God’s Play, Part2

“ELO.” Chris dan Gery terkejut melihat seorang lelaki yang tiba – tiba saja muncul di hadapan mereka.

“Yo, Gery Muller dan Chris Bastian, lama tidak bertemu.”

“Dion, kenapa lo bisa ada disini ?” tanya Gery

“Ceritanya panjang, yang jelas gue juga sama kayak kalian berdua, gue lebih dulu time jump ke tempat ini.”

Dion Rafael Putra, ya bisa di bilang dia adalah sahabat lama Gery dan Chris yang sudah lama tidak bertemu, dulu mereka bertiga selalu kemana – mana bersama.

“Gue kira lo udah di tangkap dan di habisi sama mereka.” Kata Chris

“Dulunya sih gitu, tapi untungnya gue berhasil melarikan diri dari mereka, tapi ya sialnya gini, gue malah time jump, dan pas gue sampai ternyata keadaan udah kayak gini.”

“Udah cukup reuniannya, sekarang lebih baik lo pikirin gimana caranya ngembaliin keadaan kayak semula lagi.” Naomi tampaknya masih kesal dan tidak bisa menerima keadaan

“Oke gue pasti bakalan lakuin hal itu, tapi gak mudah, gue butuh bantuan dari kalian semua.” Chris mengeluarkan empat buah chip dari tas nya dan langsung menaruhnya di atas meja “Empat buah benda ini yang bisa jadi harapan kita satu – satunya.”

“Mana mungkin empat buah benda mati kayak gini bisa jadi harapan kita, lo yang serius, ini itu bukan main – main.” Naomi tidak mempercayai apa yang di ucapkan Chris

“Ini, benda apa ini ?” tanya Melody

“Benda ini adalah chip yang bakalan kita pakai buat ngelawan musuh.”

“Maksudnya ? bisa di perjelas lagi ?”

“Oke, gue mau tanya sama kalian, apa kalian tau makhluk – makhluk mitologi ?”

“Iya, aku tau sedikit, yang aku tau tidak banyak, seperti Hydra dan Chimera, tapi makhluk – makhluk seperti itu bukannya hanya mitos, dan tidak pernah ada wujudnya di dunia nyata.”

“Salah besar, makhluk – makhluk itu ada, dan di dalam chip ini ada empat makhluk mitologi.”

“Benarkah ? kamu tidak bercanda kan ?”

“Gue serius.”

“Apa aja itu ?”

“Chip pertama ini ada Byakko The White Tiger, dan ketiga chip yang lainnya, gue belum tau makhluk apa yang ada di dalamnya.”

“Tunggu bagaimana mungkin ke empat makhluk itu bisa di masukkan ke dalam sebuah chip ?” tanya Delta

“Orang tua gue seorang ilmuan yang mempelajari tentang peradaban makhluk mitologi yang ada di seluruh dunia.”

“Apa yang di katakan Chris benar, di empat chip inilah ke empat makhluk mitologi itu ada, bisa di bilang jiwa mereka hidup di dalam chip ini.” Kata Gery

“Terus, gimana cara kita minta bantuan mereka ?” tanya Naomi

“Itu dia yang jadi permasalahannya sekarang, device yang digunakan untuk memanggil mereka rusak, dan karna device itu juga masa depan berubah kayak gini.” Chris tertunduk, sepertinya dia kembali mengingat kesalahannya.

“TERUS BUAT APA LO NUNJUKKIN EMPAT CHIP INI SAMA KITA HAH !!! KALAU NYATANYA TERNYATA GAK BISA DI GUNAIN.” Amarah Naomi kembali terpancing.

“Oke – oke semuanya tenang jangan ada yang terpancing emosi, gue punya sesuatu yang mungkin bisa kita gunakan.” Dion mengeluarkan sebuah benda dari dalam jaketnya “Nih, kali aja ini bisa berguna.”

“Ini, bukannya ini device yang di gunakan musuh, kenapa lo bisa punya benda ini Yon ?” tanya Gerry “ Jangan – jangan.”

“Eitss jangan salah paham dulu, jadi gini, sebelum gue time jump, gue berhasil nyuri salah satu device ini dari mereka, karna gue yakin pasti benda ini bakalan di butuhin banget.”

“Lo emang temen yang bisa di andalkan Yon, pantes aja lo dapet julikan Dion si tangan panjang.”

“Sembarang lo Ger kalau ngomong, ya kali gue bangga dengan julukan itu.”

Kejutan yang di berikan Dion sukses membuat semuanya memiliki harapan kembali, pasalnya hanya device inilah yang bisa mereka gunakan, biarpun hanya satu device, tepi setidaknya senyuman harapan terpancar di wajah mereka semua.

“Oke, sekarang bakalan gue coba device ini.” Chris memasukkan sebuah Chip kedalam devicenya.

10 Detik …..

15 Detik ….

1 Menit …..

“Lah, kok gak terjadi apa – apa ?” Gery merasa heran

“Iya, gak ada respon sama sekali.” Kata Melody

“Chris, emang kayak gini fungsinya ?” tanya Delta

“Harusnya sih cocok, soalnya di layar device ini udah ada tulisan Inserted chip.”

“Tapi kenyataannya kayak gini.” Kata Naomi

“Jangan – jangan.”

Chris langsung mengeluarkan laptop dan dua buah kabel dari dalam tasnya, dia langsung menyambungkan device dan chip itu ke dalam laptopnya . Chris langsung membuka sebuah sistem dan langsung mengecek keseluruhan device dan chipnya.

“Bener dugaan gue.”

“Kenapa ?” tanya Melody

Device dan chipnya gak cocok, device yang di bawa Dion udah di modifikasi sedemikian rupa, dan data yang ada di chip ini nggak cocok dengan data yang ada di device.”

“Emang gak bisa di perbaiki ?”

“Susah, data dalam device ini udah gunain teknologi yang lebih maju, sedangkan chip ini datanya masih original, dan cuma gue modifikasi sedikit.”

“Sialan, kalau kayak gini udah gak ada harapan lagi.” Naomi langsung menggebrak meja, dan lalu pergi meninggalkan semua orang.

“Itu anak kenapa sih ? kayaknya diantara kita semua dia yang paling sering ke pancing emosinya, apalagi PMS ?” tanya Gery

“Sebenarnya Naomi itu orangnya baik dan ramah pada semua orang, hanya setelah kejadian ini dia berubah drastis, aku bisa mengerti kalau gimana rasanya ada di posisi Naomi, disaat menjadi seorang kakak yang tidak bisa melindungi adiknya.” Jawab Melody

“Adik ? maksudnya gimana ?”

“Sinka Juliani, dia adiknya Naomi, dan Sinka itu sama kayak kita, dia salah satu member JKT48, tapi…..” Melody tiba – tiba saja menundukkan kepalanya, dengan sedikit tetes air mata yang ada di pipinya.

“Udah Mel, biar gue aja yang ceritain.” Delta menepuk pundak Melody “ Mendingan sekarang lo tenangin dulu diri lo.”

“Jadi Sinka itu, intinya dia di tangkap sama pihak musuh, dan yang paling membuat Naomi kesal hingga berubah seperti sekarang, Sinka disiksa habis – habisan oleh musuh di dalam sel penjara, dulu musuh pernah mengirim video rekamannya pada kami.”

“Oh jadi gitu, gue paham sekarang kenapa dia yang paling emosian diantara kita semua.”

“Sorry ya Chris, gue minta maaf atas sikapnya Naomi.”

“Santai aja, gue juga paham kok, kalau gue ada di posisi Naomi mungkin gue juga bakalan kayak gitu, gue juga pernah rasain kehilangan orang yang kita sayang.”

“Syukur deh kalau lo bisa paham dengan situasi saat ini,” Delta menghempaskan tubuhnya ke atas kursi “Mendingan sekarang kita istirahat dulu, hari udah mau masuk malam.”

“Oh ya, malam ini jadwalnya siapa ?” tanya Melody

“Oh ya, jadwalnya si Rizal sama Yupi malam ini.” Jawab Delta

“Zal, Yup, jangan lupa ya nanti malam.” Kata Melody

“Oke kak, santai aja, aku inget kok.” Jawab Yupi, gadis mungil berambut panjang dan berkulit putih.

“Jadwal apa ?” tanya Gery

“Biasa, kalian kan tau kita disini kekurangan stok makanan, jadi mau gak mau kita harus cari makanan, dari pada mati kelaperan.” Jawab Delta

“Lah, emang gak takut sama musuh ?”

“Kalau malam hari, musuh gak bakalan keluar, makanya kita disini selalu nyari makanan pas malam hari tiba.”

“Sampai segitunya kalian buat bertahan hidup, sorry ya karna kesalahan gue masa depan jadi kayak gini.” Kata Chris

“Santai aja Chris, kan udah gue bilang ini udah terlanjur terjadi, kita gak bisa berbuat apa – apa.”

Malam hari tiba, Rizal dan Yupi yang bertugas untuk mencari makanan malam ini, mereka berdua langsung berangkat dan keluar dari tempat persembunyian, sementara yang lainnya sedang beristirahat, ada juga yang sedang menahan rasa lapar. Dion, Chris dan Gery terlihat mereka bertiga sedang mengobrol, mungkin sedang merencanakan sesuatu.

“Kita gak bisa berdiam diri, pokoknya kita mesti ngerubah masa depan.” Kata Chris

“Gue paham apa yang lo rasain sekarang, tapi gimana caranya ? device yang gue curi dari musuh nyatanya gak bisa di gunain.” Kata Dion

“Bener kata Dion, dengan cara apa kita bakalan ngelawan mereka ? lihat jumlah kekuatan mereka, kita gak bisa gegabah gitu aja, apalagi ini menyangkut nyawa dan keselamatan banyak orang.” Kata Gery

“Gue punya ide, gimana kalau kita nyusup ke markas mereka, dan ambil salah satu device juga chipnya.”

“Lu gila Yon, gak semudah itu kita nyusup, penjagaan disana pasti ketat banget.”

“Ya terus, mau gimana lagi cara kita lawan mereka ? gak ada cara yang lainnya.”

“Gue bakalan berusaha buat perbaiki device yang dibawa sama Dion, biar datanya cocok dengan chip yang gue buat.” Kata Chris

“Lo yakin Chris ? ini bukan perkara berusahanya, tapi masalah waktu, kita gak punya waktu banyak, semakin lama mereka di biarin, semakin tertindas kita semua.” Kata Gery

“Gue bakalan nyelesain device itu secepat mungkin, gue janji.”

“Chris, gu paham sifat lo kayak gimana, kita sahabatan bukan satu atau dua tahun, gue bakalan berusaha bantu sebisa gue.” Gery menepuk pundak Chris

“Gue juga, kalau lo butuh apa – apa bilang sama gue.” Dion juga menepuk pundak Chris

“Thanks, kalian berdua selalu mau bantu gue disaat kesusahan.”

Semantara itu Rizal dan Yupi yang bertugas mencari makanan untuk malam ini tengah bersembunyi di suatu tempat, pandangan mereka tertuju ke arah depan, memperhatikan beberapa orang yang sedang melihat – lihat daerah sekitar.

“Zal, aku takut, gimana kalau mereka tau kebaradaan kita disini.”

“Tenang Yup, mereka gak akan tau kita berada disini.”

“Tapi Zal, aku kebelet, pengen pipis.”

“Duh Yup, tahan dulu, situasinya belum memungkinkan.”

“Susah Zal, kalau di tahan – tahan nantinya jadi penyakit.”

“Kamu mau kalau kita ketahuan sama mereka ? yang ada kita bakalan di bunuh.”

“Ya udah deh, aku bakalan tahan sebisaku.”

Para prajurit itu masih melakukan patroli, memeriksa tiap sudut yang mereka singgahi, dan mereka tidak menemukan suatu petunjuk apapun.

“Sial, kenapa mereka kaluar malam dan patroli sih, biasanya juga kalau malam – malam gini aman.” Gumam Rizal “ Yup, kita harus segera kembali.”

Rizal langsung menarik tangan Yupi, dan mereka berdua langsung berlari cepat menjauh dari para prajurit.

“ITU MEREKA, CEPAT TANGKAP !!!”

Salah satu prajurit berhasil melihat Rizal dan Yupi yang tengah berlari, tanpa membuang waktu para prajurit itupun langsung ikut berlari mengejar Rizal dan Yupi.

“Zal, aku cape, udah gak kuat.” Yupi membungkuk, kedua tangannya di taruh di lutut sambil mengatur nafasnya.

“Yup, bukan waktunya cape, liat kebelakang, mereka ngejar kita.”

“Kamu aja pergi duluan Zal, biarin mereka nangkap aku, seenggaknya salah satu di antara kita harus ada yang ngasih tau yang lainnya.”

“Sekarang kalian sudah tidak bisa lari kemana – mana lagi.”

Rizal dan Yupi sudah tidak bisa kemana – mana lagi, kini para prajurit telah berhasil mengepung mereka berdua membentuk sebuah lingkaran.

“Sialan.” Gerutu Rizal

“Tangkap anak perempuan itu.” Seorang prajurit yang berdiri di belakang Yupi langsung saja menahan kedua tangan Yupi dan mengunci pergerakannya.

“Lepasin aku, lepasin.” Yupi berusaha memberontak tetapi hasilnya nihil, kekuatannya tidak cukup untuk melepaskan diri.

“Lepasin dia.” Kata Rizal

“Akan kami lepaskan anak itu, asal kau beritahu kami dimana tempat persembunyian kalian.”

“Cih, gak bakalan gue kasih tau, kalaupun kalian semua pengen tau, lawan dulu gue.”

Seorang prajurit yang berdiri di belakang Rizal tiba – tiba saja juga langsung menguncu pergerakan Rizal, seperti apa yang dilakukan pada Yupi.

“Lepasin gue, kalau berani hadapi gue satu lawan satu.” Rizal coba memberontak

“Tidak perlu melakukan cara itu, sekarang cepat beri tahu kami dimana tempat persembunyian kalian ?”

“Udah gue bilang, gak bakalan gue kasih tau sampai kapanpun.”

“Baiklah, kami akan melakukannya secara paksa.”

Beberapa prajurit langsung melancarkan beberapa pukulan ke arah perut, dada dan juga wajah Rizal tanpa belas kasihan. Rizal yang tidak bisa berbuat apa – apa hanya bisa pasrah akan nasibnya sekarang. Beberapa luka memar dan darah juga terlihat dari wajah Rizal.

“ZAL…. “ Yupi berteriak melihat kondisi Rizal yang sekarang sudah tidak berdaya.

“Inilah akibatnya jika berani menentang kami, sekarang cepat beritahu dimana persembunyian kalian.”

“Cih, udah gue bilangkan, uh.. sampai kapanpun gue gak bakalan kasih tau, mendingan gue mati, dari pada harus ngorbanin yang lainnya.”

“Baiklah jika itu permintaanmu bocah, akan segera ku kabulkan.”

Seorang prajurit langsung mengambil sebuah pedang dan bersiap menghunuskan pedangnya ke arah Rizal, tak ada yang dapat Rizal lakukan, Rizal hanya bisa menutup mata, mungkin dia sudah pasrah akan nasib, biarpun dia sudah di beri sebuah pilihan. Pilihan antara menyelamatkan nyawa sendiri atau menyelamatkan nyawa semua orang.

“HENTIKAN !!!!” Dari kejauhan seseorang datang sambil menyeret seseorang

“Ketua.”

“Jangan bunuh bocah ini, kita masih butuh informasi banyak darinya.”

“Baiklah, tapi siapa yang ketua bawa ini ?” Prajurit menunjuk seseorang yang tadi di seret.

“Hanya tikus kecil yang sedang mencari lubang kematian.”

“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarnag pada mereka bertiga ?”

“Aku punya rencana.” Terbesit sebuah senyuman licik di wajah seseorang yang di panggil ketua itu.

……….

Dimarkas tempat persembunyian para member JKT48 dan yang lainnya, terlihat Chris, Gery dan Dion sedang terus berusaha menganalisis kesalahan dari device dan chip yang mereka miliki sekarang, di tambah beberapa orang dan member juga ikut membantu mereka bertiga.

“Ini udah percobaan ketiga kali, dan masih aja gagal.” Kata Dion

“Bener, gue juga gak ngerti apa kesalahannya, semua cara dan rumus yang di kasih orang tua gue udah gue lakuin semuanya, tapi hasilnya masih aja tetep.” Kata Chris

“Kayaknya kita emang harus pasrah akan nasib.” Gery terlihat sangat pesimis

“Jangan menyerah, kalian pasti bisa, hanya kalian harapan kami satu – satunya.” Melody mencoba member semangat.

“Kita ngerti perasaan kalian, tapi ini butuh waktu yang lama banget.” Kata Gery

“Benar, ini gak mudah, semua cara udah kami lakukan, tapi hasilnya kalian lihat sendiri kan ?” kata Dion

Aura kekecewaan terpancar dari wajah para member dan yang lainnya, harapan yang semula menjadi penyemangat kini sudah pupus. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, bahkan Chris yang paling pintar di antara merekapun terlihat sudah sangat putus asa.

“Maaf, kayaknya gue gak bisa berbuat banyak.” Chris tertunduk dan meratapi kesalahannya.

“Apa aku boleh membantu kalian ?” Seseorang tiba – tiba saja berbicara

“Lo yakin ? bahkan kita bertiga yang bisa di bilang udah tau seluk beluk dari device dan chip ini pun gak bisa.” Kata Gery

“Biarkan aku mencobanya.”

Orang itu langsung mendekati laptop Chris, dia membuka beberapa aplikasi dan langsung menganalisa kesalahan apa yang belum terpecahkan.

Cukup lama orang itu memeriksa, kurang lebih sudah tiga puluh menit berlalu, tetapi orang itu masih saja belum menyerah, dia masih terus menganalisa dengan penuh ketelitian.

“Jadi ini penyebabnya.” Gumamnya “Aku sudah tau letak kesalahannya dimana.”

“Dimana ?”

Device ini masih prototype dan chip ini sudah sempurna, data dari keduanya berbeda, ditambah kekuatan yang ada di chip ini juga sangat besar, jadi device ini tidak bisa menganalisanya, jika kita ingin menggunakan chip ini, mau tidak mau kita harus merubah struktur data yang ada di device ini dan di sesuaikan dengan data yang ada di chip.”

“Benarkah ? apa itu bisa di lakukan ?” Tanya Melody

“Bisa, tapi perlu peralatan khusus untuk merubah struktur data dalam device ini, peralatan di tempat ini gak bakalan cukup.”

“Dimana kita bisa mendapatkan perlatan itu ?”

“Di laboratorium milik musuh, mereka punya peralatan yang kita butuhkan.”

“APA ? Itu terlalu beresiko, kekuatan kita sama mereka berbanding jauh.”

“Gak ada jalan lain, kita harus bisa mendapatkan alat itu, jika memang ingin mengalahkan musuh.”

“Siapa nama lo ? dan kenapa lo tau banyak soal musuh ?” Tanya Gery

“Namaku Alpha, aku dulunya adalah salah satu bagian dari musuh yang di pimpin oleh Vermo, tapi mereka membuangku begitu saja, dan sekarang aku ingin membalas dendam pada mereka.”

“JADI LO MUSUH HEH !!! ATAU LO MATA – MATA MUSUH ?” Gery menjadi emosi

“Tunggu Ger, jangan dulu kepancing emosi, sepertinya apa yang dibilang Alpha benar, dia sudah lama bersama kita, kalau memang dia mata – mata musuh pasti sudah dari dulu dia membocorkan keberadaan kita semua disini.” Kata Delta

“Aku tidak memaksa kalian untuk percaya padaku, yang jelas aku berada di pihak kalian.”

Keadaan menjadi hening, mereka langsung tertunduk mencari sebuah cara agar bisa menggunakan chip dan device yang saat ini mereka miliki, jalan keluar yang di berikan Alpha juga menurut mereka terlalu beresiko, tetapi tidak ada jalan lain, hanya itulah satu – satunya cara, ya mencuri peralatan yang mereka butuhkan dari musuh.

“Gue boleh minta bantuan kalian ?” Chris tiba – tiba saja bersuara

“Apa itu ?” Tanya Melody

“Disini apa ada yang bersedia buat mencuri peralatan dari musuh ?”

Semua orang kembali tertunduk, pasalnya permintaan yang diajukan Chris terlalu beresiko terhadap keselamatan mereka.

“Biar gue yang mencuri peralatan itu.” Kata Dion

“Lo yakin ?” Tanya Gery

“Gue yakin, lo tau gue kan kayak gimana, gue gak mau nyerah gitu aja, seenggaknya biarpun gue harus mati, masih ada yang bisa gue lakuin.”

“Oke kalau gitu, gue percayain dan minta bantuan lo, lo harus hati – hati.” Kata Chris

“Tunggu dulu, ada baiknya kalau sebagian dari kami ada yang ikut bersama Dion.”

“Biar gue yang ikut sama Dion, gue juga gak mau berdiam diri gitu aja.”

“Ada lagi ?”

“Gue.”

“Gue.”

“Gue.”

Dan akhirnya tujuh orang terkumpul dengan sukarela untuk membantu Dion mengambil peralatan dari markas musuh.

“Oke, gue sebelumnya makasih buat kalian semua, karna udah dengan sekarela mau bantuin, tapi pesen gue satu, hati – hati, karna markas musuh pasti di jaga dengan ketat.” Kata Chris “ Oh, ya, bawa alat ini, gunakan untuk komunikasi.”

“Sip, kalau ada apa – apa, pasti bakalan langsung gue kabarin, kalau gitu, gue sama yang lainnya berangkat.”

“Jaga diri kalian baik – baik.” Melody terlihat bersedih.

“Sip, santai aja.”

Dion dan yang lainnya pun pergi menuju markas musuh dengan rute yang sudah di berikan oleh Delta, karna hanya Delta yang tau rute dan jalan mana yang harus dilalui menuju markas musuh dengan aman.

Setengah perjalanan mereka lalui, tiba – tiba langkah mereka terhenti, dan melihat sesuatu yang membuat mereka sangat terkejut.

……..

“Del, Rizal sama Yupi kok belum kembali juga ya ? perasaan mereka lama banget nyari makanannya.” Kata Melody

“Iya Mel, gue juga ngerasa gitu, kemana dulu mereka berdua.”

Chris, Gery dan Alpha yang sedang serius menganalisis kembali chip dan device, tiba – tiba saja menerima sebuah panggilan.

“Kenapa Yon ?” Tanya Chris

“Gawat, Rizal dan Yupi di tangkap sama musuh.”

“APA ? lo gak bercanda kan ?”

“Beneran, ini gue sama yang lainnya liat dengan mata kepala sendiri, Rizal dan satu orang lagi, gue juga gak tau siapa udah babak belur di hajar musuh, sementar Yupi baik – baik aja.”

Chris langsung termenung memikirkan solusi terbaik untuk memecahkan masalah ini, baru saja mendapat solusi untuk chip dan device, ada lagi masalah yang muncul.

Chris, oy, ini gimana ? gue mesti selametin Rizal atau gimana ini ?”

“Bentar Yon, gue ngasih tau dulu yang lainnya.”

“Oke, cepat lo kabarin gue.”

Chris langsung mengakhiri komunikasinya dengan Dion, dan dia langsung menghampiri yang lainnya.

“Ada kabar buruk.”

“Apa ?”

“Rizal dan Yupi dan satu orang lagi di antara kita di tangkap sama musuh, barusan gue dapet kabar dari Dion.”

“APA ?” Melody sangat terkejut

“HEH KAMPRET, LO GAK BERCANDA KAN ?!!!!” Seorang pria tiba – tiba saja langsung berbicara lantang.

“Gha, tahan emosi lo.” Delta mencoba meredam emosi Sagha, yang memang sangat terkenal teman baik Rizal.

“Gimana gue bisa tenang, sahabat gue di tangkap musuh, ini semua gara – gara lo Chris, masa depan jadi ancur kayak gini.”

“Gue ngerti, dan emang ini kesalahan fatal yang pernah gue lakuin.”

“Oke semuanya tenang, jangan ada yang kepancing emosi lagi, bentar Chris, tadi kamu bilang ada satu orang lagi yang di tangkap sama musuh ?”

“Iya, gue juga gak tau itu siapa.”

Delta langsung memperhatikan sekeliling dan memperhatikan semua orang yang ada disana, sepertinya Delta sudah kenal dan hapal betul semua orang yang ada disana.

“Siapa ya ?”

“Ahmad, ya si Ahmad yang gak ada disini.”

“Berarti Ahmad juga di tangkap sama musuh.” Kata Melody

“Kayaknya gitu, kita harus nyelametin mereka semua.” Kata Delta

“Itu harus, jadi gimana ? apa Dion dan yang lainnya gue suruh buat nyelematin Rizal aja ?”

“Jangan Chris, Dion dan yang lainnya tetap ke markas musuh, kita buat tim baru.”

“Oke, gue kasih tau dulu Dion.” Chris langsung menghubungi Dion, dan sepertinya Dion juga mengerti dengan apa yang di beritahukan oleh Chris

“Oke, barusan Dion bilang, Rizal dan yang lainnya di bawa sama musun ke suatu tempat, mereka berjalan ke arah utara.”

“Ke arah utara ? tempat itu terlalu luas, dan banyak sekali bangunannya, apa mungkin kita bisa menemukan mereka dengan cepat.”

“Kita pasti bisa menemukan mereka dengan cepat.” Seorang gadis berambut pendek tiba – tiba saja buka suara

“Gimana caranya, Vin ?”

“Tenang Kak, aku bisa melacak keberadaan mereka.”

Gadis berambut pendek yang bernama Vinny langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, kemudian dia memperhatikan layar pada ponselnya.

“Aku tau dimana mereka berada sekarang.” Kata Vinny

“Gimana caranya ?”

“Ini, untung saja di handphone Ahmad sudah terpasang aplikasi yang pernah kami buat sebelumnya, dan aplikasi itu sangat berguna sekali.”

“Oke, kita udah tau dimana tempatnya sekarang, dan biar Gue yang nyelametin Rizal dan yang lainnya.” Kata Delta

“Gue ikut Del, gue gak bisa maafin mereka yang udah ngehajar babak belur sahabat gue.” Kata Sagha

“Tapi gue minta sama lo jangan gegabah Gha, ini masalahnya antara hidup dan mati.”

“Oke, gue janji gak bakalan gegabah dan ceroboh.”

“Gue juga ikut.”

“Gue ikut.”

“Gue juga ikut.”

Dan terkumpul 6 orang yang akan menyelamatkan Rizal, Yupi dan Ahmad dari tangan musuh.

“Aku juga ikut.”

“Lo yakin Vin ? ini bahaya banget loh, lo kan cewek.” Kata Sagha

“Kalian pasti butuh bantuan aku, seenggaknya aku sudah hapal jalan mana yang aman buat menuju ke sana.”

“Apa yang di bilang Vinny benar, oke Vin, lo jadi pemandu jalan buat kita semua.” Kata Delta

“Serahkan padaku.”

“Oke sebelum kita berangkat, sekali lagi gue ingetin jangan gegabah dan jangan ambil resiko sendiri, terus buat yang disini, gue harap jangan ada yang keluar, karna musuh pasti sekarang lagi patroli buat nyari keberadaan kita semua.” Kata Delta

“Yang disini serahkan padaku, kamu gak usah khawatir.” Kata Melody

“Chris, lo tetep lanjutin kerjaan lo, urusan nyelametin Rizal dan yang lainnya serahin sama gue.”

“Thanks Del, gue bersyukur dapet bantuan dari kalian semua.”

“Oke, ya udah gue berangkat dulu.”

“Kalian harus kembali lagi dengan utuh.” Melody menyampaikan pesan perpisahan.

Delta dan yang lainnya langsung meninggalkan tempat persembunyian mereka, entah bahaya apa yang sudah menanti mereka di depan sana. Mereka masih terus berjalan dengan mengikuti arahan dari Vinny. Kini mereka harus melewati sebuah lorong yang sangat gelap.

“Vin, gak ada jalan yang lain ?” Tanya Sagha

“Gak ada Gha, cuma ini satu – satunya jalan yang paling aman dari musuh.”

“Oke, semuanya gue harap hati – hati pas jalan, nyalakan senter kalian semua.”

Dengan bersusah payah mereka melewati lorong dengan sangat hati – hati dan penerangan seadanya, jalan lurus lorong telah mereka lewati, kini di hadapan mereka ada dua buah lorong, yang satu ke arah kanan dan yang satu ke arah kiri. Vinny terlihat sangat bingung harus melewati rute yang mana.

“Vin, ambil kiri atau kanan ?” Tanya Sagha

“Gak tau, akses dari handphone aku ke handphone nya Ahmad tiba – tiba aja mati, kayaknya sinyalnya gak kuat sampai ke lorong ini.”

“Waduh, mampus yang ada kita disini.”

“Tenang Gha.”

Vinny kembali mengotak – atik handphonenya, berharap muncul sebuah keajaiban.

“Yes, akhirnya bisa lagi.” Kata Vinny “Kita ambil jalan ke kanan.”

Mereka langsung mengambil lorong kanan dan langsung berjalan kembali dengan sangat hati – hati, kini mereka telah sampai di akhir lorong, dan tepat di depan mereka menghadang jalan buntu.

“Gimana sih Vin ? ini kan jalan buntu.” Kata Sagha

“Emang ini rutenya, dan kita harus buka trails yang ada di atas sana.” Vinny menunjuka ke arah atas, sebuah trails besi tengah menghadang mereka.

“Lah, gimana cara kita bukanya, masa iya harus kita gigit.” Sagha sepertiny mulai kesal dan bingung sendiri.

 

To Be Continued….

@anto_teo25

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s