Weird Love, Part 3 : Siska ?

weird-love-cover

Keesokan hari nya Christi tak henti henti nya menganggu ku, dia terus terusan menyindir ku tetang Chris dan pembicaraan kami berdua semalam. Ada dua hal yang membuat ku bingung tentang Christi, pertama bagaimana dia bisa berubah menjadi orang yang begitu serius sedangkan sekarang dia bertingkah seperti anak kecil, yang kedua kapan dia tidur jika dia  Batman itu akan menjelaskan banyak hal.

“Awas kena skandal lo ntar turun lagi jadi trainee,” ucap Christi yang belum puas menyindir ku.

“Udah ahh nggak ada topik lain,”

“Hmm…. lo udah nonton episode terakhir Tantara.?” Ucap Christi dengan wajah jail, ekspresi muka yang selalu dia tampilkan ketika ingin spoiler drama Korea kepada ku.

“EH…..jangan spoiler,” ucap ku pura pura panik.

“Bagus lo mereka akhir nya sukses trus Gue rin akhir nya….,”

“STOP, ah lo nggak asik gue kan belum nonton,” potong ku masih berakting panik.

Aku sengaja berpura pura belum tahu bagaimana Tantara berakhir, aku tahu Christi pasti akan langsung bercerita karena dia tak akan melewatkan satu kesempatan pun untuk men-spoiler drama Korea kepada ku. Dia memang selalu begitu mungkin dia masih belum bisa melupakan dendam nya kepada ku, dendam karena dulu aku tak sengaja men-spoiler ending dari EXO next door kepada nya.

Christi akhir nya melaksanakan balas dendam nya kepada ku, dengan semangat dia bercerita tentang keseluruhan episode kepada ku lengkap dengan dialog yang diucapkan. Dia punya ingatan yang bagus untuk drama Korea, sayang dia tak mengunakan bakat nya untuk sesuatu yang lebih baik seperti menghapal rumus matematika dan juga rumus sains mungkin saja suatu hari dia benar benar menjadi Batman.

Aku tetap berpura pura dengan memasang muka kesal ku di depan Christi, melihat itu dia bertambah semangat untuk melaksanakan rencana jahat nya dengan menceritakan episode itu dengan sangat detail. Aku senang Christi melakukan nya selain kami bisa berganti topik, tunggu kenapa aku begitu senang kami berganti topik dan tak berbicara tentang Chris lagi. Apakah memang benar kalau aku…..

“Hei JCC tapi Cindy nya mana nggak lengkap dong,” ucap Siska ? maaf tapi aku masih belum mengenal seluruh senior ku di JKT.

“Ke toilet tadi,” jawab ku.

“Ohhh, gitu,” ucap Kak Siska.

“Ada apa nih.?” Tanya Christi.

“Gini nanti malam kan aku mau ngadain pesta ulang tahun aku…”

“Kak Siska ulang tahun selamat nya,” potong Christi yang langsung memeluk Kak Siska.

“Tunggu bukan nya 24 februari kak ? kan masih lima hari lagi.?” Tanya ku yang sedikit bingung.

“Iya sih masih hari kamis depan, tapi kan tanggal 23 aku ke Surabaya jadi takut nya nggak bisa dirayain,” jawab Kak Siska.

“Ciee hapal banget ulang tahun member,” sindir Christi sambil menyikut ku. “Ciee ciee,”

“Nggak apa apa lah,” jawab ku.

“Nah jadi ini undangan nya, jangan lupa datang ya” ucap Kak Siska memberikan undangan kepada ku dan Christi.

“Sipp,” ucap kami berdua setelah mendapat undangan.

Kak Siska pun pergi dan menghampiri teman teman yang sedang istirahat, aku menyimpan undangan itu kedalam tas karena aku berniat membaca nya dirumah sementara Christi yang tak sabaran langsung membaca nya.

“Ehh kayaknya kenal nih alamat,” ucap nya.

“Ahh perasaan lo aja kali,”

“Nggak serius gue ngarasa pernah ke alamat ini,”  ucap Christi sambil menunjuk alamat yang ada di undangan.

“Ngigo lo maka nya tidur,”

“Iye nanti,”

Tunggu Christi benar benar belum tidur ? aku memandangi nya mencari cari apakah dia membawa batarang nya sekarang.

Sensei sudah kembali menandakan istirahat kami sudah selesai, kak Siska yang masih membagikan undangan pun meminta izin kepada sensei untuk menyelesaikan tujuan nya datang kemari. Setelah Kak Siska selesai membagikan undangan nya latihan kami pun dilanjutkan.

Latihan berakhir lebih cepat karena sebelum nya Kak Siska sudah meminta tolong kepada Sensei agar latihan kami bisa berakhir lebih cepat, karena hal itu juga aku tak punya alasan untuk tidak datang ke pesta ulang tahun Kak Siska. Setelah sampai di rumah aku pun bersiap siap karena Christi sudah berjanji untuk menjemput ku, agar kami berdua bisa pergi bersama.

Aku memakai gaun hitam milik ku, dengan heels rendah berwarna silver. Aku sengaja memakai pakaian yang tak terlalu glamour, aku juga hanya memakai make up light hanya agar aku tak terlihat pucat karena lelah latihan. Setelah selesai aku pun mengambil undangan tadi siang dari tas ku dan membaca nya di ruang tengah, ku baca alamat yang tertera dan tak seperti Christi, aku tak mengenali alamat itu.

Sebuah pesan masuk dan itu berasal dari Christi, isi nya mengatakan dia sudah sampai dan menyuruh ku untuk membuka pintu. Anak muda jaman sekarang untuk mengetuk pintu pun malas, tak mau membuat dia menunggu aku pun membuka pintu dan aku terkejut melihat dia memakai pakaian yang begitu casual, jeans dan kemeja flanel.

“Loh kok.?” Tanya ku yang bingung.

“Lah lo kok menor sih ? bukan nya diundangan dress code nya casual ? ah lo kok pe’a sih malu gue,”

Aku melanjutkan membaca undangan yang belum sempat ku selesaikan, dan apa yang dikatakan Christi benar disana tertulis dress code pesta ini adalah casual. Aku yang merasa salah kostum pun kembali masuk sebelum Christi menahan tangan ku.

“Mau kemana.?”

“Ganti baju lah, gila lo gue pake baju kek gini,” jawab ku.

“Udah telat, pake baju itu aja,”

“Nggak ah masa gue salah kostum sendiri,”

“Ya elah udah, yang datang juga teman teman kita jadi lo nggak usah malu. Lagian lo mau kita telat ? pas acara selesai kita baru datang.?”

“Tapi….,”

“Nan lo ganti baju lama, ntar kita telat. Ayo udah berangkat,”

“Ya udah oke, tapi gue pinjem jaket,”

“Iya ada di mobil,”

Dengan perasaan gundah kami akhir nya berangkat ke pesta Kak Siska, ayah Christi kali ini bersedia mengantar kami. Setelah cukup lama aku mulai merasa bahwa jalan yang kami lalui familiar, aku mengenali beberapa bangunan yang kami lewati yang membuat ku berpikir jangan jangan ucapan Christi tadi siang memang benar.

“Lo ngerasa nggak kalo jalan nya familiar.?” Tanya Christi.

“Iya, gue ngerasa pernah lewat sini,” jawab ku.

“Tapi kapan ya.?”

“Nggak ingat gue,”

Kami mulai memasuki daerah pelabuhan yang membuat rasa penasaran kami berdua semakin besar, kami merasa yakin pernah datang kemari tetapi kami tak ingat dengan jelas. Saat akhir nya kami sampai semua pertanyaan kami terjawab, rumah itu memang tak asing kami baru dari sini kemarin, rumah Chris.

“Pa yakin ini alamat nya.?” tanya Christi memastikan.

Papa nya Christi kembali melihat undangan yang ku tunjukan, dia membaca sebentar undangan itu sampai akhir nya mengangguk.

“Ini kan rumah…”

“Chris,” potong ku.

“Jadi Chris sama Kak Siska…..keluarga.?” ucap Christi.

“Mungkin,”

Kami sempat ragu sampai akhir nya kami melihat Kak Nat dan Rona turun dari taksi dan masuk ke rumah Chris, yang mengkonfirmasi bahwa benar ini adalah alamat yang kami tuju.

“Makasih ya pa mau ngantarin,”

“Makasih om,” ucap ku berterima kasih.

“Nanti kalo pulang telpon biar papa jemput,” pesan Papa Christi sebelum pergi.

Aku dan Christi bertatapan sebelum akhir nya masuk dan aku benar benar salah kostum.

 

Footnote.

Gue rin : salah satu tokoh di drama Korea Tantara.

EXO next door : Drama Korea.

Batarang : salah satu gadget Batman, berbentuk senjata lempar berbentuk kalelawar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s