Hey Ratu

Aku memiliki sebuah hobi yang aneh, mungkin bagi orang lain hal ini remeh, biasa atau bahkan tak perlu mendapatkan perhatian sedikitpun. Beberapa juga menganggap itu hal yang menarik, tipikal orang cerdas sering melakukannya, orang dengan daya imajinasi liar yang mampu memperhatikan hal sekecil apapun. Yah dengan segala pro dan kontra itu tetap tak mampu mengubah predikat aneh yang secara pribadi ku sematkan pada kebiasaan ini.

Memperhatikan orang, ya, itulah hobiku, kebiasaanku, hal yang meninggalkan rasa gelisah apabila tak sempat kulakukan. Dan hal itu menjadi alasan aku berada di sini, sebuah cafe yang tak terlalu besar dengan harga yang tentunya tak terlalu menyiksa dompet orang-orang sepertiku.

Kira-kira 45 menit aku sudah menghabiskan waktu di sini, menenggak habis dua gelas hot chocolate, menu favoritku. Biar kuceritakan sedikit tentang minuman menakjubkan ini. Tak jauh berbeda dengan coklat panas biasa, hanya saja mereka menambahkan selai cokelat beserta marshmallow sebagai topingnya. Untuk pecinta makanan manis sepertiku hal ini merupakan hal yang luar biasa dan sangat sayang untuk dilewatkan.

“Wah, sudah siap untuk gelas ketiga?” tanya seorang wanita yang berada di balik bar.

“Dengan bonus marshmallow mungkin?”

“Ah, ya sedikit, aku tak mau separuh persediaan marshmallow di cafe ini berakhir di perutmu wahai Tuan pecinta segala hal yang manis.” wanita itu berbalik dan menyiapkan gelas baru untuk pesananku.

Yah aku dan wanita itu saling kenal, dia hampir setiap hari menyediakan minuman favoritku. Dia juga secara tidak langsung menjadi saksi akan hobi aneh yang kulakukan, memperhatikan orang lain. Mungkin dia salah satu orang yang menganggap hal itu tak terlalu penting, selama ini  dia tak pernah bertanya atau menyinggung apapun alasan aku mampir ke tempatnya bekerja setiap hari.

Hot chocolate dengan ekstra marshmallow,” ucap wanita yang umurnya tak terpaut jauh denganku sambil meletakkan cangkir yang masih mengeluarkan uap panas.

“Makasih.” kutambakan seulas senyuman sebagai bentuk apresiasi atas pelayanannya.

“Gak bosen ke sini terus Mas?” tanya wanita itu sambil membersikan bar.

“Oh jadi ngusir nih ceritanya? Oke deh besok aku cari tempat lain.”

“Hahaha, bukannya gitu mas, masa iya aku ngusir pelanggan, cuman nyari bahan obrolan aja mumpung lagi senggang.” dia meletakkan kain yang digunakan untuk membersihkan bar tadi di tempat yang tak dapat kulihat.

“Yah, alasannya simple sih, karena deket dari rumah sama ini.” aku mengangkat cangkir yang isinya belum kuminum sedikitpun.

“Cuman itu? Enggak buat ngerjain tugas, janjian sama temen atau apa gitu?”

“Ah, aku bukan orang yang gampang akrab, tipikal yang sulit membuka obrolan.” Yah, mungkin itu mengapa aku begitu menikmati hobiku.

Tiba-tiba seorang pemuda menepuk pundak wanita di hadapanku. Dia membisikkan sesuatu yang membuat wanita tersebut hanya mengangguk.

“Oh oke deh. Mas aku tinggal dulu ya, mau ngambil persediaan di gudang.”

Aku hanya melambaikan tangan, melepaskan kepergian orang pertama yang berhasil menginterupsi hobiku. Bukan masalah besar, toh sekali-sekali mendapat teman ngobrol bukan hal yang buruk.

Baiklah, akan kuceritakan sedikit tentang hobi ‘aneh’ku ini. Setiap datang ke sini aku selalu duduk di tempat yang sama, tepatnya di bar yang disediakan, hanya karena memiliki bar bukan berarti tempat ini menyediakan minuman keras. Aku suka posisi ini, posisi dimana aku bisa melihat dengan jelas orang-orang yang masuk ke dalam cafe. Biasanya saat ada seseorang yang masuk, aku mulai mencoba menebak apa yang mereka lalui dari ekspresi wajah. Lucu, terkadang ada yang datang dengan senyuman, bercanda dengan teman, tak jarang juga dengan wajah datar seperti tengah mengalami hari yang berat, dan dari sana imajinasiku mulai bermain, mencoba untuk mengarang kisah berdasarkan ekspresi-ekspresi yang kulihat.

Biar kuberi sedikit contoh. Barusan ada seorang pria yang masuk, penampilannya kusut, wajahnya nampak lesu, rambutnya berantakan dan matanya terlihat tak memiliki gairah. Apa kira-kira yang tengah terjadi? Mungkin dia adalah seorang yang bekerja di industri kreatif, entah dia penulis,  photographer, atau bahkan komikus, yah semacam itulah. Sepertinya dia baru saja dimarahi oleh atasan karena pekerjaannya tak memuaskan atau mungkin tak bisa memenuhi deadline dan alasan dia ke sini untuk sekedar melepas penat sembari menyelesaikan pekerjaan yang tengah mendapat kesempatan kedua dari sang atasan.

Yah semacam itu. Tapi jangan berpikir aku ini adalah detektif, bukan juga peramal. Terlalu banyak pengandaian dalam cerita yang kuucapkan, tak ada bukti konkrit serta teori yang melandasi itu semua. Yah, aku hanya seorang pemuda pecandu imajinasi.

Biasanya orang yang datang ke cafe sendirian lebih memilih menggunakan earphone untuk memutar playlist favorit mereka dan menikmati ‘me time’ atau sekedar meningkatkan fokus pada pekerjaan yang mereka lakukan, tapi tidak denganku.

Ya, aku lebih senang mengaduk-ngaduk minuman ini sembari mendengarkan obrolan pengunjung lain. Mungkin lebih tepatnya terdengar bukan mendengar, yah, aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain.

Inilah yang selalu membuatku sadar akan apa yang tengah terjadi di dunia. Bukan dari portal berita internet ataupun berbagai macam platform sosial media yang kian marak menggandrungi generasi millenial. Dari sana aku tak hanya mendapatkan informasi melainkan melihat reaksi dari orang-orang tersebut. Tak jarang beberapa orang punya reaksi yang berbeda terhadap satu informasi yang sama dan bagiku itu menyenangkan.

Ternyata waktu tak terlalu suka dengan hal itu. Perlahan-lahan riuh suara para pengunjung mulai berhenti, fokus mereka kini tertuju pada benda kotak di tangan mereka yang pada zaman ini disebut smartphone.

Mulai bosan, aku mencoba menyeruput sedikit kebahagian dari minuman favoritku. Sial, sudah berapa lama aku mengabaikannya? Mungkin segelas minuman favoritku ini ingin sekali memakiku karena telah mengabaikannya saat masih hangat.

Yah terserahlah, selama masih manis, panas ataupun dingin bukanlah masalah besar.

Bel pintu cafe berbunyi, menandakan seseorang baru saja membuka pintu tersebut. Tanpa dikomando mataku langsung melihat ke arah sana dan sungguh benar-benar pemandangan yang tak diduga.

Seorang wanita, tidak, terlalu tua untuk disebut wanita, dia pasti seorang gadis, gadis yang seumuran denganku. Berambut pendek dengan kacamata bulat besar menggantung di hidung, wajahnya terlihat bersinar atau mungkin hanya aku yang melihatnya? Dan segala keindahan itu terbalut dalam kombinasi baju yang…, sungguh aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya, mungkin kata ‘aneh’ cukup?

“Manis…,” tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku.

“Siapa yang manis Mas?”

Pertanyaan itu langsung membuyarkan lamunanku seketika.

“Ah enggak, ini kayaknya kemanisan deh hehehe.” aku meletakkan cangkir yang masih penuh dengan gumpalan putih manis itu di hadapanku.

Wanita di hadapanku hanya tersenyum, senyuman penuh arti. Sepertinya dia memiliki maksud lain namun entah kenapa dia lebih memilih membersikan meja bar yang sudah berkali-kali ia lakukan.

Aku mulai melihat ke sekitar. Tak ada orang yang bereaksi sama sepertiku, semuanya tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sepertinya hanya aku yang melihat hal tersebut, hal manis yang dirasakan tanpa perlu bantuan indera pengecap.

Kulemparkan lagi tatapan ke arah pintu masuk. Dia masih di sana, gadis itu masih di sana, menggerakkan kedua bola matanya seolah mencari sesuatu.

Untuk gadis seperti dirinya wajar jika janjian dengan orang lain di tempat seperti ini. Mungkin teman atau pacar, yah seperti itulah.

Pengunjung yang lain sekarang terasa tak penting. Tak peduli meskipun mereka sudah meninggalkan aktivitas di dunia maya atau apapun topik yang mereka bicarakan, mataku tetap tak bisa lepas dari si gadis misterius yang sekarang tengah berjalan ke arahku.

Apa? Berjalan ke sini? Ah mungkin dunia ini sudah gila! Apa yang dia inginkan dari pemuda sepertiku? Pemuda yang tak mahir dalam apapun, bahkan susunan abjad tak terekam sempurna dalam otak. Sebentar? Atau mungkinkah dia salah satu kenalan keluargaku? Sepupu atau saudara jauh mungkin?

Akhirnya gadis itu duduk di tempat yang hanya berjarak dua kursi dari tempatku, meletakkan tumpukan buku di bar, lalu memanggil pelayan untuk meminta menu. Normal, semuanya normal seperti kebanyakan pengunjung lain.

Untuk sesaat aku membenci imajinasiku. Bisa-bisanya dia mempermainkan perasaanku dengan berbagai macam hal tak masuk akal seperti itu.

Hot chocolate satu, banyakin marshmallownya ya Mbak.” gadis itu tersenyum sambil menyerahkan menu pada wanita yang sudah menyajikan tiga gelas minuman tersebut untukku.

Aku hanya tertegun, mungkin semua orang akan mengatakan jika wajahku terlihat bodoh sekarang. Dia memesan minuman yang sama dengan minumanku? Bahkan minta tambahan marshmallow sudah jelas pasti dia pasti pecandu makanan manis sepertiku.

Perlahan-lahan diriku mulai tertarik akan gadis itu, tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Aku mencoba bangkit dan berusaha menghampirinya. Tunggu, setelah ke sana lalu apa? Ah iya tentu saja mengajak berkenalan.

“Bagaimana kalau dia tidak suka?”

“Bagaimana jika dia sebenarnya sedang ingin sendirian?”

“Bagaimana jika keberadaanku justru membuatnya tak nyaman?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai menyisip dalam otakku. Perlahan-lahan kian banyak, beranak-pinak hingga akhirnya memenuhi pikiranku dengan keraguan. Cih, kupikir kelinci adalah yang paling cepat dalam urusan berkembang biak.

Pengecut…

Pengecut…

Pengecut…

Aku mendapatkan julukan baru sekarang. Julukan yang kuciptakan untuk melabeli diriku yang bahkan tak mampu untuk mengucap kata ‘hai’ pada seseorang.

Dan semuanya berakhir dengan diriku yang duduk di sini, memandang dari kejauhan pada seorang gadis yang tengah menyesap coklat hangat di seberang sana.

Mungkin dengan memperhatikan dengan seksama aku bisa sedikit mengenalnya. Tetap saja aku mencoba menghibur diri dengan logika-logika tak masuk akal yang tercetus entah dari mana.

Kedua mataku mulai fokus pada gadis misterius itu.  Berkali-kali dia memandang ke luar, mencoba mencari arti dibalik tiap tetesan air yang jatuh dari langit. Entah apa yang menarik perhatiannya, kumpulan orang berlalu-lalang yang mencoba berlindung dari hujan? Bagiku itu tak cukup menarik.

Terlepas dari aku yang tak suka dengan air, ada sebuah energi lebih yang dipancarkan dari mata sang gadis saat memperhatikan tetesan hujan itu. Bukan energi yang dikeluarkan untuk sekedar memandang.

Tiba-tiba tubuhnya tersentak, menegang, seperti tersadar akan sesuatu. Dia memperhatikan minumannya yang tak lagi mengeluarkan uap, menggeleng pelan, lalu mengambil salah satu buku yang terletak masih dalam jangkauan tangannya.

Untuk seketika imajinasiku tak berfungsi, seolah ada barikade yang membatasinya untuk bekerja seperti biasa. Tak ada cerita-cerita liar yang tercipta tentang alasan apa yang mendasari gadis itu mengunjungi cafe ini. Semua kosong, putih bersih, hanya fokus pada seorang individu yang tengah menikmati rangkaian kata di lembaran buku di tangannya.

Ini sungguh membuatku terganggu. Tak biasanya aku ingin seseorang menganggap keberadaanku. Tak biasanya aku memiliki keinginan yang begini besar untuk berinteraksi dengan orang lain, padahal biasanya aku selalu menghindar karena interaksi antara manusia itu rumit. Terlalu banyak variabel yang harus diperhatikan agar apa yang keluar dari mulutku tak membuat orang merasa aneh atau bahkan menyakiti mereka.

Orang bilang dirimu akan jadi bodoh ketika jatuh cinta. Awalnya aku tidak takut, toh diriku ini memang sudah terlahir dengan kebodohan yang luar biasa. Selama ini aku yakin jika kebodohan yang menghantuiku sudah berada di level terhendah dan hari ini semua teoriku salah, ya, sekarang, detik ini, aku merasa lebih bodoh dari biasanya.

Tetesan air dari langit mulai mereda hingga akhirnya hilang dan menyisakan genangan air yang akan ikut hilang seiring dengan sinar matahari yang mulai terik di luar sana.

Gadis itu kembali memandang keluar, melihat jam tangannya lalu menutup buku yang sedari tadi membawanya terhanyut ke dunia lain. Dia mengangkat tangannya, membuat salah seorang pelayan berjalan menghampiri tempatnya duduk. Gadis itu mengeluarkan selembar uang dari dalam tasnya, memberikan pada pelayan lalu berjalan begitu saja meninggalkan diriku yang masih termangu tanpa bisa melakukan apa-apa.

Untuk pertama kalinya aku merasakan penyesalan yang begitu besar. Bukan karena nilai ujian yang buruk, bukan karena pekerjaan yang gagal, melainkan hanya karena tak bisa berkenalan dengan seorang gadis.

“Gelas keempat?” tanya seorang wanita yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku dari balik bar.

“Ah enggak, kayaknya cukup untuk hari ini, simpan aja kesenangannya untuk besok.” aku tersenyum sambil menyerahkan lembaran uang berwarna merah cerah.

Aku merapikan seluruh barang bawaanku. Sebuah tas ransel yang hanya berisi satu buku tulis beserta topi kupluk yang kupakai untuk menutupi rambutku yang berantakan.

Besok.

Akankah dia kembali ke sini?

*****

Esok hari, di cafe yang sama, posisi duduk yang sama dan tentu saja menu favorit yang sama.

Aku duduk di sini sembari berharap, ya, mengharapkan gadis itu akan datang kembali. Berbeda dari biasanya. Orang-orang yang datang tak menarik lagi, obrolan para pengunjung tak lagi membuatku senang, bahkan marshmallow yang menghiasi coklat panasku terasa tak terlalu manis. Semua berbeda.

Aku mempertajam indera pendengaran, setiap bel di pintu masuk berbunyi, langsung ku arahkan dua bola mata ini  ke sana. Gadis itu, ya gadis itu yang menjadi alasanku datang ke sini. Bukan coklat panas dengan marshmallow, bukan karena hobiku yang aneh, tapi dia, si manis berambut pendek dengan gaya pakaian yang ‘aneh’.

Banyak pengunjung datang dan pergi namun sosok yang ku nanti tak kunjung hadir. Ini sudah gelas ketiga, apa yang membuatnya begitu lama? Kupikir ada sebuah ikatan tak terlihat yang menyatukan kami karena dia menyukai menu yang sama denganku, naif memang tapi apa lagi yang masuk akal?

Gelas ketiga kini hanya menyisakan setengah coklat panas, seluruh marshmallow yang menutupinya kini sudah kulahap habis. Ya, rasa manis itu tak cukup untuk meredakan keinginan bertemu yang cukup kuat.

Tetesan terakhir dan disitu pula kesabaranku berakhir. Dia tidak datang, semua hanya kebetulan, realistis.

Kupukul jidatku pelan, mencoba menyadarkan diri ini dari ilusi tak terbatas yang entah sejak kapan membelenggu. Senyum miris mulai terukir, bersamaan dengan sirnanya harapan akan sesuatu yang sangat imajiner, mustahil terjadi.

Aku merogoh saku belakang, mengeluarkan dompet usang yang menemaniku 3 tahun belakangan. Yah, sepertinya isi dompet ini juga tak banyak membantu, tak ada secercah kebahagiaanpun di sana.

“Berap….”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, bel pintu masuk berbunyi. Entah sistem apa yang sudah kutanamkan dalam otak, tanpa sadar mataku langsung melihat ke arah sumber suara itu.

“Manis,” lagi-lagi kata itu keluar dari mulutku tanpa sadar.

Dia, itu dia, gadis berambut pendek, berpakaian aneh lengkap dengan kacamata berlensa bulat menggantung di hidungnya.

Aku terdiam, seluruh syarafku mendadak menolak untuk bekerja, membuatku mematung di tempat seperti patung.

Dia duduk di sana, di tempat kemarin, dua bangku dari tempatku sekarang. Gerakannya juga sama, dia meletakkan buku di meja bar, memanggil pelayan dan memesan minuman yang sama denganku.

Ini bukan kebetulan, mungkin ini yang disebut dengan takdir langit.

Tidak lagi, ya kali ini tidak lagi aku membuang kesempatan berharga ini. Aku ingin dianggap, bukan oleh dunia, cukup oleh dirinya saja.

Aku menarik nafas panjang ketika seluruh sarafku mulai bisa dikuasai. Langkah pertama yang mungkin akan mengubah hidupku selamanya.

Aku berjalan mendekat. Tangan tak terlihat terasa meremas paru-paruku disetiap langkah yang kuambil.

Tidak, itu tidak cukup untuk menghentikanku. Setidaknya aku mengetahui nama dari dia yang tengah mengurangi rasa manis di minuman favoritku.

“Haaaaai~”

Sebentar, aku bahkan belum membuka mulut. Lagipula suaraku tidak seperti itu, bagaimana mungkin pesona gadis itu membuat suaraku jadi cempreng?

Ah ternyata itu berasal dari seorang gadis yang baru saja masuk ke cafe. Seorang gadis yang diikuti dengan dua gadis lain, berjalan menghampiri targetku.

Apa?! Kali ini dia tidak sendirian?

Mendadak paru-paruku kembali merasa lega namun entah kenapa aku tidak merasa senang sedikitpun.

Aku mengurungkan niatku, mencoba menyamarkannya dengan berjalan seolah-olah ingin meninggalkan cafe ini. Dua hari berturut-turut dan semuanya gagal total, tetap saja aku tak bisa berinteraksi dengan gadis itu.

“Mas, ini minumannya belom di bayar.”

Aku menoleh ke belakang dan di sana terlihat wanita yang biasa membuatkan minuman favoritku melambaikan tangannya.

Seluruh mata pengunjung tertuju ke arahku, untungnya tidak terlalu ramai. Tidak masalah sebenarnya, meskipun cafe ramai dan merek menatapku dengan tatapan menjijkan sekalipun. Tapi saat ini gadis itu, si ‘manis’ yang tak kuketahui namanya, ikut menatap ke arahku dengan tatapan heran dan itu merupakan masalah yang besar.

Aku menunduk, berjalan melewati dia dan teman-temannya. Setelah membayar aku segera berjalan keluar seolah tak terjadi apapun.

Hancur sudah, kesempatan yang datang untuk kedua kalinya hilang begitu saja. Mereka bilang setiap orang berhak atas kesempatan kedua. Ya, aku mendapatakannya dapi dengan bodoh menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Lagi-lagi aku meninggalkan cafe tanpa mendapatkan apapun, mendapatkan apa yang kuinginkan lebih tepatnya. Bagaimana mungkin gadis tersebut bisa membuat hidupnya yang tak karuan ini menjadi semakin berantakan? Memang apa bagusnya dia? Dia hanya gadis sederhana yang suka coklat panas dan selalu membaca novel-novel percintaan remaja seperti gadis pada umumnya.

Nah! Itu dia!

******

“Ada yang bisa dibantu Mas?” tanya seorang pria berseragam sambil merapatkan kedua tangannya.

“Eummm,  saya mau nyari buku novel yang sering dibaca sama anak cewek, kira-kira ada gak ya?”

“Oh kalo itu ada Mas.” dia berjalan di depanku, lalu berhenti di salah satu rak. “Dari sini mas jalan terus aja, itu di sana ada rak buku best seller pas di belakangnya itu bagian novel-novel remaja mungkin bisa dicari di sana.”

“Ah, makasih ya Mas.” aku membungkuk dan meninggalkan pria itu yang melepas kepergian dengan seyuman ramah.

Saat ini aku berada di toko buku. Ya, aku masih belum menyerah, mungkin aku gagal mendekatinya secara langsung dan saat ini aku sedang mengusahakan jalur lain, jalur alternatif, jalur yang kubuat sendiri.

Mengingat dia suka buku pasti secara tidak langsung otaknya terpengaruh sedikit demi sedikit, alam bawah sadarnya mulai menciptakan situasi-situasi yang merefleksikan apa yang ia baca di dunia nyata sehingga secara tidak langsung dia berharap bisa merasakan apa yang tertulis dalam novel di kehidupannya.

Oke, terlalu berbelit-belit. Intinya aku hanya ingin mempraktekan pendekatan dalam novel pada gadis misterius itu.

Mataku mulai memandang ke arah deretan buku yang tersusun rapi bahkan masih terbungkus dengan plastik pelindung. Kuperhatikan satu per satu, mencoba mencari novel yang kira-kira bisa membantuku melalui situasi ini.

Barisan novel di hadapanku menjadi saksi rasa bingung yang kurasakan. Begitu banyak judul, mulai dari yang puitis hingga realistis. Begitu banyak sampul, mulai dari yang sederhana hingga yang sangat menarik perhatian.

Yang mana yang harus ku pilih?

Ya, aku memang tak terlalu akrab dengan buku. Bagiku mereka hanya lembar berisi rangkaian kaya yang membosankan.

Bagaimana gadis itu bisa menikmati hal ini? Ah iya, tidak hanya dia saja, beberapa teman yang kukenal juga memiliki ketertarikan yang sama.

Tidak, aku harus bisa keluar dari zona nyaman. Jika memang ingin mengenalnya aku juga harus menyukai hal yang sama dengan gadis itu.

Aku memutuskan untuk membeli dua buku. Yang pertama adalah buku yang sama dengan apa yang sering dibawa oleh gadis misterius itu, buku bersampul abu-abu dengan desain yang tak terlalu mencolok, ya entah kenapa aku bisa ingat. Yang kedua hanyalah buku asal yang kuambil berdasarkan insting, berharap isinya bisa menolongku lepas dari perasaan menggangu yang kerap menghantui belakangan ini.

Setelah menetapkan pilihan, aku membawa dua buku tersebut menuju kasir, membayarnya dan segera pulang.

Di perjalanan aku hanya menatap kedua benda ‘asing’ itu. Bahkan untuk kepentingan akademik aku lebih memilih meminjam buku pada orang lain. Menurutku terlalu berlebihan jika harus mengeluarkan uang untuk sesuatu yang membosankan seperti ini.

Kali ini berbeda, gadis itu mampu membuatku melanggar seluruh prinsip yang selama ini kupegang teguh. Bahkan diriku sendiri merasa aneh, seolah menjadi orang lain, orang yang sama sekali tidak ku kenal.

Sesaat setelah sampai di kamar aku langsung melempar ransel ke sembarang tempat kemudian merebahkan badan di kasur, dengan jaket dan kaus kaki yang masih terpasang.

Ku robek bungkusan plastik dan langsung mulai menjelajah dalam rangkaian kata dalam buku bersampul abu-abu. Petualanganku dimulai, kata demi kata, kalimat demi kalimat mulai kubaca perlahan, mencoba mencari sisi yang mampu membuat gadis misterius itu tertarik.

Seperti tersihir, aku seolah berada di dunia yang lain. Setiap baris yang tertulis pada lembaran buku itu membawa diriku semakin dalam, semakin jauh, meninggalkan dunia yang ku kenal.

Tidak ada lagi kamar, aku terjebak dalam kisah romansa antara dua remaja yang entah kenapa menjadi sangat menarik. Bukan kisah remaja di duniaku, tapi kisah unik yang hanya mengikuti logika sang penulis.

Tersenyum, kesal, sedih, semua perasaan itu sempat ku rasakan dalam perjalanan menuju lembaran terakhir. Ini aneh, sempat malu mengakuinya, tapi aku mulai tertarik akan buku ini, akan kisah-kisah yang dengan jenius tertulis di sana.

Aku mengerti mengapa para gadis senang membaca buku-buku semacam ini, rela menghabiskan uang yang cukup banyak untuk menikmati kisah percintaan klise yang sedikit mustahil untuk terjadi di dunia nyata. Mereka berharap jika kisah mereka akan menyenangkan seperti apa yang mereka baca, bertemu dengan sosok pria ideal yang mampu membuat dunia mereka berputar 180 derajat, menginginkan adegan-adegan romantis tersebut menjadi nyata di kehidupan mereka yang terlalu realistis.

Tapi sesuatu akan sia-sia jika kita tak mengambil pelajaran. Aku mencoba tak sekedar membaca, mungkin lebih tepatnya mencari sesuatu yang bisa diaplikasikan di dunia nyata, di masalah yang sedang kualami.

*****

Hari baru, rencana baru. Sekarang aku tengah berdiri di seberang cafe langgananku. Tak ada yang spesial, hanya berdiri dan memperhatikan beberapa orang yang keluar-masuk cafe tersebut. Hampir 30 menit aku di sini, menghabiskan beberapa bungkus permen sambil berharap sesuatu yang dinanti segera tiba.

Itu dia! Sosok yang membuatku tahan berdiri cukup lama, gadis berpakaian ‘aneh’ yang tidak kuketahui namanya. Dia berjalan keluar dari cafe, mengencangkan jaket, lalu berjalan menyusuri trotoar yang belum sepenuhnya kering.

Aku segera bergegas menyusul gadis misterius itu, berusaha sebisa mungkin tak kehilangan jejak. Hari ini aku berniat untuk menjadi malaikat pelindung, sosok yang menjaganya dari berbagai macam hal yang mungkin saja bisa merusak harinya hingga suatu saat waktu mengizinkan dirinya untuk menyadari keberadaanku.

Udara dingin membuat beberapa kali dia mengusap lengan. Ingin rasanya mendekatinya, sekedar menawarkan jaket untuk membantunya tetap hangat namun sepertinya hal itu terlalu frontal. Bagaimana mungkin dia mempercayai orang asing yang tiba-tiba datang lalu membiarkan orang tersebut memakaikan jaket pada dirinya?

Sepanjang perjalanan aku mulai bertanya-tanya akan tujuan gadis misterius itu. Apa mungkin dia akan pulang? Atau mungkin dia memiliki janji dengan teman-temannya yang kemarin, errr bagaimana jika dia ingin bertemu dengan…pacarnya? Arrrrghh, mendadak pikiranku dipenuhi dengan beragam pertanyaan aneh yang mulai mengganggu.

Gadis itu berhenti sejenak, matanya memandang pada sesuatu yang berada di balik kaca transparan, sebuah manekin yang dibalut dengan pakaian wanita. Sepertinya gadis itu punya ketertarikan sendiri terhadap pakaian. Dia mendekatkan kepalanya ke kaca tersebut, beberapa kali dahinya terlihat berkerut, tak jarang juga dia menyipitkan matanya sembari memijat dagunya pelan, tampaknya dia bukan sekedar tertarik, lebih terlihat seperti sedang mengamati baju tersebut.

Cukup lama dia berada di sana, membuatku sedikit merasa bosan karena tak ada hal lain yang bisa kulakukan. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan muncul mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Haah, entah apa yang ada dipikiran orang yang berada di balik kemudi mobil tersebut, ngebut di jalanan yang masih tergenang air? Dia bisa saja membahayakan dirinya sendiri.

Tunggu, genangan air? Sontak aku langsung memperhatikan dimana gadis misterius itu berdiri. Tepat beberapa langkah dari tempatnya berdiri terdapat sebuah genangan air yang sebentar lagi akan dilewati oleh mobil yang kuperhatikan tadi. Gawat, dengan kecepatan seperti itu jelas air akan terciprat cukup deras ketika mobil itu melewati genangan air tersebut.

Seperti dugaanku, air tersembur cukup deras, membuat gadis misterius itu terkejut hingga melepas fokusnya pada pakaian yang sedari tadi dia amati. Rasa kaget yang ia rasakan harusnya sudah berakhir, kalau saja tidak ada pria yang basah kuyup, berdiri di hadapannya sambil menatap lurus kedepan. Ya, aku berhasil sampai tepat waktu, merelakan badan ini basah kuyup demi gadis yang tak dkenal. Sebisa mungkin aku mencoba untuk tak menoleh ke arahnya, menghindari kontak mata yang tidak perlu. Aku berjalan meninggalkan gadis itu yang masih menutupi mulutnya, ya, asalkan dia tidak apa-apa itu sudah cukup, bukankah itu memang tugas dari malaikat pelindung?

Aku berjalan seolah tak terjadi apa-apa, meninggalkan gadis itu di sana, menatapku heran atau mungkin iba? Entahlah aku juga tak terlalu tahu. Aku berbelok di sebuah gang tak jauh dari sana, mencoba menunggu gadis itu lewat sehingga aku bisa melanjutkan tugasku.

Memakai baju yang basah memang sangat tidak nyaman, apalagi di tengah cuaca yang dingin seperti ini, benar-benar sebuah mimpi buruk. Badanku beberapa kali bergetar, mencoba menjaga kehangatan yang mulai sulit dirasakan. Ingin rasanya segera pulang, mengganti pakaian lalu menikmati secangkir kopi hangat dengan beberapa kue kering yang masih tersisa di lemari.

Ah, apa aku harus melanjutkan semua ini? Lagian apa untungnya? Toh dia tetap tidak mengenalku.

Sedikit demi sedikit rasa ragu mulai merasuki diriku. Mempertanyakan kembali tentang langkah besar yang kurencanakan semalam suntuk. Hingga akhirnya mataku tertarik pada sosok yang terlihat melintasi gang tempatku terdiam, tentu kalian tahu siapa yang kumaksud. Dalam sekejap seluruh keraguan itu hilang, tidak hilang sepenuhnya hanya saja sosoknya membuatku mengesampingkan perasaan ragu itu.

Ya, tidak ada waktu untuk ragu, aku harus mengakhiri apa yang mulai, setidaknya sampai dia menginjakkan kakinya di rumah.

Kali ini dia berjalan menuju sebuah kedung besar, pusat perbelanjaan. Aku mengikutinya hingga akhirnya gadis itu berada di pintu masuk dimana terdapat seorang pria berbadan tegap lengkap dengan setelan hitam rapi.

Gadis itu melemparkan sebuah senyuman ramah yang dibalas dengan hal serupa oleh pria di hadapanya, aku mencoba melakukan hal yang sama hanya saja respon yang kudapat sedikit berbeda. Setelah tiba di dalam pusat perbelanaan, gadis itu berhenti sejenak, dia memandang ke sekililing lalu menghela nafas kemudian kembali berjalan dengan kepala tertunduk.

Untuk orang yang selama ini mengikutinya hal itu cukup aneh. Untuk apa helaan nafas itu? Dan kenapa dia harus berjalan sambil menyembunyikan wajah manisnya? Semua itu benar-benar tak bisa dipahami oleh logikaku.

AC gedung ini benar-benar mengganggu, terlebih dengan pakaian yang masih lembab ini, membuat hawa dingin yang kurasakan meningkat berkali-kali lipat. Hal itu cukup mengganggu fokusku, membuatku beberapa kali tertinggal cukup jauh dari gadis misterius itu.

Gadis itu berhenti di depan sebuah lift, menekan tombol dengan simbol panah ke atas lalu kembali menunggu dengan kepala yang tetap tertunduk. Aku berhenti beberapa langkah di belakangnya, masih dalam jarak aman untuk mengawasi tanpa harus terlihat.

Setelah beberapa lama pintu lift pun terbuka. Gadis itu masuk bersama beberapa orang lain termasuk diriku. Aku mengambil posisi di sudut, ya dengan ini kehadiranku bisa tertutupi oleh beberapa pemuda tanggung yang berdiri di depanku, lebih tepatnya tiga orang pemuda tanggung.

Sepertinya tiga pemuda ini saling kenal. Mereka bercengkrama, sesekali tertawa bahkan tak jarang beberapa kata kotor serta makian terlontar dari mulut mereka. Menurutku itu hal yang wajar, pertemanan akan terasa hambar jika kalian belum melakukan hal itu benar?

“Lu verif gak hari ini?”

“Kagak, ni rencananya mau WL aja.”

“Hahaha, hoki lu bro, verif sendirian.”

Itulah sepenggal percakapan yang tak sengaja terdengar. Aku tidak mengerti sepenuhnya tentang apa yang mereka bilang, baiklah, lupakan, bukannya hal itu terlalu tidak penting untuk mendapatkan perhatianku?

“Ntar si ‘rata’ nampil gak?” ucap pemuda berbaju merah.

“Lah gak tau, emang kagak liat list membernya di twitter?” mendengar perkataan temannya pemuda berbaju merah itu menggeleng.

“Palingan tampil, kan minggu lalu dia udah absen,” ucap pemuda yang berbadan gempal sambil membetulkan posisi kacamatanya.

“Tapi sayang ya, kalo aja dia gak ‘rata’ pati gue oshiin, itu anak cuman kurang di bempernya aja kalo agak gede dikit beuuuh.” pemuda berbaju merah mengacungkan jempolnya.

Pintu lift akhirnya terbuka namun ada sesuatu yang aneh. Gadis misterius yang berdiri paling depan hanya terdiam di sana. Tiga pemuda ini mulai terlihat sedikit kesal, mungkin ini merupakan lantai tujuan mereka. Tak lama kemudian gadis itu berbalik, memandang ke arah tiga pemuda itu lalu tersenyum. Tiga pemuda yang tadinya nampak kesal kini terdiam, sepertinya mereka terkejut dan sesaat sebelum pintu lift menutup gadis itu melangkah keluar, meninggalkanku bersama dengan kumpulan pemuda ini.

“Itu… ‘dia’ kan?” pemuda berbadan gempal menyikut pelan teman di sampingnya.

Pemuda berbaju merah hanya mengangguk.

“Dia nangis loh.”

“Ah seriusan?” pemuda berbaju merah nampak panik.

“Iya, air matanya netes dikit tadi.”

Apa? Nangis? Sebentar, jadi yang mereka maksud ‘rata’ itu dia? Pantas saja senyumnya tadi terasa dipaksakan. Sialan, berani-beraninya tiga orang ini mengatakan sesuatu yang membuat gadis misterius itu menangis.

Pintu lift kembali terbuka, kami berempat melangkah keluar. Setibanya di luar lift aku langsung memegang pundak pemuda berbaju merah di depanku.

“Tunggu.”

Pemuda itu menoleh. Dia menaikkan sebelah alisnya, mungkin dia heran mengapa ada orang dengan jaket basah yang mencoba berinteraksi dengannya. Tapi tenang kawan, semuanya akan baik-baik saja. Yah, semoga.

*****

Langit mulai gelap dan dari sini pusat perbelanjaan tersebut terlihat cukup meriah dengan sinar lampu. Sudah kuduga, berkelahi melawan tiga orang sekaligus bukanlah ide yang bagus. Mereka dengan mudah mendominasi pertarungan, bahkan aku hanya sempat mendaratkan satu pukulan di wajah pria berbaju merah. Sisanya? Yah kalian pasti bisa membayangkanya sendiri.

Sekarang di sinilah aku, di sebuah warung kaki lima, menikmati segelas teh manis dingin sambil menempelkan sebongkah es batu untuk meredakan rasa nyeri di mata kananku. Aku berterima kasih kepada petugas keamanan yang segera muncul dan menghentikan perkelahian tak seimbang tersebut. Yah, meskipun akhirnya aku harus dipaksa meninggalkan pusat perbelanjaan itu, setidaknya lebih baik daripada harus berakhir di rumah sakit.

Entah apa yang dilakukan gadis itu di sana hingga malam begini. Berbelanja kah? Nonton film? Entahlah meskipun kau melakukan keduanya sekaligus bukanlah hal yang normal jika menghabiskan waktu hingga berjam-jam di sebuah pusat perbelanjaan.

Yah, tugasku belum selesai. Gadis itu masih belum memijakkan kakinya di rumah. Aku memperhatikan setiap orang yang berlalu-lalang, keluar-masuk pusat perbelanjaan tersebut namun tetap saja sosok gadis yang kutunggu tak kunjung tiba.

Berulang kali aku melihat jam, mencoba mengusir rasa bosan dengan menjelajah dunia maya. Hingga akhirnya sosok tersebut muncul, masih dengan pakaian ‘aneh’ yang ia kenakan, berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang bisa dibilang tak sesemangat siang tadi.

Aku mulai bergegas, menyebrang dan berusaha untuk mengikutinya dari jarak yang tak terlalu jauh. Gadis itu berhenti di sebuah halte, duduk di sana sembari mengeluarkan smartphone miliknya dari tas kecil yang ia bawa. Dia hanya diam, fokus pada layar gadgetnya sambil menunggu bus yang mungkin akan membawanya pulang.

5 menit berlalu dan bus yang ditunggu akhirnya tiba. Aku mengikutinya naik ke dalam bus, mengambil tempat duduk yang berjarak dua bangku di belakang gadis tersebut. Bus ini sangat sepi, hanya ada tiga orang. Aku, gadis itu beserta sang supir yang menguap beberapa kali. Ah, memang bukan ide bagus menaiki kendaraan dimana sang supir tidak dalam kondisi prima.

Bus mulai berjalan meninggalkan halte. Perjalanan malam ini cukup damai, tanpa gangguan. Suasana bus begitu sepi, tidak ada musik atau apapun untuk mengusir kebosanana penumpang, hanya suara deru mobil lain beserta beberapa kilatan cahaya yang mencoba kunikmati di sepanjang perjalanan.

Aku melihat gadis itu menyematkan earphone, sesekali dia mengambil foto dengan kamera depan, yah tipikal hal yang sering dilakukan anak perempuan. Tak banyak yang bisa ku lakukan sehingga perlahan-lahan kelopak mataku pun terasa berat.

Beberapa aku bersin dan badanku mulai terasa tak nyaman. Ah mungkin ini efek berkeliaran dengan baju yang basah.

Tunggu, ada yang aneh. Tenang saja, ini bukan tentang arwah penumpang yang tiba-tiba muncul, lebih ke pergerakan bus yang tak seperti biasanya. Bus yang tadinya berjalan lurus mulai kehilangan kontrol, tidak sepenuhnya, hanya saja pergerakan bus tersebut cukup memancing pengendara lain untuk membunyikan klakson mereka, dan bunyi klakson tersebut terdengar seperti luapan kemarahan.

Aku melihat ke tempat sang supir. Di sana pria berbadan subur itu terlihat memukul wajahnya berkali-kali. Benar dugaanku, naik ke bus ini adalah ide yang buruk. Kali ini aku tak melepaskan pandanganku dari sang supir, dan ternyata benar, tak lama setelah bus kembali berjalan normal, kepala pria itu terunduk. Semakin lama posisi kepalanya semakin rendah, hingga sesekali terantuk kemudi.

Gadis itu nampaknya tidak terlalu perduli. Ya, mungkin dia tidak sadar karena saat ini seluruh fokusnya tertuju pada smartphone di tangannya.

Baiklah saatnya melakukan sesuatu. Aku melepas salah satu sepatuku, bersiap untuk sedikin memberikan shock theraphy pada sang supir. Aku mulai menutup sebelah mataku, mencoba untuk mengunci sasaran dimana sepatu ini akan mendarat. Pada tarikan nafas ketiga, sepatu di tanganku pun melayang. Pendaratan yang tak terlalu mulus, aku menargetkan kepalanya namun sepatu tersebut malah mengenai pundaknya, yah, setidaknya itu cukup untuk membuat pria subur itu terkejut dan menginjak rem mendadak.

Kepalaku menghantam sandaran bangku yang ada di depan, sial. Aku mencoba bangkit dan melihat seorang gadis yang berdiri sambil memegangi kepalanya. Wajah gadis itu nampak terkejut dan sang supir terlihat panik.

Deru klakson mulai membanjiri telingaku. Aku melihat barisan cahaya lampu yang memanjang di belakang bus.

Sepertinya gadis itu sudah menetapkan pilihannya. Dia berjalan menuju pintu ke luar, menyunggingkan senyuman pada sang supir lalu berjalan menyusuri trotoar sambil bermandikan cahaya lampu remang-remang.

Aku mengikutinya, tanpa melupakan sepatuku tentunya. Mungkin rumahnya sudah dekat sehingga dia memutuskan untuk berjalan kaki. Yah lagipula aku lebih senang begini, lebih aman dibanding menaiki bus dengan supir yang mengantuk.

Suasana jalanan cukup sepi. Hanya ada lampu-lampu yang berbaris, beberapa terlihat berkedip bahkan tak jarang ada yang mati total. Suara jangkrik saling besahutan, menambah mencekam suasana, yah aku memang penakut. Di sepanjang jalan aku hanya berdoa semoga tak ada kejadian merepotkan lagi.

Pekerjaan sebagai malaikat pelindung lebih berat daripada yang ku bayangkan. Aku heran mengapa para gadis menyukai tokoh-tokoh fiksi seperti itu, dasar makhluk kejam.

Tiba-tiba bulu kuduk ku berdiri. Bukan karena sesuatu yang tak kasat mata, lebih kepada gadis misterius itu yang mendadak berhenti lalu menoleh ke arahku, melesatkan tatapan yang terasa menusuk. Gawat, apa mungkin dia sebenarnya adalah hantu? Ah tidak mungkin, mana ada hantu yang menghabiskan harinya di pusat perbelanjaan, bentar, tapi zaman sekarang apa sih yang gak mungkin?

Rasa penasaran membuatku melangkah lebih dekat, memangkas jarak yang tercipta antara aku dan gadis misterius yang kini berdiri di bawah sinar lampu jalan. Ku perhatikan mulai dari kepala hingga ujung kaki, aaah ternyata dia manusia sama sepertiku.

“Masih belum puas?” ucap gadis itu yang membuat jantungku berdegup kencang.

Aku hanya terdiam, mencoba untuk memahami apa maksud perkataannya.

“Kenapa diem? Aku tanya masih belum puas?” gadis itu berbalik, menatapku tajam.

“Euum maksudnya?”

“Kamu kira aku gak tau kalo seharian ini kamu ngikutin aku?” gadis itu melipat tangannya, mencengkram kedua lengannya dengan kuat. “Mulai dari ngelindungin dari cipratan air, sok-sok berantem demi aku, terus yang barusan ngebangunin supir bus yang ngantuk.”

“Iya aku, cum…”

“Kamu sama aja kayak yang lain, kamu pikir cuman kamu yang ngelakuin itu? Ngikutin aku pas pulang, sok-sok jadi malaikat pelindung, menjijikkan.”

Perkataannya seperti pedang yang menembus jantungku. Untuk sejenak aku kesulitan untuk bernafas, bahkan aku tak bisa memikirkan kata-kata untuk membalas apa yang keluar dari mulut gadis itu.

“Mendingan kamu sekarang pulang, orang-orang kayak kamu bener-bener ganggu tau gak?” gadis itu berbalik dan melanjutkan perjalanannya.

Skakmat, perkataannya benar-benar menghilngangkan seluruh semangatku. Menjijikan, mengganggu? Apa dia melihatku seperti itu? Semuanya tidak masuk akal. Bukannya dia suka membaca novel? Apa dia tidak suka dengan ceritanya, tokohnya, atau segala adegan romantis di sana? Apa aku salah ketika mencoba merealisasikan semua hal itu?

Semua pertanyaan itu berputar di dalam pikiranku. Semua logika yang kupercaya terpatahkan begitu saja, semua yang kulakukan sia-sia bahkan untuk sejenak aku tak bisa membedakan kaki mana yang sedang kugerakkan untuk berjalan, menjauh dari tempat dimana gadis itu terlihat.

Aku berharap semua ini hanya mimpi namun dinginnya air hujan terasa sangat nyata, seperti sebuah tamparan keras yang menyatakan jika ini adalah realita yang sebenarnya.

Ilusi, realita, untuk saat ini semuanya tampak sama, hanya hitam dan putih, tanpa warna lain. Sungguh lucu bagaimana sebuah pernyataan bisa menghancurkan dirimu dengan sangat mudah, layaknya meremukan keripik kentang, benar-benar mudah.

Kaki mulai terasa lelah namun entah kenapa langkah ini tak juga berhenti. Kemana sebenarnya tujuanku sekarang? Otak dan tubuhku seperti punya pemikirannya sendiri-sendiri.

Jawaban, aku butuh jawaban atas situasi yang tidak kumengerti. Apakah hal itu ada di sana? Pada sebuah sinar besar yang semakin lama semakin mendekat, semakin besar hingga deru suara yang familiar mulai terdengar? Yah mungkin saja, bahkan sekarang ini aku tak tahu sedang berdiri dimana.

******

“Gelas keempat?” suara seorang wanita terdengar samar di telingaku.

Aku hanya menatap kosong ke depan, dimana seorang wanita bercelemek tengah menatapku sambil memiringkan kepalanya.

“Haloooo, Masnya gak kenapa-napa kan?” dia melambaikan tangannya, membuatku sedikit tersentak.

“Eh…” aku terdiam, memperhatikan ke sekitar, rasanya aku kenal dengan tempat ini.

Ini adalah cafe langgananku, bukannya tadi aku sedang….

Kembali kulemparkan tatapan pada gadis yang mengembalikan kesadaranku. Dia terlihat cemas, mungkin saat ini wajahku terlihat cukup berantakan.

“Sejak kapan aku di sini?”

“Pertanyaan macam apa itu? Anda sudah berada di sini sejak pagi, menghabiskan 3 gelas coklat panas dengan ekstra marshmallow, dan apakah anda ingin pesan menu yang sama lagi?” jelas wanita itu sambil mengangkat gelas kosong di hadapanku.

Aku hanya mengangguk, aku masih belum sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Jika sejak pagi aku berada di sini semua yang kulihat sebelumnya itu apa? Tersiram genangan air, berkelahi dengan tiga pemuda asing bahkan perkataan tajam seorang gadis misterius yang terasa meremukkan jantung, apa maksud dari semua itu?

“Ini pesanannya,” wanita tadi datang dengan segelas cokelat panas berhias marshmallow di atasnya. “Mungkin lebih baik kamu kurangi konsumsi makanan manis, mitosnya terlalu banyak manisan bisa bikin kita berhalusinasi.”

Wanita itu tersenyum setelah mengucapkan kalimat yang terasa menyindir. Ah, ternyata semua hanya perbuatan imajinasi liarku. Harusnya aku sadar lebih cepat, bukankah itu yang sering kulakukan di sini? Berkhayal tentang orang-orang yang datang dengan berbagai macam cerita. Mungkin aku terlalu nyaman, khayalan itu terlalu indah walau akhirnya tak sesuai dengan harapan tapi itu salah satu yang terbaik.

Aku tersenyum, menyesap minuman yang baru saja tersaji, hingga akhirnya sesuatu mencuri fokusku, suara bel di pintu masuk yang berbunyi setiap kali ada pelanggan yang datang.

Waktu terasa berjalan begitu pelan ketika sosok terebut masuk. Nafasku terasa berat, jantungku mulai berdetak dengan irama yang tak beraturan. Itu dia, sosok yang familar, gaya pakaian ‘aneh’, poni yang jarang-jarang menutupi jidatnya, belum salah satu tangannya yang memeluk dua buah buku. Itu dia, tidak salah lagi, gadis misterius yang mampir ke dalam imajinasi liarku.

Dia duduk, dua kursi dari tempatku sekarang, meletakkan bukunya lalu melambaikan tangan ke arah pelayan. Matanya memperhatikan menu yang baru saja diberikan, sesekali dahinya berkerut tak jarang juga menggeleng pelan.

“Coklat panas, banyakin marshmallownya,” tanpa sadar aku berbisik dan secara bersamaan kata-kata terserbut keluar dari mulut si gadis misterius.

Ya, kali ini aku tidak boleh gagal lagi. Mungkin aku memang sosok yang menyedihkan, bahkan dalam imajinasiku sendiri semuanya bisa berantakan. Tapi tidak sekarang.

Aku bangkit, berjalan pelan lalu duduk di sebelahnya. Dia yang merasakan kehadiran orang lain awalnya terkejut, melihatku dengan tatapan heran sambil mengerutkan dahinya. Lagi-lagi jantungku berdetak tak beraturan, paru-paruku seperti berhenti mengolah oksigen, keringat juga mulai membasahi tanganku.

“Hey,” sapaku. Gadis itu menoleh, tatapannya terasa menusuk.

“Halo,” balasnya, mungkin saat ini dia merasa tidak nyaman dengan orang asing yang tiba-tiba datang dan mengganggu waktu bersantainya.

“Kamu suka yang manis-manis juga?” tanyaku dengan suara bergetar. Ah sial, aku memang buruk dalam hal membuka obrolan.

“Maksudnya?” dia memiringkan kepalanya.

“Cokelat panas dengan ekstra marshmallow kupikir hanya aku yang suka dengan minuman super manis itu.”

“Beneran? Aku biasa juga mesen itu di tempat lain, untuk cafe ini baru pertama kali sih.”

“Kebalikannya, aku hampir setiap hari ke sini, bahkan ini gelas keempat yang siap masuk ke perutku.” aku mengangkat gelas yang berisi minuman favoritku.

“Wah, luar biasa tuan marshmallow,” ucapnya sambil tertawa renya. “Ratu.”

Aku hanya terdiam melihat tangannya yang terjulur ke arahku. Dia mengerutkan dahinya, mungkin sikapku terlihat aneh, ya, ini pertama kalinya ada gadis yang memperkenalkan dirinya padaku. Takut suasana menjadi canggung, segera kusambut uluran tangannya.

“Panggil aja aku Ratu, dan mulai sekarang kamu adalah pelayanku.” gadis itu kembali tertawa.

Aku hanya tersenyum, tak kusangka gadis ini jauh berbeda dengan apa yang ada dalam imajinasiku.

Oke, ini terlalu banyak. Segera aku bangkit dan berjalan menjauh menuju pintu keluar, sebentar lagi berada di dekatnya mungkin aku bisa pingsan. Tapi tenang, perkenalan ini tidak akan kubiarkan berakhir begitu saja.

“Hey, Ratu.” aku berbalik sambil membuka pintu yang ada di depanku. “Mungkin besok aku bisa mentraktir coklat panas, gimana?”

“Asal marshmallownya banyak aku sih tidak keberatan.” Dia mengeluarkan senyum andalannya.

Aku hanya mengangguk, dia melambaikan tangannya, melepas kepergianku, sosok yang baru dikenalnya. Di perjalan pulang aku tersenyum tanpa henti, mungkin orang-orang menganggapku gila tapi tak masalah, hari ini adalah hari yang paling bahagia.

Mungkin dalam imajinasi aku berusaha terlalu keras hingga melupakan bahwa yang dibutuhkan hanya sedikit keberanian dan kata ‘Hey’. Aaaah, kira-kira baju apa yang akan ku kenakan besok ya?

 

 

END

-Sagha-

 

 

 

Iklan

5 tanggapan untuk “Hey Ratu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s