Breakers, The Super-Powered Agent: Prologue Page 7

title-7

 

Ridwan langsung menahan tubuh Michelle dan menyandarkannya di sebelahnya, kemudian Ia berdiri dan menatap tajam ke arah Erik.

“hebat juga lo. Udah gue gebukin kek gini masih kuat berdiri aja”ucap Erik.

“hajar dia oy”perintah Erik kepada teman-temannya.

Asep dan Rivan mulai maju sambil melancarkan pukulan kearah Ridwan. Tapi dengan mudahnya Ridwan menghindari pukulan tersebut.

Buakk

Duaagg

Ridwan melepaskan pukulan kearah tengkuk Asep dan Rivan secara bergantian dan mereka pun langsung jatuh pingsan.

“apa ?”Erik tidak mempercayai kejadian barusan.

“sialan lo”ucap Erik.

Whuuuk

Hap

Erik langsung memukul Ridwan dengan Bat bisbol dan Ridwan langsung menahannya dengan tangan kirinya.

Krakk

Ridwan merebutnya dan mematahkan Bat Bisbol tersebut dengan remasan tangan kirinya.

“ini tidak mungkin”Erik mulai ketakutan.

“oy, Den. Bantu gue”teriak Erik.

Deden pun mulai berlari sambil melancarkan sebuah tendangan. Tapi Ridwan berhasil menangkap kakinya dan deden langsung Ia lemparkan hingga pingsan menghantam sebuah pohon.

Kini tinggal Erik seorang. Tubuhnya mulai bergetar karena Ia merasakan ketakutan.

“lo jangan pernah ganggu Dia lagi”ucap Ridwan.

Ridwan masih menatap Erik dan tangannya Ia kepal-kepalkan sampai terdengar suara jemari tangannya.

“aahh… gue gak takut”teriak Erik yang berlari kearah Ridwan sambil melancarkan pukulan lurus ke wajahnya.

Hap

Ridwan menangkap tangannya dan langsung meremas pelan tangan Erik.

Krak

Terdengar suara retakan dari tangan Erik.

“aaaa…sakit”teriak Erik.

“hari ini gue berikan lo kemudahan. Tapi lain kali. Mungkin bukan Cuma tangan lo doang. Semua tulang lo akan gue patahkan”ancam Ridwan.

Erik pun mulai merinding mendengar ucapan barusan. Ia langsung berlari meninggalkan teman-temannya yang terjatuh pingsan karena Ia merasa sangat takut. Apalagi tatapan dingin yang Ridwan perlihatkan seakan mereror langsung ke dalam pikiran Erik. sedangkan Ridwan ingin segera pergi, tapi Ia menghampiri Michelle terlebih dahulu.

“untuk ciuman yang waktu itu, aku minta maaf”ucap Ridwan.

Michelle menatap Ridwan. Ia mulai mengingat kejadian itu lagi dan wajahnya berubah merah karena malu dan rasa marahnya mulai tumbuh kembali. Michelle berusaha berdiri. Lalu…

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”Ridwan tiba-tiba merasakan sakit dikepalanya dan Ia berteriak dengan sangat keras.

“Apa ini ?”ucapnya.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”erangnya kesakitan sambil memegang kepalanya.

Michelle yang melihat itu segera menghampirinya dan ada rasa khawatir kepadanya.

“kamu kenapa ?”Tanya Michelle yang mulai khawatir.

“Kepalaku, Kepalaku seperti mau pecah”batin Ridwan.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaa”

Gubbrraaaakkk

Tiba-tiba Ridwan terjatuh pingsan. Michelle yang panik mulai mengirim pesan kepada teman-temannya untuk membantunya.

Tak lama kemudian Grace dan Sisca datang. Lalu mereka langsung membantu Michelle membawa Ridwan ke ruang UKS. Mereka juga memanggil siswa lainnya untuk membantu membawa teman-teman Erik yang jatuh pingsan.

Kini Ridwan terbaring di UKS. Michelle dan teman-temannya sengaja menunggunya di dalam. Di sana  juga ada Veranda yang menjabat sebagai ketua PMR. Tapi Veranda segera meninggalkan mereka karena Ia dipanggil oleh Guru.

Grace dan Sisca merasa aneh dengan kejadian yang menimpa Michelle apalagi murid pindahan juga bersamanya. Michelle pun menceritakan kejadian barusan dari awal sampai akhir.

“aku sudah tidak tahan”ucap Michelle yang tertunduk lesu. Wajahnya mulai menunjukkan kesedihannya kembali.

Grace dan Sisca langsung memeluk Michelle dan berusaha menenangkannya.

“kamu kuat Le, aku yakin. Pasti ini akan segera berakhir”ucap Grace mencoba menghibur Michelle.

“Iya Le, aku juga yakin. Pasti ini akan segera berakhir. Kamu harus kuat ya Le”Sisca menambahkan.

Michelle membalas pelukan kedua temannya dan mulai menangis.

FLASHBACK ON

Disebuah Sekolah Dasar. Terlihat seorang anak laki-laki sedang berjalan untuk pulang sekolah. Tapi teman-temannya menghalanginya dan mengejek-ejeknya.

“Anak yang enggak punya orang tua. Pergi sana. Jangan-jangan kamu bukan manusia”ucap salah seorang anak kepada anak laki-laki itu.

“aku manusia”teriak Anak laki-laki itu.

“manusia apanya ? jelas-jelas kamu bukan manusia”timpal anak lainnya.

Kemudian mereka semua melempari Anak itu dengan batu dan salah satu lemparan berhasil mengenai dahinya dan membuatnya berdarah. Tapi itu semua tidak menghentikan anak-anak itu untuk melempari batu.

“cukup”

Tak lama kemudian datang seorang anak perempuan dan berusaha melindunginya.

“kamu apa-apaan sih Chell, dia itu bukan manusia”ucap salah seorang anak laki-laki kepada perempuan yang ternyata adalah Michelle Kecil.

“jelas-jelas dia manusia. lihat kepalanya berdarah akibat kalian lempari. Aku laporin guru”ucap Michelle.

“ah…. Gak asik ah. Yuk ah pulang”kemudian mereka semua pulang terkecuali Michelle dan anak laki-laki yang dilempari batu.

“Rifall, kamu tidak apa-apa kan ?”Tanya Michelle sambil menghampiri Rifall.

“tidak, aku tidak apa-apa. Cuma luka gores doang kok”jawab Rifall.

“yakin kamu gak papa ?”Michelle kembali meyakinkan.

“iya, aku tidak apa-apa. Makasih ya Le”ucap Rifall.

“iya, yuk kita pulang”ajak Michelle.

Kemudian Michelle dan Rifall pulang bersama. Walaupun rumah mereka berjauhan. Tapi Rifall selalu mengantarkan Michelle pulang terlebih dahulu.

FLASHBACK OFF

Keadaan Ridwan mulai membaik. Ia mulai siuman dari pingsannya.

“kamu sudah sadar ?”Tanya Michelle kepada Ridwan.

“hai”ucap Grace dan Sisca sambil melambaikan tangannya kearah Ridwan.

Ridwan tidak menanggapi mereka bertiga. Ia menatap lurus kearah langit-langit dari tempatnya terbaring.

“dimana aku ?”tanya Ridwan.

“ruang UKS”jawab Michelle.

“hadeeh…sudah saatnya kamu bangun. Kupikir kamu akan tidur selamanya”lanjutnya.

“syukurlah kamu tidak apa-apa. Aku sangat khawatir kalo kamu tidak bangun”tambah Michelle.

“Khawatir ?”respon Ridwan

“itu, aku minta maaf, tidak bisa membantu apapun ketika Erik mukulin kamu”ucap Michelle.

“aku berniat nolongin kamu. Tapi malah kamu yang jadi nolongin aku”lanjutnya.

“Jangan khawatirkan itu”ucap Ridwan datar.

“eh ?”respon Michelle.

“aku tidak mengharapkannya”lanjut Ridwan.

“apa maksudnya ? kamu ini suka banget ya bikin aku marah”ucap Michelle sambil memalingkan wajahnya dan memasang wajah cemberut.

“hahahaha….kamu ini emang gak bisa ngomong sama cewek ya”sindir Grace kepada Ridwan.

Ridwan tidak menanggapi perkataan Grace barusan. Ia masih saja melihat ke langit-langit dengan tatapan dinginnya.

“sekarang aku ingat semuanya. Tentang perempuan ini dan masa kecilku juga dan tentang nama palsu ku dulu”ucap Ridwan dalam hati.

“tapi kenapa  aku bisa melupakan semuanya ?”lanjutnya.

Sisca hanya tertawa melihat Grace yang diperlakukan acuh oleh Ridwan.

“oh iya, aku pulang duluan ya”ucap Sisca berpamitan.

“loh kok gitu sih ?”ucap Michelle.

“mamah aku udah nunggu di depan”ucap Sisca.

“aku juga ya, jemputan aku juga udah datang”ujar Grace.

“oh yaudah deh. Hati-hati dijalan ya”ucap Michelle.

Grace dan Sisca pun pergi dari Ruang UKS menuju gerbang sekolah. Sampainya disana mereka masuk ke dalam mobil jemputan masing-masing dan pulang ke rumahnya.

Sementara itu di UKS. Keadaaan hening, tidak ada yang memulai pembicaraan diantara Ridwan dan Michelle.

“kamu sudah baikan, jadi aku pulang aja ya”ucap Michelle. Ia beranjak dari kursinya. Tapi Ridwan langsung menahan tangannya.

“maaf ya Le, aku sudah melupakanmu”ucap Ridwan pelan.

“eh ?”Michelle langsung menengok kembali ke arah Ridwan.

“panggilan itu hanya Grace dan Sisca yang tau”ucap Michelle.

“iya aku tau. Tapi, aku yang pertama kali memanggilmu seperti itu”ucap Ridwan yang masih melihat ke langit-langit.

Kini Michelle merasa heran. Ia berpikir perasaannya yang selama ini berpikir jika Ridwan adalah Rifall itu benar.

“Kamu Rifall kan ? kamu beneran Rifall kan ?”Tanya Michelle sambil menutupi wajahnya yang mulai menangis.

“Iya, dulu aku memang Rifall. Sekarang aku sudah mengingat semuanya.”ucap Ridwan.

“sudah kuduga. Aku sudah yakin kalo kamu adalah Rifall.”ucap Michelle yang masih menangis.

“iya tapi itu dulu. tolong jangan panggil aku dengan nama itu lagi”ucap Ridwan.

“akhirnya aku bertemu juga denganmu. Selama ini apa yang kamu lakukan ? kamu berada dimana ?”ucap Michelle.

Ridwan mengambil posisi duduk dan langsung mengusap lembut kepala Michelle.

“maaf, aku sudah melupakanmu”ucapnya.

Michelle langsung memeluk Ridwan dan Kini Ia hanyut dalam perasaannya. Rasa senang bertemu kembali dengan teman masa kecilnya membuatnya mengeluarkan air mata kesenangannya dan perasaan ingin bertemu dengannya akhirnya tecapai juga setelah beberapa tahun menunggu.

Ridwan tidak tau apa yang harus Ia lakukan. Ia membiarkan Michelle memeluknya tanpa membalas pelukannya.

Setelah Michelle berhenti menangis. Ia banyak menanyakan pertanyaan kepada Ridwan dan selama berjam-jam mereka mengobrol diruang UKS sampai lupa waktu.

“kamu kok Cuma oh oh sama hmm hmm doang sih jawabnya”ucap Michelle yang sedikit kesal karena sifat irit bicara Ridwan.

“sudah malam. Sebaiknya aku antarkan kamu pulang”ucap Ridwan sambil turun dari kasurnya.

“eehh…. Kok sudah malam sih. Aku kan masih ingin berbicara denganmu”ucap Michelle.

“besok disekolah”jawab Ridwan. Ia langsung berdiri dan berjalan gitu aja ninggalin Michelle di UKS.

“tunggu”Michelle mengejar Ridwan.

Selama perjalanan Michelle selalu menceritakan kisahnya selama SMP dan kejadian ketika pertama kali bertemu dengan Grace dan Sisca sampai mereka berteman baik. Tapi Ridwan tidak merespon perkataannya Ia seakan tidak peduli dengan ucapan dari Michelle.

“dari tadi kamu diem mulu sih”Ucap Michelle sambil memasang wajah cemberut.

“sudah sampai, ini kan rumahmu ?”ucap Ridwan.

“iihh… kamu dengerkan ?”ucap Michelle Kesal.

“besok disekolah”Ridwan hanya meresponnya dengan ucapan itu.

“hummmpp….iya deh. Terserah kamu”ucap Michelle. Saat ini Ia tengah senang sekali karena bisa bertemu dengan teman masa kecilnya walaupun banyak sekali perubahannya.

Tapi kesenangan itu mulai hilang ketika Ia memasuki pekarangan rumahnya. Ibunya sudah menunggu di depan pintu dengan wajah khawatir, sedangkan Ayahnya terlihat sangat marah sekali dengan kelakuan Michelle. Mungkin Erik sudah cerita kepada Ayah dan Ibunya tentang kejadian tadi disekolah.

Sedari tadi Ridwan memastikan Michelle masuk rumahnya dengan selamat dan Ia juga mendengar percakapan ketika Ayahnya memarahi Michelle dengan keras.

Setelah Michelle masuk. Ridwan mendapatkan pesan dari Ketua Black Crows.

><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><> 

 

Pukul 20.30 di markas Black Crows terlihat beberapa Agent sedang memberikan laporan kepada Ketua Black Crows yaitu Mozsai Prasetya. Karena Breakers yang tersisa hanya Ace. Mereka jadi kebanyakan mengamati perkembangan wilayah-wilayah di Indonesia ada juga yang mengamati kriminalitas dan masih banyak yang lainnya.

“Lapor Pak, Code 01: King. terlihat Di Istana Presiden tadi Siang”ucap salah satu Agent Informan.

“baiklah lanjutkan pencariannya”ucap Mozsai.

“Siap Pak”ucap Agent Informan sambil memberi hormat.

“Apa Ridwan sudah bertemu kembali dengan Sepupuku atau belum ya ?”ucap Mozsai dalam hati.

Setelah Agent Informan tadi pergi, kemudian datang lagi salah seorang Agent Informan. Ia adalah perempuan yang umurnya sangat muda. Tapi dengan datangnya orang itu, Mozsai terlihat sangat kaget.

“Apa yang kamu lakukan disini ?”Tanya Mozsai.

Krriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnggg

Tiba-tiba terdengar suara alarm tandanya ada seorang penyusup atau ada orang yang menyerang.

“Sepertinya para bawahanku sudah mulai menyerang..hahaha”ucap Informan perempuan yang datang itu.

“Ciiihh…sial..bagaimana kamu bisa masuk kesini tanpa ketahuan ?”Tanya Mozsai kepada Informan Perempaun itu.

“aduh Pak tua ini. Untuk apa aku memberitahu kepada orang yang akan segera mati”ucap Informan Perempuan itu.

Selagi Mozsai mengajaknya Bicara. Ia sudah menyiapkan sebuah Pistol dibelakang punggungnya.

“cukup Queen. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untukmu”ucap Mozsai.

“Ayolah, dimana kamu menyimpan informasi tentang Manarium Stone ?”Tanya Informan perempuan itu yang ternyata adalah Code 02: Queen.

“aku sudah menghapus semua datanya. Aku sudah tidak ingin melakukan operasi itu lagi”ucap Mozsai.

Duaarrr

Duaarrr

Disisi lain bawahan dari Queen sudah memulai serangan kejutannya. Banyak Agent yang mati dan sebagian dari Markas Black Crows sudah hancur.

Mozsai langsung menodongkan Pistolnya kearah Queen. Tapi…

Syuut…

“bodoh, kau kan yang mencipatakan Breakers tapi tidak tau dengan kemampuannya”ucap Queen yang tiba-tiba sudah berada di belakang Mozsai.

Mozsai terlihat menyeringai dan langsung menekan sebuah tombol yang berada di sisi Pegangan Pistol Miliknya. Kemudian Ia berlari dan melemparkannya kebelakang dengan sangat hati-hati.

Blaaaarrr

Pistol tersebut meledak dan berhasil melukai Tangan Queen walaupun Ia sudah menghindar.

“Sialan kau Pak Tua”Queen mulai geram. Kemudian Ia memunculkan Weapon Core-nya

Srink

Muncullah beberapa pisau yang mengeluarkan cahaya berwarna biru dan melayang di sekitar Queen. Queen langsung menggerakan tangannya seolah sedang melemparkan sesuatu. Lalu…

Srenk

Srenk

Pisau-pisau tersebut melesat kearah Mozsai dengan sangat cepat.

Zrrrrrrrrtttt

Mozsai menekan sebuah tombol di jam tangannya dan muncullah pelindung listrik dari tangannya sehingga berhasil menahan pisau tersebut.

Diwaktu yang sama Queen sudah berada dibelakang Mozsai dan langsung menjambak rambutnya kemudian mengangkatnya keatas.

Duaaagh

Queen melakukan beberapa pukulan ke wajah Mozsai sampai darah segar keluar lukanya.

“cepat katakan dimana ?”bentak Queen.

“maaf ya Queen. Tidak maksudku, Naomi. Waktu itu aku tidak bisa menyelamatkan orang tua mu”ucap Mozsai. Ia meraih tangan Queen yang menjambaknya dan memegangnya.

“diam kau. Jangan bawa-bawa orang tua ku”ucap Naomi dengan nada keras.

Duaagg

Satu pukulan terakhir di perut Mozsai oleh Naomi dan Mozsai langsung dilemparkannya hingga menghantam sisi tembok.

Mozsai yang dalam keadaaan sekarat, mengambil HP nya dari saku celana dan terlihat sedang mengotak-atiknya.

“aku harap kalian bisa melakukannya”satu kata terakhir yang keluar dari mulut Mozsai, kemudian Ia mati sambil tersenyum.

Duaarrr

Duaaarr

Blaaarrr

Dengan meninggalnya Mozsai. Seluruh Markas Black Crows hancur dengan sendirinya dan semua data-data terhapus secara otomatis juga tidak bisa dipulihkan.

Tap

Tap

Tap

Ditengah meledaknya Markas Black Crows. Datanglah seseorang dengan pakaian putih berjalan mendekati Naomi. Kemudian Naomi mulai berlutut kepada orang yang datang itu.

“maaf Professor, aku tidak bisa mendapatkan Datanya”ucap Naomi.

“tidak apa-apa. Kamu sudah berkerja dengan baik”ucap Orang yang dipanggil Professor itu.

“Ayo kita pergi sebelum bangunan ini hancur semuanya”ucap Professor sambil berjalan untuk meninggalkan Markas yang sedang mengalamai proses ledakan ini dan Naomi mengikutinya dari belakang.

Pagi hari pun tiba. Kini siswa dan siwi SMA 4869 Jakarta sudah berada dikelasnya masing-masing dan menunggu Guru seperti biasanya. Akan tetapi di kelas XI IPS 1 lima orang siswa tidak masuk. Mereka semua adalah orang-orang yang dihajar oleh Ridwan kemarin sore dan Michelle yang tidak ada keterangan sama sekali.

Grace dan Sisca sungguh mencemaskannya karena semua pesan yang dikirim tidak ada yang dibalas juga ketika mereka menelepon selalu saja tidak diangkatnya. Willy juga demikian, tapi Ia sudah mengira-ngira alasan Michelle tidak ada disekolah.

“kok Michelle tumben yah kayak gini ?”Ucap Grace yang sudah cemas.

“iya, mending sepulang sekolah kita kerumahnya aja yuk”usul Sisca yang juga mencemaskan Michelle.

“Iya ide bagus tuh. Willy kamu mau ikut ?”tanya Grace.

“maaf, aku ada urusan”ucap Willy.

Selagi mereka mencemaskan Michelle. Tiba-tiba ada notif Line di HP nya Grace.

“loh, ini ada Line dari Michelle”ucap Grace yang melihat ke layar HP nya.

“mana coba aku lihat”ucap Sisca.

Michelle: “aku tidak apa-apa kok. Aku hanya demam. Kalian gak usah khawatir

“oh jadi Cuma demam ya”ucap Sisca dan Grace yang sudah merasa lega kembali.

Kemudian Grace membalas pesan tersebut.

Grace: “aku kira kamu kenapa-napa. Nanti sepulang sekolah aku dan Sisca kerumah mu ya”

Tapi tidak ada lagi balasan pesan dari Michelle.

“mungkin dia lagi tidur ya”ujar Sisca.

“iya mungkin”ucap Grace.

Sedangkan Willy yang membaca pesan tersebut merasa menemukan keganjilan dalam pesan yang Ia baca.

><><><><

Teng Tong Teng

Kini bell istirahat sudah berbunyi. semua siswa di kelas XI IPS 1 dengan terburu-buru nya pergi kekantin seperti zombie yang sedang kelaparan. Sementara itu Ridwan masih memiikirkan soal pesan yang dikirimkan oleh Atasan Black Crows yang berisi “Aku sudah tidak punya waktu lagi. Mulai saat ini hiduplah seperti yang kamu inginkan. Tapi aku minta satu hal kepadamu, Tolong Bebaskan rantai yang mengikat sepupuku dan lindungilah Dia. Aku mohon kepadamu”. Kira-kira seperti itulah isinya. Ia juga memikirkan Michelle yang saat ini tidak berada disekolah.

“oy lo kenapa Dhill ?”tanya Willy yang tiba-tiba berada dibelakangnya.

“bukan urusan lo”jawab Ridwan acuh. Ia segera pergi dari kelas dan berjalan menuju atap.

“sepertinya dia mulai kebingungan”ucap Willy dalam hati.

 

 

To Be Continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s