Beda Emang. ~ Chapter 3

beda-emang-3

Guntur baru saja merebahkan badannya di atas kasur, setelah menghabiskan beberapa menit di kamar mandi untuk membersihkan badan. Sebuah nada pesan singkat terdengar dari ponselnya yang tepat berada di sampingnya.

Setelah ia mengecek notifikasi bar, ternyata itu dari Ical.

From: Pangeran Ical

Gun, gue bisa minta nomor telpon si cewek penabrak gak? Kata Arez lu temennya.

Setelah membaca isi pesan, Guntur pun langsung membalasnya.

From: Dewa Zeus

Namanya Sinka, Cal, jangan panggil dia cewek penabrak, gak enak gue bacanya. Bentar, gue cek dulu nomornya yang aktif yang mana. Habisnya dia sering ganti nomor. Kalo gak ada di gue, terpaksa gue minta sama yang lain. Jadi mungkin agak lama.

From: Pangeran Ical

Hehe, sorry, gue kan belum kenalan sama dia. Iye, gapapa, yang penting lu dapat dan kirim nomornya ke gue. Ada yang mau gue omongin masalahnya.

Melihat pesan terakhir dari Ical begitu, Guntur pun langsung bergegas mengecek setiap nomor Sinka yang bisa dihubungi. Namun, tak ada satupun nomor Sinka yang ada padanya aktif.

Karena itu, terpaksa Guntur menelpon setiap temannya yang kenal dengan Sinka. Namun, kenyataan pahit kembali ia dapat. Tak ada satupun di antara temannya yang memiliki nomor Sinka yang bisa dihubungi.

“Duh, nyusahin banget sih si Dudut, pake acara gonti-ganti nomor.” Gerutu Guntur sambil mengetuk-ngetukkan ponsel di keningnya, “Oh iya, Shania kan kenal sama temennya Sinka yang tadi, pasti temennya itu punya.”

Tanpa pikir panjang, Guntur pun langsung bergegas menuju kamar Shania untuk meminta nomor temennya Sinka, Viny. Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Shania, pintu pun terbuka.

“Ada apa Kak?”

“Bisa minta nomor si…” Guntur berusaha mengingat nama Viny, namun ia tetap lupa.

“Siapa?” Tanya Shania bingung melihat Guntur yang sedang berusaha mengingat nama seseorang.

“Emm.., temennya Sinka yang di rumah sakit tadi siapa namanya?”

“Viny,” jawab Shania.

“Nah .. itu. Bisa minta nomor si Viny itu gak?”

Shania mengernyitkan dahi melihat kakaknya tiba-tiba meminta nomor Viny. “Buat apaan Kakak minta nomor Kak Viny?” Tanya Shania curiga.

“Ical tadi SMS, katanya mau minta nomor Sinka.”

“Terus, kenapa Kakak minta nomornya Viny? bukannya Kakak temennya Kak Sinka?”

“Nomor dia yang sama gue gak ada yang aktif Shan, makanya gue minta nomor Viny buat minta nomornya Sinka.” Guntur memberi alasan, “Pasti dia punya nomor Sinka yang aktif.”

“Ohh.., gitu yah. Ya udah, bentar, aku mau ngambil ponsel dulu,” ucap Shania berpaling dan berjalan menuju ranjangnya. Setelah kembali ke hadapan Guntur, Shania menyerahkan ponselnya yang memperlihatkan kontak Viny.

“Makasih nomornya,” ucap Guntur setelah menulis nomor Viny di kontak ponselnya, lalu kembali ke kamarnya.

~oOo~

Viny sedang menyetir mobilnya yang terlihat bergerak sangat lamban, karena keadaan jalan yang cukup padat. Wajahnya terlihat kusut, kelelahan sehabis menemani Sinka beberapa jam yang lalu.

Few hours ago.

“Kita mau kemana sih Sin?” Viny terlihat bingung kemana Sinka sedang membawanya.

“Ke kantor kakak aku.” Sinka menuntun tangan Viny agar terus berjalan mengikutinya.

“Ke kantor? Hari ini kan minggu Sin.”

“Libur kaga libur dia tetep masuk Vin, dia kan Direkturnya.” Jelas Sinka membuat Viny ber-oh ria sambil terus berjalan mengikuti kemana Sinka menuntunnya.

Viny agak terperangah ketika kakinya tiba di depan sebuah bangunan yang sangat besar, berwarna biru muda, dengan jendela kaca berwarna gelap di setiap lantainya.

Setelah memasuki gedung itu, pandangan Viny kembali dibuat takjub oleh pemandangan yang memikat matanya. Lukisan-lukisan yang terpajang di dinding terlihat sangat indah.

Maklum saja Viny begitu terkesan, karena dia anak Desain. Jadi kalau masalah seni, dia sangat menyukainya.

“Kamu ada masalah apa, Sin?” Suara seorang wanita terdengar, membuat Viny tersadar dari keterperangahannya memandangi setiap lukisan di dinding.

“Aku habis nabrak orang, Kak Naomi,” jawab Sinka dengan raut wajah sedih.

“Hah!? Terus, keadaan orang yang kamu tabrak, gimana?” Naomi terdengar cukup kaget dengan apa yang terjadi pada adiknya.

“Udah aku bawa kok ke rumah sakit, biaya perawatan juga udah semua aku bayarin,” jelas Sinka, membuat Naomi tak lagi khawatir.

“Lalu?” Naomi mengernyitkan dahinya, “Kamu ngapain kesini? Kan semuanya udah.” Naomi melipat kedua tangannya di dada.

Sinka terlihat memasang wajah memelas, “Minjam uang dong buat perbaikin mobil.”

Naomi memutar kedua bola matanya malas, “Ck, bilang dong dari tadi.” Naomi menghela nafasnya.

“Udah, kamu gak usah minjam, kan hasil dari perusahaan semua buat kita berdua. Jadi minta aja berapa yang kamu perlu,” ucap Naomi sambil mengajak Sinka dan Viny menuju ruangannya.

Setelah cukup lama berada di kantor Naomi dan menerima uang, Sinka pun kembali membawa Viny menuju suatu tempat. Bengkel reparasi mobil. Setelah membayar biaya perbaikan, Viny pun mengantarkan Sinka untuk pulang ke rumahnya.

Drrtt… Drrttt…

Getaran ponsel di atas dashboard mobil sedikit menyadarkan Viny dari lamunannya yang panjang, memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu.

Dia menajamkan pandangannya ke arah layar ponsel itu dan ia melihat sebuah nomor tak dikenal sedang menghubunginya.

Viny terdengar menghela nafasnya, dia terlalu malas untuk mengangkat panggilan itu. Ia membiarkan saja ponselnya terus bergetar, sambil kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalan.

~oOo~

Di sebuah airport, terlihat seorang gadis cantik berbaju ungu nampak sedang menggerutu. Ia terlihat beberapa kali menghentak-hentakkan kakinya menandakan ia sedang kesal.

“Ihh…, ponselnya kok gak diangkat sih?!” Gadis itu memanyunkan bibirnya sambil melihat ke arah layar ponselnya yang panggilannya tidak juga diangkat oleh seseorang di seberang sana.

Dengan mulut yang terus menggerutu, si gadis menyeret satu tas besar yang dipegangnya dan juga memanggul satu ransel di punggungnya. Dengan wajah merengut ia terus berjalan menuju luar bandara.

“Awas aja kalo ketemu nanti, bakal gue jorokin dari atas Monas entar,” ucapnya sambil berjalan menuju salah satu taksi di luar bandara yang sedang menunggu penumpang.

~oOo~

Di jalanan yang cukup ramai, terlihat seorang pemuda sedang mengendarai sepeda motor ber-CC besar dengan cepat. Ia nampak tak perduli dengan keadaan sekitarnya. Jalanan yang agak macet tak juga membuatnya menurunkan gas motor sport yang dikendarainya.

Beberapa kali terdengar bunyi klakson dari pengendara lain yang terkejut karena pemuda itu tiba-tiba saja memotong jalan mereka.

“Haduh, kok gue bego amat sih, sampai lupa harus jemput tuh anak.” Gerutu pemuda itu sambil terus melaju di sepanjang jalanan.

“Tapi, salah dia juga sih, masa minta jemput pas udah berangkat dari sana, gak tau apa orang lagi sibuk. Arrrggh!!” Pamuda itu terdengar kesal dan berteriak di balik helm yang ia kenakan.

***

Pemuda itu baru saja sampai di tempat yang ia tuju. Sebuah bandara yang besar, tempat di mana seseorang yang harus ia jemput berada.

Setelah turun dari motor, ia langsung berlari ke dalam, mencari-cari seseorang yang harus ia jemput itu. Tapi, setelah sekian lama mencari, ia tidak juga menemukannya.

“Duuhh, parah, kalo gini jadi susah ceritanya. Kemana sih tuh anak?” Pemuda itu terus memperhatikan setiap wajah orang yang ia lewati dan juga berpapasan dengannya.

Tapi, tiba-tiba ia berhenti berjalan, terdiam, karena ia teringat akan sesuatu. Benda yang ia bisa gunakan untuk menghubungi seseorang yang harus ia jemput itu. Namun, kesialan terjadi padanya, lagi. Karena ponsel itu tidak ada di dalam kantong celananya.

“Fu**!!” Maki si pemuda, karena baru sadar bahwa ponselnya sedang tertinggal di suatu tempat. “Dasar bego,” ucapnya kesal sambil memukul-mukul jidatnya dengan genggaman tangan.

~oOo~

Sagha terlihat sedang merebahkan badannya di sofa, tepat berada di sebelah ranjang Ical. Ia terlihat sedang tersenyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponselnya yang menyala.

“Enak ye.., yang punya pacar, Chatting-an mulu,” celetuk Ical yang tadi beberapa kali melirik kearah temannya itu, karena mendengar suara tawa.

“Kata siapa enak, Cal?” Sagha menoleh kearah Ical yang juga sedang berbaring dan memainkan ponselnya, “Bukannya lu juga punya pacar?”

“Kata siapa gue punya? Buktinya, gak ada yang jenguk gue,” balas Ical.

“Lahh, si Ipuy lu kemanain?” Tanya Sagha yang terlihat sedang mengangkat kedua kakinya, lalu meletakkannya di dinding.

“Udah gue masukin karung, terus gue lempar ke laut.”

“Buset, kasian amat anak orang lu gituin.” Sagha kembali mengganti gaya berbaringnya yang tidak normal, karena sekarang ia terlihat dalam posisi menungging.

“Ya mau gimana lagi, dia udah gak sayang gue. Dia juga udah gak perduli sama gue. Ya gue tinggal,” ucap Ical sambil kebingungan melihat kelakuan aneh temannya, “betewe, lu lagi ngapain, Gha? Pake acara gulung-gulung kek cacing kepanasan gitu. Lu lagi Chatting-an, apa lagi lomba tahan kentut?”

“Anjay…, gue dikatain. Jahat lu Kak,” ucap Sagha yang sedang mengetik pesan dengan jempol kakinya. Anti mainstream emang.

“Wehh, sejak kapan gue jadi Kakak lu?” Ical menatap Sagha tajam.

“Entah, gue lupa.” Sagha nampak sedang mengingat-ingat kapan mereka berdua jadi kakak beradik, “Ahh, sejak Om Om Mesum nulis kita di cerita Kontrakan Malaikat Maut, kalo gak salah.”

“Hah? siapa itu Om Om Mesum?” Ical mengernyitkan dahinya.

“Nah itu, gue juga gak tahu,” jawab Sagha sambil memasang tampang cengengesan.

“Ah elaah, gue kira tau.” Ical nampak kecewa, “Oh iya, Arez mana? dari tadi kok gak kelihatan.”

“Lagi jemput pacar, katanya,” jawab Sagha yang sekarang terlihat mulai duduk normal.

“Jemput pacar? Ini ponselnya kok masih di sini? Pake acara getar-getar lagi dari tadi.” Ical yang sedang menuangkan air di gelas terlihat memajukan bibirnya menunjuk kearah ponsel di depannya.

“Masa?” Sagha langsung melompat dari sofa, penasaran, dan berjalan menuju ponsel Arez yang berada di atas meja.

“Ahh, bener, ini ponsel Arez,” ucap Sagha dan tanpa pikir panjang langsung membuka kunci slide di layar, “Buseettt!!, missedcall-nya sampe dua ratus.”

Puufftt!!!

Ical tersedak.

 

– http://yxgq.wordpress.com/

 Author Gagal –

Iklan

6 tanggapan untuk “Beda Emang. ~ Chapter 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s