Legend Of Sanctuary: Save Your Athena Part 3: Reunions

1si

 

~Yayasan Mitsumasa, Tokyo~

 

Sekarang mereka sedang berada diruang kepala Yayasan Mitsumasa. Mereka berlima membentuk barisan sejajar. Tak beberapa lama mereka berbaris, datang seorang lelaki paruh baya yang terlihat sangat tua sekali datang menghampiri mereka berlima. Lelaki itu langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan berdiri dihadapan kelima anak terpilih tersebut.

 

“Selamat malam semuanya. Perkenalkan, saya adalah Mitsumasa Kido. Saya adalah pemilik yayasan ini.” Kata sang kakek itu.

“Delapan tahun lalu kami bertemu dengan Sagittarius Aiolos di sebuah gua saat sedang melakukan pendakian. Disana dia membawa seorang anak yang nantinya harus kalian lindungi. Dia berpesan, saat Athena sudah berumur 16 tahun kalian harus membawa dia ke Sanctuary dan melawan pemberontak yang ada disana. Jadi, sebelum itu dilaksanakan saya akan melatih kalian untuk menjadi semakin kuat dari sebelumnya. Kalian paham?” Kata sang kakek panjang lebar.

“Pahammm…” Teriak kelima anak terpilih.

“Baiklah anak-anak. Dia adalah Ayah saya sekaligus kakek dari Athena. Dia yang akan memandu latihan kalian selama delapan tahun kedepan. Panggil dia Mitsumasa-sama. Jadi, mohon kerja samanya dari kalian.” Kata Ayahnya Gracia yang berada disamping Mitsumasa-sama.

“Baiklah, mulai sekarang persiapkan diri kalian. Delapan tahun kedepan kalian akan memiliki takdir yang besar dan juga tugas yang berat. Jika kalian tidak sanggup, dunia ini diambang kehancuran. Kalian Siap?” Kata Mitsumasa-sama dengan nada seperti sedang membentak.

“Siappp…” Teriak kelima anak terpilih.

 

~Jakarta, 2016~

 

Seorang gadis terlihat sedang menunggu kakaknya dikantin sekolah. Tak beberapa lama sang kakak akhirnya datang menghampirinya.

 

“Anin, maaf ya lama. Tadi kakak ada ujian dadakan soalnya. Jadi lama deh pulangnya.” Kata sang kakak.

“Iya, gak apa-apa kok kak. Aku juga baru pulang kok kak.” Kata Anin dan langsung berdiri dari tempat dia duduk.

“Yaudah, kalau gitu kita pulang sekarang yuk.” Ajak sang kakak. Mereka berdua langsung menuju ke parkiran untuk mengambil mobil.

 

Sekarang mereka sudah didalam mobil dan sang kakak segera melajukan mobilnya. Ditengah perjalanan sang adik ingin mengajak kakaknya kesuatu tempat.

 

“Kak, bisa tolong anterin aku ke makam Ibu aku gak? Aku kangen sama Ibu.” Kata sang adik dengan wajah murungnya.

“Baiklah, kakak akan anterin kamu ke makam Ibu kamu.” Kata sang kakak mengiyakan kenginginan adik angkatnya itu.

“Makasih ya kak Gre. Maaf ya jadi ngerepotin kaya gini.” Kata Anin sambil menunjukkan wajah lucunya.

“Iya, Anin. Kan udah jadi tanggung jawab kakak untuk ngerawat kamu sampai kakak kamu balik ke Indonesia.” Kata sang kakak. Dia adalah Shania Gracia, teman masa kecil Adi dan Anin.

 

Anin terlihat kembali merenung sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya dia sedang memikirkan banyak hal didalam dirinya.

 

“Kamu lagi mikirin apa dek? Kok melamun?” Tanya Gracia yang terlihat penasaran ketika memandang wajah Anin yang sedang merenung.

“Eh, gak apa-apa kok kak. Aku cuma kepikiran sama kakak aku. Kira-kira dia lagi apa ya sekarang?” Kata Anin. Terlihat sekali bahwa dia sangat mencemaskan kondisi kakaknya.

“Hmm, yang jelas mungkin sekarang dia sedang fokus dengan pendidikannya disana.” Kata Gracia yang berusaha meyakinkan Anin.

 

Suasana kembali hening, Gracia kembali fokus untuk menyetir mobil dan Anin masih terlihat merenung.

 

“Hmm, kak Gracia gak tau sih kenapa kak Adi pergi ke Jepang. Andaikan dia tau, mungkin dia juga akan khawatir kaya aku.” Gumam Anin didalam hati.

 

Tiba-tiba Gracia menghentikan laju mobilnya yang sudah menepi didepan pemakaman.

 

“Yaudah, sekarang kita ke makam Ibu kamu dulu yuk.” Ajak Gracia yang sudah mematikan mesin mobilnya. Anin hanya mengangguk mendengarkan ajakan Gracia.

 

Mereka langsung keluar dari mobil. Mereka berjalan menyusuri makam demi makam, sampai akhirnya mereka berhenti disebuah makam. Anin langsung duduk disamping makam itu, Gracia juga memenamani Anin duduk disamping makam itu.

 

“Hai, bu. Apa kabar Ibu disurga sana? Anin kangen banget sama Ibu. Maaf ya bu, hari ini kak Adi masih belum aku kasih tau tentang kondisi Ibu sekarang. Anin gak mau kak Adi sedih disana. Anin pengen dia fokus dulu belajar disana. Nanti kalau kak Adi udah pulang, Anin akan ajak dia kesini kok bu.” Kata Anin. Dia mulai meneteskas airmatanya dengan perlahan sampai akhirnya wajahnya dibanjiri oleh airmatanya.

 

Setelah Anin berbicara ke makam Ibunya, dia langsung membacakan doa ke makam Ibunya. Lalu Anin dan Gracia menaburkan kembang tujuh rupa dan air ke makam Ibunya. Setelah selesai mereka kembali menuju ke arah mobil untuk pulang ke rumah.

 

Brukkk…

 

Saat sedang berjalan tak sengaja Anin menabrak seseorang. Orang itu menggunakan celana jeans biru pekat, jaket kulit merah tua dengan tudung yang menutupi wajahnya.

 

“Aww,,, mas. Kalau jalan itu lihat-lihat dong.” Kata Anin yang mulai terpancing emosinya.

“Maaf.” Kata lelaki itu singkat.

“Anin, udah jangan marah-marah begitu. Ayo kita pulang.” Kata Gracia. Dia langsung menarik tangan Anin dan pergi menuju ke mobil.

 

Saat mereka berdua pergi menjauh, lelaki itu langsung berbalik badan dan memperhatikan mereka berdua.

 

“Hmm, Anin. Sekarang kamu sudah besar ya. Gracia, terima kasih ya sudah menjaga Anin selama gue tinggal di Jepang. Maaf ya, gue menyembunyikan diri gue dari kalian.” Gumam orang itu didalam hati sambil tersenyum lepas saat melihat mereka berdua.

 

Dia langsung berbalik badan dan berjalan menuju ke makam yang tadi telah dikunjungi Anin dan Gracia. Sesampainya disana dia langsung duduk disamping makam itu. Dia memegangi batu nisan yang ada dimakam itu.

 

“Ibu, aku pulang.” Kata lelaki itu sambil tersenyum kecil.

“Maaf, aku baru bisa datang sekarang. Aku janji, mulai sekarang aku akan melindungi Anin dan juga Gracia bu. Aku mohon doanya ya dari atas sana.” Kata orang itu kemudian mencium batu nisan sang Ibunda tercinta. Ternyata dia adalah Adi, yang selama ini berada di Jepang.

 

Duaaarrr…

 

Terdengar suara ledakan dari arah jembatan yg berada di dekat pemakaman. Tiba-tiba hp Adi berbunyi.

 

“Adi, posisi lo ada dimana sekarang?” Tanya orang dibalik telpon itu.

“Gue ada dimakan Ibu gue. Ada apa?” Tanya Adi.

“Ada serangan dari para Bronze Saint Sanctuary. Gracia sekarang sedang dalam bahaya.” Kata orang dibalik telpon.

“Oke, gue kebetulan lagi ada didekat tkp. Gue akan hadang mereka, kalian cepat menyusul.” Kata Adi. Dia langsung menutup telpon dan pergi menuju ke tempat kejadian.

 

~Beberapa Menit Sebelum Kejadian~

 

Anin dan Gracia yang habis ziarah ke makam Ibunya Anin sekarang sudah berada didalam mobil. Gracia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi.

 

Syuttt,, Syuttt,,, Syuttt,,,,

 

Banyak sekali tembakan dari langit tampak sedang mengarah ke mobil yang dikendarai oleh Gracia.

 

“Hah, kak. Ada apa ini sebenarnya?” Tanya Anin yang sangat panik.

“Kakak juga gak tau Nin. Sepertinya mereka mengincar kita.” Kata Gracia yang tidak kalah paniknya. Gracia hanya bisa fokus untuk menghindari serangan itu.

 

Gracia terus saja menghindari mobilnya dari serangan tiba-tiba itu. Tapi, pada akhirnya Gracia tidak bisa lolos dari serangan itu.

 

Duarrr…

 

Bumper belakang mobil mereka terkena tembakan itu. Dan akhirnya mobil mereka terpental cukup keras. Beruntung, mobil mereka memiliki sistem keamanan yang canggih. Di dalam mobil tiba-tiba keluar balon pelampung yang dapat melindungi diri mereka dari resiko kecelakaan berat. Mereka berdua akhirnya dapat selamat dari kematian.

 

“Akh,, Anin. Kamu baik-baik aja?” Tanya Gracia untuk memastikan kondisi Anin.

“Awh,, a,, aku baik-baik aja kok kak.” Jawab Anin dengan kondisi lemas.

“Sekarang cepat kamu buka sabuk pengaman kamu. Kita harus menghindar dari sini.” Kata Gracia. Anin yang masih dalam kondisi lemas hanya mengangguk saja.

 

Mereka berdua langsung membuka sabuk pengaman mereka. Setelah itu mereka membuka pintu mobil dan langsung berlari keluar. Tapi, seorang Bronze Saint muncul dihadapan mereka. Seketika mereka berdua tidak bisa kemana-mana dan hanya bisa pasrah saja.

 

“Hahaha, mau kemana kalian berdua?” Katanya. Dia langsung menghampiri Gracia dan mendekatkan wajahnya ke Gracia.

“Tu,, tunggu dulu. Sebenarnya ada apa ini?” Tanya Gracia yang terlihat sangat panik sekali.

“Huh, jangan pura-pura tidak tahu. Kau adalah Shania Gracia. Anak yang mengaku-ngaku sebagai Athena kan. Kami ditugaskan oleh raja untuk membunuhmu.” Katanya.

 

Mereka berdua hanya bisa pasrah karena sekarang mereka sedang dikepung oleh empat orang Bronze Saint yang dikirim dari Sanctuary. Gracia yang sudah menyadari kalau ini akan menjadi akhir riwayat hidupnya langsung menutup mata sambil mengangis. Lalu, tiba-tiba.

 

Brummm,,,

 

Seseorang datang dengan menaiki motor dan segera menghadang para Bronze Saint yang berada dihadapan Gracia dengan motornya.

 

“Siapa kau, berani-beraninya mengganggu kami?” Tanya mereka.

“Hydra Ichi, Leonet Ban, Wolf Nachi, Unicorn Jabu. Apakah kalian melupakan ku? Orang yang pernah kalian bunuh dulu.” Tanya orang itu. Dia langsung membuka helm yang dia pakai.

 

Setelah membuka helm mereka semua langsung kaget termasuk Gracia dan Anin.

 

“Ka,, kamu.” Kata Gracia dengan terbata-bata.

“Maaf, aku terlambat. Kalian baik-baik aja kan?” Tanya orang itu sambil menghampiri Gracia dan Anin.

“Di,, dia. Pegasus Adi.” Kata Ichi yang terbata-bata.

“Kau, bagaimana bisa kau masih hidup setelah serangan waktu itu?” Tanya Nachi yang sangat kesal melihat kehadiran orang itu.

“Heh, kalian pikir aku selemah yang kalian pikirkan?” Tanya Adi sambil tersenyum sinis. Tapi, pandangannya masih mengarah kepada Anin dan Gracia.

“Heh, kebetulan kau masih hidup. Mari, kita bertarung sekali lagi. Sudah lama sekali ku menanti pertemuan ini.” Kata Jabu yang datang menghampiri Adi.

 

Adi langsung menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Kemudian dia berdiri dan menghampiri Jabu.

 

“Gracia, akan aku selesaikan pertarungan ini dalam waktu 30 detik.” Kata Adi yang sangat pede.

“Heh, percaya diri sekali kau. Baiklah, kalau begitu. Terimalah serangan ku ini.” Kata Jabu.

“Hyaaaa…” Teriak Jabu. Dia berlari menghampiri Adi.

 

Bukk… Bukkk… Bukkk…

 

Jabu memberi perlawanan kepada Adi. Tapi, Adi dengan sigap selalu menghindar dan menepis serangan Jabu. Dan akhirnya Adi memukul lengan Jabu dengan keras.

 

Bukkk…

 

Jabu terpental sangat jauh akibat pukulan Adi. Tapi, dia masih bisa bangkit kembali setelah terkena serangan Adi.

 

“Heh, jadi sekarang kau sudah bertambah kuat ya.” Kata Jabu yang sedang berusaha untuk bangkit.

“Sepertinya aku harus menggunakan serangan terbaik untuk membalas perbuatanmu dulu.” Kata Adi. Dia langsung mengeluarkan kalung yang dia miliki dari lahir dan melemparnya ke bawah.

“Ayo kita beraksi. Pegasus.” Kata Adi. Tiba-tiba kalung itu berubah menjadi sinar yang sangat terang. Dari bawah sinar itu muncul sebuah armor yang berbentuk seperti kuda jingkrak.

 

Srinkkk…

 

Armor berbentuk kuda itu langsung terpecah berkeping-keping. Pecahan armor itu kemudian langsung menempel ditubuh Adi.

 

“Cih, kau pikir kau bisa menang walaupun menggunakan armor itu?” Tanya Jabu.

“Kita lihat saja, siapa yang akan menang sekarang.” Kata Adi yang menantang Jabu.

 

Hyyyaaa!!!

 

Mereka berdua berteriak dan saling menyerang satu sama lain secara bergantian.

 

Bukkk… Trang… Cing… Brukkk…

 

Tidak ada yang mau menyerah sama sekali diantara mereka. Pertarungan terlihat seimbang, tapi Adi dapat memanfaatkan kelemahan Jabu dengan baik.

 

“Hei, sepertinya kau sudah salah langkah.” Kata Adi. Dia langsung memukul Jabu dengan sekuat tenaga.

 

Bukkk…

 

Jabu terpental cukup jauh akibat pukulan terakhir yang dilakukan oleh Adi. Jabu yang terlihat kesakitan langsung mencoba bangkit sekuat tenaga.

 

“Arrggghhh…” Rintih Jabu.

“Ternyata kau sudah jauh berbeda dibandingkan dulu.” Kata Jabu sambil tersenyum licik.

“Ya, kau benar. Pernahkah kau merasakan cosmo milikmu terbakar?” Tanya Adi. Tiba-tiba tubuhnya terlihat bersinar terang. Dia langsung mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya.

“Apa? Tidak mungkin, kuda-kuda itu.” Kata Jabu yang terlihat sangat kaget.

“Pegasus… Ryu,;; Sei,,, Ken…” Adi mengeluarkan jurus pamungkasnya untuk mengalahkan Jabu.

 

Syuttt…

 

“Arrrggghhh…” Teriak Jabu yang terpental sangat jauh ke langit sampai tidak terlihat lagi.

 

Tiba-tiba Anin langsung menghampiri kakaknya yang sudah kembali dan menjadi seorang Saint yang kuat itu.

 

“Kakak…” Teriak Anin sambil berlari menghampiri sang kakak.

“Anin.” Kata Adi yang mendengar teriakkan itu. Dia langsung menoleh kearah sumber suara.

“Kak Adi. Aku kangen sama kakak.” Kata Anin. Dia langsung memeluk sang kakak dengan sangat erat.

“Kakak juga kangen banget sama kamu dek.” Kata Adi. Dia langsung membalas pelukan adiknya.

 

Tiba-tiba terdengar suara dari arah lain.

 

“Cih, kau pikir kau bisa mengalahkan kami?” Ucap Nachi. Adi langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat Gracia sedang dikepung oleh tiga orang Bronze Saint yang ingin membunuhnya.

“Tolonggg…” Teriak Gracia yang sangat ketakutan.

“Tamatlah riwayat mu disini.” Ucap Nachi dengan senyum sinisnya.

“Harusnya kami yang bilang seperti itu.” Terdengar suara teriakan dari atas tiang jembatan.

 

Serentak, semua yang ada disana langsung menengok ke arah teriakkan itu.

 

“Kau, bagaimana kau bisa ada disini?” Tanya Nachi yang sangat kaget melihat kehadiran orang itu.

“Kalian pikir kami berlima sudah mati terbunuh oleh kalian?” Tanya orang itu.

“Willy, akhirnya loe dateng juga.” Kata Adi.

“Sorry Di, udah buat kalian nunggu.” Kata Willy.

“Kalian berdua, jaga Athena. Jangan sampai dia kabur. Biar aku yang hadapi Willy.” Kata Nachi kepada kedua temannya.

“Baik.” Kata Ban dan Ichi bersamaan.

 

Brummm…

 

Tiba-tiba datang dua orang menaiki motor dan berhenti didepan Ban dan Ichi untuk melindungi Gracia.

 

“Radika, cepat bawa Gracia menjauh dari sini.” Kata orang yang menaiki motor itu.

“Baiklah, ayo Gracia. Cepat naik ke motor.” Kata Radika. Gracia yang sedang mengangguk dan naik ke motor dengan rasa ketakutan.

 

Setelah Gracia naik ke motor, Radika langsung membawa dia ke Adi yang cukup jauh dari tempat pertempuran. Sampai disana Radika langsung menyuruh Gracia untuk turun dari motor.

 

“Adi, gue titip mereka berdua disini. Biar kami bertiga yang akan melawan mereka.” Kata Radika.

“Kalian yakin gak perlu bantuan gue?” Tanya Adi.

“Gak perlu. Ini pertarungan satu lawan satu. Bukan cuma lo yang mau bales dendam. Kita disini juga mau bales dendam atas kematian orang tua kita.” Kata Radika dengan sangat meyakinkan.

 

Adi yang mendengar perkataan Radika langsung tersenyum karena merasa bangga. Radika langsung melajukan motornya menuju tempat pertarungan. Disisi lain, kini Willy sudah berhadapan dengan Nachi. Sedangkan temannya sedang menunggu Radika untuk menghadapi Ban dan Ichi.

 

Srinkkk… Bukkk… Syuttt…

 

Pertempuran antara Nachi dan Willy sangat sengit sekali. Mereka saling jual-beli serangan.

 

“Huh, hebat juga kau. Tapi jangan harap kau bisa menang walaupun sudah memakai Armor.” Kata Nachi. Dia memang terkenal sebagai Bronze Saint yang paling sombong diantara yang lainnya.

“Begitukah menurut mu. Baiklah, akan aku kerahkan seluruh kemampuan untuk melawan mu.” Kata Willy. Dia langsung mengambil ancang-ancang dengan tangan kanan mengepal ke langit.

“Hah, mungkinkah dia bisa menggunakan jurus itu.” Gumam Nichi melihat Willy melakukan ancang-ancang.

 

Zhunggg…

 

Cosmonya berubah menjadi kumpulan energy berbentuk seekor naga. Saat jurusnya sudah sempurna, dia langsung melayangkan jurus itu ke arah Nichi.

 

“Rozan… Sho,,, Ryu,,, Ha…” Teriak Willy yang mengeluarkan jurus pamungkasnya.

 

Zhunggg…

 

“Arrrggghhh…” Teriak Nachi yang terpental sangat jauh ke langit karena menerima serangan dari Willy. Dilihat dari serangan barusan, jurus ini lebih kuat dibandingkan jurus milik Adi.

 

Brummm…

 

Radika yang baru saja menjauhkan Gracia dari tempat pertarungan akhirnya sampai ditempat temannya.

 

“Dendhi. Sorry, gw terlalu lama.” Kata Radika yang baru sampai sambil turun dari motor.

“Santai aja. Sekarang, tolong bantu gue buat lawan mereka.” Kata Dendhi.

“Baik.” Kata Radika.

 

Mereka langsung bekerjasama untuk mengalahkan Ban dan Ichi.

 

“Sial, kalau begini terus kita bisa tamat.” Gumam Ichi.

“Ichi, cepatlah kau kembali ke Sanctuary. Biar aku yang akan menghentikan mereka berdua.” Kata Ban yang terlihat langsung melindungi Ichi.

“Tapi, kau bisa mati seperti Jabu dan Nachi jika melawan mereka sendirian.” Kata Ichi.

“Hmm, tidak apa. Sudah selayaknya kita mati demi raja kan.” Kata Ban. Dia langsung tersenyum sambil melihat Ichi.

“Baiklah, ku harap kau bisa menyusul ku.” Kata Ichi. Dia langsung pergi berlari menjauh dari pertarungan.

 

Dendhi dan Radika yang melihat tindakan Ban dan Ichi, berusaha untuk menggagalkannya. Radika langsung berlari mengejar Ichi.

 

“Tidak akan kubiarkan. Hyaaa…” Teriak Ban sambil bersiap menyerang Radika.

“Diamond… Dust…” Dendhi langsung mengeluarkan jurusnya kearah Ban. Akhirnya Dendhi berhasil, sekarang Ban membeku seperti bongkahan es batu.

 

Duarrr…

 

Bongkahan es itu langsung meledak setelah mencapai titik terbekunya. Kini tubuh Ban hancur berkeping-keping akibat menerima jurus dari Dendhi. Kini Radika masih mengejar Ichi yang tengah melarikan diri.

 

Srinkkk…

 

Radika langsung mengeluarkan senjata miliknya yang berbentuk rantai untuk menangkap Ichi. Akhirnya, Ichi berhasil tertangkap dan Radika langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya.

 

“Nebula… Chain…” Tiba-tiba muncul sekumpulan rantai dari tangannya menyerbu Ichi. Satu-persatu rantai itu melukai Ichi. Setelah terluka parah rantai itu langsung melempar Ichi dengan sangat jauh.

 

“Arrrggghhh…” Teriak Ichi yang sedang terpental sampai tidak terlihat lagi.

 

Mereka bertiga yang sudah menyelesaikan pertarungan langsung menghampiri Adi yang sedang melindungi Gracia dan Anin. Saat sudah berkumpul tiba-tiba ada seseorang datang dengan mengendarai mobil.

 

“Gracia, Anin. Kalian berdua baik-baik aja?” Kata orang yang baru keluar dari mobil itu.

“Kak Iqbal. Kita baik-baik aja kok.” Kata Anin. Gracia hanya mengangguk karena masih bingung tentang kejadian yang barusan dia alami.

“Syukurlah kalian datang tepat waktu.” Kata Iqbal kepada keempat Saint yang menolongnya.

“Tenang aja. Ini udah jadi kewajiban kami kak Iqbal.” Kata Adi.

“Ngomong-ngomong kenapa kalian hanya berempat? Bukannya, ada satu orang lagi.” Tanya Iqbal yang penasaran.

“Soal itu…” Kata Radika terhenti.

“Bagaimana kalau kita bahas ini dirumah kalian aja?” Tanya Dendhi.

“Baiklah.” Kata Iqbal.

 

Mereka semua akhirnya bersiap-siap untuk pergi ke rumah Gracia. Keempat orang Saint yang tadi menolong Gracia langsung melepaskan Armor mereka dan kembali memakai pakaian formal dan berjalan menuju ke kendaraan mereka masing-masing.

 

“Tunggu…

 

 

 

-To Be Continued-

 

Hay semuanya. Akhirnya part ke-tiga selesai dibikin juga. Setelah hampir empat hari gue kehilangan mood untuk menulis (gak ada yang peduli). Semoga kalian puas dengan hasilnya ya. Buat yang punya kritik dan saran, silakan comment dibawah ya. Youroshiku!

 

Twitter            : @Nugroho_AJ93

Line                 : adi93saya

WattPad          : @AdiNishinoya4

Iklan

Satu tanggapan untuk “Legend Of Sanctuary: Save Your Athena Part 3: Reunions

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s