Vepanda, Part 24

vepanda-cover-2

 

“Kamu mau nggak balikan sama aku?” tanya Rezza sambil tersenyum dan memegang pipi Sinka.

Really?” tanya Sinka dengan wajah imutnya.

“Hmm…,” Rezza bergumam dan mengangguk ke arah Sinka.

“Tapi ada syaratnya,” sambung Rezza.

“Apa?” tanya Sinka dengan polosnya.

“Jangan lakuin hal bodoh yang bikin orang lain khawatir lagi, aku nggak peduli apapun alasannya, mau itu buat ngebelain aku ato apa, pokoknya jangan!” jawab Rezza sambil tersenyum.

“Iya,” Sinka mengangguk sambil tersenyum.

Sorry sin, gue boong sama lu, gue cuma nggak mau lu ngelakuin hal bodoh kaya gini lagi,” ucap Rezza dalam hati sambil mencium kening Sinka.

Beberapa jam telah berlalu, Sinka sudah tertidur di kamar Rezza yang berada di lantai atas. Melody dan Frieska juga sudah tidur pulas di kamar Melody, hanya Naomi dan Rezza saja yang belum tertidur.

“Kamu yakin za mau kaya gini?” tanya Naomi yang sedang duduk di sebelah Rezza.

“Ya mau gimana lagi kak, daripada Sinka kaya tadi lagi kan?”  jawab Rezza sambil menoleh ke arah Naomi.

“Tapi aku gabisa jaga Sinka setiap saat, tau sendiri kan kondisi aku kaya gimana, hehe…,” lanjut Rezza cengengesan.

“Iya gapapa kok, makasih ya za,” ucap Naomi sambil memeluk Rezza.

“Eh-eh kak, sakit!” teriak Rezza sambil melepaskan pelukan Naomi.

“Masih sakit ya? Kirain udah enggak, abisnya tadi kamu pelukan ama Sinka tenang-tenang aja, hehe….”

“Sebenernya tadi sakit banget sih, apalagi pas tadi Sinka nangis sambil mukul-mukul itu, beuhh…, rasanya nggak karuan.”

“Aku doain semoga cepet sembuh deh, biar bisa jaga Sinka lagi,” ucap Naomi tersenyum ke arah Rezza.

“Yaudah kalo gitu, aku ke atas dulu ya,” sambung Naomi.

Kemudian Naomi pergi ke lantai atas meninggalkan Rezza sendirian di ruang keluarga.

“Ini gimana caranya gue ke kamar?!” gerutu Rezza sambil menoleh ke arah kamarnya.

“Ah kampret emang!” sambung Rezza.

~oOo~

“Za, bangun,” ucap Melody sambil menguncang tubuh Rezza.

“Hoammm…,” Rezza menguap lalu bangkit dari tidurnya.

“Kamu ngapain tidur di sini?” tanya Melody dengan heran.

“Ng…, anu, semalem ketiduran pas nonton TV, hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

“Yaudah, kamu mau sekolah nggak hari ini?” tanya Melody sambil berjalan kembali ke kamarnya.

“Iya deh, males di rumah, capek tidur mulu,” jawab Rezza sambil berusaha duduk di kursi rodanya.

“Fris!” teriak Rezza setelah berhasil duduk di kursi rodanya.

“Bentar! Aku lagi ganti baju!” Frieska juga berteriak dari dalam kamar Melody.

“Mau ke mana kak?” tanya Rezza saat melihat Naomi berjalan menuruni tangga dangan tergesa-gesa.

“Mau pulang lah, aku kan nggak bawa seragam,” jawab Naomi melewati Rezza begitu saja.

“Sinka udah bangun kak?!” tanya Rezza sedikit berteriak karena Naomi sudah berada di dalam garasi.

“Udah! Lagi mandi!” jawab Naomi juga berteriak.

Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil Naomi pergi dari rumah Rezza.

“Tadi manggil mau kak?” tanya Frieska sambil menuruni tangga.

“Bantuin aku mandi,” jawab Rezza menoleh ke arah Frieska.

“Hah?! Bantuin kakak mandi?”

“Bukan mandi kaya biasanya, cuma dilap aja badan aku pake handuk basah.”

“Ohh…, kirain mandi kaya biasanya, hehe….”

“Kaga lah, udah cepetan bantuin aku.”

Kemudian Frieska membawa Rezza ke kamar mandi dan mengelap tubuhnya dengan handuk basah.

“Udah, bagian depan sama kaki biar aku sendiri aja,” suruh Rezza sambil meraih handuk basah dari tangan Frieska.

“Yaudah kalo gitu, ntar kalo udah mandinya, teriak aja,” ucap Frieska lalu pergi meninggalkan Rezza.

Beberapa menit kemudian Rezza sudah memakai baju dengan bantuan Frieska, kini mereka sedang berjalan ke ruang makan untuk sarapan.

“Pagi sayang…,” ucap Sinka menghampiri Rezza dan mencium pipinya.

“Pagi…,” Rezza hanya tersenyum ke arah Sinka.

Kemudian Rezza, Sinka, Melody dan Frieska sarapan bersama-sama dan pergi ke sekolah, kecuali Frieska yang tinggal di rumah.

“Kamu ke kelas sama Sinka aja ya, kakak mau ke ruang OSIS sekarang,” ucap Melody sambil turun dari mobilnya.

“Iya kak,” ucap Rezza yang juga sedang turun dan menaiki kursi rodanya.

“Jagain Rezza ya sin,” ucap Melody lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

Kemudian mereka berdua pergi ke kelas bersama-sama, selama perjalanan ke kelas, mereka menjadi pusat perhatian banyak siswa lain.

-di kelas Rezza-

“Baiklah anak-anak, seperti yang bapak kasih tau beberapa hari yang lalu, hari ini kita akan adakan ulangan,” ucap seorang guru matematika yang sedang mengajar di kelas Rezza.

“Dan untuk Rezza, karena kamu tidak masuk dua minggu ini, jadi soal kamu tidak seperti biasanya, soal kamu bakalan sama seperti siswa lain,” sambung guru itu.

Kemudian guru itu membagikan soal dan lembar jawaban ke semua siswa di kelas Rezza.

“Waktunya dua jam pelajaran, kerjakan dengan teliti, jangan tergesa-gesa,” ucap guru itu setelah selesai membagikan soal dan lembar jawaban.

“Kamu kidal?” tanya Sinka menatap Rezza dengan heran.

“Enggak, kenapa emang?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka.

“Bohong, itu tulisan kamu bagus gitu,” ucap Sinka sambil menunjuk ke arah lembar jawab Rezza.

“Tangan kanan aku dulu pernah patah, jadi udah biasa nulis pake tangan kiri, makanya nggak jelek-jelek amat tulisannya,” ucap Rezza lalu kembali menulis.

Beberapa saat kemudian Rezza mengangkat tangannya.

“Udah pak,” ucap Rezza sambil menurunkan kembali tangannya.

Semua siswa di kelas itu tidak kaget saat Rezza selesai dengan begitu cepat, hanya Sinka yang sedikit heran karena ia belum begitu tau tentang Rezza.

“Kok cepet banget sih? Aku aja baru selesai satu,” tanya Sinka menoleh ke arah Rezza.

“Kamu aja yang nulisnya lambat,” jawab Rezza sambil tersenyum.

Guru matematika itu mengambil jawaban Rezza dan memeiksanya di meja guru.

“Baiklah, kamu boleh keluar dulu, jajan-jajan di kantin ato kemana terserah,” suruh guru tadi setelah selesai memeriksa jawaban Rezza.

“Pengennya sih pak, tapi kan saya lagi nggak bisa jalan, harus di bantuin kalo mau jalan,” ucap Rezza sedikit tersenyum.

“Saya di kelas aja deh pak,” sambung Rezza.

“Yaudah, tapi jangan bantuin yang lain ya,” ucap guru tadi.

Rezza meletakkan kepalanya ke atas meja dan mencoba untuk tidur.

“Ssstt…, bantuin dong!” bisik Sinka pada Rezza.

Rezza mengubah posisi kepalanya ke arah Sinka.

“Apaan?” tanya Rezza dengan wajah mengantuk.

“Bantuin!” jawab Sinka masih berbisik.

“Nggak ah, kerjain aja sendiri,” ucap Rezza lalu memalingkan kembali wajahnya.

Dua jam telah berlalu, semua siswa disuruh mengumpulkan jawaban mereka ke meja guru untuk diperiksa satu per satu.

“Tenang semuanya, bapak akan bacakan nilai tertinggi dan terendah ulangan kali ini,” ucap guru itu yang berhasil mencuri perhatian semua siswa.

“Nilai tertinggi kedua…, Yupi dengan nilai 88,” sambung guru itu.

“Kok langsung yang kedua? Yang pertama siapa?” tanya Sinka sambil mengernyitkan dahi.

“Ya siapa lagi kalo bukan pacar kamu,” ucap Yupi menoleh ke arah Sinka.

“Rezza?” tanya Sinka menoleh ke arah Rezza yang masih tertidur.

Yupi hanya mengangguk dengan ekspresi datar.

“Ya tapi kan aku pengen tau nilainya berapa,” ucap Sinka menoleh lagi ke arah Yupi.

“Nilainya Rezza kalo matematika mah gausah ditanya sin, udah pasti 100,” Najong menoleh ke arah Sinka dan menatapnya dengan datar.

“Masa sih?” tanya Sinka terlihat tidak percaya dengan ucapan Najong.

“Dan yang terendah dengan nilai 68…,” ucap guru itu yang membuat semua siswa menatapnya dengan serius.

“Sinka,” sambung guru itu dan membuat semua siswa menoleh ke arah Sinka.

“Hah? aku?” tanya Sinka sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kamu belajar yang giat ya, minta ajarin Rezza kalo perlu,” ucap guru tadi sambil membereskan perlengkapan mengajarnya.

“Terima kasih semuanya, sampai jumpa minggu depan,” sambung guru tadi lalu keluar dari kelas.

“Bangun! Udah selesai pelajarannya,” ucap Sinka sambil mengguncang tubuh Rezza.

“Hah?” Rezza bangun dan melihat sekitar sambil mengucek matanya.

“Ada apa?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka.

“Udah selesai pelajarannya, sekarang istirahat,” jawab Sinka sambil bangkit dari kursinya.

“Mau ke kantin nggak?” sambung Sinka.

“Gausah ditanya kalo itu, yuk berangkat,” jawab Rezza dengan semangat.

“Giliran makan aja kamu semangat,” ucap Sinka menatat Rezza dengan wajah datar.

“Najong sama Yupi ke mana?” tanya Rezza saat ia dan Sinka berjalan keluar kelas.

“Udah duluan, kamu sih tidur pules banget,” jawab Sinka sambil mencubit bahu Rezza.

“Sakit bego!” teriak Rezza lalu menyingkirkan tangan Sinka dari bahunya.

Mereka berdua terus mengobrol dan bercanda selama berjalan ke kantin.

Sesampainya di kantin mereka langsung bergabung dengan Najong dan Yupi yang sedang makan, mereka berdua juga memesan makanan dan memakannya bersama-sama.

“Kamu kenapa bisa jago matematika gitu?” tanya Sinka menoleh ke arah Rezza yang duduk di depannya.

“Yaelah, masih dibahas aja sin,” ucap Najong sambil terus memakan sotonya.

“Aku kan penasaran, terus kenapa tadi sebelom ulangan gurunya bilang kalo soal kamu nggak kaya biasanya? Itu maksutnya apa?” dahi Sinka mengerut sambil menatap Najong di depannya.

“Jadi gini sin,”-Yupi meletakkan sendoknya dan menoleh ke arah Sinka-“Rezza itu bukan anak biasa, inget waktu upacara hari pertama? Waktu Pak Totok bilang ‘jangan seperti dia, kalian nggak akan pernah bisa seperti dia’, inget?”

Sinka hanya mengangguk dengan polosnya.

“Kamu pernah liat ada guru yang marahin Rezza kalo dia buat salah? Pernah liat Rezza dihukum kalo dia nggak ngikutin peraturan sekolah?” tanya Yupi.

“Jarang sih, palingan cuma pas upacara kalo Rezza telat ato pake sepatu putih ato seragam nggak lengkap, itu juga palingan disuruh balik lagi ke barisan.”

“Harusnya sekarang kamu tau maksut omongan guru tadi sama omongan Pak Totok waktu itu,” Yupi kembali melanjutkan memakan sotonya.

“Aku masih nggak tau maksutnya apaan,” ucap Sinka dengan polosnya.

Yupi, Najong dan Rezza langsung menatap Sinka dengan heran.

“Kenapa? Salah ya?” tanya Sinka menatap mereka semua dengan ekspresi tak berdosa.

“Gini deh sin, intinya Rezza itu spesial, jadi sekolah punya peraturan sendiri buat dia, misalnya pas ulangan, dia bakalan dibikinin soal sendiri dan itu sulitnya nggak karuan, aku pernah liat soalnya kaya gimana, dan soal Rezza sering dihukum pas upacara itu sebenernya buat formalitas aja biar pihak sekolah nggak keliatan kalo perlakuan mereka ke Rezza itu beda,” ucap Najong lalu kembali makan sotonya.

“Gimana? Udah ngerti sekarang?” tanya Yupi memegang pundak Sinka.

Sinka hanya mengangguk polos ke arah Yupi.

Yupi dan Sinka kembali memakan soto mereka, sedangkan Sinka terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Kalo Rezza jenius berarti kak Melody sama Frieska juga jenius dong,” ucap Sinka perlahan.

“Hah?” Najong dan Yupi kembali menoleh ke arah Sinka dan menatapnya degnan heran.

“Kamu ngomong apa barusan?” tanya Yupi mengernyitkan dahinya.

“Kalo re,” ucap Sinka.

“Kak Melody ama Frieska bukan sodara kandung aku,” potong Rezza tanpa menghentikan aktifitas makannya.

“Maksut kamu?” Sinka memiringkan kepalanya dan menatap Rezza dengan heran.

Rezza tidak menghiraukan Sinka, ia terus melanjutkan makannya.

“Za!” Sinka sedikit berteriak sehingga membuat seluruh mata yang ada di area kantin tertuju padanya.

“Kenyang banget, sekarang waktunya penyejukan,” ucap Rezza menghentikan aktifitas makannya.

“Kamu bayar dulu gih sana, abistu langsung nyusul,” ucap Yupi sambil berdiri dari kursinya.

Najong hanya mengangguk lalu pergi ke dalam kantin, sedangkan Sinka terlihat bingung.

“Ikut aku,” ucap Rezza saat Yupi mulai mendorong kursi rodanya.

Sinka langsung berdiri dan mengikuti mereka berdua.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sampai disebuah ruangan yang belum pernah Sinka masuki sebelumnya. Meskipun terlihat jarang digunakan, ruangan itu terlihat bersih dan rapi.

“Kita mau ngapain ke sini?” tanya Sinka setelah memasuki ruangan itu.

“Kamu pengen tau soal aku kan? kita bicarain di sini,” ucap Rezza sedikit menoleh ke belakang.

Kemudian Yupi dan Sinka duduk di kursi dan menatap Rezza.

“Kita mulai dari mana nih?” tanya Rezza sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.

“Dari keluarga aja,” jawab Yupi lalu berjalan mendekati Rezza dan menyalakan sebuah korek api yang ia ambil dari saku bajunya.

“Okedeh, dari keluarga,” ucap Rezza sambil mengeluarkan asap putih dari mulutnya.

Yupi kembali duduk di sebelah Sinka, sedangkan Sinka masih terlihat bingung dengan semua ini.

“Aku ini bukan sodara kandung kak Melody sama Frieska, aku cuma numpang di rumah mereka,” Rezza mulai menjelaskan dirinya kepada Sinka.

“Maksut kamu?” tanya Sinka sambil menatap Rezza dengan heran.

“Aku bukan dari sini, dan…,” jawab Rezza.

“Dan apa?” Sinka mengernyitkan dahinya sambil menatap Rezza.

“Dan aku…, bukan manusia,” ucap Rezza tertunduk.

Sinka sedikit terkejut dengan ucapan Rezza.

“Rezza ini bukan dari dunia ini, dia itu pangeran iblis,” ucap Yupi memegang pundak Yupi.

“Ini maksutnya apaan sih?!” Sinka terlihat semakin bingung dengan semua ini.

“Apa yang dibilang Yupi itu bener sin, aku ini iblis,” Rezza berdiri dari kursinya dan mulai berjalan mendekati Sinka.

“K-kok kamu bisa berdiri?” tanya Sinka terlihat mulai ketakutan.

“Kan aku udah bilang, dia itu bukan manusia, kursi roda, patah tulang, dan semuanya itu cuma formalitas aja biar nggak keliatan aneh,” jawab Yupi berdiri dan berjalan ke depan Sinka.

“Kamu kok bisa tau semuanya? Apa jangan-jangan,” ucap Sinka.

“Iya, aku juga bukan manusia, aku…,” potong Yupi sambil menoleh ke arah Rezza.

“Yupi itu calon istri Rezza, dan aku ini pengawalnya,” Najong masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan ke arah mereka.

“Hah?!” Sinka terlihat terkejut dengan ucapan Najong barusan.

“Kamu udah paham sekarang?” tanya Rezza yang kini telah berdiri tepat di depan Sinka.

“Ng-nggak! Aku nggak percaya semua itu!” jawab Sinka berteriak.

SRETT!!

Dengan satu gerakan, tangan Najong menarik seragam dan kulit yang menutupi wujud asli Rezza selama ini. Suasana di ruangan itu langsung berubah menegangkan karena Rezza memperlihatkan wujud aslinya.

Tubuh besar Rezza yang dipenuhi dengan tulisan-tulisan asing terpampang jelas dihadapan Sinka karena ia hanya menggunakan jubah besar dipunggungnya, bulu yang menutupi tubuh dari perut sampai ke ujung kaki khas binatangnya, ekor panjang dan dua buah tanduk membuat penampilan Rezza terlihat mengerikan.

Sinka sedikit memundurkan kursinya karena ketakutan, matanya mulai berlinang air mata dan pikirannya mulai kacau.

“Sekarang kamu percaya kan kalo dia ini bukan manusia?” tanya Yupi muncul dari balik tubuh Rezza.

Penampilan Yupi juga terlihat sangat berbeda dengan biasanya, rambut dan telinga panjang khas wanita elf adalah bentuk wajah aslinya. Tubuh yang lebih tinggi dari manusia biasa itu tidak mengenakan apa-apa, hanya sayap hitam melingkar ke depan yang membuatnya terlihat seperti sedang dipeluk seseorang dari belakang.

“Kamu gausah takut sin, kita nggak bakalan apa-apain kamum, kita udah nggak punya kekuatan lagi, itu lah kenapa kita nggak balik ke dunia kita, karena kita nggak bisa buka pintu buat balik ke sana,” ucap Yupi mendekat ke arah Sinka dengan melayang.

“Jangan deket-deket aku!” teriak Sinka sambil mengangkat tangannya ke arah Yupi sehingga membuatnya berhenti.

“Kamu nggak perlu takut sin, bener apa yang dibilang Yupi barusan, kita udah nggak punya kekuatan lagi buat apa-apain kamu, kecuali rasa takut kamu sendiri yang bakalan bikin kita jadi punya kekuatan, tapi itu juga nggak seberapa,” Najong mundekat ke arah Sinka dan duduk di sebelahnya.

“Kenapa lu nggak berubah kampret!” teriak Rezza setelah menyadari kalau Najong masih dalam bentuk manusia.

“Males, buang-buang energi aja,” ucap Najong dengan santainya.

“Terus kenapa lu tadi main tarik-tarik aja baju gue?!”

“Ya gapapa, lagi pengen aja, sekalian biar Sinka percaya.”

“Kampret!” teriak Rezza sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Udah, jangan berantem, ntar ada yang tau,” ucap Yupi yang kini sudah kembali ke bentuk manusianya.

Sinka dan Najong langsung menoleh ke arah Yupi yang sedang mendekat ke arah Sinka.

“Liat apa lu kampret?” tanya Rezza sambil mengusapkan ekornya ke pipi Najong.

“Ng-nggak, nggak liat apa-apaan kok,” Najong langsung mengalihkan pandangannya dari Yupi yang tidak mengenakan apa-apa dan hanya menutupi dada dan selangkangannya dengan tangan.

“Se-seragam kamu mana yup?” tanya Sinka yang kini sudah mulai bisa tenang.

“Rusak gara-gara berubah tadi, hihi…,” jawab Yupi tertawa kecil.

“Terus kamu sekolahnya gimana kalo nggak pake seragam?” Sinka menatap Yupi yang kini duduk di sebelahnya.

“Ya pulang, kalo nggak di sini sampe Najong ambilin aku baju di rumah,” Yupi menoleh ke arah Sinka sambil tersenyum.

“L-loh? Kok jadi gue?!” sewot Najong sambil berdiri dari kursinya.

“Udah sana lu balik, sekalian ambilin baju gue,” suruh Rezza yang masih dalam wujud iblisnya.

“Aaaarrghh!” teriak Najong yang kini berjalan keluar sambil mengacak-acak rambutnya.

“Hihihi…,” Yupi dan Sinka tertawa kecil melihat Najong tersiksa.

Mereka semua tidak menyadari jika ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari tadi yang akan membuat keberadaan mereka di dunia ini terancam.

“Lu ngapain cal?” tanya Najong yang telah keluar ruangan dan melihat Ical tengah berdiri di dekat jendela.

“Ng-nggak, gue nggak ngapa-ngapain, lagi lewat aja di sini,” jawab Ical terlihat sedikit gugup.

“Lewat di sini pala lu sempak! Ini kan ruangan ujung bego! Kaga ada orang yang lewat sini, apa jangan-jangan dia ngintipin kita dari tadi?” batin Najong sambil terus menatap Ical.

“Eh gue ke kelas dulu ya,” ucap Ical lalu segera berlari meninggalkan Najong.

 

*TAMAT*

Author: Luki Himawan.

 

Note: yang ini beneran tamat, kalo kemaren cuma lagi pengen vakum aja sebenernya soalnya lagi males ngedit part ini :v

Gimana endingnya? Gantung banget ya? emang gue bikin gitu biar kalian bisa bikin ending versi kalian sendiri, terserah kalian mau bikin endingnya cuma dikhayal doang ato gimana, kalo mau ditulis terus dipost juga nggak masalah.

Soal ending, gue ambil dari anime Hataraku Maou-sama, kalo yang pernah nonton pasti tau, dan soal kenapa gue bikin endingnya gantung, gue bingung aja milih antara happy ending apa sad ending :v

Kayaknya itu aja deh, dan dengan ini cerita bergenre campuran ini gue tamat? Gue gatau, mungkin juga bakalan gue lanjutin kalo lagi pengen. Thanks yang udah baca, yang nggak juga thanks udah mampir ke blog ini.

Iklan

9 tanggapan untuk “Vepanda, Part 24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s