Suki! Suki! Skip! Part 5

gfh

 

“Lah, emangnya lo nanya apaan sih Gie?” Tanya Adi yang mulai bete karena aktifitasnya terganggu.

“Bener-bener nih gue punya abang kaya lo. Udah stadion berapa sih bang telinga lo, sampe gak denger pertanyaan gue barusan?” Tanya Yogi yang makin panas.

Mendengar ucapan Yogi yang mulai ngelantur, Aryo langsung ikut angkat suara.

“Bukan stadion Gie, tapi stasiun yang bener.” Ucap Aryo yang tambah ngelantur.

“Lo juga Ar, malah ikut ketularan virus ngelanturnya si Yogi. Yang bener itu Stadium, bukannya stadion ataupun stasiun. Jangan ngaco deh kalian berdua.” Ucap Willy yang terlihat sok bijak.

Aryo dan Yogi hanya bisa cengengesan saja mendengar ucapan Willy. Sedangkan Adi kembali fokus memainkan Handphone-nya untuk chatingan dengan seseorang.

“Buset dah, nih orang malah fokus lagi sama Handphond-nya.” Batin Yogi yang kembali geram melihat kelakuan Adi yang sedari tadi mengabaikan mereka karena terlalu fokus dengan Handphone-nya.

“Oy, bang Adi!!!” Bentak Yogi tepat di depan telinga Adi. Sontak, Adi yang sedang fokus langsung kaget, dan kini Yogi menjadi pusat perhatian para murid dikelas mereka akibat bentakkan Yogi barusan.

“Buset dah. Lo kalo manggil orang gak usah pake teriak segala kenapa sih.” Ucap Adi yang mulai emosi karena aktifitasnya terganggu.

“Gimana gue gak teriak, lo aja dari tadi fokus banget sama Handphone lo waktu gue tanya. Emang lo lagi chatingan sama siapa sih?” Tanya Yogi yang ikut sewot.

“Siapa yang chatingan sih Gie? Orang gue lagi ikut War Clan digame gue.” Jawab Adi yang sedang berusaha mengelak.

“Oh gitu, jadi lo beneran gak mau jujur bang? Oke deh. Willy, Aryo pegangin tangan sama tubuh bang Adi. Gue penasaran sama isi Handphone-nya.” Perintah Yogi kepada Aryo dan Willy.

Tanpa basa-basi Aryo dan Willy langsung membekap tubuh Adi layaknya seorang penculik kelas teri yang sedang menculik targetnya. Sedangkan Yogi yang berlaga seperti seorang bos dengan sigap langsung merebut barang bukti dari tangan Adi. Karena merasa diperlakukan dengan semena-mena e, e, waka-waka e, e, (*Abaikan). Adi mencoba memberontak untuk melepaskan bekapan Aryo dan Willy.

“Kampret lo semua, lepasin gue gak! Gak lucu banget bercandaan kalian.” Ucap Adi sambil berusaha memberontak.

Seketika mereka berempat langsung jadi pusat perhatian para murid dikelas mereka. Sontak, mereka berempat langsung jadi bahan tertawaan para murid.

“Jangan lepasin abang gue dulu Ar, Wil. Kita interogasi dulu Handphone-nya, gue penasaran kenapa dia bisa fokus banget sama nih Handphone.” Ucap Yogi sambil tersenyum licik.

“Oke Gie. Gue juga penasaran banget, kenapa Adi bisa fokus banget sama Handphone-nya.” Ucap Willy yang sedang membekap Adi dengan sangat erat sambil tertawa.

“Bener Gie. Gue juga penasaran. Lanjutkan interogasinya, serahin Adi sama gue dan Willy. Lo fokus aja buat selidiki fakta yang sebenarnya.” Ucap Aryo yang sedang membekap kedua tangan Adi dengan sangat erat sambil tertawa.

Akhirnya Yogi mulai menyelidiki Handphone Adi. Setelah membuka satu-persatu social media milik Adi, akhirnya Yogi menemukan cukup banyak bukti di LINE untuk mengiterogasi Adi. Dia menemukan bukti tentang kedekatan Adi dan Gre. Yogi yang sudah mengetahui semuanya langsung menyuruh Aryo dan Willy untuk melepaskan dekapannya.

“Yosha, gue udah dapetin banyak bukti. Sekarang kalian bisa lepasin abang gue.” Ucap Yogi sambil tertawa. Tak lupa dia memberi perintah kepada kedua antek-anteknya untuk melepaskan dekapan mereka dari Adi.

“Siap, Jendral.” Ucap Aryo dan Willy serempak. Mereka berdua akhirnya melepaskan dekapan mereka dari tubuh Adi.

“Gimana hasilnya Gie?” Tanya Willy yang sudah sangat penasaran.

“Nih, lebih baik kalian yang liat sendiri.” Jawab Yogi sambil memperlihatkan isi chat Adi dengan Gre kepada Aryo dan Willy.

Akhirnya Willy dan Aryo langsung mengiterogasi Handphone milik Adi, sedangkan Yogi hanya melihat melihat aktifitas mereka saja dengan santainya. Beberapa menit kemudian Aryo dan Willy akhirnya selesai juga membaca isi Adi dan Gre.

“Gimana? Udah puas kan lo bertiga interogasi gue.” Ucap Adi dengan nada kesal.

“Hehehehe, udah kok Di. Sebentar lagi kayanya kita bakalan makan gratis nih Wil.” Ucap Aryo.

“Hahahaha, bener Ar. Sebentar lagi kita bakalan dapet makan gratis dari temen kita yang satu ini.” Ucap Willy tertawa sambil merangkul pundak Adi.

“Jadi, kapan nih lo bakalan ngungkapin perasaan lo ke dia bang?” Tanya Yogi. Mendengar pertanyaan itu Adi langsung berfikir keras untuk menjawabnya.

“Kayanya nanti malem deh, pas gue ngajak dia jalan. Tapi, gue butuh kalian bertiga buat nyusun strategi.” Jawab Adi.

“Emangnya apa rencana lo Di?” Tanya Willy.

Akhirnya Adi menjelaskan semua rencana yang dia pikirkan untuk mengungkapkan perasaan dia yang sebenarnya kepada Gre secara detail. Tak lama, akhirnya Adi selesai juga menjelaskan semua rencananya kepada Aryo, Willy, dan juga Yogi.

“Gitu rencananya. Gue mau minta tolong sama kalian bertiga buat nyiapin segala sesuatunya.” Ucap Adi.

“Oke deh kalo gitu. Kita bakalan bantuin lo buat nyiapin segala sesuatunya buat acara lo nanti malem.” Ucap Aryo.

“Kayanya gue gak bisa ikut bantuin lo deh bang.” Ucap Yogi.

“Loh, emangnya kenapa Gie?” Tanya Aryo yang kebingungan.

“Gue kan pulang sekolah harus latihan Voli. Masa gue bolos sih, gila aja. Bisa-bisa gue ditatar sama pelatih gue.” Jawab Yogi.

“Emangnya pelatih tim Voli siapa sih?” Tanya Willy.

“Et dah, masa sih lo gak kenal Wil sama pelatih ekskul Voli?” Tanya Yogi kembali.

“Eh, otak lo ketuker ya sama Patrick Star? Gue mana kenal sama pelatih ekskul Voli. Gue kan bukan anggota tim Voli.” Jawab Willy dengan wajah datar.

“Oh iya, hahahaha. Sorry, gue lupa Wil.” Ucap Yogi dengan tampang tak berdosa.

“Itu mah bukannya lupa lagi Gie. Tapi, emang dasar lo nya aja yang pikun.” Ucap Aryo sambil tertawa akibat melihat tingkah Yogi.

“Hehehehe, sorry ya Wil. Pelatih ekskul Voli itu Pak Rudi Wil, dia guru olahraga anak kelas tiga.” Ucap Yogi.

Adi, Aryo, dan Willy hanya ber-Oh ria saja.  Setelah itu mereka berempat melanjutkan obrolan mereka sambil sesekali diselingin dengan candaan.

~Skip!~

Bel pelajaran berakhir pun akhirnya berbunyi, seluruh murid SMAN 2 Semarang langsung berhamburan keluar kelas untuk pulang menuju habitat mereka masing-masing.

“Bang Adi, Ar, Wil. Gue pamit ya, soalnya sebentar lagi udah waktunya latihan Voli.” Pamit Yogi kepada mereka bertiga.

“Oke Gie. Semangat!” Ucap Adi, Aryo, dan Willy serempak.

“Oh iya bang, gue dooain semoga sukses ya nanti malem. Kalo udah jadian, jangan lupa ya sama pesenan.” Ucap Yogi sambil berjalan meninggalkan Adi dan kawan-kawan.

Akhirnya Yogi berjalan keluar kelas untuk menuju lapangan indoor. Sedangkan Aryo, Adi, dan Willy langsung bergegas menuju parkiran untuk mempersiapkan segala sesuatu agar rencana Adi untuk menyatakan perasaannya kepada Gre berjalan dengan sukses.

“Btw, lo mau ngungkapin perasaan lo ke Gre dimana Di?” Tanya Aryo yang sedang menstarter motornya yang diberi nama Justice.

“Emm, di café tempat geng kita biasa nongkrong Ar.” Jawab Adi yang sedang menstarter motornya yang diberi nama Oowashi.

“Oke deh, kalo gitu mending sekarang kita berangkat sekarang.” Ucap Willy yang sudah menstarter motornya yang diberi mana Freedom.

Akhirnya mereka langsung melajukan Gundam mereka masing-masing (*Eh, motor mereka masing-masing maksudnya :v) menuju ke café tempat geng mereka biasa kumpul bareng.

~Di Tempat Lain~

Terlihat Yogi sedang berjalan menuju tempat latihan ekskul Voli, saat sedang berjalan menyusuri lorong sekolah Yogi bertemu dengan rekan satu timnya di ekskul Voli.

“Woy Gie, mau kemana lo?” Tanya rekan satu timnya.

“Mau pulang Bay, pengen molor gue dirumah.” Ucap Yogi dengan santainya. Rekan satu timnya itu bernama Bayu Anggara atau biasa dipanggil Bayu.

“Hah, berani bener lo Gie buat cabut latihan. Lo kan pemain regular di tim.” Ucap Bayu yang tidak percaya jika Yogi akan bolos latihan, karena selama ini Yogi adalah pemain paling rajin ditimnya.

Pltakkk…

Tiba-tiba Yogi menjitak kepala Bayu dengan sangat keras.

“Wadawww…” Teriak Bayu yang merasa sangat kesakitan karena terkena jitakan super kuat dari tangan Yogi.

“Eh dodol Palembang. Makanya lo jangan kebanyakan nanya, liat dong sekarang gue mau pergi kemana.” Ucap Yogi dengan nada santai setelah menjitak Bayu. Bayu hanya bisa cengengesan saja sambil mengelus kepalanya yang masih kesakitan.

“Mendingan sekarang kita cepet-cepet ke lapangan deh. Kalo telat bisa-bisa kita ditatar lagi sama coach Rudi.” Ajak Yogi.

Bayu hanya mengangguk saja menerima ajakan Yogi. Sekarang mereka berdua langsung berlari menuju tempat latihan.

~Skip!~

Adi bersama Aryo, dan Willy sekarang sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk rencana nanti malam. Yaitu, rencana Adi untuk mengungkapkan perasaannya kepada Gre.

“Yosha, semua persiapan udah beres. Sekarang tinggal nunggu nanti malem nih.” Ucap Adi yang sudah sangat antusias.

“Gimana Di, keren kan dekorasinya?” Tanya Aryo kepada Adi.

“Keren banget guys. Oh iya, nanti malem kalian berdua dateng ya sama pacar kalian.” Pinta Adi.

“Lah, emangnya kenapa Di? Kok lo nyuruh kita berdua dateng kesini.” Tanya Willy.

“Gue mau kalian jadi saksi nanti malem pas Gre nerima gue buat jadi pacar dia.” Ucap Adi dengan sangat percaya diri.

“Gampang itu mah, asalkan lo mau traktir kita berempat ya nanti malem kalo seandainya kalian jadian.” Ucap Willy.

“Gampanglah, bisa diatur. Yaudah, kalo gitu sekarang kita pulang kuy. Udah jam tiga sore nih, Mamah gue dari tadi notice gue terus lewat SMS. Kayanya ada hal penting nih dirumah.” Ucap Adi sambil mengajak Aryo dan Willy untuk pulang.

“Siap komandan.” Ucap Aryo sambil hormat kearah gue.

Setelah itu mereka semua langsung berjalan keluar café untuk mengambil Gundam motor mereka masing-masing dan menuju kerumah masing-masing.

~Skip!~

Sekitar kurang lebih setengah jam perjalanan dari café akhirnya sekarang Adi sudah sampai dirumahnya. Saat sedang memasukkan motornya ke dalam garasi, Adi merasa heran saat melihat sebuah mobil yang tidak dia kenal berada di dalam garasi rumahnya.

“Hmm, ini mobil siapa ya? Tumben ada tamu dateng kerumah.” Batin Adi saat melihat sebuah mobil tak dikenal yang sedang berada digarasi rumahnya. Lantas, Adi langsung bergegas menuju ke dalam rumahnya.

“Assalammualaikum. Mah, Adi pulang!!!” Teriak Adi dari teras rumahnya.

“Eh, kamu udah pulang. Loh, adek kamu kemana?” Tanya Mamahnya sambil menghampiri Adi.

“Hari ini Yogi lagi latihan Voli Mah, jadi pulangnya agak sore.” Jawab Adi.

“Oh gitu toh. Yaudah, kalo gitu kita masuk yuk. Ada yang mau ketemu sama kamu di dalam.” Ucap Mamahnya.

“Eh, siapa Mah?” Tanya Adi penasaran.

“Udah, kamu masuk aja dulu. Nanti juga kamu tau sendiri kok.” Ajak Mamahnya. Kemudian Mamahnya langsung menggandeng erat tangan Adi dan berjalan menuju ruang tamu.

Di dalam ruang tamu Adi melihat tiga orang tamu yang sudah duduk disofa. Pertama, ada seorang laki-laki paruh baya yang seumuran dengan Ayahnya, namun terlihat lebih tua. Kedua, ada seorang perempuan paruh baya yang seumuran dengan Mamahnya. Dan ketiga, seorang anak perempuan yang seumuran dengan dirinya dan juga Yogi.

“Loh, ada apa ya kira-kira. Apa iya gue mau dijodohin sama Mamah. Tapi kan gue masih belum cukup umur.” Batin Adi saat melihat mereka semua yang sedang berkumpul diruang tamu.

Tiba-tiba, anak perempuan yang seumuran dengan Adi langsung berdiri dari sofa dan berjalan menuju Adi dan langsung memeluk tubuh Adi.

“Kakak, Anin kangen banget sama kakak.” Ucap anak perempuan tersebut yang bernama Anin. Adi hanya bisa terdiam membeku mendengar ucapan Anin barusan. Jelas saja, ucapan Anin barusan pasti membuat Adi shok.

“Hah, kakak? Ini maksudnya apa sih?” Tanya Adi saat tersadar. Tapi masih dalam posisi dipeluk oleh Anin. Melihat pelukan hangat dari Anin kepada Adi, Mamahnya hanya bisa terdiam membisu. Akhirnya, laki-laki paruh baya yang datang bersama Anin langsung angkat suara.

“Adi, sebelumnya Papah mau minta maaf terlebih dahulu. Sebenarnya, kamu itu bukan anak dari keluarga Hartanto. Tetapi, kamu adalah anak kami dari keluarga Cahyadi.” Ucap orang tersebut yang mengaku sebagai Papahnya Adi.

DEG…

Mendengar ucapan tersebut membuat Adi semakin terkejut.

“Maksud kalian apaan sih? Bercandanya gak lucu banget.” Ucap Adi yang sudah mulai kesal dengan nada membentak. Kemudian dia langsung melepaskan pelukan Anin dari tubuhnya. Akhirnya, Mamahnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Adi dengan nada sendu.

“Maaf, selama ini Mamah dan Papah udah bohong sama kamu. Sebenarnya, kamu bukan anak kandung Mamah dan Papah. Tapi kamu anak kandung mereka. Dulu kamu dititipkan ke keluarga ini karena orangtua kamu sedang mengalami krisis ekonomi.” Jelas Mamahnya.

Kaget mendengar ucapan Mamahnya, Adi langsung berjalan munuju kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal. Tapi, saat ingin berjalan menuju kamar, tiba-tiba Anin menggenggam lengan Adi dan membuat Adi menghentikan langkahnya.

“Kak, aku mohon ngertiin kondisi Papah dan Mamah saat itu.” Ucap Anin yang masih menggenggam lengan Adi.

“Hah? Kalian minta aku buat ngertiin kondisi kalian saat itu. Apa sekarang kalian bisa mengerti gimana kondisi hati aku sekarang?” Tanya Adi yang lansung membentak Anin. Seketika semua yang berada diruang tamu langsung terdiam.

Anin yang merasa terkejut dan tak kuasa menahan airmatanya. Dia menangis karena melihat Adi membentaknya. Dia langsung melepaskan genggamannya dari tangan Adi. Adi yang sudah sangat emosi sekarang berlari menuju kamarnya. Sesampainya dikamar Adi langsung mengunci pintu kamarnya dan langsung duduk memunggungi pintu untuk menenangkan dirinya sejenak.

“Apaan sih maksud dari semua ini. Gue bukan anak kandung dari keluarga Hartanto, melainkan anak kandung dari keluarga Cahyadi?  Shitt, kalo itu emang bener terjadi, kenapa mereka tinggalin gue  dari kecil  bersama keluarga ini. Gue udah  sayang banget sama keluarga gue ini, termasuk papah, mamah, kak Ilen, sama Yogi.” Batin Adi yang mencoba menenangkan dirinya.

Adi hanya bisa terdiam sambil membelakangin pintu kamarnya. Dia hanya bisa meratapi nasibnya sendirian dikamarnya sambil memikirkan tentang hal apa yang harus dia lakukan untuk menanggapi masalah ini.

~Skip!~

Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ekskul Voli akhirnya menyudahi latihan mereka pada hari ini. Kini Yogi dan anggota tim yang lainnya sedang mengemasi tas mereka untuk segera pulang ke rumah masing-masing.

“Guys, gue pulang duluan ya.” Pamit Yogi kepada seluruh anggota tim Voli yang masih berada dilapangan.

“Lah, tumben lo buru-buru banget Gie?” Tanya salah satu temannya keheranan.

“Hehehe, nanti malem gue mau ada acara. Jadi gue buru-buru, biar gak telat nanti. Yaudah, gue pamit ya guys.” Ucap Yogi sambil kembali berpamitan kepada semua temannya.

“Oh, yaudah. Hati-hati lo dijalan Gie.” Ucap salah satu temannya.

Yogi hanya mengangguk dan memberikan senyuman kepada temannya. Setelah itu, Yogi langsung berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya kemudian melajukan mobilnya menuju kerumahnya.

~Skip!~

Sekitar kurang lebih setengah jam perjalanan, Yogi akhirnya sampai ditempat tujuan. Ketika ingin memarkirkan mobilnya di dalam garasi, Yogi melihat motornya tidak terpakir dengan benar di dalam garasi.

“Buset dah bang Adi. Masa parkir motornya nutupin jalan gini sih.” Batin Yogi yang merasa jengkel dengan kelakuan kakaknya.

Akhirnya, Yogi membenarkan posisi parkir motornya terlebih dahulu. Setelah itu baru dia memarkirkan mobilnya digarasi. Saat selesai memarkirkan mobilnya, Yogi langsung munuju ke dalam rumah.

“Mah, Yogi pulang.” Teriak Yogi dari teras rumahnya.

“Eh, anak Mamah udah pulang. Gimana latihannya hari ini?” Sapa Mamahnya yang datang menghampirinya dari dalam rumah.

“Latihan hari ini lancar kok Mah. Yogi langsung ke kamar ya Mah. Gie capek banget soalnya.” Jawab Yogi yang terlihat sangat lelah setelah menjalani latihan hari ini.

Mereka langsung masuk kedalam rumah. Saat sampai diruang tamu Yogi menghentikan langkahnya sebentar saat melihat tiga orang tamu yang berada diruang tamu.

“Lah, ada tamu ternyata. Baru sadar gue. Tapi, mereka siapa ya? Kok gue gak pernah liat. Kalo saudara jauh gak mungkin. Soalnya gue hapal banget sama semua saudara gue. Ah, sudahlah. Lebih baik gue ke kamar aja terus langsung mandi biar nanti gak telat jemput Michelle.” Batin Yogi yang begitu penasaran dengan ketiga tamu tersebut.

Akhinya Yogi melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Sesampainya dikamar, Yogi langsung merebahkan badannya yang kelelahan usai latihan Voli.

“Ahhh,,, hari yang begitu melelahkan. Mending gue chat pujaan hati gue aja deh biar gak ketiduran beneran. Hehe.” Gumam Yogi yang sedang rebahan sambil menumpuk kedua telapak tangannya dibawah kepalanya.

Yogi langsung mengambil Handphone miliknya yang dia taruh di dalam tas. Setelah itu dia langsung membuka aplikasi LINE dan memulai chating dengan Michelle.

Yogi : Hei Lei

Tak berselang lama, ada notifikasi LINE masuk dari Michelle.

Michelle : Hai Gie, ada apa?

Yogi : Gak ada apa-apa Lei. Gue Cuma mau chatingan sama lo aja. Btw, lo lagi apa?

Michelle : Aku baru aja selesai mandi Gie. Kalo kamu lagi apa?

Yogi : Gue baru sampe dirumah nih. Sekarang lagi rebahan dikasur.

Michelle : Oh, kamu jangan sampe lupa makan ya. Dan, jangan lupa sama janji kita malam ini.

Yogi : Iya Lei, gue gak mungkin lupa kok. Nanti biar gue jemput lo ya dirumah lo. Kalo gitu sekarang gue mandi dulu ya Lei.

Michelle : Yaudah, sana kamu mandi biar gak bau lagi.

Yogi hanya me-read chat terakhir dari Michelle. Dia langsung mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Yogi langsung mengganti pakaiannya dan berdandan di depan cermin agar terlihat ganteng maksimal. Merasa sudah rapih, dia langsung keluar kamar dan bersiap untuk menjemput Michelle. Saat keluar dari kamar, tak sengaja Yogi berpapasan dengan Adi yang sedang menunjukkan tampang lesunya.

“Lah, lo kenapa bang? Kok muka lo kusut gitu?” Tanya Yogi yang penasaran.

“Eh, gue gak apa-apa kok Gie. Gue cuma lagi capek aja, tadi abis dekor café buat acara male mini.” Jawab Adi yang terpaksa membohongi adiknya. Tapi, Yogi sadar betul kalau Adi sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Lantas, Yogi langsung bertanya kembali.

“Serius, lo gak apa-apa bang? Lo kok kaya lagi gelisah begitu sih bang.” Tanya Yogi kembali.

Adi berusaha untuk bersikap biasa saja supaya Yogi tidak mengetahui masalah yang sedang Adi hadapi saat ini. Lalu, Adi langsung mengalihkan topik pembicaraan saat ini.

“Widih, adek gue yang satu ini udah rapih aja nih. Ehemmm,,, kayanya ada yang bakalan malmingan nih sama gebetannya.” Ucap Adi yang sedang menggoda Yogi.

“Et dah lo bang, malah ngalihin pembicaraan. Lah, lo kok belum prepare bang? Katanya lo mau jemput Gre.” Tanya Yogi.

“Sebentar lagi Gie, gue mau mandi dulu. Oh iya, gue pinjem mobil ya.” Jawab Adi.

“Okelah bang, bisa diatur. Nih kunci mobilnya, mana kunci motornya?” Tanya Yogi sambil memberikan kunci mobil kepada Adi.

“Thanks Gie, tuh kunci motornya udah gue taro di atas kulkas. Ambil aja.” Ucap Adi sambil menerima kunci mobil dari tangan Yogi.

“Oke deh bang, kalo gitu gue berangkat duluan ye. Takut telat gue jemput Michelle.” Pamit Yogi.

“Sipp,,, hati-hati ye dijalan. Jaga Michelle baik-baik, have fun ya Gie.” Ucap Adi sambil menyemangati Yogi.

Yogi hanya mengangguk saja, kemudian dia langsung pergi menuju parkiran untuk mengambil motor dan bergegas pergi menjemput Michelle.

“Fuih,,, untung penyakit kepo Yogi lagi gak dalam taham akut, mulai sekarang gue harus mencoba bersikap normal dihadapan Yogi. Tapi,,, juju raja gue masih takut kalo gue bukan bagian dari keluarga ini. Gue gak bisa bayangin kalo gue harus ninggalin keluarga ini. Apalagi harus ninggalin kak Ilen dan juga Yogi.” Batin Adi, lalu dia menghela nafasnya.

~Skip!~

Setengah jam menempuh perjalanan, Yogi akhirnya sampai dirumah Michelle. Yogi langsung turun dari motornya yang telah dia parkirkan di garasi. Sesampainya diteras, Yogi langsung mengetuk pintu rumah Michelle. Tak lama, pintu rumah tersebut dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang seumuran dengan Mamahnya Yogi.

“Permisi tant, Michelle-nya ada?” Tanya Yogi dengan nada sopan.

“Oh, Michelle lagi di dalam kamarnya. Silakan masuk dulu.” Jawab perempuan tersebut sambil mempersilakan Yogi untuk masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di dalam, Yogi langsung dipersilakan duduk untuk menunggu Michelle.

“Tante panggilkan Michelle sebentar ya.” Ucap perempuan tersebut dengan ramah.

Yogi hanya membalas dengan anggukan saja, perempuan tersebut langsung berjalan meninggalkan Yogi dan menuju ke kamar Michelle yang berada dilantai dua. Tak berselang lama, perempuan tersebut kembali menemui Yogi yang berada diruang tamu.

“Sebentar ya, Michelle-nya sedang siap-siap. Ngomong-ngomong kamu siapanya Michelle ya?” Tanya perempuan tersebut yang merasa sangat penasaran.

“Eh itu, saya temannya Michelle tant.” Jawab Yogi yang terlihat agak gugup.

“Oh, temannya Michelle. Nama kamu siapa?” Tanya perempuan tersebut.

“Nama saya Yogi Hartanto tant, panggil aja Gie.” Jawab Yogi dengan sopan.

“Oh, jadi kamu yang namanya Yogi. Kenalkan, tante Mamahnya Michelle.” Ucap perempuan tersebut. Ternyata dia adalah Mamahnya Michelle.

“Eh, iya tant. Salam kenal.” Balas Yogi.

“Oh iya Gie, Michelle sering banget cerita tentang kamu loh ke tante.” Ucap Mamahnya Michelle sambil tersenyum.

“Be,,, benarkah itu tant?” Tanya Yogi yang mulai gugup kembali karena Michelle sering menceritakan tentang Yogi kepada Mamahnya.

“Iya Gie, masa tante bohong sih. Kata Michelle, kamu itu orangnya unik.” Ucap Mamahnya Michelle.

“Hah, unik darimana coba. Perasaan gue biasa-biasa aja deh. Haduh, dasar Leilei. Untung gue sayang sama dia.” Batin Yogi. Saat Yogi ingin bertanya perihal dirinya dikatakan unik oleh Michelle, tiba-tiba datanglah orang yang sedang menjadi bahan pembicaraan mereka berdua diruang tamu.

“Hai Gie, kamu udah lama ya nunggunya? Maaf ya aku lama.” Ucap orang tersebut sambil meminta maaf kepada Yogi.

“Ah, gak apa-apa Lei. Gue juga baru aja sampe kok.” Jawab Yogi.

“Yaudah, kalo gitu kita berangkat sekarang aja yuk Gie. Takut kemaleman.” Ajak Michelle.

“Yaudah kuy lah. Tant, saya pinjem Michelle-nya sebentar ya.” Pamit Yogi kepada Mamahnya Michelle.

“Eh, apa kamu bilang Gie? Emangnya aku ini barang apa, pake pinjem segala.” Ucap Michelle sambil memasang tampang cemberutnya.

“Hahaha, bercanda kali Lei. Yaudah yuk beraangkat. Tant, kita berdua pamit dulu ya.” Ucap Yogi sambil kembali berpamitan kepada Mamahnya Michelle.

“Iya Gie, tolong jagain anak tante yang hyperactive ini ya.” Ucap Mamahnya Michelle sambil tersenyum.

“Ih, Mamah ini apaan sih. Yaudah kalo gitu aku berangkat dulu ya Mah.” Ucap Michelle sambil berpamitan kepada Mamahnya.

“Iya Chell. Kalian hati-hati dijalan dan jangan pulang larut malam ya.” Pesan Mamahnya kepada Michelle dan juga Yogi.

Mereka berdua hanya membalas dengan anggukan saja. Sekarang mereka berjalan menuju ke garasi untuk menaiki motor. Sesampainya disana, Yogi langsung menaiki motornya.

“Ayo Lei, kita berangkat. Lo cepetan naik ke motor.” Ucap Yogi yang sudah menstarter motornya.

“Iya Gie.” Balas Michelle. Kemudian dia langsung menaiki motornya.

Yogi langsung melajukan motornya setelah Michelle menaiki motornya. Mereka langsung pergi menuju tempat yang akan mereka datangi.

~Skip!~

Sekitar kurang lebih setengah jam mereka menempuh perjalanan. Akhirnya mereka berdua sampai ditempat yang ingin mereka kunjungi, tepatnya disebuah mall besar dikawasan kota Semarang.

“Ayo Gie, kita masuk.” Ajak Michelle.” Ajak Michelle yang sudah tidak sabar.

“Sabar kali Lei, motornya diparkirin dulu kali. Masa kita masuk bawa-bawa motor sih.” Ucap Yogi. Michelle hanya bisa cengengesan saja. Tak lama, akhirnya Yogi telah selesai memarkirkan motornya.

“Ayo Lei, sekarang kita masuk.” Ajak Yogi.

“Ayo Gie.” Balas Michelle. Dia langsung menarik tangan Yogi saat berjalan masuk ke dalam mall. Dan akhirnya mereka berdua berjalan memasuki mall tersebut.

“Tunggu Lei, sebenernya kita mau kemana?” Tanya Yogi.

“Hmmm,,, gimana kalo sekarang kita makan dulu.” Ucap Michelle yang sedang memberikan saran.

“Yaudah, kalo gitu kita kesana aja yuk. Disana ada tempat makan enak dan murah.” Ajak Yogi.

Michelle hanya membalas ucapan Yogi dengan anggukkan saja, kemudian mereka langsung berjalan menuju tempat tujuan mereka sambil bergandengan tangan. Tak butuh waktu lama, kini mereka telah sampai ditempat makan tujuan mereka. Kemudian mereka berdua duduk dimeja kosong yang berada dipojokan.

“Permisi, mau pesan apa mas?” Tanya pelayan yang menghampiri Yogi dan Michelle.

“Saya pesan nasi goreng specialnya satu porsi, dan minumnya jus mangga Mbak. Kalo lo mau pesan apa Lei?” Ucap Yogi kemudian bertanya kepada Michelle.

“Aku samain aja deh sama kamu Gie. Tapi minumnya jus guava.” Ucap Michelle.

“Oh oke deh. Kalo gitu, pesan nasi goreng specialnya dua porsi, dan minumnya jus mangga sama jus guava ya Mbak.” Ucap Yogi kepada pelayan tersebut. Pelayan tersebut langsung menulis pesanan mereka berdua.

“Jadi, nasi goreng special dua, jus mangga satu, dan jus guava satu ya Mas.” Ucap pelayan tersebut yang sedang membacakan pesanan mereka berdua.

“Mohon ditunggu sebentar ya Mas pesanannya.” Tambah pelayan tersebut.

Pelayan tersebut pun pergi meninggalkan meja mereka berdua menuju ke kichen room. Sambil menunggu pesanan mereka berdua datang. Mereka mencoba mengisi waktu luang dengan mengobrol dan sesekali bercanda.

“Oh iya, Lei. Habis ini kita mau pergi kemana lagi?” Tanya Yogi.

“Oh iya, ya. Aku gak tau nih Gie, kira-kira kemana ya enaknya?” Jawab Michelle sambil cengengesan dan bertanya balik kepada Yogi.

“Ya ampun, Lei. Jadi habis ini kita gak tau mau kemana lagi nih?” Tanya Yogi kembali.

“Hehehe, iya Gie.” Ucap Michelle yang masih cengengesan.

“Hehe, dasar.” Ucap Yogi. Kemudian dia langsung mengusap kepala Michelle.

“Oh iya Gie, mulai sekarang kamu mau gak ngomong sama aku pake aku-kamu?” Pinta Michelle.

“Lah, emangnya kenapa Lei?” Tanya Yogi yang mulai penasaran.

“Ya, gak apa-apa sih Gie. Cuma biar kita keliatan makin akrab aja. Kamu mau kan Gie?” Pinta Michelle kembali sambil menunjukkan wajah manjanya.

“Ya ampun Lei, lo kenapa nunjukkin wajah manja lo lagi sih. Mau gak mau gue harus nurutin permintaan orang yang gue sayang kalo kaya gini ceritanya.” Batin Yogi.

“Iya deh Lei. Aku bakalan ganti cara bicara aku ke kamu.” Ucap Yogi yang menuruti permintaan Michelle sambil tersenyum.

“Yee, makasih ya Gie.” Ucap Michelle sambil tersenyum.

Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang. Akhirnya hidangan yang mereka pesan datang juga. Mereka berdua langsung menyantap hidangan yang mereka pesan dengan sangat khusyuk.

~Skip!~

Jam sudah menunjukkan pukul 18.45 malam. Adi yang sudah terlambat langsung bergegas menuju rumah Gre dengan mengendarai mobilnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu kali 45 menit, akhirnya dia sampai dirumah Gre. Terlihat, Gre yang menggunakan dress berwarna ungu sudah menunggu kedatangan Adi di depan teras rumahnya. Adi yang sudah memarkirkan mobil di garasi rumah Gre langsung keluar dari mobil dan menghampiri Gre.

“Maaf ya Gre, gue telat jemputnya. Habisnya dijalan tadi macet banget.” Ucap Adi meminta maaf.

“Gak apa-apa kok Di. Oh iya, kita mau kemana sekarang?” Tanya Gre.

“Emm, rahasia dong. Udah sekarang lo ikut aja sama gue, nanti juga lo tau kita mau kemana.” Jawab Adi sambil tersenyum.

“Ish, curang. Mainnya rahasia-rahasiaan.” Ucap Gre sambil menunjukkan wajah cemberutnya.

“Hehe, yaudah yuk kita berangkat. Biar lo gak penasaran.” Ajak Adi. Gre hanya membalas ajakan Adi dengan anggukkan saja.

Akhirnya mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Adi langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah dia rencanakan. Ditengah perjalanan Adi membuka pembicaraan agar tidak terlihat jenuh.

“Gre, lo cantik banget malem ini.” Ucap Adi diiringin dengan senyuman. Mendengar ucapan Adi barusan sukses membuat wajah Gre memerah.

“A,,, a,,, ah, masa sih Di. Menurut aku biasa aja deh.” Ucap Gre terbata-bata karena gugup.

“Beneran Gre, lo cantik banget malem ini.” Ucap Adi sekali lagi. Kemudian Adi mencoba menggengam tangan kanan Gre yang berada disamping tangan kirinya.

“Mulai deh gombalnya. Emm, mending gandengan tangannya nanti aja kalo udah turun dari mobil. Bahaya tau kalo bawa mobil sambil gandengan tangan. Nanti kamu malah gak fokus buat ganti giginya.” Ucap Gre yang malu, sambil memperingati Adi yang ingin menggandeng tangannya.

“Hehe, bener juga kata lo Gre.” Ucap Adi. Kini kedua tangannya kembali fokus memegangi steer dan perseneling.

Mereka pun melanjutkan perbincangan mereka sambil sesekali diiringi dengan candaan selama diperjalanan.

~Skip!~

Sekitar setengah jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba disebuah café yang sudah Adi rencanakan.

“Ayo Gre, kita masuk.” Ajak Adi setelah membukakan pintu mobil disamping Gre.

“Eh, iya Di. Ayo.” Ucap Gre yang sudah keluar dari mobil. Dengan cepat Gre langsung menggandeng tangan Adi dan mereka berdua langsung masuk ke dalam café.

Sesampainya di dalam café, mereka langsung duduk dimeja yang sudah Adi persiapkan untuk mereka berdua. Setelah duduk, Adi langsung memanggil seorang pelayan dicafé tersebut.

“Ada yang bisa saya bantu Mas?” Tanya pelayan tersebut kepada Adi.

“Emm, Gre, kamu mau pesan apa?”  Tanya Adi kepada Gre yang duduk di depannya.

“Aku pesan nasi goreng seafood sama minumnya milkshake aja deh.” Ucap Gre sambil melihat daftar menu yang sedang dia pegang.

“Yaudah Mas, kalo gitu kita pesan nasi goreng seafoodnya dua porsi dan minumnya milkshake dua gelas.” Ucap Adi kepada pelayan tersebut. Pelayan tersebut langsung memcatat pesanan mereka berdua.

“Mohon dituggu sebentar ya pesanannya.” Ucap pelayan tersebut.

Pelayan tersebut langsung pergi meninggalkan mereka untuk menghidangkan pesanan mereka. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka memutuskan untuk mengobrol sambil sesekali bercanda.

“Kamu kenapa sih ngeliatin aku-nya gitu banget.” Ucap Gre yang melihat Adi sedang memandanginya dengan tatapan hangat.

“Gre, entah kenapa makin lama aku jadi makin nyaman aja ada di deket kamu.” Ucap Adi dengan tatapan serius sambil mengenggam kedua tangan Gre.

“M,,, ma,,, maksud kamu apa Di?” Tanya Gre yang mulai gugup mendengar ucapan Adi.

“Emm, aku sayang sama kamu. Kamu mau gak terima aku sebagai pacar kamu?” Ucap Adi to the poin kepada Gre.

Gre yang mendengar ucapan kalimat yang terlontar dari mulut Adi barusan hanya bisa terdiam. Terlihat, wajah Gre yang tadinya sangat gugup berubah menjadi sumeringah. Gre tak kuasa membendung airmata bahagianya. Dia akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bahagia sampai meneteskan airmata ke arah Adi.

“A,,, aku mau kok jadi pacar kamu. Aku juga sayang sama kamu.” Ucap Gre sambil tersenyum.

Mendengar jawaban dari Gre membuat Adi sangat bahagia sekali. Seketika suasana tiba-tiba mulai hening. Tampak, mereka saling memandang dengan tatapan hangat. Tanpa mereka sadari, kini wajah mereka saling mendekat. Mereka berdua akhirnya bisa saling merasakan hangatnya nafas mereka saling beradu. Hidung mereka kini mulai bersentuhan, dan bibir mereka siap untuk bertabrakan. Tiba-tiba…

“Maaf sudah membuat anda menunggu lama. Silakan dinikmati makanannya.” Ucap seorang pelayan yang sudah berada dihadapan mereka sambil membawa pesanan mereka tadi.

Seketika Adi dan Gre langsung menghentikan aktifitas mereka dan kembali keposisi semula. Pelayan tersebut langsung menaruh hidangan yang sudah disajikan ke atas meja mereka. Setelah itu, pelayan tersebut kembali pergi meninggalkan mereka berdua.

“Hmm, dasar pelayan gak tau diri. Ganggu orang aja.” Ucap Adi ketus.

“Kamu tuh lucu ya. Makanya, kalo mau ena-ena tuh jangan ditempat umum kaya gini.” Ucap Gre sambil tersenyum melihat sikap Adi.

“Berarti maksud kamu. Kalo ena-enanya dirumah, kamu ngijinin dong?” Tanya Adi sambil menggoda Gre.

“Ish, kepedean banget jadi orang. Siapa bilang aku ngijinin, wlee.” Ucap Gre. Adi hanya bisa menunjukkan wajah cemberutnya mendengar ucapan Gre barusan.

“Oh iya sayang. Besok kamu dateng kan ke acara ulang tahun kakak aku?” Tanya Adi yang mulai mengalihkan topik pembicaraan.

“Cie, udah manggil sayang aja nih kamu. Iya, aku pasti dateng kok sayang.” Ucap Gre yang merasa sangat senang karena dipanggil sayang dan diundang ke acara ulang tahun kakaknya Adi.

“Makasih ya sayang. Yaudah, kalo gitu kita makan yuk.” Ucap Adi. Kemudian dia langsung mengajak Gre untuk memakan hidangan yang telah mereka pesan. Gre hanya membalas ajakan Adi dengan anggukkan saja.

Mereka kini langsung menyantap hidangan yang telah tersedia diatas meja makan. Setelah menyantap seluruh hidangan yang berada diatas meja mereka berdua, Gre meminta izin kepada Adi untuk pergi ke toilet.

“Sayang, aku izin ke toilet sebentar ya.” Ucap Gre.

“Iya sayang, jangan lama-lama ya, nanti aku kangen.” Ucap Adi sambil menggoda Gre.

“Huh, dasar lebay.” Ucap Gre. Adi hanya cengengesan saja akibat tingkahnya sendiri.

Gre langsung berjalan meninggalkan Adi menuju ke toilet. Karena merasa bosan, Adi meluangkan waktunya untuk memainkan Handphone miliknya. Tak lama, tiba-tiba ada yang memanggil dirinya dari belakang.

“Kak Adi.” Ucap seseorang dari belakang. Adi yang mendengar panggilan tersebut langsung membalikkan pandangannya.

“Loh, Anin. Kamu ngapain kesini?” Tanya Adi yang terlihat kaget dengan kehadiran Anin. Sontak, Adi langsung berdiri dari tempat duduknya. Bukannya menjawab pertanyaan Adi, Anin malah langsung memeluk Adi dengan tiba-tiba.

“Kak, sekali lagi aku mohon sama kakak. Aku sayang sama kakak. Jadi aku mohon, kakak mau ya tinggal sama Anin.” Pinta Anin yang masih memeluk Adi sambil menangis. Adi menjadi tak tega melihat Anin menangis dihadapannya. Sontak, Adi langsung memeluk Anin.

“Anin, k,,, ka,,, kakak juga sayang sama kamu. Tapi, kakak juga sayang sama keluarga Hartanto.” Ucap Adi yang sedang berusaha menenangkan Anin.

Tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka. Ya, orang itu adalah Gre. Sontak, Gre langsung menghampiri mereka berdua.

“Adi.” Ucap Gre yang sudah berada di depan mereka berdua sambil meneteskan airmatanya.

“S,,, sa,,, sayang. Aku bisa jelasin semuanya ke kamu.” Ucap Adi dengan sangat gugup. Sontak, Adi yang merasa kaget dengan kehadiran Gre langsung melepaskan pelukan Anin dari tubuhnya.

Plakkk…

“Dasar, semua cowok itu sama aja ternyata. B.A.J.I.N.G.A.N. Mulai sekarang kita putus, dan aku gak akan mau kenal lagi sama kamu. Aku benci sama kamu.” Bentak Gre yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dengan kondisi yang masih terpukul, Gre langsung pergi keluar café untuk meninggalkan Adi.

“Gre, tunggu. Dengerin penjelasan aku dulu.” Ucap Adi sambil berteriak.

Saat ingin mengejar Gre, Anin yang juga masih menangis langsung menahan tubuh Adi dengan cara memeluknya. Karena merasa tak tega, Adi memilih untuk menenangkan Anin terlebih dahulu.

“Udah, kamu jangan nangis lagi ya. Kakak ada disini kok.” Ucap Adi yang sedang menenangkan Anin yang sedang memeluknya.

Tak lama setelah permasalahan itu terjadi. Aryo, Willy, Desy, dan Shani sampai di café. Mereka yang baru memasuki café tersebut langsung melihat Adi sedang memeluk seorang cewek yang tidak mereka kenal di dalam café.

“Eh, semuanya liat deh. Itu kan Adi. Tapi, sama siapa ya dia.” Ucap Shani sambil menunjuk kearah Adi.

“Oh iya, kamu bener Shan. Itu kan Adi, tapi sama siapa ya dia. Bukannya dia kesini sama Gre ya?” Ucap Desy yang kebingungan sambil bertanya-tanya kepada yang lainnya.

“Kalian berdua bener, lebih baik kita kesana aja untuk memastikan.” Ajak Willy yang menanggapi ucapan Shani dan Desy.

Akhirnya mereka berempat langsung menghampiri Adi dan cewek yang sedang dia peluk.

“Woy, Di….

To Be Continued

 

Hi, guys. Sorry ya, postingan Suki! Suki! Skip! – Part 5 ini lewat dari waktu yang ditentukan. Semua ini terjadi karena gue dan partner gue seminggu kebelakang lagi ada kesibukkan. Jadi, proses pembuatan part 5 ini agak terhambat. Kami selaku Authors meminta maaf atas ketidak nyamana para readers. Sebagai permintaan maaf kami, kami menambahkan beberapa konflik dipart ini agar kalian merasa sedikit terhibur. Terima kasih.

 

Author’s mau promosi nih. Jangan lupa follow dan add:

WattPad          : @AdiNishinoya4 & @GieSy24

Twitter            : @Nugroho_AJ93 & @yogialdi6

Line                 : adi93saya & yogi_venal48

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s