Sorry, I Love You, Part2

wp-1474367356021.jpg

“Permisi….”

Reksa melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Sinka. Gadis penyuka panda itu hanya diam saat pertama kali melihat Reksa. Melamun, ya mungkin itu kata yang paling tepat.

“Ah… Sorry-sorry, ada apa ya?” Sinka menyembunyikan sebagian tubuhnya dibelakang daun pintu itu. Hanya kepalanya saja yang melongok keluar.

“Ini.” Reksa memperlihatkan benda berbentuk persegi berarna hitam dengan gambar panda disananya.

“Dompet aku?!” Reksapun memberikan dompet itu kepada gadis yang ada didepannya.

“Nemu dimeja kantin, sorry tadi sempet ngebuka buat liat alamatnya.”

“Kok bisa ya, aku ga ngecek sih tadi dompetnya masih ada di tas aku atau engga, Ah ga ada yang ilang, dan bener ini kartu pelajar aku, makasih ya.” Reksa mengangguk.

“Ya udah aku pamit dulu.”

“Iya, makasih ya.”

Reksa pun melangkah menuju pagar rumah, sementara Sinka kembali mengecek lagi isi dompetnya. Ia tak percaya bahwa dompetnya tertinggal dikantin sekolah. Beruntung dompet itu ditemukan oleh orang yang baik.

Baru saja beberapa langkah Reksa kembali menemui Sinka. Gadis itu sempat terheran, apa ada yang tertinggal.

“Eh… sorry, boleh nanya?” Sinka mengangkat alisnya.

“Nanya apa?”

“Sebelumnya kita pernah ketemu gak sih?”

Kedua orang itu sama-sama terdiam. Sinka melipat kedua tangannya dan menatap pemuda tinggi didepannya. Reksa pun menatap mata Sinka lekat-lekat, perasaan pemuda itu tak mungkin salah, ia beranggapan pernah bertemu sebelumnya, tapi ia lupa dimana.

“Di kantin?” tanya Sinka.

“Bukan.”

Gadis itu mengetuk-ngetuk dagunya, ia bingung dengan pertanyaan Reksa. Sinka mencoba kembali memutar otak, setelah menatap mata pemuda itu ia seperti pernah melihatnya. Tapi sialnya Sinka lupa dimana pertama kali bertemu dengannya.

“Ah udah lupain aja, kayanya aku salah orang hehe.” Reksa menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, “ya udah aku pamit dulu ya.”

“Iya, makasih ya udah nganterin dompet aku.”

“Nah gitu ceritanya.” Ikha, Yuvia, dan Viny mengangguk mantap.

Kala itu bel istirahat baru saja berbunyi, seperti kemarin Sinka, Ikha, Yuvia dan Viny sudah berada dikantin untuk menikmati sarapan mereka. Hanya Sinka yang saat itu tidak memesan makanan, karna ia membawa bekal dari rumah.

“Beruntung banget kamu,” kata Ikha.

“Iya tuh, Reksa datang kerumah,” kata Viny.

“Bukan masalah Reksanya, Vin!” Ikha melempar tisu ke arah Viny, “tapi dompetnya Sinka.”

“Iya beruntung banget dompetnya dibalikin,” tambah Sinka.

“Tapi beruntung banget Reksa mampir ke rumah, jadi kenalan pula sama dia, aku kapan ya.”

“Tinggalin aja dompet kamu Vin!” Sinka menaik turunkan kedua alisnya.

“Nah bener, gimana mau nyoba gak?” tanya Ikha.

“Gak ah, entar kalau ga balik lagi gimana?” kata Viny.

“Ya nasib, hahaha.” Ikha dan Sinka pun tertawa lepas, sementara Yuvia hanya mengangguk-ngangguk saja sedari tadi, mencoba menikmati setiap makanan yang masuk kedalam mulutnya.

Tiba-tiba mereka berempat dikejutkan dengan datangnya seorang pria dengan buff bercorak bendera Britania Raya di lehernya. Sinka, Ikha, Viny dan Yuvia menatap kepada pria itu, tapi ia hanya menatap ke arah Yuvia hingga gadis berponi rata itu mengangkat kedua alisnya.

Pria itu menyodorkan sebuah benda berbentuk persegi panjang dengan logo sebuah apel yang sudah tergigit dibelakangnya.

“Ibu kamu yang nitipin ke aku, katanya tolong kasihin ke Yupi handphonenya ketinggalan.”

“Makasih, tapi kok kamu bisa ketemu Ibu aku.”

Pria itu menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Yuvia. Tangan kanannya ia taruh diatas kepala Yuvia dan mulai mengacak-ngacak rambut gadis berponi depan itu. Raut wajah Yuvia langsung berubah dan mencoba menyingkirkan lengan itu.

“Aku ke rumah kamu dulu, kamu lupa? Kan semalem kamu minta bareng berangkat ke sekolah.”

“Huuu…. Telat kamu datengnya, makanya aku tinggalin!” kata Yuvia, “Udah, ishhh… rambut aku berantakan!”

“Iya-iya, aku balik ke kelas dulu kalau gitu.” Pria itu tiba-tiba melihat Sinka, ia mengerutkan keningnya saat melihat gadis itu. “Kamu yang dompetnya ketinggalan ya?”

“Heh, maksudnya?” Sinka balik menatap pria itu.

“Ciko ini temennya Reksa, Sin,” kata Yuvia.

“Iya, aku temennya Reksa. Kamu yang dompetnya ketinggalan kan, sampe Reksa anterin ke rumah kamu?” tanyaa Ciko.

“I… Iya.”

“Haha lain kali hati-hati, untung yang nemuin Reksa, kalau yang lain mungkin itu dompet udah ga akan balik lagi ke kamu.”

“Udah sana-sana Cik, ganggu kita-kita aja,” usir Yuvia.

“Ok hime-sama.”

Pria itu langsung pergi meninggalkan Sinka dan kawan-kawannya setelah sebelumnya kembali mengacak-ngacak rambut Yuvia.

“Dasar rese!” teriak Yuvia sambil merapikan poninya.

“Dia pacar kamu Yup?” tanya Sinka.

Yuvia melongo dengan perkataan Sinka yang tiba-tiba. Sementara Ikha dan Viny hanya menutup kedua mulutnya sambil menahan tawa. Viny yang paling parah bahkan tak kuasa untuk menahan ketawanya hingga akhirnya meledak-ledak sampai memukul pelan meja.

“Hahahahaha…. Pacar!” kata Viny.

“Pacar yang ga dianggap!” tambah Ikha.

“Berisik kalian!” Yuvia melemparkan beberapa gulungan tisu kepada Viny dan Ikha.

“Haha… maaf-maaf, ga kuat aku dengernya.” Viny mengambil tisu dan mengelap air matanya yang tak sadar keluar.

“Jadi?” Sinka mengangkat sebelah alisnya.

Yuvia terlihat menarik nafas sejenak sebelum mulai berbicara. Ia kembali mentap Ikha dan Viny dengan sinis. Kedua orang itu masih senyum-senyum sambil menahan tawa mereka.

“Dia temen aku Sin, temen dari kecil, bukan pacar kok.” Sinka mengangguk.

“Jadi gini Sin, Yuvia tuh ngarep sama dia, cuma…,” Ikha menggantung omongannya.

“Cuma tuh si Ciko ga peka! Hahaha…,” sambung Viny.

“Berisik kalian!” kesal Yuvia.

“Iya-iya maaf, duh Yup jangan lempar-lempar tisu, berantakan tau!” kata Ikha.

Sinka tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya, ia tak menyangka baru pindah sebentar telah bertemu teman-teman yang sangat menyenangkan. Ia juga tas sadar sudah cukup akrab dengan mereka, padahal biasanya ia membutuhkan waktu lama untuk akrab dengan seseorang.

~oOo~

Sepulang sekolah sesuai rencana Sinka akan pergi ke sebuah toko kue bersama Ibunya. Meskipun sebenarnya malas, tapi yang meminta itu Ibunya sendiri, mau tidak mau Sinka harus mengantar Ibunya.

Baju berwarna putih ditambah rok berwarna biru selutut dipilih Sinka untuk pergi sore ini. Meskipun hanya mengantar Ibunya pergi ia tidak mau cuek dalam hal berdandan, maka dari itu ia tampil semenarik mungkin. Terlebih pemilik toko kue itu adalah teman Ibunya, tentu ia tak mau membuat malu Ibunya sendiri jika berdandan sangat cuek.

Padahal biasanya juga Sinka lebih terbiasa berpergian menggunakan celana jeans, t-shirt, dibalut jaket atau sweater serta sepatu sneakers kesayangannya. Sinka ini salah satu anak yang hobi mengoleksi sneakers bahkan koleksi sneakersnya itu lebih banyak ketimbang heels atau wedges.

Sinka dan Ibunya pun pergi ke mall menggunakan taxi yang sudah dipesannya lewat aplikasi online. Di dalam taxi Ibu dan anak itu duduk dikursi belakang. Ibunya hanya memandang ke arah jendela melihat keadaan jalanan, sementara Sinka sibuk dengan handphonenya.

“Hey… kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Ibunya.

“EH?! Eng… engga kok bu.”

Sinka asik mengobrol di grup yang baru saja tadi ia buat bersama dengan Ikha, Viny dan Yuvia. Di grup itu sedang membahas kejadian tadi saat istirahat, Ikha dan Viny tak bosan-bosannya membully Yuvia, dan kini Sinka malah ikut-ikutan juga. Hal yang menyenangkan bercanda dengan teman-teman, tentu Yuvia yang merasa disindir pun tak menanggapinya secara serius, karna ia juga percaya bahwa teman-temannya hanya bercanda.

“Oiya sekolah kamu gimana?” tanya Ibunya.

Sinka sadar Ibunya mengajak ia mengobrol, maka dari itu ia kembali memasukan handphonenya kedalam tas kecil yang ia bawa.

“Baik-baik aja kok Mih, Sinka udah bisa adaptasi sama sekolah baru.”

“Kamu capek gak kalau setiap pulang harus naik bis, kalau kamu capek nanti biar kakak kamu suruh jemput.”

“Engga kok, malah seneng ada temen pulang kalau naik bis.”

Tidak terasa taxi pun telah sampai di mall yang dituju. Setelah membayar, Sinka dan Ibunya pun masuk kedalam mall itu. Kata Ibunya, toko kue berada dilantai satu dan tidak jauh dari pintu masuk.

Memang benar tidak jauh dari pintu masuk, baru saja sebentar berjalan toko yang dimaksudpun sudah terlihat. Banyak orang yang mengantri untuk membayar dikasir, beberapa juga banyak yang memilih-milih kue yang akan mereka beli.

Sinka dan Ibunya pun masuk kedalam toko kue yang dimaksud. Ibunya Sinka pun menelfon seseorang dan tak lama orang itu datang menemui mereka berdua. Ternyata yang ditelfon itu adalah si pemilik toko.

Selagi Ibunya mengobrol-ngobrol dengan temannya, Sinka sedikit menunduk melihat-lihat kue yang akan ia beli. Banyak kue yang menarik baginya dan sangat terlihat enak untuk disantap. Cream, potongan buah, keju, buah cerry banyak sekali yang ingin Sinka beli.

Saat sedang melihat kue yang ada di etalase, tiba-tiba pintu etalase yang didepan Sinka dibuka oleh salah satu pegawainya. Dengan seragam khas toko kue itu, si pegawai toko langsung memasukan salah satu kue yang baru saja selesai dibuat.

Setelah pegawai itu meletakan kue betapa terkejutnya Sinka saat melihat wajah si pegawai toko. Pandangan mereka bertemu, sepasang mata yang sudah familiar bagi Sinka.

“Kamu?!” ujar Sinka dan Reksa bersamaan.

 

 

 

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Sorry, I Love You, Part2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s