Pengagum Rahasia 2, Part 20

Sabtu pagi yang cerah.

Deva memulai aktivitas di pagi hari ini dengan mencuci pakaian.

“Eh, udah jam segini Ve belum bangun,”

“Kak Melody juga belum bangun,”

Deva berdiri lalu menyimpan baju yang baru ia kucek itu di ember.

*

*

Tok! Tok!

“Kak?”

“Jangan masuk! Kakak lagi ganti baju!” teriaknya

“EH! I-Iya kak!”

Deva langsung pergi dari depan kamar kakaknya.

“Ternyata dia udah bangun,”

“Sekarang tinggal Ve,”

Ceklek!

            Deva langsung masuk ke kamarnya.

Benar saja, disana Ve masih tertidur pulas sambil memeluk guling.

“Hem,” Deva tersenyum

“Ve, bangun…,” ucap Deva sembari menusuk-nusuk jarinya ke pipi Ve

“eng…,”

“Sayang,” Ve tersenyum saat melihat Deva

“Ini udah jam 7, cepet bangun,”

“Iya-iya,”

Ve bangun namun ia masih dalam posisi setengah duduk.

“Bukannya kamu suka bangun pagi ya?” Deva duduk di samping Ve

Ve mengucek matanya. “Iya hehe, sekarang aku masih lemes banget dev,”

“Loh, Kok bisa? Kamu udah nguli ya?”

“Bukan Dev, tapi…,”

Wajah Ve tiba-tiba memerah dan ia hanya menundukan kepala.

“Ingat Ve, itu cuma mimpi! Kamu gak harus ceritain ini ke Deva!” batinnya

“Ve?” panggilnya lagi

“Ah, Lupakan. Yaudah aku bangun deh,”

“Hem, nanti aku siapin sarapannya di dapur ya,”

“Iya,”

Deva pun pergi dari kamar.

“umm,” wajah Ve kembali memerah

“Deva,”

“Eng, kasurnya harus di rapihin dulu,”

Brah!

            Ve bangun dan melebarkan selimut itu.

“AH! I-Itu kan!”

Sungguh betapa terkejutnya ia ketika melihat sesuatu di kasur Deva, itu terlihat seperti air yang menyerap.

“Gah!” entah kenapa Ve langsung menutup rapat bagian bawahnya dengan paha

“Padahal kan harusnya udah kering, tapi kenapa bekasnya sampai tembus ke kasur Deva!”

“I-Ini gawat!” wajah Ve memerah

“Kenapa bisa sampai se basah ini! Padahal sebelumnya aku belum pernah ngelakuin hal yang gitu-gitu!”

“Cuma Deva yang bisa bikin aku kayak gini…,” Pipinya berubah menjadi merah seperti tomat

Tok! Tok!

“Ve, mau makan ap…,”

“GAH!”

“EH!”

Ve malah mengejutkan Deva.

“Kenapa sih!?”

“Eh, Eng…enggak dev, ehehe…,”

“Huft, jadi kamu mau sarapan apa pagi ini?”

“emm…telor ceplok aja deh,”

“Oh, oke,” Deva kembali pergi dari kamar

Brah!

            Setelah Deva pergi, Ve langsung membuka sprei kasur itu dengan terburu-buru.

“Tenang Ve, kamu cuma harus cuci spreinya terus keringin, beres!”

~oOo~

Pess! Sreng-Sreng!

Terdengar suara seseorang yang sedang memasak.

“Ah Ve, kamu baru bangun,”

“Eh mel,” Ve tersenyum

“Tumben, biasanya gak kesiangan,” ucap Melody

“Y-yah, eng…,”

“Gimana? Enak yah tidur di kamar Deva?”

“AH!” Wajah Ve langsung memerah

“itu sprei mau di kemanain?” tanya Deva di depannya

“EH! I-Ini…umm, mau aku cuci dev,”

“Oh, yaudah kalau gitu kamu simpen aja di ember. Biar aku yang cuciin nanti,”

“EH! Biar aku aja dev!”

“Loh?” ucap Deva

Melody juga tampak kebingungan melihat sikap Ve yang tidak seperti biasanya itu.

“I-Iya biar aku aja dev!” Ve memaksa

“Tapi sekarang aku lagi nyuci, jadi biar sekalian aja,” balas Deva

“Eng… kamu masak aja! Aku yang cuciin!”

Ve langsung masuk ke kamar mandi.

“yee, kenapa sih tuh anak?” ucap Melody

“Gak tau,”

Deva menghiraukannya dan kembali memasak.

~oOo~

“Pagi dut!”

“Pagi…,” balasnya dengan wajah datar

“Loh, pagi-pagi gini loyo amat sih dut! Harusnya semangat dong! Kan hari ini event spesial itu, ”

“Nah, jadi kamu mau siap-siap jam berapa nanti?” lanjutnya

“Kak Naomi aja yang siap-siap, sinka gak bakal ikut,”

“Loh!?” Naomi mengernyitkan dahinya

“Tapi kan kamu sendiri yang maksa-maksa kakak buat ikut sin!”

“Enggak! Pokoknya sinka gak akan ikut kak!”

“yee, rugi loh kalau gak ikut,”

Sinka langsung menutup badannya dengan selimut yang ada di bawah sofa.

Kemudian ia lanjut menonton Tv.

“Huh, yaudah terserah…,” Naomi menghiraukan Sinka dan pergi

“Oh ya, seenggaknya kamu keluar rumah deh, soalnya dari kemarin kamu ngerem terus di kamar sin. Kakak jadi khawatir sama kamu,” ujarnya

“Iya,” balasnya singkat

“Gimana kalau temenin kakak ke mall? Nyari baju buat nanti di pake di Event,”

“Iya,” balasnya lagi

“Hemm…,” Naomi pun pergi ruangan itu

~oOo~

“udah selesai nyucinya?”

“Eh belum dev, baru spreinya aja,” Jawab Ve

“Loh, spreinya dulu ya, Padahal baju-baju yang di ember tinggal di gosok dikit loh,”

“EH! Eng…iya nanti aku kerjain deh,”

“udah sekarang kamu duduk, sarapan dulu,” ujar Deva

“em,” Ve terdiam dan hanya mengangguk

“Melody…,”

“Dia udah berangkat kerja,” ucap Deva memotong

Kini Ve duduk di kursi meja makan itu.

“habis itu jangan lupa kamu minum obatnya yah,”

“iya dev,”

Kleeek!

            Deva membuka pintu kamar mandi.

“EH!”

“Huh?” Deva langsung melihat ke arah Ve

“Kenapa Ve?”

“Ek! Enggak, hehe…,”

“Kamu hari ini aneh banget,”

“umm,” Ve terdiam dengan wajah memerah

“A-Anu…Dev,”

“Hmm?” Deva menoleh

“Aku boleh tanya sesuatu gak?”

“Eng, ya? Mau tanya apa?” timbal Deva

“Soal foto cewek di Hp kamu…dia siapa, D-Dev…,” ucap Ve tergagap

“Foto Cewek? Yang mana?”

“Yang itu dev, yang pegangan tangan sama kamu,” Jelas Ve lagi

“Pegangan tangan?” Deva seperti mengingat-ingatnya

“Ah, gak ada kok,”

“Ada Dev! Kamu jangan bohong deh!”

“Haha…Kamu ini ada-ada aja Ve, foto cewek yang mana coba,”

“Lagian aku ini gak ngoleksi foto cewek di Hp, bahkan foto kak Melody juga cuma sedikit,” lanjut Deva

“umm,” Ve terdiam

“Emangnya kamu tau password di Hp aku Ve?” tanya Deva balik

“Eh, soal itu…eng…nggak dev,” Jawab Ve sembari menggelengkan kepala

“kamu ini…,” Deva mengusap rambut Ve

“Oh iya, habis makan tolong jemurin ya baju yang baru di cuci. Soalnya aku mau keluar dulu,”

“keluar!?”

“Eh, keluarnya bukan mau main kok, cuma beli pasta doang,”

“Pasta-Gigi?” ucap Ve

“Bukan, tapi pasta La Fonte itu, yang spagethi,”

“Oh, yaudah,” Ve lanjut makan

~oOo~

Suatu ketika di sebuah minimarket di pinggir jalan.

“Yang itu Dev! yang pegangan tangan sama kamu!”

“Cih!” Deva seperti berusaha melupakan kata-kata yang terngiang-ngiang di kepalanya itu

“Yang pegangan tangan sama kamu!”

Tep!

Deva tiba-tiba berhenti dan belanjaan yang di bawanya pun jatuh.

“Jangan buat gw mengingat masa lalu, Ve…,”

Kemudian ia tampak mematikan Hanpdhonenya lalu membawa belanjaannya kembali.

DUK!

            Seseorang menubruk Deva sehingga belanjaanya kembali jatuh dan berserakan.

“AH! M-Maaf kak!”

“I-Iya,”

Deva mengangkat kepalanya dan melihat orang itu.

Namun seketika suasana menjadi hening dan Deva diam dengan mata yang terfokus ke arah orang yang menubruknya tadi.

“Kamu kan…,” ucap orang itu

“Cih!” Deva buru-buru memasukan belanjaannya ke dalam kantong kresek dan langsung pergi

“Tunggu!” Namun orang itu menarik tangan Deva

“Deva! Kamu Deva kan!”

Deva sama sekali tidak memandang wajah orang itu.

“Ini aku dev! Shani!”

~oOo~

Gruuuggrr!

            Suara gemuruh petir terdengar.

“duuh, Deva mana yah,”

“Kok lama banget ke mini marketnya. Mana langit tiba-tiba gelap gini lagi,”

“Semoga gak hujan dulu sebelum kamu pulang Dev,”

Di tempat lain…

“Yah, kok mendung sih!?”

“Berarti acaranya juga gak akan jadi kak,”

“Mana ada! Acaranya pasti jadi sin!”

“Ini buktinya mau hujan,”

“Tapi kan acaranya itu malem, bukan sekarang!” balas Naomi lagi

“Huft, terserah…,”

“Kalau hujan, gak jadi deh nyari baju di mallnya,” Naomi memandang langit dari jendela rumahnya

“Pake aja baju yang ada, kakak jadi centil kalau mau ketemu sama Rizal,”

“Apa!?”

“EH! M-Makud Sinka, nanti kita cari deh bajunya pas gak hujan, ehehe…,”

Naomi menatap tajam wajah Sinka dengan tatapan yang menyeramkan.

~oOo~

JDUAR!

“Maaf…,”

Deva berlari sekuat tenaga meninggalkan wanita itu.

Saking cepatnya ia berlari, ia sampai tak sadar bahwa ia telah berada jauh dari wanita itu.

Jauh sekali…

“Hof…,” Deva menghirup nafas panjang sembari memegang kedua lutunya

Kini ia berada di pertigaan yang tidak jauh dari rumahnya.

“Secepat itu kah gw lari…,”

Kemudian Deva berjalan santai sambil menghirup nafas panjang untuk mengatur pernapasannya.

JDAR!

Satu gemuruh petir yang begitu keras menyebabkan hujan lebat.

Deva kembali berlari untuk sampai ke rumahnya, meskipun ia terpaksa.

Namun seluruh tubuhnya telah terguyur air hujan, tidak ada pilihan lain selain menerobos sampai ke rumahnya, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya sekarang.

Tap!

“Ah! Hah…Hah…,”

Ceklek!

“Deva!”

Deva baru sampai di teras rumahnya, ia langsung di sambut oleh Ve disana.

“Kamu kenapa!?” Ve menghampiri Deva

“Ah-Enggak apa-apa Ve,”

Deva berjalan masuk ke dalam rumah.

Sementara Ve terlihat berlari ke dalam rumah, namun tak lama kemudian ia kembali membawa sebuah handuk.

“Kamu basah-basah gini dev,” Ve menggosok-gosok handuk itu ke kepala Deva

“Biar aku aja Ve,” Deva merebut handuk itu

Brak!

Deva menghempaskan badannya di sofa itu.

Ia terlihat sangat kelelahan.

“Aku ambilin minum ya dev,”

Ve pergi dari ruang tamu untuk membawakan segelas air.

5 menit berlalu…

“I-ini dev…,”

“Makasih Ve,”

Setelah meminum air, Deva langsung beranjak dari sofa dan pergi ke kamarnya.

“umm, mau aku buatin makan…,”

“Gak perlu Ve, aku capek banget…,” potong Deva

“Jangan ganggu ya, aku mau istirahat,” lanjutnya

“Eng…,” Ve hanya mengangguk

~oOo~

Deva mengganti pakaiannya karena basah.

Setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur sembari melempar Hpnya ke arah bantal.

“Ini aku Dev, Shani!”

“Cih! Kenapa bisa begini…” Deva berusaha melupakan kejadian yang baru saja ia alami tadi

“Gw bahkan gak sanggup liat mukanya…,”

“Gw gak mau mainin perasaan cewek lagi,”

Deva memejamkan matanya, lalu tiba-tiba ia menepok jidatnya sendiri.

“Sadar Dev! yang lo lakuin sekarang tuh sama kayak waktu dulu!”

“Apa gw harus kasih tau perasaan gw yang sebenarnya ke Ve,”

Deva langsung menutup wajahnya dengan bantal.

“Gw gak tega…,”

Tretetet!

“Hmm!?”

Handphone Deva bergetar.

Ia langsung membukanya.

“BBM dari Ihza…,”

*Dev, nanti gw liat catetan lu ya, kan dari kemarin gw gak masuk…

“Heh…,” Deva tertawa

“Mau liat apaan, orang gw aja gak nyatet apa-apa kemarin,”

“AH! Bener juga, kenapa gw gak tanya Ihza aja yah,”

“Waktu dulu juga yang kasih solusi kan dia,”

Deva langsung membalas pesan itu.

D : Za! Gw pengen tanya sesuatu nih!

5 Menit menuggu…

I : Ah? Apaan?

D : Misal nih ya, lu punya pacar, tapi sebenarnya lu gak suka sama tuh cewek, eh maksudnya lu gak terlalu suka gitu sama ceweknya, tapi masih punya sedikit perasaan. Jadi lu lebih milih lanjutin hubungannya tapi sifatnya abu-abu, atau lu punya pilihan lain?

I : Kalau gak suka ya tinggal putusin…

D : Kalau gak tega?

I : Bah, pertanyaan lu aneh Dev

D : udah jawab aja, ini gw lagi ngisi teka-teki silang di rumah

I : Apa hubungannya coeg!

D : udah jawab aja!

I : Hemm…Kalau misalnya orang itu gak tega mutusin ceweknya, kenapa dia gak coba bikin ceweknya jadi benci sama dia?

D : Bikin ceweknya benci sama dia!?

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s