Pengagum Rahasia 2, Part 24

Suasana tiba-tiba menjadi hening.

“Y-yah…udah waktunya kita pulang dev, ayo…,” Ve tiba-tiba langsung menarik tangan Deva

“Tunggu sebentar Ve, kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi,” ucap Deva yang menahan Ve

“Itu bukan pertanyaan dev…,”

“Kalau gitu aku minta pendapat kamu soal kata-kataku yang tadi,”

Ve kemudian berbalik dan menggelengkan kepala. “Aku gak punya jawaban soal kata-kata kamu yang tadi dev, ayo pulang,” ajak Ve

“Tapi Ve…,”

“Kita bahas ini di rumah ya, Hihi…,” potong Ve

Deva terdiam…

~oOo~

Ceklek!

Pintu rumahnya tidak terkunci, namun di tutup dengan rapat.

Mereka berdua sama sekali tidak melakukan percakapan apapun saat di jalan, melainkan hanya diam saja. Bahkan saat sampai rumah pun mereka masih diam seribu bahasa.

Deva yang begitu lemas terlihat masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Ve.

Di saat itu, Ve pun menutup pintu kamar Deva…

“Jadi Ve…umm…,”

Ve menundukan kepalanya kemudian berkata. “Dev…,”

“Eng…i-iya Ve?” balas Deva

BRAK!

“GAH!” Deva di dorong sehingga terhempas ke kasur bersamaan dengan Ve

“Tu-tunggu sebentar Ve.

GRAB!

“GAH!” Ve menjerit lembut karena Deva mendorongnya sampai berbaring

“Kenapa kamu jadi gini Ve…,”

“De…Va…,” Air mata itu menetes ke pipi Ve

“Jangan tinggalin aku dev!”

“Aku minta maaf Ve, tapi hubungan ini…,”

“Hubungan ini seharusnya gak pernah terjadi,” lanjutnya

DEG!

            Kata-kata itu seperti sebuah peluru yang menusuk jantung Ve.

“Deva!”

“Hapus air mata kamu Ve! Itu gak ada gunanya!”

*PLAK!

            Tamparan keras mendarat di pipi Deva.

“Kenapa dev…kenapa kamu tega ngelakuin ini…,”

“Aku gak sanggup Ve…aku gak sanggup untuk nyakitin kamu lebih dari ini…,”

“Itu gak akan pernah terjadi dev! Kamu gak akan pernah nyakitin aku! Aku percaya sama kamu!”

“Percuma Ve, semuanya udah terjadi…yang aku lakuin sekarang…,” ucap Deva menggantung

“Cih!” Deva tidak sanggup melanjutkan kata-katanya

“Aku minta maaf Ve,” Deva memeluk Ve dengan erat

Mereka saling menghangatkan satu sama lain, di malam yang begitu sunyi dan dingin.

“Terus peluk aku dev, aku pengen kayak gini lebih lama lagi,”

Deva berhenti sejenak kemudian menatap wajah Ve.

Di saat itu Ve pun mengelus pipi Deva.

“Aku gak mau putus dev, dan juga aku gak ngerti kenapa kamu mau mutusin hubungan kita,”

“Harus berapa kali aku bilang Ve, aku gak mau nyakitin kamu lebih dari ini,”

“Itu berarti…,” ucap Ve menggantung

“Itu berari kamu gak pernah suka sama aku…Dev?”

Deva menghirup nafas panjang untuk meyakinkan dirinya. Ketika deva membuka mata, ia pun berkata…

“Enggak,”

Greek!

            Suara per kasur berbunyi.

“V-Ve!”

Ve tampak beranjak dari kasur dan pergi dari kamar Deva.

“Tunggu Ve!” ucap Deva namun Ve telah terlanjur pergi

 

~oOo~

Tretetet! Tretetet! Tretetet!

“Umm…Jam 5 pagi ya,”

Wanita itu terbangun dari tidurnya dan langsung membuka Handphonenya.

Di layar Handphone itu terdapat sebuah note yang bertuliskan…

(Jam 10 Di taman kota)

“Heh,” Ia tertawa meskipun wajahnya terlihat masih mengantuk

“Kencan ya…,”

            -Flashback-

“Kak Naomi! Besok Rizal tunggu di taman kota jam 10! Kalau lewat dari jam 10 gak dateng-dateng, Rizal gak bakal kasih tau alamat SMA 3!”

-Flashback Off-

“Cerdik juga dia,”

“Kalau gini caranya aku gak punya pilihan lain,”

“Oke Naomi, ini kan cuma kencan biasa, tinggal jalanin aja,”

Naomi mulai beranjak dari kasur dan sedikit merapikan kasurnya. Kemudian ia keluar dari kamar.

Ia mengambil ikat rambut yang terselip di jendela kamarnya lalu mulai mengikat rambutnya ke samping. Di mulai dengan menyegarkan tubuhnya dengan meminum segelas air, kemudian ia melakukan sedikit peregangan badan di pagi hari.

“Hmm?” Naomi seperti mendengar sesuatu di ruangan bawah

Ia pun memeriksanya sambil sedikit mengendap-endap. Namun setelah ia tau asal suara tersebut…

“Ha?” ucap Naomi

Naomi berjalan mendekati kursi ruang keluarga.

“udah bangun!? Jam segini!?”

“Oh, kak Naomi…,” *Krekez…

            Sinka dengan baju tidur pandanya tengah menikmati pagi dengan menonton Tv, di temani oleh snack dan juga minuman hangat.

“Kapan ya terakhir kali kakak liat kamu bangun jam segini,” pikir Naomi

“Sinka ada janji,” ucapnya singkat

“Ada janji?” ucap Naomi

“Hemm…Gak mungkin sama Deva kan?”

“EK!? M-Maksud kakak apa!?” Sinka seperti tersinggung

“Ah…lupakan,” Naomi menghiraukannya dan pergi dari hadapan Sinka

“Oh iya,” Naomi kembali ke ruang keluarga

“Hmm? Apalagi kak?” ucap Sinka namun seperti tidak perduli

“Kakak juga ada janji hari ini, jadi kunci rumah kakak yang bawa ya,”

“Bawa aja, lagian kan ada kunci duplikatnya,” balas Sinka

“Kunci duplikat kan di bawa sama mami waktu liburan kemarin,”

“EK!” Sinka seperti baru mengingatnya

“Terus Sinka pulang kemana nanti!?”

“Sekarang tentuin, siapa yang bakal bawa kunci rumah,” ucap Naomi

“Sinka aja deh kak!”

“Lagian belum tentu Sinka pulang maleman,” lanjutnya

“Huh, yaudah terserah kamu aja,”

Naomi pergi sambil membawa handuk di kursi itu.

~oOo~

Jam 06.00 Pagi…

“Maaf ya mel kalau seminggu kemarin aku udah ngerepotin kamu,”

“Em, enggak kok Ve,”

“Uh…,”

Deva terbangun dari tidurnya karena mendengar sesuatu di luar kamar.

Ia pun beranjak dari kasur dan pergi memeriksanya.

Ceklek!

“umm…huah!”

“Huh?” Deva melihat ke arah 2 wanita di depannya

“Aku pergi mel,”

“Tu-tunggu Ve! Aku anterin ya…,”

“Gak perlu mel,”

“Duuuh…Dev, ngomong dong!” bisik Melody

“Hmm?” Deva melirik lalu berkata.”Ah…hati-hati ya,”

“Ek!?” Ve seperti marah namun membelakangi Deva

“Aku pamit mel…,” Ve pergi dengan membawa tasnya

“Ish! Bloon dasar!” ucap Melody

“Hee?” Deva tampak kebingungan

Melody terlihat ingin mengejar Ve namun terlambat.

“Yah, udah pergi ya kak?” ucap Deva

“Cih! Sebenarnya hubungan kalian ini kenapa sih!” ucap Melody

“Eh…soal itu…entahlah,” balas Deva

“Entahlah!? Padahal kan di awal kamu keliatan mesra banget sama Ve! Tapi sekarang keliatannya kamu musuhan sama dia dev,”

“umm, kayaknya sih iya…,” balas Deva lagi

“Dampaknya kena ke kakak dev!”

“Apa hubungannya kak?”

“Apa hubungannya gimana!? Jelas-jelas Ve jadi keliatan jengkel sama kakak!”

“Kalau gitu…,” Deva seperti ingin membisikan sesuatu.

“Jangan ikut campur kak,”

“Eh!?”

“Dah, kalau gitu deva mau mandi…,”

“Heeeh!” Melody tampak geram

Sementara itu di tempat lain…

(Suara keramaian di jalan raya)

“Itu berarti…,” ucap Ve menggantung

“Itu berari kamu gak pernah suka sama aku…Dev?”

            Deva menghirup nafas panjang untuk meyakinkan dirinya. Ketika deva membuka mata, ia pun berkata…

“Enggak,”

DEG!

“Kamu harus kuat ve…,”

BRUMM!

“AH!”

*PYAR!

Baju Ve seketika basah karena terkena cipratan air dari mobil tadi.

“Sheessh! Dasar mobil sialan!”

Trengtengtengtengteng…

            Sebuah motor vespa berhenti tepat di hadapan Ve.

“Loh…kenapa Ve?”

“EH! T-Tio!?”

~oOo~

TengTengTeng…

            (Suara khas motor vespa)

“Maaf ya Tio, aku malah ngerepotin kamu,”

“Gak apa-apa kok, lagian kan ketebetulan kita ketemu di jalan,”

“Ah soal itu, emangnya kamu mau kemana?” tanya Ve

“Mau ke rumahnya Naomi,”

“Oh…,”

“Tapi sayangnya aku gak tau rumah dia dimana, ahaha…,”

“Kebetulan…Rumah dia gak jauh kok dari rumah aku,”

“Eh!? Seriusan!?”

“Iya, tapi kamu ada urusan apa mau ke rumah Naomi?”

“Besok kan kelompok aku harus kesana,”

“Oh, yang kesekolah-kesekolah itu ya,” ucap Ve menebak

“Iya, eh bukannya kelompok kamu udah selesai Ve?”

“udah kok, mungkin sekarang hasil dari tesnya sama laporan kerjanya udah jadi,”

“Hemm, gitu ya,”

“Jadi sekarang kamu mau rapat di rumah Naomi gitu?” ucap Ve lagi

“Kalau di bilang rapat sih…kayaknya bukan deh,”

“Eh terus?”

“ya udah jelas kan aku bakal tanya alamat SMA 3 ke dia,”

“Emangnya Naomi udah tau SMA 3 dimana?”

“ya gak tau juga sih, tapi kalau semisal dia gak tau kan bisa di rundingin bareng-bareng,”

“Iya juga sih,” balas Ve

“Dan juga aku mau…,”

“Hmm? Mau apa?”

Tio sedikit memperlambat laju motornya dan berbicara pelan.

“WAH!” Ve seperti terkejut dengan perkataan Tio

“Kalau gitu…Good Luck ya Tio, Hihi…,”

“Thankyou ya Ve,”

“Eh tapi kan kemarin Naomi sama…,” ucap Ve menggantung

“Hmm? Sama siapa?”

“A-Ah, bukan siapa-siapa kok, hehe…,”

~oOo~

“Huh…Gak ada acara yang rame lagi,”

“Kak Naomi juga belum beres mandi. Lama banget mandinya!”

Teng-Tong!

“Hmm?” Sinka beranjak dari sofa

“Siapa sih yang dateng pagi-pagi gini,”

Ia memakai sandal tidurnya, lalu ketika Sinka membuka pintu rumahnya…

“Ah, maaf,” ucap orang itu

“Eh…mau cari kakak ya?”

“I-iya, hehe…,”

“Hmm, jadi kak Naomi ada janji sama cowok ini yah,” pikir Sinka dalam hati

“Kalau gitu masuk dulu kak,”

“Oh, iya-iya dek,”

Sinka membuka jalan dan membiarkan orang itu masuk.

-Di Dalam Rumah-

“Duduk dulu kak, maaf ya tempatnya acak-acakan,” ucap Sinka sembari membereskan selimut di sofa itu

“Iya gak apa-apa kok,”

“Sinka panggilin dulu ya kak Naominya,”

Sementara itu, lelaki tersebut hanya bisa menunggu sampai Naomi datang.

15 Menit berlalu…

*

*

“Oh Tio, kamu ternyata yang datang,”

“A-Ah, Mi…,” balasnya namun terlihat gugup

Naomi duduk di depan Tio sambil mengerikan rambutnya dengan handuk.

“Jadi…apa yang mau kita obrolin?” ucap Naomi sambil menyuguhi air teh

“Eh, Thankyou Mi…,”

“yah aku kesini mau tanyain soal alamat SMA 3,”

“Wah, justru hari ini aku mau cari tau,” balas Naomi

“S-seriusan Mi?”

“Iya,”

“Kalau gitu…kamu mau kan…umm…,” ucapnya menggantung

“Eng?” Naomi tampak kebingungan

“K-Kamu mau kan nge Date sama aku!” ucapnya lantang

Suasana tiba-tiba menjadi hening.

“umm…maaf ya Tio,”

“Eh!?”

“sebenarnya hari ini aku ada janji sama seseorang, lagipula kamu ngedadak banget sih,”

“A-Ah! Iya emang mendadak ya Mi, ahaha…,”

“Kalau gitu sorry ya Mi,”

“Gak apa-apa kok, Oh soal alamat SMA 3 nanti aku kasih tau kamu di Line deh,”

“O-Oke! Nanti aku kabarin juga yang lainnya,”

Naomi tersenyum sembari mengangguk.

“Nah, kalau gitu aku pamit ya Mi,”

“Loh, udah mau pulang?”

“Iya, soalnya semua pertanyaanku udah kejawab, yaudah deh…,”

“Em…kalau gitu hati-hati di jalan ya Tio,”

“Oke!” ucap Tio sambil memakai helm batoknya

“Aku pamit mi!”

“Bye-bye!” ucap Naomi

Ceklek!

“Hmm? Orang yang tadi mana?”

“udah pergi,” balas Naomi

“Bukannya kakak mau nge date ya sama dia?”

“Hiss! Asal ngomong aja kamu sin,”

“Oh bukan yah,”

“Selain itu keringin dulu rambut kamu! Nanti malah pusing lagi kalau gak di keringin,”

“Iya-iya, bawel banget sih,”

“Ah, inget ya kak, Sinka yang bawa kunci,”

“Iya! gak usah di kasih tau berulang-ulang sin,”

“Huft…,”

~oOo~

Tidit! Tidit!

“Oh, udah dateng yah,”

Tuk! Tuk!

“Dev, ada temen kamu tuh di luar nungguin kam…,”

DAK!

“EH!” Melody terkejut karena pintu itu di banting

“Deva pergi dulu kak!”

“HEY!” ucap Melody

Sementara itu…

*

*

“Gimana? Udah siap untuk perjalan tour mengelilingi kota?”

“Alay lu sempak!”

“HAHA! Yaudah cepetan naik,”

“Sabar za, gw benerin sepatu dulu,”

“Oh iya, gimana soal saran gw yang kemarin? Udah lu lakuin belum?”

“Hmm!? Apaan? Lagian kan itu cuma pertanyaan teka-teki silang,” balas Deva, kemudian naik ke motor

Brum…

            Mereka mulai berangkat.

Saat di perjalanan…

“Dari zaman nenek moyang gw sampai sekarang, gak ada pertanyaan teka-teki silang yang kayak gitu dev, suka ngaco lu!”

“yah, di bilangin gak percaya lu za,”

“udah tinggal ngomong aja, kita kan temenan dari dulu,”

“Huft…,”

“Iya udah gw lakuin za,” ucap Deva berkata jujur

“Jadi?” ucap Ihza

“Jadiiiiiiii….apa?”

“ya jadi hasilnya gimana kampret!”

“udah pasti gw jadi lega sekarang, cuma gw sedikit gak tega sama ceweknya,”

“Huh…elu sih gak bilang-bilang kalau punya cewek,”

“Ceritanya panjang, tapi kalau lu ada di posisi gw pasti ngerti kok,”

“Terlebih lagi lu tau kan cewek yang gw suka itu siapa?” lanjut Deva

“Sinka,” balas Ihza

“ya-ya-ya, gak usah di sebutin juga kali,”

“Jadi cewek yang jadian ama lu siape?”

“Ah…kayaknya belum saatnya lu tau za, ahahaha…,”

“Huft…,”

“yang terpenting sekarang gw jadi sedikit lega sih, tapi tetep aja gw masih ngerasa bersalah gitu,”

“Lega karena udah putus?”

“Bukan…,” ucap Deva

“Tapi lega karena gw udah jujur,” lanjutnya

~oOo~

Jam 10.00…

Puk!

“Bwaah!”

“Dih, Kenapa lagi?”

“ya ampun kak Naomi…pake ngagetin segala,”

“Siapa juga yang ngagetin, kan cuma nepuk doang,”

“Huh, terserah…,”

“yaudah sekarang kita mau kemana dulu zal?” ucap Naomi

“Sabar dikit napa sih kak, baru juga nyampe gak sabaran amat,”

“Dih, siapa juga yang gak sabaran,”

“yaudah-yaudah, kita ke…,”

“Kita jalan-jalan dulu ya zal,” potong Naomi

“He?”

“Mumpung kita lagi di taman,”

“Eng…ya deh,” ucap Rizal namun sedikit ragu

“Keliatan gak seneng gitu, gak suka ya zal?”

“Eh-eh, bukan lah kak…,”

“Rizal cuma mengantisipasi aja, siapa tau kak naomi malah phpin Rizal lagi kayak kemarin,” lanjut Rizal

“Gak akan kok,” balasnya sembari tersenyum

“EK! K-Kak Naomi…CANTIK!” batin Rizal

Kemudian…

*

*

“Oh…jadi intinya kamu masuk SMA 3 gara-gara pas ujian masuknya cuma keterima disana gitu?”

“Iya, bisa di bilang begitu. Padahal awalnya Rizal sempet pesimis, soalnya kan SMA 3 itu termasuk favorit,”

“Hmm, gitu ya,”

“eh-eh kak, tujuan kita kan mau ngobrolin soal alamat SMA 3, tapi kok jadi…,”

“Kamu gak mau ya ngobrol kayak gini sama kakak?” potong Naomi

“Ek! Mau kak, hehe…,”

“Lagipula hari minggu kakak gak ada kerjaan apa-apa di rumah, paling juga nyuci baju,”

“K-Kalau gitu…umm…kak Naomi…,” ucap Rizal

“Ya?”

Kini mereka berdua berada di bawah sebuah pohon.

“Kak Naomi mau gak jadi pacar Rizal…,”

Mereka saling bertatapan satu sama lain.

“Pffftt….Hahahaha,” Naomi tertawa

“Eh…umm…,” Rizal pun terdiam

“Kak Naomi sampai ngetawain gw, ya ampun sebenarnya cowok idaman dia itu kek gimana sih,” batinnya

“Zal-zal…kita baru 3 kali ketemu kamu udah langsung nembak kakak aja, ahahahaha…,”

“Y-yah, ehehe…,” balas Rizal namun tampak grogi, “Shit! Gw gak tau harus ngomong apa!”

“Oke,”

“Eh!?” Rizal sedikit kebingungan namun tampak terkejut

“Kakak mau…,” balas Naomi

“EK! Es…S-Se…,” Rizal tidak bisa berkata apa-apa

Naomi mengusap-usap rambut Rizal seperti anak kecil. “Jagain aku terus ya zal, hihi…,”

“I-Iya kak!”

“Kak? Bisa ganti gak zal? Kita kan udah jadian,”

“A-AH! Iya sayang, Ek…,” Rizal tiba-tiba memalingkan pandangannya. “Kok rasanya gak pantes ya gw panggil sayang,” batinnya

“Nah, kalau gitu ayo kita lanjutin kencannya,” Naomi memegang tangan Rizal

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s