Sweet escapE : Love Trip, Phase 1

love

“Ku t‘lah.. temukan…

Satu hati dan itu kamu….”

“Indah… nya cinta…

Bahagia ku bila dekatmu….”

“Tak kusangka kamu jauh berbeda, tak seperti yang ku kira~”

“Aku pun merasakan yang sama… Seperti yang kuimpikan… haaan~”

“Cerita cinta bahagia kita berdua…~”

“Aku dan kamu tercipta untuk s’lamanya!~”

(Soundwave : Kisah Kita)

“Ini yang aku lakukan untuk kamu. Gak peduli kita awalnya kenal atau enggak, tapi… aku merasa beda sama ka-kamu.”

“Iya…, Iya…, please….”

“Aku cinta kamu.”

 

[Sweet escapE : LOVE TRIP]

 

Dalam kerumunan yang mengarah stasiun. Hingar klakson kendaraan bermotor berderu. Banyak orang beralu-lalang ke sana, kemari. Berdirilah seorang pemuda, sedang termenung kah? Dari tadi ia hanya menatap layar HP-nya. Sembari melirak-lirik ke sana kemari, entah apa yang ia cari.

 

TING TONG NENG NONG

TONG TENG NONG NENG

 

“Kepada seluruh penumpang Love Trip Express dimohon segera memasuki kereta karena 5 menit lagi kereta akan segera berangkat. Diulang sekali lagi….”

“Oke! Dimulailah liburan gue! Bandung, I’m coming!” Pemuda itu bangkit dari tempat duduk yang sedai tadi ia singgahi di tengah stasiun. Earphone yang ada dalam genggamannya langsung ia kenakan pada dua telinganya. Langsung ia membuka aplikasi Musik dan menyetel daftar playlist nya.

Tak lupa sebuah ransel ia gendong di punggungnya dan mulai melangkah masuk ke dalam kereta itu. Menoleh ke kanan dan kiri, mencari kursi kosong di antara kerumunan lautan manusia.

—o0o—

Ia duduk di kursi tengah gerbong kereta. Tepatnya, di sebelah kiri dan berdekata dengan jendela. Tak ada yang menarik saat perjalanan. Hanya beberapa jembatan, sawah, dan pegununan yang terlihat dari jauh. Bola matanya tak berkutat sekalipun dari panorama itu.

 

TING!

 

Sebuah LINE masuk di Hpnya. Langsung saja dia menekan penghidup daya pada Hpnya. Sejenak memandangi layar lockscreen di Hpnya yang memperlihatkan dua orang anak kecil sedang bergandengan tangan dengan latar mentari senja di bukit.

Nadse  : Rain! Kamu pergi kok gak bilang-bilang sih?! Kasih alasan yang jelas!

Rain     : Eh… E… ya… biar aku bisa refreshing sendirian sih. Itu aja kok.

Nadse  : sedang menulis pesan…

“Duh… kayaknya gue bakalan kena ceramah nih. Si Nadse lagi nulis novel panjang lagi.” Keluhnya dalam hati.

Nadse  : Kok kamu gitu sih? Kan kamu bisa bilang kalo mau pergi. Nanti aku temenin. Kenapa sih kamu ga cerita? Aku emang bikin salah ya sama kamu? Atau jangan-jangan kamu lagi kabur dari rumah? Oh… apa alasan kamu pergi sendiri biar aku gak ikut dan gangguin kamu, gitu?

“Tuh kan… bener, kena ceramah ini.” keluhnya lagi.

Rain     : Em… alasan yang terakhir mungkin bener.

Nadse  : Ih! Kok kamu gitu sih!

Rain     : Rencananya aku mau ngajak kamu Nadse… tapi kamunya lagi sibuk. Katanya kamu lagi magang di salah satu perusahaan. Ya jadinya aku gak mau gangguin kamu. Nanti kalo aku ngajak kamu, tugas kamu pastinya gak akan selesai.

 

—o0o—

 

Nadse  : Ya nggak gitu juga dong caranya. Kan kamu bisa ngomong dulu ke aku gitu kek. Biar akunya gak khawatir gitu… Kalo misal kamu perginya lama, gimana akunya?

Rain     : sedang menulis pesan…

“Eh, Nads… lo masih digantungin?” tanya seorang gadis dengan rambut ponytail nya yang sedang mengaduk-aduk minuman di depan mejanya.

“Iya nih… gak peka-peka orangnya, huft….” Gadis yang dipanggilnya hanya bisa cemberut dan menggembungkan pipinya. Menatap lesu ke arah layar Hpnya.

“Ya… cari yang laen kek Nads… secara lo kan banyak yang naksir. Noh, si Keynal. Anak fakultas ekonomi yang kapten tim basket itu lagi pedekate sama lo.”

“Ih, apaan sih Gre.” Nadse hanya menyenggol tangan Gre pelan.

“Terus itu noh si… siapa namanya gue lupa. Yang namanya kayak es lilin warung. Anaknya pinter, fakultas DKV siapa namanya… Ki-Kiko?”

“Ciko kaleee~” Nadse meninggikan suaranya tepat pada telinga Gre yang sedang berada di sampingnya.

“Gak usah nyolot juga kaleee~” Gre pun membalas Nadse.

“Jadi gimana?” Gre menaikkan sebelah alisnya beberapa kali.

“Gak deh, buat kamu aja. Kamu kan suka yang tipe-tipe smart gitu.”

“Eh, nggak juga lah. Aku mah, yang baik hatinya udah cukup kok.”

“Alah, sok-sokan nih.”

“Hey gais! Sorry lama.” Datang dua orang gadis dengan kacamata. Wajahnya mirip anak kecil seumuran SD atau mungkin SMP lah.

“Otut ku dan Mpen ku sayang, kamu telatnya KE-BA-NGE-TAN! Tau nggak sih.”

“Hehehe… ya sorry Gre. Ini nih, si Feni pake makan dulu tadi di kosan. Mana makannya lama plus banyak lagi.” Salah satu dari gadis berkacamata itu menoyor kepala gadis berkacamata satunya.

“Eh! Tadi kan kamu juga minta Okta!” Sekarang, giliran salah satu dari mereka membalas toyoran itu.

“Tapi kan…!!! Ta-“

“Sssuuuusssstttt!!! Jangan berisik… tuh tuh,” Gre melerai mereka berdua.

“Nadse kenapa sih?” tanya Okta.

“Sssuuuussssttt… jangan keras-keras. Nanti dia denger tau.” Gre semakin memperkecil volume suaranya.

“Oh, oke oke. Jadi… kenapa?” Okta bertanya dengan nada kecil juga. Sedangkan Feni langsung saja ikut bersama mereka berdua untuk sedikit menjauh dari Nadse.

“Tuh… liat, dia lagi badmood.” Kata Gre sambil menunjuk ke arah Nadse yang sedari tadi hanya diam menatap layar Hpnya. Dia hanya mengutak-ngatik Hpnya tidak jelas, wajahnya terlihat lesu.

“Kenapa? Apa berat badannya naik?” tanya Feni sambil memakan sebungkus kue wolens berisi coklat. Entah sejak kapan makanan itu ada di tangannya.

“Bukan, buka itu….” Gre menepuk dahinya pelan.

“Jadi gini, dia itu lagi digantungin….”

“HAH! APA?! DIGANTUNGIN?! Maksudnya digantung gitu?! Serem tau Gre!” Feni langsung saja berdiri dan berteriak-teriak histeris mendengar hal itu.

“Sssuuusssttt!!! Bukan itu maksudnya Fen…” Gre menjitak kepala Feni dan menyuruhnya untuk mendekat lagi.

“Kamu kenal Rain kan? Aldo Rain Rendyan, anak fakultas farmasi di kampus kita yang anaknya pinter itu. Jago main futsal dan basket.”

“Yang mana Gre? Gak pernah tau aku ada anak yang namanya Rain di kampus kita.” Ucap Okta sambil menggaruk-garuk kepalanya, mungkin ritual untuk mengingat.

“Ish… itu loh, yang anaknya kadang style-nya culun kalo lagi di kampus. Tapi cool banget kalo lagi ada tanding futsal atau basket.” Ucap Gre.

“Em… bentar-bentar…” Feni dan Okta menaruh tangannya di dagu mereka masing-masing. Membayangan di samping kanan dan kiri kepala mereka ada lampu dan mereka mencoba menyalakan lampu itu.

 

CTEK!

 

Mereka berdua menjentikkan jari bersamaan. Nampaknya lampu yang ada dalam pikiran mereka tadi…

“Gak tau.” Ucap mereka bersamaan. Bisa dibayangkan lampu yang ingin mereka nyalakan ternyata pecah.

“Errr…oke, kayaknya aku harus cerita dari sudut pandang kalian masing-masing biar kalian jelas dan tau siapa itu Rain.”

 

—o0o—

 

Suara kereta yang sudah berhenti di sebuah stasiun mulai menggema. Bersamaan dengan terbukanya pintu di tiap-tiap gerbong kereta tersebut.

 

TING TONG NENG NONG

TONG TENG NONG NENG

 

“Untuk seluruh penumpang Love Trip Express, pemberhentian di stasiun Manggarai 2 telah sampai. Mohon bagi penumpang yang turun di stasiun ini segera meninggalkan kereta karena 5 menit lagi kereta akan berangkat menuju pemberhentian berikutnya.”

Rain langsung mengambil tas ransel besarnya yang berisi semua keperluannya liburan. Menuju keluar dan baru saja satu langkah ia hendak keluar. Matanya tertuju pada seorang gadis. Ya, gadis cantik yang sedang berlari pelan.

“Tunggu, berhentiin kereta itu!” teriaknya cukup kencang.

Rain pun bermaksud baik. Mungkin gadis itu agak tidak on time dengan jadwalnya. Pemuda itu tetap diam dan mencoba meraih tangan gadis itu karena kereta baru saja akan berjalan.

“Mari mbak, saya bantu.” Rain mengulurkan tangannya.

 

CTAP!

 

Akhirnya dia bisa menggapai tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam kereta. Mungkin kecepatan kereta masih dibawah 5 km/jam, tapi ia hampir lupa untuk turun. Sejenak ia memandangi gadis cantik tadi. Peluh membasahi poninya yang tadi sempat bergerak ke kanan dan ke kiri.

“Terima kasih ya udah bantuin aku tadi.” Ucapnya dengan senyuman pada Rain.

“Eh iya, sama-sama mbak.” Ucap Rain. Dia menoleh keluar kereta dan hendak turun. Tapi lagi-lagi ia melihat seseorang sedang berlari mengejar kereta yang ditumpanginya. Seorang pria yang sudah berumur. Badannya tegap agak gendut, berkumis tebal, dan rambutnya panjang diponytail. Bapak-bapak itu mengulurkan tangan tanda ia ingin masuk ke kereta.

Dengan suka rela, Rain kembali mengurungkan niatnya untuk turun dari kereta dan membantu bapak-bapak itu terlebih dahulu.

“Oke! Saatnya gue liburan.” Rain hendak melangkahkan kakinya lagi keluar dari kereta. Namun, ia melihat seorang bapak-bapak lagi dengan janggut yang tebal, kepalanya botak, dan badannya tegap. Sebut saja orang itu om-om karena dia sedikit terlihat lebih muda dari bapak-bapak yang pertama ditolong Rain tadi. Sama, om-om itu mengulurkan tangannya. Ya, dengan terpaksa Rain harus membantunya lagi.

“Oke! Gak ada yang bisa ngehalangi gue sekarang!”

 

NGUENG!!! GLEK! GLEK!

GLEK! GLEK!

 

Isyarat suara kereta dibunyikan. Ketika Rain hendak melangkahkan kakinya, kereta sudah melaju dengan cukup cepat dan sudah meninggalkan stasiun.

“Eh-eh! A-apa apaan maksudnya ini?! Kenapa keretanya udah jalan?! Kenapa gue masih ada di sini?! Argghhh…!!!” Dia mengeluh sedari tadi. Langsung saja dia menuju ke arah lokomotif. Tapi seelum itu, ia menjumpai kondektur dan sedikit bertanya dengan tergesa-gesa.

“Pak, bisa berhentiin keretanya sebentar pak? Pemberhentian saya tadi terlewat.” Rain sedikit berbicara dengan nada memohon.

“Waduh… nggak bisa mas, kereta pemberhentiaanya harus di stasiun. Nggak bisa di tengah jalan begini. Soalnya semua kereta memang sudah koordinasi seperti itu semua. Kalau misalnya berhenti di tengah jalan, nanti jalur dan kecepatannya bisa-bisa tersusul kereta lain. Masa mas mau rel kereta juga macet?” ucap kondektur itu.

“Duh… tolonglah pak, sebentar saja. Nggak prlu berhenti sempurna. Kurang kecepatan sampe 5 km/jam ke bawah nanti saya langsung lompat turun pak.” Ucap Rain masih memohon.

“Maaf mas, tetap tidak bisa. Itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan darurat.” Ucap kondektur itu.

“Saya juga lagi dalam keadaan darurat pak!” ucap Rain dengan nada meninggi.

“Saya sarankan mas berhenti di pemberhentian selanjutnya aja di stasiun Gambir, Jakarta. Tapi kalo mas mau turun, ya silahkan…”

Rain melihat keluar dan di sana terlihat kereta sedang melaju di sebuah jembatan kecil dan dibawahnya adalah sungai yang cukup besar.

“Ehehe… saya turun nanti aja deh pak.” Rain langsung dibanjiri keringat dingin karena dia agak phobia dengan ketinggian.

“Ekhem…” Rain mendengar deheman dari seseorang di belakangnya. Tiba-tiba saja, kerah baju bagian belakangnya ditarik dan dia langsung disudutkan di dinding gerbong.

“E-eh… a-apa apaan ini om?!” tanyanya terkejut saat melihat seorang om-om botak yang ditolongnya tadi menyudutkannya. Di belakang om-om itu, ada seorang bapak-bapak berambut ikal dan berkumis tebal yang ditolongnya tadi. Dan di belakangnya lagi, ada kondektur berbadan Abang Rai sedang menyanyi dengan barbel kecil yang dianggap istri oleh Agung Hercules. Oke, yang terakhir gue bercanda.

“Dakara, ha~a~tsuiki hime-sama hakobu tame ni yorokonde imasu ka?!”

“Apa? Lu ngomong apaan pak?! Minta apa? Tissue? Pocky? Nih gue ada di tas, tapi ga boleh. Ini jatah ngemil gue. Kaga usah pake nyengkrem leher segala kali.” Ucap Rain santai.

 

JDUK!

 

Punggung Rain dibenturkan pada gerbong.

“Sureddo! Hime-sama yukai shi, anata wa nanidesu ka?!”

“Duh! Iya… gue ga pura-pura. Beneran, gue bawa Pocky sama Tissue. Puas lo? Kalo mau minta gue ambilin dulu.” Ucap Rain yang sedikit meringis kesakitan. Terlihat dari wajahnya yang menahan sakit di punggungnya.

“Koko de, watashi wa kare o jinmon shimasou. Anata dake no sekyuriti de hogo sa reta hime-sama.”

“Haik!”

“Lu berdua kalo mau boker jangan di sini. Noh, di belakang ada toilet.” Cengkraman dilepaskan dari om-om tadi. Membuat Rain bisa sedikit bernafas lega.

“Urusai…!”

Kini gantian bapak-bapak berambut ikal yang mendekati Rain. Kerah Rain kembali dicengkram, saat ini lebih kencang dan kuat hingga Rain sesak nafas.

“Uhh… lepasin!” berontaknya.

“Anata wa hontoni hime-sama shitaidesu ka? Shojiki ni kotaeru ka watashi wa anata o koroshimasi!!!” Bapak-bapak berambut ikal itu langsung mengeluarkan sebilah clurit dan dengan jarak 1 centimeter lagi, benda tajam itu akan mengoyak leher Rain.

“Eh eh! Pak! Sabar dulu dong. Pak, kalo mau jualan sate Madura jangan di sini. Tadi kan saya sudah nolongin bapak, lah kenapa sekarang saya mau dibunuh?! Pak tolonglah pak, saya masih perjaka huhuhu…”

“Teishi…!!!” Tiba-tiba, gadis yang ditolong Rain tadi berteriak dengan cukup keras. Memperlihatkan mimik wajah yang dipenuhi awan gelap.

“Kare wa sore o subete to wa nani no kankei mo arimasen. Dakara, anata wa nani o shite iru ka teishi shimasu! Watashi wa ie ni iku yo, yakusoku shimasu.” Sepertinya dia mencoba berbicara pada bapak-bapak dengan rambut ikal yang sedang menodong Rain dengan cluritnya.

 

BRUUKKK!!!

 

Rain bisa bernafas lega sekarang. Jika saja sepersekian detik tadi gadis itu tidak menolongnya, entah apa yang akan terjadi dengan sejarah masa depan nanti.

“Hosh… hosh… hosh…” Nafasnya terengah-engah. Ia mencoba mengatur nafasnya perlahan hingga stabil. Agak sedikit shock dengan perlakuan dua orang tadi yang sederhana, Cuma minta Pocky sama Tissue.

“Minta Pocky ama Tisue buat ke boker aja gitu amat. Minta baek-baek kan juga bisa kale. Mana pake acara nodong harus beli sate dulu lagi. Tapi… untung deh…” Rain melirik ke arah gadis berponi dan berkult putih yang sedang berdiri di sampingnya.

“Em… makasih ya mbak.” Rain mencoba tersenyum. Tapi gadis itu menanggapi dengan acuh tak acuh. Rain mencoba berdiri dan menjabat tangan dengan gadis itu.

“Mbak, kenalin saya Rain…” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Setidaknya mengenal orang yang sudah menolongmu merupakan caramu membalas budi padanya suatu hari nanti, dalam garis bawah jika kalian ditakdirkan bertemu kembali.

“Huftyup…” Gadis itu malah memalingkan wajahnya sambil menggembungkan pipinya.

“Halo…? mbak dengar gue? Apa gue punya salah dengan mbak?” Rain bingung dengan sikap gadis yang tadi ditolongnya saat menaiki kereta. Setelah beberapa saat, gadis itu berbalik dan menatap Rain. Rain sedikit tersenyum, mungkin dia berubah pikiran dan berkenalan dengannya.

“Lo pengen tau salah lo apa?” tanya gadis itu dengan sarkas. Nada bicara dan sikapnya berubah 180 derajat, sangat drastis. Yang tadinya imut, cantik, luvchu, dan murah senyum. Sekarang menjadi orang yang… masih imut sih, cantik juga iya, luvchu jangan ditanya, tapi wajahnya menggambarkan sesuatu yang menyeramkan.

“Em… apa ya mbak? Kalo ada, gue minta maaf.” Ucap Rain.

“Kesalahan lo, kenapa lo bantuin dua preman yang nodong lo tadi hah?!” gadis itu berjalan mendekati Rain. Entah kenapa, amarahnya membuat Rain ikut mundur.

“Em… ya… gu-gue tadi kasian sama mereka mbak. Mungkin mereka terlambat jadwal keretanya.” Ucap Rain seadanya.

“Kenapa lo nggak biarin aja mereka ngejar kereta ini hah?!” Gadis itu semakin maju dan Rain semakin mundur hingga ia terpojok di dinding gerbong kereta.

“Y-ya… gu-gue…”

“Hiks… lo jahat!” gadis itu tiba-tiba menunduk dan menangis. Rain bingung dengan apa yang harus dia lakukan.

“Emangnya kenapa? D-dan mbak kenapa nangis?” tanya Rain dengan wajah tanpa dosa.

Gadis itu menyeka air matanya sejenak.

“Sebenernya, nggak ada gunanya gue cerita sama lo. Tapi, dengan adanya kehadiran lo di sini, lo bisa gue manfaatin.” Ucap Gadis itu dengan sedikit tersenyum menyeringai.

“E-eh, ma-maksudnya apaan nih?” Rain sedikit ketakutan. Mungkin saja gadis berparas cantik yang berada di depannya ini adalah seorang phsycopat. Seperti yang ia lihat dalam film-film bergenre Thriller yang ditontonnya bersama Nadse beberapa minggu yang lalu.

“Lo harus ikut gue ke Jepang. Karena lo udah dituduh nyulik gue dan ngebawa gue kabur.” Ucap gadis itu mendekati Rain sambil berbisik padanya.

“Lo gak akan selamat.”

“Tu-tunggu…” Rain sedikit menjauh.

“Hentikan keretanya!” ucap Rain berteriak.

“Ck, lo gak denger kata kondektur tadi?”

“TIDAKKK…!!!”

 

[Sweet escapE : LOVE TRIP]

 

Oke, di sinilah Rain. Duduk berhadapan dengan gadis tadi sedangkan om-om dan bapak-bapak tadi ­–SEBUT SAJA DUO BREWOK- sedang berdiri di samping Rain dan juga gadis itu. Rain sedari tadi hanya melihat ke samping kanan dan kiri. Bingung dihadapkan dengan situasi awkward seperti ini. Sesekali, ia mencuri-curi pandang ke gadis itu.

“Kenapa ngeliatin gue mulu?” tanya gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kereta yang terus melaju memperlihatkan pemandangan di sekitar. Gadis itu mungkin sadar dengan gerak-gerik Rain yang sedari tadi mencuri-curi pandang terhadapnya.

“E-enggak kok. Dih, Ge-Er banget sih lu. Sok kecantikan banget.” Ucap Rain sekenanya.

“Dih, dasar orang aneh. Di Jepang juga gue orang paling cantik kali.” Ucapnya kini menatap Rain.

“E…eh…,” Rain grogi ketika bertatapan langsung dengan gadis itu.

“Kenapa? Grogi? Tenang, gue gak gigit. Cuman dua orang di samping kita aja yang mungkin bakalan ngegigit lo. Itu level sadis terendah sih.” Ucap gadis itu.

“Level tertingginya?” Rain bertanya dengan sedikit gemetar melihat ke arah samping.

“Mungkin mereka bakalan ngemutilasi lo. Dan kepala lo bakalan di gantung di ujung menara Tokyo sebagai simbolis AHAHAHA.” Gadis itu tertawa jahat.

“Tidakkk!!!” Rai terkejut karena terbawa suasana dengan omongan gadis itu. Ia membayangkan berbagai hal buruk yang mungkin terjadi padanya.

“Urusai!!!” Duo Brewok itu langsung mengangetkan Rain dengan suara lantangnya yang membuat Rain kaku seketika. Gadis di hadapannya melambai-lambai padanya. Mencoba menyadarkannya hingga Rain melihat bahasa tubuh gadis itu. Gadis itu mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya yang mungil itu.

“Oke, oke.” Jawab Rain pelan. Tebakannya, mungki gadis itu menterjemahkan bahwa Duo Brewok tadi menyuruhnya diam.

“Permisi, tiketnya?” kondektur tadi mendekat ke arah mereka berdua dan juga Duo Brewok yang sedang berdiri sambil bersidekap layaknya istirahat Merdeka.

“Kami, tidrak p-punyak tikret.” Ucap si Botak dengan tergagap.

“Kalian tidak punya tiket?”

“Em… maaf pak. Hanya mereka yang tidak punya tiket. Nah, tapi saya punya. Jadi tolong pak, usir mereka. Mereka ini penumpang yang gratisan.” Rain langsung berdiri dan berbicara pada Si Kondektur.

“Baiklah begini saja. Kalo kalian tidak punya tiket, kalian harus bayar.” Ucap Si Kondektur sambil menengadahkan tangannya.

“Kami,tridak, p-punya, uang!” ucap Si Rambut Ikal sama tergagapnya dengan Si Botak.

“Jadi kalau begitu, kalian saya lempar!!!” ucap Si Kondektur sudah siap membukakan pintu kereta. Terpampang jelas di bawah rel kereta api adalah sebuah sungai besar yang arusnya deras.

DEK!

 

Tiba-tiba Duo Brewok itu mencengkram bahu Si Kondektur.

“Eh-Eh, a-apa yang mau kalian lakukan?!” Si Kondektur mulai panik bung.

 

WUSH!!

 

“Arrkkkhhhh…!!!” Teriak Si Kondektur karena ia terjatuh dari ketinggian sekitar 25 meter dan langsung tercebur di air.

“Syades!” Rain meringkuk ketakutan di pojokan. Rain melihat ke arah jendela kereta, membukanya dan melihat ke bawah ke arah Si Kondektur jatuh.

“Ah… akhirnyaaa… aku jadi putri duyung… kalian berdua telah membebaskanku dari kutukan Sirent’s Lament.Terima kasih… Muach…” Si Kondektur tba-tiba saja sudah berubah menjadi sesosok hewan mengerikan yang sering kita jumpai di perapatan lampu merah, ciri-cirinya sering berdendang dengan mikrofon dan juga musik dangdut.

“Hoekkk… Ohok… hoekk…” Mungkin Rain ga tahan, eneg ngeliat muka tuh Kondektur yang jijik banget.

“Hime-sama, apa kitra rusha memb-buangnya j-jugak!” ucap Duo Brewok, mungkin mereka agak-agak mencoba berbahasa Indonesia dengan EYBK tau? Ejaan Yang Berbau Kentut. Mereka berdua mencengkram kerah Rain dan bersiap melemparkannya juga ke sungai itu.

“Woi! Apa-apaan neh?! Lepasin gue! Tolong… gue gak takut matinya, gue Cuma eneg kalo misal gue ntar jatoh ke sono dan dapet kutukan kayak Si Kondektur tadi huhuhu…” Rain sangat panik saat ini

“Yamete! Dia dibutuhkan sebagai saksi ketika kita sudah sampai di Akibahara.”

“Haik! Sumimase!” Mendengar hal itu, Duo Brewok langsung menurunkan Rain ke tempat duduknya semula. Badannya udah langsung menggigil gitu, gemeteran. Mukanya pucet-pucet kayak orang demam campur tifus.

“M-makasih l-lo u-udah n-nolongin g-gue la-lagi.” Ucapnya sambil memeluk tubuhnya sendiri.

“Huh… huft.” Gadis itu menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya

“Justru gue yang harus berterima kasih sama lo. Gue mungkin juga harus minta maaf sama lo. Tapi please, tolong… lo bantuin gue.” Ucap gadis itu.

“Hah? Maksud lo apa?” Rain dibuat kebingungan dengan semua ini.

“Nanti gue ceritain di pesawat. Bentar lagi kita nyampe ke bandara. Di  sana bakalan ada utusan ayah gue yang bakalan ngasih tiket ke dua orang di samping lo untuk kita pergi ke Jepang.” Ucap gadis itu mendekat. Mereka layaknya orang yang sedang berbisik.

“Gue tambah ga ngerti.” Rain mulai serius.

“Nanti, tadi kan gue bilang. Bakalan gue jelasin pas kita udah take off ke Jepang di pesawat. Oke?” Rain hanya memanggut-manggutkan kepalanya.

Jadi, apa lagi ini? sebuah masalah yang semakin rumit?

 

—o0o—

 

Waktu telah menunjukan pukul 10.30 dan kereta yang mereka tumpangi sudah sampai di stasiun pemberhentian dekat daerah Senayan.

 

TENG NONG TENG NONG

TONG TENG NENG NONG

 

CES!

 

Pintu gerbong terbuka otomatis. Gadis itu langsung keluar dari kereta. Sedangkan Rain masih sedikit mengecek barang-arangnya di ransel miliknya. Tapi dia diseret oleh Duo Brewok tadi untuk segera keluar dari kereta itu. Tak cukup lama, datanglah sebuah mobil limo berbintang limo juga. Bukan bemo kualitas limo lah pokoknya. Mereka semua langsung masuk ke dalam mobil itu.

Tak ada percakapan di saat perjalanan mereka menuju ke bandara. Hanya obrolan Duo Brewok dan juga si supir mobil tersebut. Mungkin membicarakan tentang bisnis, pekerjaan, atau hal sosial lainnya. Rain dan gadis yang tak dikenalnya malah hanya diam. Rain menunduk, diam, dan berpikir. Tapi kini giliran Si Gadis itu yang mencuri-curi pandang terhadap Rain.

Perjalanan hanya butuh 15-30 menit dan mereka sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka langsung keluar dan bertemu dua orang berbadan tinggi besar berjas hitam. Mungkin itu adalah utusan ayah yang dikatakan gadis itu saat di kereta tadi.

 

[Sweet escapE : LOVE TRIP]

 

Di sinilah mereka. Sudah berada di kabin pesawat dengan logo LOVE TRIP terpampang jelas di badan pesawat. Katanya ini pesawat Jepang yang kualitasnya sangat bagus itu. Rain melirik jam tangannya dan sudah menunjukan pukul 11 siang. Duo Brewok yang sedari tadi mengawasi sedang duduk di belakang. Sedangkan Rain dan gadis yang tak dikenalnya duduk bersebelahan di bagian tengah. Saat Rain intip ke belakang, ternyata mereka sedang tertidur.

“Jadi, bisa lo jelasin semuanya ke gue sekarang. Hime-sama?” Rain menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu menoleh ke belakang sejenak, memastikan sesuatu yang tak lain adalah Si Duo Brewaok.

“Oke, pertama kenalin dulu. Nama gue Cindy Dea Yuvia Luzer Alteria Witcherian Elizabeth XVIII atau singkatnya Cindy Yuvia. Lo bisa panggil gue Cindvia.”  Gadis itu menjulurkan tangannya.

“Rain. Aldo Rain Rendyan. Gue masih jomblo dan cukup suka permen.” Ucap Rain dengan pedenya.

“Oke kita lanutin ke yang kedua…”

“Tunggu, boleh lo gue panggil Yupi?” tanya Rain.

“Nggak! Namanya kok gitu sih, aneh tau nggak sih.” Ucap gadis itu.

“Lo mau minta bantuan gue, atau mau ngeributin soal nama lo? Biar lebih gampang aja gue manggil lo Yup.” Ucap Rain, mungkin dia mencoba akrab dengan gadis itu. Tujuannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah pulang lagi ke Indonesia dan berlibur ke Bandung.

“Oke, langsung aja ke masalah. Gue ini putri kaisar Luzer Alteria yang ke XVII.”

“Tunggu, tunggu… nama Witcheria Elizabethnya dapet dari mana?” tanya Rain memotong ucapan Yupi.

“Itu dari nama marga ibu gue. Dah jangan bahas itu. Kita harus bahas masalahnya yang lebih penting.”

“Oh, oke-oke. Lanjut.” Rain memanggut-manggutkan kepalanya.

“Gue sebenernya ke Indonesia adalah tujuannya untuk kabur dan dua orang di belakang itu adalah bodyguard utusan ayah gue yang tugasnya menemukan gue dan menyeret gue kembali dan menikah hiks…” matanya merintikan air lagi.

“Masalahnya di?” Rain terlihat tak tega. Insting lelakinya ingin sekali membuat air mata yang membumi itu terhapuskan.

“Dasar Ogeb?! Nggak peka banget sih?!?!?! Gue itu bakalan dijodohin sama orang tua gue hiks…” ucapnya sambil menyeka air matanya.

“Loh? Bukannya malah bagus ya? Pilihan orang tua itu biasanya yang terbaik loh.”

“Enggak! Lo nggak ngerti situasinya. Gue dijodohin karena pihak keluarga yang menjodohkan anaknya dengan gue adalah dengan maksud untuk merebut kekayaan dan harta dari ayah gue. Di samping gue gak mau, gue juga mau menggagalkan rencana ayah dan anak mafia itu dari keluarga gue. Jadi, please lo bantuin gue.”

“Nggak.” Ucap Rain dengan cepat.

“Terserah, mau lo nolak atau pun enggak, lo bakalan tetep ikut gue ke Jepang. Wlee:b” Sial, gadis itu malah menjulurkan lidahnya. Membuat Rain tidak puya pilihan.

“Oke gue mau, tapi apa keuntungannya buat gue?” tanya Rain sambil berpikir dan memprediksikan apa yang akan selanjutanya terjadi pada dirinya ketika sudah sampai di Jepang.

“Mungkin, gue bisa kasih lo liburan sebagai pengganti liburan lo.” Ucap Yupi sambil mengedipkan sebelah matanya. Njir kena wink ^_-

“Rencananya gampang. Lo Cuma harus jadi pacar bohongan gue di sana. Dan bilang kita saling mencintai, selanjutnya gue bakalan bantu prosesi lo kabur dan balik ke Indonesia.”

“Oke, kita sepakat. Tapi apa lo menjamin keselamatan gue? Denger ya, gue masih jomblo soalnya. Sayang banget kalo gue menghabiskan sisa hidup gue Cuma gara-gara bantuin tuan putri yang gak gue kenali dan tiba-tiba menculik gue ke Jepang untuk bantuin dia supaya nggak dijodohin sama anak keluarga Mafia.”

“Gue gak terlalu yakin, kalo dari orang-orang keluarga gue, gue bisa menjamin keselamatan lo. Tapi kalo dari keluarga anak mafia, mungkin di situ masalahnya.” Ucapnya sambil tersenyum. Senyumnya bukan bikin lo tersipu, malah bikin lo ngeri. Ada cewek cantik kaya gitu? BANYAK!

 

NGUUUNGGG!!!

WUSHHH!!!

 

Pesawat melaju dengan kencangnya, menerpa angin dan telah lepas landas menuju ke Jepang. Oke, di sinilah bagian kedua dari situasi awkward.

 

 

—o0o—

 

Rain bingung di satu sisi, dan di sisi lain ia juga gelisah. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya. Sesekali ia melihat Hpnya, syukur Hpnya masih dalam keadaan baterai yang tidak low. Sekitar 48 miscall terpampang jelas di Hpnya.Bukan hanya itu, LINE, Whatsapp, BBM, semua sosial medianya penuh dengan pesan yang sama.

“Dasar Nadse.” Ucap Rain tersenyum sendiri sambil mengetikan pesan di Hpnya.

Nadse  : Rain, kamu udah sampe mana? Udah makan belom? Awas jangan sampe telat makan,, nanti kamu sakit. Aku juga bakalan ngambek dan gak mau ngomong sama kamu lagi pokoknya.

Nadse  : Rain? Lagi tidur? Atau sibuk? Di sana ngapain aja sih? Bales dong, aku ngambek! 😥

Pesan yang sama di aplikasi sosial media yang berbeda-beda. Nadse mungkin memang benar-benar khawatir pada Rain saat ini.

Rain     : Hei, jangan ngambek dong. Maaf, aku tadi lagi sibuk. Ini aku lagi perjalanan liburan, belom sampe ke tempat tujuan. Bentar lagi nyampe kok. Btw, aku udah makan tadi.

Nadse  :sedang menulis pesan…

“Untung gw udah donwload aplikasi auto-chat  jadinya gak pegel-pegel ngetik. Btw, aplikasinya keren juga. Bisa nanggepin apa yang di chat orang ke Hp kita. Salut! Kasih bintang 5 ah….”

Beberapa menit kemudian…

.

.

.

.

.

“Coba cek lagi ah. Nadse pasti udah ga bakalan marah.” Rain mengecek Hpnya lagi.

LINE

.

.

.

Nadse  : Oh, gitu… aku nungguin kamu bales chat aku daritadi. Kirain kamu kenapa-napa. Oh iya, btw aku mau tidur siang dulu ya. Kalo ada apa-apa, kamu bisa langsun ngabarin aku. Have fun!

Rain (App)       : Cie… udah gak ngambek. Btw aku mau loh nemenin kamu tidur. Sekalian kita satu selimut gitu biar anget, he… he…

Nadse  : Apa? Maksudnya gimana yah?

Rain (App)       : Apa perlu aku jelasin pake BDAC?Banana Donat Ah Cayang? Jadi gini… I have a banana, you have a donat… BUM! OH! Aku munc-

“B*ngsat!!! Hapus-hapus!!! Bisa-bisa Nadse berpikiran jelek sama gue. Bangke! Uninstall t*ik lah ini perusahaan yang bikin ni aplikasi. Ratting 0 nj*ng! Kasih komen jelek dulu biar pada ga download. Mampus lu.”

Nadse  : Kamu ngomong apa sih ih… ga jelas deh. Tapi lucu juga :v haha, btw itu lanjutan lagunya gimana?

“Baji Jeruk Purut! Gue harus jawab apa?! Ah, cari alesan, cari alesan. Berpikirlah Rain.”

Rain     : Em… itu… lanjutannya Aku muncul. Iya itu, tadi kan aku lama banget ga bales chat kamu. Nah, sekarang aku udah muncul gitu. Biar kamu gak kangen aku lagi he… he…

“Duh ngomong apaan sih gue?!”

Nadse  : Oh… gitu? Kok gak nyambung banget ya? Atau… kamu grogi ya chat-chatan sama aku? Btw, sepi di sini gak ada kamu. Mungkin selain khawatir, aku kangen juga deh kayaknya sama kamu. Gak ada yang bisa bikin aku ketawa di sini. Cepetan pulang dong.

“Lah, dia malah baper. Lagian ini tangan, gue pake salah ngetik lagi.”

Rain     : Em Nadse, u-udah dulu ya, aku bentar lagi take on nih. Bye~

Nadse  : Oke, tiati ya~

 

Di tempat lain, di sebuah kamar. Khas sekali dengan boneka-boneka yang menambah kesan menarik, lucu, dan imut dari kamar itu, tentunya juga pemilik kamar tersebut. Nadse sedang berbaring di tempat tidur setelah tadi baru saja pulang dari cafe tempat dia bertemu dengan Okta, Feni, dan Gre.

“Iiih… kok jadi kepikiran Rain mulu sih? Kok tadi dia di chat agak aneh ya?” Nadse meletakkan Hpnya di samping bantal. Dia menatap ke arah atas kamarnya yang hanya berlatar putih. Entah apa yang dipikirannya, yang jelas itu tentang Rain.

“Lagian sih, Rain kok pergi hangout gak ngajak-ngajak. Kan bosen juga di rumah, liburan PAS di rumah itu kayak anak jelangkung deh. Gak pernah dianter, gak pernah juga dijemput, jadinya dia di rumah mulu.”

“Eh tapi… katanya dia liburan ke Bandung naik kereta kan?” Nadse kembali mengambil Hpnya. Di layar lockscreen nya terdapat fotonya dengan seorang lelaki yang tak lain adalah Rain. Duduk bersama di taman kota  sambil memakan es krim dengan celemotan.

“Kok kereta take on?”

love1

[Sweet escapE : LOVE TRIP]

-to sweet to be continued-

Authorized by : Nanti aja di akhir cerita oke?

Note :

Minta kritik dan saran ya thor, min, der, saya masih pemula. Btw min, mau numpang promosi blog ya. Untuk kelanjutan ceritanya akan di post di www.maos4fun.blogspot.co.id jangan malu-malu mampir yak :v bisa juga ditunggu di blog KOG, tapi mungkin aksesnya agak terlambat. Oh iya, ff ini Cuma Mini Series maksimal mungkin 5 part, tapi saya paling tidak membuat sebanyak itu. Syalom~ bubye~

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s