Delinquents, Part2

“Tumben tiba-tiba beli barang, biasanya ngejual mulu,” ucap pria yang berada di balik roda kemudi.

“Lagi pengen aja,” jawab Ciko tanpa melepas fokusnya dari jalan.

Sekarang drinya berada di mobil pick up milik salah satu rekan bisnisnya, mobil yang sama saat ia mencoba untuk mengangkut papan pengumuman tempo hari. Ini bukan keinginannya sendiri, lebih tepatnya ia terpaksa.

“Oke, pertama kita butuh sebuah exhaust fan. Kira-kira siapa yang bisa dapetin barang itu?”

Itulah sepenggal kalimat yang terlontar dari salah satu teman yang baru ia kenal. Tanpa prasangka buruk, pemuda itu langsung mengajukan diri, mengingat ruangan yang diberikan kepala sekolah tak memiliki sirkulasi udara yang baik. Terlebih dia tahu dimana bisa mendapatkan barang tersebut dengan harga murah.

Dirinya sudah memutuskan untuk terlibat dalam usaha penaklukan sekolah yang dicetuskan oleh Guntra. Belum ada rencana yang pasti, toh kemarin mereka hanya bercengkrama tentang beragam topik yang tidak terlalu penting.

“Ini parkir dimana Cik?”

“Di dalem saja, sekalian bantuin masangin.” Ciko menutup kaca yang yang sedari tadi terbuka, membiarkan angin membelai wajahnya.

Setelah mobil terparkir rapi, Ciko dan rekannya turun lalu membawa seperangkat exhaust fan yang ada di bak mobil tersebut.

Mereka berdua berjalan memasuki gedung utama, menyusuri koridor dengan puluhan pasang mata yang menatap aneh ke arah mereka.

Ciko tak memperdulikan orang-orang itu. Toh mereka tak terlalu membuatnya terganggu.

Ciko membuka pintu ruangan yang diberikan kepala sekolah untuk dia dan tiga temannya yang lain. Belum ada siapapun di sana dan kondisi ruangan tersebut tak jauh berbeda dari kemarin, masih tetap berantakan.

“Langsung dipasang aja ya, ntar uangnya gue transfer.”

Sang rekan bisnis hanya mengangguk dan langsung bekerja.

Sembari menunggu, pemuda itu memutuskan untuk berkeliling, mencoba untuk mengetahui kondisi sekolah barunya. Bermodalkan denah dan secuil niat untuk mengusir rasa bosan, pemuda itu mulai menyusuri koridor-koridor yang dipenuhi dengan orang-orang berseragam sama seperti dirinya.

Di tengah petualangannya, Ciko berhenti. Kedua bola mata hitamnya menatap ke arah figur lelaki  yang berdiri beberapa meter dari hadapannya, melambaikan tangan ke arah dirinya.

Tanpa pikir panjang Ciko langsung mengubah rute petualangannya, dia berbalik lalu berjalan menjauhi sosok tersebut.

Tiba-tiba pemuda itu merasakan sesuatu di pundaknya, sebuah cengkraman yang tak terlalu keras namun mampu membuat langkahnya terhenti.

“Woi Cik! Sombong banget dah,” ucap sosok tersebut yang kini telah berdiri di samping pemuda itu.

Ciko terdiam, dirinya memperhatikan sosok tersebut dari atas ke bawah lalu menggeleng pelan.

“Gue gak mau ngerusak pagi yang damai ini Git,” ucap Ciko.

“Kampret! Lu kira gue apa? Wabah penyakit?” sosok yang ternyata adalah Sigit itu terlihat kesal.

“Bukan sih, mungkin setingkat di bawahnya.”

Sebuah pukulan pelan mendarat di kepala Ciko. Yah, mungkin itu cukup untuk membuatnya menyadari jika ucapan barusan membuat temannya sedikit marah.

“Oke, kali ini gue maafin.” Sigit melepaskan tangannya dari pundak Ciko. “elu mau kemana?”

“Gak ada, jalan-jalan aja, sekalian nungguin kenalan gue kelar masang exhaust fan.”

“Oh jadi elu kenal sama Om-om ntu?” tanya Sigit.

“Emangnya kenapa?”

“Duh hampir aja gue hajar itu orang, gue kira dia mau maling, untung kagak jadi gara-gara tangan gue lagi ngebawa laptop sama speaker.”

“Lu gak kepikiran buat nanya dulu apa? Langsung maen ngehajar aja.”

Sigit terdiam, mulutnya menganga saat mendengar Ciko mengatakan sesuatu yang sama sekali tak terlintas di pikirannya.

“Oke lupain, lu tadi mau ke mana? Bareng aja yuk, kebetulan gue mau ke lapangan soalnya di sana lagi rame sama anak-anak yang promosi ekskul mereka.” Sigit memainkan kedua alisnya.

Ciko hanya menatap sinis lalu menggeleng pelan melihat usaha Sigit untuk mengalihkan pemibacaraan. Akhirnya karena memang tak mempunyai tujuan pasti, Ciko setuju untuk pergi bersama Sigit ke lapangan sekolah.

“Waaaah! Rame bener….” Sigit menatap takjub kerumunan orang yang berada di hadapannya sementara Ciko hanya terdiam.

Benar kata Sigit, saat ini lapangan tersebut dipenuhi dengan murid-murid yang berdiri di depan barisan yang terbentang di sepanjang lapangan tersebut. Teriakan dari orang-orang yang berusaha merekrut murid-murid baru untuk bergabung dengan ekskul mereka masing-masing memperkuat kesan ramai yang ada.

“Gue baru tau kalo hari kedua kita masih belom ada KBM,” ucap Ciko sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.

“Yah gak baca buku panduan yang dikasi Kepsek kemaren? Ospek bakal jalan selama seminggu.” Sigit melipat tangannya sambil menatap Ciko dengan tatapan remeh. “Tapi yang paling seru sih 3 hari terakhir.”

“Hah?” Ciko terheran.

“Yoi, kita bakal kemping, gatau deh dimana tapi yang jelas ada kegiatan di luar sekolah gitu, sekalian acara penutupan.” Sigit menepuk pundak temannya pelan. “Gimana? Keren kan gue?”

“Biasa aja,” balas Ciko dingin.

Ciko dan Sigit melangkah ke tengah kerumunan, memperhatikan para senior mempromosikan ekskul mereka masing-masing. Tak jarang beberapa dari mereka memaksa dua pemuda itu untuk sekedar mampir dan mendengarkan beberapa penjelasan tentang ekskul yang ada.

“Hah? Ekskul mading? Emang ada?” itulah reaksi seseorang dari ekskul renang saat Ciko menolak tawarannya.

Orang dari ekskul renang bukan yang pertama, bahkan  sebagian besar ekskul-ekskul lain juga menunjukkan reaksi yang sama.

“Yah sayang, padahal gue pengen banget ikut ekskul teater.” Sigit tertunduk lesu.

“Ya tinggal daftar aja lah.”

“Di sekolah ini muridnya gak boleh ikut dua ekskul sekaligus. Duh kenapa sih gue harus kejebak di ekskul mading yang gak jelas kayak gitu.” Sigit mengajak-ngacak rambutnya sendiri sambil mendongakkan kepala.

Tak ada respon dari Ciko. Baginya hal yang dialami Sigit tak lebih dari sesuatu yang tidak penting. Pemuda itu lebih tertarik terhadap para seniornya yang sama sekali tidak mengetahui tentang ekskul mading.

Jika kepala sekolah bilang akan mengaktifkan kembali ekskul tersebut artinya ekskul mading sudah pernah berjalan dan tentunya memiliki anggota, apa mungkin ekskul tersebut sengaja ditutup karena tak ada yang mendaftar? Atau mungkin ada alasan lain?

Terlalu fokus pada hal-hal di dalam pikirannya, tanpa sengaja pemuda itu menabrak seseorang dengan cukup keras sehingga membuat tubuh orang tersebut terdorong ke depan.

“Ah elu Cik kalo jalan pelan-pelan ngapa, jadi kabur kan objek inceran gue.” Ternyata orang tersebut adalah Arez yang tengah sibuk beraksi dengan kameranya.

“Yah sorry, lagian rame kayak gini mau hati-hati juga pasti bakal nabrak sana-sini,” bela Ciko. “elu ngapain di sini?”

“Gak ada, iseng aja, mana tau nemu hal yang menarik.” Arez kembali mengarahkan lensanya, mencari objek untuk diabadikan di kamera miliknya.

“Guntra?” tanya Ciko.

Arez hanya mengangkat kedua bahunya sembari menggeleng, sebuah reaksi yang cukup untuk menjawab pertanyaan dari Ciko.

Ehm…, test, test.”

Seluruh perhatian murid yang ada di lapangan langsung tertuju pada orang yang berdiri di atas podium dengan mic di tangannya.

“Terima kasih untuk temen-temen yang udah meramaikan acara ekskul fair ini, saya selaku perwakilan dari OSIS berharap dengan adanya acara ini kalian jadi tertarik untuk mengikuti ekskul yang sudah tersedia.

“Terima kasih juga untuk tiap ekskul atau klub yang sudah berpartisipasi semoga kegiatan ini membawa dampak positif untuk klub kalian.” Sosok yang ternyata wanita itu membungkukkan badan lalu berjalan menuruni podium. Suasana yang sempat hening kembali ramai setelah kata-kata sambutan yang dikeluarkan oleh perwakilan OSIS tersebut.

“Lah sekolah ini ada OSIS juga toh?” tanya Sigit pada dua temannya.

“Katanya udah baca buku panduan masa gak tau sih, lagian sekolah mana yang kagak ada OSIS-nya coba?” ucap Ciko Sarkas.

“Ah iya ada yang kelupaan.” gadis kembali naik ke atas podium sambil berlari kecil. “Hari ini kepala sekolah juga baru mengumumkan adanya ekskul baru.”

Suasana kembali hening. Seluruh murid mulai dihantui rasa penasaran atas informasi yang disampaikan oleh anggota OSIS yang bisa dibilang cukup manis untuk ukuran anak SMA.

“Mari kita ucapkan selamat datang pada KLUB MADING,” ucap gadis itu sambil mengangkat sebelah tangannya.

Tidak ada riuh tepuk tangan, hanya suara bisikan yang terdengar dari kerumunan murid. Mereka bertanya-tanya tentang ekskul yang satu ini. Perasaan heran, bingung, semua bercampur jadi satu.

“Untuk perwakilan klub mading saya minta untuk segera naik ke atas podium,” lanjut gadis itu.

Seluruh siswa hanya saling melempar tatapan, tak sedikit yang mencari dimana keberadaan anggota klub yang baru dibuka tersebut.

Berbeda dengan murid-murid lain, Ciko, Arez dan Sigit yang notabene anggota klub mading hanya bisa tertunduk, seakan mencoba menghapus hawa keberadaan mereka.

“Gimana nih Rez?” tanya Sigit.

“Ya mana gue tau, elu aja maju sono, kan lumayan bisa dikenal,” ucap Arez sambl menyembunyikan kameranya.

“Ayo mana nih perwakilan klub mading?” gadis itu meletakkan tangannya di atas mata, mencoba mencari di tengah kerumunan yang bediri menatap heran ke arahnya.

Ciko melihat dua temannya yang masih berdebat. Dirinya juga tidak ingin menjadi perwakilan dan berdiri di atas podium, mungkin jika ada Guntra dia bisa disuruh untuk mewakili klub mereka.

Arez dan Sigit berhenti berdebat. Kini keduanya saling tatap dan tak lama kemudian menyunggingkan sebuah senyuman penuh arti.

“ADAAAAAAAAAAWWWW!” teriak Ciko saat merasakan sesuatu menimpa kakinya dengan keras.

“Nah itu dia, ayo sini naik ke atas podium,” ajak sang pengurus OSIS sambil menunjuk ke arah Ciko.

Seluruh mata langsung tertuju pada Ciko sementara pemuda itu menatap kedua temannya yang bersikap seperti tak mengetahui apa-apa.

“Semangat Cik.” Sigit mengacungkan jempolnya.

“Woles, cuman pengenalan aja kok lagian kapan lagi bisa satu podium sama cewek cakep.” Arez memukul pundak Ciko pelan.

“Sialan,” bisik Ciko pada dua temannya. Mau tidak mau pemuda itu berjalan menuju podium sambil diiringi dengan tatapan ratusan murid yang berada di lapangan itu.

“Ah ini dia, perwakilan dari klub mading, dengan siapa ya?” gadis itu mengarahkan michropone di tangannya pada Ciko.

“Ciko, Ciko Brahmadi kelas 1-2.”

*****

Ciko berjalan menyusuri koridor. Segala hal tentang perkenalan klub mading membuat tenggorokannya haus. Kantin adalah pilihan yang paling rasional, mungkin sebotol air mineral bisa meredakan rasa sakit di tenggorokannya.

Pemuda itu segera berjalan menuju kulkas, mengambil sebotol air mineral lalu membayarnya di kasir. Benar-benar sial, setelah turun dari podium dirinya tak bisa menemukan dua orang yang menjadi penyebab pemuda itu menjadi tontonan ratusan pasang mata.

Ya, Sigit dan Arez pergi entah kemana, mungkin mereka menyelamatkan diri, berjaga-jaga apabila Ciko berniat menyeret mereka untuk ikut berdiri di atas podium.

Ciko menenggak minumannya namun tiba-tiba seseorang menabrak pemuda itu, membuat seluruh isi minuman di tangannya tumpah ke lantai.

Pemuda itu berbalik, mencoba mencari tahu siapa yang menyebabkan uangnya terbuang sia-sia.

“Heh, jadi kalian berempat anggota Klub mading?” tanya seorang gadis berambut sebahu yang tengah berdiri dengan kedua tangan terlipat, menatap Ciko dengan tatapan permusuhan.

“Ah, elo lagi, gak bosen apa gangguin orang?” Ciko mengambil bekas botol minuman yang belum sempat ia minum lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah terdekat.

“Enggak, sampe kalian minggat dari sekolah ini, terutama temen lo yang tampangnya bego itu.”

“Sigit?” tanya Ciko heran.

“Bukaaaan!”

“Lah setau gue yang punya tampang bego cuma dia,” ucap Ciko sambil menggaruk kepalanya.

“Terserah, denger baik-baik ya, gue, Devi Kinal Putri, bakal jadi anggota OSIS dan ngebubarin klub gak jelas kalian!” gadis itu berbalik dan meninggalkan Ciko yang masih terdiam.

Pemuda itu hanya menggeleng, ia tak mengerti apa yang membuat gadis itu menaruh dendam pada dirinya dan tiga temannya. Apa mungkin ada sesuatu yang tanpa sadar ia lakukan sehingga membuat gadis itu marah? Entahlah, saat ini Ciko tak ingin memikirkan itu, tenggorokannya yang belum terpuaskan lebih mencuri perhatian pemuda tersebut.

Sebenarnya dia bisa membeli sebotol air mineral tadi, tapi tidak ia lakukan. Kejadian tadi membuat pemuda itu tak ingin terlalu lama berada di kantin, ya, aksi gadis liar tadi telah menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian, bisa dilihat dari seluruh mata yang menatap ke arahnya.

Akhirnya Ciko memutuskan untuk pergi menuju ruangan klub mading, mencoba mencari tempat dimana dirinya tak menjadi pusat perhatian.

Saat tengah menyusuri koridor, sesuatu menarik perhatian Ciko. Seorang gadis berambut panjang, dengan jari yang beberapa kali menunjuk ke arah yang berbeda, seperti sedang memastikan sesuatu.

Ciko mencoba mengabaikan gadis itu, namun sayang, sepasang bola mata hitam langsung menatap ke arahnya hingga menciptakan suatu benang tak terlihat yang mengikat matanya dengan mata sang gadis.

Gadis itu berjalan mendekat, wajahnya nampak panik sekaligus ragu.

“Eumm, maaf numpang nanya, kalo ruang kepala sekolah dimana ya?” tanya gadis itu sambil memainkan kedua tangannya.

Ciko menatap gadis itu dari ujung rambut hingga kaki. Tak ada yang aneh, malah bisa dibilang cukup menarik. Untuk sejenak dia teringat kata-kata Sigit tentang gadis-gadis cantik yang ada di sekolah ini.

“Duh, gue kurang inget.”

“Yaaah.” gadis itu tertunduk lesu.

“Emang elu gak punya denah sekolah?” tanya Ciko.

“Kemaren aku gak dateng, soalnya aku baru nyampe tadi pagi dari luar kota,” ucap gadis itu.

Ciko mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kertas mengkilat dengan desain yang cukup menarik.

“Nih, bawa aja punya gue, di situ lengkap denah sekolah ini.”

“Ah makasih, kamu murid baru juga kan? Terus kamunya gimana?”

“Santai, ntar gue pinjem punya temen, yaudah ya gue duluan.” Ciko berjalan menjauhi gadis itu. Padahal dirinya sendiri sempat beberapa kali tersesat hanya untuk menemukan toilet pria, tapi dia berpikir jika nanti dirinya bisa meminjam denah milik Sigit atau teman yang lain.

Ciko melanjutkan perjalanan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu yang bertuliskan ‘KLUB MADING’. Tidak terdengar suara apapun dari balik pintu tersebut, tandanya sang rekan bisnis sudah selesai melakukan tugasnya.

Perlahan pemuda itu membuka pintu dan tiba-tiba sebuah pulpen melesat tepat ke arahnya.

“WADAAAAAWW!” Ciko memegangi jidatnya yang baru saja beradu dengan pulpen yang terbang entah darimana.

“HAHAHAAHAHAHAAH” terdengar suara tawa nyaring dari dua orang yang tengah duduk tak jauh dari jendela.

“Dia kena juga Rez,” ucap Sigit sambil memegangi perutnya.

“Liat mukanya, bego bener sumpah,” timpal Arez.

Ciko mengambil pulpen yang tergeletak di lantai lalu melemparkannya ke arah dua orang yang sedang menertawai dirinya. Sayang, dua orang itu berhasil menghindar.

“Kerjaan siapa sih nih? Bikin kaget orang aja,” ucap Ciko kesal.

Sigit dan Arez langsung melayangkan tatapannya ke arah pemuda yang sedang asik menghisap sebatang rokok di bibirnya.

Sorry Cik, gue kira tadi orang lain yang masuk, mereka berdua juga nasibnya sama kayak elu kok hehehe,” ucap Guntra tanpa rasa berasalah sedikitpun.

“Lah, dewa bener lu ngerokok di sini?” Ciko mulai mengambil posisi di bangku kosong yang berada tak jauh dari Arez dan Sigit. “Ntar kalo ketauan gimana?”

“Itu makanya gue suruh bawa exhaust fan, biar baunya gak kecium-cium amat.” Guntra menghembuskan kepulan asap putih dari mulutnya.

“Jadi cuman buat itu doang elu nyuruh gue bawa exhaust fan?

“Lah emangnya untuk apa lagi? Tenang, Arez udah bawa speaker, Sigit bawa laptop, bukan cuman elu doang kok yang dapet tugas,” ucap Guntra. “Pokoknya kita bakal bikin ruangan ini senyaman mungkin.”

“Terus elu bawa apaan?” tanya Ciko sambil mengerutkan dahinya.

“Nah itu dia, gue masih belom kepikiran mau nambahin apa lagi.”

Mendadak suasana menjadi hening. Atmosfer terasa mencekam, aura mengerikan keluar dari Ciko, begitu juga Arez dan Sigit.

“Lah kenapa?”

Tanpa basa basi, ketiga pemuda itu langsung melempar pulpen beserta barang lain ke arah Guntra yang mencoba melindungi diri dari serangan brutal tersebut.

“Ampun-ampun iya sorry, ntar gue bawa sesuatu deh.” Akhirnya serangan brutal tersebut berhenti.

“Oke, sekarang kita bakal ngapain nih? Kan katanya elu bakal naklukin sekolah ini,” tanya Sigit.

Guntra terdiam, raut wajahnya berubah serius. Dahinya mulai berkerut lalu menatap Sigit dalam.

“Emang gue pernah ngomong gitu?”

“BRENGSEEEEK!!!” Sigit kembali melempari pemuda di hadapannya dengan berbagai barang. Arez dan Ciko juga melakukan hal yang sama, tidak ada alasan khusus, bagi mereka cukup menyenangkan saat melakukan serangan membabi buta tersebut.

“Ampun woi, sumpah gue kagak ingeeeeeet!”

Sigit menghentikan lemparannya. Nafasnya tersengal, pemuda itu tak menyangka jika hal yang dilakukannya tadi cukup menguras energi.

“Parah nih orang padahal dia yang ngajakin kita, tapi malah kagak inget,” ucap Sigit kesal.

“Maklum, kebiasaan lama.” Guntra mematikan rokoknya pada asbak putih yang terletak di atas meja. “Ah iya gue inget!”

Mereka bertiga nampak antusias setelah sempat putus asa karena tak mempunyai gambaran tentang apa yang akan mereka lakukan ke depan.

“Gue juga bawa sesuatu. Nih asbak dari rumah.” Guntra mengangkat asbak putihnya dengan bangga.

*****

“Jadi sekarang kita ngapain nih?” tanya Sigit yang mulai bosan memandangi langit-langit ruangan klub.

Arez hanya mengangkat kedua bahunya sambil tetap fokus mengerjakan sesuatu di laptop yang dibawa Sigit. Sementara Ciko sedang berkutat dengan HP di salah satu sudut ruangan.

“Parah, emangnya kerjaan klub mading apaan sih? Gue kagak tau,” ucap SIgit.

“Yah bikin artikel, tulisan, cerpen atau apaan kek terus di tempel deh di tempat yang udah disediain,” jelas Ciko tanpa melepas pandangan dari layar handphone miliknya.

“Lah gitu doang? Pantes aja kagak ada yang mau gabung, jaman sekarang pan serba canggih, semua informasi bisa di dapet dari internet.” Sigit membenamkan wajahnya di meja. “Ah, gimana gue mau dapet pacar kalo mainnya sama kalian terus.”

“Yaelah pacar-pacar mulu, kayak masa SMA lu cuman buat cari pacar doang,” celetuk Arez.

“Duh ngomong kayak udah bener aja, elu sendiri pan suka motoin cewek diem-diem.”

“Itu mah untuk kepentingan bisnis, lagian elu juga yang nikmatin,” Arez tak mau kalah.

Akhirnya dimulailah perdebatan antara Arez dan Sigit. Padahal mereka baru kenal satu hari namun selalu ada saja yang memicu konflik di antara dua pemuda itu.

“Dokteeerrr…. UKS…. Ambulans…,” ucap Guntur dengan nada lirih sambil berusaha bangkit. Tubuhnya babak belur setelah jadi pelampiasan amarah dari ketiga temannya.

Tak ada yang peduli, Arez dan Sigit masih sibuk dengan perdebatan mereka sementara Ciko seolah terhipnotis dengan gadget di tangannya.

“Eh ngomong-ngomong soal cewek, gue jadi keinget sesuatu deh,” celetuk Ciko di tengah-tengah perdebatan dua temannya dan rintihan Guntra.

“Apaan Cik?” tanya Arez.

“Inget cewek yang ngelabrak kita di kantin kemaren? Tadi dia nyamperin gue lagi, masih marah-marah juga, sampe-sampe minuman gue tumpah gegara tu orang, keknya dia punya dendam kesumat deh sama kita.” Ciko memasukkan handphone miliknya ke saku celana.

“Ah emang dasarnya itu cewek gila aja,” celetuk Sigit.

“Hmm, dia juga nyebutin namanya sih, Devi Kinal Putri kalo gak salah, lagian itu orang sekelas juga sama gue,” ucap Ciko sembari bersandar.

“Devi Kinal Putri, kelas 1-2, salah satu siswi yang rata-rata nilainya cukup bagus, suka olahraga, rada tomboi, yah cuman itu info yang bisa gue dapet,” jelas Arez sambil membaca sesuatu yang ada di layar laptop Sigit.

“Buset, tau dari mana lu?” Sigit mulai kagum pada temannya yang satu itu.

“Waktu kemaren pulang sekolah gue tanya-tanya dikit, yah penasaran aja kenapa itu orang tiba-tiba marah sama kita.” Arez berbalik hingga kini dirinya berhadapan dengan Sigit.

“Nah itu dia!” tiba-tiba Guntra bangkit, membuat tiga temannya terkejut. “Kita akan nerbitin edisi pertama dari klub mading.”

“Hah?” ucap Arez, Ciko dan Sigit kompak.

“Rez, seberapa jago lo ngedit foto?” tanya Guntra.

“Yah dikit-dikit bisa lah.”

“Bagus, untuk urusan isi artikel gue serahin sama Ciko.” Ciko hanya mengangguk meskipun dia tidak terlalu mengerti apa yang nantinya akan dia buat.

“Bagian publikasi urusan Sigit, elu ntar yang nempelin mading kita, tempelin di semua tempat yang berpotensi diliat orang-orang.”

“Errr, yaudah deh, terus elu ngapain?” tanya Sigit.

“Yah karena tugasnya udah abis jadi gue nonton aja hehehe.” Sigit bersiap melempar sebuah spidol. “Eh kagak-kagak, woles, ntar gue bagian finishing.”

“Oke jadi semua udah dapet tugas, sekarang kita ngerjain edisi pertama mading yang judulnya ‘TEROR SI GADIS GILA!’ sekarang semuanya kerjain tugas masing-masing!” perintah Guntra.

Arez langsung mengambil kameranya yang tergantung di kursi, Sigit bergegas mencari tempat-tempat untuk menempel edisi pertama mading mereka. Hanya tersisa Guntra dan Ciko di ruangan tersebut.

“Bentar, gue masih bingung sama apa yang ntar bakal gue tulis,” tanya Ciko.

“Woles, tulis aja apapun yang bisa ngerusak reputasi cewek sialan itu, karena emang itulah tujuan dari edisi pertama ini, balas dendam, HUEHUEHUEHUE!” tawa mengerikan keluar dari mulut Guntra.

Rasa heran menyelimuti Ciko, entah apa yang membuat kepribadian temannya yang satu ini berubah sangat drastis.

*******

Bel yang menandakan pulang sekolah sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Langit mulai berubah keemasan. Para siswa mulai meninggalkan area sekolah, beberapa masih tinggal, entah untuk sekedar bercengkrama atau menunggu jemputan.

Begitu juga dengan Ciko dan ketiga temannya, mereka masih tinggal di ruangan klub mading, mengerjakan edisi pertama dari mading mereka.

Berbeda dengan sebelumnya, suasana ruangan klub kali ini lebih tenang, semua orang sibuk dengan agendanya masing-masing.

Arez duduk sambil memandangi layar laptop, Sigit yang sibuk menyiapkan kertas dimana mading mereka akan ditulis, dan Guntra memandangi whiteboard yang berisi garis-garis besar dari isi mading mereka.

Ciko juga sama, dia mencoba fokus dengan kertas kosong di hadapannya. Ini bukan kertas pertama, sebelumya sudah ada beberapa kertas yang sempat dia isi dengan rangkaian kata-kata hasil dari pemikirannya namun entah kenapa setiap kali dibaca ulang pemuda itu merasa hasil tulisannya tak cukup bagus sehingga kertas-kertas tersebut harus berakhir di tempat sampah.

Di kesempatan kali ini dia harus menciptakan sesuatu yang bagus, mengingat hari sudah semakin sore, pemuda itu tak ingin tinggal di ruangan ini hingga malam nanti.

“Gimana Cik?” tanya Guntra dengan sebatang rokok terselip diantara bibirnya.

“Errr, udah habis berapa batang? Perasaan daritadi berasep mulu itu mulut,” Ya, bagi Ciko mungkin kebiasaan merusak paru-paru temannya itu harus sedikit dikurangin.

“Gue nanya apa malah dijawab apa, stuck?

Ciko mengangguk, ucapan temannya itu benar-benar sesuai dengan apa yang dia hadapi sekarang.

“Masalahnya dimana?” lanjut Guntra dengan asap yang mengepul keluar dari  mulutnya.

Ciko mencoba mencari apa yang menghambatnya. Dahinya mulai berkerut, otaknya bekerja keras untuk mencari penyebab dirinya tidak pernah puas dengan apa yang dia tulis sebelumnya.

Sesuatu benar-benar menghambatnya, sesuatu yang tak mampu dia gambarkan mengunakan kata-kata.

“Oke oke santai, gini aja.” Guntra melempar puntung rokoknya ke luar jendela. “Tulis aja apa yang elu mau tulis, terserah, yang penting masih berhubungan sama judul edisi pertama kita.”

Ciko menatap temannya itu. Bukannya hal itu yang sedari tadi dia lakukan? Lalu apa bedanya sekarang? Pemuda itu mulai bingung, terjebak dengan pemikirannya sendiri.

“Kali ini gak usah pikirin isinya, jelek atau bagus, rapih atau enggak, pemilihan katanya ambigu atau apa, pokoknya jangan pikirin itu, tulis semua sampe elu anggep selesai,” lanjut Guntra.

“Tapi….”

“Udah tulis aja,” potong Guntra sebelum Ciko menyelesaikan kalimatnya. “Kan udah gue bilang kalo finishing itu urusan gue.”

Ciko mengangguk. Dirinya mulai kembali bekerja mengendalikan pulpen yang menari-nari, menorehkan noda hitam di atas kertas putih.

Suasana ruangan kembali hening. Kini Arez sudah menyelesaikan pekerjaannya, terlihat dirinya tengah berjalan ke arah jendela sambil merenggangkan badan. Tak lupa pemuda itu menyelipkan lintingan tembakau yang dia dapat dari Guntra.

Sigit juga terlihat senang, bukan karena pekerjaannya sudah selesai melainkan karena laptop miliknya kini telah bebas dari jamahan orang asing. Kini pemuda itu bisa melanjutkan kesukaannya, menonton kartun negeri khas sakura yang sempat tertunda.

Hanya Ciko yang masih sibuk berkutat dengan tulisannya. Tapi kali ini pemuda itu tak lagi mengkhawatirkan waktu, semuanya terasa sangat lancar, beban yang sempat menghambatnya kini menghilang. Bahkan tanpa terasa tulisannya baru memenuhi lembar kedua dari kertas yang tersedia.

Satu jam berlalu, langit sudah mulai menghitam. Seluruh pekerjaan sudah selesai. Foto, artikel serta media untuk meletakkan semua itu.

“Aaaaaah akhirnya kelar juga, udah boleh balik kan?” Sigit melemparkan tatapannya ke arah Guntra.

“Emangnya siapa yang ngelarang? Perasaan dari tadi sore juga kalo mau balik ya balik aja.” Guntra merapikan tumpukan kertas yang berisi artikel yang di tulis oleh Ciko.

“Eh kampret, kenapa kagak bilang!” Kali ini Sigit melempar penggaris plastik yang masih dalam jangkauan tangannya.

“Yaudah gue duluannya,” ucap Arez yang telah selesai membereskan barang-barangnya.

“Eh tunggu, bareng dong, gue takut ada begal.” Sigit langsung bangkit dan menyusul Arez yang sudah berdiri tak jauh dari pintu keluar. “Ayo Cik.”

Ciko mengangguk dan langsung bangkit, menyusul dua temannya yang lain.

“Elu gak ikut?” tanya Ciko pada temannya yang baru membakar sebatang rokok lagi sebelum pergi meninggalkan ruangan.

“Duluan aja, pan gue mau finishing,” ucap Guntra tanpa melepas fokus pada tumpukan kertas di tangannya.

Akhirnya Ciko, Arez dan Sigit pergi meninggalkan ruangan klub mading. Sesaat setelah membuka pintu, sesuatu mengejutkan ketiga pemuda itu. Sesosok gadis  tengah berdiri di sana, bersender di dinding sambil memperhatikan smartphone miliknya.

Tak ada yang mengeluarkan sepatah kata apapun. Mereka bertiga hanya berjalan, sambil bertanya-tanya tentang siapa gadis tersebut.

“Rez itu bukannya anggota OSIS yang bareng Ciko di podium?” bisik Sigit sambil menyikut pelan pemuda di sebelahnya.

“Kayaknya sih, mukanya familiar, tapi ngapain dia jam segini belom pulang?” Arez memijit pelan dagunya.

“Lah mana gue tau, napa kagak nanya tadi yak?” muncul sepercik rasa penyesalan di benak Sigit.

“Kepo bener sih jadi orang,” Celetuk Ciko yang langsung disambut dengan tatapan sinis dari kedua temannya.

Kini mereka berada tak jauh dari pintu keluar gedung utama. Susana sekolah terasa lebih mencekam, berbeda dengan saat siang hari, mungkin tak ada lagi riuh suara dari murid-murid yang menyebabkan hal itu.

Tiba-tiba sesuatu menarik perhatian Ciko, tepatnya dari arah parkiran sepeda. Pemuda itu berhenti sejenak lalu menepuk punggung kedua temannya.

“Kalian duluan aja,” ucap Ciko.

Sigit dan Arez saling tatap, tak lama kemudian mereka menganguk dan meninggalkan Ciko sendirian di depan gedung utama.

Setelah kedua temannya tak lagi terlihat, pemuda itu berjalan mendekati parkiran sepeda. Di sana dia mendapati sesosok gadis tengah berdiri, menatapnya dengan tatapan lega.

Wajahnya familiar, pemuda itu merasa pernah melihatnya namun ia tak ingat dimana.

“Errr, ngapain di sini sendirian?” tanya Ciko yang memecah keheningan di antara mereka.

“Ah, iya aku nungguin kamu,” ucap gadis itu dengan suara gemetar, mungkin dia takut berada di sekolah ini hingga malam hari.

“Nungguin gue?” gadis itu mengangguk, “buat apa?”

Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kertas berkilat dengan denah sekolah yang tergambar di sana.

“Aku mau balikin ini,” ucap sang gadis sambil menyodorkan denah tersebut pada Ciko.

“Lah kenapa mesti dibalikin, gue udah malah udah lupa.”

“Ah iya gapapa, kalo gak dibalikin malah aku yang kepikiran,” ucap gadis itu sambil melirik ke kiri dan ke kanan. “Yaudah aku pulang duluan ya.”

Gadis itu berjalan menjauh sambil tetap waspada dengan sekitarnya. Melihat hal itu Ciko hanya menggeleng lalu menepuk pelan jidatnya.

“Yakin berani sendirian?”

Mendadak gadis itu berhenti lalu berbalik menatap Ciko. Di wajahnya tergambar jelas ekspresi ketakutan.

“Yaudah bareng sama gue aja.” Ciko berjalan menyusul gadis itu.

Akhirnya mereka berdua berjalan meninggalkan areal sekolah. Entah sejak kapan dia rela merepotkan diri hanya untuk membantu seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, tapi saat melihat wajah ketakukan gadis itu dirinya seolah tak kuasa menahan hasrat untuk menawarkan bantuan.

“Ah iya kita belom kenalan,” ucap gadis itu, kali ini dia terdengar lebih tenang. “Shani, Shani Indira.”

“Ya, panggil aja gue Ciko,” balas pemuda itu dingin yang disambut dengan senyum dari gadis bernama Shani itu.

 

Mbc….

-Korek Api-

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Delinquents, Part2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s