Pengagum Rahasia 2, Part 21

5 Menit setelah ihza mengirim pesan terakhirnya, tidak ada lagi pesan yang masuk ke Handphone Deva.

Deva kembali memejamkan mata sambil merebahkan tubuhnya.

Tok! Tok!

“Hmm?”

Mendengar suara itu, Deva langsung melihat ke arah pintu kamarnya.

Kleek~

“Aku masuk ya dev…,”

Ve dengan rambut yang di ikat ke samping tampak membawa sebuah snack dan juga minuman hangat di tangannya.

Bajunya yang sedikit basah begitu jelas terlihat, aroma sabun pun masih tercium di badannya.

“Uh…Ve,” Deva menghiraukannya dan kembali memejamkan mata

“umm…baju kamu yang basah tadi disimpen dimana dev,” tanya Ve dengan lembut

“Tuh…,” Deva menunjuk ke arah belakang lemarinya

“Hem…lain kali kamu simpen di cucian atau di kamar mandi ya dev, biar gak basah kemana-mana,” ucapnya sembari membawa baju yang basah itu

“Tau ah…gak tau apa lagi capek gini…,”

“Ek…,” Ve tidak berkata apa-apa lagi

Lalu ia duduk di pinggir kasur dan mulai mengusap-usap rambut Deva.

“Maaf…Aku tau kamu lagi capek, itulah kenapa sekarang aku bawain snack buat kamu,”

“Hmm?” Deva sedikit menoleh

“Nih liat deh…,” Ve membuka snack itu

“W-Wha!”

“Eh? Kenapa dev?”

Tiba-tiba saja Deva seperti terkejut saat pandangannya tertuju ke arah Ve.

“V-Ve…Cantik!” batinnya

*Hesp-Hesp!

“Akh! M-Malu dev…kenapa kamu nyium-nyium badan aku…,” ucap Ve dengan pipi merahnya

“Kamu belum mandi ya?”

“I-Iya dev…soalnya aku masih nyuci baju,”

Deva masih menatap tajam ke arah Ve.

Ve yang menyadarinya hanya bisa tertunduk diam karena malu.

“Y-yah…kalau gitu snacknya…eng…umm,” Ve yang tampak gugup mulai membuka snack itu

“Biar aku…,” ucap Deva

“eh…umm,” Ve kembali menundukan kepalanya

*Srek! (Suara sobekan plastik)

“Yap! Ek-Kalau gitu aku lanjut nyuci baju dulu ya dev…,”

“Tunggu…,”

“Ah!”

Jantung Ve berdegup kencang, tangan deva begitu kuat menggenggam tangannya hingga Ve tidak bisa pergi kemana-mana.

“Sehabis kita kasih kejutan, kamu langsung siap-siap ya,”

“aku harap penampilan kamu malam ini lebih baik daripada kemarin,”

Ve terdiam tanpa sepatah kata apapun, namun tak lama kemudian Ve berbalik menghadap Deva.

Pipinya berubah menjadi merah seperti tomat, senyuman terpancar dari wajahnya.

“Aku bakal kasih yang terbaik buat kamu dev!”

Ceklek!

Ve langsung pergi dari kamar deva.

*

*

Deg-Deg-Deg~

“Dev…akhirnya kamu ngajak aku kencan…,”

~oOo~

Jam 18.00…

“Loh…sepi banget,” ucapnya

Wanita itu baru menyimpan sepatu warriornya di rak sepatu, ia terheran karena keadaan rumah yang begitu sepi. Arlojinya menunjukan pukul enam sore, namun lampu teras rumahnya pun masih belum di nyalakan.

*Kreek~

            Perlahan ia membuka pintu itu sembari tampak waspada dan melihat situasi di dalam rumah.

“W-Whaa!”

JDUK!

            Kakinya reflek menendang benda yang ada di depannya karena terkejut.

Benda itu adalah boneka panda raksasa yang membawa sebuah tas kecil yang diselendangkan.

“Waduh…Kenapa bonekanya malah di tendang sih kak mel,” ucap seseorang yang muncul dari belakang boneka besar itu

“Eng…Deva?”

“Padahal kan bonekanya bagus,” Deva sedikit membungkuk sambil memegang boneka besar itu

“malah di tendang lagi, Huft…,” *HEP! Deva mendudukan boneka itu lagi

*Klep!

“Loh!? S-Siapa ini!?” ucap Melody karena matanya tiba-tiba di tutup dari belakang itu

“Coba tebak,”

“Hiss! Ve!”

“Hihi…Selamat ulang tahun Mel,” Ve memeluk Melody

“Whaaa! Em…Makasih ya Ve, kamu orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun,”

“Wah, gitu ya,”

“Sebenarnya aku juga gak tau kalau hari ini tuh hari ulang tahunku,”

*Plek~

            Ve mengusap wajahnya.

“Ulang tahun sendiri pun gak tau…,”

“yah, padahal baru 22 tahun, udah pikun…,” ejek Deva

“Hah? Tadi kamu bilang apa?” ucap Melody

“Eh-eh, enggak bilang apa-apa kok, hehe…,”

“Hem, terus boneka ini?” tanya Melody

“Itu hadiah kamu,” ucap Ve

“Ha-diah!?” timbalnya sambil mengernyitkan dahi

“Eng…kok keliatannya gak seneng gitu,” ucap Ve

Melody terlihat berjalan menuju boneka itu.

Lalu ia melihat sesuatu di dalam tas yang di bawa oleh boneka panda tersebut.

“100 Resep masakan, plus resep sederhana dengan bahan-bahan seadanya,” bacanya dengan jelas

“Ini juga hadiah buat aku?” ucap Melody

“Eh…,” Ve menggaruk kepalanya sambil melihat ke arah Deva

“Sejak kapan ada buku itu disana dev?” bisiknya pelan

“Yah, itu juga hadiah buat kak Melody,” ucap Deva secara tiba-tiba

“Hiss! Aku di cuekin!” batin Ve

“Wah! Makasih ya!”

Melody langsung memeluk Ve dan juga Deva.

“Duh…Jangan terlalu kenceng meluknya, Deva jadi gak bisa nafas!”

“Huh…kakak pikir kamu gak akan pernah kasih hadiah yang bagus,”

“Ah-Ahahaha…,” Ve tertawa

“Oke, aku ambil yang ini,” ucap Melody sembari menunjukan buku resepnya

“Kalian bisa bakar bonekanya nanti malam, dah kalau gitu kakak mau istirahat dulu. Jangan ganggu ya!”

JDAK!

            Pintu kamarnya di tutup dengan keras.

Di lihat dari raut wajahnya, Melody terlihat sangat senang. Saat masuk ke kamarnya pun ia memeluk buku itu dengan erat.

Akan tetapi…

“Di bakar!” ucap Deva dan Ve bersamaan

“ya ampun…ternyata gak berhasil, Hahaha…,” Deva tertawa lalu ia duduk di sofa

“umm,” Ve terdiam sembari melihat ke arah Deva

“Meskipun dia udah susah payah cari uang untuk beli boneka ini, tapi dia kelihatan bahagia meskipun hadiahnya gak di terima,” batinnya

*Deg~ Ve memegang dadanya.

“Aku jadi makin sayang sama kamu dev,”

“yah, karena bonekanya ditolak…,” ucap Deva menggantung

“Kamu bawa deh ke rumah,” lanjutnya

“Ah! K-Kamu serius dev?”

“Iya, katanya kamu suka sama bonekanya,”

“Makasih dev!”

Tiba-tiba Ve langsung naik ke paha Deva dan memeluknya dengan erat.

“Gaaaah! Kamu ini! Kalau kak mel liat bisa…,”

“Gak apa-apa dev, Melody juga pasti ngerti kok,” potongnya

“Y-yah…asalkan gak sampai di luar batas aja, V..V-Ve…,” ucapnya tergagap

Ve langsung mendekatkan wajahnya pada Deva.

Hidung mereka saling bersentuhan.

“Di luar batas gimana sih sayang?” ucapnya sedikit genit

*Glek! Deva menelan ludahnya.

“Huuh!” Deva mencubit pipi Ve

“IH! Kebiasaan deh!”

“Haha! Habisnya itu keliatannya kayak bukan pipi!”

“Ish! Terus aja ngeledek!” Ve terlihat marah

“Hemm, iya deh maaf. Kan cuma bercanda,” ucap Deva

Ve kembali tersenyum.

Deva masih menatap tajam wajah Ve,

5 Detik…

10 Detik…

15 Detik…

“Oh iya Ve, kamu pernah ciuman gak?”

“Eh!?” Ve tampak terkejut

“yah…sebenarnya aku cuma penasaran sih, tapi…,”

“D-Deva! Kamu serius!?” potong Ve

“Serius apanya?” tanya Deva balik

Melihat wajah Ve yang memerah, deva pun akhirnya menyadarinya.

“Wah! Ak…Bukan Ve!”

“Aku gak bermaksud pengen ciuman!” bantah Deva

“Duuh…Lain kali kamu jangan tanya hal itu lagi ke cewek lain sayang,” ucap Ve sembari memegang kedua pipi Deva

“Tapi karena kamu bilang kayak gitu….,” Ve memejamkan matanya sembari sedikit membuka bibirnya

Perlahan-lahan Ve mendekatkan bibirnya.

Semakin dekat…

Semkain dekat…

“Hoi-Hoi! Cepet siap-siap sana!” ucap Deva sambil mendorong wajah Ve menjauh darinya

“Ek! Huh, nyebelin!”

Ve masuk ke kamar deva untuk bersiap-siap.

“ya ampun…,”

“Gw juga sih yang bego, kenapa gw tiba-tiba nanyain soal ciuman yah,” pikirnya

“Oh, kalau di inget-inget sih gw nanyain itu gara-gara liat bibirnya Ve,”

Wajah deva tiba-tiba memerah.

“Kenapa gw mikirin hal aneh kayak gitu sih!”

~oOo~

Jam 19.00…

*Kring-Kring~

“Tunggu sayang! Aku lagi siap-siap ini!”

Suara itu terdengar dari jendela kamar Deva.

Deva yang sedari tadi menunggu sudah mulai bosan. Namun tak lama kemudian…

Ceklek!

“Ayo dev,”

“Bwah!” Deva terlihat kaget

“Cantik!” batinnya

“umm, j-jangan liatin aku kayak gitu…dev,” ucap Ve yang tampak malu-malu itu

“N-Nah, kalau gitu ayo naik,” ucap Deva

“em,” Ve mengangguk

Seperti malam kemarin, mereka masih menaiki sepeda untuk berjalan-jalan mengelilingi kota. Ve tampak nyaman dengan posisinya, dengan memeluk erat deva dari belakang.

Rambutnya di gerai, ia juga mengenakan kaos putih yang tampak sederhana namun begitu menggoda, dan juga bibir yang sedikit di lipstik agar kelihatan segar.

“Kita mau kemana sayang?”

“Ah-eh…Aku juga gak tau, hahaha…,”

“Kita ke bukit yuk,” ajak Ve

“Bukit? Malam-malam begini!?”

“Tapi kalau gak salah malam ini tuh lagi ada event gitu disana,”

“Event?” pikir Deva

“Oh! Aku baru inget! Eh tapi kamu tau darimana ada event di bukit itu Ve? Padahal kan itu eventnya yang ngadain SMA 48,”

“ya tau lah, kan adik aku sekolah disana juga,” balas Ve

“Oh, aaron…oke,”

“Jadi gimana dev?” tanya Ve lagi,”

“yaudah deh kalau kamu pengennya kesana,”

“Hem,” Ve memeluk deva dengan erat

Pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke bukit.

Tempatnya memang jauh, namun deva banyak tau soal jalan pintas menuju kesana, Perjalanan pun hanya memakan waktu sekitar 30 jam saja.

*

*

(Suara keramaian orang)

“Baru jam segini udah rame!?” ucap Deva saat melihat tempat itu

“Ayo sayang!” Ve yang terlihat manja menarik-narik tangan deva

“I-Iya-iya tunggu bentar napa,” balas Deva sembari memarkirkan sepedanya

~oOo~

Bem…Bem…Bem…

“Huh! Kenapa ujung-ujungnya sinka malah ikutan ke eventnya sih!”

“Mana lampu merahnya lama banget lagi!” gerutunya

“Bawel amat sih dut! Pas kita sampai di tempat eventnya, semua rasa kesel kamu pasti bakalan ilang, kakak jamin deh,”

“Heh!” Sinka tampak kesal dan ia langsung memakan snack di belakang

“Eh-eh, ambilin kaca dong,” ucap Naomi

“Centil banget sih,”

“Cepetan ambil!” bentaknya

“Iya-iya!” balasnya dengan kasar

Di Tempat Lain…

“Duh bil, emangnya gak apa-apa yah kalau kita masuk ke eventnya? Itu kan event anak SMA,”

“Hiih Shani! Udah berapa kali aku bilang, eventnya itu bersifat umum! Semua orang boleh masuk!”

“Tapi bil, kita kan anak SMP dan juga…,”

“Shani-Shani please, kita udah jadi temen baik kan?”

“I-Iya,”

“Nah, kamu percaya kan sama aku?”

“Em…I-iya tapi…,”

“yaudah kamu tinggal nikmatin aja eventnya nanti,” potong Nabilah lagi

“huft, aku sampai ngerepotin kak Henri,”

“Gak apa-apa dek, lagian kakak juga lagi ada urusan sama temen,” balas orang yang menyupir di depan

“Temen apa pacar kak?” ucap Nabilah

“yee…ni anak kepo amat,”

“Ahahaha! Cuma bercanda kak, piss!”

“Hemm…,” Shani menyenderkan kepalanya di jendela mobil

“Pasti nanti kita bakalan jadi pusat perhatian,” ucap Nabilah

“Tau darimana sih…,” balas Shani

“Kita berdua kan cantik shan! Kamu gak sadar yah? Oh-Oh, atau jangan-jangan kamu udah punya cowok?”

“Ek!? Co-wok!?”

(……………………………………..)

“Shan, kita ini kan temen dari kecil, aku lebih menghagai kamu sebagai sahabat aku,”

“Deva…,” ucapnya pelan

“Apa? Tadi kamu bilang apa shan?” tanya Nabilah

“A-Ah…Gak kok, hehe…,”

“Disini ya tempatnya?” ucap lelaki di depan

“Eh udah sampai ya kak?” Nabilah langsung melihat-lihat keluar

“umm, rame juga tempatnya,” Shani juga melihat keluar

Klek!

Nabilah keluar lebih dulu dari mobil, di ikuti oleh shani di belakang.

“Makasih ya kak udah mau nganterin,” ucap Shani

“Iya, kalian hati-hati ya,”

“Oke kak!” balas Nabilah

Brum!

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s