Wrestling & Love part 71

pizap_1437301468174

Kadangkala dalam hidup kita harus tabah dalam menjalani sesuatu, ada saat dimana kita di bawah, dan pasti ada saat kita berada di atas. Yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkanmu
~

“Zaqa” panggil Elaine, ia mendatangi rumah Razaqa

“Eh.. iiya ? apa Len ?” tanya Zaqa sambil sedikit menunduk menatap Elaine, karena postur tubuh mereka memang terlampau jauh..

“Mmh.. temenin aku ke toko buku yuk.. ada yang pengen aku beli” Elaine berusaha membujuk Razaqa agar mau menuruti kemauannya

“E..eh t..tapi gimana ya ?”
Razaqa nampak berpikir sejenak, ia teringat akan janji menemani Michelle nanti malam

“T..tapi aku ada janji sama Michelle nanti malem” ucap Razaqa

“Itu kan malem, sekarang masih siang..
ayolah, ga akan lama kok” bujuk Elaine

“Hmm.. iya iya deh huft.. aku ganti baju dulu” Razaqa akhirnya menyetujui

“Yeay” Elaine kegirangan

“Mau masuk?” tanya Razaqa

“Gausah deh, aku tunggu sini aja” Elaine mendudukkan dirinya di bangku teras

“Oh oke” Razaqa masuk ke rumahnya dan bergegas berganti baju

Elaine nampak tersenyum sendiri, entah bagaimana ia merasa sangat senang sekali bisa mengajak Razaqa untuk jalan bersamanya..

Beberapa menit ia menunggu, akhirnya orang yang ditunggu pun datang

“Yuk Len” ajak Razaqa

Razaqa keluar dengan kaos hitam dan celana panjang hitam..
tal lupa juga dengan hoodie coklat kesayangannya

“E..eh.. i..iya ayo” untuk sesaat Elaine sedikit terpana melihat penampilan Razaqa

“Ohiya, kamu gausah bawa motor ya..
pake mobil supir aku aja.. oke ?” jelas Elaine memberitahu
“Ooh.. gitu, oke oke” anggukan kecil dari Razaqa..

Razaqa dan Elaine masuk ke mobil, mereka duduk di bagian tengah, hanya menyisakan supir Elaine di bagian kemudi..

“Kita mau kemana non ?” tanya supir itu sambil melihat ke kaca spion tengah..

Elaine kemudian menjelaskan kemana mereka akan pergi, setelah dirasa mengerti, barulah mobil berjalan dan menuju ke sebuah mall di Jakarta..

Saat mereka di perjalanan

“Yaah maceet” gerutu Elaine sambil membuat wajahnya cemberut

“Yaa sabar Len, namanya juga Jakarta, pasti macet… apalagi hujan kaya gini”
Razaqa melihat ke arah kanannya, terlihat genangan air dengan jumlah cukup banyak memenuhi jalanan, hujan pun masih turun dengan intensitas sedang

“Huftt.. iya, er… dingin juga” Elaine menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya dari rasa dingin

“Paak, AC Mobilnya matiin aja” ucap Razaqa kemudian

“Iya dek” balas supir Elaine patuh dan mematikan AC mobilnya

“Dan… nih kamu pake jaket aku..
siapa suruh tadi ga bawa jaket” kata Razaqa sambil memakaikan jaketnya ke tubuh mungil Elaine

Walaupun terlihat ukurannya kebesaran, ya tetap lumayan untuk menghangatkan Elaine

“Eh.. ? em..mh m.m..a..kasih” ucap Elaine terbata

Iya sangat gugup, wajahnya memerah tanpa ia sadari..

“E..eh, muka kamu merah.. kamu sakit ?” tanya Razaqa khawatir

“Eh.. i..ini.. engga kok, m.mh… bukan apa-apa, aku emang gini kalo kedinginan” jawab Elaine sekenanya

“Ooh.. gitu”

Elaine mengangguk

Razaqa berlaku seperti itu bukannya ia menyukai Elaine, tetapi itu hanya reflek karena ia tidak tega melihat wanita di sampingnya kedinginan.. terlebih lagi wanita itu adalah sahabat dari kekasihnya.

“Zaq”

“Iya ?”

“Boleh aku ??” Elaine menunjuk pundak Razaqa

Razaqa mengerti maksud Elaine bahwa ia ingin tidur sambil bersandar di pundak Razaqa

“Tentu.. silahkan, nanti aku bangunin kalo udah sampe” Razaqa tersenyum tipis

Elaine lalu memberanikan diri untuk menyandarkan kepalanya pada pundak Razaqa..

Sangat nyaman..
itulah yang Elaine rasakan..
tanpa terasa, ia langsung saja terlelap di tengahnya hujan yang turun

~

“Len.. Ileen.. bangun, udah sampe nih” bisik Razaqa pelan

Elaine perlahan membuka matanya

“Eh ? udah sampe ya ? hooam” Elaine masih terlihat mengantuk

“Iya udah sampe” Razaqa meregangkan badannya di mobil..

Ia merasakan pegal yang amat sangat karena selama Elaine tidur di pundaknya tadi, Razaqa tidak berani menggerakan pundaknya sedikit pun agar Elaine tidak terbangun..

“Yuk” ajak Elaine

“Iya” mereka berdua turun dari mobil
“Oh iya, ini jaket kamu” Elaine hendak melepaskan jaket yang ada di tubuhnya

“Udah, kamu pake aja dulu.. nanti kan di dalem mall dingin” balas Razaqa

“Iya sih..tapi..iih ini kegedean, malu tau” Elaine menggembungkan pipinya

“Haha iya juga sih, yaudah lepas aja..
lagian sih, punya badan kecil amat” ledek Razaqa

“Eh ? apa kamu bilang ? dasar nyebelin” Elaine masih saja cemberut

“Ehehe becanda.. “

Mereka berdua berjalan bersama, tentunya tanpa berpegangan tangan..

Bagaimanapun mereka hanyalah sepasang teman, walaupun pihak
wanita yaitu Elaine mengharapkan lebih

“Aaah.. aku laper” keluh Elaine

“Issh kamu tuh, baru sampe udah laper aja” balas Razaqa

“Hihi.. iyaiya deh, nanti aja makannya” kata Elaine mengalah

Akhirnya mereka berdua sampai di depan toko buku..

“Kamu emang mau cari buku apa Len ?” tanya Razaqa

“Mmh.. novel mungkin..
sama Mama aku nitip buat beli buku masakan” jelas Elaine

“Ooh” Razaqa hanya ber oh ria

“Kamu ga mau cari buku?”
tanya Elaine balik

“Apa ya ? paling komik kalo aku” ucap Razaqa

“Yaudah.. kita berpencar ya, aku kesana kebagian novel, nanti setengah jam lagi kita ketemuan disini” Elaine menunjuk kearah rak yang bertuliskan “Novel”

Razaqa hanya mengangguk kecil

Elaine memang dari sejak SMP merupakan seorang pencinta novel, ia lebih suka novel yang bergenre fantasi romance, bahkan horror pun ia suka beberapa judul..
Koleksi novel dirumahnya sudah sanggup untuk memenuhi satu rak penuh, tetapi koleksi novel itu belum bisa menandingi koleksi boneka bebek di kamarnya yang luar biasa banyaknya
saking banyaknya, hampir seluruh tempat tidurnya berisikan boneka boneka tersebut..

“Hm… apa ya yang menarik?” batin Razaqa dalam hati sambil tangannya mencari-cari komik yang ia suka”

“Ini aja deh” akhirnya setelah memutuskan, Razaqa memilih untuk membeli komik Doraemon..

Ia memang merupakan pecinta robot dari abad ke 22 itu, dia lebih suka Doraemon ketimbang Naruto atau One Piece yang memiliki cerita panjang berbelit-belit, dan juga tidak ada habisnya dari seri buku yang keluar

Setelah dirasa cukup, Razaqa kembali ke tempat dimana Elaine berada..

“Eeh.. kamu udah ?” Elaine kaget, ia masih belom bisa menemukan mana
novel yang pas untuknya

“Hehe.. iya nih, udah selesai” Razaqa cengengesan, dia menunjukkan komik Doraemon yang ia beli

“Waah Doraemon.. aku juga suka” Elaine terkesan

“Kamu belum selesai ?” tanya Razaqa balik

“Belom nih, masih bingung mau yang mana, kalo buku pesanan Mama aku sih udah ketemu, tinggal novel aja” jelas Elaine

“Hmm.. Sherlock Holmes yang ini gimana ?” Razaqa menunjuk ke salah satu novel yang berisikan tentang kisah seorang detektif itu

“Bagus sih, aku pernah tau ceritanya, tapi ya kurang begitu tertarik”
ucap Elaine

“Ahh ini aja Len…” tunjuk Razaqa kepada salah satu novel

“Icylandar ?”  Elaine bingung, novel itu sangat tebal, hingga mencapai 800 halaman

“Sebenernya aku udah pernah baca, minjem punya Kelvin.. bagus looh, tentang kerajaan elf-elf gitu” jelas Razaqa

Elaine kemudian mengangguk tersenyum, dan ia memutuskan untuk membeli novel yang direkomendasikan Razaqa itu

“Sini, aku yang bayar..
kamu tunggu diluar aja” perintah Elaine

“E.e..eh tapi Len” Razaqa merasa
tidak enak

“Udah.. ga ada tapi-tapian, kan aku yang ngajak kamu kesini, jadi aku juga yang bayarin” jelas Elaine

Jika sudah berkata seperti itu, Razaqa hanya bisa mengiyakan saja..

“Yuk” ajak Elaine begitu ia sudah berada di luar, dan menghampiri Razaqa

“Iya” respon Razaqa..

Mereka berjalan beriringan, mungkin jika orang awam melihat kedekatan mereka, orang -orang pasti mengira jika mereka merupakan pasangan adik kakak.. Postur tinggi yang jelas jauh berbeda merupakan faktor pembeda paling penting, Razaqa yang bertinggi 175 cm sementara Elaine yang hanya 155 cm..

“Emmh.. Zaqa, makan dulu yuuk” pinta Elaine manja”

Razaqa terlihat berpikir sejenak, ia teringat janji untuk dinner dengan Michelle nanti malam

“Ayooolaah” Elaine terus saja menarik-narik lengan Razaqa

“E..eh.. i..iya iya deh” Razaqa akhirnya mengiyakan ajakan Elaine

“Yeaay”

Razaqa dan Elaine telah tiba di restoran bernuansa Jepang, memang gadis mungil satu itu sangat suka sekali makanan-makanan Jepang, terlebih sushi ataupun okonomiyaki..

“Mmh..kamu suka makanan Jepang kan ?” tanya Elaine cemas

Ia takut Razaqa tidak suka dengan restoran yang ia pilih

“Hehe.. iyaa iya aku suka kok, aku juga suka makanan-makanan Jepang” jawab Razaqa berbohong, ia tidak tega membuat gadis disebelahnya itu menjadi sedih

Elaine mengangguk senang

“Ehtapi, aku sekarang lagi gamau makan, jadi kamu aja ya yang mesen..”
ucap Razaqa

“Yaah kok gituu ?” Elaine tampak cemberut

“Aku udah makan tadi di rumah sebelum kita pergi, kamu makan, makan aja.. aku pesen minumnya aja” ujar Razaqa

“Oh yaudah”

Tak lama kemudian, Elaine memanggil pelayan dan memesan makanan yang ia mau, dan tentunya juga ia memesankan minuman pesanan Razaqa

Selama menunggu makanan dibuat, Elaine terus mengajak Razaqa mengobrol, mulai dari hal penting hingga hal tidak penting, sebisa mungkin ia ingin mengakrabkan diri dengan cowok di dekatnya itu

Razaqa hanya kebanyakan menjadi pendengar, Elaine lebih banyak berbicara.. memang sudah kodratnya bahwa wanita lebih banyak berbicara ketimbang pria

Tak lama kemudian, makanan datang..

Elaine dengan lahap menyantapnya karena memang ia suka terhadap masakan Jepang, Razaqa hanya meminum minuman di gelasnya.

Tidak terasa waktu sudah menjelang malam.. Razaqa sepertinya mulai lupa akan janjinya dengan Michelle untuk dinner malam itu

“Eh Zaq, kita jangan pulang dulu, lagian diluar kayaknya hujan deras deh” gumam Elaine sambil melihat kearah luar
Ya, benar saja, hujan turun dengan deras sore itu, mereka melihatnya karena mereka sudah berada di lobby depan mall

“Kita masuk lagi yuk, aku mau liat-liat sesuatu” Elaine tiba-tiba menarik tangan Razaqa, entah kenapa ia sekarang sudah tidak canggung seperti awal mereka bertemu

Razaqa hanya bisa mengikuti kemauannya

Begitu mereka sampai di pusat perbelanjaan, Elaine sangat antusias melihat baju-baju yang dijual, hingga tas-tas wanita kesukaannya..

“Eh.. aku mau beliin kamu sesuatu” ujar Elaine tiba-tiba

“Beliin ? gausah Len.. aku nemenin kamu aja” ucap Razaqa tidak enak

“Iih udah.. pokoknya kamu nurut aja” Elaine agak memaksa

“Aahh.. topi itu kayaknya bagus buat kamu” Elaine berlari kecil ke tempat sekumpulan topi yang dijual

Kemudian, Elaine memakaikan topi itu dikepala Razaqa.

Elaine hanya tersenyum lebar.

“Naah, kan pas.. makin ganteng kamu pake itu.. upps” Elaine keceplosan, sontak tangan kanannya menutup mulutnya sendiri

“Apa ? aku ga denger tadi” goda Razaqa..

“Eh.. engga kok engga, lupain aja hehe” Elaine salah tingkah, wajahnya memerah

“Udah ah yuk, cari lagi yang lain..
topinya kamu pegang dulu, nanti aku yang bayar” Elaine mengalihkan perhatian

“Serius topi ini buat aku?” Elaine mengangguk sambil terus tersenyum kearah Razaqa

Waktu terus berlalu, tidak berasa hari sudah malam..

Elaine dan Razaqa sudah keluar dari pusat perbelanjaan..
Kini mereka tengah beristirahat, duduk di sebuah bangku yang ada di mall tersebut..

Lagi-lagi Elaine mulai mengajak Razaqa berbicara, lebih tepatnya mengajak Razaqa mendengarkan..
Karena Elaine yang lebih banyak bicara

“Makasih ya Zaq”

“Untuk?”

“Untuk ini semua.. kamu udah mau nemenin aku seharian.. aku seneng bangeet” Elaine nampak bahagia

“Hehe iya..
sama-sama” ucap Razaqa

“Hufft.. cape juga yaah, ahahah” Elaine tertawa sambil menyenderkan badannya pada bangku

“Iyalah, kamu mah jalan-jalan mulu..
huu dasar.. beli mah kaga” canda Razaqa

“Iih Zaqa, aku beli yaa.. meskipun cuma dikit ehehe” Elaine terkekeh

“Tuh kan” celetuk Razaqa

“Ya abisnya, barang-barangnya ga begitu cocok.. cuma beberapa aja” jelas Elaine

“Lagian, hal terpenting ke mall itu bukan dari barang belanjaannya, tapi dari kita jalan-jalan dan liat orang-orang aja, itu udah lebih dari cukup, terlebih kalo kita jalan-jalannya ditemani orang yang spesial” lanjut Elaine panjang lebar

“Maksudnya ??”

“Eh.. mmh.. bukan kok..
em. bukan apa-apa hehe” Elaine menjadi salah tingkah.. ia tadi menyebutkan Razaqa sebagai orang spesial, beruntungnya Razaqa tidak mendengarkan hal tadi

“Kayaknya bakal lama hujannya” gumam Razaqa sambil melihat keluar

Elaine mengangguk menyetujui..

Keduanya hening sesaat, bingung mau berbicara apa lagi

Elaine berharap dalam hatinya agar hujan tidak pernah berhenti, Entahlah, mungkin ia egois, tetapi ya memang itulah yang ia mau. Sore hari di waktu hujan itu merupakan momen abadi yang ia impikan..
Berduaan dengan laki-laki yang ia sukai diam-diam, walaupun laki-laki itu tidak menyukainya

“Oiya, Di SMA dulu, seberapa deket kamu sama Kelvin Andela dan yang lain ?” tanya Razaqa membuka pembicaraan kembali

“Deket banget.. bisa dbilang kita selalu bersama” kata Elaine
“Aku sama Adit, Kelvin Andela, Michael Shani selalu sama-sama.. kita berenam sangat dekat, sampai akhirnya harus berpisah saat kelulusan karena aku kuliah di tempat yang berbeda sama mereka” jelas Elaine

Razaqa hanya mengangguk-angguk tanda paham

“Oiya Adit.. aku denger-denger dia itu mantan kamu ya ?” tanya Razaqa lagi

Elaine tiba-tiba menjadi murung

“Eh maaf.. kalo kamu ga mau cerita, gapapa kok” Razaqa merasa bersalah karena telah membuat Elaine ingat kembali kepada mantan pacarnya itu

“Gapapa kok, aku akan ceritain ke kamu tentang Adit” Kemudian Elaine mencurahkan isi hatinya tentang hubungannya yang kandas dengan Adit, yang merupakan teman Kelvin dan Michael saat SMA

“Aku muak, Zaq..” Elaine tertunduk lesu.

“Ehh, Len? kenapa emangnya dia?” Elaine hanya menggeleng.

“Adit itu orang yang paling aku sayang saat itu, entah kenapa sampai sekarang, aku selalu kepikiran

“Aku sama dia udah berhubungan lama banget. Perlahan, aku mau bersama dia terus untuk waktu yang lama” lanjut Elaine mulai bercerita

Razaqa memperhatikan cerita Elaine tersebut.

“Seperti yang mungkin pernah aku ceri
tain ke temen-temen yang lain..
kalo dia itu mutusin buat tinggal di Jepang.. hikss” Elaine tidak kuasa menahan air matanya

“Rasanya itu…” Elaine menyenderkan kepalanya ke pundak Razaqa

“Sakit ya ?” celetuk Razaqa pelan

“Lebih dari itu” Elaine menutup matanya

“Seolah kebersamaan kalian itu hilang begitu aja?” Jaka menebak.

Elaine kembali membuka matanya dan menegakkan kepalanya.

“Kami janji untuk saling mencintai satu sama lain, tapi apa ?!? dia malah ninggalin aku gitu aja” Lanjut Elaine terisak
“Kamu yang sabar ya, aku tau rasanya kok” Razaqa mengelus kepala Elaine pelan

“Kalo aku jadi mantan pacar kamu itu, aku ga akan ninggalin kamu gitu aja..” ucap Razaqa lirih

Elaine masih saja terisak di dekapan Razaqa..

“Sejak kejadian itu.. aku jadi takut untuk buka hati aku buat cowok lain, aku ga mau itu terulang lagi..” kata Elaine

“T..tapii..” lanjut Elaine menggantung

“Tapi apa ?” Razaqa penasaran

“T..tapi aku sekarang udah mulai menyukai seseorang” Elaine menegakkan kembali posisi duduknya
“Serius ? waah cowok itu pasti beruntung bisa disukain sama kamu” gumam Razaqa sambil sedikit tersenyum

“Emmh.. t..tapi aku ga tau apakah dia punya perasaan yang sama kayak aku”  Elaine tertunduk sedih

“Kenapa kamu ga coba ungkapin perasaan kamu ke dia ? ga ada salahnya mencoba kan ? walaupun misal ditolak, yang penting kamu udah lega” saran Razaqa

“A..a..aku takut”

“Heei.. takut kenapa ?” Razaqa memegang kedua bahu Elaine, sambil menatap mata Elaine yang berlinang air mata

~~
“Iish.. Razaqa kemana sih ?” seorang wanita menggerutu sambil matanya tidak lepas dari layar handphonenya..

Yap, itu adalah Michelle..
Dia sedang menunggu kekasihnya yang berjanji akan datang untuk makan malam bersamanya, tetapi sudah lebih dari setengah jam, orang yang ditunggu tidak kunjung datang

Michelle berkali-kali mencoba menghubungi Razaqa lewat telepon, sms, Line dan sebagainya, tetapi hasilnya nihil..
Kekasihnya itu tidak mengangkat ataupun membalas pesan darinya

“Ya Tuhan.. kamu dimana sih Zaq ? bikin aku khawatir tau ga” kata Michelle pelan, raut wajahnya menunjukkan rasa panik

“Apa dia lupa ?” batin Michelle

“Arrgh ga mungkin” lanjut Michelle menggelengkan kepalanya

Pikiran Michelle terus bertanya-tanya.. ia memikirkan dimanakah kekasihnya sekarang.. tidak mungkin ia lupa, Razaqa sendiri yang mengajaknya untuk keluar makan malam

“Maaf ada yang mau dipesan?” tiba-tiba seorang pelayan datang memecah lamunan Michelle

“Emmh.. engga mba, saya lagi nunggu seseorang.. ” jawab Michelle

Pelayan itu mengangguk kemudian pergi..

~~

“Aku takut soalnya…” Elaine menggantungkan kalimatnya

“S..soalnya orang yang aku suka itu adalah kamu” Elaine menatap Razaqa dalam

DEG

*To Be Continued*

Created by : @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s