“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 16

Robby, kini ia baru sampai di apartementnya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam setelah memasukkan kodenya. Ia berjalan masuk ke dalam, setelah melepaskan sepatunya. Ia berjalan menuju kamarnya, setelah di kamar ia berganti baju dan membersihkan dirinya. Kemudian ketika ingin menuju kasurnya..

“S-Shania?”

Robby perlahan mendekat ke kasurnya, melihat Shania yang tidur dengan damainya. Terbesit rasa bersalah pada Robby, yang menyembunyikan semuanya dari Shania. Dan sekarang Shania kena imbasnya. Ia seperti bukan Robby untuk Shania yang dulu, memang benar kalau keadaan dan waktu akan mengubah seseorang. Dan mungkin itu sekarang terjadi pada Robby…

Robby perlahan duduk di ujung kasurnya. Dan itu mengakibatkan Shania perlahan membuka matanya, ia mengerjap-ngerjap beberapa kali sambil mengucek-ngucek matanya. Karena merasakan sesuatu yang bergerak di samping kanannya.

“Robby?” tanya Shania.

“Iya, kenapa?” Robby tersenyum lembut menatap Shania sambil mengelus lembut kepalanya.

“Ngg, ini jam berapa?”

Robby melirik pada jam dinding yang ada di kamarnya, “Jam setengah sepuluh. Kenapa?”

“Kamu dari mana aja? Kok baru jam segini pulang?” Shania bangkit dan duduk bersandar pada kasur milik Robby.

Robby menghela nafasnya, “Aku tadi jalan sama temen. Maaf ya gak bilang. Kamu ngapain di sini Shania?”

“Siapa? Hu’um gakpapa. Aku di sini nungguin kamu.”

Hati Robby terenyuh mendengar penjelasan Shania mengapa ia berada di apartementnya. Apa ia akan tetap menyembunyikan semuanya dari Shania? Atau ia memberitahu Shania tentang semuanya ini?

“Robby.”

“Ya?”

Shania mendekat pada Robby, dan ia langsung memeluk Robby dengan erat. Seerat mungkin ia memeluk Robby, tiba-tiba air mata Shania perlahan keluar dengan sendirinya. Robby yang menyadari itu pun membalas pelukannya dan mengelus lembut kepala Shania.

“Kenapa Shania?” tanya Robby lembut.

Shania menggeleng kuat.

“Shania.”

Shania kembali menggelengkan kepalanya.

“Bilang sama aku, kenapa Shania?”

Shania mengatur nafasnya pelan-pelan, setelah dirasa cukup ia melepaskan pelukannya dan menatap Robby sambil tangannya berada di pipi Robby.

“Aku kangen sama kamu Rob,” ucap Shania.

“Aku kangen yang bawel sama aku, yang cerewet, yang suka ngegodain aku, yang jail, yang suka senyum gak jelas, yang waktu ditanya-tanya malah ketawa, aku kangen R-Rob.” Air mata Shania kembali keluar.

“A-apa ini balasan yang aku dapat gara-gara ninggalin kamu dulu Rob? A-apa i-iya?” tanya Shania sesenggukkan.

Robby menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengelapkan air mata Shania yang keluar dengan ibu jarinya.

“Aku kangen juga Shan.” Robby tersenyum lembut menatap Shania. “Tapi keadaan yang memaksa begini. Maafin aku ya?”

“Tapi kenapa? Aku mau tau kenapa? Apa aku gak berhak tau?” Shania menatap dalam mata Robby.

Robby menghela nafasnya, “Rumit Shan.”

“Gakpapa, kamu jelasin semuanya ke aku. Aku bakal dengerin semuanya,” ucap Shania.

Robby menyandarkan tubuhnya pada dinding kamarnya sambil menatap Shania. Apa sekarang waktunya ia memberitahu Shania tentang perjodohan itu?

“Robby.”

“Aku ini pacar kamu loh ya, jadi kalau kamu ada apa-apa aku berhak tau. Bukannya dalaman sebuah hubungan itu saling berbagi ya kalau ada masalah? Biar dihadapin sama-sama, bukan sendirian. Iya kan?”

Robby menghela nafasnya, “Baiklah. Tapi janji jangan marah, atau ngejauhin aku, atau mungkin pergi dari aku ya?”

Shania mengangguk, “Iya, aku janji.”

Robby mengatur nafasnya untuk memulai bercerita kepada Shania, mungkin ada benarnya, berbagi pada Shania akan meringankan beban pikirannya.

Robby pun menceritakan semuanya, ketika ia disuruh pulang ke rumah. Dan malam itu ketika ia dikejutkan oleh Andina karena ia dijodohkan dengan salah satu anak temannya. Ia sudah bersikeras menolak tentang perjodohan ini, dan akan terus menolak apabila Andina terus memaksanya.

Shania yang mendengarkan pun hatinya terasa sakit, apa ini artinya hubungannya bersama Robby akan berakhir begitu saja?

“Shan.”

“Hm?”

“Hh, udahlah Shan. Bukannya tadi udah janji kan?”

“Bukan gitu. Aku cuma gak abis pikir sama pola pikir Mamah kamu itu, tapi kamu menolak kan perjodohan itu?” ucap Shania.

“Hh, ya jelaslah aku nolak Shan. Ah iya, kamu udah bilang sama Nabilah kalau ke sini?” tanya Robby.

“Udah kok. Tapi aku enggak pulang kayaknya deh, udah jam segini. Aku nginep ya?”

Robby mengangguk, “Yaudah, tidur gih.”

“Kamu tidur dimana?”

“Udah, aku gampang aja kok. Kamu tidur aja.”

“Yaudah deh, aku tidur ya. Selamat malam.” Shania merebahkan tubuhnya dan menutup mata untuk tidur kembali.

Robby tersenyum melihat Shania, ia sangat menyayangi kekasihnya ini. Ia pun mendekat pada Shania, kemudian mengelus kepalanya dengan lembut dan terakhir ia pun mencium kening Shania.

“Selamat tidur, Shania.”

Setelah itu Robby pun beranjak tetapi tangannya ditahan, kemudian ia merasakan ciuman di pipinya.

“Selamat tidur juga, Robby.”

Shania pun kembali merebahkan tubuhnya sambil menutup mata, sedangkan Robby tersenyum dengan tingkah laku Shania. Dan ia pun keluar kamar, menuju sofa ruang tengah. Untuk malam ini, sofa itu lah tempat ternyaman untuk ia beristirahat…

~

Robby terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik yang berasal dari dapur. Ia mengucek-ngucek matanya, kemudian melirik jam dinding yang ada di ruang tamu. Sudah jam 6.45. Siapa yang memasak di dapurnya sepagi ini? Pikirnya. Kemudian ia pun sadar akan hal terasa janggal tersebut, ia bergegas menuju dapurnya. Setelah ia tahu siapa yang sedang berada di dapurnya, ia pun berjalan mendekat pada orang tersebut.

“Loh? Udah bangun ya?”

Robby mengangguk, “Kamu ngapain sepagi ini di sini Shan?”

“Lah? Kamu gimana sih? Kan kemarin aku nginep di sini. Cuci muka dulu sana, biar gak ngelindur lagi.” Shania sedang asik memotong-motong sayuran yang ia ambil dari kulkas.

Robby tampak tengah mengingat-ngingat hal yang terjadi kemrin, dan ah ya tadi malam Shania tertidur di kamarnya. Dan ia bilang menginap di sini untuk malam ini.

“Lupa hehe.”

“Dasar. Udah cuci muka dulu sana.”

Robby mengangguk, kemudian ia pun mencuci mukanya di wastafel. Setelah mencuci muka,  ia berjalan kembali mendekat pada Shania. Lama ia menatap Shania dari belakang, ia merasa Shania sangat cantic kalau rambutnya di cepol ke atas seperti ini.

Kemudian Robby pun memeluk Shania dari belakang. Shania yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun tiba-tiba perasaannya menghangat dan ia pun tersenyum karena perlakuan Robby.

“Shan.”

“Hm?”

“Masak apa?” Robby menaruh kepalanya di pundak kanan Shania.

“Masak sup. Di kulkas banyak sayurnya, jadi masak sup sama goring ayam gakpapa ya?”

Robby tersenyum mengangguk, “Gakpapa kok. Lagian emang disuruh kak Naomi harus banyak makan sayur. Makanya di kulkas isinya kebanyakan sayur sih.”

“Yaudah, tunggun gih sana. Bentar lagi selesai ini.”

“Ngg, aku di sini aja ya?”

“Yaudah, tapi jangan nyusasih ya.”

Robby mengangguk patuh. Ia tersenyum senang karena dulu sewaktu SMA, seperti inilah yang mereka impikan dulu. Bagaikan sepasang suami-istri, hidup bersama-sama. Dan ingin mempunyai anak perempuan yang lucu.

“Udah nih. Ambilin mangkuk gih, buat naruh supnya,” suruh Shania.

Robby pun mengambilkan mangkuk dan menyerahkan pada Shania, ia membantu Shania memasukkan sup tersebut. Kemudian mereka membawa sup dana yam yang telah di letakkan dalam piring ke meja makan.

Robby mempersilahkan Shania duduk seperti film-film barat. Shania terkekeh geli melihat tinggakh laku Robby tersebut. Dan Robby pun duduk di samping Shania. Setelah itu, Shania pun mengambilkan nasi beserta sup dan ayam yang telah dimasaknya untuk Robby. Kemudian, ia mengambil untuk dirinya sendiri.

“Berdoa dulu sayang.” Shania menggelengkan kepalanya ketika melihat Robby yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Robby mengangguk cengengesan. Kemudian Robby berdoa dan Shania yang melihat itu mengikutinya untuk berdoa. Setelah selesai, mereka sarapan bersama pagi itu diselingi dengan obrolan dan candaan ringan…

~

Setelah selesai sarapan di apartement, Robby pun mengantarkan Shania pulang. Diperjalanan mereka hanya berdiam saja, mendengar lagu yang mengalun di mobil Robby. Sesampainya di depan rumah, Shania tidak turun dari mobil Robby. Seperti ada yang mengganggu pikirannya.

“Rob?”

“Ya?”

“Kamu beneran nolak perjodohan itu kan?”

Robby menghela nafasnya kasar, “Iya, aku nolak perjodohan itu.”

Shania menghela nafasnya, “Aku takut.”

Robby menoleh pada Shania, “Takut kenapa?”

“A-aku t-taku kalau kamu ninggalin aku, gara-gara perjodohan itu,” lirih Shania.

Robby menarik Shania untuk dipeluknya, “Engga bakal Shania, aku gak bakalan ninggalin kamu.”

Shania membalas pelukan Robby, ia menenggelamkan wajahnya di dada Robby.

“Janji ya?”

Robby mengangguk, “Iya, aku janji.”

Sekitar 10 menit mereka berpelukan, Shania melepaskan pelukannya terlebih dahulu. Ia menatap Robby, tangannya terulur menelurusi wajah Robby. Ia mengelus pipi Robby dengan lembut. Kemudian ia memejamkan matanya dan memajukan wajahnya, begitu pula dengan Robby. Tak berapa lama bibir mereka pun menyatu, dan inilah salah satu yang Shania rindukan, yaitu kehangatannya…

~

Di kampus Robby, kini terlihat perempuan berambut pendek tengah duduk di kursi taman. Ia membaca novel yang dibawanya, membunuh rasa bosan karena menunggu jemputannya. Karena terlalu asik membaca, ia pun tidak tahu kalau ada orang yang berjalan ke belakangnya. Kemudian orang tersebut pun menutup matanya dari belakang.

“Ck, siapa sih? Kurang kerjaan banget,” ucap perempuan tersebut sebal.

Orang yang menutup matanya tersebut pun cekikikan geli, “Hayo, siapa?”

“Ish! Aldy ah! Rese deh.”

Aldy melepaskan tangannya dari mata perempuan tersebut, “Yah, kok Viny tau sih?”

“Ya taulah. Suara kamu itu aku udah hapal kali,” ucap Viny.

“Eh eh Vin, itu Shani tuh, bukannya kemarin kamu mau ada yang diomongin sama dia?” tunjuk Aldy yang melihat Shani berjalan.

“Udah kok tadi. Kan aku satu kelas, jadi tadi aku udah ngomong sama dia,” ucap Viny.

“Shani!” teriak Viny.

Shani pun menoleh pada sumber teriakan tersebut.  Shani menaikkan alisnya, sambil menatap bingung Viny.

“Jangan lupa ya!” teriak Viny lagi.

Sehabis berkata seperti itu, Shani langsung menganggukan kepalanya. Ia tau maksud Viny itu adalah omongannya tadi ketika di kelas…

Setelah itu, Viny pun melambaikan tangannya pada Shani sambil menarik tangan Aldy menuju parkiran. Aldy memberikan helm pada Viny, dan Viny pun memaikai helm tersebut. Kemudian mereka pun meninggalkan kampus..

“Dy, kita ke toko buku yang ada di mall yuk? Aku mau beli buku lagi,” ucap Viny.

“Hh, Vin, kemarin kan kamu baru beli, malah banyak lagi belinya. Masa beli lagi?”

“Udah abis aku baca, ya ya ya?”

“Vin-,”

“Ngg,” Viny merengut seperti hendak menangis.

“Hh, yaudah yaudah kita beli lagi. Tapi satu aja ya? Jangan banyak-banyak,” ucap Aldy.

Viny mengangguk senang, “Oke.”

Dan mereka pun menuju toko buku yang berada di mall. Sesampainya di mall tersebut, mereka masuk ke dalam dan menuju toko buku. Aldy mengikuti Viny yang sedang mencari-cari buku, tetapi tiba-tiba Aldy terhenti menatap seseorang yang tengah memilih buku.

“Dy?” tegur Viny.

“Kenapa?” tanya Viny.

“Ngg, coba kamu lihat ke situ deh,” tunjuk Aldy pada orang yang tengah memilih buku.

Viny menatap yang Aldy tunjukkan. Ia terdiam ketika melihat orang tersebut. Tetapi bukan itu yang menjadi perhatiannya.

“Kok aku kayak pernah lihat perempuan itu ya?” ucap Aldy.

“Shania Dy,” ucap Viny.

“Hah?! J-jadi dia udah pulang ke Indonesia?” tanya Aldy.

Viny mengangguk, “Iya, udah lama dia pulangnya.”

“Terus Robby tau?”

“Robby tau kok, malah mereka berdua udah ketemu,” ucap Viny yang memandang Shania.

“Udah yuk, kita bayar dulu,” tambah Viny.

“T-tunggu dulu, coba lihat lagi deh.”

Viny kembali menatap Shania. Ada yang menarik perhatiannya. Seorang laki-laki yang menghampirinya, dan ia tengah berbicara pada Shania. Shania terlihat tertawa karena pembicaraan laki-laki tersebut. Mereka tidak bisa melihat siapa laki-laki tersebut, karena membelakangi mereka. Kemudian laki-laki itu pun berbalik, dan…

“I-itu kan…”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

2 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s