Annihilation part 9

cover-1

“Apa yang terjadi dengan Kelvin ??!” ribuan Iblis langsung bertanya-tanya ketika melihat Pangeran Aidan membawa tubuh pingsan Kelvin

“Tenanglah, Vinze. Kelvin hanya pingsan” ucap Ve

“T.t..tapi bagaimana bisa ?” tanya Stanley dengan cepat

“Ia hanya kehabisan tenaga setelah mengeluarkan api yang besar” kata Pangeran Aidan menatap wajah Stanley

“Stanley, obati Kelvin dan baringkan dia di tepi hutan. Terus berjaga sampai ia sadar” lanjut Pangeran Aidan memerintah

“Baik, Yang Mulia”

Pangeran Aidan menyerahkan tubuh pingsan Kelvin kepada Stanley. Stanley lalu menggotong tubuh Kelvin ke tepi hutan, dibantu dengan Vinze dan  Artha juga.

“Ve, kau beristirahatlah dulu. Kumpulkan tenagamu untuk duel terakhir esok hari” Pangeran Aidan memegang bahu Ve

“Baik, Yang Mulia”

Pangeran Aidan lalu melihat kearah ribuan Iblis di depannya.

“Kalian semua, beristirahatlah ! Masuk ke tenda kalian masing-masing” perintah Pangeran Aidan dengan suara keras

“Siap, Yang Mulia” dengan kompak ribuan Iblis itu menjawab

Memang di saat sebelum perang dimulai beberapa jam lalu, Pangeran Aidan memerintahkan para Iblis untuk membuat tenda di sekitar medan perang, bagaimanapun, perang tidak hanya akan berlangsung selama 1-2 hari saja. Melainkan berminggu-minggu bahkan beberapa bulan.

Pangeran Aidan lalu pergi berlalu dari hadapan Ve dan pasukannya. Ia berjalan masuk ke tenda di tepi hutan, untuk beristirahat sejenak

~

“Haah haah haah, sampai kapan kita harus berlari, Padris ?” tanya Shani yang sudah kelelahan, nafasnya sudah terengah-engah

“Entahlah, yang jelas, kita harus menjauh dari Para Iblis itu”

“Kenapa kita tidak terbang saja ?” tanya Shani

“Jika kita terbang, jelas kita akan mudah terlihat oleh mereka. Terlebih lagi sayap kita berwarna putih, sangat menarik perhatian para Iblis” jelas Padris

Shani baru menyadari dengan perkataan Padris ada benarnya, dalam kondisi segenting ini, mereka berdua tidak boleh terbang begitu saja.

“Heei.. tidakkah kalian menyadari, seperti ada terdengar derap langkah berlari ?” tanya seorang Iblis Lucyfer

“Kau benar”

“Tapi, sekarang sudah tidak terdengar lagi”

“Mungkin hanya perasaanmu saja”

Sekelompok Iblis itu adalah Iblis dari Lucyfer, mereka memutuskan masuk ke hutan lebih dulu daripada yang lainnya. Tujuan mereka kesana adalah untuk mencari beberapa bangkai hewan untuk dimakan.

“Fyuuuh.. untunglah mereka tidak menyadari keberadaan kita” Padris menghela nafas lega sambil bersandar pada sebuah batang pohon, tangannya masih memegang tangan Shani

Nafas keduanya terengah-engah kelelahan

“Bisakah kau lepaskan tangan..ku ?” Padris langsung menyadari dan buru-buru melepaskan tangannya dari Malaikat Wanita disampingnya

“M….ma.maaf” Shani tertawa kecil

“Hehe.. tidak apa-apa” Padris memalingkan wajahnya.

“Gabriel menyebalkan, memberikan tugas berbahaya seperti ini” Padris mengeluh sendiri dengan suara pelan

“Hihi, berhentilah mengeluh, Padris”

“Tapi.. memang kenyataannya seperti itu. Aku benci Gabriel” Padris terus saja tidak berhenti mengeluh

“Jadi.. apakah kita sudah bisa terbang ? aku benar-benar ingin cepat pulang” ucap Shani dengan wajah yang lemas tertunduk

Padris menjadi tidak tega dengan Malaikat Wanita di sampingnya

“A..aku mengerti Shan, aku juga sama, ingin segera pulang.. t..tapi keadaan memang tidak memungkinkan sekarang” baru saja Padris berkata seperti itu sebelum terdengar derap langkah kaki lagi dari arah depan mereka

“Sial.. nampaknya ada ratusan Iblis sedang menuju kemari” gumam Padris pelan

“B..b..benarkah ? a..a.apa yang harus kita lakukan ?” Shani sudah panik dan ketakutan

Disisi depan ada Iblis yang mendekat, sementara jika mereka lari kebelakang, mereka akan bertemu beberapa Iblis yang tadi. Hari yang sial, keadaan mereka
benar-benar tersudut saat ini.

“T..Tak ada pilihan lain, keluarkan sayapmu” keluarlah kedua sayap putih Padris

“B..baik” tak lama kemudian Shani juga mengeluarkan sayap putihnya

~

“Kau yakin Kelvin akan baik-baik saja, Vinze ?”

“Tentu saja, ia sudah kuberikan obat, beberapa saat lagi, ia pasti siuman” balas Vinze sambil keluar tenda

“Syukurlah, aku benar-benar takut ia akan mati”

“Ayolah, Art. Kau benar-benar paranoid. Kelvin bukan Iblis yang gampang mati begitu saja” balas Vinze sambil tertawa, ia merangkulkan tangannya ke pundak
Artha

“Semoga saja”

Kedua Iblis itu duduk di depan tenda Kelvin berada, sedang menikmati kabut-kabut berwarna putih yang menenangkan, Vinze melihat-lihat kearah langit sebelum akhirnya ia tersadar ada sesuatu yang aneh.

“Heeei…i..ii..itu ? Vinze menunjuk kearah langit

“Ada apa, Vinze ?”

“Itu !! Ada malaikat disini” Vinze tak berhenti menunjuk kedua sosok yang terbang, dengan sayap putih

“Eh. i..iya kau benar”

“Ayolah Art ! kita tangkap mereka. Ada Malaikat di Bumi, merupakan pemandangan yang jarang ditemukan” Vinze langsung mengeluarkan sayapnya

“Betul sekali, Pangeran Aidan pasti akan senang jika kita berhasil menangkap salah satu dari Pasukan Malaikat

“Heeei.. kaliaan ! bawalah beberapa pasukan, aku menemukan Malaikat di langit Bumi” perintah Vinze dengan cepat kepada salah satu Iblis di depannya

“E..eh. t.”

“Cepatlah, ini akan sangat menyenangkan”

“Baiklah” Iblis yang diperintah, langsung mencari beberapa pasukan untuk membantu Artha dan Vinze menangkap Malaikat

Dengan cepat, Vinze dan Artha mengejar dengan kecepatan penuh, keduanya sangat
bersemangat sekali dalam memburu Malaikat. Seperti seekor hewan buas kelaparan yang melihat mangsa di depannya

“Padris !!!”

“Ada apa, Shani ?” tanya Padris

“Ada dua sosok Iblis mengejar kita” Padris melihat kearah belakang, dan benarlah perkataan Shani. Ada dua sosok bersayap hitam tengah mengejar dirinya dan Shani

“Teruslah terbang, jangan lihat belakang !!” Padris terus menambah kecepatan terbangnya, Shani juga berusaha mengikuti Padris

“Sial !!” keluh Padris berkali-kali

“Shan, kau terbanglah duluan di depan”

“Bagaimana denganmu ?” tanya Shani khawatir

“Aku urus mereka sebentar” Padris
berhenti terbang dan membalikkan badannya kebelakang

“T.t..tapi..” Shani masih tidak tega meninggalkan Padris

“Kubilang, terbanglah !!!” teriak Padris

Langsung saja Padris melempar Roost Apinya dengan cepat kearah dua Iblis yang mengejarnya.

“Siapakah kau, Malaikat ? apakah kau benar-benar cari mati dengan berkunjung ke Bumi ?” teriak Vinze dengan lantang

“Kau tidak perlu tahu, diamlah kau Iblis bodoh” Padris mengeluarkan Roost Api dari tangannya

Vinze dengan gesit menghindar dan balik menyerang dengan Roost Lisriknya, Artha dengan Roost Anginnya. Padris berusaha sekuat tenaga untuk melawan dua Iblis yang mengejarnya. Api terus saja keluar dari tangannya, beberapa meleset, tetapi ada juga yang mengenai lengan Artha sehingga Iblis tersebut mendapat luka bakar yang cukup besar

“Ughh.. dia berhasil menyerangku, Vinze”

“Bertahanlah, kita serang dia, Art” Vinze dan Artha kembali mengirimkan berbagai jenis Roost sehingga membuat Padris kewalahan. Bagaimanapun dua melawan satu tidaklah sepadan

“Matilah kau, Malaikat” Padris sudah kelelahan, dari arah depan, datang Roost Angin sekaligus Es yang melesat dengan cepat. Padris sudah pasrah jika ia tertangkap atau mati saat itu

CTAAAR

Timbul ledakan cukup besar

“E..eh” Padris kaget ketika mengetahui tubuhnya masih utuh, ia melihat kearah belakang

“S..shani”

“Kau tidak bisa sendirian, Padris”

Ledakan tadi ditimbulkan dari Roost Es yang dikeluarkan Shani, dan berbenturan dengan Roost Es dan Angin milik Vinze dan Artha

“S.sudah kubilang.. kau pergilah”

“Aku tidak bisa meninggalkanmu”

“Kau sangat keras kepala” kesal Padris

“Waaah waah waah.. ternyata ada Malaikat cantik disini” ucap Vinze sambil menepukkan tangannya, ia melihat Shani dari atas sampai bawah

“Diamlah kau, Iblis sialan” Padris tersulut emosinya karena tatapan melecehkan Vinze kepada Shani

“Woowww.. kau sangat bernyali Malaikat” balas Vinze tak mau kalah

Padris tidak membalas lagi perkataan
Vinze, melainkan langsung menyerang kembali kedua Iblis di depannya.

Dalam sekejap, keempatnya terlibat dalam pertarungan besar di udara. Sambil sesekali Padris dan Shani terbang menjauh. Tetapi itu semua seakan tidak berguna karena Vinze dan Artha terus mengejar mereka.

“Menyerahlah, kalian” Artha tersenyum sinis sambil tetap mengeluarkan Roostnya

“Huuh, kau bercanda” jawab Padris

Setelah beberapa lama mereka bertempur, tiba-tiba saja dari arah belakang Vinze dan Artha, terlihat beberapa puluhan Iblis yang terbang mendekati mereka

“Habislah kalian, bala bantuan sudah datang” senyum Vinze penuh kemenangan

“S..sial” Padris terus berusaha terbang menjauh sambil menarik tangan Shani

Disaat Padris dan Shani berusaha terbang kabur, tiba tiba saja ada puluhan anak panah dan roost melesat kearah mereka.

CREEP CREP CREEP

Padris mengorbankan tubuhnya agar Shani tidak terkena satu anak panahpun, puluhan
panah sudah tertancap di sayap, lengan atau tubuhnya

“PADRIS !!” teriak Shani dengan wajah khawatir, ia memegangi tubuh Padris
yang sudah lemas tak bertenaga

“Uggh” Padris hanya bisa merintih menahan sakit

“K..k..kau pergi saja, jangan pedulikan aku” perintah Padris kepada Shani

“Ti..tidak.. aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian” Shani terus saja keras kepala dan menolak pergi

“Menyerahlah kalian” Vinze langsung mengeluarkan Roost Es nya, dalam sekejap,
tubuh Shani menjadi membeku tak bergerak, ia sudah berusaha mengeluarkan Roost Api untuk mencairkannya, tapi tidak berhasil

“SHANI !!” teriak Padris, beberapa tentara Iblis langsung mendekati Padris dan Shani untuk menangkap kedua buruan mereka

“Hahaha” Vinze tertawa penuh kemenangan

“Aku harus melaporkan ini ke Gabriel” batin Padris sambil memegang dadanya, ia memikirkan cara untuk segera kabur dan terbang cepat ke Surga

Disaat salah satu tentara Iblis berniat menyentuh Padris, dengan sisa-sisa tenaga yang dikumpulkan oleh Padris, ia mengeluarkan Roost Api dari dalam tubuhnya. Sontak si tentara Iblis terkejut dan menjauhkan tangannya dari tubuh Padris

“Beraninya kau” geram si tentara Iblis
marah

“M..ma..maafkan aku Shan, aku akan segera menyelamatkanmu” dengan memanfaatkan
kelengahan tentara Iblis tadi, Padris kabur kembali ke Surga. Meskipun sayapnya sudah terluka, Ia masih sanggup untuk terbang.

Maksud ia meninggalkan Shani disini bukanlah tanpa alasan dan merupakan tindakan pengecut, ia merasa kondisi lebih baik bila jika ia pulang terlebih dahulu ke Surga dan memberitahukan kejadian perihal tertangkapnya Shani kepada Gabriel

“Sial.. Malaikat yang itu berhasil kabur” keluh tentara kesal

“Biarkan saja dia, yang penting kita
sudah menangkap satu” gumam Vinze sambil melirik kearah Shani yang masih terkurung dalam es

Beberapa tentara Iblis mengelilingi selubung Es yang membekukan Shani, Vinze dan Artha secara bersamaan mencairkan Es tersebut dengan Roost Api mereka. Tak lama kemudian, begitu Es sudah mencair, dengan cepat tentara-tentara Iblis yang di sekeliling Shani langsung menangkap Shani dan mengikat tangannya kebelakang

“Uggh.. l..lepas..lepaskan aku” Shani berusaha meronta, namun kekuatan seorang wanita tidaklah berarti dengan kekuatan beberapa Iblis pria.

“Diaam.. kau”

“Hehe.. kita mendapatkan Malaikat Cantik”

“Ayo kita bawa kepada Yang Mulia Aidan” berbagai kalimat muncul dari mulut Iblis-iblis yang menangkap Shani itu

“Betapa cantiknya dia” ada salah satu Iblis yang berniat melecehkan Shani, ia mengangkat dagu Shani dan mengelus pipinya pelan.

Dibawalah seorang Malaikat Wanita yang malang itu kepada seorang Raja Iblis yang berada di dalam tenda tepi hutan. Menanti dengan cemas apa yang akan terjadi selanjutnya, Shani bahkan sudah pasrah jika dirinya disiksa atau mati nantinya. Mulutnya tak henti-hentinya merapalkan doa kepada Tuhan Yang Kuasa.

*To Be Continued*

Created by : @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s