Breakers, The Super-Powered Agent: Prologue Page 4

title-4

Di SMA 4869 Jakarta. Michelle dan Sisca sedang menceritakan kejadian semalam kepada teman-temannya. Terkadang mereka juga bercanda agar suasana tidak terlalu serius, semua siswa mendengarkan terkecuali Ridwan yang selalu menutup diri terhadap semuanya.

“Oy, lo lihat murid pindahan ?”bisik salah seorang murid laki-laki kepada temannya. Ia bernama Erik dan temannya itu bernama Deden.

“Gue lihat tadi dia keluar”balasnya.

“Ikut gue”ucapnya sambil pergi meninggalkan kelas diikuti oleh Deden dan 2 temannya lainnya.

Sementara itu Ridwan terlihat sedang bersantai di pinggir lapangan olahraga sekolah. Ia tiduran di rerumputan hijau dibawah pohon yang daunnya cukup lebat. Angin yang berhembus dan udara yang cukup segar membuatnya terlelap.

Bersebrangan dengan tempat Ridwan tertidur. Disana terlihat 4 orang siswa laki-laki dan seorang siswa perempuan sedang membicarakan sesuatu.

“Gimana lo bisa kan ?”Tanya Erik.

“Tapi kak, aku takut. Lagian aku juga enggak kenal sama dia”Perempuan itu terlihat sangat ketakutan memberikan penjelasan kepada Erik.

“Lo tinggal pura-pura suka aja sama dia. Setelah itu biar gue yang atur”ucap Erik.

“Tapi kak…”

“udah lo tinggal nurut aja apa kata gue!! lo pikir utang bokap lo sama gue berapa ?”Erik langsung memotong perkataan Perempuan itu.

“I..Iya kak”balasnya pelan.

Erik dan teman-temannya itu langsung pergi menuju kantin, sedangkan siswa perempuan tadi pergi menghampiri Ridwan yang sedang tertidur di bawah pohon.

“Kak”ucapnya halus.

Ridwan pun membuka mata dan samar-samar Ia melihat seorang perempuan. Kemudian Ia terbangun dan bersandar di pohon yang berada di belakangnya.

“Hmm”hanya itu respon yang didapat oleh siswa perempuan itu.

“Maaf kak aku udah ganggu tidur kakak. Nama aku Anin. Kakak yang namanya Ridwan kan ?”ucap perempuan itu memperkenalkan diri.

“Iya”balas Ridwan tanpa melihat kearah Anin.

“Sebenarnya saat pertama kali aku melihat kakak. Aku sudah suka sama kakak, aku cinta sama kakak. Kakak mau gak jadi pacar aku ?”ucap Anin. Ia terlihat serius mengucapkan kalimat itu.

“Maaf, Aku tidak mengenalmu”balas Ridwan sambil pergi dari pinggir lapangan.

Anin hanya bisa melihat kepergian Ridwan yang dingin itu. Ia terlihat sangat sedih dengan jawaban yang tadi. Bukan karena ditolak Ia sedih, tetapi Ia takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Erik dan teman-temannya, karena Ia gagal menjalankan perintah dari Erik.

Di koridor. Michelle terlihat sedang membawa beberapa buku Paket yang harus Ia bawa ke kelas, karena sebentar lagi waktu istirahat akan segera berakhir. Dikarenakan buku yang Ia bawa sangat tebal, tanpa sengaja Ia bertubrukan dengan seseorang yang tiba-tiba muncul dari koridor sebelah kirinya dan membuatnya terjatuh berasama dengan buku-buku pelajaran tersebut.

“Aduh..sakit”ucap Michelle.

“Maaf, Aku gak sengaja. Kamu tidak apa-apa ?”ucap siswa yang menubruknya.

“Iya, Aku gak papa kok”kata Michelle. Michelle pun segera melihat siapa yang menubruknya dan ternyata dia adalah Ridwan.

“Kamu…udah biar aku aja yang beresin. Kamu masuk aja bentar lagi bel”ucap Michelle kepada Ridwan.

“Aku yang salah, biar aku bantu”jawab Ridwan tanpa melihat kearah Michelle sedikit pun.

Akhirnya Ridwan membantu Michelle untuk merapikan buku-buku paket. Sedangkan Michelle hanya diam memandangi Ridwan.

Tak lama kemudian buku sudah dirapikan. Ketika Ridwan mau menyerahkan bukunya, jarak Michelle dengannya sangat dekat, sehingga ketika Ia berdiri dan berbalik tanpa disengaja Ia mencium kening Michelle.

“Maaf”Ridwan segera mundur.

Michelle hanya menundukkan kepalanya. Rasa malu dan marah bercampur dikepalanya. Niatnya yang mau meminta maaf pun sepertinya hilang begitu saja.

“Kamu”Michelle yang marah langsung melangkah kearah Ridwan untuk menamparnya. Tapi…

Sraaaak

Bruaakk

Michelle menginjak buku paket yang masih tersisa dilantai, sehingga Ia terjatuh menimpa Ridwan dan tanpa disengaja dalam kecelakaan itu Bibir mereka bertemu.

Michelle segera berdiri. Rasa malu dan marahnya semakin bertambah. Sedangkan Ridwan masih berekspresi dingin seperti biasanya. Walaupun di dalam hatinya Ia merasa telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

“Dasar mesum”Michelle menundukkan mukanya.

“Maaf”ucap Ridwan.

Buak

Dengan reflek Michelle langsung melakukan uppercut kepada Ridwan sehingga tubuhnya sedikit terangkat keatas, kemudian Ia melanjutkannya dengan tendangan keras tepat di perut dan membuat Ridwan terlempar beberapa meter.

Tanpa mengucapkan apapun Michelle langsung berlari entah kemana, sedangkan Ridwan sempat tak sadarkan diri karena tendangan tersebut mengenai luka pada perut Ridwan akibat pertarungan semalam.

 

FLASHBACK ON

Setelah melakukan pekerjaannya Ridwan segera bergegas untuk menuju rumah sakit dengan Air Rider nya. Akan tetapi Ia menerima sebuah pesan di Smartphone nya yang berisikan agar Ia pergi ke suatu tempat yang telah Ia terima bersamaan dengan pesan tersebut.

“Tidak ada nama pengirim, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres”ucap Ridwan dalam hati.

Ridwan langsung mengirim pesan kepada adiknya bahawa Ia akan sedikit terlambat dan segera pergi.

Tak lama kemudian Ia sampai ditempat yang terdapat di Smartphonenya. Tapi disana tidak ada seorang pun hanya sebuah gedung kosong biasa yang sudah lapuk dimakan umur.

Gedung tersebut memiliki luar sekitar 1 hektar. Di sana terdapat dua tiang penyangga yang saling bersebrangan. Di tengah-tengah tiang tersebut terdapat tangga untuk menuju lantai dua dan disetiap sisi tangga tersebut terdapat tiang lampu yang sudah rusak.

Ridwan sedikit berkeliling didalam gedung tersebut. Tak lama kemudian Ia melihat siluet seseorang yang tampak tidak jelas karena bersembunyi di balik bayangan.

“Yo, lama tidak bertemu,, Code 07 : Ace ”ucap orang itu saat melihat Ridwan.

“Jadi kamu yang memanggilku kesini”balas Ridwan.

Orang itu pun berjalan mendekati tangga yang mengarah ke lantai 1. Pada saat itu juga cahaya bulan masuk dari arah jendela dan menyorot orang itu.

Orang itu adalah laki-laki yang usianya terlihat sama dengan Ridwan. Ia memakai seragam berwarna hitam. Di saku sebelah kirinya terdapat benda Silver berukuran 10×12 cm berbentuk persegi. Dibagian paling atas dari persegi tersebut terdapat sebuah nama dan bagian atasnya terdapat 3 buah lencana bintang berwarna emas yang mempunyai ukuran kecil serta di bawah lencana tersebut terdapat logo dan tulisan Agen Pertahan Sipil.

“Ternyata kamu ya, Code 03 : Jack”ucap Ridwan.

“Ternyata kamu masih ingat denganku ya Ace”orang yang dipanggil Jack itu langsung melompat ke lantai 1.

“Kamu pasti masih hobi bunuh diri ?”Tanya Ridwan setelah Jack berada di hadapannya.

“Hahahaha…hebat, kamu ternyata masih tau ya”jawab Jack sambil tertawa.

“Jadi selama ini kamu bekerja pada Agen Pertahanan Sipil ya ?”Tanya Ridwan.

“Ya begitulah…Kamu pasti masih bekerja dengan orang tua itu ?”ucap Jack.

“Sudahlah!! Aku tidak ingat kalau kita adalah teman yang biasa mengobrol. Apa yang kamu inginkan Martinus Aryo dari Agen Pertahanan Sipil ?”ucapnya sinis sambil menyebutkan nama asli Jack yang ada pada benda silver itu.

“Hahaha…tidak-tidak. Aku ke sini atas keinginanku dan Cuma mau menyapa mu”ucap Jack yang ternyata nama aslinya adalah Martinus Aryo. Ia mengulurkan tangannya seolah ingin berjabat tangan dengan Ridwan.

Ridwan pun menjabat tangan Aryo. Tapi pada saat itu juga tatapan mereka berubah menjadi tatapan yang ingin saling membunuh satu sama lain.

Buaakk

Aryo langsung meluncurkan pukulan tepat kearah muka Ridwan dan Ridwan berhasil menakisnya.

Whusss

Angin disekeliling pun bergetar akibat pukulan mereka yang saling beradu.

Whut

Tap

Mereka berdua sedikit melompat kebelakang untuk menganmbil jarak.

“Ternyata Phase Power milikmu masih kuat seperti biasanya”ucap Aryo sambil tersenyum sinis.

Ridwan tidak menanggapi ocehannya dan langsung mengeluarkan Core nya yaitu Gunblade. Aryo juga mengeluarkan Core nya yang berupa Knuckle bercahaya biru dengan duri-duri tajam disekelilingnya.

Whust

Ridwan langsung melesat kearah Aryo dan langsung mengayunkan Gunblade nya dari samping kanan.

Sriinnkk

Aryo berhasil menakisnya dengan tangan kanan. Tapi…

Sriitt

Duuuaaarrr

Ridwan langsung menembak Aryo ketika Gunbladenya Ia tangkis, sehingga pakaian yang Aryo gunakan hancur dan dirinya terlempar kebelakang sampai menghantam tangga.

Krak

Krak

Bruuuaaarrr

Akibat getaran yang sangat kuat, Atap gedung yang sudah retak mulai runtuh dan tepat menimpa Aryo.

Jduaarrr

Reruntuhan yang menimpa Aryo tiba-tiba hancur dan kini Ia sudah berada di samping Ridwan untuk bersiap memukulnya.

Whuutt

Sraank

Pukulan yang lancarkan Aryo berhasil Ridwan tangkis dengan Gunblade nya. Lalu…

Sraatt

Duaakk

Tiba-tiba Knuckle milik Aryo mengeluarkan pisau plasma dan langsung Ia gunakan untuk menebas perut Ridwan. Dilanjutkan dengan tendangan kearah perutnya dan akhirnya Ridwan terlempar kebelakang dengan darah yang terus keluar dari perutnya.

“Apa yang kamu lakukan selama ini ? kamu mulai lengah ya”sindir Aryo.

Ridwan tidak merespon perkataanya.

Syuutt

Tiba-tiba Ia sudah berada di belakang Aryo sambil menodongkan Gunblade tepat dikepala Aryo.

Dooooaaarrrr

Ridwan langsung menembak Aryo dengan Gunblade nya.

BLAAAAAAAARRRRRR

Ledakan yang dihasilkan sangat besar sehingga seluruh bangunan gedung mulai runtuh, sedangkan Aryo berhasil mengelak sedikit dan hanya tangannya saja yang terkena peluru plasma dari Ridwan.

GRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

Seluruh bangunan pun runtuh. Untungnya Aryo dan Ridwan segera berlari keluar sehingga mereka berdua selamat.

“Seperti biasa, Phase Power milikmu memang menyeramkan”ucap Aryo.

“Kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa Ace”lanjutnya. Kemudian Ia melompat keatas dan tiba-tiba menghilang.

 

FLASHBACK OFF

 

Di toilet Michelle terlihat sedang mencuci mukanya. Matanya sembab dan sesekali terdengar suara isak tangis darinya.

“Kenapa harus seperti ini sih ?”ucapnya dalam hati.

“Dia emang mirip Rifall. Tapi dia bukan Rifall”lanjutnya.

Setelah itu Michelle pun memutuskan untuk kembali ke kelas. Tapi ketika Ia hendak pergi, Grace yang tiba-tiba datang langsung menghampirinya.

“Kamu kenapa Chell ?”Tanya Grace.

Michelle pun langsung memeluknya dan Ia pun menceritakan kejadian yang tadi tetapi tidak dengan kejadian terakhir. Ia hanya menceritakan sampai ciuman dikeningnya.

“Menurut ku kamu juga salah chell. Dia kan Cuma mau nolongin kamu dan terjadi kecelakaan itu. Jadinya kan itu tidak ada faktor kesengajaan”ucap Grace.

“Iya aku tau. Tapi…”Michelle menggantung perkataannya.

“Tapi ? tapi apa Chell ?”Tanya Grace.

“Enggak kok”jawab Michelle.

“Sudah. Pokoknya kamu harus minta maaf sama dia”Grace memberikan nasihat kepada Michelle.

“I…iya”ucapnya ragu-ragu.

“Yuk ah ke kelas, mumpung guru gak masuk”ucap Grace sambil menarik tangan Michelle.

Sementara itu Ridwan yang tak sadarkan diri kini sudah berada di ruang UKS. Ia dibawa oleh seorang perempuan dan dua orang laki-laki yang membantunya.

Setelah membawanya ke UKS perempuan itu langsung pergi dan menitipkan Ridwan kepada anak PMR yang sedang berada di sana.

Dikelas Michelle menceritakan kejadian yang tadi kepada Sisca dan respon yang diberikannya pun sama persis dengan Grace.

“Apa ? murid pindahan itu bikin kamu nangis Chell”Ucap Erik yang menguping pembicaraannya.

“Loh Erik. Lo nguping ya”Grace tampak melotot kepada Erik.

“Wah gak bisa dibiarin nih. Ayo bro ikut gue. murid pindaham itu udah bikin masalah”ucap Erik kepada teman-temannya sambil meninggalkan kelas.

“Erik, kamu mau ngapain ?”Tanya Michelle.

“Aku mau kasih pelajaran”jawab Erik sambil berlalu.

“Wah bisa gawat nih. Bisa-bisa murid pindahan itu masuk RS”ucap Sisca yang terlihat panik.

“Aduh gimana dong ?”Michelle juga terlihat sangat panik.

“Terus murid pindahan itu tadi dimana ?”Tanya Grace.

“Aku tinggal di koridor dekat ruang multimedia”jawab Michelle.

“Kondisinya gimana ?”Sisca ikut nimbrung.

“Aku gak tau. Soalnya setelah aku tendang. Aku langsung lari”jawab Michelle.

“Wah bisa gawat nih. Mending kita cegah sekarang”ucap Grace.

Michelle, Grace dan Sisca pun kembali keluar dari kelas untuk mencari keberadaan Ridwan. Akan tetapi setelah sampai di sana Ridwan sudah tidak ada dan mereka pun kembali ke kelas.

“Semoga aja dia gak sampai pindah kayak murid pindahan yang dulu”ucap Sisca.

“Maksud kamu si Rehan ?”sahut Grace.

“Iya si Rehan. Kamu masih ingatkan ? dia kan Cuma gak sengaja numpahin minumannya di baju Michelle”timpal Sisca.

“Iya juga. Emang si Erik siapanya kamu Chell ? kok dia overprotektif banget sama kamu ?”Tanya Grace.

“Sebenarnya……………….”

 

To Be Continued

Iklan

Satu tanggapan untuk “Breakers, The Super-Powered Agent: Prologue Page 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s