Graduate

“Halo Kakak, apa kabar?” ucap seseorang dengan senyuman sambil menjabat tangan pemuda di hadapannya.

“Eumm jangan panggil Kakak, umur aku masih belasan,” balas pemuda itu.

“Oh jadi manggilnya ap….”

“Waktunya udah abis Mas,” Sela seseorang yang sedari tadi bediri di samping bilik yang membatasi sepasang wanita dan laki-laki itu sambil sesekali melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan.

“Wah maaf Kak, gak kerasa ya, jangan bosen mampir di bilik aku ya.” Pemuda itu hanya mengangguk sambil menerima sebuah stiker pemberian gadis di hadapannya.

“Halo Kakak, apa kabar? gadis itu melakukan hal yang sama pada pemuda lain yang sudah berada di hadapannya.

Begitulah yang ia lakukan sedari pagi. Menjabat tangan pria dan tak sedikit juga wanita, dari berbagai kalangan, tua dan muda juga banyak yang seumuran dengannya.

Sebuah acara yang disebut handsake festival dimana para fans diberi kesempatan untuk berbicara dan berinteraksi langsung dengan idola mereka. Tidak terlalu lama, sekitar 10-100 detik, tergantung seberapa banyak tiket yang mereka bawa.

Mungkin sebuah waktu yang cukup singkat, sangat singkat, tapi bagi orang-orang tertentu hal itu sudah lebih dari cukup untuk memuaskan rasa rindu yang mereka rasakan.

“Ah Kakak bisa aja, jangan mampir ke bilik yang lain loh.” Gadis itu menggembungkan pipinya sambil menyerahkan stiker pada fans yang ada di depannya.

“Eh Sin, buruan ke panggung, giliran kamu perform.” seseorang menepuk pundak gadis berjulukan Panda itu.

“Iya Kak, aku  ke sana.”

Gadis panda itu meninggalkan biliknya. Untuk kali sesinya telah habis, sekitar dua jam lagi hingga sesi selanjutnya dibuka. Biasanya waktu kosong seperti ini dia pakai untuk istirahat, tak jarang juga dirinya mendapat kesempatan untuk menghibur para fans di panggung yang sudah tersusun rapi di venue tempat acara ini diselenggarakan.

“Halo semuanya! masih pada semangat kan?” Si gadis panda menyapa orang-orang yang tengah menatap ke arah panggung.

“IYAAAAAA!” gema teriakan para penggemar terdengar nyaring. Beberapa bahkan seperti sudah merobek pita suara mereka.

Gadis itu tersenyum. Antusiasme yang dia saksikan menjadi suntikan semangat bagi tubuhnya yang mulai merasa lelah. Dalam hati dia bersyukur, meskipun sebenarnya dia tahu jika sebagian besar teriakan itu bukan ditujukan untuk dirinya, tapi sosok yang berdiri di sebelahnya sekarang ini

Setelah cukup lama, akhirnya riuh suara penonton mulai mereda. Sang gadis panda menatap dalam ke arah para penggemar lalu menarik nafas panjang, mencoba mengusir seluruh ragu yang dia rasakan sembari mengumpulkan segenap keberanian.

“Saya, Sinka Juliani memutuskan untuk graduate dari JKT48.”

*****

Sinka menghempaskan badannya pada kursi kosong yang ada di sebuah ruangan dengan interior seperti ruang tamu. Ruangan yang biasa ia dan teman-temannya gunakan untuk berkumpul sembari menunggu waktu latihan.

Dirinya sengaja meninggalkan venue acara lebih cepat dari yang lain, meskipun secara teknis acara tersebut memang sudah selesai tapi tetap saja dirinya lah yang pertama kali tiba di tempat itu.

Gadis itu menghela nafas panjang lalu melayangkan tatapanya ke arah langit-langit. Entah mengapa tubuhnya merasa sangat lelah, bahkan lebih lelah daripada sehabis melakukan physical traning.

Bukan keseluruhan acara yang menguras tenaganya melainkan pernyataan tak terduga yang terlontar dari balik kedua bibir merah milik gadis itu. Meskipun hal itu bukanlah sesuatu yang dilakukan secara mendadak bahkan sudah lama dirinya memikirkan untuk mengatakan hal itu, tapi tetap saja dirinya masih merasa ragu.

“SINKAAAAA!!” Teriak seorang gadis yang diikuti dengan beberapa gadis lain, menghambur lalu memeluk tubuh gadis panda itu bersamaan.

Dalam sekejap keheningan yang sedari tadi tercipta dikalahkan oleh suasana haru yang luar biasa. Beberapa mengeluarkan air mata namun ada juga yang mencoba tetap kuat meskipun kesedihan tak mampu disembunyikan pada wajah mereka.

“Kenapa mendadak gini?” tanya gadis dengan poni goyang sambil tetap memeluk teman seperjuangannya itu.

Beberapa dari mereka juga melemparkan pertanyaan yang sama namun Sinka hanya mematung dan mencoba untuk tetap tegar di tengah suasana yang sangat haru ini.

“Enggak mendadak kok, aku juga udah konsultasi sama manajer dan kakak-kakak yang lain, cuman emang sengaja gak ngasih tau kalian, biar surprise gitu.” Sinka tersenyum, mencoba untuk menangkan teman-temannya.

Memang dirinya bukan yang pertama mengumumkan tentang rencana kelulusan dari idol grup ini, beberapa temannya juga pernah melakukan hal yang sama. Sinka tahu betul perasaan sedih teman-temannya yang akan ia tinggalkan namun ia tidak tahu jika ternyata perasaan sedih yang ia rasakan jauh lebih besar.

Tapi keputusannya sudah bulat, pengumuman sudah ia sampaikan, jika ia kembali sama saja dengan menyia-nyiakan usahanya menetapkan hati selama ini. Sekarang yang ia bisa lakukan hanyalah menghabiskan waktu semaksimal mungkin sebelum kelulusannya diresmikan atau sebelum kotraknya berakhir.

“Ayo-ayo semua siap-siap, besok aja dilanjut ngobrol-ngobrolnya pas selesai teather,” perintah sang manajer yang langsung mendapat perhatian dari kumpulan gadis itu.

Dengan terpaksa mereka melepaskan pelukannya dari si gadis panda, perlahan mereka mulai berpencar, mencoba membereskan barang bawaan masing-masing lalu bergegas pulang ke rumah.

Setelah memastikan tak ada lagi yang tertinggal, Sinka langsung berjalan menuju tempat dimana Sang Ayah akan menjemputnya.

Saat ini pikirannya benar-benar kosong. Sungguh berat meninggalkan mereka yang telah sama-sama berjuang selama 4 tahun ini.

“Sinka buruan masuk, kok malah ngelamun?” Deru klakson mobil beserta suara berat berwibawa menyadarkan Sinka dari lamunan.

Gadis panda itu segera berlari menghampiri mobil berwarna hitam yang tengah menantinya di seberang jalan. Setelah masuk ia langsung merebahkan badannya, ingin sekali ia langsung memejamkan mata namun tatapan seseorang dari kaca spion seperti mencegahnya.

“Itu beneran yang kamu bilang tadi pas event dek?” tanya seorang gadis yang belum melepaskan pandangannya dari Sinka.

“Bener Ci,” jawabnya singkat.

“Emang ada apa Mi? kalian dipindahin lagi?” potong pria yang duduk dibalk setir.

“Sinka mau graduate Pah, bisa dibilang kayak berhenti gitu lah,” jelas gadis berwajah oriental itu pada Sang ayah.

“Bener itu Sin?” Sinka hanya mengangguk. “Kamu sama Ci Naomi kan masuknya bareng, kenapa sekarang malah keluar duluan?”

Sinka tak menjawab. Mungkin dia hanya malas untuk menjelaskan alasannya yang belum tentu dimengerti Sang Ayah.

“Yaudah deh, lagian kamu kan udah besar juga, udah bisa nentuin mana yang terbaik untuk masa depan kamu,” ucap Sang Ayah seperti sudah mengetahui arti di balik sikap diam anaknya.

Tak ada lagi pertanyaan yang terlontar, semua fokus dengan kegiatannya masing-masing, hanya lantunan lagu lembut dari radio yang melindungi mereka dari keheningan.

Sesampainya di kamar, Sinka langsung jatuh dalam pelukan kasur kesayangannya. Bola matanya yang hitam menatap lurus ke arah lampu yang tergantung sedemikian rupa di langit-langit. Sesekali dia menghela nafas, mencoba untuk membuat perasaannya lebih baik

Badannya tak sanggup lagi untuk bangkit, dekapan kasur yang hangat seolah tak mengizinkan gadis panda itu untuk pergi kemana-mana. Dia merogoh telepon seluler dari kantongnya, dengan lihai jemarinya menyentuh ikon burung perwarna putih dengan latar kotak biru.

“@Sinka_JKT48 kamu beneran grad sin?”

“Semoga sukses di luar sana ya @Sinka_JKT48 !”

“Tetep semangat @Sinka_JKT48 kita bakal dukung kamu terus kok.”

Itulah beberapa kicauan para fans dari ratusan notifikasi yang memenuhi akun sosial media miliknya. Begitu banyak kata-kata penyemangat, beberapa terlihat tidak rela, menganggap jika keputusannya terlalu mendadak tapi ada juga yang mendukung karena menganggap sudah waktunya gadis panda itu meraih impiannya yang lain.

“Maaf ya mendadak, makasih udah dukung aku selama ini, sekarang aku istirahat dulu ya, Oyasumi~.” Jemarinya menyentuh tombol ‘tweet’ yang tertera di sudut kanan bawah layar handphone miliknya.

Akhirnya Sinka mencoba untuk memejamkan mata. Tak lupa dia berdoa agar esok hari menjad lebih baik dan berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan.

******

Di tempat lain, seseorang tengah turun dari bus dan melangkah dengan wajah yang tertunduk ke arah handphone di tangannya. Berulang kali dia memperhatikan lini masa yang tertera di layar, memuat ulang lagi dan lagi.

Perjalanan hari ini sudah cukup mengaduk-aduk perasaannya. Senang, kesal, sedih, kaget dan berbagai macam elemen emosi yang lain bercampur jadi satu. Bahkan hal itu mampu membuat dirinya meleset beberapa meter dari pagar rumahnya sendiri.

Dia membuka pintu kayu di hadapannya, tak lupa menutup dan menguncinya kembali tanpa melepas fokus dari telepon seluler di tangan. Sepatu yang ia kenakan dilepas dan dibiarkan begitu saja lalu pemuda itu berjalan menuju kamarnya.

Pemuda itu melemparkan tasnya ke sembarang tempat, segera menghidupkan laptop miliknya sambil membuka cemilan yang merupakan persediaan terakhir minggu ini.

Selagi menunggu, matanya memandang ke arah foto gadis yang tersusun rapi dengan kostum yang berbeda di meja belajarnya. Sesekali dia menarik nafas, mencoba meredam perasaan yang sedari tadi mengganjal di hati.

Seharusnya event hari ini menjadi menyenangkan seperti yang sudah-sudah. Sebuah pengumuman yang mengejutkan dari orang yang ia dukung selama ini sudah merusak segalanya.

Tiba-tiba muncul sesuatu yang menarik di layar handphone-nya. Sebuah kicauan dari gadis yang fotonya terpajang di dinding kamar si pemuda.

Dalam sekejap mood pemuda itu berubah. Ia meninggalkan laptop yang sudah menyala lalu merebahkan badannya di kasur sambil menghalau sinar lampu dengan salah satu tangannya.

Yah, kicauan tadi telah membuktikan jika apa  yang dia dengar sebelumnya merupakan sebuah kebenaran. Pemuda itu sudah tahu jika hal ini akan terjadi. 4 tahun mengikuti perkembangan idol grup tersebut membuatnya sangat mengerti tentang sistem serta mekanisme yang ada di sana.

Sudah jauh-jauh hari dia mempersiapkan diri untuk menghadapi momen ini tapi semuanya ternyata di luar perkiraannya. Perasaan tak rela benar-benar menghantuinya sekarang. Dirinya tidak ingin sang gadis panda ‘lulus’ dan menghilangkan alasannya rela menempuh perjalanan jauh ke ibu kota hanya untuk berbincang beberapa detik. Kelihatan egois memang, memaksakan kehendak sendiri pada orang lain, tapi memang itulah yang dia rasakan.

Dengan lihai pemuda itu memainkan jari-jarinya di atas layar handphone miliknya. Huruf-huruf mulai terangkai menjadi kata yang membentuk sebuah kalimat untuk mengungkapkan apa yang dia rasa. ‘Kicauan’ demi ‘kicauan’ mulai menghiasi lini masa dari orang-orang yang ‘mengikuti’ akun milik sang pemuda.

Semuanya tersirat, tak ada yang tersurat.

Isi hatinya tak tertulis secara gamblang, namun penuh dengan kata-kata yang memiliki makna tertentu.

Semua kicauannya terlihat tegar namun sesungguhnya rapuh.

Ikhlas, tapi sebenarnya tak rela.

Ceria, meski nyatanya sedih.

Menenangkan, padahal dalam hati menjerit pilu.

Tanpa terasa mengungkapkan perasaan mampu menguras tenaga yang cukup besar. Kelopak mata pemuda itu mulai terasa berat. Penglihatannya mulai kabur akibat air mata akibat terlalu lama memandang layar handphone. perlahan kesadarannya mulai pudar dan akhirnya sang pemuda terlelap, berharap matahari esok mampu menghapus perasaannya malam ini.

********

“Baiklah, saya harap kalian sudah mempelajari materi yang saya kirimkan minggu lalu,” ucap seorang pria berkacamata yang berdiri membelakangi papan tulis putih tak bernoda.

Pria tersebut melanjutkan tugasnya, menjelaskan materi yang berkaitan dengan sastra negeri sakura. Dengan lihai dia menuliskan huruf-huruf kanji yang membentuk sebuah kalmat.

Beberapa mahasiswanya tampak antusias, namun banyak juga yang tak mengerti tentang apa yang sedang dijelaskan oleh sang dosen. Hanya satu, ya, hanya satu orang yang terlihat berada di dunianya sendiri, memandang ke luar jendela sambil memainkan pulpen di bibirnya.

Setelah apa yang terjadi kemarin ternyata kehidupannya tak banyak berubah. Dia masih punya studi yang harus diselesaikan, teman-teman yang diajak untuk bercengkrama dan juga jadwal latihan yang harus dia ikuti.

“Sinka, abis ini mau kemana? makan di kantin yuk.” suara seorang pria menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

Entah berapa lama dirinya sudah terjebak dalam dunianya sendiri yang jelas cukup lama hingga papan tulis di kelasnya hampir penuh dengan kanji dan sang dosen selesai menyampakan materinya.

Gadis itu melihat ke arah jam tangan bergambar panda miliknya. Masih ada cukup waktu sebelum dirinya harus melakukan kegiatan sebagai seorang idol jadi menghabiskan sedikit waktu di kantin bukanlah sebuah masalah besar.

“Yaudah duluan aja, ntar aku nyusul,” Balas Sinka sambil merapikan beberapa barang bawaannya.

Seperti biasa, kantin tak begitu ramai selepas kelas pagi. Sinka melihat sekeliling hingga akhirnya matanya tertuju pada sosok pria yang tengah terpaku pada layar handphone sedang duduk sendiran.

Sorry lama, tadi ke kamar mandi dulu bentar.” Sinka segera duduk dan meletakkan tasnya di kursi kosong yang ada di sebelahnya.

“Woles, mau pesen apa?” tawar sang pria.

“Gak usah, aku minum aja, masih belum laper kok.” Sinka merogoh handphone-nya dari dalam tas.

“Lagi rame nih di twitter, katanya kemaren kamu ngumumin graduate ya?” Pria tersebut meletakkan handphone di atas meja dan langsung menatap mata si gadis panda.

“Eh? cepet banget beritanya kesebar,” ucap Sinka dengan nada tidak percaya.

“Yaelah, kamu itu idol wajarlah berita sekecil apapun jadi viral, apalagi masalah sensitif kayak graduate ini.” Sebuah senyuman dilemparkan pemuda itu pada wanita paruh baya yang mengantarkan pesanan mereka, dua gelas teh manis dingin dan sepiring bubur ayam dengan uap yang menari-nari ke udara. “emangnya kenapa sih kamu mutusin untuk cepet-cepet lulus? kenapa gak barengan sama Naomi kakak kamu?”

“Ci Naomi ya Ci Naomi, aku ya aku, biar kita kakak-adek bukan berarti pilihan hidupnya harus bareng terus.” Sinka menyeruput minuman miliknya, “lagian kayaknya udah waktunya buat aku untuk ngejar impian yang lain.”

“Hahaha iya deh, kirain kamu bakal jadi anak kecil selamanya, jadi kapan kira-kira resmi lulus dari sana?”

“Sama kayak yang lain, mungkin pas abis kontrak kira-kira akhir tahun ini lah, emangnya kenapa?” Sinka terlihat penasaran.

“Yah, masa aku masih harus nunggu lama supaya kamu bebas dari golden rules itu sih?”

“Apaan sih.” Sinka memukul pelan pria di hadapannya dan sontak tawa renyah keluar dari mulut mereka berdua.

Sinka memang sudah mengenal pria di hadapannya sejak masa orientasi mahasiswa baru. Yah, dirinya sudah paham dengan berbagai macam candaan yang keluar dari mulut temannya itu. Untuk sesaat dia bersyukur, setidaknya masih ada orang yang tidak terlalu mempermasalahkan keputusannya kemarin.

“Yaudah deh, aku duluan ya, mau ke tempat latihan lagi ntar malah kejebak macet lagi,” pamit Sinka setelah melihat pesan masuk pada telepon selular miliknya.

“Oke, hati-hati ya, aku masih mau ngabisin ini dulu.” Pria itu menunjuk piringnya yang masih berisi setengah.

Sinka melambaikan tangannya sambil tersenyum. Di perjalanan menuju gerbang kampus dia membaca pesan tersebut, sebuah notifikasi dari group chat teman-teman satu timnya. Ya, grup itu dibuat agar dapat menghubungi kumpulan gadis-gadis itu dengan lebih efektif dan efisien.

Kinal

Semua hari ini dateng cepet ya, kita mau briefing sekaligus latihan, jangan ada yang telat!

Meskipun hanya berupa tulisan tapi Sinka bisa merasakan ketegasan dari perintah yang diberikan oleh sang kapten. Yah, memang bukan hal yang baru, sebelumnya gadis bernama Kinal itu juga menjadi kapten pada tim dimana Naomi berada.

Setelah memesan jasa transportasi online gadis itu menunggu sambil membuka akun sosial media miliknya.

“Selamat siang~, baru pulang kuliah nih sekarang mau ke tempat latihan kalian juga tetep semangat ya!” Itulah isi ‘kicauan’ pertamanya hari ini.

Gadis itu kembali memasukkan handphone-nya ke dalam tas dan sekarang matanya menatap ke depan, mencoba menikmati hiruk-pikuk kehidupan di ibu kota, tempat dimana orang-orang yang cukup berani berkumpul dan berusaha mewujudkan mimpi mereka.

*****

“Napa senyum-senyum sendiri Cal? udah bosen waras?”

Pemuda berkacamata itu tidak memperdulikan pertanyaan yang terlontar padanya. Matanya masih sibuk menatap layar yang menampilkan foto-foto seorang gadis berambut panjand dengan pipi bulat mirip kue mochi.

“Ah elah, sudah dah kalo ngomong sama wota akut.” Si pemberi pertanyaan mengambil tempat di sebelah temannya yang mungkin belum sadar akan keberadaannya.

Suasana kantin yang ramai bagaikan sebuah ilusi bagi pemuda itu. Tak ada yang bisa mencuri fokusnya saat ini. Sesekali dia tersenyum tak jarang juga mengerutkan dahinya ketika melihat foto yang menurutnya kurang bagus.

Satu hal tiba-tiba berhasil menginterupsi pemuda itu. Sebuah notifikasi dari akun yang baru saja ‘berkicau’ tertera di layar handphone miliknya. Ekspresi wajahnya langsung berubah, bukan karena isi ‘kicauan’ itu melainkan karena si pembuat.

Tanpa pikir panjang pemuda itu langsung mengetikkan balasan, sekedar memberi tahu apa yang sekarang ia lakukan dan sedikit kata-kata penyemangat.

“Udah tau gak bakal dibales tapi masih aja ngirim mention tiap hari,” ucapan sinis dari seseorang di sebelahnya berhasil mencuri perhatian sang pemuda.

“Yah biarin aja, mana tau dibaca sama doi,” balas pemuda itu setelah selesai mengirimkan balasan atas ‘kicauan’ sebelumnya.

“Wota kelas kakap mah beda, gue mah apa cuman orang yang baru ngidol beberapa hari belakangan.”

Pemuda itu hanya menggeleng pelan mendengar respon temannya.

“Jadi apa yang sedari tadi membuat Rizal Dinnur sang pangeran senyum-senyum sendiri kayak orang gila?”

“Kenapa mendadak sok formal gitu dah? lagian pangeran apaan?”

“Yaelah iseng doang, jadi pertanyaan gue gak dijawab nih?”

“Lagi iseng doang ngeliatin foto Dudut pas handshake kemaren, banyak yang aneh-aneh,” Balas pemilik panggilan Ical itu sambil tersenyum.

“Oh iya, denger-denger kemaren doi ngumumin kalo bakal grad yak? duh kasian oshinya udah mau keluar.”

“Semuanya juga bakal grad kali, tinggal tunggu waktunya aja,” jawab Ical singkat. “lagan masih ada Yupi ini.”

“Duh ada yang sedih nih, yakin nih Yupi bukan cuman pelarian doang?”

Untuk sesaat pemilik nama Rizal itu terdiam. Pertanyaan temannya seolah-olah memicu otaknya untuk mengetahui lebih dalam tentang apa yang ia rasakan sebenarnya.

“Tuh kan diem, berarti bener Yupi cuman pelarian.” Temannya itu menepuk pundak Rizal pelan. “lagian mana ada fans yang ngetwit kata-kata sok puitis tengah malem kalo gak gara-gara sedih oshinya grad.”

“Dasar stalker.”

“Hahaha, santai sob, becanda doang kok, oh iya besok anak-anak fanbase ada rencana mau nonton teather anak K3, elu mau ikut gak?” tawar pemuda yang kini tengah berkutat dengan minuman yang baru saja tersjadi di hadapannya.

“Nggak tau deh, lagi banyak pengeluaran.”

“Masa owner kaga ikut, owner macam apa itu?”

Owner pala lu peang, sejak kapan gue punya akun begituan?”

“Lah gue dengernya sih gitu, yaudah, ntar kalo lo berubah pikiran kabarin gue aja, biar berangkat ke tempat ngumpulnya bareng.”

Rizal mengangguk lalu kembali fokus pada telepon genggam di tangannya.

“Yaudah gue duluan ya, masih ada kelas bentar lagi, bye.”

Rizal melepas kepergian temannya dengan lambaian tangan. Pemuda itu juga masih memiliki satu mata kuliah tersisa hari ini. Setelah merapikan seluruh barang bawaannya, Rizal bergegas meninggalkan areal kantin.

Perkuliahan sudah dimulai, Dosen menjelaskan materi yang sudah dia siapkan melalui rangkaian slide yang terproyeksi di papan tulis. Slide yang nampak menarik serta penjelasan dari sang dosen yang gampang dicerna membuat para mahasiswa di kelas tersebut betah menyimak segala materi yang disampaikan tapi tetap saja ada satu orang yang tak menganggap hal itu menarik.

Di sudut kelas Rizal masih memikirkan perkataan temannya. Dia mencoba berunding dengan hati kecilnya tentang keputusannya, apakah ia akan pergi atau tidak.

Dirinya hampir selalu menghadiri handshake event karena menurutnya acara tersebut adalah tempat dimana hal-hal menarik terjadi, tapi teather? dia jarang menghadiri show yang merupakan ciri khas dari idol grup tersebut.

Bukannya karena tidak suka, bukannya tidak ingin, hanya saja kondisinya tidak memungkinkan untuk menonton perform tim kesukaannya di teather. Mulai dari jarak tempuh, transportasi, hingga jadwal yang selalu bentrok dengan kewajibannya mengikuti perkuliahan membuatnya selalu mengesampingkan hal yang hanya mendatangkan kesenangan sesaat.

Tiba-tiba potongan memori terlintas di benaknya. Sebuah adegan yang masih ia ingat dengan jelas, adegan dimana seorang gadis berpipi chubby yang mengumumkan tentang kelulusan dirinya.

Tanpa pikir panjang jemarinya mulai menari di atas layar handphone. Sebuah website tertampil di sana, dengan yakin dirinya langsung mengikuti berbagai prosedur yang diperlukan untuk mendapatkan tiket teather esok hari.

Baginya sekarang adalah saat-saat dimana dirinya harus memaksimalkan waktu yang tersisa sebelum sang idola lulus. Hanya dalam hitungan bulan dan gelar seorang idol tak lagi disandang oleh gadis panda itu. Ia tidak tahu akan seperti apa kedepannya, apakah idolanya akan tetap di dunia hiburan? atau malah memilh kehidupan seperti gadis biasa, yang jelas sebelum hal itu terjadi dirinya ingin menciptakan sebuah momen, sebuah kenangan bersama yang mungkin tak diingat oleh sang idola namun membekas di hatinya sendiri.

Namun perjalanannya tidak mulus dan Rizal tahu itu. Meskipun dia sudah memantapkan hati dan apply untuk satu tiket belum tentu dirinya menang undian yang menentukan bisa atau tidak dirinya membeli tiket tersebut. Prosedur ini memang bukan hal baru, mungkin manajemen teather punya alasan tersendiri mengapa menerapkan prosedur yang rumit seperti itu.

Sekarang pemuda itu hanya bisa berdoa, berharap perjudian yang dia lakukan kali ini membawanya pada sesuatu yang ia harapkan.

Sebuah getaran terasa dari saku celana pemuda itu. Dengan segera pemuda itu mengeluarkan sumber getara tersebut dan mendapati sebuah notifikas e-mail masuk di layar handphone-nya.

Rasa gugup seketika melanda. Ini hanya sebuah e-mail namun entah kenapa ada rasa enggan yang cukup besar untuk membukannya, seperti menunggu jawaban dari seseorang atas pernyataan cinta yang baru ia ungkapkan.

Setelah memantapkan hati, Rizal mulai membuka ikon amplop yang tertera di layar dan bersiap untuk membaca isi e-mail tersebut.

*****

“Dut, kamu kenapa hari ini? kok kayak gak fokus gitu?” tanya Kinal sambil menyeka keringat yang membasahi badannya.

“Gapapa kok kak, kayaknya biasa aja deh,” jawab Sinka sekenanya.

Yah gadis panda itu hanya mencoba menghilangkan rasa khawatir yang dirasakan oleh sang kapten. Dirinya sadar jika selama latihan tubuhnya terasa sulit untuk mengikuti rangkaian gerakan yang ditunjukkan, otaknya juga sedikit sulit untuk mengkhapal tarian baru yang sejak minggu lalu sudah diajarkan.

“Apa gara-gara pengumuman tempo hari?” Kinal mencoba menebak.

“Ah enggak kok, Kak Kinal ada-ada aja.”

“Emang sebenernya alasan kamu grad apaan sih?”

Sinka terdiam sejenak. Dirinya mulai bertanya-tanya, mengapa mendadak sang kapten membahas hal ini.

“Ya, aku pengen ngejar impian aku yang satu lagi,” ucap Sinka.

“Apaan tu?” Kinal memiringkan kepalanya.

“Pengen jadi komikus hehehe.” tawa renyah keluar dari mulut si gadis panda.

“Wah keren tuh, mana tau kamu bisa bikin karya yang bisa mendunia kayak komikus-komikus Jepang.” Kinal berhenti sejenak, dia menghela nafas seolah-olah  beban yang menahannya terlepas begitu saja. “syukur deh bukan gara-gara cowok atau yang lainnya.”

“Eh?”

“Yah, kamu tahulah beberapa temen kita yang grad kebanyakan gara-gara skandal, dan setelah lulus mereka langsung punya pacar, wajar sih secara gadis-gadis seumuran kita emang pengen gitu punya hubungan deket sama lawan jenis,” Kinal mengutarakan argumennya.

“Ya enggaklah Kak, sayang banget ngebuang kesempatan selama di sini cuman gara-gara cowok.”

“Tapi emang gitu kenyataannya hahaha, tapi syukur deh kalo kamu punya alasan lain, aku jadi agak lega.” Kinal bangkit dari tempat duduknya. “yaudah aku ganti baju dulu ya, udah kerasa asem nih.”

Sinka melepas kepergian sang kapten dengan senyuman yang diikuti lambaian.

Pendapat Kinal benar. Banyak teman-temannya yang langsung memilki hubungan dengan pria tak lama setelah mereka lulus dari sini. Layaknya gadis yang normal, sebenarnya Sinka juga ingin merasakan hal itu hanya saja dirinya masih bisa untuk menahan hasratnya yang satu itu.

Dia punya alasannya sendiri, alasan yang lebih dalam, lebih dari sekedar menginginkan kisah cinta impian. Sebuah alasan yang lebih dalam bahkan sempat membuat dirinya mempertanyakan keputusannya waktu pertama kali mengikuti audisi.

Selagi menunggu tenaganya pulih, Sinka memutuskan untuk melihat akun sosial medianya sebentar, sekedar untuk melihat kabar dari para penggemarnya.

Seperti biasa, kolom notifikasinya masih dibanjiri oleh sapaan dari para penggemarnya. Mulai dari kata-kata penyemangat, sekedar menanyakan kabar, hingga hal tidak penting yang tak memiliki arti sekalipun.

Tiba-tiba matanya terfokus pada salah satu akun yang mencantumkan username miliknya di dalam sebuah ‘kicauan’.

“Semangat ya latihannya, oh iya doain aku dapet verif buat show besok ya, mendadak pengen ketemu,” Sinka membaca isi ‘kicauan’ tersebut.

Sinka mengerutkan dahinya. Dia tidak tahu apa yang membuat dirinya tertarik dengan ‘kicauan’ tersebut, bisa dibilang banyak orang yang melakukan hal serupa tapi dirinya malah tertarik pada akun yang satu ini, akun dengan tulisan @Rizaldinnur7.

Rasa penasaran pun mulai menguasai gadis panda itu. Dengan cekatan jarinya langsung membawa dirinya menuju profil salah satu penggemarnya itu. Matanya mula menyisir ‘kicauan’ demi ‘kicauan’ yang tertera di sana.

Pantas saja dirinya tertarik dengan akun itu, ternyata selama ini sang pemilik akun selalu merespon ‘kicauan’ milik Sinka dan tanpa sadar eksistesi si pemilik akun terekam di benak gadis panda itu.

Sinka mulai tersenyum, ya, mengetahui ada orang asing yang sangat perhatian membuat dirinya senang. Jarinya berhenti pada serangkaian ‘kicauan’ yang diposting dalam selang waktu berdekatan. Kerutan terukir di dahinya ketika membaca kalimat-kalimat puitis yang dia rasa memiliki arti tersendiri.

‘Kicauan’ itu dibuat kemarin, hari dimana dirinya mengumumkan keinginannya untuk lulus.

Sinka lalu kembali menuju halaman profil miliknya, menekan tombol untuk menulis sebuah ‘kicauan’ baru. Di tengah batasan yang berlaku, dirinya tahu, adalah sesuatu yang mustahil menghubungi pemilik akun secara langsung. Dirinya hanya bisa berharap pemilik akun tersebut bisa memahami pesan yang ingin ia sampaikan melalui ‘kicauan’ ini.

“Besok jangan lupa dateng ke teather ya, buat yang far dateng juga dong tapi tetep hati-hati di jalan ya.” Jemari lentiknya tanpa ragu menekan tombol ‘tweet’ yang tertera di layar handphone-nya.

Setelah rasa lelah yang ia rasakan reda, Sinka mulai bangkit dan bersiap untuk pulang.

*****

Rizal berlari sekuat tenaga. Peluh menetes deras membasahi dahinya.

“Duh kenapa mendadak kayak gini sih?” Gerutu pemuda itu sambil melihat ke arah jam tangan miliknya.

Padahal dirinya sudah memutuskan untuk tidak menghadiri show hari ini. Ya, perjudian kemarin gagal, pemuda itu mendapatkan e-mail balasan yang memberitahukan bahwa dirinya tidak memenangkan undian tiket.

Semuanya baik-baik saja, hingga sebuah ‘kicauan’ merubah segalanya. ‘Kicauan’ yang bisa berarti apa saja, bahkan tidak ada bukti jika itu ditujukan khusus untuknya, ‘kicauan’ yang membuatnya berlari menuju terminal dimana sebuah bus akan membawanya menuju ibu kota.

Mungkin dirinya sudah mulai kehilangan akal sehat tapi hati kecilnya tetap merasa jika ‘kicauan’ kemarin memang ditujukan untuk dirinya.

Lucu, ketika rasa fanatisme membuatmu merasa mampu melampai dinding tinggi bernama ‘omong kosong’.

“Satu tiket untuk bis ke Jakarta Mbak,” Ucap pemuda itu dengan nafas tersengal pada perempuan di balik loket terminal.

“Ini mas tiketnya.” perempuan tersebut menyerahkan kertas berwarna merah muda. “Bisnya di sana ya mas, lima menit lagi berangkat.”

“Makasih Mbak.”

Rizal segera menghambur ke arah bis yang ditunjuk oleh petugas loket. Sesampainya di dalam bis, pemuda itu langsung meletakkan barang bawaannya dan melepas lelah pada salah satu kursi kosong di sana.

Dia mengatur nafas, perlahan dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone miliknya.

“Aku udah di jalan nih @Sinka_JKT48 semoga masih keburu ya.” Sebuah ‘kicauan’ ia posting sebagai pesan untuk sang idola.

Dirinya memang tidak menang undian tapi masih ada cara lain untuk menonton pertunjukkan tersebut, melalui sistem yang disebut waiting list. Biasanya tiket dari orang-orang yang berhalangan hadir akan dijual kembali di tempat, nah di sanalah kesempatan untuk mereka yang tidak memenangkan undian agar bisa menonton pertunjukkan.

Tidak ada kejelasan tentang berapa tiket yang akan dijual serta banyaknya para penggemar yang mengantri untuk waiting list membuat keberuntungan berperan sangat penting di sini.

Akhirnya pemuda itu menginjakkan kaki di ibu kota. Kemacetan yang terjadi membuat bis yang ia tumpangi memakan waktu perjalanan lebih lama dari yang seharusnya.

Pemuda itu langsung menggunakan handphone untuk memesan transportasi yang akan membawanya menuju tempat show teather akan berlangsung.

Lalu-lintas ibu kota tak membuat semuanya berjalan mudah. Ya, meskipun pemuda itu menggunakan jasa ojek tetap saja kemacetan khas ibu kota menghambat perjalanannya.

“Makasih ya bang.” Rizal menyerahkan selembar uang berwarna biru pada pria yang mengenakan jaket serta helm berwarna hijau terang.

Tanpa menunggu balasan dari orang yang mengantarnya, pemuda itu langsung bergegas masuk ke dalam mall yang merupakan ‘rumah’ dari idol group tempat idolanya berada.

Lantai 4, itulah tujuannya sekarang. Pemuda itu berlari ke arah lift yang hampir menutup, beruntung ada orang yang mau menunggunya sehingga pemuda itu tak harus menunggu lebih lama untuk sampai ke tempat tujuannya.

Pintu lift terbuka, matanya langsung terarah kepada barisan orang-orang yang memiliki tujuan sama dengan dirinya.

Rizal menelan ludah, dia mulai merasa ragu, pemuda itu tidak berpikir jika antrian waiting list akan sepanjang ini.

“Apa aku bakal kebagian tiket?”

“Apa tiketnya cukup?”

Bermacam-macam pertanyaan mulai melayang-layang di benar pemuda itu, seolah mempertantakan keberadaannya di tempat ini.

Rizal mendengus pelan. Dirinya menyadari jika tak ada gunanya mengeluh sekarang. Dengan semangat yang tak lagi menggebu-gebu, dirinya berjalan menuju antrian sambil berharap dewi fortuna mau membantunya kali ini.

Sembari dia menunggu pemuda itu mengeluarkan telepon seluler miliknya, mencoba memperhatikan lini masa media sosial untuk mengusir kebosanan.

“@Sinka_JKT48 gak dapet verif nih Dut, doain supaya menang WL yak~.”

Rizal memposting kicauannya tersebut layaknya seseorang yang menjalani komunikasi dua arah. Entah kenapa dia melakukan hal itu, seharusnya dia yang paling tahu tentang bagaimana cara idolanya berkomunikasi. Sekeras apapun dirinya berusaha, balasan yang diharapkan tak akan pernah muncul.

Satu per satu antrian mulai berkurang. Mereka yang datang lebih awal sudah berhasil mendapatkan tiket untuk menyaksikan pertunjukan para gadis yang gemar menari sambil bernyanyi.

Hanya sekitar tiga sampai lima orang lagi, jarak yang memisahkan Rizal dari seorang petugas yang memiliki wewenang memberikan tiket tersebut.

Rasa gugup semakin terasa menusuk seiring dengan memendeknya antrian tersebut. Dalam pikiran pemuda itu mulai terbayang tentang deretan setlist yang akan dibawakan, hampir semua lagu sudah ia hapal karena DVD yang ia beli beberapa waktu lalu.

“Maaf untuk yang WL tiketnya udah habis, ucap seseorang dengan baju serba hitam.

Gemuruh rasa kecewa disuarakan oleh beberapa orang yang tersisa. Mereka menyoraki sang petugas yang hanya dibalas dengan senyuman ala kadarnya.

Hanya satu orang yang tertegun di tempatnya, terpaku sambil menatap hampa ke depan.

Dewi fortuna sepertinya belum mau memberikan sedikit keberuntungannya pada pemuda itu. Antrian hanya menyisakan dua orang lagi di depannya namun ternyata tiket sudah terlanjur habis.

Kedatangannya sia-sia. Kerugian materi tak lebih menyakitkan dibandingkan waktu yang terbuang percuma. Pemuda itu tak lagi bisa berpikir jernih, ia tetap berdiri di sana meskipun antrian sudah bubar sejak beberapa menit yang lalu.

“Maap Mas, ini kalo mau antri WL dimana ya?” sebuah tepukan pelan dari seseorang menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.

Rizal berbalik dan menatap orang tersebut. Penampilan dari orang yang menyadarkannya membuat ia mengerutkan dahi.

Kaos, celana pendek dan sendal jepit, sebuah gaya berpakaian yang tidak biasa ia lihat ketika akan menonton sebuah pertunjukkan.

“Kok diem Mas? Kesurupan?” Lanjut pria misterius itu.

“Antrian WL udah bubar Om, tiketnya abis,” jelas Rizal.

“Arrgghh sial!, mana ini kesempatan satu-satunya nonton teather, pake nyasar segala sih tadi.” Pria misterius itu mengacak-acak rambutnya. “Kalo Masnya ngapain di sini? keabisan tiket juga?”

Rizal mengangguk. Dalam hati dia tidak menyangka jika pria di hadapannya adalah salah satu orang yang ingin menonton show hari ini.

“Karna kita senasib, gimana kalo nongkrong bareng, yah itung-itung penghilang rasa kecewa lah.” Pria tak dikenal itu memainkan kedua alisnya.

Rizal tak tahu apa respon yang harus ia tunjukkan terhadap ajakan pria yang tak dikenalnya itu. Dia memang merasa kecewa, tapi menerima ajakan dari orang asing? mungkin bukan salah satu keputusan terbaiknya.

“Keren ya di sini, gak nyangka pemandangan ibu kota pas malem bisa sekeren ini,” ucap pria yang belum diketahui namanya itu sambil menenggak kopi kaleng.

“Eumm, bukannya kita gak boleh ada di sini?” Rizal beberapa kali melirik ke arah pintu di belakang mereka. Keripik kentang di tangannya bahkan tak sempat ia buka.

“Woles aja, besok gue uda harus ninggalin jakarta, sayang kalo waktu yang tersisa diabisin dengan cara yang biasa.” Pria itu kembali menatap kilau lampu yang tersaji di depan matanya.

Meski sedikit, Rizal menyetujui pernyataan pria di sebelahnya. Waktunya yang terbuang harus ditebus dengan sesuatu yang lebih dari sekedar berjalan-jalan mengelilngi mall.

“Ini bukan yang pertama kali elu teatheran kan? biar gue tebak, elu pasti gak tinggal di Jakarta tapi gak terlalu jauh sampe luar pulau, Bandung mungkin?”

Pemuda itu sedikit terkejut, namun dirinya langsung menganggap jika itu hanya sebuah tebakan beruntung. “Iya, Kok tau?”

“Muka lu kayak Kang jaga villa di puncak.” tawa renyah terdengar dari mulut pria itu.

Rizal hanya mengerutkan dahinya sambil melempar tatapan remeh.

“Lah kenapa? gue salah ya? puncak bukannya di Bandung?”

“Terserah deh.” Pemuda itu mulai memandang ke arah yang sama dengan pria di sebelahnya sambil memakan kripik kentang yang sudah dia buka.

Sang Pria mendengus pelan. Tatapannya yang jenaka meredup, berubah memancarkan kesan sendu. “Padahal jarang-jarang dapet kesempatan main ke sini, eh sekalinya dapet malah nyasar.”

“Mungkin emang belum rejeki,” Rizal mencoba menghibur.

“AH iya mungkin.” Ekspresi si pria kembali berubah. “Lagian entah sejak kapan mereka jadi prioritas utama yak? Bego emang.”

Rizal hanya menggeleng pelan melihat pria di sebelahnya mulai menepuk dahinya sendiri.

“Ok, kayaknya udah waktunya gue balik, semoga aja kapan-kapan dapet kesempatan lagi kayak gini.” Pria itu meregangkan badannya. “elu gak balik?”

Rizal menggeleng pelan, entah kenapa tempat ini membuat perasaannya lebih tenang, tubuhnya seakan memiliki candu untuk memandang gemerlap lampu yang menerangi ibu kota lebih lama lagi.

“Yaudah, semoga sukses ya.” Akhirnya pria tak dikenal itu berjalan ke arah pintu yang merupakan tempat mereka datang tadi.

Kini rooftop itu hanya menyisakan Rizal seorang diri, menikmati pemandangan yang jarang disadari orang lain sambil berusaha menghabiskan beberapa makanan yang ia beli dari supermarket dua lantai di bawah tempatnya berdiri.

Handphonenya bergetas, sebuah notifikasi ‘kicauan’ terpampang di sana. Jemarinya mulai menggambarkan pola untuk membuka kode pengaman dan langsung melihat isi dari ‘kicauan’ yang sudah diketahui siapa pembuatnya.

Makasih ya buat yang udah dateng, yang belum ke sempet bisa ketemu di show lain waktu, hati-hati di jalan pulangnya ya.

Rizal meletakkan bungkusan kripik kentang yang masih tersisa setengah. Dengan lihai jarinya menari di atas layar, mencoba untuk menuliskan sebuah balasan untuk ‘kicauan’ tersebut.

*****

“Duluan ya semua.” Seroang gadis berponi goyang berpamitan pada teman-temannya yang masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Beberapa hanya bercengkrama, ada juga yang melepas lelah sambil memandang layar handphone dan sebagian lainnya mengabadikan momen mereka dalam berbagai gaya lewat kamera di handphone masing-masing.

“Sin, kita mau makan nih, ikut gak?” tawar Kinal yang datang bersama dua gadis lain.

“Gausah Kak, takut makin ndut.” Sinka menggembungkan pipinya.

“Yaelah, justru karna kamu gendut makanya lucu, yaudah kita duluan ya Sin.” Kinal berlalu setelah melambaikan tangannya ke arah si gadis panda.

Sebuah pesan singkat masuk ke handphone sinka, pesan yang memberitahukan jika ayahnya akan terlambat karena harus meeting dengan klien penting.

Gadis itu mendengus pelan. Rusak sudah rencananya untuk bermanja-manja dengan kasur, ya setelah penampilan yang cukup melelahkan hari ini, tidur merupakan pilihan terbaik.

Akhirnya Sinka memutuskan untuk menunggu di apartemen yang masih berada di gedung yang sama dengan teather. Apartemen itu memang merupakan fasilitas yang disediakan oleh manajemen jadi para member bisa beristirahat sebelum perform atau sekedar berkumpul sambil menunggu jadwal latihan.

Di tengah perjalanan gadis itu berhenti. Matanya menatap heran pada pintu menuju rooftop yang terbuka. Rasa penasaran mulai menggelitik benaknya, meminta untuk dipuaskan dengan mengetahui apa yang menjadi penyebab anomali yang ia lihat saat ini.

Satu demi satu anak tangga ia lewati. Tangannya mencengkram lembut pegangan besi yang ada di sebelah kanannya. Tubuhnya sedikit menggigil ketika angin yang berasal dari luar menerpanya. Dan akhirnya gadis itu sampai di rooftop, matanya mendapati seseorang tengah berdiri membelakanginya, sendirian.

Hati kecilnya mulai bertanya-tanya tentang siapa sosok yang berdri di sana. Perlahan langkah kakinya mulai berjalan mendekat. Entah ini ide yang bagus atau tidak, menghampiri orang asing yang tak ia ketahui sama sekali identitasnya. Seharusnya dia ragu namun entah kenapa hatinya berkata jika sosok tersebut tak akan membahayakan dirinya.

Mendadak Sinka menghentikan langkahnya. Si gadis panda membatu ketika sosok tersebut berbalik dan menatap dirinya.

Tak ada sepatah katapun yang keluar. Hanya tatatapan yang saling membalas, mencoba mencari tahu tentang apa yang tengah direncanakan oleh takdir.

“H…hai,” sapa sosok tersebut sambil mengangkat tangannya ragu.

Sinka masih membatu. Dia tidak bisa memikirkan respon apa yang harus ia tunjukkan pada pemuda di hadapannya.

“Gimana tadi performnya? Sukses?”

Sinka tercekat. Ternyata pemuda itu mengetahui siapa dirinya. Mendadak muncul bayangan tentang para ‘zombie’ yang sering dibicarakan. Sosok fans yang sering mengganggu privasi member hanya demi kepuasan pribadi.

Gadis itu melangkah mundur, mencoba untuk menjauh dari sosok yang diduga zombie itu. Namun Sinka merasakan hal yang aneh, tidak ada reaksi agresif dari pemuda di hadapannya. Sosok itu hanya tersenyum lalu kembali membelakangi dirinya seolah tak terjadi apa-apa.

Sinka menggelengkan kepalanya, mencoba mengsis segala pemikiran negatif yang sedari tadi menghantu pikirannya.

“Performnya sukses kok, kamu gak nonton tadi?” tanya Sinka yang sudah berada di sebelah si pemuda misterius itu.

Pemuda itu nampak terkejut. Dirinya tidak menyangka jika akan mendapat sebuah respon positif seperti ini.

“Kan tadi udah aku kabarin lewat twitter hehehe.” Pemuda itu menggaruk kepalannya.

Sinka langsung meraih handphone di sakunya. Dengan lihai matanya mulai menyisir satu per satu mention yang masuk ke akun media sosialnya itu.

“Jangan-jangan kamu yang punya akun @Rizaldinnur7 ya?” tanya Sinka dengan sedikit rasa tidak percaya.

Pemuda itu hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyuman hangat. “Panggil aja Ical.”

“Wah gak nyangka bakalan ketemu di sini, pantes mukannya familiar, kamu sering dateng ke handshake event kan?” Sinka mulai antusias, baru kali ini dia bisa berbincang dengan laki-laki seperti layaknya orang biasa, bukan layaknya seorang idol kepada fans.

“Iya hahaha, ngomong-ngomong di sini gak ada time keeper kan? ntar lagi asik-asik ngobrol malah disuruh udahan lagi.”

“Hahaha, kamu bisa aja.”

Akhirnya suasana mulai cair. Mereka berdua mulai berani membuka obrolan, beralih dari satu topik ke topik lainnya. Rasa canggung sudah berhenti menganggu, hanya ada kehangatan dari dua orang yang saling tertarik satu sama lain.

“Ngomong-ngomong alasan kamu grad apa sih?” tanya Rizal sambil menatap dalam gadis panda di sebelahnya.

Sinka terdiam. Perlahan dia membalas tatapan Rizal yang seolah-olah mengharapkan jawaban yang sebenaranya, bukan sebuah jawaban klise yang biasa ia katakan pada orang lain.

“Aku cuman lelah, aku ngerasa kalo belakangan ini aku hanya jalan di tempat, ya. melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang, seperti terjebak dalam suatu loop yang tak tahu kapan akan berhenti.” Sinka menundukkan wajahnya.

“Maksudnya?”

“Ntahlah, mungkin jalan untuk maju sudah tertutup. Awalnya aku piki semua karena Ci Naomi, sinarnya membuatku selalu dianggap hanya seorang ‘adik’ yang bertugas memberikan support pada sang kakak. Saat Cici pindah, aku pikir akan ada celah untuk bersinar lebih terang tapi nyatanya semua hanya angan belaka, Sinarku tetap gak cukup terang, member medioker tetaplah medioker bahkan para generasi baru bisa dengan mudahnya melampaui popularitasku.”

Rizal mengerutkan dahinya, dia tak menyangka jika alasan sang idola lebih dalam dari yang ia bayangkan.

“Semenjak itu aku mulai mempertanyakan keberadaanku, untuk apa aku tetap bertahan jika tak ada lagi kesempatan untuk berkembang? Mungkin sudah waktunya aku mengejar impianku yang lain. Yah kurang lebih itulah alasan mengapa aku memutuskan untuk lulus.” Sinka kembal menatap pemuda di sebelahnya. Tanpa terasa bulir air mata mulai turun membasahi pipinya.

“Entahlah, sebenarnya aku gak pengen kamu cepet-cepet grad, yah kedengeran egois emang atau mungkin kau hanya takut,” Ucap Rizal.

“Takut?”

“Yah, setelah lulus nanti bagaimana cara aku menghubungimu? bagaimana aku mengetahui kabar terbaru darimu? dan saat rindu pengen ketemu kemana aku harus pergi?” Rizal menarik nafas. “kamu gak lagi di teather, bilik handshake yang biasa dihiasi Sinka mungkin akan diganti oleh orang lain, kalau itu terjadi apa yang harus kulakukan?

“Tapi aku juga senang, Sinka si gadis panda sudah mulai dewasa, dia kini sudah memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya, butuh keberanian yang luar biasa untuk mengambil keputusan besar seperti ini dan untuk itu apapun yang kamu lakukan di luar sana pasti akan aku dukung.”

Sinka terkejut. Mulutnya terasa kaku, badannya membeku, dan matanya tak mampu berkedip. Dirinya tak menyangka jika ada orang yang memikirkan dia hingga sejauh ini, ini bukan lagi perhatian seorang fans pada idolanya, ini adalah perhatian dari seorang laki-laki kepada perempuan yang dianggap spesial.

“Makasih.” Sinka menyeka air matanya yang mulai tak terbendung.

“Ah, biasa aja, aku cuman ngungkapin apa yang ada di dalem hati kok.” Rizal menggaruk kepalannya.

“Coba siniin tangan kamu,” Pinta Sinka.

Pemuda itu mengulurkan tangannya, dan dalam sekejap Sinka meletakkan sesuatu di sana dan langsung menutup kepalan tangan si pemuda.

“Ini hadiah dari aku, yah itung-itung ucapan terima kasih karna udah mau jadi kotak curhat aku.” Menyunggingkan senyuman yang membuat kedua matanya menyipit.

Rizal membuka kepalan tangannya, mencoba untuk mengetahui apa yang baru saja diberikan oleh idolanya itu.

“Tapi ini kan?”

“Udah simpen aja, kalo kamu gak suka ntar balikinnya pas aku udah berhasil jadi apa yang aku pengen.”

“Emangnya kamu pengen jadi apa?”

“Rahasia.” Sinka langsung berbalik dan meninggalkan pemuda itu dengan sejuta tanda tanya.

Rizal melihat kembali benda pemberian Sinka. Pemuda itu tersenyum, ada sebuah janji tersirat dari kata-kata yang terlontar dari mulut sang Idola. Perlahan tangannya mengepal, berusaha meyakinkan dirinya jika suatu saat nanti benda tersebut bisa ia kembalikan pada waktu yang tepat.

*****

 

“TUNGGGUUU!” Seorang wanita menjulurkan tangannya ke arah lift yang mulai menutup.

“Makasih Mas.” Sebuah senyuman terlontar dari pria yang membantu sang wanita.

Wanita itu bersandar di dinding lift, mencoba mengatur nafas. Sesekali dia mengusap peluh yang membasahi dahinya. Di tangannya terdapat sebuah map plastik berwarna merah yang berisikan hal-hal yang ia pelajari selama 4 tahun belakangan.

Pintu lift terbuka seirama dengan suara dentingan yang terasa menusuk di telinga. Rasa gugup langsung menyelimuti hati si wanita. Dirinya langsung merapikan pakaian, meriksa kelayakan riasan dan yang penting menormalkan detak jantung yang sedari tadi terasa mau melompat ke luar.

Dia berjalan melalui koridor yang dipenuhi dengan bilik-bilik berisikan orang-orang yang sibuk memandang layar komputer.

Wanita itu sempat terkejut ketika mendengar suara benturan dari salah seorang pria yang tengah melampiaskan kekesalannya pada mesin foto kopi tak jauh dari tempat tujuannya.

Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu dengan kaca berefek blur sehingga sesuatu di baliknya dapat terlihat.

Dia menarik nafas, matanya terpejam, mecoba memantapkan hati sekali lagi. Dengan sedikit perasaan ragu, tangannya mulai mengetu pintu yang masih berdiri kokoh di hadapannya.

“Masuk,” Suara seseorang terdengar dari dalam ruangan tersebut.

Wanita itu melangkah masuk. Dia mendapati seorang pria berumur yang tengah duduk sambil memperhatikan salah satu kertas di tangannya.

“Jadi gini ruangan kepala redaksi,” batin wanita itu.

“Duduk-duduk,” tawar pria itu tanpa melepaskan pandangan dari kertas di tangannya.

Akhirnya sang wanita memenuhi tawaran pria tersebut. Matanya sedikit terganggu dengan meja yang penuh dengan tumpukan kertas yang berserakan.

“Sinka ya?” tanya pria tersebut yang sudah selesai dengan kertas tadi.

“Iya Pak,” jawab wanita itu lembut.

“Kamu mau jadi salah satu Komikus di sini? ngomong-ngomong kenapa kamu pengen jadi komikus?”

“Itu emang salah satu cita-cita saya Pak.”

“Bentar, kayaknya muka kamu familar deh, apa dulu kamu public figure?” Pria itu memijit dagu sambil menyipitkan kedua matanya.

“Dulu sempet jadi member JKT48 pak hehehe.” Sinka tertunduk malu.

“Oh pantes aja, saya sempet ngikutin juga sih, tapi gak terlalu lama, oh iya kamu belajar bikin komik dimana?”

“Saya baru aja lulus dari universitas di Jepang pak, Balik ke Indonesia supaya bisa jadi komikus Indonesia yang mendunia kayak mangaka jepang.”

“Wah hebat juga mimpi kamu ya, kebetulan kita lagi butuh talenta-talenta muda, kamu langsung samperin aja orang yang bakal jadi editor kamu, mejanya ada pas di depan mesin foto kopi yang kamu lewati tadi.”

“Beneran Pak?” Pria itu hanya mengangguk. “Makasih ya Pak.”

“Semoga sukses ya, dan satu lagi, editor yang satu itu gak kayak orang biasa, jalan pikirannya susah ditebak.” Sang pria menjabat tangan Sinka.

Sinka mengangguk dan berbalik meninggalkan ruangan tempat kepala redaksi barunya.

Sesaat setelah menutup pintu, kedua mata wanita itu langsung terarah pada tempat dimana editor barunya berada.

“Permisi Pak.” Wanita itu mengetung dinding yang mengelilingi meja kerja editor barunya.

Sesosok pria berbalik. Penampilannya sangat jauh dari kata rapi, mata merah, kantung mata tebal, rambut yang terlihat tak pernah di sisir, untung saja tubuhnya tidak memancarkan aroma tak sedap.

“Saya disuruh ke sini sama kepala redaksi, mulai sekarang bapak jadi editor saya.” Dengan ragu Sinka melangkah masuk ke dalam bilik yang tak terlalu luas itu.

Pria itu menghela nafas. Terlihat berat, seperti memiliki beban baru dalam hidupnya.

“Kamu pasti komikus baru? ah kenapa sih si tua itu suka banget nambah kerjaan orang lain.” Sang editor memijit batang hidungnya, “coba liat naskah kamu.”

Sinka menyerahkan map yang sedari tadi ia bawa. Hatinya langsung merasa cemas, ini merupakan kali pertama naskahnya dinilai oleh orang yang berpengalaman.

Namun dia sedikit lega. Hampir seluruh kemampuannya dia kerahkan untuk naskah itu, setidaknya dia diberi kesempatan untuk menerbitkan satu one shot sebelum memiliki serialnya sendiri.

“Kamu bukan tipikal orang yang gampang ngedown kan?” tanya sang editor setelah selesai membaca naskah di tangannya.

Sinka hanya mengerutkan dahinya.

Pria di hadapannya mendengus pelan. “Oke, ini yang saya dapet abis baca naskah kamu, MEMBOSANKAN.”

Ibarat tersambar petir, hati wanita itu terasa hancur. Seluruh kerja kerasnya hanya mendapat predikat ‘membosankan’. Dia sudah menuangkan semua yang ia pelajari di negeri sakura tapi ternyata itu tak cukup untuk menyanjung pria di hadapannya.

“Plot ceritanya terlalu pasaran, kamu ngarepin naskah ini bisa menarik banyak pembaca? terlalu banyak klise, hal-hal gak penting digambar sehingga mengaburkan fokus pembaca pada pesan yang mau kamu sampaikan. Bahkan di dua halaman pertama saya sudah bisa menebak akhir cerita dan kehilangan minat.”

Perasaan wanita itu benar-benar hancur. Dadanya sesak, rasanya ingin sekali dia menangis sekuat tenaga, tapi hal itu urung dilakukan mengingat banyak orang di sini.

“Tapi ada satu hal yang membuat saya bertahan membaca hingga akhir, gaya menggambar kamu, ya, kamu punya ciri khas, sesuatu yang para pembaca bakal ingat dan tahu jika kamu yang membuat komik ini dan saya sangat mengapresiasi hal itu.” Pria itu tersenyum. “Oke, mungkin saya punya jalan keluar, bagaimana jika kamu bekerja sama dengan orang lain?”

“Maksudnya?” jawab sinka dengan nada sedikit terisak.

“Baru-baru ini saya ketemu dengan seorang penulis, naskahnya sangat bagus, ceritanya kuat dan tidak mainstream, Saya pikir sangat disayangkan jika cerita seperti itu hanya digambarkan dengan kata-kata, mungkin kmu bisa bekerja sama dengan dia.”

“Boleh Pak!” jawab Sinka

“Oke.” Pria tersebut mengulurkan tangannya. “mulai sekarang saya jadi editor kamu, mohon kerjasamanya.”

Wanita itu langsung terharu. Tanpa terasa air matanya menetes. Dia menyambut uluran tangan itu dan meresmikan kerjasama diantara mereka.

“Tapi kapan saya bisa ketemu orangnya Pak?”

“Ah kebetulan hari ini saya ada janji ketemuan sama dia di cafe deket sini, mau ikut?”

Sinka mengangguk setuju dan mulai merapikan naskahnya yang baru saja dikembalikan padanya.

*****

“Kenapa? kamu nervous?” tanya sang editor dengan asap putih yang keluar dari mulutnya.

“Iya Pak,” Jawab Sinka singkat.

“Tenang aja, dia orangnya lumayan ganteng kok, lagian kalian kayaknya seumuran jadi bakalan nyambung.”

Tiba-tiba sang editor melambaikan tangannya pada seseorang yang baru melewati pintu masuk cafe.

Seorang pria berjalan ke arah meja mereka. Sosoknya tak jauh lebih muda dari sang editor, mungkin hanya terpaut 2-3 tahun. Pria itu duduk, dari balik kacamatanya terlihat tatapan heran, seolah mencari tahu tentang wanita yang duduk di sebelah orang yang dikenalnya.

“Anaknya Om?” tanya pria yang telah meletakkan tasnya itu.

“Anak pala lo empuk. ini calon partner elu.” Sinka terkejut melihat perubahan drastis dari gaya biara sang editor. “Ah iya, Kenalin, ini Ciko, orang yang saya ceritain sebelumnya.”

“Sinka,” ucap wanita itu sambil menjabat tangan pria di hadapannya.

“Oke langsung aja, Sinka ini komikus baru, lulusan Jepang, jadi saya pengen kalian kerja sama, urusan cerita biar si Ciko ini yang bikin, ilustrasi dan gambar ntar serahin ke Sinka, gimana?”

Tidak ada jawaban dari kedua orang itu. Mereka hanya saling menatap satu sama lain, seolah hanya berdua di tempat itu.

“Duh gawat, baru ketemu udah cinlok, gimana mau debut,” celetuk sang editor.

“Gimana enaknya Om aja deh, gue mah ngikut,” ucap pria dengan sebutan Ciko diikuti dengan anggukan Sinka.

“Oke, saya kasih satu minggu, setelah itu komik kalian langsung debut, urusan sama kepala redaksi biar saya yang handle.”

“Hah?! cepet banget Pak?” ucap Sinka terkejut.

“Santai aja Mbak, ini orang emang gitu, makanya banyak penulis sama komikus yang gak betah kerja bareng dia, otaknya rada-rada gesrek,” Jelas Ciko.

“Lah, apa kalian gak pengen liat langsung respon pembaca? mana tau lagi rejeki komik kalian bakal langsung hits kita bakal sukses, banyak duit, trus saya bisa ngajak istri liburan ke eropa.” Sang editor melipat tangannya dengan kedua mata berbinar.

Sinka dan Ciko hanya menggeleng. Entah apa yang apa yang dipikirkan Kepala redaksi mempertahankan orang seperti ini di perusahaan.

Meeting selesai, sekarang kalian berdua atur waktu mau ngerjainnya gimana, pokoknya minggu depan harus udah selesai dan kita langsung terbitin di majalah edisi selanjutnya.”

******

Akhirnya dimulailah minggu-minggu tersibuk dalam kehidupan Sinka. Dirinya harus berpikir keras untuk menggambarkan apa yang ditulis oleh Ciko dengan sempurna.

Berulang kali dia membaca naskah tulisan rekannya, mencoba untuk menangkap setiap emosi yang ada di sana sehingga gambar-gambar yang ia buat terasa hidup.

Jutaan menit mereka habiskan bersama, berbagai tempat mereka sambangi guna menyegarkan pikiran sambil menyelesaikan proyek yang semakin dekat dengan deadline.

Sesekali mereka cekcok. Ciko merasa gambar Sinka terlalu kaku, ada juga masa dimana Sinka kesulitan menggambar karena naskah yang ditulis Ciko terlalu bertele-tele dan tidak efektif.

Namun keduanya tak ayal berpisah. Mereka sadar jika itu biasa terjadi, keduanya mencoba dewasa dan mencari jalan keluar untuk berbagai konflik yang mereka hadapi. Mereka berdua sadar, ada hal yang lebih penting daripada pertengkaran anak-anak yaitu mimpi yang harus terwujud.

Tanpa terasa seminggu berlalu. Hari-hari terberat dalam hidup Sinka dan Ciko akhirnya berakhir. Kini mereka bisa bernafas lega, pundak mereka terasa ringan seolah beban besar baru saja terlepas dari sana.

Mereka berdua sekarang tengah duduk di cafe tempat pertemuan pertama mereka bersama dengan sang editor yang tengah serius memandangi naskah di tangannya.

Rasa cemas langsung menyelimuti dua orang itu. Sinka tak ingin gagal untuk kedua kalinya. Wanita itu memejamkan matanya sembari berdoa. Tanpa sadar dia menggenggam tangan seseorang yang duduk di sebelahnya.

“Lah itu Sinka kenapa merem sambil komat-kamit gitu?” ucapan sang editor sontak menyadarkan Sinka.

“Ah gapapa kok Pak.” Sinka langsung melepaskan genggaman tangannya.

“Oke jadi gini.” sang editor memberi jeda. “Ini gak terlalu bagus sih, tapi seengaknya ekspektasi saya udah terpenuhi sekita 75 persen, sekarang saatnya perjudian dimulai.”

“Kira-kira berapa kemungkinan bakal naik cetak Pak?” potong Sinka.

“Sekitar 50 oersen, bisa kurang malah.”

“Kasih waktu kita seminggu lagi Pak, saya jamin hasilnya bisa lebih baik.” Sinka langsung bangkit dari tempat duduknya.

Sang editor menggeleng pelan. “Waktu kalian udah abis, sekarang saya bawa ini ke kepala redaksi.”

“Eh, bantuin dong, masa kerja keras kita cuman dapet kemungkinan sukses 50 persen.” Sinka mengguncang bahu pria di sebelahnya.

“Udah dibilangkan itu orang rada-rada gesrek, jadi biarin aja.” Ciko bangkit lalu berjalan ke arah pintu keluar. Sebelum terlalu jauh dia berbalik dan menatap ke arah rekannya. “kamu mau ikut gak?”

“Kemana?”

“Ngerayain kerja keras kita lah.” Pemuda itu melanjutkan langkahnya meninggalkan cafe tempat meeting kedua mereka.

Sinka masih terdiam. Dirinya sungguh tidak mengerti kenapa rekannya itu sangat santai. Setelah tersadar, wanita itu langsung berlari menyusul pemuda yang sudah menemaninya dalam seminggu terakhir.

“Pelan-pelan dong, apa sih maksud kamu tentang ngerayain kerja keras kita? kan komik kita belom tentu naik cetak.” Sinka menarik lengan rekannya yang sudah berdiri di depan mini market.

“Yah seminggu terakhir kan kita udah kerja keras, wajar dong kalo sekarang ngasih hadiah buat diri sendiri.” Pemuda itu melangkah masuk ke dalam mini market.

Sinka hanya memandang kepergian rekannya. Wanita itu masih tidak mengerti namun dia tahu ada arti lain di balik kata-katanya.

Tak lama kemudian Ciko keluar dari mini market, membawa dua kantung plastik yang berisi minuman bersoda serta beberapa makanan ringan. Pria itu berjalan, tak menghiraukan Sinka yang hanya melempar tatapan heran.

“Kamu liat Om-om tadi senyum kan?” ucap Ciko yang sudah menyadari keberadaan Sinka di sebelahnya. “Itu artinya dia percaya kalo naskah kita bakalan tembus, kita tinggal tunggu volume depan aja buat tau reaksi pembaca.”

Benar kata kepala redaksi, sang editor tidak seperti orang kebanyakan, jalan pikirannya tak bisa dipahami dengan cara yang sederhana.

“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Sinka yang mulai tenang.

Tak ada jawaban dari Ciko. Pria itu hanya berjalan tanpa menghiraukan wanita di sebelahnya.

Mereka berjalan menyusuri trotoar, masuk ke dalam sebuah gedung hingga menaiki tangga yang membawa mereka ke lantai teratas.

Mendadak Sinka berhenti. Sesuatu mengganggu pikirannya sebelum kakinya melangkah menaiki tangga yang akan membawa dirinya ke lantai teratas.

Dia mengingat sesuatu, bukan karena dia pernah menggambar adegan yang sama seminggu sebelumnya, sesuatu yang terjadi jauh lebih lama dari itu.

Dirinya mulai menaiki tangga tersebut. Ingatannya akan momen masa lalu semakin kuat disetiap langkah kakinya. Wanita itu akhirnya sampai di rooftop, matanya memandang ke arah pemuda yang tengah bertumpu pada pembatas sambil memandang lurus ke depan.

Yah, dia ingat momen ini. Momen dimana dirinya bertemu dengan seorang pria, satu satunya orang yang mengetahui alasan dirinya ‘lulus’ dari idol group yang membesarkan namanya.

“Entah perasaan aku doang atau aku emang kayak pernah ngegambar situasi ini berdasarkan cerita kamu?” tanya Sinka pada pria di sebelahnya yang kini sedang mengunyah keripik kentang.

“Enggak, kamu gak salah, aku emang nulis adegan kayak sekarang ini.”

“Kamu dapet inspirasi ceritanya dari mana?”

“Beberapa tahun lalu, aku pernah berada di rooftop sama dua orang yang berbeda. satu editor kita dan satunya lagi orang yang janjinya masih aku inget sampe sekarang.”

“Janji?”  Sinka memiringkan kepalanya.

“Gak bisa disebut janji sih, tapi aku nganggepnya gitu, dia ngasih aku sesuatu dan baru bisa aku dibalikin pas kita berdua udah sama-sama sukses ngeraih impian masing-masing.” Pria itu merogoh sesuatu dari dalam saku celananya. “nih dia ngasih aku ini.”

Sinka terkejut. Dia mengetahui benda yang ada di tangan pria itu. Sebuah benda yang dulu menjadi miliknya, salah satu dari sekian banyak benda kesayangannya, sebuah jepit rambut dengan kepala panda yang menghiasi salah satu ujungnya.

“Jangan-jangan kamu….”

“Kenapa lama banget sih sadarnya?” Pria itu mengacak-acak rambut Sinka. “Ciko cuman pen name, nama asli aku Rizal, Rizal Dinnur, mungkin kamu lebih kenal sama username @Rizaldinnur7.”

Sinka menutup mulutnya, bagaimana mungkin dia tidak mengingat salah satu orang yang cukup berpengaruh dalam hidupnya? rasa menyesal langsung hinggap di hati wanita itu. Mungkin sekarang dirinya adalah sosok yang kejam bagi rekannya.

“Apa aku udah bisa balikin ini sekarang?” tanya Rizal. “tenang, masalah kamu gak inget sama aku gak terlalu aku pikirin kok.”

Sinka tertegun. Dia tidak menyangka jika mereka akan dipertemukan kembali di situasi yang tek terduga. Takdir memang bekerja dengan cara misterius, sesaat dia membiarkan dua orang dipisahkan oleh waktu dan sesaat kemudian dua orang itu dipertemukan pada satu momen spesial bagi keduanya.

SInka mengangguk, dirinya meraih tangan Rizal yang sedari tadi terulur. Sekarang mereka berdua di rooftop, memandangi lalu lintas ibu kota yang tak berubah meski sudah beberapa tahun berlalu.

******

“AYAAAAAHHH banguuun katanya mau bantuin beres beres rumah.” Seorang anak kecil duduk dia tas perut pria yang masih kesulitan membuka matanya.

“Iya bentar lagi, Ayah masih ngantuk nih.” Pria tersebut mencoba menarik selimutnya.

“Gak boleh, kata Bunda, aku harus bisa bawa ayah sampe meja makan.” Anak lelaki itu menggoyangkan badan sang Ayah sekuat tenaga.

“Iya-iya, Ayah bangun. Jagoan Ayah emang gak tau kata nyerah ya?” Pria itu bangkit sambil menggendong anak kecil itu, berjalan meninggalkan kamar menuju tangga.

“Pagi Bun.” Pria tersebut langsung mengecup kening wanita yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.

“Pagi juga Yah, gimana rasanya dibangunin sama Rizal Kecil?” tanya wanita itu.

“Ngeselin, dia gak mau nyerah kayak Bundanya.”

Sepuluh tahun berlalu. Kini Sinka dan rekannya tengah terikat dalam janji suci pernikahan. Debut mereka sukses besar, dalam waktu singkat mereka sudah mendapatkan banyak pembaca setia.

Kini mereka hidup di rumah yang sederhana, bersama dengan seorang anak lelaki hasil buah cinta mereka. Keduanya kini mulai merintis penerbitan mereka sendiri, berusaha menjaring talenta-talenta muda yang mengingatkan mereka pada masa lalu.

Bel rumah berdering. Sontak Sinka memandang ke arah suaminya, memberi kode agar sang suami mau mengetahui siapa tamu yang datang ke rumah mereka pagi-pagi seperti ini.

Dengan langkah gontai Rizal berjalan ke arah pintu masuk, membukanya, dan mendapati sesuatu yang mengejutkan.

“Permisi, gue mau nagih naskah yang udah ngaret sepuluh tahun,” Ucap Pria yang berdiri dan hanya mengenakan celana pendek berwarna ungu.

“Siapa Yah, Eh?” tanya Sinka yang baru muncul dan menampilkan ekspresi terkejut yang sama dengan sang suami. “Pak editor?”

“Papah, jangan gitu ah sama tetangga baru.” tiba-tiba muncul seorang wanita di sebelah sosok editor yang dulu pernah melambungkan nama mereka.

“Biarin aja, lagian dulu kita juga pernah kerja bareng Mah,” balas Sang editor santai.

“Lah Sinka?” Tunjuk istri sang editor dengan raut muka tak percaya.

“Kak Ve? Kok?” Sinka langsung menyalami sosok yang dulu menjadi seniornya semasa di idol group.

“Kok gak bilang sih tetangga baru kita mantan idol juga.” Ve mencubit perut suaminya.

“Lah mana tau Mah, kan dulu Papah gak ngidol.

Sinka dan Rizal hanya terdiam melihat pertengkaran pasangan yang ada di depan mereka. Ternyata dunia benar-benar sempit hingga mampu mempertemukan mereka kembali.

“Ah iya kita cuman mau nganterin ini aja.” Ve menyerahkan satu toples kaca yang berisi kue kering. “Itung-itung salam perkenalan buat tetangga baru.”

“Duh cuman gara-gara ini kamu bangunin aku? bener-bener ADAAAWW!” Sebuah cubitan mendarat di perut sang editor lagi.

“Semoga betah ya tinggal di komplek ini,” Sinka dan Rizal hanya mengangguk sebagai respon dari senyuman Ve.

“Oh iya, ati-ati juga, kebanyakan penghuni komplek ini rada-rada gesrek. Itu di sebrang ada orang mesum yang kerjaannya ngedit-ngedit poto orang, gue sampe kasian sama istrinya, terus dua blok dari sini ada bapak-bapak yang kejaannya maen sepeda terus, saking addict-nya sampe-sampe istrinya nyuruh tidur di luar terus,” jelas sang editor.

“Berarti elu termasuk yang gak normal dong Om?” tanya Rizal.

“Justru cuman gue satu-satunya yang normal di sini.”

Sinka dan Rizal hanya melayangkan tatapan remeh pada mantan editor mereka.

“Yaudah deh gitu doang, semoga betah ye tinggal di sini?” Sang editor melambaikan tangannya sambil berjalan meninggalkan kediaman baru mantan rekannya.

“Kok bisa ya Kak Ve mau sama orang kayak begitu?” tanya Sinka pada sang suami.

“Mungkin Tuhan ngasih malaikatnya biar itu Om-om brengseknya gak keterlaluan, tapi yang jelas kayaknya kehidupan kita di sini bakal rame deh.”

“Yah gapapa kan seru, daripada dapet tetangga yang ngebosenin.” Sinka mendaratkan kecupan pada pipi Suaminya.

“Eh, Bunda pagi-pagi udah nakal ya? emang udah gak sabar ngasih adek ke Rizal Junior?”

“Ah Papah, pikirannya ke situ mulu, yaudah yuk lanjut sarapannya.”

Akhirnya mereka berdua kembali ke meja makan dimana Rizal Junior tengah menunggu sambil memasang wajah cemberut karena perutnya yang mulai lapar

-END.-

Sagha si papolit.

 

 

 

 

 

Iklan

9 tanggapan untuk “Graduate

  1. Pertamax.
    Manteeepp banggg… Tapi ane gak ngrep deh kalau Sinka bakalan grad, gue berdoa supaya sinka terus di jkt48 sampai nenek-nenek.
    Hahaha…

    Lnjutkan karyamu..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s