Dua Sisi Rembulan

Siang itu seperti biasa aku mendatangi kelas Lidya untuk mengajaknya pulang. Dan seperti biasa juga dia mengomeli ku karena sedikit terlambat.

“Aduh sandy kamu tuh lama banget sih! Aku udah 15 menit nih nungguin kamu” ujarnya kesal.

“Iya maaf Lid, tadi aku dipanggil guru” balasku.

“Ah kamu tuh alasan aja, yaudah ayo pulang” ujarnya lagi. Kami segera menuju mobilku yang berada di parkiran sekolah.

Namaku Sandy, seorang pelajar kelas 3 SMA dan wanita yang baru saja aku jemput tadi adalah Lidya, pacarku. Kami sudah hampir setahun berpacaran. Hubungan kami baik-baik aja, namun aku kadang jengkel dengan sikapnya yang menuntut aku untuk ini itu. Tapi walaupun begitu aku tetap mencintai dia apa adanya.

“Hari ini mau kemana?” tanyaku pada Lidya

“Kita ke mall yang biasa aja, aku mau cari sesuatu” balasnya

“Baiklah” jawabku cepat

Aku mulai memacu kendaraanku menuju tempat yang dimaksud Lidya. Sesampainya ditempat tujuan, aku memarkirkan kendaraanku. Setelah itu kami mencari lift menuju lantai 3 dan mulai berkeliling.

 

Berjalan mengekor, memuji barang yang ia pilih dan membawakan belanjaannya adalah hal yang biasa kulakukan saat menemaninya belanja. Mungkin terlihat seperti aku ini pembantunya dan bukan pacarnya tapi tak mengapa bagiku karena aku menyayanginya.

 

Lidya memang sering sekali membuatku jengkel, cemburu dan lain sebagainya. Tapi ia juga bisa membuatku tersenyum bahagia saat melihat wajah manisnya. Senyumannya itu sungguh membuat hatiku nyaman. Itulah mengapa aku mempertahankan hubunganku dengannya meskipun aku harus banyak berkorban.

 

Waktu terus berlalu dan merubah segala hal. Detik jadi menit, menit jadi jam, jam jadi hari dan seterusnya. Seiring berjalannya waktu aku mulai merasa akhir-akhir ini ada yang aneh dengan perilakunya. Belakangan, dia tidak ingin ku jemput, tak ingin pergi denganku bahkan pernah ia memintaku agar tak menemuinya sementara waktu. Aku memang merasa aneh dengan sikapnya itu tapi aku berpikir bahwa mungkin ia membutuhkan waktu untuk sendiri.

 

Sehari, seminggu, sebulan telah berlalu dan Lidya masih saja bersikap aneh. Ia seolah-olah mengatakan, “Jangan temui aku lagi!” tapi aku tak menghiraukannya. Namun didalam kepalaku muncul sebuah pertanyaan, kenapa? Kenapa dia bersikap seperti itu? Aku tak tahu jawabannya.

 

“Apa dia punya orang lain yang ia cintai?” hal itu tiba-tiba saja terlintas dipikiranku. Ingin ku abaikan saja pikiran itu tapi tak bisa. “Aku akan mengikuti Lidya sepulang sekolah nanti,” ujarku di lorong koridor sambil berjalan menuju kelas. Saat berjalan, aku merasa ada yang mengikutiku. Aku menoleh tapi tak menemukan siapapun disana. “Sudahlah mungkin cuma perasaanku saja,” gumamku pelan.

 

Sepulang sekolah sesuai rencana aku mengikuti Lidya untuk mencari tau apa yang membuatnya berubah. Tak ada yang aneh selama aku membuntutinya, ia hanya menyusuri menuju rumah. Tapi tak lama dia berhenti didepan sebuah cafe. “Apa yang dia lakukan?” aku bertanya-tanya. Lalu dari arah lain aku melihat seorang lelaki datang menghampiri Lidya. Mereka bertegur sapa dan berbincang-bincang sedikit.

 

Tunggu dulu.. Aku seperti mengenalnya.. Ah! Dia itu kan John, teman Lidya semenjak kecil. Ada perlu apa dia dengan Lidya? Aku semakin bingung. Belum sempat aku menerka-nerka apa yang mereka lakukan disini, tiba-tiba saja…. Lidya memeluk dan memberikan sebuah kecupan di pipi John.

 

“APA?!” aku tak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Tubuhku seperti membatu. Aku tak tau harus bagaimana, hatiku terasa hancur berkeping-keping. Jadi ini alasan mengapa dia tak mau menemuiku lagi? Baiklah kalau memang itu yang dia mau, kataku membatin. Setelah itu aku segera pergi meninggalkan tempat itu.

 

*******

 

“Dia telah pergi” ucap John pada Lidya

“Baguslah. *Uhuk… Uhuk…*” balas Lidya diselingi batuk tanpa henti

“Apa kamu yakin ini adalah yang terbaik untuknya?” tanya John

“Iya John, lebih baik begini daripada ia tau kenyataan sebenarnya. Aku tak tau akan sesedih apa dia jika mengetahuinya” jawab Lidya

“Baiklah kalau itu keputusanmu”

“Makasih ya John” ucap Lidya pelan

“Iya Lid, kapanpun kamu butuh aku. Nah sekarang ayo pulang, kondisimu mulai memburuk” ujar John

“Iya John”

belum sempat mereka melangkahkan kaki tiba-tiba…..

 

*******

 

Sesampainya di rumah, aku mengurung diri di kamarku. Mencegah agar amarahku ini tak berdampak buruk bagi seisi rumah. Biarlah aku saja yang menanggung beban ini seorang diri. Maklum saja saat emosi aku kadang tak bisa mengendalikannya dan tak jarang menyakiti orang lain. Makanya aku memilih mengurung diri saat sedang marah. Seharian penuh aku mengurung diri di kamar. Mencoba menenangkan diri dan membiarkan amarah ini pergi. Aku tak ingin bertemu dengannya untuk waktu yang lama. Bahkan mungkin selamanya.

 

Keesokan harinya, sekolahku mulai menerapkan jadwal belajar yang baru sebagai persiapan menghadapi ujian akhir. “Baguslah, dengan begini aku bisa melupakannya dengan mudah” gumamku. Pelajaran pertama pun dimulai, aku berusaha fokus pada pelajaran dan persiapan ujian kelulusan. Itulah yang aku fokuskan sekarang.

 

Hari berlalu begitu saja. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ujian kelulusan sudah selesai ku lalui dan sekarang hanya tinggal menunggu hasil jerih payahku dalam belajar. Selama itu, aku tak pernah sekalipun bertemu dengan Lidya lagi. Jangankan bertemu, mendengar kabarnya saja tidak pernah lagi. Itu sedikit membebani pikiranku, kemana dia?

 

Ahh sudahlah, aku tak mau memikirkannya lagi. Kejadian waktu itu benar-benar membuatku terpukul. Tapi hati nurani tak bisa dibohongi. Sebenarnya aku rindu dengannya, ya walaupun dia telah menyakiti hatiku. Dengan waktu senggang setelah ujian yang begitu banyak, aku memutuskan untuk menemuinya dan berbicara padanya. Ini saatnya aku meminta kejelasan tentang kejadian waktu itu.

 

Kemana? Itulah kata yang terlintas saat aku akan mulai mencarinya. Kemana aku harus mencari dia? Karena sudah tidak sekolah lagi, aku tak bisa menanyai teman-temannya. Lagipula aku juga tak terlalu dekat dengan teman-teman Lidya. Ku buka gadget milikku dan mulai mencari beberapa kontak yang masih tersimpan. Untunglah ada beberapa kontak milik teman Lidya. Aku pun menanyai mereka satu per satu, tapi tak seorang pun dari mereka tau dimana Lidya sekarang. Seseorang dari mereka mengatakan bahwa Lidya sudah tidak masuk sekolah lagi sejak hari pertama persiapan ujian kelulusan.

 

“Tunggu dulu… Itu kan sehari setelah aku melihatnya mencium John! Jangan-jangan….” pikiranku melayang jauh entah kemana. “aku harus menemui John, dia mungkin satu-satunya orang yang tau dimana Lidya berada” kataku yakin. Karena Lidya tidak tinggal dengan orang tuanya kurasa orang tuanya pun tak tau apa-apa. Aku memang harus menemui John.

 

Ku raih kembali gadget ku dan mencari apakah Lidya pernah menyimpan kontak John disana. Benar saja dugaanku, Lidya juga menyimpannya disini. Tanpa pikir panjang lagi, langsung ku hubungi nomor yang tertera di gadgetku.

“Hallo… Dengan John?”

“Iya, ini siapa ya?”

“Ini gue, Sandy”

“Oh elo san, ada perlu apa?”

“John, lo tau dimana Lidya sekarang?”

“Ada apa? Kenapa baru cari dia sekarang? Bukannya waktu itu lo bilang dia wanita gak bener?”

Lo sendiri waktu itu ngapain ama dia? Pake pelukan segala, cium pipi pula.”

“Jadi lo mau tau alesannya? Oke fine, kita ketemu ditaman kota 1 jam lagi.”

Gue tunggu lo.”

“Jangan nyesel karna penyesalan lo gak akan ada gunanya”

“Hah?”

“…………” telfon pun terputus.

Apa maksud perkataan terakhirnya itu? Aku sama sekali tak mengerti. Ah sudahlah nanti dia juga menjelaskan semuanya saat bertemu. Aku pun bersiap-siap sebelum pergi.

 

Waktu perjanjian pun tiba. Aku bergegas pergi ke taman. Setibanya disana aku melihat seorang lelaki mengenakan jaket hitam, celana jeans hitam dan topi hitam duduk dibangku taman seperti sedang menunggu seseorang.

 

“Sini ikut gue” ujar laki-laki itu cepat. Aku hanya diam dan mengikuti setiap langkahnya. Selama dijalan dia tak bicara sepatah kata pun. Tak lama dia menghentikan langkah kakinya.

“Kita sampai” ujarnya

“Sampai?” kataku heran sambil melihat sekeliling

“Mau apa kita disini? Ini kan tempat pemakaman” aku makin kebingungan

“Coba lo liat batu nisan disebelah kaki lo.”

Aku menuruti perintahnya dan melihat ke sebelah kaki ku.

 

Lidya Maulida

 

Itulah tulisan pada nisan itu. Aku terperanga, tak bisa berkata apapun. Aku terpatung didepan nisan itu.

“Ini peninggalan darinya” ujar John sambil memberiku sebuah amplop

“Dia minta gue buat ngasih itu ke elo saat waktunya tiba dan gue rasa sekarang waktunya” tambahnya. Lalu dia pun pergi meninggalkanku.

 

Aku benar-benar terpukul dengan ini semua. Bagaimana bisa ini terjadi? Aku selalu melihatnya ceria. Memang kadang ia memasang wajah juteknya tapi dia lebih sering bersikap ceria. Namun hari ini aku sudah tak bisa melihat itu semua. Yang tersisa darinya hanyalah kenangan. “Amplop ini… Kira-kira apa isinya ya?” kataku seraya memandangi amplop peninggalan Lidya.

 

Aku mencari tempat teduh untuk membaca isi amplop ini. Setelah berteduh dan mendinginkan kepala sejenak, aku membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah peta dan kertas kecil bertuliskan “Temukan tempat ini ya!” dan ada juga tanda tangan Lidya dalam pesan itu. Aku melihat peta itu dan sepertinya familiar dengan tempat yang tergambar di peta.

 

Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku langsung menuju tempat yang ada di peta. Sesampainya disana, aku terheran-heran. “Lho ini kan danau tempat aku dan Lidya biasa menghabiskan waktu. Apa yang mau ia tunjukkan padaku?” gumamku. Aku melihat sekeliling danau. Mataku terhenti saat melihat sosok seorang wanita di sisi lain danau. Dia mulai berlari dan aku mengejarnya, namun aku tak bisa menyusulnya.

“Gila. Cepet amat larinya” kataku dengan nafas terengah-engah. Saat melihat kedepan aku kaget. Ada sebuah pola yang tersusun dari batang pohon secara alami membentuk gambar hati.

 

“Emangnya ada tempat seperti ini disini?” kataku terheran-heran. Saat melihat peta lagi, aku kembali terkejut. Pola itu persis seperti gambar yang ada di peta. Dan didekat pohon itu ada tanah yang sepertinya baru saja digali. Langsung saja ku gali lagi lubang itu dan aku menemukan sebuah kotak dengan tulisan diatasnya,

 

“For Sandy From Lidya”

 

Ku buka saja kotak itu yang memang ditujukan untukku oleh Lidya. Kotak itu berisi kaset rekaman dengan setiap kaset diberi tanggal yang berbeda. Karena penasaran segera ku bawa kotak itu beserta isinya pulang dan melihat apa yang ada di dalam kaset-kaset itu.

 

Sesampainya dirumah, aku segerea memutar kaset itu satu per satu dan melihat isinya. Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat.

“Lidya ternyata kau…” ucapku pelan saat melihat video itu. Ini seperti sisi lain dari dirinya, dia yang biasanya jutek, keras, bahkan terlihat tak peduli sama sekali tak terlihat dalam video ini. Dia begitu berbeda dan aku tak pernah melihatnya seperti ini. Dari semua kaset yang ada, mataku tertuju pada sebuah kaset bertanggalkan “29 Feb”. “Ini bukannya tanggal saat Lidya mulai tidak masuk sekolah ya?” pikirku. Ada juga sepucuk surat bersama kaset itu. Karena penasaran langsung saja ku putar kaset itu.

 

Di video terlihat sebuah kamar rumah sakit. Lidya sedang duduk diatas kasur dengan infus yang menempel ditangannya. Dia pun mulai berbicara.

Halo sandy sayang… Kaget ya liat video ini? Maaf ya sayang aku gak ngasih tau kamu tentang hal ini. Aku takut kamu terlalu mengkhawatirkanku dan jadi gak fokus dengan persiapan ujianmu. Aku cuma mau bilang beberapa hal sama kamu. Yang pertama aku mau berterima kasih sama kamu.

Kamu udah setia jadi pacarku selama setahun ini. Aku bahagia banget selama bersama kamu. Kamu udah jadi bagian hidupku yang sangat berharga. Walaupun sering aku jutekin dan suruh ini itu, tapi kamu tetep gak berpaling dari aku. I love you so much.

Yang kedua aku mau minta maaf. Maaf beribu-ribu maaf ya san karena aku gak cerita ke kamu soal kondisi aku. Seperti yang aku bilang tadi, aku gak mau kamu terlalu mengkhawatirkanku. Saat ini aku sedang mengidap penyakit kanker paru-paru stadium akhir. Dokter bilang umurku tak lama lagi. Mendengar itu aku merasa sangat sedih karena aku akan berpisah denganmu.

Maaf ya kalo kita harus berpisah seperti ini. Mungkin saat kamu melihat video ini, aku sudah tak ada lagi. Tapi kamu jangan sedih ya, aku akan selalu ada didekatmu kok. Aku akan selalu hidup dalam hatimu bersama kenangan kita.

Kamu jangan terlalu bersedih ya, soalnya hidupmu masih panjang. Kamu harus bisa bangkit dari ini semua, aku tau kamu bisa kok. Masih banyak orang diluar sana yang bisa jadi pengganti diriku.

*uhuk.. uhuk..*

Udah dulu ya san, aku harus istirahat lagi. Padahal masih banyak yang ingin aku kasih tau ke kamu tapi sayang gak bias. Sisanya nanti ku tulis di surat yaa. Sekali lagi maaf dan terimakasih untuk semuanya ya San. Aku bener-bener sayang sama kamu. Dadaaaahh”

Dan video itu pun berakhir.

Air mata mengalir begitu saja melewati pipiku. Tak ku sangka ternyata Lidya memiliki perhatian yang besar untukku. Bodoh! Kenapa aku tak menyadarinya? Ia hanya tak ingin merepotkanku karena penyakitnya. Sekarang yang tertinggal hanyalah penyesalan saja. Tak ada lagi yang bisa ku perbuat. Lidya telah pergi, namun sepertinya ucapannya dia akan selalu hidup dalam hatiku.

 

Aku melangkah menuju jendela kamarku dan menatap bulan purnama yang bersinar terang. Lidya selalu melakukannya saat kami pergi bersama dimalam hari.

“Bulan itu indah ya. Dia punya 2 sisi yang berbeda, gelap dan terang. 2 hal yang sangat bertolak belakang, tapi itulah yang membuatnya jadi indah.”

Itulah ucapan Lidya yang masih bisa ku ingat. Ku tatap bulan itu sambil membayangkan wajahnya yang tersenyum dan berkata, “Maafkan aku, Lidya.”

 

~END~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s