Don’t Disturb! – O.A.S (DUE) Soft Version

soft-version

“By the way, kita lagi nungguin siapa sih?” Gre yang duduk di sampingku bertanya, sebenarnya kami berdua sedang menunggu siapa.

Aku tak tahu harus menjawab apa, karena aku juga tidak tahu siapa yang bakal datang menjemput kami di tempat ini.

Aku dan Gre sekarang sedang berada di bandara. Kami berdua baru saja sampai di Jepang, setelah menjalani perjalanan panjang dari Jakarta. Sekarang, kami sedang menunggu seseorang yang dikirimkan oleh Tante Melo untuk menjemput kami berdua.

Pertama kali kami berpikir yang bakal menjemput kami adalah Shania, tapi ternyata dia tidak bisa, karena ia sedang ada kegiatan di kampusnya. Dugaan kedua, kami berpikir bakal Tante Melo sendiri yang bakal menjemput kami, namun setelah kami hubungi, ternyata ia sedang sibuk di kantornya.

“Aku juga gak tau Gre, siapa yang bakal datang.” Aku memain-mainkan ponsel di tanganku karena bosan dan penasaran siapa yang bakal datang.

Setelah menunggu dengan waktu yang lama, akhirnya sang penjemput datang. Seorang gadis berbadan tinggi dan cantik tiba-tiba datang menghampiri kami berdua, yang sedang asik memakan cemilan karena sudah mulai kelaparan.

“Hai.., udah lama nunggu?” Gadis itu terdengar fasih berbahasa indo, walau wajahnya terlihat kejepang-jepangan. “Sorry yah, jalanan cukup macet tadi,” ujarnya memberi alasan.

“Yep, lama banget,” jawabku sambil memandangi gadis itu dari ujung kaki hingga rambut, “Betewe, elu siapa?”

“Emm.., masa Kakak lupa sih? Coba deh diingat lagi, padahal dulu sering ketemu,” ucap si gadis dengan senyuman di wajahnya.

“Isshhh.., entar aja deh perkenalannya, aku udah laper banget nih,” ucap Gre tiba-tiba dengan wajah sedikit cemberut kearahku.

“Ahh…, bener, gue juga udah laper banget,” ucapku paham dengan apa yang dikehendaki Gre, “Sekarang, berangkat! biar di jalan aja gue mikirin jawabannya.”

“Oh, ya udah, ikut aku!” pinta si gadis yang berjalan mendahului kami berdua.

Di jalan, aku masih mencoba menganalisa siapa gadis yang sedang menyetir mobil yang kami tumpangi saat ini. Setelah berpikir keras untuk mengingat, akhirnya aku bisa mengenali siapa gadis ini.

Gadis yang dulu hanya seorang bocah kecil nan cengeng. Juga gadis yang biasanya sering sekali dijahili oleh kakaknya, Shania.

“Kiti?!” Ucapku, membuat si gadis menoleh kearahku, “elu beneran Kiti?”

Ia tersenyum, senang karena ia tahu aku sudah mengingat namanya. Tapi, ada sedikit perasaan mengganjal di otakku. Kemana saja dia saat aku liburan di Jepang pada liburan yang lalu?

“Cieee, udah ingat yah?”

“Iya dong, kalo masalah mengingat, gue kan lumayan hebat,” jawabku, “Tapi, gue masih punya pertanyaan nih di otak,” tambahku.

“Pertanyaan apa?”

“Kok elu gak ada waktu gue liburan di sini beberapa bulan yang lalu?”

“Aku masih di Jakarta, Kak,” jawabnya yang terlihat fokus menatap jalan.

“Hah? Jakarta? Tinggal di mana?”

“Di rumah Tante Frieska.”

“Seriusan?” Aku agak terkejut karena baru tahu selama ini dia tinggal di sana, tapi itu sedikit mengingatkanku pada Shani. “Tapi, kok elu gak tinggal sama Shani?”

Ekspresi Gre tiba-tiba berubah dan nampak terkejut, ketika mendengarku menyebutkan nama Shani.

“Kakak ada ketemu Shani?” Gre bertanya dan melihatku dengan pandangan penasaran.

“Emm.., iya. Emang kenapa?”

“Kakak kok gak bilang kalo ada ketemu Shani,” ucap Gre.”Aku kan udah lama gak ketemu.”

“Gak cuman ketemu Kak Gre, Kak Refky juga sempat pacaran sama Kak Shani,” celetuk Kiti dan itu langsung membuat Gre membulatkan mulutnya.

“Oh.. Oh.. Oh.., gitu yah?” Gre menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan aku hanya bisa memasang tampang cengengesan. “Hemm.., nanti harus cerita yah! Awas kalo enggak,” ancam Gre dengan tatapan tajam.

Dari depan kemudi, terdengar Kiti sedang tertawa cekikikan setelah mendengar ancaman dari Gre untukku. Cukup menyebalkan.

 

~oOo~

 

Aku sedang menyelonjorkan kakiku di sofa, ketika pintu depan terbuka dan menampakkan sesosok bayangan hitam gadis tinggi berambut panjang yang berjalan kearahku.

“Hai.. Kak!” Sapa Shania dengan menumpukan tangannya di balik sofa yang kurebahi, “Apa kabar?”

“Kabar gak enak,” jawabku yang sedang memikirkan alasan dan cerita apa yang bakal kuberitahu pada Gre nanti, karena sudah mengetahui bahwa aku pernah pacaran dengan Shani.

“Lah, emang ada apaan? Sampe gak enak.”

“Noh.., kerjaan adek lu, ngasih tahu Gre gue pernah pacaran sama Shani,” jawabku ke Shania yang terlihat menghisap minuman Starbuck di tangannya.

“Heh! Kakak pernah pacaran sama anak Tante Frieska?” Shania nampak kaget.

Aku hanya bisa mendengus pelan dan mengangkat kedua bahuku untuk menjawab pertanyaannya.

“Ckckck, terus terus, Gre marah banget gitu sama Kakak?”

“Enggak marah kok, kayaknya.”

“Lalu?”

“Kak Gre minta Kak Refky buat ceritain masa-masa pacaran dia sama Kak Shani.” Kiti yang lagi menonton televisi menjawab pertanyaan Shania untukku.

“Yee…, gitu doang mah gampang. Ceritain lah semuanya, apa susahnya sih?”

“Susah kali Shan.” Aku memutar kedua mataku malas lalu membalikkan badanku, “lu gak lagi berada dalam posisi gue sih, makanya bilang enak,” ucapku yang kembali berpikir dan memilah cerita apa yang bisa kuceritakan sama Gre.

“Kan selama Kakak jujur, Gre pasti mau kok nerima alasannya, apalagi sebentar lagi kalian bakal nikah. Palingan marahnya sebentar doang,” timpal Shania.

“Bukan itu masalahnya, Shan. Kan lu tau Shani itu temen dekatnya Gre dari kecil, gue itu gak enak sama Gre kalo udah pernah pacaran sama temen dekatnya,” ucapku memberi alasan lalu terdiam, karena ada yang janggal dari kata-kata Shania. “Bentar, lu tau dari mana gue bakal nikah sama Gre? Kan gue belum ada cerita.”

“Ya tau lah Kak, Tante Yona kan ada nelpon kemaren, sebelum Kakak sampai sini,” beritahu Kiti yang beranjak dari sofa yang didudukinya lalu berjalan menuju kamarnya.

“Emm…, pantesan. Dasar nyokap, padahal kan gue mau bilangnya nanti buat surprise kalian,” ucapku beranjak duduk dan menegakkan badan.

“Oh iya, Kak, kabar Tante Ve gimana?” Tanya Shania yang sekarang duduk di sofa seberangku.

“Gak tau, tanya si Gre lah, masa gue? Terakhir ketemu kemaren sih baik aja.” Aku melihat kearahnya yang juga sedang melihat kearahku, “emang ada apaan?”

“Gak…, gak papa kok, cuman kangen aja,” jawabnya tersenyum, “Kangen kita main bertiga,” tambahnya lagi.

“Weehh, jangan diomongin keras-keras, entar kedengaran sama Kiti.” Aku memberikan isyarat padanya untuk diam.

“Pfft…, dia udah tau kali, Kak,” ucap Shania membuatku sedikit shock.

“Ck…, parah, emang gak ada yang bisa diam ternyata yah kalo masalah yang begituan?”

“Emang ada apaan, Kak?”

“Ya seharusnya jangan dibilangin lah, entar gue yang bahaya. Kalo si Kiti juga kayak si Lele, kan susah,” beritahuku.

“Lah, emang Lele kenapa?” Shania terlihat penasaran.

“Ya gak kenapa kenapa sih, cuman dia diceritain sama Tante Ve juga sama Gre kalo pernah main sama gue. Pada akhirnya dia juga minta jatah.”

“Wehh, asik dong,” ucap Shania dilanjut dengan cekikikan.

“Parah.”

 

~oOo~

 

Aku masih berada di ruang tengah, sendirian dan belum ingin masuk kamar. Otakku masih dibayangi beberapa pemikiran dan juga ingatan. Apalagi setelah mendengar kalimat yang tadi sempat diucapkan Shania padaku. Kalimat yang mengingatkanku pada kejadian beberapa bulan yang lalu, saat aku di negara ini.

 

Few months ago

“Shania! lu udah bangun?” Tanyaku pada Shania yang dengan santainya duduk di sebelah Tante Ve yang terlihat cuman mengenakan Bra untuk menutupi payudaranya.

“Iya, habisnya Kakak ninggalin aku sendirian di kamar.”

“Lah, kan lu udah tidur, ngapain gue nemenin?”

“Bilang aja gak mau nemenin, maunya sama Tante Ve doang,” ucapnya yang perlahan merebahkan kepalanya di pangkuan Tante Ve.  “Bener gak, Tante?”

“Yep, bener banget,” ucap Tante Ve sambil menyentil hidung Shania dan mengangguk, membuatku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. “Cewek lagi sedih, habis diputusin masa ditinggal tidur sendiri, kan kasian. Coba deh ditemenin.”

“Ya lah tuh…,” ucapku sambil membalik badanku hendak keluar kamar.

“Kamu mau kemana?” Tanya Tante Ve, menahanku untuk beranjak pergi.

“Mau balik ke kamar, Tante. Kan udah ada Shania yang nemenin Tante, buat tidur bareng,” ucapku sambil tersenyum padanya.

“Kenapa gak tidur bareng aja, Kak?” Tanya Shania yang melompat turun dari ranjang dan langsung menyerangku dengan ciuman di bibir. Sesuatu yang tidak kuduga.

Kulepas kecupannya dari bibirku, meninggalkan rasa yang sedari tadi kurasakan di muluku. Aku menoleh kearah Tante Ve, ia nampak tersenyum. Sudah kuduga, Tante Ve sudah memberinya sesuatu.

“Lu habis minum?” Tanyaku pada Shania yang kembali ingin menciumku, tapi aku menahannya. “Tante ngasih Shania minuman tadi?” Pandanganku beralih pada Tante Ve yang duduk santai di atas kasur dan nampak tersenyum.

“Iya, tadi Tante Ve ngasih aku minuman,” jawab Shania yang kembali menyerangku dengan ciuman.

Sepertinya aku memang dipaksanya untuk tidak melawan nafsuku yang perlahan sudah naik, akibat dari kecupan ganas Shania yang terasa di bibirku.

Kutuntun Shania kearah ranjang lalu merebahkannya di samping Tante Ve, dengan bibir yang terus melumatnya.

Ini bakal menjadi pertempuran kedua ku di malam ini.

 

Drrtt… Drrt… Drrrttt…

Getaran kecil dari ponsel di tanganku menyadarkanku dari lamunan yang cukup panjang, mengingat segala hal yang sudah kulalui dan kami lakukan bertiga pada malam itu. Bukan hal yang seharusnya diingat kembali padahal, cuman karena kata-kata Shania tadi yang memancingku buat mengingatnya.

Kutatap layar ponselku, menampilkan satu pesan singkat dari ibuku. Aku tersenyum setelah membacanya. Efek dari sebuah kelucuan dari pesan yang sangat mainstream dari seorang ibu yang sayang anaknya.

Kulihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul setengah duabelas malam dan sepertinya sudah waktunya untukku memasuki kamar. Bertemu dengan Gre dan mulai menceritakan cerita pendek seputar percintaanku dengan Shani.

-Authorgagal-

Iklan

17 tanggapan untuk “Don’t Disturb! – O.A.S (DUE) Soft Version

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s