Vepanda part 18

“Kamu kenapa?!” tanya Sinka panik dan berlari ke arah Rezza.

Yupi dan Najong juga ikut berlari ke arah Rezza.

“Za! Kamu kenapa?!” air mata Sinka kini mulai membasahi pipinya.

“Gapapa kok, cuma jatoh aja tadi, hehe…,” Rezza mencoba tersenyum di depan Sinka.

“Oiya, ini es krim kamu,” ucap Rezza sambil memberikan es krim kepada Sinka.

Sinka tak kuasa lagi membendung air matanya, ia menangis sambil memeluk Rezza.

“Siapa yang mukulin lu?!” tanya Najong yang mulai marah.

“Udah yang, kamu jangan berantem,” ucap Yupi memegang tangan Najong erat-erat.

“Kita ke rumah sakit ya,” ajak Sinka sambil membantu Rezza berjalan.

“Gausah, aku gapapa kok, kita ke rumah aja,” ucap Rezza tersenyum.

“Yaudah lu bonceng gue aja, biar Sinka sama Yupi,” Najong membantu Rezza berjalan.

Kemudian mereka mengantarkan Rezza pulang ke rumahnya.

“Ya ampun za! Kamu kenapa?!” tanya Melody panik saat ia elihat Rezza dibawa masuk ke dalam rumah oleh Najong.

“Gapapa kak, cuma jatoh doang tadi, hehe…,” jawab Rezza nyengir.

“Kamu duduk dulu sini, aku ambilin obat dulu,” ucap Melody lalu pergi mengambil kotak P3K.

“Kamu berantem sama siapa sih?” tanya Sinka duduk di sebelah Rezza.

“Enggak, aku nggak berantem kok,” jawab Rezza tersenyum.

“Lu emang gabisa boong ato bego sih?!” tanya Najong kesal.

“Bego sih kayaknya, haha…,” jawab Rezza mencoba tertawa.

“Aku heran sama kamu za, kondisi kaya gini juga masih becanda,” Yupi menggeleng-gelengkan kepalanya lalu duduk di depan Rezza bersama Najong.

Sinka yang duduk di sebelah Rezza terlihat memikirkan sesuatu.

“Kamu mikirin apa?” tanya Rezza mencolek hidun Sinka.

“Eh?” Sinka sedikit kaget lalu menatap Rezza dengan tajam.

“Kamu berantem sama kak Jo kan?” tanya Sinka mendekatkan wajahnya.

“Hah? Kak Jo? Siapa tuh?” tanya Yupi penasaran.

“Kak Jo itu mantan aku, dia kemaren ketemu aku sama Rezza di mall terus ngajak aku balikan,” jawab Sinka menoleh ke arah Yupi.

“Heeehh?” Rezza, Najong dan Yupi terlihat kaget.

“Tapi aku tolak, soalnya kan aku udah jadian sama Rezza,” lanjut Sinka tersenyum ke arah Rezza.

“Kalo belom jadian sama aku berarti bakalan kamu terima?” tanya Rezza mengernyitkan dahinya.

“Enggak juga, aku nggak bakalan pernah balikan sama kak jo, aku maunya sama kamu,” Sinka mendekatkan wajahnya lalu tersenyum.

“Lucu banget sih,” ucap Rezza mencubit pipi Sinka.

“Ihhh! Jangan pegang-pegang! Tangan kamu banyak darahnya!” Sinka terlihat kesal lalu memalingkan wajahnya.

“Males-males,” ucap Najong dan Yupi bersamaan dengan wajah datar.

“Sini kakak bersihin dulu luka kamu,” ucap Melody duduk di sebelah Rezza.

Kemudian Melody mulai membersihkan luka di wajah Rezza dengan kapas yang diberi alkohol. Najong dan Yupi yang melihat itu hanya bisa meringis ngeri.

“Udah, sekarang punggungnya,” suruh Melody setelah selesai membersihkan luka di wajah dan tangan Rezza.

Rezza membuka seragamnya lalu berputar memunggungi Melody.

“Sejak kapan sih kamu jadi suka berantem gini,” Melody menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mulai membersihkan luka di punggung Rezza.

“Sejak desa Konoha diserang negara api dan pengakuan public oleh Syahrini kalo ternyata dia adalah laki-laki, hahaha…,” ucap Rezza tertawa.

Mendengar Rezza tertawa, Sinka langsung menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan heran.

“Jong, mendingan lu bawa Yupi ke ruang tengah aja deh,” ucap Rezza menoleh ke arah Najong.

“Kenapa emang?” tanya Najong menatap Rezza heran.

“Gapapa, gue gamau aja kalo Yupi sampe mutusin elu gara-gara terpesona sama tubuh gue, hahaha…,” jawab Rezza tertawa.

“Vangkek lu -,-“ ucap Najong lalu melempar sebuah bantal sofa ke arah Rezza dan mengenai kepalanya.

Sinka, Yupi dan Melody hanya tertawa kecil melihat tingkah Rezza dan Najong.

“Yaudah yuk, kita ke dalem aja,” ajak Najong menarik tangan Yupi.

Kemudian Yupi dan Najong pergi ke ruang tengah.

“Es krimnya udah dimakan?” tanya Rezza menatap Sinka dengan polosnya.

“Oiya aku lupa!” Sinka terlihat kaget lalu mengambil tasnya.

“Yahhhh…, udah meleleh,” ucap Sinka dengan wajah sedih setelah mengeluarkan es krim dari dalam tasnya.

“Yaudah gapapa, besok aku beliin lagi,” ucap Rezza mencubit hidung Sinka.

“Ahhh! Makasih!” teriak Sinka sambil memeluk Rezza.

“Eh-eh sin, bentar aku bersihin dulu lukanya,” ucap Melody mencoba melepaskan pelukan Sinka dari tubuh Rezza.

“Maaf kak, hehe…,” Sinka hanya cengengesan.

“Kamu ini,” Melody menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali membersihkan luka dipunggung Rezza.

Rezza dan Sinka saling menatap sambil tersenyum saat Melody membersihkan lukanya.

CUPPS!!

Rezza tiba-tiba mengecup bibir Sinka.

“Ehhh! Nakal!” Melody sedikit berteriak lalu menekan luka Rezza dengan kapas.

“Aawww!! Sakit kak!” ucap Rezza meringis kesakitan.

“Hihihi…,” Sinka hanya tertawa kecil melihat kelakuan adik berkakak itu.

Kemudian Melody kembali membalut badan Rezza dengan perban untuk menutup lukanya.

“Udah nih, kakak ke dalem dulu,” ucap Melody sambil membereskan kotak P3K-nya.

“Makasih kakakku tersayang,” Rezza berdiri lalu mencubit hidung Melody.

“Jangan berantem lagi ya,” Melody tersenyum ke arah Rezza lalu masuk ke dalam.

Saat Melody berjalan melewati ruang keluarga, ia melihat Najong dan Yupi sedang berciuman di sofa depan TV.

“Ehmm,” ucap Melody tersenyum lewat depan mereka berdua.

Najong langsung melepaskan ciumannya dan bergeser menjauh. Sedangkan Yupi hanya tertunduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Melody meletakkan kotak P3K di lemari lalu berjalan ke depan sofa tempat Najong dan Yupi duduk.

“Duhh kalian ini,” Melody menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maaf kak mel,” ucap Najong tertunduk.

“Iya gapapa kok, tapi jangan sampe kebablasan ya,” Melody tersenyum lalu berjalan ke kamarnya.

“Ciee… yang ketauan, hahaha…,” teriak Rezza dan Sinka tertawa sambil berjalan menghampiri Yupi dan Najong.

“Apaan sih?!” Yupi terlihat kesal lalu memalingkan mukanya.

“Pulang aja yuk,” Najong menarik tangan Yupi.

“Hahaha…,” Rezza dan Sinka hanya tertawa saat Najong dan Yupi melewati depan mereka.

“Wleeeek,” Yupi menjulurkan lidahnya ke arah Rezza dan Sinka sebelum menutup pintu rumah Rezza dan pulang bersama Najong.

~oOo~

Jam sudah menunjukkan pukul 07:00 malam, Sinka masih di rumah Rezza.

“Kamu istirahat ya,” suruh Sinka lalu mengecup pipi Rezza.

“Kamu juga, sampe rumah langsung istirahat,” ucap Rezza tersenyum.

“Aku pulang dulu ya za, salam buat Melody,” Naomi tersenyum lalu berjalan ke mobilnya.

“Iya nanti aku sampein, kalo nggak lupa, hehe…,” ucap Rezza nyengir kuda.

“Yaudah, byeee!” teriak Sinka lalu berlari menyusul Naomi.

Setelah mobil yang dinaiki Sinka dan Naomi pergi, Rezza masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Ia berjalan ke ruang tengah lalu lanjut menonton TV sambil merokok.

-di rumah Sinka-

“Bangun sin!” teriak Naomi sambil menggedor-gedor pintu kamar Sinka.

“Apaan sih kak?! Sinka udah di bawah!” teriak Sinka dari ruang makan.

“Eh? udah bangun lagi,” batin Naomi lalu berjalan ke ruang makan.

Sesampainya di ruang makan, Naomi langsung mengambil selembar roti tawar dan duduk di sebelah Sinka.

“Dibangunin mama lagi?” tanya Naomi lalu menggigit roti tawarnya.

Sinka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tetap memakan nasi goreng.

“Terus siapa yang bangunin?”

Sinka kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.

Naomi tidak bertanya lagi kepada Sinka, ia hanya memakan roti tawar sambil memainkan smartphone-nya.

Setelah selesai memakan nasi gorengnya, Sinka bermain game dismartphone-nya sambil sesekali memakan nasi tumpeng yang ada di depannya.

“Eh sin, ini Jo bukan sih?” tanya Naomi sambil menunjukkan sebuah foto dismartphone-nya kepada Sinka.

“Iya ini kak Jo,” jawab Sinka mengangguk setelah melihat foto yang ditunjukkan Naomi.

“Kak Naomi buat apa follow instragram-nya kak Jo?” sambung Sinka.

“Idihh, siapa juga yang nge-follow Instagram-nya dia, ini aku liat dipencarian.”

“Ohh….”

“Tapi dia kenapa ya kok babak belur gitu?”

“Mana aku tau, kakak tanya aja sendiri.”

“Ogah, kurang kerjaan banget nanya-nanya ke dia.”

Mereka berdua diam sambil memikirkan sesuatu.

“Jangan-jangan,” ucap Sinka dan Naomi bersamaan sambil menoleh ke arah satu sama lain dengan ekspresi terkejut di wajah mereka.

“Coba kamu tanyain ke Rezza,” suruh Naomi.

Sinka hanya mengangguk lalu menelfon Rezza.

“Nomor yang anda tuju, sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi.”

Tuut… tuut… tuut…

“Hp Rezza mati,” Sinka menatap Naomi dengan ekspresi sedih.

“Yaudah ntar kamu tanyain aja di sekolahan,” ucap Naomi.

Kemudian Sinka berangkat ke sekolahnya dengan diantarkan Naomi menggunakan mobil.

“Nanti kak Naomi gausah jemput aja soalnya aku mau ke rumah Rezza sama temen-temen,” ucap Sinka sebelum turun dari mobil.

Naomi hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan sekolahan Sinka dan pergi ke sekolahnya.

Setelah Naomi pergi, Sinka berjalan sendirian menuju kelasnya. Saat berjalan melewati koridor kelas 10, ada seseorang yang berteriak memanggilnya.

“SINKA!!”

Sinka pun berhenti berjalan dan menoleh ke belakang, terlihat Yupi sedang berlari ke arahnya.

“Kenapa?” tanya Sinka saat Yupi sampai di sebelahnya.

“Nanti pulang sekolah kamu jadi ke rumah Rezza?” tanya Yupi.

“Iya, emang kenapa? Kamu mau ikut?”

“Enggak deh, aku juga mau ngerjain tugas sama Najong di rumah aku, hehe….”

“Yakin ngerjain tugas? Nggak pacaran?”

“Apaan sih?! Udah ah, yuk ke kelas.”

Kemudian mereka berdua berjalan ke kelas bersama.

Sesampainya di kelas, suasana masih bisa dibilang sepi, hanya ada beberapa teman sekelas mereka saja yang sudah datang.

“Oiya sin, Rezza hari ini masuk nggak?” tanya Yupi sambil meletakkan tasnya.

“Gatau,” jawab Sinka dengan wajah polos sambil duduk dibangkunya.

“Kok gatau? Kamu kan pacarnya, gimana sih.”

“Lahh emang harus banget ya aku tau semuanya soal Rezza?”

“Iya lah, pacar yang baik itu harus tau segalanya tentang cowoknya,” ucap Yupi dengan lantang.

“Kamu salah sarapan ya yup?” Sinka sambil menatap Yupi dengan heran dan mengernyitkan dahinya.

“Enggak kok, aku tadi sarapan sama roti kaya biasanya, kenapa emang?” tanya Yupi dengan polosnya.

“Gapapa, lupain,” jawab Sinka lalu mengambil smartphone dari dalam tas dan mulai memainkannya.

Yupi juga ikut mengeluarkan smartphone dan memainkannya.

Karena terlalu sibuk dengan smartphone-nya, Sinka sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang duduk di sebelahnya.

“Sendirian aja cantik,” ucap orang itu.

“Eh?!” Sinka sedikit terkejut sambil menoleh ke orang itu.

“Siapa ya?” tanya Sinka.

“Kenalin, aku Rizal Dinur, panggil aja Ical,” jawab orang itu sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum ke arah Sinka.

“Sinka,” ucap Sinka sedikit tersenyum lalu kembali fokus ke smartphone-nya tanpa menyalami tangan Ical.

Ical terlihat mengelurakan smartphone dari saku celana dan memainkannya.

“Minta nomer telfonnya dong,” ucap Ical sambil menyenggol tangan Sinka.

“Buat apa?” tanya Sinka sambil mengernyitkan dahinya.

“Sin liat nih!” teriak Yupi sambil menoleh ke arah Sinka.

“Eh? kamu siapa?” tanya Yupi saat melihat Ical yang sedang duduk di sebelah Sinka.

“Kenalin, aku Rizal Dinur, panggil aja Ical,” jawab Ical sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum ke arah Yupi.

“Anak baru?”

“Iya, baru masuk hari ini, nama kamu siapa?”

“Panggil aja Yupi,” jawab Yupi sedikit tersenyum.

Tiba-tiba Sinka berdiri lalu menarik tangan Yupi.

“Kalian mau kemana?” tanya Ical.

“Ke kantin,” jawab Sinka ketus lalu mulai berjalan keluar kelas bersama Yupi.

“Oiya, kamu jangan duduk disitu, udah ada yang duduk disitu soalnya,” sambung Sinka.

“Mau kemana yang?” tanya Najong saat berpapasan dengan Sinka dan Yupi dipintu kelas.

“Udah ikut aja,” jawab Sinka lalu menarik tangan Najong.

Najong dan Yupi hanya pasrah saat ditarik oleh Sinka ke arah kantin.

Sesampainya di kantin mereka langsung duduk disebuah meja yang letaknya agak jauh dari kantin.

“Mau ngapain sin ke kantin pagi-pagi? Tumben banget,” tanya Najong sambil duduk di sebelah Yupi.

“Aku mau ngomong sesuatu, penting,” jawab Sinka memasang wajah serius.

“Emang mau ngomong soal apaan sih?” Yupi menatap Sinka dengan heran.

“Soal Rezza,” jawab Sinka tanpa menoleh ke arah Yupi.

“Yaelah, di kelas aja kan bisa,” ucap Najong.

“Kamu nggak liat tadi ada anak baru duduk di sebelah aku?” tanya Sinka menatap tajam ke arah Najong.

“Anak baru?” Najong menatap Sinka sambil mengernyitkan dahinya.

Sinka hanya mengangguk ke arah Najong.

“Kok gue ngga-“ ucap Najong.

Teet… teet… teet…

“Eh udah masuk, ke kelas yuk,” ajak Yupi sambil berdiri.

Kemudian Sinka, Yupi dan Najong kembali ke kelas mereka. Saat mereka bertiga tepat berada di depan pintu kelas, tiba-tiba ada seseorang berteriak memanggil Sinka dari kejauhan.

“SINKA!!”

Sinka, Yupi dan Najong pun berhenti dan menoleh ke arah orang yang berteriak itu. Terlihat seorang siswi yang masih menggunakan jaket dan menggedong tas sedang berlari ke arah mereka bertiga.

“Ada apa kak Mel?” tanya Sinka saat orang itu sampai di depannya.

“Ini nitip surat ijin punya Rezza,” jawab Melody sambil memberikan sebuah amplop kepada Sinka.

“Lohh Rezza nggak masuk kak?” tanya Yupi.

Melody hanya mengangguk ke arah Yupi.

“Emang masih parah kak lukanya?” tanya Najong.

“Kayaknya sih enggak, soalnya tadi pagi pas aku bangun dia udah bangun, lagi main PS,” jawab Melody dengan polosnya.

“Lahhh…, terus kenapa kak Melody bolehin Rezza nggak masuk sekolah?” tanya Sinka sambil menatap Melody dengan heran.

“Soalnya tadi pagi Rezza bilang badannya masih sakit, yaudah aku suruh istirahat di rumah aja, nggak usah sekolah dulu,” jawab Melody dengan wajah yang lebih polos dari sebelumnya.

Sinka, Yupi dan Najong saling bertatap-tatapan lalu menatap Melody dengan ekspresi datar.

“Kak,” ucap Sinka, Yupi dan Najong bersamaan.

“Kenapa?” tanya Melody.

“Kenapa kak Melody gampang banget sih diboongin sama Rezza?” tanya Sinka, Yupi dan Najong bersamaan.

Melody hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Sinka, Yupi dan Najong.

“Ada apa ini?” tanya seorang guru.

“Eh pak, ini nitip surat ijinnya Rezza,” jawab Melody menoleh ke arah guru yang berdiri di belakangnya.

“Ohhh…,” guru itu mengangguk paham.

“Saya ke kelas dulu ya pak,” ucap Melody lalu bersalaman dengan guru itu dan pergi ke kelasnya.

“Ini Rezza kenapa?” tanya guru yang bernama…, sebut saja mawar.

“Sakit pak,” jawab Sinka sambil memberikan amplop dari Melody tadi.

“Sakit? Sakit apa?” tanya Pak Mawar meraih amplop itu.

“Cuma nggak enak badan kok pak,” jawab Yupi tersenyum.

“Emang kemaren dia abis ngapain kok bisa sampe nggak enak badan?” Pak Mawar menatap Yupi sambil mengernyitkan dahinya.

“Kemaren dia berrrr-“ ucap Najong lalu memegang perutnya yang dicubit oleh Yupi barusan.

“Ber apa?” tanya Pak Mawar dengan heran.

“Ber…. guling-guling di atas jalan yang belom di aspal pak, hehehe….,” jawab Najong cengengesan.

“Ohh…, yaudah ayo kita masuk kelas,” ucap Pak Mawar lalu berjalan masuk ke kelas terlebih dahulu.

“Ember banget sih mulut kamu!” bisik Yupi kepada Najong saat bejalan ke bangku mereka.

“Kalo ntar ada guru yang nanya lagi terus kamu sampe keceplosan, aku tonjok ntar pulang sekolah!” ancam Sinka sambil menunjukkan kepalan tangan kanannya kepada Najong.

“Maap-maap, namanya juga khilaf, hehe…,” ucap Najong sambil cengengesan.

Kemudian mereka bertiga duduk di bangku meeka masing-masing.

“Kok masih di sini?” tanya Sinka sambil duduk di bangkunya.

“Gapapa, aku nggak suka duduk sendiri, lagian kamu juga duduk sendiri kan?” jawab Ical.

“Terserah deh,” ucap Sinka datar lalu mengambil buku tulis dan bolpen dari dalam tasnya.

Saat sedang mencatat pelajaran pak mawar, tiba-tiba bahu Sinka di senggol oleh Ical.

“Apaan sih?!” tanya Sinka kesal.

“Enggak, cuma mau nanya, cewek yang tadi ngobrol sama kamu itu siapa?” tanya Ical.

“Cewek yang mana?”

“Yang tadi di depan kelas pas kamu mau masuk itu.”

“Ohh itu…, itu kak Melody, kenapa?”

“Ng-nggak, gapapa,” jawab Ical tersenyum.

Kemudian Sinka kembali mencatat pelajaran Pak Mawar.

“Kamu kenal deket sama Melody?” tanya Ical.

“Iya,” jawab Sinka tanpa menoleh ke arah Ical.

“Dia kelas berapa?”

“12 IPA 2.”

“Ohh… udah kelas 12 ternyata.”

“Hmmm….”

“Kamu punya nomer HP-nya nggak?”

“Buat apa nanyain nomer HP kak Melody?” tanya Sinka menoleh ke arah Ical.

“Gapapa, pengen kenal aja,” jawab Ical sambil tersenyum.

“Kalo gitu minta aja sendiri sama kak Melody,” ucap Sinka ketus lalu kembali mencatat.

Tak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.

“Jadi hari ini sin ngerjain tugasnya?” tanya Gasa menghampiri sinka.

“Iya lah, ntar lupa kalo ditunda-tunda mulu,” jawab Sinka sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

“Yaudah lu tunggu di gerbang depan aja, gue, Abduh, sama Behel ke parkiran dulu,” ucap Gasa lalu pergi keluar kelas.

“Duluan ya sin,” ucap Yupi sambil menarik tangan Najong keluar kelas.

Sinka hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Yupi dan Najong.

Setelah selesai memasukkan semua buku-bukunya, Sinka keluar kelas dan berjalan ke gerbang depan sendirian.

Sesampainya di gerbang depan, sinka berdiri di depan pos satpam sendirian sambil memainkan smartphone-nya.

“Sendirian mulu,” ucap seseorang yang berdiri di sebelah Sinka.

“Hah?” Sinka menoleh ke arah orang itu lalu kembali memainkan smartphone-nya.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

5 tanggapan untuk “Vepanda part 18

    1. karena kakak belom tentu beradek, tapi kalo adek udah pasti berkakak.
      contohnya kak seto, belom tentu kak seto punya adek, bisa jadi dia anak terakhir, so itulah kenapa gue lebih milih adek berkakak daripada kakak beradek 😂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s