Janjiku Untuk Desy Part 4

Penglihatanku yang buram atau aku yang salah lihat? Aku melihat seseorang yang masuk kedalam cafe, orang itu nampak seperti Rona. Aku tidak yakin orang itu adalah Rona, soalnya aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut. Hanya perawakan tubuh mungilnya saja yang nampak seperti Rona, atau mungkin orang itu adalah Rona? Entahlah. Orang itu berjalan masuk melewatiku yang sedang asik menyuapi Desy menuju meja bar cafe. Noval yang baru beres makan siang melihat adanya pengunjung dan langsung menyapanya.

“Selamat siang. Mau pesan apa?”

“Hmmm aku mau pesan ice caffuchino satu gelas,” jawab orang itu.

“Baik. Ice caffuchino akan segera dihidangkan.”

Aku terus memperhatikan orang itu sampai-sampai makanan yang aku suapi ke Desy jadi belepotan di mulutnya.

“Ishhhh… Kamu mah nyuapinnya nggak bener, mulutku sampe belepotan gini tau…” Desy menyingkirkan sendok yang tadi kupegang ke mulutnya, kemudian dia membersihkan mulutnya dengan tisu.

“Hehehe. Maaf sayang,” ucapku sambil mengambil tisu yang sedang dipakai Desy, lalu membersihkan mulutnya.

“Kamu kenapa sih? Aku perhatiin dari tadi kamu liat kearah sana terus?” tanya Desy. Dia menunjuk kearah orang itu yang sedang duduk di kursi depan meja bar.

“Eh.. Nggak apa-apa kok. Udah yuk lanjutin lagi makannya,” ujarku.

Desy sempat curiga ketika aku dari tadi melihat kearah orang itu. Aku mengalihkan perhatiannya dengan melanjutkan aksi menyuapi Desy, agar Desy tidak curiga kembali. Aku tidak tahu siapa orang itu, tapi kenapa firasatku mengatakan kalau orang itu adalah Rona? Perawakan tubuhnya mungil seperti Rona, tapi aku masih tidak yakin.

Sekarang orang itu masih duduk di kursinya, menunggu minumannya datang. Aku sesekali memperhatikan orang itu sambil terus menyuapi Desy. Setelah minumannya datang, orang itu meminumnya. Kemudian dia menoleh kearahku.

Oke, firasatku ternyata benar. Aku kaget ternyata orang itu adalah Rona. Dia tersenyum kearahku disertai lambaian tangan. Melihat itu, aku mengalihkan kembali pandanganku ke Desy. Desy yang melihatku seperti orang yang ketakutan, memandangku dengan tatapan heran.

“Kamu kenapa?” tanya Desy, dia nampaknya khawatir dengan sikapku tadi.

Aku hanya menggelengkan kepala saja, tidak tahu mau bilang apa. Desy masih heran dengan sikapku itu, dia terus menatapku dengan tatapan bingungnya.

“Orang itu sudah nggak ada di tempatnya tuh,” kata Desy sambil melihat kearah tempat Rona duduk.

Aku terkejut dengan yang Desy ucapkan. Rona sudah tidak ada di tempatnya. Kapan dia perginya? Aku saja belum melihat dia pergi. Aku mencoba melihat kearah tempat Rona duduk. Benar saja, Rona sudah tidak berada di tempatnya. Lantas kemana dia?

“Kamu kenal dengan orang itu sayang?” tanya Desy yang sukses mengagetkanku saat melihat keadaan sekitar cafe.

“Eh.. Nggak kok, mungkin aku salah orang tadi, hehe,” jawabku.

“Hmmm, ya sudah deh kalau gitu. Oh ya, nanti jadi kan ke kosan aku?”

“Hmm… Jadi dong. Nanti ya, sebentar lagi juga jam pulang kok.”

Aku bergegas dari sofa menuju dapur untuk menaruh piring, karena nasi gorengnya sudah habis dimakan Desy, sedangkan aku sama sekali belum mencicipi nasi gorengnya padahal lapar sekali. Yasudahlah tak apa, toh Desy jadi tidak kelaparan lagi.

Sesampainya di dapur, Noval datang kepadaku dan memberikan sebuah amplop.

“Kang, ada surat buat akang.”

“Dari siapa?” Aku mengambil surat itu dengan tatapan bingung.

“Dari cewek yang tadi pesen ice caffuchino. Tapi saya nggak tahu siapa namanya, dia nggak nyebutin namanya.”

Cewek yang tadi pesan ice caffuchino? Ohh, ternyata Rona yang memberikan surat ini. Tapi kenapa ya? Duh, perasaanku nggak enak.

Kucoba membuka amplop berisi surat itu. Kuambil isinya, lalu kubuang ke tong sampah. Oke, mulai ngaco. Kuambil surat itu, lalu kubaca.

“Akhirnya aku bisa lihat sosok pacarmu itu. Hmmmm, cantik juga ternyata. Apakah karena kecantikannya, kamu bisa mendapatkan dia? Oh ya, kamu masih pegang komitmenmu soal janjimu itu? Hehehe. Yang jelas aku akan terus berusaha untuk mendapatkanmu, sebelum kamu bisa menepati janjimu. Cepat atau lambat, kita akan bertemu lagi. Bye ^^.”

Ini anak tidak main-main dengan ucapannya. Aku sampai gelagapan sendiri membaca suratnya. Sepertinya Rona sudah mulai melakukan rencananya. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Entahlah. Yang jelas untuk sekarang aku tidak mau ambil pusing soal itu, aku hanya fokus mempertahankan hubunganku dengan Desy saja dulu.

****

Sekarang disinilah aku, di sebuah kosan khusus wanita. Ya, aku berada di kosan Desy. Kenapa? Jarang-jarang ya cowok bisa main ke kosan cewek? Aku juga heran kenapa bisa begitu. Tapi kata Desy, tamu yang datang ke kosannya boleh siapa saja. Berarti laki-laki juga boleh masuk sini, asal di dalam tidak berbuat yang macam-macam kecuali kalau ada kesempatan. Oke, bercanda.

Aku sudah sering main kesini kalau aku sedang ada waktu senggang, ya sekedar melepas kangen saja. Terlebih lagi saat malam minggu, aku sering membawa PS dari kosanku ke kosan Desy dan bermain bersama. Bahkan saat kami bermain PS, teman-teman kosnya ikutan main juga. Alhasil suasana kos pun menjadi ramai karena suara gaduh yang diciptakan oleh kami. Ya gimana nggak gaduh, game yang kami mainkan adalah game sepakbola yang dipadukan dengan game horor. Nah loh bingung kan sama game-nya? Sama, aku juga bingung.

Anyway, aku sudah berada didalam kamar kos Desy. Kamarnya lumayan luas, ada space untuk tiduran di lantai. Aku biasanya kalau kesini suka tiduran disitu sambil menonton tv, soalnya berasa adem banget. Di kasur tempat Desy tidur terdapat banyak sekali boneka Mickey Mouse yang selalu menemaninya tidur. Ya, Desy sangat menyukai karakter tikus yang menggemaskan itu, bahkan boneka Mickey Mouse yang aku hadiahkan untuknya juga masih disimpan rapi. Benar-benar calon istri idaman deh.

“Des, mana katanya kamu jago masak? Aku mau lihat kamu masak, hehe.”

Oh ya, saat di cafe tadi Desy sudah berjanji ingin membuktikan kalau dia itu bisa masak dan untuk membuktikannya dia mengajak aku ke kosannya. Nah, sekarang Desy harus membuktikan kalau dia bisa masak.

“Ayo, aku buktikan kalau aku itu bisa masak,” ucap Desy sambil memukul dadanya.

Kemudian Desy melangkahkan kakinya meninggalkan kamar kos menuju dapur. Sesampainya disana, dia mengecek bahan-bahan apa saja yang bisa digunakan.

“Jadi sekarang mau masak apa?” Aku menghampirinya yang sedang mengubek isi ulkas.

“Nih.”

Desy menunjukkan sebuah sebuah bungkusan plastik berisi dua ekor ikan gabus. “Aku mau masak ini. Kamu kan suka banget sama ikan, jadi aku mau masak ikan.”

Desy tahu saja kalau aku suka ikan. Ya jelas tahu lah, aku kan pacarnya.

Setelah menyiapkan semua bahan, akhirnya Desy pun mulai memasak. Aku hanya memperhatikannya dari belakang, karena dia menolak jika aku membantunya. Yasudahlah, mungkin dia mau belajar masak sendiri.

Desy mulai menyalakan kompor dan memasukkan minyak secukupnya ke dalam wajan. Setelah minyak panas, dia mulai memasukkan ikan gabus yang sudah dibumbui. Namun lucunya, dia selalu mundur saat hendak memasukan ikannya kedalam wajan. Yang membuatku tidak bisa menahan tawa adalah ekspresinya itu, ekspresi takut-takut manja. Jadi gemas aku ingin membantunya.

“Hahahahaha.” Aku sudah tidak kuat lagi menahan tawaku ini.

“Ishhh… Jangan ketawa.. Aku takut tahu!!”

“Hahaha. Makanya kalau nggak bisa jangan nyoba sendiri.”

Aku menghampirinya yang masih memegang ikan gabusnya. Lalu aku pegang pergelangan tangannya dan perlahan aku menuntun tangannya dengan ikan gabus ditangannya kedalam wajan. Dan ikan pun sukses  berenang di minyak panas.

“Kalau mau goreng ikan harus pelan-pelan masukin ke wajannya, kalau nggak nanti cipratan minyaknya kena kamu.”

“Iya-iya aku tahu,” ucap Desy sambil cemberut.

Tuh kan apa yang aku bilang, Desy belum terlalu bisa masak. Lihat saja saat dia memasukan ikan ke dalam wajan, masih takut begitu. Tapi karena itu juga aku jadi ketawa-tawa melihat ekspresi ketakutannya, lucu dan menggemaskan. Ya, walaupun begitu aku akan tetap berusaha mengajarinya memasak.

“Kamu lucu banget tadi, sampai ngakak aku jadinya,” kataku seraya memeluk Desy dari belakang.

Desy yang sedang menggoreng ikan merasa terkejut dengan tindakanku. Dia sedikit menolak saat aku memeluknya, namun aku sudah terlanjur memeluknya sampai lingkar perutnya kukunci dengan tanganku.

“Ishh apaan sih peluk-peluk? Jangan peluk-peluk, kamu nyebelin,” kata Desy seraya memegang tanganku dengan tangan kirinya.

“Tapi suka kan, hehe.”

Kali ini aku yang buat dia kesal, biasanya dia yang sering membuatku kesal. Tapi tak apalah, sekali-kali aku buat dia kesal, toh aku juga sayang sama dia.

“Hehehehe.” Desy hanya cengengesan menanggapi perkataanku.

“Aku masih penasaran sama orang yang di cafe tadi, sampai kamu ngelihatinnya serius gitu. Siapa sih orang itu?” tanya Desy.

“Aku kira dia adalah temanku sewaktu masih sekolah dulu, makanya aku perhatikan terus dia. Dan ternyata bukan, hehe,” jawabku.

“Yeee aku kira kamu kenal, sampai serius gitu ngelihatinnya.”

Aku tidak mungkin menjawab yang sebenarnya kalau orang itu adalah Rona, orang yang ingin mengusik hubungan kami. Aku belum siap dengan risiko yang nanti akan aku dan Desy dapatkan jika mengatakan yang sebenarnya. Lihat saja sekarang Desy sedang senang-senangnya berada didekatku. Aku tidak mau merusak momen indahnya dengan satu berita, ya bisa dibilang buruk.

Aku semakin mempererat dekapanku padanya, mengisyaratkan kalau rasa sayangku padanya melebihi apa yang aku punya. Desy yang merasakan itu juga merespon dengan menuntun tanganku agar semakin mempererat dekapanku di perutnya. Kemudian dia menoleh kearahku, tatapan kami saling bertemu satu sama lain. Tatapan indah di wajahnya yang cantik seakan menghipnotisku. Wajah kami perlahan semakin mendekat. Deru nafas Desy mulai tidak beraturan, kurasakan denyut nadi di tangannya berdegup kencang karena saat ini aku masih dalam posisi memeluk Desy. Tanpa disadari hidung kami saling bertemu dan bisa kurasakan nafas kami saling bertubrukan satu sama lain. Dalam hitungan detik, bibir kami saling bertemu. Sebuah ciuman.

Cukup lama kami berciuman, karena saat itu dekapanku semakin erat dan Desy nampak nyaman dengan hal itu. Hingga akhirnya, sebuah suara letupan dari wajan mengagetkan kami, spontan aktifitas kami jadi terhenti. Aku pun melepaskan dekapanku padanya dan melihat kearah wajan.

“Des, ikannya gosong!”

Desy terlihat kaget, dia langsung panik saat melihat masakannya gosong. “Yahhh gosong…”

“Kamu sih pake peluk aku segala, jadi gosong kan,” ucap Desy sambil mencubit perutku.

“Aduhhh. Iya iya maaf, hehe,” kataku sambil mengelus perutku. Duh, cubitannya sakit banget, sumpah.

“Yahhh aku nggak jadi makan ikan dong,” lanjutku.

“Masih bisa kok. Kita tinggal makan aja bagian yang nggak gosongnya.”

“Iya ya, pinter banget deh kamu.” Aku mencubit kedua pipi Desy sambil menggoyangkannya.

“Iya dong, gini-gini kan calon istri kamu, hehe.”

****

Akhirnya disebuah meja makan kosan, aku dan Desy makan masakan buatan Desy. Ya walaupun hasil masakannya gosong, aku tetap senang karena dia ada niat untuk memasak. Masakan yang sederhana, hanya nasi dan ikan goreng. Namun, kebersamaan kami lah yang membuatnya terlihat mewah.

“Maaf ya, masakannya jadi gosong. Kayanya aku nggak punya bakat masak,” ucap Desy. Dia menundukkan kepalanya, malu menatapku.

“Nggak boleh ngomong gitu, kamu sebenernya kan bisa masak cuman belum kelihatan aja.” Aku usap-usap kepalanya supaya dia tidak murung lagi.

“Nanti kapan-kapan aku ajarin lagi,” lanjutku.

Senyum mulai menghiasi wajahnya kembali. Dia nampak senang dengan apa yang aku katakan tadi. Dan sekarang karena sangking senangnya, dia makan sampai lahap begitu. Aku jadi tertawa dibuatnya, haha.

Selesai makan, Desy mengajak aku ke kamarnya. Katanya dia ingin menonton sinetron india kesukaanya. Sebenarnya aku tidak suka menonton sinetron india, tapi Desy memaksaku ikut menonton, ya sudah aku turuti saja kemauannya. Aku dan Desy menonton acara tersebut sambil duduk diatas kasurnya. Sesekali kami juga bersenda gurau di sela-sela acara tersebut.

“Des, minggu depan aku mau balik ke Bandung. Kamu mau ikut,” tanyaku pada Desy saat tengah menonton tv.

Desy berpikir sejenak. “Hmmm, kita mau jalan-jalan ya?”

“Aku mau ngenalin kamu ke orang tua aku. Ya, nanti sekalian jalan-jalan deh disana,” jawabku.

“Emangnya minggu depan kamu libur?” Desy menaikkan sebelah alisnya.

“Minggu depan cafe mau direnovasi selama beberapa hari, lalu semua pegawai cafe diliburkan.”

“Ohh gitu toh. Kalau gitu kamu mau sekalian lamar aku ya?” tanya Desy sambil menaik-turunkan alisnya.

Aku yang mendengarnya merasa terkejut dan memasang wajah datar.

“Nanti Des, kalau sudah waktunya. Sekarang ngumpulin duit dulu biar bisa lamar kamu.”

“Hehehe. Iya iya, santai aja kali,” ucap Desy sambil mencubit hidungku. Ini anak hobi banget nyubit hidung. Lama-lama hidungku bisa kaya phinocio.

“Aku ikut ke Bandung deh, pingin tau suasana di kota Bandung itu kaya gimana,” lanjut Desy.

“Oke, kalau begitu.”

Ya, Desy memang belum pernah main ke kota Bandung. Makanya aku ajak saja dia pergi kesana, sekalian mengenalkannya pada orang tuaku. Sudah lama sekali aku pulang kembali ke kota asalku, sekarang keadaan disana seperti apa ya? Jadi tidak sabar ingin cepat-cepat kesana. Ya, mumpung minggu depan cafe libur, aku manfaatkan itu dengan pulang ke Bandung dan tentunya aku ajak Desy juga.

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore lebih 15 menit. Aku dan Desy masih asik terpaku dengan acara tv yang sedari tadi kami tonton. Tapi ini waktunya aku untuk pulang ke kosan.

“Des, udah mau malam nih, aku pamit pulang ya,” kataku pada Desy yang masih menonton tv.

Lalu dia menoleh kearahku dengan tatapan sedih, matanya berbinar. Duh, ini anak kenapa jadi sedih gini mukanya? Aku kan cuma pamit pulang ke kosan, nggak pergi jauh keluar kota. Ada-ada saja Desy ini. Tiba-tiba dia memelukku dengan sangat erat hingga badanku terasa sakit.

“Jangan pulang dulu… Aku masih pingin berdua sama kamu…” ucap Desy yang kemudian membenamkan wajahnya ke dadaku.

“Aku kan cuma pulang ke kosan Des, nggak pergi jauh ke luar kota,” kataku sambil mengusap kepalanya.

“Pokoknya temenin aku sebentar lagi aja.”

Hufftt. Gini nih kalau cewek sudah manja jadi repot sendiri, jadi bingung juga harus bagaimana. Tapi ya namanya juga cewek, butuh perhatian dari cowoknya.

“Kamu masih kangen ya sama aku?”

Desy membalas ucapanku dengan anggukan.

“Yasudah aku temenin sebentar lagi deh.”

Terpaksa aku harus menemaninya sebentar lagi, padahal ini waktunya aku pulang ke kosan. Tapi tak apalah aku melakukannya asal Desy bisa senang di dekatku. Sembari menemaninya, aku sedikit berbincang-bincang dengan dia.

“Des, kalau misalnya aku gagal nepatin janji aku, apa kamu bakal tinggalin aku?” tanyaku padanya.

Desy nampak heran dengan apa yang barusan aku ucapkan. Raut wajahnya juga menunjukkan ekspresi kebingungan.

“Kamu kenapa nanya gitu?” Desy malah balik nanya.

“Nggak apa-apa sih, aku cuma nanya aja. Nggak boleh ya?”

Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku bertanya hal itu padanya, tiba-tiba saja kata-kata itu terucapkan olehku. Dan sekarang Desy nampak kebingungan dengan apa yang aku ucapkan. Apa aku salah ngomong ya? Ya, aku harap tidak. Desy yang masih kebingungan itu kemudian memegang pipiku dengan lembut, lalu dia pun tersenyum.

“Aryo sayang, kamu sayang nggak sama aku?” tanya Desy.

Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Denger ya, aku yakin kamu bisa nepatin janji itu. Kenapa? Karena komitmen kamu sangat kuat soal janji itu dan aku melihat kesungguhan kamu akan hal itu. Aku selalu ada disisi kamu, sampai kapanpun akan selalu bersamamu hingga janji itu bisa kita tepati, walaupun banyak rintangan yang harus kita hadapi. Jadi, kita berjuang bersama untuk mewujudkan janji itu.”

Ucapan Desy barusan sungguh membuatku menjadi tenang. Kali ini ucapannya itu terdengar sangat bijak menurutku. Ya, selama pacaran, kami sudah menghadapi berbagai rintangan dan itu kami hadapi bersama-sama. Desy selalu menyemangatiku, begitupun sebaliknya. Mungkin karena hal itu juga aku semakin sayang padanya. Dan sekarang rintangan yang harus aku hadapi adalah soal Rona. Entah bagaimanapun caranya aku harus bisa menghadapi rintangan yang satu ini. Tentunya aku tidak sendirian menghadapinya, ada Desy yang akan selalu menemaniku.

Aku yang takjub dengan omongan Desy barusan hanya tersenyum saja menanggapinya. Tidak biasanya dia bisa berkata sebijak ini. Jadi makin sayang sama Desy. Desy yang melihatku tersenyum, ikut tersenyum juga. Senyuman yang indah.

“Makasih ya Des. Jadi makin sayang sama kamu.”

“Iya. Makanya kamu juga harus semangat.” Desy kembali mencubit hidungku.

“Aduhhh. Sakit tau,” kataku sambil melepas cubitannya dari hidungku. “Kamu hobi banget ya nyubit hidung, kalau hidungku copot gimana?”

“Hehehe.” Desy malah ketawa melihatku yang kesakitan. Oke, ini namanya dia tertawa diatas penderitaan orang.

“Habis gemesss….” Desy malah nyubit pipiku juga. Oke, kalau wajahku sering dicubitin gini, lama-lama wajahku jadi seperti Ariel ‘Noah’. Oke, abaikan.

“Dihhh daripada nyubit aku terus mending sini peluk aku aja,” kataku sambil merentangkan tanganku.

“Ishh dasar genit. Nggak, aku nggak mau meluk kamu. Kamu genit,” kata Desy sambil membuang muka.

“Yahhhh… Yaudah deh aku pulang aja.” Aku pun mulai beranjak dari tempat tidurnya.

“Ehhh jangan…” Desy melompat kearahku, kemudian memelukku dengan erat. “Jangan pergi dulu, aku masih kangen.”

Aku menatap mata indahnya dengan seksama dan mengelus lembut rambutnya. “Huhhh dasar manja, haha.”

“Hehehe. Tapi sayang kan?” Desy tersenyum manis kepadaku sambil beberapa kali mengedipkan matanya.

“Jangan senyum-senyum, aku udah kena diabetes gara-gara senyum kamu, hehe.”

“Ishhh dasar, hahaha.” Desy kembali mencubit hidungku. Aduh Desy, nggak bosen apa nyubit hidungku terus. Hobi banget ya ini anak.

Aku dan Desy terus berbincang-bincang sambil menonton film horror di kamar kosnya. Hingga akhirnya tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan aku harus segera pulang ke kosanku. Awalnya Desy menawarkanku untuk menginap di kamar kosnya, namun aku menolak. Bukan tidak apa-apa, tidak baik kan kalau pasangan kekasih yang belum menikah tidur dalam satu kamar, takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Makanya aku menolak tawaran Desy tadi, tapi untungnya Desy mengerti akan hal itu. Aku pun berpamitan kepada Desy.

“Aku pulang dulu ya,” kataku sambil menyalakan motorku.

“Iya. Hati-hati di jalan,” ucap Desy seraya melambaikan tangannya.

Aku pun mulai memacu motorku meninggalkan kosan Desy. Kulihat dikaca spion motorku Desy masih melambaikan tangannya.

“I love you!!”

Samar-samar kudengar suara Desy mengucapkan kata “I love you” saat aku sudah jauh meninggalkan kosannya. Ada-ada saja Desy, hehe.

Aku terus melajukan sepeda motorku, hingga akhirnya aku menghentikan sepeda motorku di dekat sebuah mini market karena ada sesuatu yang menarik perhatianku. Di parkiran mini market itu terlihat sekelompok orang berjumlah 4 orang sedang berusaha merampas tas milik seseorang yang baru saja keluar dari mini market. Sepertinya ada perampokan nih. Aku perhatikan siapa korban yang sedang dirampas sekelompok orang itu.

“Loh itu kan?!”

~To be continued~

 

Created by: Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

Iklan

6 tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s