Sorry, I Love You, Part3

wp-1474367356021.jpg

Sekarang disinilah Sinka, duduk disebuah meja dengan dua kursi. Ditemani salah seorang cowok yang berpakaian sama dengan pegawai lainnya di toko kue ini.

“Cobain dong, kue bikinan toko kami, itu gratis buat kamu,” Sinka mengangguk lalu meraih garpu yang ada disamping piring kue miliknya.

Saat garpu menyentuh kue itu terlihat sangat lembut dan mudah dipotong. Sinka mengambil bagian kecilnya dan mulai mencicipi kue itu. Manis dari strawberry sangat terasa sekali, spons kue nya yang begitu lembut sangat mudah digigit. Saking enaknya Sinka sampai memejamkan mata merasakan manisnya kue buatan toko milik teman Ibunya.

“Gimana enak kan?”

“Banget! Aku mau yang ini!”

“Ya udah nanti kita siapin, kalau gitu aku tinggal dulu ya.”

“Tunggu” Baru saja Reksa beranjak dari kursinya, Sinka sudah menahan lengan pemuda itu. “kita belum kenalan.”

Reksa tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya, “Panggil aja Reksa.”

“A… aku Sinka, oiya makasih udah nganterin dompet aku.”

“Santai aja, kalau gitu aku balik lagi kebelakang, entar ambil kuenya aja dikasir.”

Sinka pun mengangguk lalu tersenyum melihat Reksa yang kembali masuk kedapur toko kue itu. Tak lama Ibunya menghampiri dan mengajak Sinka pulang. Setelah membayar kue yang dibeli Sinka pun pulang menaiki taxi bersama Ibunya.

Esok harinya saat jam istirahat seperti biasa Sinka, Ikha, Yuvia dan Viny sudah duduk dipojokan kantin. Tapi kali ini ada yang beda, mereka berempat duduk bersama satu orang cowok.

“Pindah sana jangan di meja yang ini,” usir Yupi.

“Ya elah Puy, penuh semua tuh,” bela Ciko.

“Pay puy pay puy mulu, hus hus sana,” kata Yupi.

“Sok jaim banget dah,” kata Ikha.

“Maksudnya Kha?” tanya Ciko.

“Ga jadi.”

“Eh… Ciko, aku mau tanya, Reksa tuh kerja di toko kue?” kata Sinka tiba-tiba.

Semua pandangan dimeja itu semua mengarah ke Sinka. Ciko yang berada persis didepan gadis itu langsung menutup mulut Sinka.

“Toko kue?” kaget Viny.

“Kok bisa?” tanya Ikha.

“Toko yang dimana?” tambah Yupi

“Kamu tau darimana?” tanya Ciko.

Perlahan Ciko pun melepas tangannya dari mulut Sinka. Semua teman-temannya melirik ke arah Sinka kecuali Ciko yang sibuk melirik ke sekitar meja mereka. Bersyukur beberapa meja yang dekat dengan mereka tak ada yang mendengar ucapan Sinka.

“Lain kali jangan ngomong soal itu disini Sin,” kata Ciko.

“Loh jadi bener?” tanya Yupi.

“Kalau mau tau entar aku kasih tau, tapi ga boleh disekolah dikasih taunya, ya kalian semua tau lah kenapa?” tanya Ciko.

“Emang kenapa?” Hanya Sinka yang tak mengerti kemana arah omongan Ciko.

“Kan sekolah ini ngelarang murid-muridnya buat kerja, Sin,” kata Ikha.

“Hukumannya bisa sampai dikeluarin dari sekolah loh,” tambah Viny.

“Makanya kita semua kaget sama omongan kamu barusan,” kata Yupi.

Sinka mengangangguk, hanya kata maaf yang terlontar dari mulutnya. Tidak lama bel tanda masuk pun berbunyi, mereka semua kembali ke kelas masing-masing.

Saat pulang sekolah, seperti biasa Sinka dan Viny menunggu bis di halte dekat sekolah mereka. Ada yang berbeda dari hari biasanya, sudah sejam lebih tak ada bis yang melewati halte dekat sekolah mereka.

“Pak, kok bis nya lama banget ya?” tanya Viny kepada seorang pria yang mengenakan baju dishub.

“Ah mungkin macet dek, hari ini ada demo kan,” jawab pria itu.

Viny kembali menghampiri Sinka dan duduk di samping gadis yang sedang sibuk dengan handphonenya itu.

“Telat Sin, ada demo katanya.” Sinka hanya mengangguk. “oiya, aku boleh tanya gak?”

Gadis berpipi gembul itu menoleh ke samping, “nanya apa?”

Viny menoleh ke kanan kirinya, tak ada murid-murid dari sekolahnya. Hanya ia dan Sinka saja anak SMA yang menunggu bis di halte itu.

“Kamu yakin Reksa kerja di toko kue?”

“Iya, aku yakin kok, emang kenapa gitu?”

“Heran aja ya, padahal dia tau kalau peraturan di sekolah kita ga ngebolehin muridnya buat kerja, terus buat apa coba Reksa kerja, kan dia anaknya tajir.”

“Aku juga ga paham Vin kalau itu.”

Tiba-tiba sebuah motor melewati halte tempat Sinka dan Viny. “Tuh Reksa!” kata Viny, “Motornya bagus pula, bener-bener ga paham.”

“Ya udah lah Vin, mungkin dia punya alasan tertentu.”

“Tapi-tapi serius aku penasaran.”

“Jangan terlalu kepo sama urusan orang lain lah Vin, tadi kamu denger kan apa kata Ciko? Jangan bahas itu lagi, ah atau ga kamu tanyain sama tuh cowok kenapa Reksa kerja di toko kue itu.”

“Ah pelit dia.”

“Ya terserah, kalau aku nurut sama Ciko aja deh, ga akan bahas itu lagi, lagian Reksa punya privasi sendiri.”

“Tapi serius aku penasaran loh Sin.”

“Simpen rasa penasaran kamu, ga baik juga ngepoin urusan orang lain.”

“Ah gimana kalau kamu anter aku ke toko kue itu, gimana gimana?”

“Gak ah.”

“Ayo lah please, ku butuh info soal calon pangeran aku itu.”

“Lah… kamu beneran suka sama dia Vin?”

“Iya lah, siapa yang ga suka sama dia, udah makanya kamu kasih tau tokonya dimana.”

“Iya-iya, tapi kalau Reksa nanya jangan bilang aku yang ngasih tau ok.”

“Sip.” Viny mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum, “eh itu bisnya!”

~oOo~

Setelah menutup pintu pagarnya, terlihat dua buah motor terparkir di depan garasi rumah Sinka. Plat nomornya pun bukan menunjukan dari kota tempat Sinka sekarang tinggal. Meskipun begitu Sinka pernah melihat salah satu dari kedua motor itu.

Pintu rumah pun terbuka, nampaknya memang ada tamu disana. Saat Sinka masuk kedalam rumah, dua orang pria yang seumuran dengannya sedang mengobrol dengan Ibu Sinka.

“Nah anaknya udah pulang, Tante tinggal dulu ya, Za.” Ibunya Sinka pun beranjak dari kursinya lalu meninggalkan Sinka bersama dua orang itu.

Sinka hanya melihat kepada dua cowok itu, hanya melihat matanya, Sinka pun langsung membuang muka dan melanjutkan langkahnya.

“Sinka tunggu,” kata salah seorang dari mereka. Sinka tetap melanjutkan langkahnya dan pergi ke kamarnya.

Baru saja selesai mengganti pakaian, pintu kamar Sinka sudah di ketuk oleh Ibunya. “Bentar Bu, iya aku ganti baju dulu.”

Ibunya menyuruh Sinka untuk menemui dua orang itu. Dengan rasa malah Sinka pun kembali ke ruang tamu dan duduk di salah satu sofa yang bersebrangan dengan tamu yang hadir di rumahnya.

“Langsung aja, ada perlu apa?” ketus Sinka.

“Eh Nik, lu bisa tunggu diluar ga? Gue pengen bicara sama dia doang,” kata Reza.

“Ok deh.” Temannya Reza pun langsung pergi keluar dari rumah Sinka.

“Mau ngapain kesini?” tanya Sinka.

“Main aja,” kata Reza sambil tersenyum.

“Dapet alamat aku dari siapa?”

“Cici kamu…, baik ya dia ngasih tau alamat kamu.”

“Dasar, udah buas belum main kesininya? Aku lagi sibuk, ga bisa lama-lama, kalau udah beres kamu tau kan pintunya sebelah mana?”

“Haha, ngusir nih ceritanya?”

“Dari awal juga aku ga berharap kamu dateng Za.”

“Iya-iya, ya udah gue balik dulu kalau gitu, yang penting udah tau alamat kamu dan tau kamu baik-baik aja.”

“Ishhh…. ga penting banget, udah sana pergi,” kata Sinka.

“Permisi.”

Tiba-tiba seorang cowok berdiri di depan pintu rumah Sinka. Cowok itu membawa sebuah kotak berwarna putih.

“Reksa?” Sinka pun melihat kotak yang dibawa Reksa, “Ah masuk-masuk.”

Reksa pun menuruti perintah Sinka dan masuk kedalam rumah.

“Dia siapa?” tanya Reza.

“Udah kamu sana pergi, ga perlu tau urusan orang lain,” kata Sinka.

“Hadehhh…. jauh-jauh gue datang kesini tapi malah diusir,” kata Reza.

“Kayanya aku ganggu kalian ya? Ah iya aku cuma nganterin ini, pesenan Ibu kamu,” kata Reksa tiba-tiba.

“Ah engga kok, bukan kamu yang ganggu tapi dia!” tunjuk Sinka.

“Iya-iya, gue pamit kalau gitu, tapi gue bakal balik lagi kesini,” kata Reza.

“Ga usah repot-repot!”

Setelah Reza pergi Sinka pun mempersilahkan Reksa duduk di kursi ruang tamu. Ia juga langsung memanggil Ibunya.

“Makasih ya udah nganterin pesanan saya,” kata Ibunya Sinka.

“Ah iya, sama-sama, kalau gitu saya langsung pamit,” kata Reksa.

“Bayarannya udah kemarin ya,” kata Ibunya Sinka.

“Iya Bu, Boss saya juga bilang gitu, kalau gitu saya pamit.” Reksa pun beranjak dari kursinya, dan pergi meninggalkan rumah Sinka.

“Bukannya kemaren udah beli kue ya?” tanya Sinka yang menguntit Ibunya ke dapur.

“Ini buat ngasih ke orang lain, kalau yang kemaren buat kita sendiri,” kata Ibunya, “Ngomong-ngomogn Reza mana?”

“Eh?”

“Iya Reza, bukannya tadi masih ada ya?”

“Udah aku usir.”

“Loh kok diusir? Ada masalah apa kamu sama Reza?”

“Ga ada masalah kok, lagian aku udah putus sama dia Mih,” kata Sinka.

“Heh? Putus? Kok baru cerita sekarang?”

“Ah ga penting-penting banget sih Mih, makanya ga cerita.”

“Oh gitu, jadi sekarang pacar kamu siapa? Udah nemu belum disekolah yang baru?” goda Ibunya Sinka.

“Apaan sih Mih, jangan samain aku sama Ci Omi, baru aja putus besoknya udah dapet gantinya, kan aku beda sama dia.”

“Iya-iya, Mamih paham, tapi kalau Mamih sih pengennya kamu dapet cowok yang seganteng tukang antar kue yang tadi.”

“Heh?!”

“Iya, kan lumayan kalau mantu Mamih nanti ganteng-ganteng.”

“Masih jauh Mih!!! Udah mikir mantu-mantu aja, aku juga ini belum lulus SMA.”

“Bercanda kok sayang.”

*to be continued.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s