Pengagum Rahasia 2, Part 23

“Huft, cepet banget habisnya, tau gini mendingan beli 5 biji mochinya,”

*Srek! Suara sepatu yang bergesekan dengan tanah.

“Mana sushinya?”

“Gak jadi beli,” timbalnya

“Loh?”

“udah habis ya sushinya?” lanjutnya

“yah, bisa dibilang begitu…,”

“Hem…terus sekarang apa?”

“Sinka mau jalan-jalan sebentar, kakak sendirian aja ya,”

“Lah, kakak di tinggal!?”

“ya,”

“Eh, tunggu dulu sin!”

Setelah itu Sinka pun berhenti.

“Dih, langsung berhenti tuh anak,” ucap Naomi

“K-Kamu lagi!” ucap Sinka

“Eh!?” Naomi pun langsung menghampiri Sinka

“Whaa! Galak amat sih, padahal kan gw gak ngapa-ngapain,”

“Rizal?” ucap Naomi

“Whoa! Kakak tau nama aku?”

“Aku-aku…kamu mau ngapain kesini hah!?” ucap Sinka namun sedikit kasar

“yee…biarin lah, ini kan acara umum,”

“Ah kebetulan, ada yang mau kakak omongin sama kamu zal,”

“Hmm?” Sinka melirik ke arah Naomi

“Eng…,” Rizal menggaruk kepalanya

“Nah sin, tadi kamu bilang pengen jalan-jalan kan? Yaudah sana, sekarang kakak udah ada temen,”

“Huft, di kasih cowok langsung berani…,”

“udah-udah sana! Ini urusan pribadi!” Naomi mendorong Sinka menjauh darinya

“Biasa aja kali, belum juga jadian udah pengen mojok,” ledek Sinka

“Hiss!” balas Naomi

Kini hanya tinggal Naomi dan Rizal disana.

“Kita cari kursi yah,” ajak Naomi

“Eng…serius banget kak, jadi gugup…,”

“Huft…,” Naomi hanya mengusap wajahnya

~oOo~

“Kayaknya disini…tempatnya agak nyaman,”

“Dih, ngapain kak Naomi bawa gw ke tempat yang sepi kayak gini,”

“Jadi curiga…,”

“Zal,” panggilnya

“A-Ah, iya kak?”

“Sebenarnya kakak mau nanya sesuatu…,”

*DEG! Jantung Rizal seperti berhenti berdetak.

“A-Apa kak?” tanya Rizal yang begitu gugup

“Kakak mau nanya soal alamat SMA 3,”

“Ha?”

“Kurang jelas ya? Kakak bilang mau nanya soal alamat SMA 3,”

Rizal terdiam dengan wajah datarnya.

“Cuma itu doang ya?”

“yaudah cuma itu doang, emangnya mau di tanyain apa lagi?” timbal Naomi

Rizal menghela nafas “Di kiarin apaan, pake di bawa ke tempat yang sepi kayak gini,”

“Kalau di dalem event kan terlalu berisik, banyak orang juga. Nantinya malah gak kedengeran kakak ngomong apa,”

Rizal mengusap wajahnya.

“udah cepetan jawab!”

“Eh…alamat yah,”

“Mau ngapain emang pake nanya alamat segala?” lanjutnya

“Dih, pengen tau banget urusan orang? Kepo!”

“Yee…ditanyain baik-baik, malah dapet jawaban yang gak jelas,”

“ya ngapain juga kakak jawab pertanyaan kamu tadi,”

“Kalau kakak gak jawab, gak bakalan di kasih tau alamat SMA 3 dimana,” balas Rizal

“Hiss!” Naomi tampak geram

“Oke-oke fine!”

“Nah, gitu dong,”

“Hem…Kamu tau kan…,”

“Enggak,” potong Rizal

“Belum beres! Kakak belum beres ngomong!”

“Eh-eh, sorry…hehe…,”

“yaudah lanjutin,”

“Ekhem…kamu tau kan kalau nanti di sekolah kamu bakal di adain psikotes?” tanya Naomi

Rizal hanya menggelengkan kepala.

“Hah? Gak tau beneran!?”

“enggak,”

“ya ampun, kamu ini gak pernah liat mading sekolah ya?”

Rizal kembali menggelengkan kepala.

“Hiiih! Pokoknya nanti yang bakal ngisi acara psikotes tuh mahasiswa dari kampus kakak,” Jelas Naomi

“Oh,”

“udah!? Ekspresinya cuma gitu aja!?”

“ya harusnya gimana lagi kak? Lagian kan cuma psikotes, gampang kali…,”

“Heeeeeeehhhh!” Naomi semakin geram

“umm kak…,” Rizal seperti ingin membisikan sesuatu

Lalu ia berbisik. “Kita pindah tempat yuk, kalau disini kan bisa di kira lagi main-main,”

“Ek! Apaan sih! Yaudah cepetan pindah tempat!” Naomi pergi lebih dulu

“yee…padahal kan kakak sendiri yang ngajak kesini,”

15 Menit kemudian…

“Hah…Hah…tunggu kak, capek…,”

“Heeeeh! Lemah banget sih jadi cowok! Baru aja jalan bentar,”

“Kita udah jalan lama banget kak!”

“Tapi kita masih belum dapet kursi yang kosong zal!”

“I-iyaudah kita tunggu mereka aja,” ucap Rizal yang tengah memegang lututnya

“Mereka?” Naomi langsung melihat ke arah tempat yang di sebut Rizal

“tau darimana mereka bakalan pergi?”

“Gak tau ah! Udah tunggu aja! Capek nih!”

“Huft…,” Naomi pun menuruti perkataan Rizal

Sedikit demi sedikit mereka menghampiri kursi tersebut.

Tak lama kemudian orang yang duduk di kursi tersebut pun berdiri.

“Akhirnya,” ucap Rizal

“Loh, Ve?”

“Eh Naomi!”

“Hah?” Rizal mengernyitkan dahinya

“ya ampun ternyata kamu beneran kesini yah, terus Sinka mana?”

“Dia lagi jalan-jalan bentar, gak tau deh sekarang dia dimana. Umm…kamu sendirian?” tanya Naomi

“enggak, aku sama pacar aku kok,”

“Pacar?”

“Iya, hiiih deva! Kenapa malah balik badan terus sih!” Ve langsung membalikan badan lelaki itu

“Loh deva!?”

“Ah-Hai kak Naomi, hehe…,” Deva tampak senyum-senyum tidak jelas

“Jadi kamu!?” ucap Naomi namun menggantung

“Wah, akhirnya kamu juga punya pacar mi. Udah sekian banyak cowok yang naksir kamu, akhirnya kamu milih satu,” ucap Ve

“Eh, bu-buk…,”

“Ek…yah, aku milih pasangan yang tepat kan? Dia ini cowok yang baik Ve,” belum sempat Rizal berbicara, Naomi langsung memotongnya

“Wah gitu yah? Kenalin dong sama aku,”

“Dia ini Rizal, psst…,” Naomi seperti berbisik. “Jabat tangan!”

“A-Ah, Rizal kak…,”

“Veranda…,” balas Ve sambil menjabat tangan Rizal

“yah, kalau gitu kita pergi dulu ya Ve,” ucap Naomi

“Loh, mau pergi lagi?”

“Iya, kita mau cari makanan dulu, iya kan sayang?” ucap Naomi

“Ah-Eh…iya-iya,” timbal Rizal sembari tersenyum

“Ayo cepetan!” ucap Naomi dengan suara pelannya

Kemudian Naomi menggandeng tangan Rizal, Namun ketika Naomi mendekati deva…

“Jangan sampai kamu bikin Sinka sakit hati…,”

“Ek!”

(……………………………………………………..)

*Glek!

“Kak Naomi…,” batinnya

*Plek! “Sayang,” ucapnya sembari mengelus pipi Deva

“Kok malah diem sih, jadi gak nih kita mau ke tempat band yang kamu bilang tadi,”

“Ah, iya jadi kok,” balas Deva

“yaudah yuk,” Ve memeluk tangan Deva

~oOo~

“Tu-tunggu kak Naomi!”

“Heh! Apalagi sih!?”

“Kita mau kemana lagi sih kak…kita udah muter-muter, terus tadi ada kursi kosong malah pergi lagi, mana tiba-tiba aku jadi pacarnya kak Naomi lagi,”

“Tapi kalau kakak emang pengen…umm…,”

“Huss! Kakak cuma akting doang tadi!” potong Naomi

“Ha!?”

“Iya akting!” Jelas Naomi

“ya ampun kak, suka banget mainin perasaan orang lain. Rizal udah tiga kali kena PHP sama kak Naomi,”

“Siapa suruh pengen di PHPin,”

“ya ampun jawabannya bener-bener gak enak di denger deh kak,”

“Pokoknya kakak itu tadi cuma akting,”

“Y-ya tapi kenapa harus akting sih kak…,” timbal Rizal

“yah…bisa di bilang Ve itu saingannya kakak di kampus,”

“S-Saingan!?”

“Tapi tadi keliatannya akrab banget, sama sekali gak keliatan ada perselisihan,”

“Itu cuma formalitas!” Jelas Naomi

“F-Formalitas? Jadi kak ve yang tadi juga cuma pura-pura baik gitu?”

“bisa di bilang begitu, tapi Ve alaminya dia emang udah baik. Tapi tetep aja kalau di depan kakak sifat gak mau kalahnya pasti muncul!”

“Huh…Cewek jaman sekarang pola pikirnya aneh-aneh,”

“Pake saingan segala mentang-mentang mereka berdua cantik,”

“Kakak denger zal!”

“Uwaaa! K-Kedengeran ya, ahaha…,”

“Nih rasain!”

Naomi menjewer telinga Rizal.

“Aduh-aduh! Sakit kak!”

“Pake ngomongin orang segala! Kalau berani ngomong langsung di depan orangnya!”

“I-iya-iya ampun kak,”

“ya aneh aja, kenapa harus saingan sih kak, kak Naomi kan udah cantik, jadi…,”

“Jadi?” ucap Naomi sembari mempelototi Rizal

“Ja-Jadi kalau gak saingan juga kak Naomi sama kak Ve pasti bakalan dapet cowok yang baik-baik juga,”

“Cowok baik-baik? Bullshit…,” Naomi pergi meninggalkan Rizal

“yah-yah, malah pergi lagi, Hem…Bodo ah…,”

“Ekhem!”

“Weh! Kak Naomi kenapa balik lagi!?”

“Karena kamu belum jawab pertanyaan kakak yang tadi! Alamat mana alamat!”

“ya ampun, yaudah Rizal minta kontak Linenya,”

“Loh!? Malah minta kontak line!? Kan kakak nanya dimana alamat SMA 3, bukan mau tukeran kontak line!”

“ya tapi Rizal gak akan kasih tau sekarang kak! Event ini tuh di adain untuk orang yang pengen seneng-seneng, ngabisin malam minggu bareng temen-temen, bukan untuk hal yang gak jelas kayak gini kak!”

“Huft, jadi kamu mau seneng-seneng dulu gitu?”

“YA! Bisa di bilang begitu! EH! M-Maksudnya seneng-seneng tuh…,”

“Oke!” potong Naomi

“Malam ini, khusus malam ini…kamu bakalan jadi pacar kakak, ngerti?”

“Haaah?”

“Iya, cuma malam ini sampai jam 12, Ayo sini!” Naomi langsung menarik tangan Rizal

“A-Ah! Tunggu kak Naomi!”

“Panggil aku sayang! Jangan kak Naomi…,”

~oOo~

Dum! Dum! Dum!

            Suara drum begitu terdengar jelas.

“Kenapa kita jadi ke tempat bazar lagi sih Veeeee….,”

“sebelum kita liat band nya, kita cari cemilan dulu ya sayang,”

“Makanan lagi makanan lagi…gak kenyang ya Ve? Itu ntar pipi kamu meledak,”

“Habis aku gak tahan liat makanan yang enak-enak disini,”

“yeee…dasar bakpao!” ucap Deva sembari mencubit pipi Ve, kemudian ia kabur

“HEY! Hiiiiiiihhh devaaaaa!”

Sementara itu di suatu tempat yang tidak jauh dari sana…

“Ini kembaliannya,”

“Oke, thankyou ya yup. Eh ngomong-ngomong kamu beneran niat ya ikutan bazar di event ini? Padahal waktu kemarin-kemarin gak ngasih tau dulu tuh,”

“ahaha, enggak kok, Shania sendiri kamu sendirian datang ke event ini?”

“yee…belum di jawab udah main nanya aja,” timbal Shania

“Hahaha, ya soalnya ini bukan warung crepes punya aku, tapi ini punya temen aku shan,”

“Oh…,”

“yah, kalau aku sih datang sendirian, lagian aku juga baru datang tadi kok,” lanjutnya

“Wah crepes!” ucap seseorang di belakang Shania

“Eh kak Veranda juga datang ke event ini yah,” ucap Shania

“Ah Shania, ternyata kamu…,”

“Silahkan di pilih kak, rasa yang kakak suka pasti ada disini,” ucap Yupi

“umm…,” Ve menggembungkan pipinya sembari melihat-lihat

“Hah…Hah…Hah…,”

“Loh, Deva!?” Shania langsung melihat ke sampingnya

“Capek! Ya ampun ve, kenapa malah lari kesini sih!”

“Eh-eh sayang, beli crepes ya!”

“S-Sayang!?” batin Shania

“yah tunggu sebentar aku capek!”

Deva memegang kedua lututnya sambil menghela nafas.

“Beli yang rasa blueberry yah,”

“Oke kak,” ucap Yupi

“ya ampun…hah…main beli aja,” Deva sedikit mengangkat badannya

“EK! S-Shania!” ucap Deva

Shania hanya diam saja sambi melihat ke arah Deva.

*Krek-Krekeeeeezzzz!

“Whaaa! K-kenapa crepesnya malah di ancurin shan!?”

Shania baru saja menghancurkan crepes itu dengan tangannya sendiri seperti meremukannya.

“AH!” Shania yang baru menyadarinya terkejut

“Aduh! Eng…umm…tangan aku reflek kayaknya,”

“Reflek apaan lagi…,” ucap Deva

“Y-yah, kalau gitu gw pergi dulu ya dev, bye…,”

Shania pun pergi dari tempat itu.

*

*

*DEG!

            Suara jantung yang berdegup keras.

“Kenapa…Kenapa lebih sakit hati dari biasanya, padahal aku udah sering ngalamin hal kayak gini, bahkan di kelas…,”

            ~oOo~

“Ini crepes blueberrynya kak,”

“Makasih ya, nih…ambil aja kembaliannya,”

“Loh, seriusan kak?”

“Iya-iya,”

Ve langsung melahap crepes itu di tempat.

“Ngomongnya buat cemilan nanti pas nonton band, taunya di abisin langsung disini,”

“Gak apa-apa, nanti aku bisa makan yang punya kamu kan sayang,”

Deva terdiam…

“Kamu ini udah kayak hamster Ve, bisa nyimnpen makanan di pipi…,”

“Biarin! Gini-gini juga kamu sayang kan?”

“Wah-wah, kakak ini kayaknya gak mau kehilangan Deva yah,” ucap Yupi

“Itu pasti! EH!” Srontak Ve langsung menutup mulutnya

“Kehilangan-kehilangan apaan, kamu bisa alay juga yup,” balas Deva

“Huss! Kamu tuh yang alay sama kak Ve! HAHAHA!” ledeknya

“Eits-eits, kamu bakalan tau sendiri kalau nanti punya cowok,” ucap Ve

“Apalagi yang baiknya sama kayak deva, Hihi…,” Ve memeluk tangan Deva

Yupi pun terdiam.

“I-iya, emang bahagia kalau cowok yang kayak gitu ada di sisi aku,”

“Hemmm, pasti udah punya gebetan kan?” ledek Ve

“Ek…gak ada kak, hehe…,”

“Jangan bohong, kamu itu kalau gak di poni cantiknya ekstreme, tapi kalau di poni jadinya lucu, iya kan dev?”

“Haaa! Deva kemana!”

“Dia udah pergi dari tadi kak,” balas Yupi

“Heeeeh!” Ve geram

~oOo~

“Huh, udah semua tempat aku datengin,”

“Ternyata ramenya karena bazar doang,”

Wanita itu melihat-lihat kesekitarnya.

“Gak ada kursi kosong lagi…,”

“yang disebelah sana ada orangnya, tapi cewek sih. Hem…,”

Ia pun menghampiri orang yang duduk di kursi tersebut.

“Loh, Shania!?”

“A-Ah, Sinka,” balasnya

“Kamu dateng kesini juga ya,” tambahnya

“Kamu sendiri dateng juga kesini,” timbal Sinka

“Dari awal kan aku emang niat mau dateng,”

“Hem, gitu ya,”

“yah, sayangnya gak terlalu seru acaranya menurut aku,” lanjut Sinka

“Serunya emang karena bazarnya, tapi nanti acara puncaknya pasti seru kok,”

“Acara puncak?”

“Iya, nanti kan acaranya puncaknya kembang api, kamu gak liat brosurnya yah,”

“Eh, aku baru inget deng,”

“Sini-sini duduk,” Shania sedikit begeser

Kini mereka duduk bersebelahan.

“Bareng lidya ya?”

“ya enggak lah sin, dia pasti lagi ngurus-ngurus acaranya bareng-bareng anak osis yang lain,”

“Oh iya ya, lupa…,” ucap Sinka sembari menepak jidatnya

“Kamu sendiri? Bareng Deva?”

“D-Va?” timbal Sinka

“ya kali aja gitu, hehe…,” ucap Shania sembari menyenggol Sinka

“Kayaknya kita harus ganti topik pembicaraan, karena aku lagi gak mau denger kata D-Va,”

Raut wajah Shania langsung berubah menjadi sedikit takut dan terheran.

“Y-yah, oke deh…,” ucap Shania

Mereka berdua terdiam sejenak.

“umm…tinggal 1 jam lagi menuju acara puncak,”

“Hmm? Sekarang jam berapa emang shan?”

“Jam 11 malem,”

“What!? Udah jam 11!?”

“Iya, Jam aku pas kok gak ngaco,”

“Enggak bukan gitu, maksud aku tuh aku baru sadar sekarang jam 11. Padahal tadi aku kira masih jam 9 nan,”

“yaudah, mendingan sekarang kamu temenin aku sampai jam 12 nanti sin,”

“Oke deh,”

~oOo~

Jam 23.55 Malam…

(Suara alunan musik akustik yang terdengar lembut)

“Ve,”

“Ah, iya sayang?”

Deva mendekati Ve lalu berbisik. “Ikut aku sebentar,”

“Eh…,” Ve hanya menurutinya

Deva pun membawa Ve ke suatu tempat. Tempat dimana tidak ada seorang pun yang datang kesana.

Deva seperti membawa Ve ke belakang area bukit dan jauh dari area Event tersebut.

“Kayaknya disini pas…,” ucap Deva

“umm…eng…,” wajah Ve memerah

“A-Anu dev…aku malu…apa kita bisa ngelakuinnya pas nanti di rumah,” ucap Ve

“Gak bisa,”

“Gah! J-Jadi kamu mau ngelakuinnya disini…,” Ve langsung memegang dadanya yang berdebar-debar

*Syung!

JDAR! JDAR! JDAR!

            Kembang api yang baru saja di luncurkan ke atas, begitu terang dan berwarna-warni seperti pelangi. Pemandangan langit malam yang begitu indah bila di lihat dari atas bukit.

“Ve,” Deva memegang kedua pipi Ve

“Ek! Ak-Aku…aku udah siap Dev,” Ve memejamkan matanya

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,”

“eng…,” Ve sedikit membuka matanya

*Syung…JDAR!

“Aku mau…,”

“Aku mau kita ciuman dev,” baitn Ve

“Aku mau kita putus…,” lanjutnya

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

2 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s