Zombie…, Part7

Bandung, Jawa Barat. 07.00 WIB.

Sebuah motor Honda Beat hitam yang ditumpangi dua orang melintas di kawasan Setiabudhi Bandung. Motor itu melaju cukup kencang, tak ada kendaraan lain yang melintas didepan mereka, hanya zombie-zombie yang berlalu lalang disepanjang jalan.

Setelah mendapat selebaran yang disebarkan oleh sebuah helikopter. Hari ini Sinka dan Vito berniat pergi ke sebuah tempat yang direkomendasikan oleh pemerintah untuk mengungsi dari serangan zombie.

Di Bandung ada beberapa tempat yang direkomendasikan, seperti di Sekolah Staf Kepemimpinan (Sespim) Polri untuk daerah Lembang, Stadion Si Jalak Harupat untuk daerah Kabupaten Bandung, serta Monumen Perjuangan dan Lapangan Tegalega untuk Kota Bandung.

Setelah beberapa hari menginap di kosan Vito yang berada di kawasan Setiabudhi Bandung, pagi harinya Sinka dan Vito langsung berangkat menuju tempat pengungsian.

“Serius mau ke MonJu (Monumen Perjuangan) aja?” tanya Vito.

“Iya mas, paling deket kan kesana,” kata Sinka.

“Kita bisa kok mba pergi ke Lapangan Tegalega, kemungkinan besar kakak-nya mba kalau masih selamat ngungsinya kesana.”

“Tapi perjalanan kesananya riskan mas, jauh banget.”

“Tenang mba, kalau situasinya kaya gini kita ga perlu lewat jalur-jalur yang biasa, kita bisa lawan arah dari sini tinggal lurus terus ga belok-belok, bener kan?”

“Iya juga ya, tinggal lurus.”

“Nah itu mba, jadi gimana? Kalau mau ke Lapangan Tegalega kita tinggal kesanan.”

“Ya udah kita ngungsi di Lapangan Tegalega aja mas.”

Vito menambah kecepatan motornya, pagi itu hampir tidak ada manusia yang terlihat dijalanan. Beberapa mobil terparkir dipinggir jalan tapi tak ada pemiliknya. Sudah beberapa hari Kota Bandung diserang zombie, suasana kota pun berubah drastis. Kali ini tidak aneh rasanya melihat asap yang mengepul dari gedung, mobil yang menabrak tembok, pohon serta tiang listrik pun beberapa ada yang roboh.

Kabarnya pemerintah Kota Bandung pun sedang berupaya melawan para zombie. Sesuai perintah walikota, para petugas keamanan dikerahkan untuk menetralisir wilayah-wilayah tertentu sehingga tidak ada lagi zombie disana dan tempat itu bisa digunakan untuk mengungsi.

Sialnya baru berjalan tiga hari dari penyerangan zombie para petugas keamanan sudah kewalahan melawan para zombie. Saking banyaknya para zombie para petugas pun ada yang terkena gigitan dan lambat laun berubah menjadi zombie.

Parahnya disuatu daerah saat petugas TNI sedang membasmi para zombie ada salah satu prajurit mereka yang terkena gigitan dan langsung dibawa kembali ke markas untuk diobati. Saat sudah di markas TNI, prajurit yang terkena gigitan itu mendadak berubah menjadi zombie dan menyerang prajurit lain sehingga di komplek TNI itu sekarang penuh dengan zombie.

“Mas Mas, gimana kalau kita pergi ke toko pakaian dulu?” kata Sinka tiba-tiba.

“Toko baju ya?” Vito berfikir, toko baju mana yang akan mereka lewati. Seingat dia tidak akan ada toko baju, outlet ataupun distro yang akan mereka lewati.

“Gimana?” tanya Sinka.

Sampai pada akhirnya Vito teringat sebuah tempat yang pasti tersedia baju disana. Sebuah mall yang cukup terkenal di Bandung, Paris van Java namanya. Vito sadar mereka berdua akan melewati mall itu, selagi lewat mengapa tidak untuk mampir sebentar mencari pakaian. Ia yakin toko-toko disana akan sepi oleh manusia tapi ada kemungkinan juga malah di huni oleh zombie-zombie.

“Ok mba, entar kita pergi ke toko pakaian.”

“Emang dimana mas?”

“Paris van Java.”

Setelah cukup dekat dengan mall yang bernama Paris van Java, Vito langsung mengendarai motornya memasuki area halaman mall. Motor beat hitam itu ia parkirkan didepan cafe yang berada paling dekat dengan pintu masuk utama.

Mereka berdua pun akhirnya masuk kedalam area mall. Seperti yang sudah diprediksi tak ada siapapun disini. Beberapa kaca etalase toko pun banyak yang pecah, menandakan sempat ada kekacauan disini.

Sinka dan Vito makin masuk kedalam area mall, mereka berdua sempat pergi kesebuah toko yang menjual tas ransel. Sinka dan Vito pun masing-masing mengambil ransel ukuran besar untuk menampung barang bawaan mereka.

“Mau cari baju dimana?” tanya Vito.

“Seinget aku banyak toko baju dilantai bawah,” jawab Sinka.

“Ya udah kita kesana langsung.”

Salah satu yang unik dari Mall ini adalah tidak bertingkat keatas melainkan kebawah tanah. Toko-toko dan cafe berada di lantai satu, sementara toko baju, sepatu, perhiasan, ataupun elektronik ada dilantai B1, sementara supermarket ada di B2.

Sinka dan Vito pun menuruni tangga yang menuju lantai B1. Eskalator disini sudah tidak berfungsi, terpaksa mereka memakai tangga. Mereka lupa bahwa listrik tidak menyala, sehingga keadaan dibawah sangat gelap. Terpaksa Sinka dan Vito pun kembali ke lantai satu dan mencari pakaian disana.

Pilihan toko pakaian dilantai satu terbilang sangat sedikit, lebih banyak tempat makan dilantai ini. Sudah cukup lama mereka berkeliling akhirnya mereka menemukan toko yang menjual t-shirt t-shirt dengan merk cukup terkenal.

Di depan toko itu berdiri sebuah toko sepatu asal German, dan Vito pun malah masuk kedalamnya. Sementara Sinka asik di toko yang menjual t-shirt itu.

Vito memasukan beberapa jersey kedalam tasnya, serta celana panjang. Ia kemudian pergi keluar toko dan masuk ke toko sebelah. Kebetulan toko sebelah menjual pakaian-pakaian pria.

Sementara Sinka setelah mengambil beberapa t-shirt ia pergi keluar toko dan berjalan dilorong mall itu sambil melihat-lihat. Ia mencari sebuah toko yang cukup penting untuk saat ini. Selagi mencari toko yang dimaksud ia juga melihat-lihat jikalau ada zombie didekatnya.

Akhirnya toko pakaian dalam yang Sinka cari ketemu juga, tempatnya diujung lorong. Sinka pun masuk kedalamnya dan mengambil beberapa pakaian.

Saat sedang memilih-milih, tiba-tiba Sinka dikejutkan dengan datangnya seorang pria dengan napas yang ngos-ngosan. Pria itu terlihat capek seperti dikejar-kejar sesuatu.

“Ada apa Mas?” tanya Sinka.

“Cepetan Mba, ada zombie disini, tadi saya dikejar, beberapa dari mereka sembunyi di dalam toko, sekarang lagi mengarah kesini,” kata Vito.

Muka Vito semakin panik, Sinka pun langsung memasukan beberapa pakaian kedalam tasnya dan langsung berlari keluar toko. Terlihat dikejauhan beberapa zombie berjalan kearah mereka berdua, meskipun jumlahnya tidak banyak tetap saja jalan keluar mereka terhalangi. Terpaksa Sinka dan Vito mencari jalan lain untuk keluar dari mall ini.

Vito dan Sinka pun berlari mencari jalan lain, langkah kaki mereka sangat jelas terdengar dilorong mall ini. Tiba-tiba sebuah teriakan yang sudah familiar terdengar, disusul dengan suara kaca yang pecah.

Ternyata dilorong ini beberapa zombie bersembunyi didalam toko, mereka serempak keluar dari persembunyian setelah mendengar langkah kaki Sinka dan Vito. Teriakan mengerikan itu makin terdengar jelas, kini dibelakang Vito dan Sinka sudah ada beberapa zombie yang mulai mengejar.

“Mba… didepan mentok, lewat eskalator aja?”

“Ya lewat mana lagi mas?! Udah lewat itu aja cepet!”

“Tapi lantai dasar kan gelap mba?”

“Bentar.”

Sinka merogoh saku celana jeans miliknya, wanita penyuka panda itu kemudian mengeluarkan handphone.

“Buat apa? Ga ada sinyal disini mba, mau minta tolong ke siapa?”

“Pake flashnya!”

Seketika keluar cahaya dari flash handphone milik Sinka. Mereka berdua langsung berlari menuruni eskalator dengan Sinka yang memimpin pelarian. Dirinya cukup tau seluk beluk mall ini jadi bukan hal sulit mencari dimana tangga naik lainnya.

Tiba-tiba seseorang menarik tas Vito hingga Vito terjatuh. Sinka yang sadar pun langsung mengarahkan flash kameranya ke belakang. Ternyata dibelakang mereka sudah banyak zombie yang berkeliaran. Ada dua orang yang memegang tas Vito.

“Gila disini zombienya lebih banyak!” kata Sinka setelah menyorot keselilingnya.

Vito pun melepaskan tas ranselnya dan langsung berlari menarik lengan Sinka. Ia sekarang mengambil handphone milik Sinka dan mengarahkan kedepan untuk mencari jalan.

“Parah tuh zombie main tarik-tarik,” kesal Vito.

Akhirnya sebuah eskalator terlihat didepan mereka. Sinka dan Vito pun langsung menaiki eskalator itu.

“Akhirnya kita bebas!” kata Vito.

Sebelum berlari ke arah pintu masuk utama, Sinka menyempatkan mengambil sebuah pot bunga dan melemparkannya kebawah, entah kena atau tidak disana gelap.

“Rasain tuh zombie keparat!”

“Ya udah mba, buruan kita ke motor.” Sinka mengangguk

~oOo~

Benteng Vredeburg, D.I. Yogyakarta. 20.00 WIB.

Pemerintah telah memberikan rekomendasi tempat berlindung untuk para penduduk Jogja. Salah satu tempat berlindung selain di Keraton adalah di Benteng Vredeburg. Benteng ini diprediksikan menjadi tempat berlindung yang cukup aman. Hanya ada satu pintu masuk dan keluar, jadi mereka hanya perlu memfokuskan untuk menahan para zombie di pintu masuk.

Sudah beberapa hari Shania dan Sagha mengungsi ditempat ini. Meskipun tempatnya tidak luas dan banyak sekali penduduk yang berada disini, paling tidak mereka mendapat perlindungan dari serangan zombie.

Sambil bersandar di salah satu patung prajurit, Malam itu Shania sedang menyantap jatah makan malamnya. Meskipun hanya sebuah mie instan, tapi lumayan untuk mengganjal perut.

“Katanya stok makanan udah habis, mesti nunggu dikirim lewat helikopter lagi,” kata Sagha yang datang dan duduk disebelah Shania.

“Gha, gue pengen balik ke Jakarta, kangen kak Melody, kak Ve, sama yang lainnya,” kata Shania.

“Gue juga pengen balik Shan, tapi ga tau gimana caranya, kita cuma bisa pasrah sambil nunggu pemerintah ngebasmi zombie-zombie itu.”

“Ngebasmi dari mana, buktinya zombie makin banyak, tuh pintu masuk aja gue ga yakin bisa nahan lebih lama lagi, lo denger kan kalau malem tuh pintu besi suka bunyi decit decit ga jelas kaya mau jebol.”

“Ya kalau jebol gue juga ga tau harus lari kemana, cuma ada satu pintu masuk, udah lah mendingan tidur aja gue capek.”

Shania melihat ke arah pintu masuk benteng, Memang benar disana sudah dihalangi beberapa meja kayu yang terlihat kokoh, lalu beberapa patung juga sengaja dihancurkan dan batu-batunya dipakai untuk menahan gerbang besi itu.

Tapi tetap saja bagi Shania hanya tinggal menunggu waktu untuk gerbang itu bisa ditembus para zombie. Terlebih kemarin petugas yang mengawasi diatas benteng berkata bahwa zombie diluar sana jumlahnya makin banyak dan banyak juga yang menuju ke arah benteng, mereka tahu didalam benteng banyak warga yang berlindung.

“Nih selimutnya,” kata Sagha, “Bau yak, tipis pula, tapi mau gimana lagi daripada ga dapet sama sekali.”

“Ya udah berdua aja pakenya.”

“Yakin satu selimut berdua? Kemaren-kemaren gue ga dikasih sedikit pun jadinya tidur kedinginan ga pake selimut.”

“Iya gue kasihan juga, makanya nih bagi dua biar enak.”

Malam itu hampir semua penduduk yang mengungsi sudah tertidur. Mereka tidur dimana saja asalkan bisa nyaman untuk beristirahat. Ada yang masuk kedalam gedung dan disana paling banyak dihuni pengungsi. Ada yang bersandar ditembok, ada yang bersandar di patung seperti Shania dan Sagha, dan ada juga yang berbaring dirumput.

Selagi mereka tertidur, mereka semua tidak sadar salah satu skrup yang tertempel di pintu masuk mulai terlepas malam ini. Beberapa benda yang menghalangi pun mulai terdorong. Benar apa kata Shania, hanya tinggal menunggu sampai pintu masuk itu bisa ditembus para zombie.

*to be continued.

Iklan

12 tanggapan untuk “Zombie…, Part7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s