sayang~” ajaknya.

“Bentar kali Beib, lepas baju dulu,” jawab Cesen yang nampak sedang berusaha melepas kaos yang sedang dipakainya, “tunggu yah, masih belum kelar nih,” tambahnya.

Setelah semua pakaian di tubuhnya ia tanggalkan, Cesen pun berjalan menuju kamar mandi dan menerima handuk yang tadi diambil Nadse dari lemari.

“Kamu gak mandi?” tanya Cesen pada Nadse sebelum masuk ke kamar mandi.

“Entar aja deh, setelah kamu mandi.”

“Bareng aja deh Nads, biar setelahnya langsung tidur,” ucap Cesen memberi saran.

“Emm…, ide bagus tuh, oke deh kalo gitu.” Nadse membenarkan ucapan Cesen lalu kemudian berjalan mengambil handuknya, “yuk mandi!” ajak Nadse kemudian menarik tangan Cesen masuk kamar mandi.

 

TAMAT.

 

Ditunggu komen dan sumpah serapahnya :v

 

@authorgagal

Iklan

13 tanggapan untuk “Smuthie

  1. Cerita macam apa ini? Ga bagus, ga mendidik, dan gak baik di baca oleh anak di bawah umur. Saran aja ya ini, kalau mau buat karya tuh yg mendidik sedikit kalik ambil ex aja dari ‘kisah si penjual gorengan’ ffnya ga berat tapi mendidik dan baik di baca oleh anak di bawah 17th. Bagaimana generasi muda indonesia mau maju kalau pemuda-pemudinya kayak ini semua. Inget hidup di dunia gak buat cari kenikmatan saja tapi buat cari ilmu akhirat yg lebih bermanfaat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s