Vepanda part 23

WARNING! Banyak kata asing dipart ini, jadi harap sediakan kamus kalau tidak mengerti.

 

“Sebelom kamu minta maaf sama Jo sama keluarganya, kita putus,” jawab Rezza tersenyum ke arah Sinka.

“T-tapi za,” ucap Sinka terduduk di jalan taman itu.

No excuse! I’ve been think of it all night long! I also have talk with your sister and she’s agree!” potong Rezza dengan tegas.

“Hiks… hiks… hiks…,” Sinka kembali menangis.

“Maaf sin, kakak gamau kamu ngelakuin hal bodoh lagi cuma gara-gara soal cinta,” ucap Naomi sambil menghampiri Rezza dan Sinka.

Sinka hanya menoleh ke arah Naomi sambil tetap menangis.

“Kita nggak marah sama kamu, kita cuma kecewa sama perilaku kamu,” ucap Naomi sebelum mendorong kursi roda Rezza.

“Kakak harap kamu ngerti sin,” lanjut Naomi lalu pergi bersama Rezza.

Sinka masih terduduk di jalan taman itu sambil terus menangis.

-di rumah Rezza-

“Sinka nggak ikut ke sini mi?” tanya Melody saat melihat Naomi masuk ke dalam rumahnya sendirian.

Naomi hanya menggeleng lalu menutup pintu dan menghampiri Melody.

“Tumben nggak ikut, biasanya dia yang paling semangat kalo mau ke sini,” ucap Melody.

“Gatau, aku juga heran,” Naomi duduk di sebelah Melody dan meletakkan buah yang di bawanya ke atas meja.

“Ngobrol di dalem aja yuk, bareng-bareng sama Rezza,” ajak Melody sambil menarik tangan Naomi.

Kemudian mereka mengobrol di ruang keluarga sambil menonon TV, namun baru beberapa menit mereka mengobrol, Naomi sudah ditelfon oleh mamanya untuk pulang.

“Kamu kenapa sih kok diem mulu dari tadi?” tanya Melody menatap Rezza dengan heran.

“Gapapa kak, lagi nggak mood aja,” jawab Rezza dengan senyum yang dipaksakan.

“Kamu lagi ada masalah sama Sinka?” Melody menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Rezza.

“Nggak ada kok, aku sama Sinka nggak ada masalah.”

“Masa sih? kalo nggak ada masa-“ ucap Melody.

“Aku udah putus sama Sinka,” potong Rezza.

“Hah?! Putus?” Melody sedikit terkejut dengan jawaban Rezza.

Rezza hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Melody.

“Kenapa putus? Perasaan kemaren-kemaren baik-baik aja,” Melody mengernyitkan dahinya sambil terus menatap Rezza.

“Kita nggak cocok.”

‘Kalo nggak cocok kenapa dulu kamu pacarin?!”

“Ya itu mungkin masalahnya, kita terlalu cepet nyimpulin, belom tau banget satu sama lain, makanya baru ketauan kalo nggak cocok.”

“Huuufft…, yaudah gapapa, yang penting kalian jangan musuhan, nggak baik,” ucap Melody sambil memegang pundak Rezza.

Rezza mengangguk sambil tersenyum ke arah Melody.

“Kakak ke kamar dulu mau mandi, kalo ada apa-apa, kamu teriak aja,” ucap Melody lalu mencium pipi Rezza dan pergi ke kamarnya.

Rezza merasa sangat bosan duduk di depan TV, ia pun memutuskan untuk pindah ke teras belakang.

“Kampret! Susah amat sih!” gerutu Rezza saat ia berusaha menjalankan kursi rodanya.

“Sini kak aku bantu,” ucap seseorang dari belakang Rezza.

Rezza langsung menoleh dan sedikit terkejut melihat orang yang ada di belakangnya itu.

“Mau kemana kak?” tanya orang tadi sambil mulai mendorong kursi roda Rezza.

“Teras belakang aja,” jawab Rezza menunjuk ke arah teras belakang.

“Kamu ke sini sama siapa?” sambung Rezza.

“Sendirian aja, emang kenapa kak?” tanya orang itu sambil mendorong Rezza ke teras belakang.

“Gapapa, cuma nanya aja,” jawab Rezza tanpa menoleh ke arah orang tadi.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di teras belakang.

“Orang tua kamu nggak ikut?” tanya Rezza sambil melihat ke langit yang penuh dengan bintang.

“Papa mama lagi sibuk,” jawab orang tadi sambil duduk di kursi sebelah Rezza.

“Haha…,” Rezza terkekeh mendengar jawaban orang tadi.

“Za! kamu di mana?!” Melody berteriak sambil menuruni tangga.

“Di belakang!” jawab Rezza juga berteriak.

Kemudian Melody menyusul Rezza ke teras belakang.

“Frieska,” ucap Melody saat melihat orang yang duduk di sebelah Rezza.

“Kakak!” Frieska berteriak lalu berlari dan memeluk Melody.

“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Melody sambil melepaskan pelukan Frieska.

“Sendirian,” jawab Frieska tersenyum.

“Papa mama nggak ikut?” tanya Melody lalu duduk di sebelah Rezza.

“Enggak, papa sama mama lagi sibuk kak,” jawab Frieska sambil duduk di sebelah Melody.

“Mereka cuma nitip amplop,” sambung Frieska lalu mengambil amplop dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Melody.

“Palingan isinya duit, cuih,” ucap Rezza memalingkan wajahnya.

“Sampe kapan sih za kamu bakalan benci sama papa mama?!” tanya Melody sambil menatap Rezza.

“Bukan aku yang harusnya kakak salahin, tapi mereka!” jawab Rezza menatap Melody dengan tajam.

PLAK!

Melody menampar Rezza dengan keras.

“Udah kak, kasian kak Rezza,” ucap Frieska menahan tubuh Melody.

Melody masih terus menatap Rezza dengan penuh amarah dan air mata yang mulai mengalir.

So, you still remember your father’s words hah? always blow up your emotion with violence!” ucap Rezza menatap sinis ke arah Melody.

Shut the fuck up! You don’t have rights to said that!” bentak Melody sambil menatap Rezza dengan penuh amarah.

Ohh… I see, so you are jealous causa father never treat you nicely hah?!” sambung Melody.

Nah, I don’t give a shit ‘bout that! As long as he didn’t mess up with my life, I ain’t care ’bout him!”  ucap Rezza juga menatap Melody dengan penuh amarah.

Enough!” teriak Frieska sambil berdiri di antara Melody dan Rezza.

Melody dan Rezza langsung terdiam dan menunduk.

If you two still gonna fight I’ll leave! I ain’t came here to see both of you fight!” bentak Frieska sambil menolah ke arah Melody dan Rezza.

But he,” ucap Melody sambil menoleh ke arah Frieska.

Shut up! Don’t blame each others!” potong Frieska.

It’s my fault, I’m sorry, I’ll go to bed,” ucap Rezza sambil berusaha menjalankan kursi rodanya.

“Sini aku bantu kak,” ucap Frieska lalu membantu mendorong kursi roda Rezza.

Melody duduk di kursi dan mulai menangis.

~oOo~

“Kak Rezza bangun, ada yang nyariin,” ucap Frieska sambil mengguncang tubuh Rezza.

“Uuugghh…,” Rezza bergumam lalu bangun dari tidurnya.

“Apaan sih?! Masih pagi juga udah bangunin,” tanya Rezza dengan kesal.

“Pagi apanya?! Ini udah siang tau!” jawab Frieska dengan wajah kesal.

“Udah cepetan sini aku bantuin! Ada yang nyariin tuh,” sambung Frieska sambil mendekatkan kursi roda dengan tempat tidur Rezza.

“Siapa sih yang nyariin?” tanya Rezza saat naik ke atas kursi roda.

“Gatau, liat aja sendiri,” jawab Frieska lalu membawa Rezza ke ruang tamu.

Kemudian mereka berdua pergi ke ruang tamu.

“Sin?” ucap Rezza saat melihat Sinka yang berada di ruang tamu.

“Ngapain ke sini?” sambung Rezza.

“Gapapa, pengen maen aja,” jawab Sinka sambil tersenyum.

“Siapa kak?” tanya Frieska berbisik kepada Rezza.

“Temen sekelas aku,” jawab Rezza sedikit menoleh ke arah Frieska.

“Oiya…, kenalin, ini adek aku, Frieska,” ucap Rezza sambil menjulurkan tangan Frieska kepada Sinka.

“Sinka,” Sinka menyalami tangan Frieska sambil tersenyum ke arahnya.

“Aku tinggal ya kak,” ucap Frieska lalu pergi meninggalkan Sinka dan Rezza.

Kemudian hening, Sinka hanya menunduk sedangkan Rezza melihat-lihat sekitar sambil bernyanyi perlahan.

“Aku udah minta maaf sama kak Jo sama keluarganya,” ucap Sinka masih tetap menunduk.

“Terus?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka.

“Berarti sekarang kita pacaran lagi kan?” tanya Sinka sedikit menoleh ke arah Rezza.

“Ummm…,” Rezza bergumam sambil menunduk.

“Kayaknya kita temenan aja dulu deh sin,” sambung Rezza menatap ke arah Sinka sambil tersenyum.

“Lohh kok gitu?” tanya Sinka dengan wajah sedih.

“Gapapa, menurut aku kita terlalu cepet aja buat pacaran, kita belom kenal terlalu deket,” jawab Rezza sambil tersenyum.

“Tapi aku suka sama kamu za,” ucap Sinka dengan wajah kecewa.

I know it, but…,”- Rezza memalingkan wajahnya sebentar lalu menoleh lagi ke arah Sinka -“rasa suka itu kan relatif, paling beberapa hari lagi rasa suka kamu bakalan berubah.”

Sinka hanya bisa menunduk mendengar ucapan Rezza.

“Gausah terlalu dipikirin, suatu saat kalo kita udah lebih deket, mungkin kita bisa pacaran lagi,” ucap Rezza sambil tersenyum ke arah Sinka.

“Hmmm…,” Sinka hanya bergumam dan mengangguk ke arah Rezza.

Kemudian hening.

“Yaudah deh kalo gitu, aku pulang dulu ya,” ucap Sinka sambil berdiri dari sofa.

“Iya, hati-hati di jalan,” ucap Rezza sambil tersenyum ke arah Sinka.

Beberapa menit setelah Sinka pergi dari rumahnya, Rezza masih diam di tempatnya.

“Kamu kok di sini?” tanya Melody yang baru pulang dan menghampiri Rezza.

“Tadi ada Sinka maen ke sini,” jawab Rezza menoleh ke arah Melody sebentar lalu kembali menunduk.

“Terus sekarang di mana?” tanya Melody berdiri di sebelah Rezza.

“Udah pulang, baru aja perginya,” jawab Rezza tanpa menoleh ke arah Melody.

“Kok cepet banget pulangnya? Biasanya juga sampe malem, ato nggak nungguin jemputan Naomi,” tanya Melody sambil duduk di depan Rezza.

“Gatau, mungkin lagi ada urusan,” jawab Rezza tanpa menoleh ke arah Melody.

“Oiya, aku minta maaf ya kak buat yang semalem,” sambung Rezza sedikit menoleh ke arah Melody.

“Iya, kakak juga minta maaf ya,” ucap Melody menghampiri Rezza dan memeluknya.

“Eh-eh kak, sakit!” teriak Rezza sambil berusaha melepaskan pelukan Melody.

“Maaf, hehe…,” Melody hanya cengengesan sambil melepaskan pelukannya.

“Yaudah, ke dalem aja yuk,” ajak Melody lalu mendorong kursi roda Rezza ke ruang keluarga.

“Frieska mana za?” tanya Melody setelah mereka sampai di ruang keluarga.

“Gatau, tadi abis bawa aku ke sini dia langsung ke dalem lagi,” jawab Rezza sambil mengangkat kedua bahuya.

“Eh kakak, baru pulang?” tanya Frieska keluar dari kamar Rezza.

Melody hanya mengangguk ke arah Frieska.

“Tau nggak kak, tadi ada pacar kak Rezza dateng ke sini, cantik banget,” ucap Frieska sambil duduk di sebelah Rezza.

“Hah? Pacar?” Melody menatap Frieska sambil mengernyitkan dahinya.

“Iya kak, pacarnya kak Rezza, kalo nggak salah namanya Sinka,” jawab Frieska tersenyum ke arah Melody.

“Itu temen sekelas aku,” ucap Rezza menatap Frieska dengan datar.

“Masa sih cuman temen sekelas? Kak Melody percaya kalo cuman temen sekelas sampe bela-belain dateng ke sini? Belom ganti baju juga,” tanya Frieska menatap ke arah Melody.

“Hihihi…, sotoy banget sih kamu, itu bukan pacarnya Rezza, itu mantannya,” jawab Melody sambil tertawa kecil.

“Hehehe…, jadi beneran bukan pacarnya ya?” Frieska menoleh ke arah Rezza sambil cengengesan.

“Makanya gausah sotoy,” ucap Rezza sambil menoyor kepala Frieska perlahan.

“Udah ah, kakak mau ke kamar dulu, mau mandi sama ganti baju, kamu siapin makanan dulu gih,” suruh Melody sambil mengangkat tubuh Frieska lalu pergi ke kamarnya.

“Kak Rezza mau makan apa?” tanya Frieska menatap Rezza dengan polosnya.

Rezza hanya diam, ia terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu.

“Kak!”

“Eh apa?”

“Mau makan apa?!”

“Ummm…, nasi goreng aja deh.”

“Nah gitu dong, ditanya diem aja!”

“Emang kamu tadi nanya apaan?”

“Tau ah!”

Kemudian Frieska pergi meninggalkan Rezza sendirian di ruang keluarga.

“Za!” teriak seseorang sambil memasuki rumah Rezza.

“Hah?” Rezza langsung menoleh ke sumber suara.

“Apa kak?” sambung Rezza.

“Kamu tau Sinka di mana nggak? Dari tadi dia belom pulang,” tanya Naomi dengan muka khawatir.

“Lahh, bukannya tadi dia pamit pulang?” batin Rezza.

“Za!” teriak Naomi sambil mengguncang tubuh Rezza.

“Eh iya kak, tadi Sinka ke sini, tapi langsung pergi lagi, katanya sih mau pulang,” ucap Rezza mengangkat kedua bahunya.

“Pulang? Dia belom pulang dari tadi!”

“Ya mana aku tau kalo itu.”

“Coba kamu telfon Sinka, siapa tau diangkat, soalnya tadi aku telfon nggak diangkat.”

“Ng… yaudah, kak Naomi ambilin HP aku kalo gitu.”

“Dimana?”

“Kamar.”

Naomi langsung berlari ke lantai atas.

“Bukan di kamar itu kak, di kamar yang ini,” ucap Rezza sambil menunjuk kamar yang ada di lantai bawah.

“Bilang dong!”

Kemudian Naomi balik lagi ke lantai bawah dan masuk ke kamar yang dimaksud oleh Rezza.

Beberapa saat kemudian Naomi keluar dari kamar itu dengan membawa smartphone Rezza.

“Nih,” ucap Naomi sambil memberikan smartphone Rezza.

Tuut… tuut… tuut…

“Hallo sin,” ucap Rezza setelah Sinka mengangkan  telfonnya.

“Hallo sayang…,” ucap Sinka dengan nada yang aneh.

“Kamu di mana?” tanya Rezza.

“Di rumah kok, kenapa?”

Rezza menjauhkan smartphone dari telinganya dan menutup lubang michrophone-nya.

“Katanya di rumah kak, tapi suaranya aneh gitu,” ucap Rezza menoleh ke arah Naomi.

“Kamu suruh ke sini aja sekarang!” suruh Naomi dengan muka khawatir.

“Ada apa mi?” tanya Melody yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Ini Sinka belom pulang dari tadi,” jawab Naomi menoleh ke arah Melody.

“Kamu ke sini sekarang bisa nggak?” tanya Rezza setelah kembali medekatkan smartphone ke telinganya.

“Yaudah, tunggu bentar ya sayang…,” kemudian Sinka menutup telfonnya.

“Udah kak, tunggu aja di sini,” ucap Rezza sambil meletakkan smartphone-nya ke atas meja.

Naomi hanya mengangguk lalu duduk di sebelah Rezza bersama Melody.

“Kak! Ini makanannya udah siap!” teriak Frieska dari ruang makan.

“Makan dulu yuk mi,” ajak Melody bangkit dari sofa.

“Mmm…, nggak deh, aku udah makan tadi di rumah,” jawab Naomi sambil tersenyum.

“Kamu makan dulu za, belom makan kan dari tadi?” tanya Melody menatap Rezza.

“Ntar aja deh kak, belom laper,” jawab Rezza menoleh ke arah Melody.

“Yaudah kalo gitu, aku tinggal makan dulu ya bentar,” ucap Melody lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

Beberapa menit telah berlalu, namun Sinka belom juga sampai di rumah Rezza.

“Duhh…, Sinka kemana sih?!” gerutu Naomi yang terlihat sangat khawatir.

“Tunggu aja kak, bentar lagi palingan sampe,” ucap Rezza tersenyum ke arah Naomi.

“Gimana mi? Belom sampe juga Sinka?” tanya Melody berjalan ke ruang  keluarga bersama Frieska.

“Belom mel,” jawab Naomi dengan wajah sedih.

“Oiya kenalin, adek aku,” ucap Melody sambil mendorong Frieska ke depannya.

“Naomi,” ucap Naomi bangkit dari sofa dan menjulurkan tangannya.

“Frieska,” Frieska menyalami tangan Naomi sambil tersenyum.

Kemudian mereka semua merngobrol di ruang itu sambil menunggu kedatangan Sinka.

“Sayang…,” ucap seseorang sambil membuka pintu depan rumah Rezza.

Semua orang yang ada di ruang keluarga langsung menoleh ke sumber suara.

Orang yang membuka pintu itu langsung berjalan ke ruang keluarga.

“Sinka?” ucap Naomi dan Melody bersamaan.

Saat Sinka sudah dekat dengan Rezza, tiba-tiba ia terjatuh. Untungnya tangan Rezza dengan cepat menangkap bahu Sinka sehingga ia tidak terjatuh ke lantai. Rezza menatap Sinka dengan heran, sedangkan Sinka malah cengengesan ke arah Rezza.

Naomi, Melody dan Frieska langsung bangkit dari sofa dan menghampiri Sinka.

“Kamu dari mana sih?!” tanya Naomi dengan kesal.

Sinka tidak menghiraukan pertanyaan Naomi, ia masih saja cengengesan sambil berdiri lagi.

“Lu mabok?” tanya Rezza mengernyitkan dahinya.

Sinka hanya menggeleng dengan wajah polosnya.

“Lu bego ato gimana sih?!” tanya Rezza dengan kesal.

Sinka masih saja diam, ia hanya menggeleng perlahan sambil menunduk.

Rezza yang sudah tak tahan dengan tingkah Sinka langsung mencoba bangkit dari kursi rodanya. Hampir saja ia terjatuh namun Melody dengan cepat menangkap tubuh Rezza dan membantunya berdiri.

“Buat apa lu kaya gini?! Lu pikir kalo lu mabok masalah bisa ilang gitu aja?! Enggak bego!” bentak Rezza di depan wajah Sinka yang sedang menunduk.

“Kenapa kamu malah salahin aku?! Ini semua kan salah kamu!” Sinka menoleh ke arah Rezza dan menatapnya dengan tajam.

Semua orang di ruangan itu langsung terdiam dan membuat suasana menjadi hening, hanya suara Sinka yang mulai menangis yang terdengar di ruangan itu.

Rezza memberi isyarat kepada Melody untuk membantunya menghampiri Sinka lebih dekat. Saat jaraknya dengan Sinka sudah sangat dekat, Rezza langsung memeluk Sinka dengan satu tangannya.

“Kenapa kamu jahat banget sih?! kenapa?!” tanya Sinka sambil terus menangis dan memukul-mukul dada Rezza.

“Kenapa kamu mutusin aku?!” sambung Sinka dengan tangisan yang lebih keras.

“Udah-udah, jangan nangis,” ucap Rezza sambil mengelus-elus kepala Sinka.

Rezza menoleh sebentar ke arah Naomi dan Melody, mereka berdua hanya mengangguk seakan mengerti apa yang ada di pikiran Rezza.

“Aku mau ngomong sesuatu,” ucap Rezza lalu mmelepaskan pelukannya.

Sinka menatap Rezza sambil terus menangis.

“Apa?” tanya Sinka dengan wajah sedihnya.

“Berhenti dulu dong nangisnya, ntar aku kasih tau,” jawab Rezza sambil mengusap air mata Sinka yang membasahi pipinya.

Beberapa saat kemudian air mata Sinka sudah tidak keluar lagi, hanya mata yang sembab dan ekspresi sedih yang tergambar diwajahnya.

“Kamu mau nggak balikan sama aku?” tanya Rezza sambil tersenyum dan memegang pipi Sinka.

 

*Tamat*

Author : Luki Himawan.

 

Note: ciee tamat haha :v

Iklan

14 tanggapan untuk “Vepanda part 23

  1. Ahh…, gue kenapa merasa kurang dapat feelnya 😕 bahasa inggrisnya amburadul… grammer-nya gak dipake yah? please buat author yg sekaligus merangkap sebagai admin, klo mau nulis cerita yg menggunakan “ENGLISH”, dipake Grammer-nya 😁 masalahnya gue yg lumayan paham masalah bahasa inggris jadi gak enak bacanya, kalo bahasa inggrinya berantakan 😓

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s