Beda Emang – Chapter One 

PROLOGUE.

Seorang pemuda terlihat sedang berdiri di sebuah jembatan panjang. Memandangi langit sore yang terlihat berwarna merah. Tatapannya nanar, wajahnya terlihat sedih dan air mata yang tak terbendung perlahan menetes dari kedua kelopak matanya.

Rintihan kecil terdengar dari mulutnya, terbawa oleh desir angin yang berhembus pelan menggoyang setiap dedaunan. Di tangannya terlihat sebuah photo kecil seorang gadis berambut panjang, mengenakan baju berwarna putih, dan gadis itu terlihat sangat cantik.

Hampir satu jam si pemuda berdiri di tempat itu hingga langit sore yang tadinya indah berubah murung dan gelap. Terlihat butiran air mulai turun dari langit, sepertinya langit ikut bersedih seperti apa yang dirasakan pemuda itu.

Dari jauh terlihat sebuah mobil berjalan cepat dan perlahan mendekati si pemuda. Ia langsung menoleh kearah dari mana mobil itu datang. Perlahan tangannya menyapu kedua matanya yang terlihat merah dan dengan cepat ia memasukkan photo yang dipegangnya tadi kedalam saku celananya.

Seorang lelaki paruh baya keluar dari mobil itu dengan berlari kecil sambil membawa payung berwarna hitam kearah si pemuda.

“Tuan, harinya hujan, mari pulang.” Lelaki tua itu berkata sambil memayungi si pemuda yang dipanggilnya tuan.

Pemuda itu menunduk, mengangguk pelan dan perlahan berjalan menuju mobil. Hujan semakin lebat saat mobil itu mulai berjalan, meninggalkan jembatan tua dan pepohonan yang tadi menemani si pemuda bersama kesedihannya.

~oOo~

Sebuah mobil mewah terlihat memasuki gerbang sebuah rumah yang besar. Setelah mobil itu masuk garasi, dari dalamnya nampak keluar seorang pemuda. Ia terlihat sedang mabuk, hingga berdiri saja ia hampir tak mampu.

Dari mulutnya tercium aroma alkohol yang menyengat hidung. Matanya merah, berjalan saja ia perlu bertumpu pada dinding hingga sampai menuju pintu.

Di dalam rumah, terlihat seorang pria berumur 40-an, duduk bersama wanita yang terlihat kurang lebih dengan pria itu. Wajah pria itu merah padam, menahan semua amarah yang sebentar lagi ia keluarkan.

Wanita di sampingnya hanya diam saja, dari wajahnya ia sudah tahu apa yang bakal terjadi bila pemuda mabuk itu masuk kedalam rumah.

Pemuda yang baru datang tadi terlihat menyentuh gegang pintu dan membukanya. Saat ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, sebuah benda terlihat melayang kearahnya.

Strike!, benda padat berwarna bening itu tepat mengenai perut si pemuda, membuatnya tersungkur dan mulai sedikit sadar dari mabuknya.

“Kamu datang dari mana Guntur?” Si pria berjalan mendekati pemuda bernama Guntur itu sambil berkacak pinggang. Tatapannya garang, seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.

Guntur terlihat mencoba menyadarkan dirinya dari rasa mabuk dan menjawab, “Habis dari luar Pah,” ucapnya dengan suara parau.

“Ini udah jam berapa Guntur? Kamu gak tau ini jam berapa?” Suara pria yang dipanggilnya Papah itu terdengar semakin tinggi.

“Kamu gak sadar kelakuan kamu yang begini bikin resah Mamah kamu? Kamu gak sadar?” Sebuah pukulan kembali melayang, kearah pipi Guntur yang sedari tadi tak mampu bangkit untuk berdiri.

“Kamu itu udah dewasa Guntur, de.. wa.. sa. Kalau kamu terus kayak gini, mau gimana hidup kamu?” Ayahnya sangat marah dengan semua kelakuan yang sudah dilakukan Guntur selama ini.

“Oleh karena kelakuanmu sudah keterlaluan, mulai hari ini kamu gak boleh memakai satu pun mobil yang berada di garasi. Semua kartu ATM kamu Papah sita. Biar kamu sadar, bahwa kamu sudah terlalu jauh melakukan kesalahan.”

“Dan satu lagi, mulai senin besok kamu kembali kuliah. Kalau kamu pergi ke kampus, kamu diantar sama Pak Anto. Kalau kamu mau semuanya kembali, kamu harus merubah kelakuan kamu!” perintah Ayahnya sembari pergi meninggalkannya menuju kamar.

Ibunya yang sedari tadi menyaksikan kejadian sekarang berjalan mendekatinya, memegang tangannya lalu menuntunnya untuk bangkit berdiri.

Guntur masih terlihat sempoyongan, berjalan sambil memegangi perutnya yang sakit akibat benda yang dilempar ayahnya tadi.

Ibunya terus menuntunya sampai masuk ke kamarnya, merebahkannya di atas ranjang, kemudian pergi meninggalkannya sendirian.

***

“What the fu**!!” Teriak Guntur saat berada di dalam kamar mandi. Air hangat yang keluar dari shower tak biasa meredam kekesalan Guntur kepada ayahnya. Wajahnya panas, tangannya menggenggam kuat dan dengan sekuat tenaga ia memukul dinding yang ada di depannya.

“Awww..” Rintihnya, setelah sadar apa yang sudah ia perbuat dengan tangannya sendiri.

Guntur terus berpikir, apa saja yang akan terjadi kalau ia tak bisa menggunakan mobil dan ATM-nya lagi. “Aarrrgghh!!” Ia kembali berteriak karena ia sadar, biar apapun yang ia pikirkan dan lakukan, ia tetap tak bisa membuat ayahnya berbaik hati dan mengembalikan semuanya kembali padanya.

Memang hanya ada satu-satunya jalan yang harus ia tempuh, harus merubah dirinya menjadi seorang anak yang baik, agar bisa mendapatkan semua yang sudah disita oleh ayahnya.

~oOo~

Di sebuah rumah yang megah, di dalam sebuah kamar yang terlihat hampir serba pink, terdengar alunan musik bernada lamban menemani seorang gadis cantik yang terlihat sedang tengkurep, asik membaca novel yang lumayan tebal di atas ranjangnya. Terlihat juga di sampingnya beberapa makanan ringan ikut menemani sang gadis.

Entah sudah berapa lama dia seperti itu, hingga gadis itu tak menggubris getaran dari ponselnya yang layarnya terlihat menyala beberapa kali.

Tiba-tiba dari luar kamar terdengar beberapa kali ketukan pelan di pintu kamarnya. Gadis itu berhenti membaca, menajamkan pendengarannya, lalu beranjak turun dari ranjangnya menuju pintu.

Seorang wanita berumur 30-an berdiri di depan pintu kamarnya, sambil menundukkan wajahnya.

“Ada apaan Bi?” Gadis itu bingung melihat pembantunya yang agak terburu-buru.

“Anu Non…, tadi di bawah ada telpon dari nyonyah, katanya tolong Non Ve ngangkat panggilan beliau.”

“Astaga.” Ve terlihat baru sadar bahwa ponselnya tadi sempat terdengar bergetar beberapa kali, “Ya udah Bi, makasih udah beri tahu,” ucap Ve lalu menutup pintu kamarnya.

Dia langsung berlari menuju meja belajarnya, mengambil ponselnya dan langsung menekan tombol dial untuk menelpon balik ibunya.

“Halo.., ada apaan Mah? Maaf, Ve keasikan baca novel, jadi gak sadar Mamah yang nelpon.” Ve meminta maaf kepada ibunya, lalu dari seberang terdengar jawaban dengan suara lembut seorang wanita.

“Iya sayang, gak papa. Mamah tau kok kamu lagi sibuk.” Ibunya sangat tahu apa aktifitas Ve yang mampu membuatnya tak menghiraukan sebuah panggilan, “Begini Ve, tadi papah kamu nelpon mamah dari Jepang, katanya berkas pendaftaran kamu semua udah masuk, jadi kamu tunggu panggilan aja lagi.”

“Ohh.., gitu yah. Bagus deh.” Ve terdengar bahagia karena dia tahu keinginannya dari kecil bakal terkabul. Kuliah di Jepang dan setelahnya menjadi desainer baju terkenal. Dia cukup tahu bahwa penghasilan sebagai desainer agak kecil, tapi karena itu adalah hobinya, jadi dia tak terlalu memikirkan akhirnya nanti.

“Ve, kamu masih di situ kan sayang?” Ibunya terdengar khawatir.

“I-Iya Mah, masih di sini kok,” jawab Ve terbata karena baru sadar ia sudah menghayal terlalu lama.

“Pasti kamu habis menghayal lagi. Udah, jangan dihayalkan dulu. pejalanan kamu masih panjang, sayang. berdo’a aja semoga kamu nanti dipanggil,” kata ibunya dari seberang.

“Iya Mah… Iya.” Ve hanya bisa mengiyakan ucapan ibunya.

“Ya udah, Mamah mau nyambung kerja lagi.” Ibunya terdengar hendak menutup panggilan itu.

“Bye.. Mamah, cepetan pulang ke rumah yah, aku udah laper nih,” ucap Ve sambil terkekeh.

“Iya sayang, nanti kalo kerjaan mamah di sini udah selesai, mamah pulang kok. Bye.. Sayang.”

Panggilan itu pun berakhir. Setelah meletakkan ponsel di atas meja, Ve kembali menuju singgasana indah miliknya. Ranjang nan empuk bersama novel yang tadi belum selesai ia baca.

~oOo~

Seorang pengendara motor sport terlihat menghentikan motornya di depan gerbang sebuah rumah yang besar. Setelah melepas helm, si pengendara langsung menekan tombol panggil di layar ponselnya.

Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya terdengar suara dari seberang. “Kamu udah di mana, Sayang?” Suara seorang gadis terdengar di speaker ponsel pengendara itu.

“Aku udah di depan rumah kamu, cepetan keluar, cuacanya panas banget.” Si pengendara terlihat kepanasan, karena di depan rumah si gadis tak ada tempat untuk berteduh.

Nama si pengendara adalah Sagha. Seorang pemuda ganteng yang sekarang sedang menjemput pacarnya, Shania. Yang tak lain adalah adiknya Guntur.

Di dalam kamar. Terlihat Shania sedang sibuk mencari baju yang pas untuk dipakainya jalan. Hampir setengah pakaian di lemarinya tergeletak tak berdaya di atas ranjang dan itu adalah pakaian yang tak ingin ia pakai.

“Dueehh…, kenapa sih gak ada yang pas buat dipakai.” Gerutu Shania sambil terus memilih-milih pakaian di lemari.

“Udah, pakai bikini aja, biar greget.” Terdengar suara Guntur nyeletuk di depan pintu kamar Shania, berdiri sambil menenteng gelas yang entah apa isinya.

“Ihh… Kakak, gak asik deh. Masa aku pake bikini jalan di Mall?” Wajah Shania merengut kesal.

“Ya kan asik. Sekali sekali kamu bikin sensasi gitu, trus masuk berita, di koran mungkin,” ucap Guntur sambil berlalu pergi.

“Kakaaaaaakkk!!!” Teriak Shania kesal.

Di luar rumah, Sagha terlihat kaget ketika mendengar teriakan Shania dari dalam kamarnya yang berada di tingkat dua. Dia hanya tersenyum.

Sagha sangat tahu kelakuan Guntur bagaimana kalau sedang bercanda dengan Shania. Pasti selalu membuat Shania kesal.

Hampir 30 menit Sagha menunggu, akhirnya dari depan pintu rumah terlihat Shania berlari kecil kearahnya.

“Lama amat sih, Yang? Udah hampir gosong nih nungguin kamu,” ucap Sagha sambil menyerahkan helm pada pacarnya.

“Ishhh.., buruan jalan. Keburu nyokap tau kalau aku mau pergi jalan.” Shania langsung melompat, duduk di atas bangku penumpang.

Setelah mendengar ucapan Shania, Sagha langsung menyalakan mesin motornya dan langsung memacunya meninggalkan tempat itu.

Di dalam rumah, dari jendela kamarnya terlihat Guntur sedang menyaksikan pelarian Shania bersama Sagha. Dia tersenyum, melihat kelakuan adiknya yang sekarang semakin nakal seperti dirinya.

Tapi, sekarang Guntur hanya bisa berdiam diri di rumah saja. Tak ada alasan tepat yang bisa membuatnya untuk keluar rumah, karena sekarang ia sedang menjalani hukuman.

Di dalam keheningan itu, tiba-tiba ponsel Guntur berbunyi. Sebuah nada panggilan terdengar, membuat ia langsung bergerak menuju tempat benda itu berada.

Ketika Guntur mengangkat panggilan itu, dari seberang terdengar suara gaduh. “Halo…, ada apa Rez?” tanya Guntur sambil menajamkan pendengarannya.

“Gun, buruan kemari! Ical kecelakaan.”

“What?!”

Iklan

Satu tanggapan untuk “Beda Emang – Chapter One 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s