Zombie…., Part5

Kawasan Palmerah, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 22.00 WIB.

Semenjak kekacauan yang disebabkan oleh zombie kemarin. Hari ini pemerintah resmi mengumumkan akan memutus seluruh jaringan komunikasi. Rencana itu akan dilakukan saat jam enam sore hingga waktu yang belum ditentukan. Kemudian disusul rencana pemadaman listrik, demi keamanan dan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Entah kapan akan dilakukan, pemerintah hanya menyebutkan dalam waktu dekat.

Kejadian kemarin juga menyebabkan semua institusi diliburkan. Kecuali para petugas keamanan, baik polisi maupun TNI. Mereka diperintahkan untuk membasmi para zombiezombie yang berkeliaran. Tapi hasilnya nihil, malah banyak sekali polisi serta tentara yang tergigit oleh zombiezombie itu.

Kejadian penyerangan zombie ini juga tak hanya terjadi di Indonesia. Kemarin sempat diberitakan, beberapa negara tetangga juga mengalaminya. Entah apa yang menyebabkan mereka berubah menjadi zombie, hal ini masih diteliti sampai sekarang.

Tapi mulai saat ini yang pasti umat manusia sedang tidak aman. Mereka berusaha hidup ditengah serangan para zombie yang makin menjadi. Begitu juga dengan beberapa orang yang tinggal disalah satu tempat kos di kawasan Palmerah, Jakarta.

Malam ini, sama seperti kemarin, pemuda itu kembali menjaga pagar kostannya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebenarnya sejak pindah kemari sudah menjadi rutinitasnya untuk menjaga kos-kosan ini. Biasanya ia berjaga agar kos-an ini tidak dimasuki maling, tapi saat ini berbeda, ia berjaga agar kos-kosan ini tidak dimasuki zombie.

Dengan beralaskan karpet serta berselimut sarung, pemuda itu menatap ke arah pagar kosan sambil memeluk kedua lututnya. Meskipun sudah di gembok, para penghuni kos itu menambahkan meja kayu untuk menahan gerbang.

Terlihat diluar gerbang beberapa zombie melintas didepan tempat kos tersebut. Ada juga yang mencoba menerobos masuk, tapi nampaknya gembok dan meja kayu itu cukup kuat untuk menahan beberapa zombie. Meskipun entah sampai kapan bisa bertahan.

Tiba-tiba seorang gadis berambut pendek datang sambil membawa dua cangkir kopi. Gadis itu akhirnya ikut duduk disamping pemuda yang sedang berjaga sambil menatap ke arah gerbang yang jaraknya cukup jauh dari tempat ia duduk.

“Nih Tur buat kamu,” kata Viny sambil menyodorkan segelas cangkir pada temannya.

“Lu yang buat? Tumben banget,” jawab Guntur.

“Bukan aku yang buat, tapi kak Ve.” Viny meniup-niup sebentar kopi miliknya sebelum mulai meminum. “Uhh… panas.”

“Lah terus itu dibuatin kak Ve juga?” Viny mengangguk.

“Ga ngerokok, Tur? Tumben banget.”

“Ah… lagi ngirit, tinggal sebungkus lagi. Mau beli juga sekarang warungnya pada ditinggal yang jual.”

“Oya? Jadi warung yang depan sana orang yang punyanya udah pergi?”

“Kayanya, lagian kemaren heboh-heboh pada lari, untung gue kabur ke kos terus langsung gembok gerbangnya.”

“Kalau engga pergi ke minimarket yang ujung sana a…, Auuu!” Guntur menyentil keningnya cewek disebelahnya. “Sakit Tur!”

“Diluar banyak zombie, ya kali gue lari-lari cuma buat ambil rokok doang.” Viny cemberut sambil mengusap-ngusap keningnya. “Lagian kata lu kan yang biasa jagain lagi pergi keluar kota.”

“Iya juga ya, yang biasa jaga lagi keluar kota, terakhir aku hubungin katanya masih di Surabaya, ga jadi pulang pake pesawat.”

“Mungkin dia betah kali di Surabaya sama orang yang dia suka.”

“Entah lah, kan kamu juga yang bantuin mereka deket.”

“Demi mie goreng, kenapa engga?”

“Ah iya, ngomong-ngomong soal mie goreng. Beras udah habis banget kata Teteh, tadi aku bilang kamu punya stok mie goreng banyak, entar makan itu aja ya?”

“Lah kok mie goreng gue dibawa-bawa? Punya gue itu!”

“Ya bagi lah, daripada kamu disuruh cari beras keluar sana? Hayo pilih mana?” Guntur terdiam sejenak.

“Iya lah iya, lagian ini Polisi sama TNI belum bikin daerah sini steril apa? Masih banyak zombie jalan-jalan gitu.”

“Mungkin Polisinya juga pada mati.”

“Terus siapa yang nolongin kita disini?”

“Entah lah.”

Esok harinya di ruang tamu terjadi percakapan serius dari tiga orang wanita. Mereka semua adalah para penghuni kos ini.

“Jadi kabar Shania gimana Vin?” tanya Melody yang sedari tadi memeluk tongkat baseball miliknya.

“Ahh…., terakhir aku hubungin dia masih di Jogja Teh, katanya dia sekarang aman, ngungsi sama warga yang lain soalnya.” Viny meletakan cangkir teh yang baru saja ia minum.

“Ve,” panggil Melody.

“Ya Mel?” Veranda mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca, “ada apa?”

“Tau gak kapan Polisi sama TNI bersihin daerah sini? Jujur, sekarang aku stress, tidur juga ga bisa tenang, pengennya ini cuma mimpi aja,” kata Melody.

“Auuu…,” teriak Viny.

“Kenapa Vin?” Melody melirik ke arah Viny.

“Engga, aku habis nyubit pipi, taunya sakit.” Viny mengusap-ngusap pipinya.

“Tapi, gimana kalau ga ada petugas keamanan yang berusaha evakuasi daerah sini?” tanya Veranda.

“Nah iya tuh Teh, gimana kalau ga ada yang evakuasi kita?” tanya Viny.

“Ah aku juga bingung.”

“Weh… lagi rapat nih ceritanya.” Tiba-tiba seorang pria datang, dengan rambut yang masih acak-acakan layaknya orang belum mandi. Melody hanya menatapnya tajam, “Oh ok, gue ke dapur dulu.”

“Kalau ga ada yang mau evakuasi kita dari sini, terpaksa kita harus bertahan sampai bahan makanan habis,” kata Melody.

“Teh… gas abis,” teriak Guntur dari arah dapur.

Ve dan Viny hanya saling tatap, tak lama mereka berdua menatap ke arah Melody. Tapi Melody hanya memijit-mijit kedua keningnya, ia mencoba berfikir jalan terbaik apa yang harus ia ambil sekarang.

“Kita cari bahan makanan sama gas aja gimana? Selagi nunggu evakuasi,” kata Melody.

“Tapi Mel, diluar banyak zombie,” kata Veranda.

“Siang hari zombiezombie ga begitu agresif.” Melody, Veranda, dan Viny melirik ke arah sumber suara.

“Tau darimana Tur?” tanya Melody.

“Gue jagain pager sambil ngamatin mereka kali, kalau malem-malem pada beringas pengen masuk kedalem, tapi liat aja kalau pagi kaya sekarang, pada neduh tuh zombiezombie,” jawab Guntur.

“Kalau gitu kita bisa gerak kalau siang hari,” kata Melody.

“Gimana kalau kita ambil bahan makanan di rumah tetangga aja, daripada jauh ke minimarket ujung sana buat ngambil gas atau cari makanan,” kata Guntur.

“Nah bener juga tuh, tinggal manjat tembok samping aja, kayanya rumah sebelah udah ditinggal pemiliknya juga,” kata Veranda.

“Ya udah coba sekarang,” kata Viny.

“Jadi siapa yang mau manjat?” tanya Guntur.

Ketiga wanita itu serentak menatap ke arah pria yang belum mandi itu. Merasa akan ditunjuk, Guntur pun langsung berbalik badan dan berusaha meninggalkan ruangan itu.

“Ekhem…” Melody mengetuk-ngetukan tongkat baseball miliknya dengan cukup kencang, dan pasti terdengar oleh Guntur.

Dengan wajah pasrah, pemuda itu kembali berbalik ketempat Melody dan yang lainnya. “Ok, gue yang manjat,” kata Guntur pasrah.

Guntur, Melody, Veranda, dan Viny sudah berada di tembok samping kosan mereka. Tembok itu mengarah ke rumah samping kosan mereka. Tinggi temboknya hanya dua smeter, Viny pun membawa sebuah kursi lipat yang dipakai untuk menaiki tembok itu.

“Gimana Tur, udah siap?” tanya Melody.

“Yakin kan ga ada zombie di rumah sebelah?” tanya Guntur.

“Yakin kok,” kata Veranda.

“Oh ok deh, tapi temenin gue dong, siapa kek,” kata Guntur, “lu aja gimana?”

“Aku?” Viny menunjuk dirinya sendiri.

“Iya elu temenin gue, kan lu tinggi juga ga gendut-gendut banget, kalau manjat pasti bisa,” kata Guntur.

“Kenapa ga Teh Melody atau kak Ve aja?” tanya Viny.

“Kasian kalau kak Ve, kalau yang satu lagi, udah lah buruan lu ikut gue aja,” kata Guntur.

“Udah Vin temenin dia,” kata Melody.

“Iya deh, Teh.”

Guntur yang pertama menaiki kursi itu kemudian mencoba memanjat tembok yang ada didepannya. Dengan susah nafas yang sudah ngos-ngosan, akhirnya cowok itu berhasil memanjat dan ia kini duduk diatasnya.

“Ayo Vin,” kata Guntur.

“Manjat gitu aja capek,” ledek Melody.

“Kan Teteh tau, gue jarang olahraga, seharian kalau ga ngampus ya jagain kosan doang,” bela Guntur.

Akhirnya Viny pun ikut memanjat, sama seperti Guntur dengan susah payah iya berusaha memanjat tembok itu. Setelah berhasil, Veranda kembali melipat kursi yang dipakai untuk memanjat dan memberikannya kepada Guntur.

“Biar gampang nanti manjatnya lagi,” kata Veranda.

“Hehe iya Ve,” kata Guntur.

“Buruan!” kata Melody.

“Iya-iya sabar napa.”

Mereka berdua pun turun dari tembok itu dan mendarat dengan sempurna di pekarangan rumah tetangga mereka. Rumahnya nampak sepi, dan pintu pagarpun tertutup.

“Hati-hati,” teriak Melody dibalik tembok.

“Yuk buruan Vin, cari makanan di rumah ini.”

Guntur dan Viny pun pergi ke pintu masuk rumah itu. Saat Guntur mencoba membuka pintunya, ternyata pintu itu tidak dikunci. Keadaan rumah pun tampak sepi, mungkin benar pemiliknya telah meninggalkan tempat ini.

“Kayanya kerja kita bakalan lebih mudah Tur,” kata Viny yang berjalan dibelakang Guntur.

Mereka melangkah semakin dalam ke arah ruang tengah. Disana masih ada beberapa toples makanan ringan, Guntur pun mengambilnya.

“Buat apa?” tanya Viny.

“Laper, buat ngemil lah,” jawab Guntur.

“Ya udah buruan yuk ke dapurnya.”

Mereka pun akhirnya mencari dimana dapur berada. Setelah mengelilingi lantai satu itu akhirnya dapur berada dipaling ujung. Dapurnya cukup luas dan ada kulkas dengan ukuran besar. Viny pun membuka kulkas itu, cukup banyak bahan makanan yang tersimpan di dalamnya.

“Ada roti juga di atas meja,” kata Guntur.

“Nah kita bawanya pakai apa?” tanya Viny.

Mereka terdiam sejenak, Viny hanya melihat-lihat apa saja yang memungkinkan untuk ia bawa. Roti, minuman serta makanan ringan yang paling mudah untuk dibawa baginya.

“Pake taplak meja aja,” kata Guntur.

“Pinter kamu.”

Roti, selai coklat serta strawberry diletakan diatas taplak meja itu. Kemudian Viny menaruh beberapa minuman serta beberapa sayuran juga. Sementara Guntur memeriksa laci-laci yang ada di dapur sana. Ia menemukan beberapa mie instan dan meletakannya juga dia atas taplak meja.

“Kita kaya maling,” kata Viny.

“Kepaksa, lagian orang yang punyanya ga tau kemana.”

“Eh Tur, tuh ada gas yang tiga kilo, coba cek udah dibuka belum segelnya?”

Tabung gas itu tersimpan dibawah meja. Saat Guntur mengeceknya ternyata segelnya belum terbuka.

“Gue bawa aja gitu ya?”

“Iya lah, buruan sana kasihin itu dulu ke Teh Melody,” kata Viny.

“Ya udah gue kasihin ini dulu, lu beresini sekiranya apa aja yang bisa dibawa, gimana?”

“Ok sip.”

Guntur pun pergi meninggalkan Viny sambil membawa tabung gas tiga kilogram. Sementara Viny masih mengambil bahan makanan yang bisa merka makan.

“Oiya beras!”

Viny pun mencari-cari dimana tempat dimana pemilik rumah menyimpan beras mereka. Ia sudah mencari-cari hampir disemua tempat di dapur ini tapi tidak menemukan beras.

“Apa keluarga ini ga makan nasi?” pikir Viny.

Setelah dirasa bahan makanan yang ia ambil cukup. Viny pun mengikat ujung-ujung kain taplak itu, hingga membungkus makanan-makanan yang ada didalamnya. Tidak begitu banyak yang ia ambil namun sudah cukup.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pintu masuk. Suara serak-serak itu makin mendekat ke arah dapur dimana Viny berada.

“Tur…, itu kamu?!”

Namun tak ada jawaban disana. Viny yang merasa tidak enak, langsung menggendong kain yang berisi makanan itu dan berusaha meninggalkan dapur.

Saat di ruang tengah, benar saja ada dua zombie yang masuk kedalam rumah itu. Setelah melihat zombiezombie itu Viny pun segera berlari ke menuju tangga. Sial, zombiezombie itu melihat Viny, dan mereka pun berusaha mengejar gadis berambut pendek itu.

“Guntur!!!” teriak Viny.

Viny naik ke lantai dua, dan masuk ke salah satu kamar. Disana ada sebuah jendela yang mengarah ke kosan tempat ia tinggal. Terlihat dari atas sana, ada Melody, Veranda, dan Guntur.

“Teteh! Kak Ve! Guntur! Tolongin aku!” teriak Viny.

Sial mereka semua tidak mendengar, terlihat wajah Veranda semakin panik. Sementara Melody seperti sedang beradu argumen dengan Guntur.

“Kak Ve!” Viny mencoba teriak lebih keras.

Akhirnya setelah memanggil beberapa kali, Veranda pun menoleh ke jendela tempat Viny berada. Veranda menunjuk-nunjuk ke tempat Viny. Melody dan Guntur pun melihatnya ada disana.

“Tuh kata gue juga dia baik-baik aja kan,” kata Guntur.

“Tapi kamu udah ninggalin dia!” kata Melody.

“Gue dikejar zombie juga teh, kepaksa itu,” bela Guntur, “mana gue tau tuh pager ga dikunci cuma ditutup doang, ya udah gue buru-buru loncat kesini.”

“Lah itu sekarang Viny gimana?” tanya Melody.

“Kak… tolongin aku!” teriak Viny dari atas sana.

“Gue pusing Teh, serius. Kalau teteh mau liat, udah ada beberapa zombie yang masuk halaman rumah itu,” jawab Guntur.

“Jadi Viny gimana?” tanya Veranda.

“Kepaksa kita suruh Viny tunggu dulu disana,” kata Guntur.

Viny hanya melihat tiga orang itu beradu argumen, tiba-tiba ia teringat sesuatu soal zombie yang mengejarnya barusan. Viny pun segera keluar dari kamar itu dan melihat ke arah tangga. Disana telah ada beberapa zombie yang berusaha menaiki tangga. Beruntung lah, mereka semua tidak sanggup menaiki tangga itu.

Sampai pada akhirnya ada salah satu zombie yang terjatuh saat ingin menaiki tangga. Ia malah merangkak ditangga itu, perlahan tapi pasti, zombie itu mulai bergerak menuju lantai dua.

Viny pun langsung lari ke kamar, tempat ia melihat Guntur, kak Ve dan teh Melody. Ia langsung menutup pintu kamar itu dan menggeser meja serta kursi yang ada didekatnya. Meja dan kursi itu ia letakan di depan pintu kamar, berharap bisa menahan para zombie yang mencoba masuk.

“Teh! Zombienya bisa naik ke tangga!” teriak Viny.

“Duh… gimana tuh?” Wajah Veranda semakin panik.

“Kamu harus nolongin dia Tur!” kata Melody.

“Kalau aku doang ya mana bisa, Teh! Jangan aku terus yang dikorbanin!” Sekarang Guntur semakin berani, ia sudah capek jika dikorbankan terus menerus.

Melody hanya menatap Guntur, ia tak percaya pemuda yang ada didepannya berkata seperti itu. Jika dipikir-pikir Melody juga merasa, selama ini selalu Guntur yang dikorbankan. Ia bekerja sendirian tanpa dibantu siapapun. Sampai pada akhirnya ucapan Veranda menyadarkan lamunan Melody.

“Kita suruh Viny keluar lewat jendela aja, gimana?” tanya Veranda.

“Ya udah coba suruh Ve, bisa ga?” tanya Melody.

“Vin!” Viny menoleh ke arah Veranda, “keluar lewat jendela bisa ga?”

“Tinggi kak!” jawab Viny.

“Pakai kain kek, turunnya atau gimana aja, bisa ga?” tanya Veranda.

Viny terdiam, ia melihat sekeliling kamar itu. Ada beberapa selimut disana. Ia teringat akan film-film yang penah ia tonton dahulu. Si tokoh utama kabur dari jendela menggunakan kain-kain itu. Viny pun mencoba mempraktekannya, ia mengikat ujung-ujung selimut itu. Setelah dirasa cukup, Viny pun mengikatkan ujung selimut itu ke salah satu kaki tempat tidur. Ditarik-tariknya selimut itu dengan kencang, memastikan kalau ikatan itu cukup kuat.

Viny pun kembali ke arah jendela dan mencoba menurunkan kain-kain itu. Sialnya, kain itu tidak sampai menyentuh tanah. Masih ada jarak yang cukup tinggi bagi Viny untuk melompat. Guntur pun kembali memanjat tembok rumah samping kos-kosan. Ia melihat ada beberapa zombie yang berkeliaran di halaman.

“Masih ada beberapa zombie, Ve,” kata Guntur.

“Ya udah kita pancing aja suruh ngejauh dari tempat Viny turun,” jawab Veranda.

“Caranya?” tanya Guntur.

“Ya udah aku pancing aja, entar aku pergi kesana, tapi sebelumnya kita tutup pintu pagernya dulu, biar zombie yang masuk ga makin banyak,” kata Veranda.

Guntur pun mengangguk, ia kemudian membantu Veranda menaiki tembok itu. Terlihat beberapa zombie melihat ke arah mereka berdua. Guntur yang loncat pertama, ia langsung pergi ke arah pagar rumah itu. Beruntung tidak ada zombie dijalanan yang sedang berada disekitar sana. Setelah mengunci pagar rumah, Veranda kemudian ikut turun, berusaha memancing para zombie.

“Hey…. zombie jelek, sini ikut aku!” Beberapa zombie yang melihat langsung bergerak ke arah Veranda.

“Bagus, beberapa dari mereka kepancing,” kata Veranda.

“Vin turun buruan!” kata Guntur.

Viny yang melihat semua itu langsung melempar kain berisi makanan yang ia bawa tadi. Setelahnya ia berusaha turun dari lantai dua menggunakan selimut yang diikat ke kaki-kaki tempat tidur.

Sementara Veranda berlari menjauh dari tempat Viny turun. Begitu juga dengan Guntur, ia mencoba memancing beberapa zombie agar bergerak menjauh dari tempat Viny.

Zombiezombie itu hanya menyeret kaki mereka, dan pergerakannya terkesan lambat. Sehingga Veranda cukup mudah untuk kabur dari kejaran zombiezombie itu. Saat para zombie disibukan oleh Veranda dan Guntur, Viny pun segera turun. Sampai pada akhirnya Viny telah diujung kain, ia tinggal melompat dan pergi menaiki tembok.

“Aduh….” Viny pun mendarat dengan menginjak kain yang berisi makanan hingga akhirnya ia terpeleset dan jatuh.

Teriakan Viny malah mengundang beberapa zombie untuk menghampirinya. Zombie yang mengejar Veranda pun kini mulai bergerak ke arah Viny. Sementara zombie yang berada di pintu pagar itu sekarang makin banyak dan berusaha menerobos pagar.

Terdengar decitan pagar yang tak mampu lagi menahan para zombie. Sadar membuang-buang waktu, Viny langsung berlari ke tempat tembok dimana ia memanjat. Ia langsung melemparkan kain yang berisi makanan-makanan itu ke balik tembok. Sementara dirinya langsung naik ke atas kursi lalu memanjat tembok itu.

Disusul oleh Veranda yang langsung berlari ke tempat Viny. Guntur pun mengikuti Veranda dari belakang. Hal yang ditakutkan pun terjadi, pagar itu tak mampu menahan para zombie. Akhirnya pagar pun runtuh dan beberapa zombie sudah masuk kedalam halaman rumah itu.

Setelah Viny berhasil menaiki tembok, Veranda yang ada di belakangnya langsung naik ke atas kursi dan berusaha memanjat tembok. Sementara Guntur langsung melompat mencoba meraih atas tembok itu.

“Hah…. sial, bukan jiwa atletis sih jadinya gini, baru lari bentar udah sesak lagi.”

“Duh… susah banget.” Muka Ve memerah, ia berusaha menaiki tembok itu.

“Ayo buruan Ve.”

“Susah Tur.”

“Gue bantu ya, biar cepet, tuh zombiezombie udah pada kesini makin rame pula.”

Tanpa menunggu persetujuan dari Veranda, Guntur pun langsung membantu Ve menaiki tembok itu. Ia mendorong bokong Ve agar tubuhnya terangkat dan bisa menaiki tembok itu.

“Bentar-bentar Tur!”

Guntur terus mengangkat bokong Veranda, lama kelamaan Veranda pun berhasil menaiki tembok itu. Sekarang giliran Guntur menaiki tembok, ia langsung naik ke atas kursi sama seperti Veranda, lalu mencoba menaiki tembok itu.

Zombie pun makin mendekat, salah satu dari mereka bahkan telah meraih kaki Guntur. Guntur pun menendangkan kakinya ke muka zombie yang berhasil menggenggam kakinya. Terasa sangat lembek dan rapuh kulit si zombie itu. Hanya ditendang sedikit, kulit pipinya langsung terkelupas dan mengeluarkan nanah dengan bau menyengat.

“Buruan Tur!” kata Viny.

“Bentar!”

“Ayo buruan Tur!” kata Melody.

Dengan susah payah akhirnya Guntur berhasil menaiki tembok itu. Ia langsung melompat ke halaman kosannya. Saat Guntur melihat Veranda, wajah cewek itu cemberut dengan muka sedikit memerah.

“Err… sorry,” kata Guntur.

“Next time jangan kaya gitu lagi,” jawab Ve.

“Namanya juga kepepet.”

“Oiya Tur, aku minta maaf ya, soalnya sering nyuruh-nyuruh kamu sama ngorbanin kamu terus,” kata Melody tiba-tiba.

“Ah ga masalah, Teh. Maafin juga gue tadi aga keras dikit,” kata Guntur.

“Udah-udah, sekarang makanannya udah ada nih, kita bawa ke dalem mendingan. Paling engga kita bisa bertahan dari kelaparan,” kata Viny.

Tiba-tiba terdengar suara pesawat melintas diudara. Tentu hal itu akan terasa aneh sekali untuk saat ini. Ke empat orang itu langsung melihat ke langit, dan benar saja ada sebuah pesawat yang melintas.

Tak lama beberapa benda melayang di langit. Kertas dengan jumlah banyak berjatuhan setelah pesawat itu lewat. Mereka berempat pun melihat ke arah kertas-kertas itu. Hingga pada akhirnya Melody menangkap salah satu kertasnya. Ternyata didalam kertas itu ada sebuah tulisan.

“Tempat pengungsian untuk wilayah Jakarta berada di…..”

 

*to be continued.

 

Note:
Seharusnya ini part di posting hari Senin, berhubung kemarin Idul Adha dan penulisnya sedang mengurus beberapa hal lain, jadi mohon maaf aga terlambat.
Semoga suka dengan part ini, jika ingin bertanya atau ada kritik dan saran bisa dituliskan di kolom komentar. Terimakasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

23 tanggapan untuk “Zombie…., Part5

  1. ,,Crosover DeNgan KKB yAA InI?
    ,,BaGus ceRitaNyaa,,tApii Untuk iTalic kaTa aSing jAngan diKata ZomBienya sAja,,Kalau bIsa kAta Asingg diDalAmm diAlog jUga di iTalic. cOntohNya uNtuk KaTa ‘Next TimE’ YaNg diUcApin Ve.
    ,,EnakNyaa Bangg Guntur meGangg boKongnya Vee Jajajajajaja

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s