Breakers, The Super Power Agent

title-2

“Ri..fall..kamu masih hidup”Michelle yang terbangun dari tidurnya.

“Hiks..hiks..hiks..hiks..akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi”ucapnya. Ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan air matanya mulai mengalir.

Ridwan yang melihat itu langsung menatap kearah Michelle dan pada akhirnya tatapan mereka pun saling bertemu.

“Maaf, kamu siapa ya ?”Tanya Ridwan kepada Michelle.

Ucapan Ridwan barusan membuat Michelle terdiam mematung. Tatapannya memandang kosong kearah Ridwan. Rasa kaget, sedih, dan bingung bercampur aduk di dalam hatinya dan tatapan semua orang yang berada di kelas membuatnya harus menahan rasa malu yang sangat besar.

 

SKIP

 

Setelah kejadian tadi disekolah, aku tidak bisa tidur. Kenapa Rifall bisa melupakanku ? kenapa dia tidak bisa mengingatku ? apa dia punya Amnesia ? atau dia memang bukan Rifall. Tapi kenapa hati ini mengatakan bahwa dia adalah Rifall. Walaupun suara, postur tubuh dan sifatnya telah berubah, entah kenapa hatiku ini masih menganggap kalau dirinya adalah Rifall.

 

Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk menerima kenyataan ini ? aku tidak tau harus bersikap seperti apa ? aku sudah cukup bersabar untuk menantinya. Tap jikai dia memang bukan Rifall teman masa kecilku dulu aku akan berusaha menerimanya. Sakit sakit sakit, mungkin hanya kata itulah yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. ~Michelle~

 

Dikamarnya Ia hanya melamun sambil memandangi bintang dari jendela dengan menggunakan teleskop bintang miliknya. Setiap malam selalu seperti itu. Ia tidak pernah melewatkan satu malam pun untuk melihat bintang-bintang.

“Dek, kamu belum tidur ?”terdengar suara dari balik pintu kamar Michelle.

 

Michelle yang sedang memandangi bintang tidak mendengar suara yang memanggilnya, karena selain serius memandangi bintang, Ia juga masih melamun dan memikirkan teman masa kecilnya itu.

 

“Dek, kalo belum tidur jawab dong. Kakak tau kok kalo kamu belum tidur”suara tersebut semakin keras.

 

“Iya kak, bentar”Michelle pun tersadar dari lamunannya dan langsung membuka pintu.

 

Kemudian Kakaknya masuk dan duduk di kasur milik Michelle.

 

“Kamu kenapa dek ? lagi ada masalah ya ?”Tanya Kakaknya Michelle.

 

“Enggak ada , kak Desy pengen tau terus masalah aku”ucap Michelle.

 

“Kakak kan sayang sama kamu dek, jadi kali aja kakak bisa bantu gitu”ujar Kakaknya Michelle yang bernamas Desy.

 

Michelle pun menceritakan masalah yang menggangu dipikirannya. Dimulai dari teman masa kecilnya dan juga murid pindahan yang mirip teman masa kecilnya.

 

Di sebuah rumah sakit. Terlihat Ridwan sedang menjenguk seorang perempuan yang terbaring di kasur rumah sakit. Di ruangan perempuan itu, Ia duduk dan menceritakan bagaimana sekolah barunya.

 

“Hump..kakak selalu begitu deh, kakak harus cari teman lah”perempuan itu cemberut mendengar cerita Ridwan.

 

“Tapi Gre, itu hal yang sangat mustahil bagi kakak”Ridwan terlihat panik melihat ekspresi perempuan itu yang ternyata adalah adiknya.

 

“Tehehehehe…kakak lucu deh kalo lagi panik kayak gitu”adiknya pun terlihat tertawa melihat Ridwan yang panik.

 

“Itu terserah kakak, yang terpenting kakak bahagia”tambah Gre, kemudian Ia memeluk Ridwan yang duduk di sampingnya itu.

 

Ridwan pun membalas pelukan dari Adik tercintanya itu.

 

“Tunggu kakak Gre. Kakak janji akan menyembuhkan penyakitmu”batin Ridwan.

 

“Walau pun kakak harus bekerja seperti ini”lanjutnya.

 

“Kakak bilang mustahil. Tapi dulu kan…..”

 

Drrrrrtttt Drrrrrtttt drrrrrrrrrtttt

 

Ucapan Gre pun terpotong karena HP milik kakaknya bergetar.

 

“Sebentar Gre”ucap Ridwan. Ia pun melepaskan pelukannya dan pergi dari ruangan Gre dirawat.

 

“Hump…padahalkan waktu kecil kakak sempet punya temen”lanjut Gre dalam hati.

 

Di toilet Pria. Ridwan terlihat sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon genggamnya. Setelah cukup lama berbicara Ia pun kembali ke ruangan Gre dirawat.

 

“Maaf ya Gre, kakak harus pergi bekerja. Soalnya ada panggilan mendadak”ucap Ridwan.

 

“Kok gitu sih Kak ? Kakak bilang hari ini gak ada pekerjaan”Gre sedikit kecewa dengan Ridwan.

 

“Maaf ya Gre. Kakak gak bakalan lama kok. Nanti kakak kesini lagi”ucap Ridwan.

 

“Yaudah deh kak. Hati-hati ya dijalannya”ucap Gre.

 

Ridwan pun pergi dari rumah sakit itu. Setelah cukup jauh Ia pergi dari rumah sakit, Ia pun menekan tombol yang ada pada jam tangannya.

 

Djiiww

 

Tiba-tiba cahaya berwarna biru muncul dari jam tersebut dan membentuk sebuah lingkaran di hadapannya. Di dalam lingkaran cahaya tersebut terlihat sebuah benda yang menyerupai sepeda motor besar, akan tetapi benda tersebut tidak memiliki ban seperti motor pada umumnya.

 

Sriiww

 

Cahaya itu pun menghilang, Ridwan segera menaiki benda tersebut untuk pergi kesuatu tempat.

 

Benda yang dimaksud adalah sebuah kendaraan yang disebut dengan Air Rider. Air Rider ini merupakan versi paling canggih dari motor. Air Rider tidak menggunakan Ban untuk melaju di daratan melainkan menggunakan energy anti gravitasi untuk melayang dan melaju di daratan.

 

Diperjalanan, Ia langsung memakai alat komunikasi (Headset) ditelinganya dan memakai baju berwarna putih dibalut dengan Jas berwarna hitam, sehingga menambah kesan misteriusnya. Tidak lupa, Ia juga menggunakan kacamata hitam untuk menutupi matanya.

 

Tit

 

Kemudian Ia menekan tombol yang ada pada headsetnya, karena ada panggilan dari si pemberi instruksi.

 

“Sekarang kamu sudah dimana ?”Tanya Si Pemberi Instruksi.

 

“Sebentar lagi aku akan mencapai targetnya. Bisa beritahu aku identitasnya ?”Tanya Ridwan kepada Si Pemberi Instruksi.

 

“Baiklah, akan ku kirimkan datanya”ucap Si Pemberi Instruksi.

 

Ceklek

 

Tit

 

Tak lama kemudian Ridwan menerima sebuah File pada smartphone nya yang suda ia sambungkan dengan Air Ridernya, sehingga File yang ia terima bisa dilihat pada transparent Digital monitor yang muncul di Air Ridernya.

 

File yang Ia terima berupa Biodata tentang targetnya. Di sana sudah tertera foto, nama lengkap, umur, pekerjaan, catatan kriminal dan latar belakangnya.

 

Note: untuk selanjut Si Pemberi Instruksi akan di disebut Instruktor

 

“Hmmm… penyelundupan narkoba, pelecehan seksual, pembunuhan kah ? Kenapa tingkat kriminalitas malah semakin meningkat ?”ucap Ridwan sambil melihat data si target.

 

Kemudian Ia menambah kecepatan laju Air Ridernya menuju tempat targetnya.

 

Tak lama kemudian Ia sampai disebuah Cafe yang sering di kunjungi targetnya, di sana terlihat si target sedang melakukan transaksi dengan konsumennya di salah satu meja.

 

Kemudian seorang Waitress menghampiri Ridwan dan menanyakan pesanannya.

 

“Mau pesan apa mas ?”tanya Si Waitress sambil tersenyum ramah.

 

“Capuchino satu”jawab Ridwan.

 

“Baiklah tunggu sebentar”ucap Si Waitress.

 

Waitress itu pun pergi untuk membawa pesanan. Sedangkan Ridwan masih memperhatikan transaksi yang dilakukan oleh Incarannya itu tanpa menimbulkan kecurigaan.

 

Tak lama kemudian si target pergi keluar sambil membawa sebuah koper hitam. Ridwan pun segera mengikutinya, sebelumnya Ia meletakkan Uang dimeja untuk membayar minuman yang Ia pesan.

 

Setelah cukup jauh mengikuti, Si target pun berhenti di tempat yang sepi dan langsung mengarahkan pistol kepada Ridwan yang mengikutinya.

 

“Siapa lo ?”Tanya si Target.

 

Ridwan hanya diam sambil terus berjalan dengan santai menghampiri Targetnya..

 

“Jangan-jangan lo Polisi ?”

 

Doooaarrr

 

Si Target pun menarik pelatuk pistolnya dan peluru pistol melesat dengan sangat cepat kearah Ridwan.

 

Sret

 

Peluru tersebut berhasil menggores pipi Ridwan.

 

Tap

 

Sruuukk

 

Tiba-tiba Ridwan sudah berada di depan si Target dan memegang tangan si Target yang sedang memegang pistol.

 

Pakk

 

Duakk

 

Ridwan memukul tangan si target dan mengambil Pistolnya, kemudian Ia langsung menendang perutnya, sehingga si Target pun terdorong dan menghantam tong sampah yang lumayan agak jauh.

 

Trang

 

Si Target pun mengeluarkan darah di sudut bibirnya dan langsung berusaha untuk melarikan diri dengan cara merangkak.

 

“Tunggu”ucap Ridwan dingin.

 

Duakk

 

Ridwan langsung menginjak punggung si Target, sehingga membuatnya menghantam jalanan dan kesulitan untuk melarikan diri.

 

“Tunggu, jangan bunuh aku. Aku akan melakukan apa saja”si target pun memohon ampunan kepada Ridwan sambil terus merangkak untuk melarikan diri.

 

Ridwan tidak menanggapi ucapan si Target. Ia langsung menodongkan Pistol yang diambilnya kepada Targetnya.

 

“Mati”

 

“Ampu…a..a…”

 

Doaarrr

 

Ridwan langsung menarik pelatuk pistolnya, sehingga si Target pun meninggal di tempat dengan satu tembakan tepat dikepala.

 

Tit

 

“Aku sudah membersihkannya ? sekarang apalagi ?”ucap Ridwan kepada Instruktor.

 

“Biarkan polisi yang membereskan mayatnya. sekarang kamu boleh pergi”jawab Instruktor.

 

Tit

 

Ceklek

 

Sambungan telepon pun terputus. Ridwan pun bergegas untuk kembali ke rumah sakit tempat adiknya dirawat dan meninggalkan TKP.

 

Setelah kepergian Ridwan, sekelompok polisi mulai datang ke TKP. Mereka mulai melakukan penyelidikan disekitaran Tempat kejadian.

 

“Kasus yang serupa terjadi lagi”ucap komandan Polisi.

 

“Iya, dan anehnya lagi. Semua korbannya adalah kriminal yang buron”tambah salah satu anggotanya.

 

“Sepertinya ini semua perbuatan Agen Pertahanan Sipil”ujar anggota yang lainnya yang bertugas sebagai ahli forensik.

 

“Biarlah. Jadinya kan tugas kita lebih mudah”ucap Komandan Polisi.

 

Polisi pun langsung membungkus Jenazah dan membawanya pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan terlebih dahulu.

 

><><><><><

 

Agen Pertahanan Sipil adalah Organisasi yang serupa dengan polisi. Agen Pertahanan Sipil bertugas untuk melindungi masyarakat dari semua bentuk kejahatan dan mencegah kerusuhan yang ditimbulkan masyarakat. Biasanya Agen Pertahanan Sipil ini bertugas membantu Polisi dalam kasus apapun jikalau Polisi sudah tidak sanggup menangani kasusnya.

 

Pagi harinya di SMA Negeri 4869 semua siswa di kelas XI IPS 1 terlihat sedang memainkan Digital Learning mereka  masing-masing karena guru sedang tidak masuk, jadi mereka memulai belajar sendiri.

 

“Le, kamu baik-baik aja kan ?”Tanya Sisca kepada Michelle yang dari tadi fokus memainkan Digital Learning nya.

 

“Hmm.mmm aku baik-baik aja Sis. Kamu gak usah khawatir”jawab Michelle tanpa menoleh kearahnya.

 

“Kemarin kamu kenapa ? kok kayak pernah kenal murid baru itu ?”Sisca kembali bertanya.

 

“Enggak. Ternyata aku salah orang”balas Michelle.

 

“Hari ini aku mau minta maaf sama orang itu”tambah Michelle.

 

“Bagus deh, aku kira kamu bakalan terus bersedih”ucap Sisca.

 

“Tapi kok kamu bisa-bisanya salah orang ? emangnya kamu kira dia itu siapa ?”tanya Grace.

 

Michelle pun menceritakan tentang teman masa kecilnya dan kemiripannya dengan murid pindahan itu.

 

“Oh, bisa jadi dia orangnya Le”ujar Sisca.

 

“Iya, Aku pikir dia itu orangnya. Tapi kayaknya bukan deh. Mungkin berita yang aku dengar kalo dia itu udah mati benar”ucap Michelle. Raut wajahnya pun kembali bersedih.

 

“Kamu jangan menyerah Le, kali aja dia itu masih hidup di suatu tempat dan belum bisa untuk menemuimu”ucap Grace.

 

“Iye Le, kamu jangan putus asa kayak gitu deh. Michelle yang aku kenal itu selalu ceria, penuh semangat dan tidak mudah menyerah”timpal Sisca.

 

Mendengar ucapan teman-temannya, Michelle sedikit lega. Kesedihannya sedikit bisa terobati oleh teman-temannya yang selalu ada untuknya.

 

Teng Tong Teng Tong

 

Bel istirahat pun berbunyi. semua siswa kelas XI IPS 1 segera pergi meninggalkan kelas terkecuali murid pindahan itu. Selain dingin, dia juga tidak pernah berbicara kepada orang lain yang berada di sekolah ini terkecuali ada seseorang yang memulai percakapan dengannya.

 

“Le kantin yuk, lapar nih”ucap Grace yang berbalik kebelakang. Karena posisi bangkunya berada di depan bangku Michelle dan Sisca.

 

“Kalian duluan aja deh, nanti aku nyusul”tolak Michelle.

 

“Oke deh, kita berdua duluan ya Le”ujar Grace.

 

Grace dan Sisca pun segera pergi meinggalkan kelas, sedangkan Michelle duduk dibangkunya sendirian. Ia kembali berpikir untuk meminta maaf kepada murid pindahan itu.

 

Murid pindahan itu terlihat bergegas untuk pergi keluar kelas. Michelle pun langsung berdiri untuk berjalan menghampirinya takut keburu Ia keluar, tapi tiba-tiba salah seorang teman cowoknya menghadangnya.

 

“Kamu kok sendirian aja Chell ?”Tanya seorang murid cowok yang menghalanginya.

 

Michelle tidak menghiraukan perkataan cowok itu, matanya masih fokus terhadap murid pindahan itu yang sekarang sudah berada di pintu.

 

“Kamu kenapa Chell ?”cowok itu pun reflek melihat kearah Michelle melihat.

 

“Tunggu”ucap Michelle pelan. Ia masih belum berani untuk mengeraskan suaranya.

 

 

 

 

To Be Continued

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Breakers, The Super Power Agent

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s