Vepanda part 17

“Gapapa,” jawab Sinka tersenyum.

“Beneran gapapa?” Rezza mendekatkan wajahnya.

“Iya sayang, aku gapapa kok,” Sinka mencubit manja pipi Rezza.

“Males-males,” ucap Naomi dan Melody bersamaan lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Makanya cari pacar, hihihi…,” ledek Sinka sambil tertawa kecil.

Kemudian Rezza dan Sinka menyusul Melody dan Naomi yang sudah terlebih dahulu ke bioskop.

“Wuihhh udah jalan sama cewek aja lu,” ucap seseorang tiba-tiba merangkul Rezza.

“Apaan sih?! Ganggu aja lu,” Rezza melepaskan rangkulan orang itu.

“Kamu sendirian aja?” tanya Sinka.

“Iya nih, sendirian aja kaya kiper, hahaha…,” jawab orang itu tertawa.

“Emang Yupi mana?” tanya Rezza sambil menatap orang itu dengan polos.

“Di rumah,” jawab orang itu yang ternyata adalah Najong.

“Kenapa nggak diajak main?” Sinka menatap Najong dengan heran.

“Katanya sih lagi jagain adeknya,” Najong mengangkat kedua bahunya.

“Kenapa nggak diajak main sekalian adeknya?”

“Gue kapok jalan bertiga sama adeknya Yupi, jajannya banyak banget kampret, hahaha….”

“Ya itu resiko lah, sekalian perjuangan ngerebut hati adeknya yupi biar bisa nerima kamu.”

“Resiko sih resiko, tapi jangan yang bersangkutan ama duit lah kalo bisa, hehehe….”

“Udah ah, pergi sono lu, gangguin orang aja,” suruh Rezza sambil mendorong Najong.

“Sensi amat lu, kaya emak-emak lagi PMS, hahaha…,” ucap Najong tertawa lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

~oOo~

Rezza, Sinka, Melody dan Naomi kini sudah berada di dalam sebuah foodcourt untuk makan siang setelah selesai menonton film di bioskop.

“Gimana tadi filmnya?” tanya Naomi.

“Bosenin, bikin ngantuk,” jawab Rezza dengan muka datar.

“Iya, ngebosenin filmnya,” ucap Sinka menyandar dibahu Rezza.

“Kan kamu sendiri za yang beli tiketnya,” Melody menatap Rezza dengan datar.

“Tadi udah abis tiket film yang lain, makanya aku beli itu aja, hehe…,” ucap Rezza nyengir.

Drrrtt… drrrtt… drrrtt…

Naomi langsung mengambil smartphone-nya dan membaca pesan yang baru saja masuk.

“Siapa mi?” tanya Melody.

“Nyokap,” jawab Naomi lalu kembali meletakkan smartphone-nya ke atas meja.

“Ada apa kak?” tanya Sinka bangkit dari bahu Rezza.

“Gapapa, cuma nyuruh pulang doang,” jawab Naomi.

“Yaudah abis makan kita langsung pulang aja,” ucap Melody.

“Ini pesanannya,” ucap seorang yang datang sambil membawa pesanan mereka berempat.

Pelayan itu meletakkan pesanan ke atas meja lalu pergi lagi.

“Kamu nggak pesen makanan sin?” tanya Melody.

“Enggak kak, aku masih kenyang sama es krim tadi,” jawab Sinka lalu meminum jus pesanannya.

Kemudian Rezza, Naomi dan Sinka menyantap makanan mereka. Sedangkan Sinka hanya mimun sambil main smartphone-nya.

“Kamu main apa sih?” tanya Rezza menoleh ke arah Sinka yang sedang asik main game di smartphone-nya.

FIFA 16,” jawab Sinka tanpa menoleh.

Kemudian Rezza kembali makan sambil sesekali menyuapi Sinka dengan makanannya.

Selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Setelah sampai di rumah Rezza, Naomi dan Sinka langsung pulang kee rumah mereka.

-di rumah Sinka-

Tok… tok… tok…

“Bangun sin!” teriak Naomi dari luar kamar Sinka.

Tidak terdengar jawaban Sinka dari dalam kamarnya.

“Sin…,” Naomi membuka pintu kamar Sinka dan masuk ke dalam.

“Eh? tumben kasur Sinka udah rapi,” ucap Naomi heran sambil berjalan menuju kasur Sinka.

“Kakak ngapain?” tanya Sinka keluar dari kamar mandi.

“Tumben kamu udah bangun, siapa yang bangunin?” tanya Naomi menghampiri Sinka.

“Kepoo…, wleeekk,” jawab Sinka lalu menjulurkan lidahnya.

“Pasti Rezza ya yang bangunin,” goda Naomi.

“Sotoy banget sih kakak, orang mama yang bangunin,” ucap Sinka.

“Udah ah sana kakak keluar, aku mau ganti baju,” suruh Sinka sambil mendorong Naomi keluar kamar.

Setelah mendorong Naomi keluar dan menutup pintu, Sinka langsung ganti baju dan pergi ke ruang makan untuk sarapan.

“Kak,” Sinka menoleh ke arah Naomi yang sedang makan di sebelahnya.

“Apa?” tanya Naomi sambil memakan nasi gorengnya.

“Nanti kakak gausah jemput, aku mau jalan-jalan dulu sama temen-temen.”

“Ciee… yang mau jalan-jalan sama pacarnya.”

“Sinka udah punya pacar?” tanya Mamanya Sinka.

“Udah ma, adeknya temen aku,” jawab Naomi.

“Kakak apaan sih?! Kan yang ditanya aku!” ucap Sinka cemberut.

“Bawa ke rumah dong, mama pengen kenalan,” goda Mamanya Sinka terseyum nakal.

“Ihhh! mama genit banget sih?” tanya Naomi sambil mengernyitkan dahinya.

“Ntar pulang main aku ajak kesini, kalo mau,” ucap Sinka lalu lanjut memakan nasi gorengnya.

Selesai sarapan, Sinka diantar Naomi berangkat ke sekolahnya.

Beberapa menit kemudian mereka sampi di depan sekolah Sinka.

“Nanti kakak nggak perlu jemput kan?” tanya Naomi sebelum Sinka keluar dari mobil.

“Iya kak,” jawab Sinka mencubit pipi Naomi lalu keluar dari mobil.

“Nih anak kenapa sih?” batin Naomi.

“Setelah Sinka keluar dari mobil, Naomi lanjut berangkat ke sekolahnya.

Suasana sekolah bisa dibilang lumayan sepi, hanya ada beberapa murid saja yang baru berangkat. Saat Sinka berjalan menuju kelasnya, terlihat ada seseorang yang sedang berlari menyusulnya.

“Hai kak…,” sapa orang itu setelah berada di sebelah Sinka.

“Hai…,” Sinka menoleh ke orang itu.

“Kamu Shani kan?” tanya Sinka.

“Iya kak,” jawab Shani tersenyum.

“Kamu kelas 10 berapa?”

“10 satu kak.”

Sinka hanya mengangguk-nganggukan kepalanya.

“Aku boleh nanya nggak kak?” tanya Shani.

“Boleh kok, mau nanya apa?” Sinka menoleh ke arah shani sambil tersenyum.

“Kak Sinka suka sama kak Rezza?”

“Hmmm…, kenapa nanya gitu?”

“Gapapa, pengen tau aja, soalnya kak Sinka keliatannya deket banget sama kak Rezza, hehe….”

“Iya, aku suka sama Rezza, baru kemaren juga aku sama dia jadian,” ucap Sinka sambil tersenyum.

Mendengar itu, Shani tiba-tiba berhenti berjalan.

“Kamu kenapa berhenti?” tanya Sinka berhenti dan menoleh ke arah Shani.

“Eh, enggak, gapapa kok kak,” jawab Shani tersenyum lalu berjalan lagi di sebelah Sinka.

“Gawat nih kalo Gre sampe tau kak Sinka udah jadian sama kak Rezza,” ucap Shani dalam hati.

“Kamu mikirin apa?” Sinka menatap Shani penasaran.

“Eh? anu…, aku lagi mikirn PR,” jawab Shani berbohong.

“Ohh…,” Sinka hanya mengangguk-ngangguk.

“Aku duluan ya kak, mau ngerjain PR dulu,” ucap Shani lalu berlari meninggalkan Sinka.

“Iya, hati-hati jatoh!” teriak Sinka karena Shani sudah mulai jauh.

Kemudian Sinka lanjut berjalan ke kelasnya sendirian.

-di rumah Rezza-

“ZAAAA!!” teriak Melody sambil mengguncang-guncang tubuh Rezza.

“Arrrggghhh! Apaan sih?!” tanya Rezza tanpa bangun dari tidurnya.

“Udah jam setengah 7, kamu mau sekolah nggak sih?!” Melody memarahi Rezza tepat di depan telinganya.

“Iya bentar, aku telat aja, males ikut upacara,” Rezza kembali menarik selimutnya.

“Yaudah kalo gitu, tapi cepetan sana mandi, kakak berangkat duluan,” ucap Melody lalu keluar dari kamar Rezza.

Setelah terdengar mobil Melody, Rezza baru bangun dari tidunya dan langsung mandi. Selesai mandi dan ganti baju, Rezza berjalan menuju ruang makan untuk sarapan.

Setelah sarapannya habis, Rezza tidak langsung berangkat sekolah, ia malah minum kopi sambil merokok di ruang makan.

Drrrtt… drrrtt… drrrtt…

Rezza langsung mengambil smartphone-nya dari saku celana.

“Hallo?” Rezza mengangkat telfon Sinka yang masuk.

“Sayang, kamu di mana?” tanya Sinka dibalik telfon dengan nada khawatir.

“Masih di rumah,” jawab Rezza sambil menghisap rokoknya.

“Kok masih di rumah? Ini kan udah jam 7!” Sinka memarahi Rezza.

“Umm… anu, a-aku kesingan, iya kesiangan,” ucap Rezza dengan panik yang menggebu-gebu.

“Yaudah cepetan sekarang berangkat! Aku nggak mau tau pokoknya kamu berangkat ke sekolah sekarang!” suruh Sinka lalu menutup telfonnya.

30 menit sudah berlalu sejak Sinka menelfon Rezza, namun ia belum juga beranjak dari ruang makan. Ia baru saja selesai meminum kopi dan menghisap rokoknya.

“Eh kampret, udah jam setengah 8 aja nih,” ucap Rezza saat melihat jam di smartphone-nya.

Setelah mengambil tas, memakai jaket dan sepatu, Rezza berangkat menuju sekolah dengan motor matic-nya.

Karena jalanan sepi, Rezza hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai ke sekolahnya. Ia memakirkan motornya di depan sekolah karena gerbang sedang tutup.

“Dari mana aja kamu jam segini baru berangkat?!” bentak satpam yang sedang berdiri di depan pos satpam.

“Anu pak, saya kesiangan, sama ban motor saya tadi bocor jadi harus dorong nyari tukang tambal ban dulu,” jawab Rezza sambil nyengir.

“Yaudah cepetan kamu naik ke lapangan sana!” suruh satpam yang berkumis tebal itu.

“Kok naik pak? Biasanya juga disuruh berdiri disini.”

“Sekarang enggak! Udah cepetan sana!”

Kemudian Rezza lari menuju lapangan tempat upacara.

Saat sampai di lapangan upacara, langkah Rezza tiba-tiba terhenti. Semua orang yang mengikuti upacara langsung menoleh ke arahnya, sedangkan Rezza hanya celingak-celinguk seperti orang hilang.

“Kamu kenapa telat?!” bentak pembina upacara yang sedang berpidato.

“Ng… anu, kucing saya mati pak, jadi saya harus ngubur kucing saya dulu, hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

“Lepas jaket sama tasnya! Terus kesini!” suruh pembina tadi.

Kemudian Rezza meletakkan jaket dan tasnya ke atas tanah dan berlari ke samping pembina.

Entah siapa yang menyuruh, tiba-tiba seorang petugas upacara memberikan sebuah mic kepada Rezza setelah ia berdiri di sebelah pembina upacara.

“Kamu kenapa telat?” tanya pembina upacara menatap tajam ke arah Rezza.

“Kesiangan pak, hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

“Pake mic-nya!” suruh pembina upacara dengan kesal.

“Eh iya, kesiangan pak,” ucap Rezza dengan mic dan nyengir kuda.

“Kenapa bisa kesiangan?”

“Hmmm…, kalo dulu sih cita-cita saya pengen jadi presiden pak, tapi kalo sekarang pengen jadi menantu bapak aja deh.”

“Anak saya cowok semua coeg!”

“Yaudah bikin lagi pak yang cewek, hehe….”

“Okelah, bisa diatur kalo itu, hahaha….”

Semua peserta upacara yang para guru hanya tertawa melihat Rezza dan pembina upacara itu.

“Kamu ini, udah dateng telat, nggak pake topi, baju juga nggak rapi, malah ngelawak,” ucap pembina upacara menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Itulah saya pak,” ucap Rezza dengan bangga.

“Udah sana kamu ke barisan kelas kamu,” suruh pembina upacara.

Rezza diam sebentar melihat semua peserta upacara dari kelas 10 sampai kelas 12 yang sedang menatapnya.

NGIIIIIIIIINGGG!!!

Terdengar suara yang sangat keras dari speaker setelah Rezza tiba-tiba menjatuhkan mic-nya. Sontak semua orang yang ada di lapangan upacara menutupi telinga mereka, sedangkan Rezza berlari ke barisan kelasnya sambil tertawa jahat.

“Adek kamu parah banget sih mel, hahaha…,” ucap teman Melody yang berdiri di sebelahnya.

“Hehehe… ya gitulah adek aku,” Melody hanya cengengesan.

“Duhh sialan si Rezza, bikin malu aja,” batin Melody.

Kemudian upacara dilanjutkan dengan normal sampai selesai.

~oOo~

“Kamu tadi kenapa telat?!” Sinka memarahi Rezza saat ia menghampirinya di dalam kelas.

“Ng… anu, tadi kesiangan, hehe…,” Rezza cengengesan lalu duduk di sebelah Sinka.

“Alesan!” ucap Sinka kesal lalu memalingkan wajahnya.

“Kamu niat nelat kan?” tanya Yupi menatap tajam ke arah Rezza.

“Ng-nggak lah, buat apa nelat segala,” jawab Rezza terlihat panik.

“Tadi gue dikasih tau kak Melody kalo lu mau nelat,” ucap Najong sedikit berbisik kepada Rezza.

“Arrgghhh! Kenapa lu pake kasih tau yang laen sih!” Rezza menatap kesal ke arah Najong.

“Hehe… sorry, gue nggak mau boong sama pacar gue sendiri,” Najong nyengir kuda.

“Sampe kapan kamu mau kaya gini za,” ucap Yupi menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hehehe…,” Rezza hanya cengengesan.

“Sin, jangan ngambek dong,” ucap Rezza memegang bahu Sinka.

“Siapa juga yang ngambek,” Sinka melirik sinis ke arah Rezza lalu membuang muka lagi.

“Ntar aku beliin es krim deh,” bujuk Rezza.

“Tumben lu manggilnya aku kamu, biasanya juga elu gue, hahaha…,” ucap Najong tertawa.

“Diem lu kampret!” Rezza menatap Najong dengan kesal.

“Sin,” Rezza menguncang bahu Sinka.

“Apaan sih?!” tanya Sinka menatap Rezza dengan kesal.

“Maafin aku ya, ntar aku beliin es krim kaya yang kemaren deh,” jawab Rezza dengan wajah memelas.

“Beneran?” tanya Sinka dengan senyum girang.

“Iya beneran,” jawab Rezza mengangguk.

“Ahhhh!! Makasih,” ucap Sinka memeluk Rezza.

“Eh-eh? kok meluk-meluk?” tanya Yupi menatap Sinka dan Rezza dengan heran.

“Eh?” Sinka terlihat kaget lalu melepaskan pelukannya.

“Kalian udah pacaran?” tanya Yupi dengan heran.

“Udah, baru kemaren jadiannya,” jawab Sinka tersenyum.

“Makan-makan dong!” teriak Najong tiba-tiba sehingga membuat seisi kelas menoleh ke arahnya.

“Lu apa-apaan sih?!” Rezza menatap Najong dengan kesal.

“Makan-makan acara apa jong?” tanya salah seorang murid.

“Acara pajak jadiannya Rezza sama Sinka, huahahaha…,” jawab Najong berteriak lalu tertawa jahat.

“Beneran za lu udah jadian sama Sinka?” tanya Abduh dengan sedikit berteriak.

“Yakali gue boong soal gituan,” jawab Rezza dengan muka datar.

“Ntar istirahat traktir kantin lah, hahaha….,” ucap Gasa tertawa.

“Gampang lah kalo itu,” ucap Rezza mengacungkan jempolnya ke atas.

Kemudian seorang guru masuk ke kelas Rezza dan memulai pelajaran seperti biasa.

Selama pelajaran, Rezza terus menerus menganggu Sinka yang sedang mencatat. Entah dengan sengaja menyenggol tanggannya, mencubit pipinya, atau mencium pipinya saat guru tidak melihat ke arah mereka. Sinka menanggapi semua itu dengan senyuman dan tamparan manja dipipi Rezza.

Tak terasa sekolah hari ini telah selesai, semua siswa berhamburan keluar kelas untuk pulang. Berita tentang Rezza pacaran dengan Sinka juga sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah, mereka menjadi trending topic di sekolah hari ini.

Sekarang Rezza dan Sinka sedang dalam perjalanan menuju sebuah taman kota, mereka juga bersama dengan Yupi dan Najong.

“Kita kesini mau ngapain sih?” tanya Sinka lalu turun dari motor.

“Entahlah, aku juga belom tau mau ngapain kesini, hehe…,” jawab Rezza nyengir kuda.

Kemudian Sinka melepas helmnya dan menatap datar ke arah Rezza.

“Duduk disana yuk,” ajak Yupi menarik tangan Sinka menuju sebuah bangku panjang di bawah pohon.

“Kita mau ngapain kesini?” tanya Najong duduk di sebelah Yupi.

“Gapapa, aku lagi males langsung pulang aja,” jawab Yupi menyandarkan kepalanya di bahu Najong.

“Rezza mana jong?” tanya Sinka menoleh ke arah Najong.

“Lagi beli es krim sama minum,” jawab Najong tanpa menoleh ke arah Sinka.

“Ohh…,” Sinka mengangguk paham.

Beberapa menit kemudian Rezza tiba di bangku tempat Sinka, Yupi dan Najong duduk.

“Kamu kenapa?!”

*to be continue*

Author : Luki Himawan.

 

Note: Akhirnya setelah sebulan vakum, nih ff bisa update lagi. Sebelumnya sorry kalo part ini lebih pendek dari biasanya, soalnya gue lagi sibuk banget ngurus masa depan gue yang masih suram ini :v

Gue juga mau kasih tau kalo ff ini jadwal updatenya bakal berantakan, kenapa? Karena gue belom nyiapin beberapa part selanjutnya, bukan nggak nyiapin sih, tapi lebih tepatnya males nulis. Kalo RAW buat beberapa part selanjutnyasih udah ada, cuma guenya aja yang sibuk + males :v

Beberapa hari sebelum vakum sebenernya gue udah namatin nih ff, tapi pas gue edit ternyata malah jadi berantakan alurnya, itulah alasan sebenernya kenapa nih ff vakum kemaren. Jadi selama vakum gue sebenernya coba ngedit lanjutan nih ff biar gampang dipahami alurnya, tapi ternyata tetep aja gabisa diperbaiki -,-

Kalo kalian mikir apa kesimpulan note ini, gue kasih tau. Kesimpulannya adalah, nih ff bakalan aktif lagi mulai sekarang, tapi jadwal updatenya doang yang berantakan, dan yang terakhir, makasih juga buat active reader ato silent reader yang udah baca ff gajelas ini, semoga kalian nggak bosen sama jalan ceritanya J).

Udah gitu aja.

Iklan

4 tanggapan untuk “Vepanda part 17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s