Breakers, The Super-Powered Agent: Prologue Page 5

title-5

 

“Iya juga. Emang si Erik siapanya kamu Chell ? kok dia overprotektif banget sama kamu ?”Tanya Grace.

“Sebenarnya aku sudah dijodohin sama dia”jawab Michelle. Raut wajahnya pun kembali menjadi sedih.

“Apa seriusan Chell ? kamu jangan bercanda deh”ucap Grace.

Michelle hanya diam mendengar ucapan dari Grace.

“Jadi beneran ya ?”Grace kembali meyakinkan.

Michelle pun hanya mengangguk meresponnya.

“Tapi sebenarnya kamu tidak mau kan ?”Grace kembali bertanya.

“Hm…aku enggak bisa nolak keinginan Papa aku”jawab Michelle.

“Yang sabar ya Chell. Nanti pasti ada jalan keluarnya”ucap Grace. Kemudian Ia memeluk Michelle.

“Iya Chell, yang tabah ya”Sisca ikut berkomentar dan langsung memeluknya.

“Aku sempat mau lari dari kenyataan ini”ucap Michelle dalam hati.

“Tapi, mungkin kalianlah alasan aku bisa bertahan”lanjutnya.

<><><><>

Sore hari pun tiba dan bel pulang sudah berbunyi. Michelle dan teman-temannya segera pergi untuk pulang kerumah mereka masing-masing. Sebelumnya mereka juga memastikan tindakan Erik berhasil atau tidaknya dan sepertinya Ia tidak berhasil karena dari tadi Ia terlihat sangat kesal ketika berada di dalam kelas. Sedangkan Ridwan tidak ada muncul ke kelas semenjak kejadian tadi dengan Michelle.

FLASHBACK ON

Disebuah tempat yang sepi ketika hujan badai melanda. Disana terlihat seorang laki-laki paruh baya dengan darah yang mengalir disekitar kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya. Disampingnya terlihat seorang perempuan yang sedari tadi menangis meminta tolong.

“Tolong”teriak perempuan itu.

Akan tetapi dikarenakan hari yang sudah malam dan diselingi hujan badai, jadi jarang sekali ada orang yang lewat sana.

“Papa bertahan Pa. sebentar lagi pasti ada pertolongan”perempuan itu terus menerus berteriak meminta tolong.

Tak lama kemudian Mobil sedan berwarna hitam berhenti di dekat mereka dan turunlah seorang laki-laki dari dalam mobil tersebut.

“Michelle ? kamu kenapa ?”Tanya laki-laki itu.

“Erik, cepet tolong Papa aku rik. Dia di pukuli preman”ucap Perempuan itu yang ternyata adalah Michelle.

“Kalo begitu cepat bawa masuk”ucap Erik sambil membantu Michelle membawa ayahnya kedalam mobil.

SKIP

Beberapa hari kemudian. Ayahnya Michelle sudah sembuh dan diperbolehkan untuk pulang kerumahnya setelah membayar tagihan rumah sakit. Akan tetapi karena tidak memiliki cukup Uang keluarga Erik lah yang membayarnya.

 

Satu bulan telah berlalu. Kini Michelle terlihat sedang berkumpul bersama kedua orang tuanya dan juga kakak Perempuannya. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.

“Tapi pa, ini terlalu mendadak dan aku juga enggak cinta sama dia”ucap Michelle.

“Apa ? kamu pikir seberapa besar jasa mereka kepada kita ?”Bentak ayahnya Michelle.

“Aku gak mau Pa, pokoknya aku gak mau. Kenapas sih Papa gak mau dengerin aku”ucap Michelle.

“Dasar anak yang tidak tau terimakasih”Ayahnya Michelle kembali membentak dengan suara yang lebih ditinggikan.

“Cukup Pa”Ibunya Michelle langsung memeluk Michelle yang sudah menangis.

Setelah kejadian tersebut Michelle tidak dapat menolak apa keinginan Ayahnya, walaupun Ia tidak mencintai Erik, tetapi Ia harus mau dijodohkan dengannya karena keluarga mereka sudah banyak membantu pada saat Ayahnya Michelle dirawat di rumah sakit.

FLASHBACK OFF

Di UKS Ridwan tengah sadarkan diri. Kini Ia malah kebingungan karena disana hanya ada seorang Perempuan yang sedari tadi menunggunya.

“Maaf, kamu siapa ya ? dan aku ada dimana ?”Tanya Ridwan kepada Perempuan itu.

“Aku Jessica Veranda, aku ketua PMR disini”jawab Perempuan itu.

“Tadi kamu pingsan di koridor dekat Lab untungnya tadi ada anak kelas satu yang nolongin kamu”lanjutnya.

“Oh, Jessica Veranda, terimakasih. Aku pulang dulu”ucap Ridwan.

“Panggil Veranda aja juga gak papa”ucap Veranda.

“Iya Veranda. Aku pulang dulu”ucap Ridwan sambil pergi meninggalkan ruang UKS.

“Iya. Hati-hati”balas Veranda.

Dihalaman sekolah sudah tidak ada seorang pun yang berada di sana. Akan tetapi Ridwan merasakan bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya. Ia pun terus berjalan sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan melihat ke sekitar.

Syut

Tiba-tiba seorang laki-laki yang menggunakan seragam sekolah yang sama langsung menyerang Ridwan dengan sangat cepat menggunakan sebuah pisau.

Whuup

Ridwan berhasil menghindari serangan tersebut. Kini mereka berdua saling bertatapan.

“Hahaha…seperti biasa reflekmu cepat, Ace”ucap orang itu.

“Knight ya ? apa yang kamu lakukan selama ini ? seragam itu ?”Ridwan dipenuhi oleh tanda Tanya dikepalanya.

“Hahaha…lama tidak bersua Ace. Kabar adik kamu bagaimana ? apa dia sudah sembuh ?”Tanya orang yang dipanggil Knight itu.

“Itu bukan urusanmu”jawab Ridwan sambil melancarkan pukulan lurus kearah wajah Knight.

Whut

Knight sedikit melompat kebelakang untuk menghindari pukulan tersebut.

Tap

“Tingkat kedinginanmu belum berubah sama sekali ya”sindir Knight.

“Dan kamu masih menyebalkan seperti dulu. mungkin sekarang pacarmu sudah bertambah lagi”ucap Ridwan balik menyindir Knight.

“Hahaha… jangan begitu lah, Fadhillah Ridwan. Kita kan teman”ucap Knight.

“Teman ? sejak kapan kita berteman ? kalo mau duel aku akan menghajarmu sampai habis, tapi tidak disini”Ridwan semakin sebal dengan ocehan yang dilontarkan Knight.

“Jangan panggil gue Knight. Panggil aja Willy. Willy H. Debiean”ucap Knight.

“Pikiran lo Cuma berantem mulu. Udah lah Gue kesini Cuma mau nyapa lo doang”lanjutnya.

Ridwan pun tidak merespon ucapan dari Willy. Ia malah menghiraukannya dan melanjutkan perjalanannya.

“Sebaiknya besok lo hati-hati disekolah”ucap Willy. Kemudian Ia melompat ke atas gedung sekolah dan langsung pergi menghilang..

<><><><>

Malam harinya. setelah melakukan tugasnya, Ridwan seperti biasa selalu menginap di rumah sakit untuk menemani adiknya. Walau adiknya terkadang melarangnya tapi Ia bersikeras memohon untuk diperbolehkan menemaninya.

“Tadi bagaimana kak disekolah ?”Tanya Gracia.

“Yah seperti biasa Gre. Membosankan”jawab Ridwan.

“Hmm…kakak bohong ya. Kakak tau kan kalo kakak gak bisa boongin Gre”goda Gracia.

“Beneran Gre gak ada papa kok”bantah Ridwan.

Walaupun ekspresinya terkadang dingin. Tapi entah kenapa Gracia selalu tahu kalau Ridwan sedang berbohong.

“Hmm…Gre nanti ngambek loh kak, kalo kakak gak cerita”ucap Gracia sambil memasang wajah pura-pura marahnya.

“Iya-iya kakak cerita”

Ridwan pun kewalahan dengan adiknya itu dan pada akhirnya Ia menceritakan kejadian tadi disekolah.

“Apa ? ci..ci..ciuma….”

Ridwan langsung membekap mulut Gracia karena suaranya yang terlalu keras.

“Ssssstttt…. Pelan-pelan Gre!!”ucap Ridwan sambil terus membekap mulut adiknya itu.

“Iya kakak gak sengaja cium keningnya”ucap Ridwan. Untungnya Ridwan tidak menceritakan kejadian itu secara keseluruhan, karena jika Ia menceritakannya adiknya pasti akan bertindak lebih heboh dari ini.

“Wah kak, itu kejahatan namanya. Kakak mencuri kesempatan dalam kesempitan, jelas-jelas kak itu tindak kriminal”canda Gracia.

“Kakak kan gak sengaja. Emang ada ya UU yang membahas tentang ciuman ? perasaan, kakak, gak pernah denger tuh”ucap Ridwan.

“Ada kak, kan Gre yang buat”ucap Gracia.

“Ehhh,…dasar kamu”ucap Ridwan sambil mencubit pelan pipi adiknya itu.

“Ihh…sakit tau kak”ucap Gracia sambil melepaskan cubitan kakanya.

“Ngomong-ngomong cewek yang kakak cium siapa kak ? orangnya cantik ?”tanyanya tiba-tiba.

“Puffttttttt…..uhuk uhuk”Ridwan yang sedang minum pun tiba-tiba tersedak akibat pertanyaan dari Gracia.

Di Rumah Michelle. Tidak seperti biasanya, Ia kedatangan tamu yang sangat penting. Mereka adalah keluarga Erik. Ayahnya Erik merupakan seorang Menteri Pendidikan dan Ibunya adalah Kepala Direktur di SMA Negeri 4869 Jakarta yang memiliki wewenang tertinggi dari pada kepala sekolah.

“Michelle, Erik datang nih”ucap ayahnya Michelle yang sedang berkumpul di ruang tamu bersama keluarga Erik.

Sedangkan Michelle tengah berada dikamarnya bersama Kakaknya. Ia tidak mau pergi untuk menemui Erik, karena Ia yakin akan memperpanjang masalah yang tadi disekolah.

“Michelle, sebaiknya kamu temui dia dulu. nanti papa bisa marah lagi”ucap Desy.

“tapi kak, aku takut. Aku sudah cerita ke kakak kan. Soal masalah tadi disekolah”ujar Michelle.

“iya Chell, kakak tau dan kakak juga bisa mengerti bagaimana berada di posisi kamu sekarang. Tapi, kamu harus hadapi Chell. nanti pasti tuhan memberikan yang terbaik kepadamu Chell”Desy mencoba menasihati Michelle supaya Ia tidak putus asa.

Michelle pun pergi ke ruang tamu untuk menemui Erik ditemani oleh kakaknya.

Sampainya disana Erik mengajak Michelle untuk pergi ke luar, sedangkan keluarganya mengobrol di dalam bersama keluarga Michelle.

Diluar rumah terlihat Michelle sedang duduk di teras dan memandangi halaman bersama Erik yang duduk disampingnya. Michelle selalu bergeser agar tidak terlalu dekat dengan Erik, akan tetapi Erik selalu mengikutinya dan usaha Michelle pun sia-sia.

“Apa yang murid pindahan itu lakukan ? kenapa kamu bisa sampai menangis ?”Tanya Erik kepada Michelle.

“Enggak kok, aku yang salah”jawab Michelle.

“Kamu ini kenapa ? kita sudah lama pacaran, tapi kamu selaku memperlakukan aku seperti ini”bentak Erik.

“Kenapa kamu belum bisa mencintaiku ?”lanjutnya.

Michelle hanya diam mendengar semua ucapan dari Erik. Sebenarnya Ia ingin sekali mengeluarkan semua unek-uneknya saat ini. Tapi, Ia tidak bisa, karena Ia tahu bahwa ayahnya sedang mengawasinya.

“Maaf, Aku belum bisa. Tapi aku akan berusaha”ucap Michelle pelan.

“Aku ngantuk, Aku mau tidur dulu”lanjutnya sambil meninggalkan Erik. Terlihat raut wajahnya yang kembali bersedih.

Sampainya di Kamar. Michelle langsung membaringkan tubuhnya dikasur untuk langsung tidur.

Kakaknya yang menyadari Michelle kembali bersedih segera pergi ke kamar Michelle untuk menghiburnya, tapi pintu kamarnya sudah Michelle kunci.

“Chell, kamu baik-baik aja kan ?”ucap Kakaknya dari balik pintu.

“Aku baik-baik aja kak, jangan khawatir. Sekarang aku hanya mau tidur”balas Michelle.

“Karena aku bisa bahagia di dalam mimpiku”lanjutnya.

Kakaknya pun mengerti dan Ia segera pergi untuk membiarkan Michelle sendirian dulu. mungkin Ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya.

“Rifall, kamu dimana ? kamu udah janjikan ? kalo kamu akan selalu ngelindungin aku ?”ucap Michelle dalam hati. Ia pun kembali menangis, air matanya mengalir dan membasahi bantal.

 

FLASHBACK ON

Disebuah taman bermain. Terlihat seorang anak perempuan sedang duduk di salah satu ayunan yang berada di sana. Perempuan itu terlihat menangis dan terus menundukkan wajahnya kebawah.

Tak lama kemudian seorang anak laki-laki yang menggandeng tangan seorang anak perempuan datang menghampiri Perempuan itu.

“Lele ? kamu nangis lagi ?”Tanya anak laki-laki itu.

“Rifall ?”ucap anak Perempuan itu yang ternyata adalah Michelle ketika masih kecil.

“Papa kakak marah lagi ya ?”Tanya anak perempuan yang datang bersama Rifall.

“Gracia ?”Michelle hanya merespon dengan menyebut nama mereka saja.

“Ini udah sore Le, kamu harus pulang. Nanti keburu malam”ucap Rifall kepada Michelle.

“Aku gak mau pulang, aku takut”ucap Michelle.

“Yaudah, aku anterin Lele pulang. Aku janji akan ngelindungin Lele kok”ucap Rifall.

“Beneran ? Rifall janji ya ?”Michelle mencoba meyakinkan.

“Iya aku janji”balas Rifall.

“Janji ? seterusnya Rifall akan selalu selalu selalu ngelindungin Lele ?”Tanya Michelle.

“Iya aku janji”ucap Rifall. Ia pun mengacungkan jari kelingkingnya kepada Michelle.

Michelle pun mengaitkan jari kelingkingnya ke kelingking Rifall.

“Janji kelingking, jika berbohong aku akan menelan 1000 jarum dan memotong kelingkingku”ucap Michelle dan Rifall secara bersamaan.

Setelah itu mereka tertawa dan akhirnya Michelle pun pulang dengan diantar oleh Rifall dan adiknya.

 

To Be Continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s