Janjiku Untuk Desy Part 6

des

Panik, benar-benar panik. Itulah yang aku rasakan saat ini. Gimana nggak panik kalau hari ini aku terlambat pergi kerja. Yang membuat aku tambah panik adalah bosku, Melody, yang membangunkanku lewat ponselku dan memberitahuku sambil marah-marah kalau sekarang sudah jam satu siang. Bukan cuma itu saja, Melody kalau tahu ada pegawainya terlambat sepertiku, dia tidak akan segan-segan ngasih hukuman atau yang lebih parah potong gaji.

Memang ini salahku juga, kenapa bisa bangun kesiangan? Itu semua nggak bakal terjadi kalau tadi malam aku tidak terlalu lama mengobrol dengan Naomi di mini market, belum lagi mengantarnya pulang yang jarak rumahnya lumayan jauh. Setelah itu, teleponan dengan Desy sampai jam empat pagi karena dia nggak bisa tidur. Akhirnya, gara-gara itu aku jadi kesiangan. Aku sih tidak menyalahkan siapapun, toh itu hanya kebetulan saja.

 

Pokoknya aku harus cepat-cepat berangkat supaya nggak kena hukuman yang lebih parah. Akupun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, membasuh badan pake sabun, lalu sikat gigi. Oke, itu mandi namanya. Sebenarnya aku hanya ingin cuci muka saja karena aku sudah telat banget, tapi instingku mengatakan kalau aku harus mandi.

 

Setelah semua siap, akupun bergegas berangkat menuju cafe dengan motorku. Kemudian kunyalakan motorku. Sial. Ini motor nggak mau nyala-nyala. Aku terus mencoba menyalakan motorku, tapi tetap tidak mau nyala.

 

“Ayolah Monic, jangan ngambek dong… Aku udah telat banget nih…” ucapku kepada motor matic-ku. Sepertinya aku sudah gila, berbicara dengan motorku sendiri, apalagi memberi nama Monic pada motorku. Ya, mau bagaimana lagi? Motor ini sudah jadi barang kesayanganku.

 

“Monic, nyala dong. Please…” Aku terus mencoba menyalakan motorku, tapi tetap tidak bisa.

 

“Loh Nak Aryo, kenapa bicara sama motor?” tanya Pak Uun yang tiba-tiba datang menghampiriku. Pak Uun ini adalah pemilik kosan ini. Beliau setiap hari selalu memantau kondisi kos-kosannya.

 

“Eh bapak. Ini pak, motor saya nggak bisa nyala-nyala padahal saya mau berangkat kerja, udah telat banget,” jawabku sambil memukul pelan si Monic.

 

“Oh. Nak Aryo pakai bus saja. Nih saya kasih ongkosnya.” ucap Pak Uun seraya memberikan selembar uang sebesar lima puluh ribu rupiah.

 

“Waduh, nggak kebesaran ini, Pak? Ongkos naik bus aja nggak sampai segini.”

 

“Udah ambil aja. Hitung-hitung rejeki, soalnya kemarin saya menang kontes balap merpati,” kata Pak Uun dengan bangganya.

 

“Tadinya saya mau kasih pinjem motor saya ke kamu, tapi ternyata motor saya mogok juga, hahaha,” tambah Pak Uun.

 

“Oh iya, nggak apa-apa kok, Pak. Ini aja udah cukup kok. Terimakasih Pak.”

 

Sebenarnya dengan kondisiku yang seperti ini, aku harap Pak Uun mau meminjamkan motornya. Tapi sayang, ternyata motornya mogok juga. Tapi untungnya beliau dengan sukarela memberi ongkos padaku agar naik bus saja. Ya, mungkin inilah yang dinamakan ‘Keberuntungan ditengah kesialan’.

 

Tanpa menunggu lama lagi, akupun berlari meninggalkan kosan. Tujuanku yang pertama adalah halte, disitu aku harus menunggu bus yang akan mengantarku ke cafe tempatku bekerja. Setelah sampai disana, aku langsung duduk sambil menunggu bus datang.

 

Lima belas menit aku menunggu, bus tidak kunjung datang. Buset, lama bener ini bus datangnya. Kalau kaya gini terus aku bisa kena hukum Melody. Aduh, betapa sialnya aku hari ini.

 

Sedang asik-asiknya aku duduk termenung sambil menunggu kedatangan bus, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depan halte yang aku tempati.

 

“Aryo!” panggil seseorang diatas motor itu.

 

Aku menoleh kearah sumber suara. Betapa kagetnya aku melihat siapa sosok orang itu. Dia adalah Rona. Karena saking kagetnya, mulutku sampai menganga.

 

“Rona?”

 

“Kamu ngapain diem disitu, Yo?” tanya Rona.

 

Yang ada dalam pikiranku setelah melihat kedatangan Rona yaitu, motor. Ya, motor. Aku berfikir kalau dengan adanya motor aku bisa cepat sampai ke cafe. Nah, kebetulan Rona datang bawa motor. Ini saatnya aku untuk memakai motornya.

 

“Rona, kamu mau kemana?” Aku mencoba memastikan tempat tujuan Rona terlebih dahulu.

 

“Aku mau ke mall dua huruf. Kenapa emangnya?” tanya Rona balik.

 

“Anterin aku ke cafe bisa? Udah telat banget soalnya.”

 

Rona yang mendengar itu tersenyum-senyum sendiri. “Yaudah, ayo aku anterin. Tapi kamu aja yang bawa motornya ya.”

 

“Iya.” Akupun langsung menghampiri motornya dan naik diatas motornya. Sedangkan Rona pindah tempat duduk ke jok belakang.

 

“Kamu bawa helm dua?” tanyaku.

 

“Bawa kok, itu ngegantung dibawah stang,” jawab Rona sambil menunjuk helmnya.

 

“Oke, aku pake ya helmnya.”

 

Rona mengangguk pelan.

 

Setelah semua siap, akupun menyalakan mesin motor Rona.

 

“Rona, pegangan kuat-kuat. Aku udah telat banget soalnya,” kataku sambil bersiap memutar gas motornya.

 

“Eh?”

 

“Udah jangan pake lama, cepet pegangan!”

 

Akhirnya Rona berpegangan padaku, lebih tepatnya dia memelukku dari belakang. Aku sengaja menyuruh dia untuk pegangan, soalnya aku akan membawa motornya dalam kecepatan penuh karena aku sudah telat banget masuk kerja. Setelah semua siap, akupun langsung memacu motornya dengan kecepatan penuh.

 

****

 

Kini aku dan Rona sudah sampai di cafe. Rona turun dari motornya dengan kaki gemetar. Nampaknya dia shock setelah aku bonceng tadi.

 

“Gila kamu!! Bawa motornya cepet banget sih. Untung aku nggak punya penyakit jantung!” bentak Rona. Dia membungkuk lemas sambil memegang kakinya yang gemetar.

 

“Hehehe. Maaf deh, aku kan buru-buru soalnya,” kataku sambil cengengesan.

 

“Dasar!”

 

“Akhirnya kamu datang juga,” ucap seseorang yang baru saja keluar dari cafe.

 

“Darimana aja kamu, Yo?” tanya orang itu padaku. Ya, orang itu adalah Melody. Melody menatap tajam padaku menunggu penjelasan dariku kenapa aku bisa terlambat.

 

“Hehehe. Maaf Teh, saya bangunnya kesiangan,” jawabku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

 

“Alasan! Sebagai hukumannya, saat cafe udah mau tutup kamu bersihin dulu cafenya sendirian!”

 

APA?!! Melody kejam sekali. Masa aku harus membersihkan cafe pulang nanti, sendirian lagi. Mana kuat aku kalau sendirian. Ya, minimal ada satu dua orang lah yang membantu. Memang sih ini semua karena kesalahanku, tapi nggak gini juga dong memberi hukuman kayak gini ke pegawai. Tapi yasudahlah, aku terima saja hukuman darinya. Terpaksa begadang lagi deh, untung besoknya libur.

 

“Loh, Rona ada disini juga?” Melody menoleh kearah Rona yang kini sudah duduk diatas motornya.

 

“Iya, Teh. Tadi aku kesininya bareng sama dia, hehe,” ucap Rona.

 

“Eh, kalian saling kenal?” Aku nggak nyangka ternyata Melody dan Rona saling kenal. Aku jadi heran karenanya.

 

“Iya. Teh Melody kakak sepupu aku,” jawab Rona.

 

“Oh pantesan.”

 

“Kenapa kamu bisa bareng sama Aryo kesininya?” tanya Melody pada Rona.

 

Rona menghela nafas. Dia mulai menceritakan bagaimana dia bisa bertemu denganku di halte.

 

“Begitu ceritanya, Teh. Apalagi dia bawa motornya kenceng banget, untung nggak jantungan.”

 

Ini anak puas banget ngomongnya. Seakan-akan dia mau memojokkan aku di depan kakak sepupunya. Lagian kalau nggak cepet bisa-bisa kena hukuman yang lebih parah dari Melody.

 

“Dasar kamu ya. Udah telat, ngebut lagi. Kalau tiba-tiba kamu jatuh gimana?” ucap Melody.

 

“Jatuh cinta sama Teteh ya?” timpalku. Gombal sedikit boleh dong, ya mencairkan suasana sedikit lah.

 

“Dasar gombal. Udah cepetan sana masuk. Kerja.” Oke, gombalanku nggak berhasil mencairkan suasana. Rona malah ketawa dengan puasnya melihat ulahku tadi. Puas kamu, puas!

 

“Iya, Teh.”

 

Dengan langkah gontai, aku masuk ke dalam cafe. Banyak tatapan aneh dari para pengunjung saat aku berjalan masuk. Aku sih tidak memperdulikannya, yang aku butuhkan sekarang hanyalah sebuah ketenangan. Hampir gila aku gara-gara Mak Lampir satu itu.

 

Dan sekarang disinilah aku, disebuah ruangan tidak terlalu besar, tempat menyimpan banyak barang, tapi sering dipakai berkumpul banyak pegawai cafe ini. Gudang? Salah, tapi pantry. Ya, para pegawai disini sering berkumpul disini kalau sedang istirahat. Memang sih di pantry ini banyak barang, tapi bukan barang-barang kayak bahan-bahan makanan kayak gitu. Lebih tepatnya barang-barang yang dibawa para pegawai.

 

Suasana di pantry ini sangat adem, ada AC soalnya makanya adem-adem manja gitu deh. Nah, suasana seperti itulah yang saat ini kubutuhkan. Sangking ademnya aku sampai mengantuk. Ah, lebih baik aku tidur dulu sejenak sambil menenangkan pikiranku.

 

“Loh kang baru dateng? Kemana aja dari tadi? Dicariin Teh Melo loh.”

 

Hah.. Baru juga mau tidur, suara Noval sukses membuatku kembali melek. Duh, please deh aku cuman pingin tidur bentar aja.

 

“Iya, bangun kesiangan euy. Tadi udah ketemu Melody, tapi dimarahin,”kataku seraya bangkit dari kursi.

 

“Hahaha. Aya-aya wae si akang teh.”

 

Buset, dia malah ketawa. Dia nggak tahu apa penderitaan yang baru aku alami tadi? Harusnya dia menghiburku kek, ngasih makan kek, kebetulan aku belum sempat makan tadi. Teman macam apa dia? Oke, mari kita abaikan saja keluhanku itu. Sekarang waktunya bekerja.

 

Aku dan Noval berjalan keluar pantry, lalu menuju kearah meja bar cafe. Aku melihat suasana di meja bar cafe nampak ramai. Disana hanya ada Citra yang sedang kewalahan berurusan dengan pesanan pelanggan. Duh, ini pegawai yang lain pada kemana ya? Kasihan itu anak orang kerja sendirian. Akupun berinisiatif untuk membantunya, sedangkan Noval pergi ke dapur karena dia mendapat pesanan dari pelanggan lain.

 

“Cit, aku bantu ya.” Aku mencoba menawarkan diri untuk membantunya.

 

“Iya, Kak. Aku kewalahan nih,” ucap Citra. Dia kelihatan kesulitan sekali saat membuat kopi. Aku yang nggak tega melihatnya langsung mengambil alih tugasnya.

 

“Yang ini biar aku aja, kamu buat pesanan yang lain.” Aku mengambil sebungkus kopi dan menuangkannya ke semacam alat pembuat kopi. Duh, aku lupa nama alatnya apa. Oke, lupakan. Lanjut kerja.

 

Sedangkan Citra membuat sebuah minuman yang terbuat dari susu dan soda. Setelah minumannya jadi, kemudian dia memberikannya ke pelanggan di depannya.

 

Berbagai macam pesanan yang diminta pelanggan sudah aku dan Citra buat. Akhirnya kami bisa beristirahat sejenak. Citra sepertinya kelihatan senang, lihat saja dari tadi terus melempar senyum padaku. Aku sih merasa fine-fine aja bisa membantu dia, toh sesama teman kan harus saling membantu. Tapi menurutku ada yang aneh dengan senyum Citra, seperti ada maksud lain dibalik senyumnya itu.

 

“Kenapa kamu senyum-senyum terus ngelihatin aku?”

 

Citra tersentak, lalu dengan wajah linglungnya dia menjawab, “Eh.. Nggak apa-apa kok, Kak.”

 

“Makasih ya udah bantuin aku tadi,” lanjutnya.

 

“Sama-sama. Sesama teman kan harus saling membantu.”

 

Setelah itu, percakapan pun terhenti. Kami terdiam satu sama lain. Orang-orang di cafe juga ikut terdiam. Tiba-tiba burung gagak lewat di depan kami dengan suara khasnya. Tunggu, sejak kapan ada burung gagak masuk cafe? Oke, mulai ngaco.

 

Aku tidak tahu harus mengobrol tentang apa lagi ke Citra. Sebenarnya aku orangnya cenderung cuek, kalau ngobrol dengan orang lain selalu aja irit ngomong. Apalagi ke orang yang belum terlalu akrab, bisa-bisa itu orang kayak ngobrol sama robot. Kalau ke pacar cuek? Nggak, cenderung perhatian. Ya walaupun terkadang cuek juga sih.

 

“Kak?” Oke, Citra mulai membuka obrolan kembali. Itu lebih baik, dibanding saling diam kayak patung.

 

“Hmmm.” Bukannya aku sombong, tapi saat ini aku sedang minum makanya aku tidak bisa menjawabnya dengan sebutan “iya”.

 

“Hmmm, aku suka sama kakak.”

 

Air yang ada dimulutku mulai menyembur keluar, setelah itu aku tersedak. Aku tersentak saat mendengar apa yang diucapkan Citra. Apa aku nggak salah dengar ya?

 

“Hah?! Kamu bilang apa?”

 

Citra menghela nafas sejenak, kemudian dia mulai bicara.

 

“Aku suka sama kakak.” Kali ini dia menatapku sambil tersenyum manis.

 

Apa aku nggak salah dengar? Oke, kemungkinan ini hanya halusinasi. Kucoba cubit perutku yang tidak terlalu buncit ini. Adaww! Oke, sakit. Aku sedang tidak dalam keadaan halusinasi, ini nyata. Ada cewek yang juga menembakku setelah sebelumnya Rona juga menembakku. Aku tidak tahu harus menganggap hal ini suatu anugerah atau musibah? Entahlah. Yang jelas saat ini aku merasa tidak menyangka dengan apa yang barusan aku dengar.

 

“Kamu serius, Cit?” tanyaku padanya.

 

Citra hanya mengangguk dengan semangat. Wah, tampaknya dia benar-benar suka padaku nih.

 

“Kakak mau nggak jadi pacarku?”

 

Oke, bukan kali ini saja aku ditembak oleh cewek. Kalian masih ingat saat kejadian Rona yang tiba-tiba datang ke kosanku? Nah, saat itu dia juga menmbakku. Terlebih lagi saat itu dia berniat berusaha mendapatkanku. Tapi untungnya Rona belum terlalu jauh menjalankan rencananya.

 

Sekarang secara mendadak Citra menyatakan perasaannya padaku. Aku bingung harus menjawab apa ke dia. Di satu sisi, jika aku menerimanya maka aku harus berbagi kasih sayang dengan Desy. Di sisi lain, aku merasa nggak enak menolaknya. Soalnya wajah Citra terlau imut buat dipandang. Duh, aku bingung.

 

Citra nampak menunggu-nunggu jawaban dariku. Tatapan matanya terlihat berbinar. Mungkin dia berharap aku mau menerimanya. Akupun mulai berpikir sejenak, mencoba mencari jawabannya. Dan akhirnya…

 

“Cit, maaf aku nggak bisa jadi pacar kamu.”

 

Itu adalah jawaban yang kuberikan padanya. Terlihat kejam? Tidak juga sih, tapi itulah keputusan yang aku ambil. Bukan karena masalah dia selalu cuek padaku saat dulu atau karena keimutannya, tapi karena aku sudah memiliki seseorang yang menurutku dia itu adalah jodohku. Aku tidak mau ada seseorang lagi yang masuk ke hatiku, cukup Desy seorang. Cielah bahasanya.

 

“Kenapa, Kak?” tanya Citra. Kali ini tatapan matanya berubah, menjadi tatapan sedih. Ini persis saat aku menolak cinta Rona dulu.

 

Aku hanya memberikan jawaban yang singkat. Mungkin akan sedikit menyakiti hatinya, tapi ini harus dilakukan

 

“Aku udah punya pacar, Cit.”

 

“Lebih baik kita temenan aja ya. Aku nggak mau menyakiti hati pacarku.” Jujur, aku merasa nggak enak padanya, tapi mau bagaimana lagi.

 

Aku melihat Citra menundukkan kepalanya. Seketika itu juga, tetesan air jatuh dari matanya. Aduh, dia ternyata nangis. Aku harus bagaimana sekarang?

 

“Maafkan aku, Citra.”

 

****

 

Hari sudah gelap, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Cafe pun mulai tutup. Para pegawai cafe mulai membersihkan cafe sebelum mereka pulang. Kecuali Citra, dia meminta izin pada Melody untuk pulang lebih dulu dengan alasan ada urusan lain. Aku tahu kenapa dia bisa begitu, itu karena tadi siang aku menolak cintanya. Aku jadi serba salah karenanya.

 

Tapi untungnya aku tidak sendirian membersihkan cafe ini. Mengingat kejadian tadi siang aku kena hukuman dari Melody. Ada teman-temanku yang senantiasa membantu. Lega rasanya punya teman yang jiwa solidaritasnya tinggi. Pekerjaanku jadi sedikit lebih ringan.

 

“Teman-teman, saya mau ngasih tahu. Lebih baik kalian segera pulang saja, biarkan Aryo saja yang membersihkan semua ini karena dia sedang menjalankan hukuman,” ucap seseorang bertubuh pendek yang sedang berdiri didekat meja bar. Siapa lagi kalau bukan Melody.

 

Sial. Padahal aku berharap Melody lupa soal hukumanku itu, ternyata dia malah ingat. Sekarang teman-temanku yang sedang membantuku malah bersorak kegirangan. Sial. Teman macam apa kalian?! Malah kegirangan diatas penderitaan orang lain. Oke, fine.

 

Satu-persatu dari mereka mulai meninggalkan cafe sambil tertawa cekikikan melihatku. Bahkan ada yang berusaha menyemangatiku, tapi ekspresi wajahnya seakan-akan mengejekku.

 

“Semangat ya jalanin hukumannya. Awas nanti potong gaji loh.”

 

Oke-oke, aku memang salah dan ngejalanin hukuman ini. Tapi nggak gini juga dong cara mereka memberi simpati padaku. Ini sih penghinaan namanya. Duh, sial banget nasibku hari ini. Oke, abaikan keluh kesahku, mari fokus kerja lagi.

 

Setelah semua teman-temanku pergi, akupun mulai melanjutkan hukumanku. Yang tersisa di dalam cafe ini hanyalah aku dan Melody saja. Aku mulai membersihkan berbagai macam peralatan makan, mengelap meja, menyapu mengepel, dll. Sedangkan Melody? Dia hanya duduk manis sambil baca koran. Duh, enak banget ya.

 

Sepertinya enak juga ya kalau jadi bos. Tinggal duduk manis sambil mantau pegawainya, tahu-tahu pendapatanpun didapat. Tapi melihat Melody, aku jadi tahu kalau jadi bos itu tidak seenak yang dibayangkan. Tanggung jawabnya sangat besar. Aku jadi salut dengan dia.

 

Pekerjaanku hampir selesai, tinggal melakukan langkah terakhir yaitu mengepel. Aduh, capek banget sumpah. Harus membersihkan cafe ini sendirian. Tapi tak apalah, ini terjadi karena kesalahanku sendiri. Aku harus menerima segala risikonya. Sedang asik-asiknya mengepel, seseorang terlihat masuk ke dalam cafe dan langsung duduk disamping Melody.

 

“Loh, Rona kenapa kesini?” tanya Melody sambil menaikkan sebelah alisnya.

 

“Nggak apa-apa, Teh. Pingin aja, hehe,” jawab Rona sambil nyengir.

 

“Oh. Kamu mau ketemu sama dia ya?” Melody menunjuk-nunjuk kearahku. Aku jadi heran dibuatnya.

 

Rona hanya senyum-senyum sendiri menanggapinya.

 

“Teteh sendiri kenapa belum pulang? Ini udah jam 12 malam loh,” tanya Rona sambil melihat jam tangannya.

 

“Lagi ngawasin dia tuh, lagi kena hukuman soalnya.” Please deh, Teh. Jangan kasih tahu hukuman ini ke orang lain, kan jadi malu.

 

“Oh. Biar aku aja yang ngawasin dia, Teh.” Rona memberi usulan ke Melody yang sukses membuatku tidak semangat.

 

“Hmmm, gimana ya?” Melody berpikir sejenak. “Oke deh kalau gitu, lagian udah malam banget juga.”

 

Oke, seketika juga aku langsung lemas mendengarnya. Lagi-lagi aku harus berhadapan lagi dengan Rona. Yah, memang benar-benar sial aku hari ini.

 

“Yasudah, aku pulang dulu ya. Jagain dia baik-baik ya,” pinta Melody seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan cafe.

 

“Oke, Teh.”

 

Oke, aku harus berurusan dengan Rona lagi. Aku pasrah saja dengan ini semua, lebih baik aku melanjutkan kembali pekerjaanku.

 

Rona terlihat berjalan menghampiriku yang sedang mengepel. Kemudian dia menyapaku. “Hai, Aryo.”

 

“Hmmm. Kenapa?” jawabku seperlunya. Aku agak malas juga sih membalas sapaannya. Tapi sebagai orang yang baik, walaupun nggak terlalu baik juga sih, aku harus membalas sapaannya itu.

 

“Boleh aku bantu ngepelnya?” Rona berniat mengambil mop yang sedang aku pakai, tapi aku tahan.

 

“Udah nggak usah. Ini bentar lagi selesai kok,” ucapku.

 

“Hmmm, kalau gitu apa yang bisa aku kerjakan supaya kerjaan kamu jadi ringan?”

 

Aku berpikir sejenak. Mungkin dengan adanya Rona pekerjaanku bisa sedikit jadi ringan. Tapi semua pekerjaanku sudah hampir beres, hanya tinggal ini saja yang bisa kukerjakan. Aku terus memikirkan hal itu, sampai akhirnya aku teringat soal kejadian itu.

 

“Aku mau nanya, apa kamu yang ngasih surat ke aku waktu itu?” tanyaku seraya menaruh mop pel keatas ember.

 

“Iya, itu aku. Memangnya kenapa?” Rona balik bertanya.

 

“Apa maksud kamu ngasih surat itu?”

 

Rona terdiam sejenak, lalu dia mulai bicara. “Aku kan sudah bilang waktu itu, aku akan berusaha ngedapetin kamu. Ya, walaupun kamu sudah punya pacar yang cantik.”

 

Aku yang mendengarnya hanya terdiam. Dia benar-benar serius dengan ucapannya. Dia terus membuat hidupku nggak tenang. Apa nggak ada cowok lain yang bisa dia ganggu? Aduh, benar-benar aneh rasanya.

 

“Hmmm, aku tidak yakin kalau kamu bisa dapetin aku. Aku kan sudah berjanji pada pacarku.”

 

“Aku kan sudah bilang, kalau aku akan terus berusaha,” timpal Rona.

 

Aku hanya menanggapinya dengan ketus. Jika kalian saat ini berada di posisiku, mungkin aku akan langsung meninggalkannya. Tega? Sedikit. Ya, memang sih dia cantik, tapi kelakuannya terhadapku itu sungguh membuatku tak tenang. Aku rasa aku harus pergi meninggalkan kota ini agar aku tak bisa bertemu Rona lagi. Tapi mau pergi kemana? Hidupku sudah terikat dengan kota ini.

 

Daripada aku harus terus berhadapan dengannya, lebih baik aku pulang sekarang karena pekerjaanku sudah selesai. Akupun membereskan peralatan pel, kemudian bersiap untuk pulang.

 

“Kamu mau kemana?” tanya Rona.

 

“Aku mau pulang.” Aku mulai berjalan kearah pintu cafe.

 

“Tunggu.”

 

Rona menghampiriku dengan tergesa-gesa, sampai akhirnya secara tidak sengaja dia tersandung. Untung saja aku sigap. Reflek, aku menangkap tubuh Rona yang hampir menyentuh lantai. Kemudian spontan aku memeluknya dari belakang.

 

“Eh?”

 

Rona terlihat tersipu malu dengan sikapku tadi. Aku sih reflek saja menangkap dia supaya nggak jatuh, lagian kalau jatuh kan lumayan sakit juga.

 

“Kamu jangan geer dulu, aku cuman reflek aja tadi,” kataku sambil melepaskan pelukanku.

 

Rona masih tersipu malu. Lihat saja pipinya berubah jadi merah begitu. Dia kelihatan salah tingkah dengan apa yang baru saja terjadi. Diapun langsung bergegas berjalan ke pintu cafe dengan ekspresi malunya.

 

“Udah ah, ayo pulang,” ucap Rona.

 

Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Tanpa menunggu lama lagi, aku mematikan lampu cafe dan mengunci pintu cafe dari arah luar. Setelah itu aku bergegas untuk pulang. Tapi tunggu bentar, aku pulangnya naik apa ya? Motorku kan mogok di kosan, terus jam segini mana ada angkutan umum yang lewat. Yang ada hanya Rona dengan motornya. Ah, benar juga. Aku minta dia antar aku pulang saja, lumayan ada tumpangan daripada nggak ada sama sekali.

 

“Bisa anterin aku pulang?” tanyaku padanya.

 

Rona tersenyum mendengarnya, kemudian dia menganggukan kepalanya tanda kalau dia setuju. Akupun langsung menghampirinya dan berniat menyalakan motornya.

 

“Rona!!”

 

Sebuah suara panggilan dari arah seberang jalan mengagetkan kami berdua. Kami langsung menoleh kearah sumber suara. Terlihat ada dua orang pria berlari kearah kami. Salah seorang dari mereka berlari kearahku, kemudian tanpa aba-aba dia langsung memukul pipiku dengan keras. Aku yang tidak siap, langsung jatuh tersungkur.

 

“Kampret. Apa-apaan nih?!!” Aku membentak kearah orang yang tadi memukulku.

 

Orang itu langsung menindih badanku dan terus memukulku bertubi-tubi. Aku tidak bisa melawan karena tanganku diapit oleh kedua kaki orang itu. Aku kemudian menoleh kearah Rona yang sedang ditarik-tarik oleh salah seorang lagi, namun Rona terlihat berontak.

 

“Rona, ayo kita pulang! Aku nggak suka kamu deket-deket sama cowok itu!” kata orang itu.

 

Aku tidak mengenal siapa mereka. Aku ingin menolong Rona dari orang itu, tapi apa daya posisiku sekarang tidak menguntungkan.

 

“Aku nggak mau!!” Rona terus berontak, tapi apa daya tenaganya tidak kuat menghadapi orang itu. Alhasil, orang itu langsung mengangkat tubuh Rona dan membawanya masuk ke dalam mobil yang terparkir di seberang jalan.

 

“Oyy, bro! Udah cukup, tinggalin dia. Bawa motor Rona kembali ke rumahnya,” ucap orang itu pada orang yang masih menghajarku.

 

Orang yang menghajarku menghentikan aksinya. Kemudian dia berdiri dan membawa motor Rona kembali ke rumahnya. Setelah itu merekapun pergi meninggalkanku yang tergeletak tak berdaya.

 

Sial. Apa salahku sampai harus dihajar kayak gini?! Ahh brengsek mereka! Datang-datang langsung menghajarku sampai babak belur gini.

 

Aku tidak bisa bangun gara-gara pukulan tadi, aku butuh seseorang untuk menolongku saat ini. Yang ada dipikiranku saat ini adalah Desy. Ya, Desy. Akupun mengambil ponselku dan mulai menelepon Desy. Aku harap dia menjawab panggilanku, karena hanya dia satu-satunya pertolonganku. Lagipula jam segini jalanan di sekitar cafe sangat sepi.

 

“Halo.” Akhirnya Desy menjawab panggilanku.

 

“Des, tolong aku. Aku nggak bisa bangun nih,” ucapku dengan lemah.

 

“Kamu kenapa sayang?”

 

“Udah cepetan kamu kesini!”

 

“Kamu lagi dimana?”

 

“Di cafe.”

 

~To be continued~

 

Created by Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

Iklan

3 tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy Part 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s