BEL SEKOLAH ADALAH LAGU CINTA CHAPTER 13

bel

 

“Aduh gawat. Abis nih gw kalo dia ngambek lagi.” Batin gw.

 

Tiba-tiba Gracia datang menghampiri gw. Dan…

 

“Sinka, gw pulang sama lu ya.” Ucap Gracia.

“Lah, kirain mau marah.” Ucap gw.

“Dih, pede banget jadi orang.” Ucap Gracia sambil memeletkan lidahnya ke gw.

“Yaudah, ayo. Kalo mau pulang bareng.” Ucap Sinka.

 

Saat asik mengobrol tiba-tiba pelatih keluar dari dalam bus.

 

“Anak-anak ayo sekarang kita ke sekolah. Untuk murid yg lain harap langsung segera pulang saja. Biarkan mereka fokus untuk latihan. Semoga kalian bisa support kami lagi besok.” Ucap pelatih yg datang menghampiri kami.

“Baik, pelatih.” Ucap kami semua.

 

Akhirnya kami para pemain memasuki bus tim kami dan segera menuju sekolah untuk latihan. Sedangkan yg lain pulang ke rumah masing-masing dengan kendaraan pribadi mereka.

 

-o0o-

 

-Di Mobil Sinka-

 

Di dalam mobil Sinka bersama dengan Gracia dan kak Naomi. Suasana sangat hening. Terlihat Gracia sedang memikirkan sesuatu. Sinka yg melihatnya langsung mengajak Gracia berbicara.

 

“Lu kenapa Gre? Ada masalah lagi sama Adi?” Tanya Sinka dengan halus.

“Gapapa kok Sin.” Ucap Gracia yg masih melamun ke arah luar jendela mobil.

“Udah deh, gk usah bohong. Gw tau kok lu lagi banyak pikiran.” Ucap Sinka.

 

Kak Naomi yg sedang fokus menyetir mobil tidak ikut berbicara dengan mereka.

 

“Sin. Lu suka ya sama Adi?” Tanya Gracia. Sinka pun kaget mendengar pertanyaan barusan.

“Hah, ya gk lah Gre. Lu ada-ada aja.” Ucap Sinka sambil menahan tawa.

“Lu cemburu ya sama kejadian tadi? Maaf ya. Abisnya dia lama, jadi gw tarik aja tangannya biar cepat.” Tambah Sinka.

 

Gracia hanya terdiam saja untuk beberapa saat.

 

“Gw kayanya udah gk ada tempat lagi deh di hatinya dia.” Ucap Gracia. Perlahan-lahan air matanya mulai bercucuran di pipinya.

“Hai, Gre. Pliss, jangan nangis dong. Dia masih sayang kok sama lu. Seiring berjalannya waktu pasti hubungan kalian berdua akan pulih lagi kok.” Ucap Sinka menyemangati Gracia.

 

Sepanjang jalan Sinka terus memeluk Gracia yg sedang menangis.

 

Keesokan Harinya

 

-Di Looker Room-

 

“Oke, lawan kita kali ini adalah SMA 57 Pejaten. Kemarin mereka berhasil menang dengan skor 2-1. Mereka unggul dari segi penyerangan. Penguasaan bola di lapangan tengah akan menjadi faktor utama kemenangan tim kita. Paham.” Intruksi pelatih.

“Paham pelatih.” Ucap seluruh pemain.

“Oke. Susunan pemain kali ini. Riko kamu kipper. Willy kamu defence. Gabriel dan Kelik kalian midfield. Alvin kamu pivot.” Ucap pelatih.

“Adi dan Wawan analisis permainan lawan. Dan persiapkan diri kalian untuk serangan kejutan di babak kedua nanti.” Tambah pelatih.

“Baik, pak.” Teriak gw dan Wawan.

 

-Di Tribun-

 

“Hay, Gre. Kamu udah baikan?” Tanya Sinka. Dia lalu duduk di samping Gracia.

“Udah kok Sin. Maaf ya kemaren udah salah paham.” Ucap Gracia sambil tersenyum.

“Nah gitu dong senyum. Kan, kasian nanti cowok kamu semangatnya kurang kalo kamunya gk semangat gitu.” Ucap Sinka memberi semangat kepada Gracia.

“Dengerin deh, lagu fifa entheme udah di puter. Berarti pertandingan udah mau di mulai.” Ucap Nadse dari belakang memberitahu yg lain.

“Iya, bener.” Ucap penonton yg lain.

 

-Di Lapangan-

 

Mereka para pemain dari kedua tim mulai memasuki lapangan. Setelah berjabat tangan dan melakukan coin toss mereka langsung menuju ke posisi kami masing-masing. Kick-off di mulai dari tim kami. Pertandingan antara SMA 48 Sudirman vs SMA 57 Pejaten di mulai.

 

-Di Tribun-

 

“Loh, kok dua pencetak gol kemaren gk di mainin siha?” Tanya Ayana.

“Entah, mungkin mereka lagi nyiapin strategi buat lawan kali ini.” Ucap Nabilah.

“Lihat deh, dari tadi Adi kaya lagi ngobrol sama pelatih. Tapi kakinya terus di rawat sama kak Ve. Apa dia baik-baik aja ya?” Ucap Okta.

“Udah tenang aja. Kakak aku pasti baik-baik aja kok.” Ucap Yuriva menghentikan gosip mereka.

 

-Di Lapangan-

 

Sepuluh menit pertandingan berlangsung belum ada satu gol pun yg tercipta. Tim kami masih menguasai lini tengah lapangan. Sepertinya sulit untuk menerobos pemain mereka.

 

“Gabriel, umpan ke gw.” Teriak Kelik.

“Oke.” Teriak Gabriel.

 

Bola di berikan kepada Gabriel. Kelik yg menerima bola langsung menggocek dua pemain yg menjaga dia. Merasa posisi Alvin tanpa kawalan Kelik memberi umpan kepada Alvin. Dia menerima bola dan langsung menuju kotak penalty lalu shoot…

 

GOLLL…

 

Alvin langsung berlari memeluk Kelik yg memberi umpan yg baik. Skor 1-0 untuk keunggulan sekolah kami.

 

“Nice, Alvin dan Kelik.” Teriak pelatih dari pinggir lapangan.

 

Pertandingan babak pertama dilanjutkan. Tapi sampai peluit halftime di berikan skor tidak berubah. 1-0 untuk keunggulan SMA 48 Sudirman. Para pemain langsung menuju ke bench pemain di pinggir lapangan untuk breafing.

 

“Bagus. Kita bisa unggul lebih dulu dari mereka. Di babak kedua waktunya Wawan dan Adi menunjukan skill mereka.” Ucap pelatih.

“Oke, untuk substitution. Aryo ganti Willy. Adi ganti Kelik. Wawan ganti Alvin.” Ucap pelatih.

“Siap.” Ucap semua pemain.

 

Babak kedua segera di mulai. Kami semua langsung masuk ke dalam lapangan.

 

-Di Tribun-

 

“Semuanya lihat. Adi dan Wawan masuk.” Teriak kak Naomi memberitahu yg lain.

“Iya bener. Yes, kali ini mereka pasti akan ngebantai tim lawan.” Ucap Shania yg tertawa licik.

 

-Di Lapangan-

 

Pertandingan sudah di mulai. Sekarang tim lawan membawa bola. Mereka bisa menerobos lini tengah kami. Bola sudah sampai di kotak penalty dan shoot…

 

“Nice, save. Riko umpan ke gw.” Teriak Gabriel.

 

Riko langsung mengumpan bola pada Gabriel. Dia mencari celah. Bola di umpan kepada gw. Gw langsung melakukan permainan yg sudah gw dan Wawan rencanakan sejak kemarin. Kami berdua melakukan serangan. Gw melakukan ancang-ancang untuk menshooting bola, kipper perpancing untuk menghampiri gw. Dengan gesit gw umpan bola pada Wawan. Dan shoot…

 

GOLLL…

 

Bola masuk. Kami melakukan selebrasi. Kedudukan menjadi 2-0. Permainan di lanjutkan. Tim kami kembali di serang. Tapi, Riko dengan sigap dapat menangkap bola. Kami membali melakukan serangan. Bola di bawa Wawan dia langsung menshooting bola. Kipper menutup serangan Wawan. Tapi, sebenarnya dia mengincar mistar gawang. Bola rebound menuju ke gw. Langsung gw lakukan tendangan voli ke arah gawang dan…

 

GOLLL…

 

Kedudukan berubah menjadi 3-0 untuk keunggulan sekolah kami. Permainan di lanjutkan. Waktu tersisa satu menit. Kami kembali menyerang mereka. Gw kembali mendapatkan bola. Sekarang gw sudah one-on-one dengan kipper lawan. Dengan cepat bek lawan mengawal Wawan. Kipper mereka tanpa ragu berlari menghampiri gw. Tidak ada celah untuk menshooting bola. Tapi…

 

“Kalian pikir mencetak gol harus pakai tenaga?” Ucap gw. Kiper lawan terlihat panik karena ucapan gw. Lalu gw langsung menchip bola dan…

 

GOLLL…

 

Bola masuk ke gawang lawan. Kedudukan berubah menjadi 4-0. Teriakan para supporter dari tim kami semakin meriaah. Pertandingan di lanjutkan kembali, tapi tidak ada cukup waktu lagi. Akhirnya peluit akhir berbunyi. Pertandingan antara SMA 48 Jakarta vs SMA 57 Pejaten berakhir dengan skor 4-0 untuk keunggulan tim kami. Kami semua melakukan ritual terima kasih kepada para supporter yg sudah datang. Setelah itu kami langsung menuju ke looker room. Untuk mengevaluasi permainan kami tadi.

 

-o0o-

 

Sekarang kami para pemain menuju ke bus sekolah kami. Di jalan tiba-tiba para murid dari sekolah kami menghampiri kami.

 

“Kalian semua ada apa ya?” Tanya pelatih.

“Ayah, ijinin kami untuk makan-makan di m** untuk merayakan kemenangan kita kali ini.” Ucap kak Naomi yg sebelumnya gw udah ceritain kalo mereka satu keluarga.

“Kalo saya terserah mereka. Karena besok sudah tidak ada pertandingan jadi mereka bebas untuk istirahat dan yg lainnya.” Ucap pelatih.

“Kalian mau kan makan-makan bareng kita?” Tanya Naomi.

“Kalo kita ayo aja. Tapi, kami semua ke sekolah dulu untuk ambil motor kami.” Ucap Riko.

“Yaudah kalo gitu sekarang kita kesekolah dulu. Di sekolah baru kita berangkat ke tempat makannya.” Ucap kak Melody.

 

Kami semua menuju parkiran. Di jalan menuju ke parkiran gw melihat seseorang yg kemarin ngobrol sama gw. Saat dia menatap gw dia langsung melambaikan tangan dan tersenyum.

 

“Woy, lu ngeliatin siapa sih?” Tanya Willy.

“Eh, gk ada kok Wil.” Ucap gw.

“Aneh lu. Gw nanya apa, lu jawab apa.” Ucap Willy.

 

Kami kembali melanjutkan jalan menuju bus. Sesampainya di bus kami langsung menuju ke sekolah.

 

-Di Sekolah-

 

Kami anggota tim futsal bergegas menuju ruang tim futsal terlebih dahulu. Di sana kami hanya mengganti baju saja dan sedikit arahan dari pelatih. Setelah semua urusan selesai kami langsung menuju ke parkiran. Di sana sudah teman-teman kami sudah menunggu. Mereka yg akan ikut makan-makan dengan tim futsal semuanya anak perempuan yaitu. Kak Melody, kak Naomi, kak Veranda, Sinka, Gracia, Ayana, Nadse, Anin, Shani, Okta, Sisca, Michelle, Yuriva, dan Christi.

 

“Hay, semuanya sudah siap?” Tanya Riko.

“Sudah, yaudah kalo gitu berangkat yuk.” Ucap kak Naomi.

 

Kami pun berangkat menuju ke tempat yg sudah di rencanakan.

 

-Di Tempat Makan-

 

“Heuh, penuh nih kelihatannya. Duduk di mana nih gw.” Gumam gw.

“Yah, rame banget. Anin duduk di mana.” Ucap Anin yg berada di samping gw dengan wajah melas.

“Eh, Anin. Nasib kita sama nih. Aku juga gk kebagian kursi kayanya. Mau gk temenin aku duduk di luar?” Tanya gw.

“Emm, boleh deh. Dari pada gk duduk.” Ucap Anin.

 

Gw pun meminta ijin dengan yg lain untuk duduk di luar sambil mengajak teman-teman yg lain yg tidak kebagian tempat duduk.

 

“Oy, teman-teman yg gk kebagian tempat duduk kita keluar aja. Di luar masih banyak yg kosong tuh.” Ajak gw key g lainnya.

“Oke deh Di. Siap.” Ucap Kelik yg mengiyakan ajakan gw.

 

Kamipun menuju keluar. Gw sengaja memilih tempat yg agak teduh agar Anin tidak kepanasan. Soalnya gw gk tega ngeliat Anin kepanasan. Kamipun hanya duduk berdua di meja yg gw pilih.

 

“Anin udah pesan makanannya kan tadi?” Tanya gw basa-basi.

“Udah kok. Kamu udah pesan?” Tanya Anin kembali.

“Udah tadi. Aku pesan Mc Float aja. Lagi gk laper soalnya. Eh, btw. Tumben gk manggil pake nama?” Tanya gw.

“Iya, Anin sekarang udah mulai sedikit terbiasa gara-gara kamu latih Anin terus di sekolah.” Ucap Anin.

“Cie, bagus deh. Jadi kamu kelihatan gk kaku lagi kalo kita ngobrol.” Ucap gw sambil mencubit pipinya.

“Ih, sakit tau. Kamu ini genit ya, wlee.” Ucap Anin sambil memeletkan lidahnya.

 

Kami berdua tertawa bersama karena candaan barusan. Sampai akhirnya pelayan datang memberikan makanan pesanan kami.

 

“Udah Gre, gk usah cemburu terus dong. Lu move on dong, masih banyak kali cowok lain di dunia ini.” Ucap Nadse. Gracia hanya terdiam dalam kesedihan memandangi Adi dan Anin.

“Lu kok sedih sih Gre. Kan waktu it ulu yg mutusin Adi. Kenapa sekarang jadi lu yg sedih?” Tanya Okta.

“Eh, kalian udah dong. Jangan kebanyakan nanya. Kasihan kali Gre, lagi sedih.” Ucap Shani sedikit kesal dengan tingkah temannya ke Gracia.

“Sejak kita putus. Dia jadi sering banget deket sama cewe lain.” Ucap Gracia yg diikuti dengan tetesan air matanya.

“Udah Gre. Yg sabar ya. Kamu jangan terlalu mikirin dia dulu. Kamu tenangin hati kamu dulu.” Ucap Shani menenangkan Gracia. Gracia langsung memeluk Shani.

 

Saat sedang asik makan gw dengar ada suara teriakkan dari dalam.

 

“Tembak,, tembak,, tembak.” Teriak semua orang di dalam.

 

Gw yg mendengar itu langsung melirik ke tempat keramaian itu.

 

“Ada, apa ya di dalam ramai banget.” Ucap gw kepada Anin.

“Kayanya ada yg lagi nyatain cinta deh di dalam sana.” Ucap Anin.

“Liat yuk Nin.” Ajak gw. Anin hanya mengaangguk.

 

Kami menuju kermaian tersebut. Betapa kagetnya gw melihat Billy sedang duduk kesatria sambil memegang bunga di hadapan Sisca.

 

“Sisca, sebenarnya aku udah lama sayang sama kamu. Kamu mau gk jadi pacar aku?” Tanya Billy. Sisca diam terkagum memandangi Billy.

“Iya. Aku mau jadi pacar kamu kok.” Ucap Sisca sambil menerima bunga pemberian Billy.

 

Billy langsung berdiri dan memeluk Sisca.

 

“Cie, jangan lupa pajaknya Bil.” Teriak bang Aryo.

“Makan-makan gratis nih hari ini.” Goda Kelik.

“Jangan sekarang juga kali bro. Uang gw pas-pasan soalnya.” Ucap Billy.

 

Kami semua langsung tertawa mendengarnya. Beberapa menit kemudian kami semua kembali ke meja masing-masing.

 

“Gk kerasa ya. Baru beberapa hari yg lalu anak IPS 3 ada yg putus. Sekarang udah ada yg jadian lagi aja.” Ucap Anin dengan senyuman yg bikin gw beresiko terkena diabetes akibat melihatnya.

“Maksudnya, kamu ngeledek aku nih.” Ucap gw sedikit jutek.

“Ngeledek gk ya. Maunya gimana?” Ucap Anin dengan gaya sok mikir.

“Dasar, cari gara-gara nih anak.” Ucap gw. Gw langsung berdiri menghampiri dia dan menggelitiki pinggang dia.

“Ampun. Adi cukup, aku gk tahan nih. Pliss berhenti.” Ucap Anin yg menggeliat karena kegelian.

“Siapa suruh kamu ngeselin. Aku gk akan berhenti ngelitikin kamu.” Ucap gw.

 

Gw benar-benar puas menggelitiki tubuhnya. Semua orang yg berada di sekitar kami memperhatikan kami. Anin sampai berdiri menghindari kelitikan gw. Tapi gw tahan tubuhnya dengan tangan kanan. Dan tangan kiri gw menggelitiki dia. Dan tiba-tiba wajah kami saling berhadapan dan jidat kami saling bersentuhan. Sedangkan tangan kanan gw merangkul pinggangnya. Kami pun terdiam.

 

“Ehemm…

 

 

 

-To Be Continued-

@Nugroho_AJ93

Line     : adi93saya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s