“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 15

Keesokkan harinya, kini Shania berjalan di lorong kampusnya. Ia hari ini ada kelas, dan kampusnya itu sama dengan kampus Nabilah. Jadinya ya pasti bareng lah ya berangkatnya..

Shania berjalan di lorong kampus, tadi ia baru saja selesai kelasnya. Dan sekarang ia ingin menuju ke apartement Robby, kemarin Robby sama sekali tidak membalas pesan dan tidak mengangkat telponnya. Ia jadi khawatir dengan Robby, jadinya sekarang ia akan pergi ke apartement Robby.

Setelah sampai di depan apartement Robby, Shania langsung masuk dan mencari tempat Robby berada. Kemudian, tepat ketika berada di depan pintu apartement Robby. Ia pun memasukkan kodenya, ia sudah mengetahui kode apartement Robby. Ia ingin tau semuanya tentang Robby sekarang, makanya ia mengetahui kode apartementnya..

Setelah memasukkan kodenya, ia pun masuk ke dalam. Shania berjalan menuju ke ruang tengah setelah melepas kan sepatunya, dan di ruang tengah ia melihat seseorang yang asing baginya.

“Robby?”

Orang tersebut pun menoleh ketika Shania memanggil Robby. Shania yang melihat orang tersebut pun mengernyit heran. Seketika Shania merasa amarahnya mulai keluar, kenapa ia bisa di sini? Apa Robby yang membawanya ke sini? Pikir Shania.

“Kamu?!”

Mereka saling menatap penuh benci? Entahlah, yang jelas dari mata mereka tersirat ketidaksukaan.

“Ngapain kamu disini?” tanya Shania dingin.

“Aku disini mau ketemu Robby.”

“Kenapa kamu bisa masuk?”

“Aku tau kodenya.”

Dahi Shania mengernyit heran, tau? Berarti dia tau selain dirinya. Dan itu berarti ia sering ke sini? Pikir Shania.

“Kam-,”

“Shani. Panggil aja Shani,” ucap Shani yang memotong ucapan Shania.

“Aku mau ketemu sama Robby. Aku ada perlu dengannya,” tambah Shani.

“Ada apa?” Shania melipat kedua tangannya di dada.

“Itu urusanku dengan Robby.”

“Tapi aku berhak tau,” ucap Shania dingin.

“Karena kamu pacarnya?” tebak Shani sambil tersenyum tipis.

“Jadi aku berhak tau, apapun yang berkaitan dengan Robby,” ucap Shania menatap Shani dingin.

“Aku tidak ingin memberi tahumu,” ucap Shani.

“Kalau begitu, lebih baik kamu keluar dari sini.”

“Apa harus begitu? Ini urusanku dengan Robby, bukan denganmu,” ucap Shani dingin.

“Iya harus! Aku berhak tau!” ucap Shania tak mau kalah.

Shani menatap Shania dengan tajam, begitu pula dengan Shania. Kemudian mereka menoleh pada pintu, karena ada seseorang yang masuk.

“Loh? Kalian ngapain disini?”

“Aku mau bicara sama kamu Rob,” ucap Shani.

“Aku mau ketemu kamu,” ucap Shania tak mau kalah.

Kemudian mereka berdua saling menatap penuh benci. Robby yang melihat itu pun mengernyit heran.

“Ini ada apa sih? Kalian kenapa?” tanya Robby.

“Aku mau ketemu kamu,” ucap mereka berdua bersamaan.

Robby pun meghela nafasnya menatap keduanya, ia tidak habis pikir kenapa mereka berdua berada di sini.

“Hh, lebih baik kalian keluar dari sini, aku lagi pengen sendiri,” ucap Robby.

“Tapi Rob-,”

“Aku pengen sendiri.” Robby berjalan menuju kamarnya, tanpa menghiraukan mereka berdua.

“Ah iya, Shania aku minta maaf tidak menghubungimu. Dan Shani, aku minta maaf.” Robby tersenyum tipis, dan berjalan kembali ke kamarnya.

Sedangkan mereka berdua pun hanya bisa menghela nafas, setelah itu mereka keluar. Dan meninggalkan apartement Robby..

~

Malam harinya, kini Robby tengah bersiap-siap karena Andina memintanya untuk mengajak Gre untuk jalan supaya lebih mengenal satu sama lain katanya. Robby berjalan dengan malas menuju parkiran apartement, kemudian ia pun menuju mobilnya. Dan masuk ke dalam mobil.

Robby: Gre, ini gue otw ya.

Setelah mengirim chat pada Gre, ia pun langsung menyalakan mobilnya. Dan melajukan mobilnya menuju rumah Gre.

ShaniaGracia: Hati-hati Rob.

Gre menghela nafasnya kasar. Jika bukan karena paksaan oleh ibunya, ia tidak mungkin mau menerima semua ini. Apalagi perjodohan ini. Ia berjalan menuju ruang tamu dengan lemah. Kalau begini ia akan semakin menyakiti Shani, sepupunya sendiri.

Gre duduk di ruang tamu, ia memandang kosong ke depan. Bagaimana ini? Apa ia ditakdirkan untuk menyakiti perasaan sepupunya sendiri?

Cukup lama ia menunggu Robby di ruang tamu, kemudian terdengan bunyi klakson mobil yang ia tau itu pasti Robby.

“Mah, berangkat dulu ya!!!” teriak Gre.

“Hati-hati. Inget pesan Mamah tadi Gre!!!” balas Mely.

Gre pun keluar dari rumahnya dan berjalan menuju mobil Robby di luar. Kemudian ia masuk ke dalam mobil Robby, dan mobil tersebut pun perlahan menjauh dari rumahnya..

Sejak dari tadi ada yang memperhatikan mobil tersebut, Shani menghela nafasnya lelah. Perlahan air matanya menetes, menatap mobil Robby yang telah cukup jauh pergi. Ia tidak mungkin bisa marah pada Gre, karena ia tau bahwa Gre dijodohkan dengan Robby oleh ibunya. Tapi kenapa harus Gre? Kenapa bukan dirinya saja?

Shani menatap kosong keluar balkon kamarnya, kemudian ia keluar menuju balkon kamarnya. Ia menengadah ke atas menatap langit malam.

“Apakah aku memang ditakdirkan untuk tidak bahagia olehmu Tuhan?” batin Shani sambil mengusap air matanya.

~

Di perjalanan, Robby dan Gre suasananya hening sekali. Tidak ada yang bicara sama sekali. Mereka masih merasa canggung satu sama lain, padahal mereka berdua sudah mengenal satu sama lain. Sampai akhirnya Robby yang memulai pembicaraan, akan kemana mereka berdua. Dan di sinilah mereka sekarang, di sebuah festival yang ada di alun-alun kota.

Mereka berdua turun dari mobil, dan berjalan masuk ke festival yang sedang diadakan. Mereka kembali diam. Robby yang asik melihat-lihat festival, karena ia baru pertama kali ke festival seperti ini. Sedangkan Gre, ia asik dengan pikirannya sendiri. Gre menatap kosong ke depan, pikirannya melayang pada Shani. Sampai akhirnya ia tidak sengaja menabrak seseorang, sehingga membuat ia terjatuh. Robby yang melihat itu langsung membantu Gre.

“Woy, kalau jalan liat-liat dong!” bentak Robby pada orang tersebut.

“Heh! Enak aja. Dianya aja yang gak liat-liat tuh, main tabrak-tabrak aja,” balas orang tersebut.

Robby menatap orang tersebut tajam, sedangkan orang tersebut menatap Robby acuh.

“Hh, udah Rob. Gakpapa kok, gue juga yang salah,” ucap Gre.

“Tapi kan Gre-,”

“Udah Rob, gue gakpapa kok,” ucap Gre tersenyum.

Robby menghela nafasnya, “Yaudah, ayo jalan lagi.”

Gre mengangguk, kemudian mereka berjalan kembali melihat-lihat isi dari festival tersebut. Tetapi kini berbeda, karena Robby menggandeng tangan Gre. Gre yang diperlakukan seperti itu pun terkejut, karena selama pertemanannya bersama Robby. Baru kali ini ia dan Robby berpegangan tangan.

“Ngg, Rob?”

“Ya?” Robby menoleh pada Gre.

“I-itu, tangan lo.” Gre menunjuk pada tangannya yang digandeng Robby.

“A-ah iya, sorry Gre.” Robby buru-buru melepaskan gandengannya.

Gre mengangguk, setelah itu mereka kembali berjalan. Tetapi entah kenapa setelah tadi melepaskan tangannya dari Robby, ia merasa ada yang aneh. Dan ketika tadi tangannya digandeng oleh Robby, perasaannya tiba-tiba menghangat. Ada apa dengan dirinya? Apa ia sudah terjebak dengan pesonanya?

Tiba-tiba tanpa sadar, Gre mengaitkan tangannya pada tangan Robby. Robby menatap bingung pada Gre, sedangkan Gre tersenyum menatapnya.

“Ini kita kemana? Cuma liat-liat doang?” tanya Robby.

“Jalan aja dulu,” ucap Gre.

“Ngg, lo mau nyoba makanan di sini gak?”

Gre mengangguk, “Boleh, emangnya ada apa aja?”

“Kayaknya di depan itu stand makanan semua deh.” Robby menunjuk kearah depannya.

Gre pun melihat stand yang dikatakan oleh Robby, dan benar saja di depan mereka sekarang semua stand berisi makanan-makanan baik khas dari kotanya maupun yang lainnya juga.

“Yaudah yuk, kita cobain makanan disini.” Gre menarik Robby tak sabar menuju ke stand-stand tersebut.

“E-eh sabar Gre.”

Gre melihat-lihat stand makanan yang ada, ia bingung memilih yang pertama kali dimakannya. Dan ia pun menuju kearah stand di sebelah kanannya sambil masih menarik tangan Robby.

“Lo apa Rob?” tanya Gre.

“Ngg, lo aja dulu deh. Gue nanti aja,” ucap Robby.

“Beneran?” Gre menatap Robby.

Robby mengangguk membalas pertanyaan Gre.

“Serius nih?”

Robby menghela nafasnya, “Lo aja dulu Gre, gue nanti aja di stand lainnya.”

“Oke deh.”

Gre berjalan ke samping stand tersebut.

“Mbak, dumpling cheesenya satu ya,” ucap Gre.

Small atau large mbak?” tanya penjual tersebut.

“Ngg, large aja deh mbak.”

“Yang large dua puluh ribu ya. Atas nama siapa?”

“Gre.” Sambil memberikan selembar uang lima puluh ribu pada penjual tersebut.

“Tunggu sebentar ya.” Penjual yang ada di stand tersebut pun mengambilkan kembalian milik Gre dan memberikannya, kemudian ia langsung membuatkan pesanan milik Gre.

Dan Gre kembali berjalan menghampiri Robby.

“Udah?” tanya Robby yang melihat Gre menghampirinya.

“Nungguin dulu, sabar dong,” ucap Gre.

“Kirain udah tadi.”

“Belum kok. Abis ini lo mau kemana?” tanya Gre.

“Gue bingung sih sebenarnya kemana, banyak banget soalnya,” ucap Robby.

“Yaudah, ka-,”

“Atas nama Gre.”

“Bentar ya,” ucap Gre.

Robby mengangguk, dan Gre pun menuju ke samping stand tersebut. Dan ia pun mengambil pesanannya tersebut, setelah itu ia kembali lagi menuju pada Robby.

“Yaudah yuk, kita jalan lagi,” ucap Gre.

Robby mengangguk, dan mereka pun kembali berjalan melihat-lihat stand makanan yang ada. Robby asik melihat-lihat stand, sedangkan Gre sedang asik makan sambil mengaitkan lengan kirinya pada lengan kanan Robby.

“Rob?”

Robby menoleh pada Gre, “Ya?”

“Nih lo cobain deh,” Gre memberikan makanannya pada Robby.

“Engga usah deh Gre, lo aja mak-,”

Ucapan Robby terpotong karena Gre sudah memasukkan makanannya ke dalam mulut Robby. Dan Robby pun terpaksa memakannya. Kemudian begitu lagi, Gre menyuapkan makanannya pada Robby sampai habis.

“Gre lo bawa minum gak?” tanya Robby.

“Gue enggak bawa minum.”

“Yaudah, beli minum dulu deh. Haus gue soalnya,” ucap Robby.

Gre mengangguk, dan mereka pun berjalan menuju stand minuman yang ada di sana. Robby membeli satu minuman untuk dirinya dan untuk Gre. Setelah itu kembali berjalan melihat-lihat stand yang ada di sana.

“Ngg, Rob?”

“Kenapa Gre?”

“Kita ke sana yuk.” Gre menunjuk salah satu stand ice cream.

“Lo mau?” tanya Robby.

Gre mengangguk, “Boleh ya?”

Robby terkekeh pelan, “Iya boleh kok. Yaudah ke sana yuk.”

Gre tersenyum mengangguk. Mereka berjalan menuju stand ice cream tersebut, dan memesan satu ice cream vanilla untuk Gre. Dan setelah selesai, mereka punkembali berjalan dengan Gre yang asik memakan ice cream.

“Gre?”

“Hm?”

“Makan yuk? Gue laper nih.”

“Ayo, makan dimana?” tanya Gre.

“Di luar aja deh, jangan di sini,” ucap Robby.

“Yaudah, terserah lo aja deh.”

Mereka pun keluar dari festival tersebut menuju parkiran. Setibanya di parkiran, mereka pun menuju mobil Robby. Dan kemudian mereka meninggalkan festival tersebut..

“Kita makan di pinggir jalan gakpapa kan? Kayak tempat makan pinggir jalan gitu,” ucap Robby.

“Gakpapa kok. Lagian gue gak masalah juga,” ucap Gre.

Robby mengangguk, kemudian ia pun melajukan mobilnya menuju tempat makan favoritnya. Dan tak berapa lama mereka kini sudah berada di tempat makannya, mereka pun masuk ke dalam restoran di pinggir jalan tersebut.

Kemudian Robby pun memesankan makanan untuk dirinya dan untuk Gre. Setelah cukup lama menunggu, karena pesanan mereka banyak. Akhirnya pesanan mereka pun datang, dan mereka pun memakan makan tersebut..

Setelah selesai makan, mereka pun membayar makan tersebut. Dan keluar dari restoran tersebut, menuju mobil Robby. Mereka berdua pun meninggalkan restoran tersebut menuju rumah Gre..

Sekitar 20 menit, mereka pun sampai di depan rumah Gre..

“Ngg, Rob?” Gre menoleh pada Robby.

“Ya?” Robby menoleh juga pada Gre.

Gre tersenyum pada Robby, “Makasih ya.”

Robby mengangguk, “Sama-sama Gre. Udah masuk gih sana.”

Gre mengangguk, “Lo hati-hati ya pulangnya, jangan ngebut. Nanti kabarin gue kalau udah di rumah.”

Gre pun keluar dari mobil Robby, dan Robby perlahan melajukan mobilnya. Setelah mobil Robby tidak terlihat lagi. Gre pun masuk ke dalam rumahnya. Entah kenapa, ia merasa senang sekali. Baru pertama kali ini, ia merasakan senang seperti ini. Tapi ketika ia melewati kamar Shani, ia kembali merasakan perasaan bersalah.

Gre menghela nafasnya, kemudian ia berjalan menuju kamarnya. Ia masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya dan mengambil handphone miliknya untuk mengirimkan pesan pada Robby.

ShaniaGracia: Kalau udah sampe rumah, bawa bebersih dulu. Baru tidur. Jangan begadang loh ya. Gue tidur duluan ya, ngantuk soalnya. Makasih buat mala mini Rob. Night:)

Setelah mengirimkan chat pada Robby, ia membersihkan badannya dan berganti baju. Setelah selesai ia pun menuju kasurnya kembali dan mengambil handphonenya untuk melihat apakah ada balasan dari Robby atau tidak. Tidak ada balasan dari Robby, mungkin masih di jalan pikirnya. Tak mau ambil pusing, Gre pun berbaring di atas kasur dan memejamkan matanya untuk tidur…

Sedangkan Robby, kini ia baru sampai di apartementnya. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam setelah memasukkan kodenya. Ia berjalan masuk ke dalam, setelah melepaskan sepatunya. Ia berjalan menuju kamarnya, setelah di kamar ia berganti baju dan membersihkan dirinya. Kemudian ketika ingin menuju kasurnya..

“S-Shania?”

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

3 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s