Infinite War, Perjanjian (Part 02)

 

Kutatap kedua bola mata Alvin, disana menyurat sebuah dendam yang sama sekali tak dapat kuartikan. Ia mulai menarik kerah baju seragamku dan menurunkanku dari motor dengan paksa, ia juga membuang begitu saja tubuhku yang memang sudah lelah ini ke arah yang tak menentu. Rasa lelahku hilang sirna ketika ia memanggil nama seseorang.

“Kevian! Ghahahhaaha….!” Teriaknya asal.

“darimana lo tau nama itu? Dan apa lo kenal sama dia?” tanyaku masih mencoba baik-baik

“hahaha, jangan sok polos. Kevian itu elo, dan masa sih lo ga kenal sama diri lo sendiri, Keno? Haha”

“maksud lo apa…”

Aku yang sudah tak tahan lagi kini mengeluarkan tatapan mata yang tajam kearah Alvin yang kini tengah asik menertawai diriku, entah apa yang ditertawakan aku tak peduli. Yang jelas sekarang aku ingin mendengar penjelasannya terlebih dahulu.

“Kevian, putra dari seorang perwira kerajaan Valhala yang merupakan sahabat dekat putri Veranda yang merupakan anak satu-satunya Raja Aljabes. Karena lo juga, Ve sampe di tendang dari kerajaan Valhala, karena melanggar perintah raja demi persahabatan yang berujung busuk. Gue bener-bener gak abis pikir sama pemikiran seorang Jessica Veranda yang memilih hubungan busuk kalian daripada hidup yang tentram dan nyaman di kerajaan sana,” jelas Alvin

“jadi menurut lo, gue yang udah ngerusak hidup kak Jess? Maksudnya diri gue yang dulu?”

“akhirnya nyadar juga,” sahutnya

“UGH!!!”

Terkejut dengan kejadian yang sedang dijelaskan oleh Alvin, aku dikejutkan lagi oleh kejadian yang cukup mengherankan bagiku. Tubuh Alvin yang tadinya berdiri dengan tegap di depanku ini tiba-tiba saja melayang dan menghantam dinding yang sebelumnya dipakai Alvin untuk menyenderkan tubuhnya sambil meminum fanta.

Angin semilir dingin menerpa kulitku. Sesosok bayangan berdiri dengan tegap di belakangku, ia memandang sinis kearah Alvin yang meringis kesakitan disana sambil memegang perutnya. Kutatap sosok bayangan itu, kak Jess!

“inget apa yang kakak bilang dari kecil, hmm?” tanya kak Jess

“tentang gak boleh percaya sama orang lain?” balasku bertanya, kak Jess hanya menggangguk saja. “maksudnya aku gak boleh percaya sama Alvin, gitu?” dan lagi-lagi kak Jess hanya mengangguk.

“pokoknya jangan dengerin siapapun yang ngomong tentang legenda mitos penyihir itu selain Melody dan kakak, inget itu,” jelas kak Jess

Aku mengangguk sejenak, tapi difikiranku mulai terulang kembali perkataan Alvin mengenai diriku yang dulu, yang berhasil merusak kehidupan kak Jess. Mungkin itulah yang menjadi kunci jawaban kenapa kak Jess selalu mengurung diri selama hidupnya.

“kak Jess… apa… apa bener, aku yang udah bikin kak Jess dikeluarin dari kerajaan Valhala?” tanyaku

“apa anak itu yang cerita? Kan kakak udah bilang jangan percaya sama cerita begituan selain cerita itu dari Melody atau kakak!” sahutnya menjawab.

“and then, kenapa kak Jess gak jawab malah marah-marah kayak gini? Ternyata bener ya, aku yang udah ngebuat kak Jess dikeluarin dari Valhala? Hmmmh, ternyata bener,”

“udah kakak bilang–“

BRUAAGHHHH…..!

Dengan sekali serang, Alvin berhasil membuat tubuh ramping kak Ve melayang jauh. Dapat kulihat kondisi kak Ve dengan dagunya yang sedikit terbakar. Tunggu, itu benar-benar terbakar? Apa tangan Alvin mengeluarkan api sampai-sampai… tunggu, apa?!

Aku hanya dapat berguling ke samping untuk menghindari serangan tinju api yang berasal dari tangan Alvin. Benar, ternyata itu adalah api yang keluar dari tangannya. Apa dia… tunggu… apa?? Sulit dipercaya… tapi… ini… nyata kan?

“kecepatan yang lumayan, coba lo hindarin lagi serangan kedua gue ini!”

Secepat kilat, Alvin mulai mengepalkan kembali tinjunya dan menghantamkannya kearahku. Untung saja tangan kak Jess lebih cepat menghentikkannya, kalau tidak mungkin wajahku sudah tak berbentuk lagi sekarang ini.

“jangan bawa dia masuk ke dalam permasalahan kita. Dia gak tau apa-apa, Alvian!” sahut kak Jess

“lepasin, arrrghhhh! Lepasin gue bilang!”

Sekali hentakan, tangan pengunci kak Ve sudah berhasil dilepas olehnya. Kedua tangannya kini memegang sebuah api merah yang berkobar sangat kuat. Membuat kak Jess harus menjarakkan jarak diantara mereka. (puitis banget :v)

“sekali lagi lo kasar sama dia, abis lo ditangan gue,” ucapku sok berani, padahal mah… pffttt. Ketika ku mulai bangkit berdiri, Alvin dengan amarah yang tinggi mengarahkan telapak tangan kirinya kearahku.

“kalo gitu hadepin gue dengan berani,” ucapnya.

Kobaran api mulai menyerang kearahku. Aku yang tak dapat melakukan apapun menerima dengan apa adanya api tersebut tanpa memikirkan kedepannya, apakah wajahku akan terbakar atau yang lainnya.

“hadapin semuanya dengan kekuatanmu sendiri, maka kamu akan menemukan kekuatanmu yang sebenarnya”

Tiba-tiba saja aku teringat perkataan kak Melody mengenai kekuatan penyihirku. Jelas-jelas ia mengatakannya dengan mantap, itu berarti aku harus melakukannya dengan mantap juga.

Kucoba untuk tidak menutup kedua mataku ketika api itu datang, dan hasilnya adalah…

Semuanya menghilang, kobaran api itu menghilang tanpa dapat mengenai tubuhku sedikitpun. Kak Jess melihat kearahku dengan tatapan yang tak dapat dikatakan dengan kata-kata. Ia seperti tak percaya, tetapi juga sedikit mempercayainya.

“hmmmhh ahahaha, sudah menyadari kekuatan lo, hmm?” tanya Alvin

“belum,” jawabku polos

“oke, mari kita lihat kekuatan lo yang sebenarnya!” lagi-lagi Alvin menerjang kearahku dengan kepalan tangan apinya.

Sigap, kak Jess merentangkan sebelah tangannya kedepanku dan menghembuskan Alvin ke belakang membuat serangannya itu gagal total. Tatapan kak Jess sudah tak kukenali lagi, apakah dia adalah kak Jessica Veranda yang selama ini kukenal? Rasanya tidak. Tatapan ini, seperti tatapan brandal anak nakal yang berbeda 360 derajat dari sifat aslinya.

“apa perkataanku kurang jelas? Alvian?!” sahut kak Jess.

“ughhh…. Kekuatanmu bertambah, apa itu karena bantuan anak gak berguna itu? Aku ngerasa ada aura yang berbeda dari aura lamamu, apakah auramu sudah tercemar? Cuih. Ternyata anak raja juga tercemar ya, hahhaa…”

“diem, atau gue bantai lo!” mulai kukepalkan tangan kananku dan mulai menerjangnya. Sebuah sengatan terasa di tanganku itu, walau aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya menerjangnya dan…

Tubuh Alvin pun ambruk membuat dinding di belakangnya menjadi retak sebagian. Mulutnya mengeluarkan sedikit darah, dan matanya menatap kearahku dengan tajam. Tawa kecilnya masih setia menemaninya.

“akhirnya, gue tau kemampuan lo,” ucapnya

“gue aja belom tau,” jawabku

“kemampuanmu adalah penggunaan listrik, Ken. Listrik biru abadi, keturunan Raja Valhala…” jelas kak Jess. “karena itulah kakak memilih mengarahkanmu ke jalan yang benar daripada Cuma diem di kerajaan,” lanjutnya sambil memandang kearah Alvin yang tersungkur.

“terserah aja, aku capek. Mau pulang,”

Kusambar helm merahku yang berada di ujung sana, dan mulai menstater motor meninggalkan kawasan sekolah lengkap dengan kak Jess dan Alvin yang kurasa masih berbicara satu sama lain, aku tak peduli apa yang dibicarakan, yang jelas kini penglihatanku mulai mengabur. Aku tak boleh bertabrakan seperti dulu lagi, tak akan pernah…..

Di rumah, aku memarkirkan motor ninjaku dengan asal dan membanting helm ke teras rumah. Aku mendapati seorang gadis yang sangat kukenal sedikit terperanjak kaget karena suara helm ku itu. Kak Imel, mau apa dia disini?

“kamu, baru pulang udah bikin orang kaget aja. Ve kemana? Kok udah sore gini belum pulang?”

“kak Jess lagi berantem sama Alvin, aku capek and then pulang duluan,” jawabku

“maksudnya kamu ninggalin Ve disana?!”

“ya, karena kondisi Alvin juga udah gamungkin untuk bertarung jadi kutinggal deh kak Jess disana. Kepalaku mulai pusing denger cerita-cerita gak jelas yang diceritain sama Alvin, aneh banget tuh anak,”

Kak Imel terdiam sejenak. Pandangan kosongnya berganti ketika melihat tubuh kak Jess yang baru saja turun dari mobil Yaris putih miliknya sendiri, seperti yang sebelumnya kukatakan Kak Jess selalu dapat yang ia inginkan.

“keno, syukur deh kamu pulang, tadinya kakak pikir kamu gak bakal pulang…” ucapnya

“Ve, apa Alvin ada ngomong sesuatu ke Kevian?” tanya kak Imel.

“aku juga kurang tau, Mel. Tapi menurutku sih ada, soalnya tadi dia kayak ngerasa bersalah gitu,” jawab kak Jess

“kerajaan Valhala… sebenernya ada dimana sih?” tanyaku

***

Di dalam rumah, kak Imel tampak serius memandang kearahku dan kearah kak Jess. Sirup merah yang dihidangkan oleh kak Jess sama sekali tak disentuhnya, ia masih asik dengan pemikirannya sendiri.

“oke, jadi sebenernya apa yang dikatakan anak itu sama kamu, Kevian?” tanya kak Imel untuk ketiga kalinya.

“dia cerita, kalau ternyata akulah yang membuat hidup kak Jess hancur. Karena aku jugalah kak Jess sampai-sampai dikeluarkan dari kerajaan Valhala,” jawabku

“gak, itu bukan salahmu, Ken…. Itu jelas-jelas bukan salahmu…” potong kak Jess

“emang itu bukan salah si Kevian. Udah fix kalau ini semua salah Alvian bukan Kevian.”

“nama mereka nyaris mirip. Apa gak sebaiknya Keno kita kirim ke Valhala buat jadi Alvian?” tanya kak Jess

“keberhasilannya fifty-fifty, Ve. Lima puluh persen kita dapat informasi dari Valhala dan mendapatkan Kevian kembali, dan lima puluh persen kita gagal total dan kehilangan Kevian untuk selama-lamanya. Terlalu riskan,” jelas kak Imel

“lagipula, penyihir hitam udah gak bisa masuk Valhala. Itu kata Alvin tadi,” tambahku

“ya, sekarang Valhala udah di protect oleh raja Aljabes. Kurasa aku tau satu hal. Kevian, boleh kamu tunjukin telapak tanganmu sekarang?”

Aku mengangguk dan memberikan telapak tangan kananku kearahnya. Sejenak kak Imel tampak berfikir dan kemudian mulai menyentuh beberapa sisi dari telapak tanganku itu. Rasa yang tidak pernah kurasakan  mengalir ke dalam tubuhku, rasanya sama seperti waktu itu. Hampa. Kosong. Dan juga tak berarti.

“ka-kamu ngapain, Mel?!” tanya kak Jess

“Cuma ngasih beberapa aura putihku ke tubuhnya biar dia bisa masuk Valhala tanpa ada penghalang lagi,” jawabnya

“urgh, sakit…” protesku.

Aku merasakan sesaknya dadaku menjalar ke seluruh tubuh. Kakiku melemas, kepalaku pusing sekali. Yang terakhir kuingat hanyalah wajah kak Jess yang cemas dan wajah kak Imel yang tampak serius sekali. Lalu semuanya menghilang, pandanganku kembali mengabur.

“berhasil,” hanya satu kata itu yang keluar dari mulut kak Imel yang bisa kuingat. Selebihnya tidak.

AMENO!

 

Hai, jangan lupa subscribe channelku yah… SquiCraft Indonesia makasih semuanya 🙂

(by Seena Grace)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s