Annihilation part 10

jkt48_2-34

Di tepi pojok hutan yang lebat, terdapat tenda yang berwarna kecoklatan. Tenda itu terbentang besar, karena besarnya ukuran tenda tersebut, bahkan bisa  dimasuki oleh puluhan Iblis sekalipun, dari depan memang terlihat tenda, tetapi jika dilihat dalamnya, tampak seperti rumah pada umumnya. Peralatan di dalamnya cukup lengkap, ada dua ranjang tidur yang cukup besar, dibawahnya terdapat tikar berwarna hitam dengan motif sayap terbang, lilin temaram menerangi sisi kanan kiri ranjang. Ada lemari yang cukup besar juga di dekat pintu masuk tenda, berisikan dokumen-dokumen penting perang, data-data, dan peta-peta kekuasaan  musuh

Di dalam tenda besar tersebut, terdapat seorang Iblis wanita yang tengah duduk termenung sambil memegang lengan seorang Iblis yang tengah terbaring pingsan. Rupanya itu adalah Ve dan Kelvin.

“Kelvin.. kumohon.. sadarlah” Ve mengelus-elus pelan telapak tangan Kelvin yang tengah pingsan

Tak disangka, air mata langsung turun membasahi pipi gembul Ve, ia terlalu membayangkan jika Kelvin nantinya tidak kunjung sadar dan bernasib sama seperti Kruzu.

“Aku.. aku hanya mempunyaimu.. jangan tinggalkan aku” ia terisak keras sambil diiringi tangis yang keluar dari kedua matanya

“Kau..kau hanya satu-satunya sahabat yang kupunya…” lanjut Ve sambil terus terisak dengan kencang, matanya menatap nanar Iblis pria yang tengah terpejam matanya

Sehabis kerajaan Iblis terpecah, Ve memang dikenal sebagai Iblis yang misterius. Ia bisa dibilang tertutup pada Iblis lain, ia merasa bahwa dirinya itu aneh. Ada sesuatu dari dirinya yang berbeda dari Iblis lainnya. Sejak saat itu ia menjadi cenderung pendiam kepada siapapun. Perlahan-lahan, Iblis disekitarnya mulai menjauh darinya dan tidak mau berteman dengannya, entah ada apa dengan mereka semua. Ve menerka-nerka mungkin sebagian dari mereka ada yang merasa iri hati ketika melihat Ve diangkat menjadi tangan kanan Pangeran Aidan, dan itu benar adanya. Beberapa Iblis terlihat berkumpul membicarakan Ve yang dianggap mereka tidak pantas menjadi bawahan setia Pangeran Aidan.

Sampai akhirnya, Kelvin dilantik pula oleh Pangeran Aidan sebagai tangan kanan darinya. Dengan kejadian itu, seperti yang kita tahu, Pangeran Aidan memiliki dua bawahan, yaitu Kelvin dan Ve. Saat pertama Ve melihat Kelvin, ia tidak berkata apapun padanya, ia hanya diam, meskipun beberapa kali Kelvin mengajaknya bicara sepatah dua patah kata. Ve merasa bahwa perilaku dan sikap Kelvin mungkin akan sama dengan Iblis lainnya, yaitu cuek, cenderung menjauh darinya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.

Sifat Kelvin itu bertolak belakang dengan apa yang Ve sempat pikirkan, Kelvin rajin berbicara dengan Ve tentang berbagai hal. Baik itu urusan kerajaan, perang atau urusan pribadi lainnya. Keadaan Ve yang setara dengan Kelvin sebagai ‘tangan kanan’ Pangeran Aidan, memaksa Ve mau tidak mau harus berbicara dengan Kelvin. Ia mencoba akan hal itu, Ia mulai berbicara sedikit demi sedikit kepada Kelvin, meskipun lebih banyak menjadi pendengar, tetapi Ve sudah berusaha sebaik mungkin.

Lama-kelamaan, Ve akhirnya menyadari bahwa Kelvin merupakan Iblis yang berbeda,
ia menyimpulkan bahwa sifat Kelvin itu ramah, suka bercanda, dan baik kepada siapa saja. Meskipun terkadang jika Iblis pria itu marah, ia bisa menjadi sangat menyeramkan.

Dalam waktu singkat, Ve sudah bersahabat dengan Kelvin, jika dirinya mempunyai keluh kesah ataupun masalah, hanya kepada Kelvinlah ia berbicara. Ve merasa bahwa Kelvin merupakan Iblis yang bisa dipercaya olehnya.

“….A..aku tidak bisa membayangkan jika harus kehilanganmu..” Kelvin tidak kunjung sadar padahal Ve beberapa kali mengguncang-guncangkan bahunya

Veranda terus menangis sesenggukan, air mata seakan tidak henti-hentinya mengalir
dari kedua bola matanya

TEES

Air mata Ve tertumpah di lengan Kelvin. Sesaat kemudian, dilihatnya tangan Kelvin yang mulai bergerak, menunjukkan bahwa sahabatnya itu belum mati.

“E..eh” Ve yang menyadari akan hal itu langsung berubah senang, ia buru-buru menyeka air matanya yang turun

“….” Kelvin perlahan membuka matanya, ia seperti orang yang sedang baru bangun tidur

“E…eh Ve, a..a..aku dimana ?” Kelvin kebingungan sambil melihat sekeliling, ia berusaha untuk duduk sebelum Ve melarangnya dan menyuruhnya berbaring kembali

“Syukurlah kau sadar” Ve menghirup nafas lega, senyum manis terpancar dari bibirnya

“Kau berada di tenda istirahat di tepi hutan” ucap Ve memberitahu

Kelvin memegang kepalanya, ia seperti merasakan pusing sedikit.

“E..eh kenapa kepalamu ? apakah sakit ?” Ve langsung khawatir dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kelvin

“T..t.tadinya.. tapi sekarang sudah agak berkurang” jawab Kelvin

“Baguslah”

Keheningan melanda mereka sesaat sebelum akhirnya Kelvin seperti menyadari sesuatu hal yang ia lupakan

“Perang !! bagaimana dengan perangnya ??! Apakah tadi aku menang ? Apakah kau menang ?” Ve sontak hanya terkekeh pelan melihat kepolosan Kelvin yang begitu mempedulikan perang daripada kondisinya sendiri

“Hihi.. kau tidak usah pikirkan itu… istirahat sajalah”

“T.t..tapi”

“Ya. Tadi kau menang, bahkan kau menang telak dari Wildann, sekarang kedudukan imbang 1-1, sementara aku, Aku baru berduel esok hari karena Yang Mulia Aidan
meminta istirahat sehari kepada Pangeran Vanguard” Kelvin hanya mengangguk angguk pertanda mengerti apa yang sudah disampaikan Ve

“Huftt.. baguslah, beruntung aku menang” gumam Kelvin pelan

“Bagus katamu ?!! Kau jelas-jelas membahayakan dirimu sendiri tadi. Kau tidak memikirkan betapa khawatirnya aku melihatmu mengeluarkan jurus mematikan
itu ?!! teriak Ve dengan nada marah sambil bangkit berdiri dari duduknya

“E..eh” Kelvin tidak menyangka Ve akan menjadi marah seperti itu, ia merasa bahwa omongannya tidak ada yang salah.

“K..k.khawatir ? Kau khawatir padaku ?” Kelvin mengernyitkan dahinya

“E..e..i..itu” Wajah Ve sudah berubah menjadi merah sekarang, ia memalingkan wajahnya agar Kelvin tidak melihat wajah merahnya yang memalukan

“J..Jelas aku khawatir, jika kau mati, tidak ada yang menemaniku menjadi tangan kanan Yang Mulia, toh bukan hanya aku, melainkan seluruh Iblis Lucyfer khawatir tentang dirimu” ujar Ve beralasan cukup baik

Kelvin memikirkan sejenak perkataan Ve, setelah ia berpikir, ia merasa ada benarnya juga. Kelvin menyadari keegoisannya tadi, tidak seharusnya ia mengeluarkan jurus Exflame itu.

“K..k..kalau begitu.. maafkan aku telah membuatmu khawatir” ucap Kelvin sambil bangun dari berbaringnya dengan posisi duduk di sisi ranjang.

“Hufft.. tidak perlu meminta maaf, aku mengerti keadaanmu”

~

“Maaf, Yang Mulia. Beberapa pasukan yang dipimpin Artha dan Vinze ingin masuk dan menemui Yang Mulia” ucap tentara Iblis penjaga, ia berlutut sambil memberikan informasi tentang keinginan Artha Vinze menemui Pangeran Aidan

“Ada urusan apa mereka ?”

“Menurut perkataan mereka, ia berniat untuk menyerahkan seorang Malaikat yang tertangkap kepada Yang Mulia”

“Malaikat ?” Pangeran Aidan mengernyitkan dahinya bingung, dalam hatinya bertanya-tanya, siapakah Malaikat yang Vinze dan Artha tangkap

“Benar, Yang Mulia”

“B..baiklah, suruh mereka masuk” tentara yang diperintah langsung keluar tenda untuk mempersilahkan Artha dan Vinze masuk

Masuklah dua orang Iblis beserta satu
Malaikat wanita yang terikat tangannya
kebelakang. Ia berada di tengah-tengah kedua Iblis.

“Maaf menganggu waktumu, Yang Mulia” dengan kompak Vinze dan Artha membungkuk hormat

Pangeran Aidan melihat sesosok Malaikat Wanita di depannya dari atas hingga bawah, ia berusaha mengingat-ingat siapakah nama Malaikat di depannya itu

“Siapakah yang kalian bawa kepadaku ?”

“Dia ini seorang Malaikat, Yang Mulia” jawab Artha

“Betul, Yang Mulia, ia sedang ditugaskan ke Bumi untuk mengawasi perang kita” ujar Vinze mendukung perkataan Artha

Pangeran Aidan terlihat hanya mengangguk-angguk kecil

“Sebenarnya mereka ada dua, Yang Mulia. Tapi sayangnya, satu Malaikat yang lain
berhasil kabur” lanjut Vinze

“Benar, Yang Mulia” Artha mendukung pernyataan Vinze

“Darimana kalian tahu, bahwa wanita ini adalah Malaikat ?” tanya Pangeran Aidan penuh selidik

“Tentu saja karena sayap putih mereka Yang Mulia” jawab Artha sopan

“Heei.. Malaikat !! keluarkan sayapmu” ancam Vinze sambil mengarahkan pedang ke pipi Shani, air mata berlinang sedikit membasahi mata lembutnya. Ia sudah merasakan ketakutan sekarang.

Tak punya pilihan lain, Shani mengeluarkan kedua sayapnya…Terlihatlah dua sayap besar yang berwarna putih, akhirnya, Pangeran Aidan melihat  sendiri sosok Malaikat di depannya

“Kerja bagus, Vinze, Artha” Pangeran Aidan berjalan mendekati Shani, ia mengelilingi tubuh Shani, melihat dari segala sisi Malaikat di depannya

“Hmm.. siapa namamu, Malaikat ? aku tidak pernah melihatmu sebelumnya” Pangeran Aidan mengangkat dagu Shani, dan melihat wajahnya dari jarak dekat, seakan mau mencium dirinya

Shani sempat terpejam sebentar, ia takut sekali jika Raja Iblis itu melakukan perbuatan yang macam-macam terhadap dirinya

“Tatap mataku !!” bentak Pangeran Aidan

Sontak Shani langsung kembali membuka matanya, tanpa terasa matanya sudah dipenuhi linangan air mata

“T..tidak usah menangis, kau memang cengeng, jawab saja pertanyaanku”

“S..shani”

“Apa ?” Pangeran Aidan bertanya sekali lagi

“N..namaku Sha.. Shani” ujar Shani terbata ketakutan

“Hmm.. Shani.. sepertinya aku pernah mendengar tentangmu, tapi menurutku kau
tidak begitu membahayakan” Pangeran Aidan mulai menjauhkan wajahnya dari wajah Shani

Shani menghembuskan nafas lega sejenak ketika Aidan sudah menjauhkan wajahnya

“Jadi, apa perintahmu berikutnya mengenai Malaikat ini Yang Mulia ?” tanya Vinze penuh hormat

“Untuk saat ini, terserah kalian ingin melakukan apa kepada Malaikat ini, yang jelas, jangan sampai ia kabur. Kurung dia” langsung muncul ide jaat

“Aku bisa mengorek keterangan darinya tentang kegiatan dan kekuatan Para Malaikat. Tapi itu nanti, setelah perang ini selesai, aku tidak berminat untuk saat ini” lanjut Pangeran Aidan panjang lebar menjelaskan

“Baik, Yang Mulia” Artha dan Vinze kemudian pergi keluar tenda Pangeran Aidan, sambil memegangi Shani di tengah, sayapnya sudah terlipat kembali.

“Bagaimana Vinze, Artha ?” tanya beberapa pasukan Iblis yang sudah menunggu mereka

“Yang Mulia Aidan cukup senang dengan hal ini, tetapi sekarang beliau meminta kita untuk mengurung Malaikat ini agar tidak kabur, keterangan darinya nanti mungkin akan berguna bagi kita, dalam perang melawan Para Malaikat nantinya” jelas Vinze menjelaskan, Artha hanya mengangguk di sampingnya

“Baiklah” jawab beberapa pasukan serentak

Keheningan terjadi selama beberapa detik setelah itu, Vinze seperti menyadari sesuatu yang akan ia lakukan terhadap Shani.

“Heei.. selama ini kan kalian jenuh dengan urusan peperangan, bagaimana kalau kita sedikit ‘bersenang-senang’ dengan Malaikat ini ?” Vinze sudah tersenyum licik

Sementara Shani, menyadari apa yang akan segera menimpanya. Ia sudah meronta-ronta untuk melepaskan diri dari cengkraman Vinze dan Artha namun tidak berhasil. Lagi-lagi air mata tanpa diperintah turun menghiasi kedua mata Shani.

“E..E..eh.. kumohon, lepas !!! lepaskan aku, aku mohon jangan lakukan itu” Shani tidak rela jika martabatnya sebagai Malaikat Wanita yang anggun benar-benar tercoreng

“Ide bagus Vinze.. aku belum pernah ‘bermain’ dengan Malaikat cantik seperti dia” seperti tidak mendengarkan eluhan Shani, dengan mudahnya Para Iblis setuju dengan pernyataan Vinze

“Aku setuju”

“Ayo, aku sudah tidak sabar”

Vinze dan Artha tidak memperdulikan teriakan dan tangisan Shani, ia menggiring Shani yang masih terikat tangannya ke tengah hutan.

“T..t..tolong, lepaskan aku, lebih baik kalian bunuh saja aku” Shani lebih rela mati daripada harus terpaksa melakukan perbuatan yang ia anggap hina tersebut

“Lepas ? hehe, bodoh kau”

PLAK

Artha menampar pipi Shani dengan keras, meninggalkan bekas merah di pipi mulusnya.

“Tidak mudah kami menangkapmu, dan sekarang kau inginkan kami melepaskanmu ? Mimpi kau Malaikat jal*ng” perkataan-perkataan tidak mengenakkan terus saja terlontar dari bibir masing-masing Iblis

“Awwww…sakitt” rintih Shani karena seorang Iblis baru saja mendorongnya dari arah belakang, menyebabkan dirinya jatuh tersungkur di tanah yang dikelilingi beberapa pohon besar

Ada sekitar 11-13 Iblis disana, yang sudah mengelilingi satu Malaikat Wanita malang yang sedang tersungkur di tanah

“Ya Tuhan, aku mohon selamatkan aku
dari mimpi buruk ini” ucap Shani di doanya
dalam hati

~

“Gabriel !!! Gabriel !!!” ucapnya tergesa-gesa, seorang Malaikat itu dengan cepat melesat terbang masuk menuju Istana, tak dipedulikan sayapnya yang sakit karena tancapan panah tadi

“Ada apa kau teriak-teriak seperti itu Padris ?!”

“E..eh kenapa tubuh dan sayapmu penuh luka ?!” lanjut Gabriel bertanya kepada Padris

“Dan.. d..dimana Shani ?” Gabriel melihat sekeliling, mencari keberadaan sosok Malaikat Wanita yang tadi berangkat bersama Padris

“C..ceritanya panjang” nafasnya terengah-engah, seperti sedang kehabisan nafas.

“Ceritakanlah dengan pelan-pelan, ambil nafas dalam-dalam” Padris melakukan apa yang Gabriel perintahkan

“S..shani Gabriel.. Shani !!” kembali Padris panik, meskipun sudah menarik nafas dalam

“Shani ? ada apa dengannya ?” tanya Gabriel bingung sambil menaikkan satu alisnya

“I..ia ditangkap oleh sekelompok Iblis di Bumi”

“Apaa ??!!”

*To Be Continued*

Created by : @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s