Malam Minggu Bersama Si Gadis Albino

Malam minggu merupakan kegiatan dimana anak-anak muda menghabiskan hari Sabtu di malam hari dengan cara berkumpul bersama teman-teman,bersama pasangan atau bersama keluarga.

Pada hari Sabtu aku bangun lebih siang karena tidak ada kegiatan dan aku menonton televisi sambil minum susu. Namun aku mendapat pesan singkat dari Ikha.

Hai Deni ketemu aku di taman ya sore ini jam 4, kebetulan di taman ada beberapa bunga yang indah. Jangan lupa bawa peralatan lukisnya

Itulah pesan singkat yang kuterima dari Ikha. Setelah membaca pesan itu aku merapikan semua peralatan lukisku untuk berangkat ke taman nanti sore tapi sayangnya aku kehabisan beberapa cat dan kertas kanvasnya.

Akhirnya aku memutuskan ke toko buku untuk membeli beberapa peralatan lukis yang kubutuhkan. Saat aku hendak membayar tiba-tiba aku melihat seorang gadis yang menurutku sangat unik karena dia memiliki rambut yang pirang, kulit yang sangat putih dan matanya berwarna abu-abu. Aku berpikir gadis itu berasal dari luar negeri dan akhirnya aku bertanya.

“Excuse me, can you speak Indonesian Language?” tanyaku dengan bahasa Inggris.

“Iya aku bisa berbicara Bahasa Indonesia” kata gadis itu.

“Oh … kupikir kamu tidak bisa berbicara Bahasa Indonesia” kataku sambil tersenyum malu.

“Aku memang orang Indonesia kok. Apa kamu merasa aneh padaku?” tanya gadis itu.

“Hmm nggak kok… kamu terlihat unik”

“Oh ya?” kata gadis itu.

“Iya… kamu terlihat unik. Ngomong-ngomong kamu beli apa?” tanyaku.

“Aku beli buku novel tentang seorang putri yang sedang mencari pangeran yang baik hati meski putri itu memiliki kekurangan. Kamu sendiri beli peralatan lukis itu untuk apa?” tanya gadis itu.

“Oh ini… aku beli ini untuk menambah persediaan saja. Kebetulan cat dan kertas kanvasku sudah mau habis sekaligus saya mau menggambar di taman nanti sore” kataku.

“Hmm begitu ya… ya sudah deh aku mau bayar dulu ya. Maaf ga bisa mengobrol lebih lama karena aku harus pulang dulu setelah itu ada kegiatan di luar rumah” kata gadis itu.

“Oh kalau begitu biar aku saja yang bayar biar cepat” kataku.

“Makasih ya kalau kamu sudah membayarku dan senang bisa bertemu denganmu. Semangat ya melukisnya di taman”

“Sama-sama dan kamu juga ya semangat buat kegiatanmu”

Aku memutuskan membayar peralatan lukisku dan buku novel gadis itu tapi saat aku mau meninggalkan toko buku itu aku baru sadar kalau aku lupa menanyakan nama gadis itu.

“Astaga… aku lupa siapa nama gadis yang unik itu. duh gusti kenapa aku lupa sih?” celetuk dalam hatiku.

-Skip-

Aku telah sampai di rumah setelah itu aku makan siang dan istirahat sejenak agar kembali bugar saat pergi ke taman untuk melukis bersama Ikha jam 4 sore nanti.

Saat aku tidur siang, tiba-tiba aku bermimpi seorang gadis yang menurutku sama seperti gadis yang kutemui di toko buku tadi.

“Dear pangeranku… baru kali ini ada pangeran yang mau memilih seorang puteri yang memiliki kekurangan yaitu seorang puteri yang beralbino. Mengapa pangeran memilih diriku walau hanya seorang gadis beralbino?” sambil menggenggam kedua tangan pangeran sambil menangis.

“Tuan puteriku sayang… pangeran memilih tuan puteri seperti dirimu karena senyumanmu, memiliki sisi lembutmu dan kamu adalah tuan puteri yang unik”

“Ah masa sih? Tuan puteri jadi malu nih hehehe… jadi pangeran benar-benar mencintaiku meski aku hanyalah tuan puteri yang beralbino?

“Tentu saja pangeran sangat mencintai tuan puteri meski tuan puteri memiliki riwayat albino bahkan pangeran akan menjaga tuan puteri sampai kapanpun”

Saat pangeran dan tuan puteri yang beralbino itu hendak berciuman tiba-tiba saja jam alarmku berbunyi dan sangat mengganggu mimpi yang indah itu tapi saat aku lihat jam.

“Astaga sudah jam 4 kurang 15 menit… duh gusti malah aku belum beres-beres perlengkapan lukisku dan belum mandi lagi. Kalau telat bisa kena marah sama Ikha lagi” kataku dengan sangat panik.

Setelah mandi dan beres-beres peralatan lukisku, aku langsung berangkat ke taman dengan sepeda. Namun saat kukayuh sepedaku dengan cepat aku melihat gadis yang kutemui di toko buku itu tadi dan dia terlihat berlarian menuju arah yang sama yaitu ke taman tapi aku tetap mengayuh ke taman daripada aku dimarahi sama Ikha karena telat.

Akhirnya aku sampai di taman 5 menit sebelum jam 4 sore dan kebetulan Ikha belum tiba di taman. Sembari menunggu Ikha datang, aku mulai menyiapkan semua peralatan lukisku dan aku karena Ikha ingin sekali melukis bunga yang sedang bemekaran di taman. Setelah aku menyiapkan semuanya aku memutuskan untuk duduk-duduk di taman sejenak sambil menulis pesan singkat untuk Ikha.

Kamu lagi dimana Ikha? Aku sudah sampai di taman nih”

Ikha membalas pesan singkatnya.

“Aku lagi di jalan menuju taman nih syukurlah kalau sudah sampai duluan. Tunggu aku ya, aku akan melambaikan tanganku jika sudah sampai”

Aku membalas pesan ke Ikha.

“Oke”

Saat aku lagi duduk-duduk sambil menunggu Ikha, aku melihat seorang gadis yang kutemui di toko buku dan di jalan tadi.

“Eh itu kan gadis yang tadi, kenapa dia datang ke taman ya? Ah aku panggil dia deh” kataku dalam hati.

Aku memutuskan untuk memanggil gadis itu dengan cara sedikit berteriak.

“Hei gadis berambut pirang dan berkulit putih” teriakku sambil melambaikan tanganku.

“Iya ada apa?” kata gadis itu sambil menghampiriku dan duduk bersama.

“Kamu kenapa datang ke taman? Apa kamu ada kegiatan di tamankah?“

“Hmm sebenarnya aku datang kesini hanya untuk menghilangkan rasa kesepian sih dan datang ke taman inilah menjadi kegiatan di luar rumah setiap hari. Oh iya katanya kamu ada kegiatan melukis, kok kamu belum mulai melukisnya?”

“Aku lagi menunggu temanku nih, oh iya apa kamu membawa novel yang kamu beli tadi?”

“Iya aku membawanya, apa kamu mau membacanya? Aku yakin setelah membaca novel ini pasti kamu akan menangis karena cerita ini memang menyedihkan sekali”

“Terima kasih aku akan membacanya nanti. Oh iya aku belum berkenalan nih… maaf tadi aku buru-buru jadi aku belum sempat kenalan.”

“Iya aku minta maaf juga karena kejadian tadi… namaku Anindhita Asmarani panggil saja Anin dan senang bisa bertemu denganmu”

“Aku Deni Kharisma panggil saja Deni senang bisa bertemu denganmu juga”

Aku dan Anin sangat menikmati obrolan ini dan akhirnya Ikha datang ke taman juga.

“Deni…” Teriak Ikha sambil melambaikan tangannya.

“Hei Ikha…. ayo kesini” kataku sambil melambaikan tanganku.

“Maaf ya aku telat habis disana macet sekali. Hmm siapa gadis yang bersamamu?”

“Oh dia seseorang yang kutemui di toko buku tadi namanya Anindhita Asmarani panggil saja Anin”

“Hallo, aku Riskha Fairunissa panggil saja Ikha senang bisa bertemu denganmu”

“Aku Anin senang bisa bertemu denganmu juga, oh iya kamu temannya Deni ya?”

“Iya Deni adalah temanku sejak di bangku SMA dan teman hobi melukis juga”

“Oh begitu ya. Hmm bolehkah aku ikut melukis bersama kalian? Jadi model pun tidak masalah hehehe”

“Boleh kok justru Ikha sangat senang kalau ada Anin bergabung untuk melukis, ya kan Deni?”

“Iya aku sangat senang ada Anin. Hmm kamu ambil satu bunga yang menurutmu bagus dan ciumlah bunga itu”

“Baiklah”

Aku dan Ikha melukis si Anin sambil memegang bunga yang indah itu tapi saat aku menggambar aku merasakan ada yang tak biasa pada diriku.

“Duh Gusti… entah kenapa dadaku tidak enak saat aku melukis gadis itu? Aku merasa tidak tega kalau lihat gadis itu jadi model dalam lukisanku. Apakah aku mulai menyukainya ya?” keluh dalam hatiku.

“Kamu kenapa Deni? Gak biasanya kamu melukis dengan tangan gemetaran. Kamu sakitkah?” tanya Ikha dengan heran.

“Aku baik-baik saja kok. Mungkin aku sedikit haus saja”

“Oh kenapa tidak bilang dari tadi. Ini Ikha bawa air mineral buat kamu”

“Terima kasih Ikha”

Disaat aku mulai melepaskan rasa tegangku aku melanjutkan untuk melukis tapi hal serupa juga dialami oleh Anin.

“Duh Gusti… saat aku menatap dan mencium bunga ini, mengapa aku ingin sekali memiliki bunga yang diberi oleh seorang pangeran? Apakah pria itu menjadi pangeranku kelak ya?” tanya Anin sambil menitikan sedikit air mata.

Saat Anin mulai menitikan air mata, aku langsung menghampirinya dan memberi selembar tisu.

“Anin kenapa? Kok kamu sedih?”

“Eh aku sedih ya? Hmm mungkin cuma perasaanmu saja kok lagipula hari ini cuacanya sedikit panas hehehe”

“Oh hanya karena kepanasan ya? Ya sudah deh aku kasih selembar tisu buat kamu”

“Terima kasih, tapi kamu tidak usah repot-repot karena kebetulan aku membawa handuk kecil”

“Oh begitu ya… hmm bisa aku lanjutkan melukisnya agar cepat selesai? Sedikit lagi selesai”

“Boleh”

Aku memutuskan untuk kembali melukis dan suasananya mulai mencair sehingga aku mulai nyaman untuk melukis dan tak terasa aku dan Ikha telah menyelesaikan lukisannya.

“Ah akhirnya selesai juga., kita telah melakukannya yang terbaik. Benar kan Ikha?”

“Iya akhirnya selesai juga meski kamu dan Anin mengalami suatu insiden kecil tapi kita telah melaluinya”

“Setiap kita melakukan sesuatu pasti akan ada suatu insiden tapi yakinlah kalau kita bisa melaluinya”

“Iya Deni… Ikha setuju sama kamu. Dan untuk Anin makasih ya udah menolong kami untuk menyelesaikan lukisan kami. Tanpa dirimu mungkin kami hanya menggambar bunga saja”

“Sama-sama… Anin sangat senang kok dengan kalian berdua karena tanpa kalian mungkin aku hanya duduk sendirian di taman sambil membaca novel itu”

“Oh iya Anin besok aku dan Ikha mau pergi ke pantai. Apa kamu mau ikut bersama kami?”

Mendengar ajakan dari Deni membuat Anin berpikir lebih keras karena dia belum pernah ke pantai sama sekali karena takut kulitnya terpapar sinar matahari.

“Hmm gimana ya… sebenarnya aku ingin sekali ke pantai, tapi aku tidak yakin bisa pergi” kata Anin dengan murung.

“Kamu tenang saja nanti aku dan Ikha bakal membuat dirimu senang. Kalau ada apa-apa pasti aku akan bantu”

“Baiklah… aku akan ikut kalian karena aku ingin sekali pergi ke pantai” kata Anin sambil tersenyum

Akhirnya mobil yang ditumpangi Ikha telah tiba di taman.

“Ya sudah Ikha pulang dulu ya. Sampai ketemu besok di pantai”

“Bye Ikha, hati-hati di jalan ya” kataku sambil melambaikan tangan”

Akhirnya Ikha meninggalkan taman itu, hanya aku dan Anin saja yang ada di taman.

“Hmm Anin ayo kita pulang, hari sudah senja nih. Aku antar kamu ya.”

“Ga usah repot-repot Deni. Anin bisa pulang sendiri kok”

“Tidak apa-apa lagipula tidak enak kalau seorang gadis meninggalkan di taman begitu saja dengan seorang diri. Nanti kalau terjadi apa-apa kan repot”

“Iya deh, aku mau ikut denganmu lagipula rumahku gak jauh dari tempat ini kok”

Akhirnya aku menaiki sepeda bersama Anin untuk mengantarnya pulang ke rumah. Tapi saat aku mengayuh sepeda untuk mengantar Anin, dia memelukku dengan erat padahal aku belum memberinya aba-aba dan disaat itulah aku mulai merasakan ada sedikit kehangatan dari tangannya Anin.

“Saat Anin memelukku dengan erat entah mengapa aku merasakan kehangatannya malah aku ingin sekali menyentuh tangan dia. Apa mungkin aku menyukai sama gadis albino itu? Mungkin pelukan itu hanyalah untuk menjaga keselamatan dia agar tidak jatuh dari sepeda” kataku dalam hati sambil mengayuh sepeda.

Aku tidak peduli tentang pelukan yang erat dari Anin yang pasti aku harus mengantarnya pulang dengan selamat. Tapi Anin juga memiliki perasaan tentang pertama kalinya diantar pulang bersama Deni.

“Aku tidak menyangka kalau aku diantar pulang sama Deni padahal aku tidak ingin membuat dia repot tapi dia adalah pria yang baik dan sangat peduli sama teman-temannya. Baru kali ini aku memeluk dia padahal awalnya aku enggan memeluknya, tapi karena dia pakai sepeda jadi ya mau tidak mau aku harus memeluknya agar tidak jatuh. Hmm apa mungkin dia adalah pangeranku kelak?” kata Anin dalam hati.

“Oh iya Anin kalau aku antar sampai ke rumahmu gak apa-apa kan?”

“Gak apa-apa kok, malah Anin senang kalau kamu antar sampai ke rumahku dan aku tidak keberatan kalau kamu mau mampir ke rumahku”

“Ah gak usah repot-repot lagipula aku hanya antar kamu sampai ke rumahmu saja sudah cukup kok”

“Tidak apa-apa kok lagipula aku mau memberi sesuatu buat kamu saat sampai di rumahku”

“Oh baiklah aku akan antar kamu ke rumahmu tapi ngomong-ngomong rumahmu dimana?”

“Berhenti disini saja karena kamu sudah sampai di rumahku”

“Oke”

Akhirnya aku dan Anin turun dari sepeda lalu aku menunggu di depan teras rumahnya sementara Anin masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil sesuatu yang kuberikan padaku.

“Hei Deni… maaf ya membuat menunggumu terlalu lama. Oh iya aku mau memberimu sesuatu buat kamu sebagai tanda terima kasih sudah mengantarku ke rumah” kata Anin setelah keluar ke teras dengan memegang sebuah buku.

“Tidak apa-apa kok dan terima kasih sudah memberiku sebuah buku yang sangat bagus ini aku akan membacanya. Oh iya apa kamu tidak keberatan kalau aku bermalam minggu bersama kamu disini?”

“Eh kok tiba-tiba kamu pengen malam minggu di rumahku? Apa kamu merasa betah di rumahku ya atau apa kamu mau ngobrol-ngobrol lebih dalam tentangku?”

“Hehehe mungkin aku akan bilang keduanya”

“Ah bisa saja… ya sudah deh aku senang kalau kamu bermalam minggu di rumahku” kata Anin sambil menggodaku

“Hmm Anin… aku penasaran sama kata-katamu saat di toko buku tadi tentang seorang putri yang sedang mencari pangeran yang baik hati meski putri itu memiliki kekurangan. Apa kamu merasa bahwa kamu adalah gadis yang memiliki kekurangan karena kamu hanyalah seorang gadis beralbino?”

Saat mendengar pertanyaanku, Anin sangat terkejut dan air mata mulai mengalir di pipinya.

“Iya… Aku hanyalah gadis yang memiliki kekurangan dan aku memang gadis yang memiliki riwayat albino. Saat aku berkaca pada diriku, aku merasa putus asa dengan keadaanku dan aku nyaris bunuh diri setelah melihat diriku tapi saat aku membeli buku itu aku mulai berpikir bahwa aku bisa saja seperti putri yang ada di buku itu yang bisa mendapatkan pangeran yang benar-benar mencintai gadis itu dengan tulus” kata Anin sambil menangis.

Aku merasa tidak tega saat Anin menangis tapi ya itulah keadaan dia dan inilah namanya takdir yang telah diberikan oleh Tuhan.

“Sudah ah kamu gak usah menangis, menurutku ini sudah takdir yang telah diberikan oleh Tuhan. Intinya sih kamu harus bersyukur karena masih ada orang yang sangat peduli denganmu bahkan aku akui kalau aku suka sama gadis yang menurutku unik” kataku sambil menepuk pundaknya Anin.

“Iya Deni… Anin akan menerima takdirnya Tuhan dan aku bersyukur karena aku masih hidup dan gak menyangka kalau ada orang yang baik padaku. Hmm kamu lebih baik pulang ya, besok mau ke pantai bersama aku kan?”

“Iya sudah saatnya aku harus pulang. Makasih ya bukunya dan sampai ketemu besok ya”

“Bye Deni… Oh iya besok jemput aku ya”

“Iya besok aku akan menjemputmu”

Akhirnya aku meninggalkan rumahnya Anin dan aku langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung berbaring di kamar dan langsung membaca buku yang diberikan oleh Anin tadi dan saat membaca buku itu aku tidak sengaja melihat sebuah catatan kecil di bagian bawah buku yang bertuliskan :

Kalau aku mendapatkan seorang pangeran yang baik hati, aku ingin sekali jadian di sebuah tempat yang romantis yang dihiasi dengan bunga mawar berwarna merah muda dan digelar saat malam minggu.

Setelah melihat sebuah catatan kecil itulah aku mulai berpikir.

“Hmm apa bisa ya memenuhi keinginan dari Anin jika dia telah menemukan pangeran yang tepat? Ah mungkin aku segera memutuskannya” kataku dengan penuh gelisah.

-Skip-

Keesokan harinya aku mulai berkemas untuk berangkat ke pantai kebetulan aku membuat beberapa roti sandwich serta beberapa cemilan yang telah kubeli sejak kemarin dan yang tidak lupa adalah air mineral.

“Hmm roti sandwich sudah,cemilan sudah dan air mineral juga sudah. Tapi apa yang kurang ya? Apa aku harus membawa topi dan krim tabir surya ya? Ah bawa saja deh buat jaga-jaga karena siapa tahu ada orang yang butuh topi dan krim tabir surya”

Setelah semuanya sudah ada dan dikemas ke dalam kotak piknik, aku langsung membawa barang-barang itu ke dalam mobil dan langsung berangkat ke rumahnya Anin untuk menjemputnya karena Anin ingin sekali pergi ke pantai.

“Ah hari ini cerah sekali ya tapi entah mengapa aku merasa khawatir sama Anin saat aku ajak dia ke pantai. Ah kalau Anin senang sih saya tidak perlu khawatir karena baru kali ini dia pergi ke pantai dan nasib baiknya aku bawa topi dan krim tabir surya” kataku dalam hati.

Akhirnya aku sampai ke rumahnya Anin dan langsung membunyikan klakson mobilku untuk memanggil Anin.

Tit…Tit… Tit…

Akhirnya Anin keluar dari rumahnya dan menghampiriku di depan pintu mobil.

“Hei Deni maaf ya membuatmu menunggu lama, gak apa-apa kan?”

“Gak apa-apa kok malah aku baru sampai di depan rumahmu”

“Ah baguslah ya udah berangkat yuk”

Akhirnya aku dan Anin mulai berangkat ke pantai, tapi saat aku menyetir entah mengapa rasa khawatirku timbul lagi.

“Kok rasa khawatirku muncul lagi? Padahal aku telah membawa segalanya. Jangan-jangan aku… ah aku harus fokus menyetir agar tidak terjadi apa-apa” keluhku dalam hati.

Anin juga merasakan hal yang sama yaitu rasa kekhawatiran tapi dia malah lebih kalem.

“Ini kali pertama pergi ke pantai, awalnya aku enggan untuk pergi kesana karena aku khawatir dengan kulitku yang terpapar dengan sinar ultraviolet. Tapi aku harus bisa melawan rasa takutku dan harus terbiasa dengan alam” kata Anin dalam hati.

Akhirnya aku dan Anin telah sampai di pantai, sesampainya di pantai aku dan Anin membawa beberapa barang keluar mobil dan langsung menggelar tikarnya di tepi pantai. Aku menata kotak makanannya sementara Anin mengembangkan payungnya agar teduh. Kebetulan ombak di laut sangat tenang dan aman untuk mandi di pinggir laut, tapi sebelum mandi ke pinggir laut aku dan Anin memutuskan istirahat sejenak dan mengobrol.

“Hmm Deni makasih ya sudah mengajakku ke pantai. Anin senang sekali untuk datang ke tempat yang indah sekali apalagi anginnya bertiup yang tidak terlalu kencang dan suara ombaknya sangat indah untuk didengar”

“Iya aku juga suka sama suasananya dan ini pertama kalinya bisa pergi bersama denganmu bahkan aku ingin sekali untuk datang ke tempat ini lagi bersamamu bahkan aku anggap ini adalah tempat spesial kita”

“Oh iya? Ah menurutku semua orang bisa menikmatinya kok bukan kita berdua saja di tempat yang spesial ini. Ngomong-ngomong gimana buku yang ku berikan kemarin?”

Saat mendengar pertanyaan dari Anin, aku hanya terdiam dan enggan menjawab pertanyaan itu.

“Kok kamu diam? Ada yang salahkah?” tanya Anin dengan heran.

“Eh nggak ada kok, bukunya sangat menarik dan ya kamu tahukan kalau buku yang kamu beli itu membuat air mataku sedikit mengalir”

“Oh syukurlah dan aku minta maaf kalau ada catatan kecil dari Anin. Aku harap kamu tidak melihat catatan itu ya”

Aku sangat terkejut saat dia mengatakan itu karena aku telah terlanjur melihat catatan kecil itu tapi agar tidak menimbulkan kecurigaan aku hanya menggangguknya.

“Hmm Deni… main air di tepi laut yuk mumpung ombaknya lagi tenang nih”

“Ayo”

Akhirnya aku dan Anin main air di tepi laut, aku tidak menyangka kalau Anin sangat menikmati suasana ini meski dirundung rasa kekhawatiran. Setelah bermain air di tepi laut, aku dan Anin memutuskan untuk makan siang.

“Hmm Anin setelah makan siang nanti main pasir yuk”

“Boleh, lagipula aku mau membuat sesuatu nih. Tapi ngomong-ngomong Ikha kemana ya?”

“Oh iya aku lupa bilang kalau Ikha tidak bisa datang karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Dia tadi SMS ke aku pas di jalan ke rumahmu tadi”

“Oh begitu ya… tidak apa-apa deh”

Setelah makan siang, aku dan Anin langsung bermain pasir. Anin sedang membangun sebuah istana pasir sementara aku sedikit menjauh dari Anin karena mau menulis sesuatu untuk Anin saat acara jadian nanti. Setelah menulis sesuatu untuk Anin, aku kembali menghampirinya dan memutuskan untuk membantu dia.

“Kamu darimana? Kok kamu gak bilang sama Anin?”

“Oh aku dari toilet buat buang air kecil” kataku yang sedikit berbohong.

“Hmm begitu ya… eh coba lihat deh, kamu suka gak sama istana pasir buatanku?”

“Aku suka kok sama istana pasir buatanmu, aku bantu kamu deh buat merapikannya”

“Wah Anin senang ada yang mau menolongku saat membangun istananya”

Tidak terasa kini mulai senja di pantai, aku dan Anin memutuskan untuk duduk sejenak sambil melihat mentari senja.

“Anin suka sekali dengan pemandangan mentari senja di tepi pantai. rasanya aku belum bisa percaya kalau aku melihat pemandangan ini dengan seseorang seperti dirimu” kata Anin dengan perasaan sedih.

“Iya… aku juga merasakan hal yang sama. Hmm malam minggu nanti datang kesini lagi yuk karena ada sesuatu yang spesial buat kamu”

“Eh… kok tiba-tiba kamu mau mengajakku kesini lagi dan memberi sesuatu spesial padaku?” kata Anin dengan sangat kaget.

“Kamu akan tahu di malam minggu nanti di tempat yang sama”

“Baiklah… hmm kita pulang yuk. Hari mulai gelap nih”

“Ayo”

Akhirnya aku dan Anin mengemas semua barang ke dalam mobil lalu berangkat menuju rumahnya Anin untuk mengantarnya pulang karena dia sudah terlihat kelelahan sampai-sampai dia ketiduran.

“Kasihan Anin dia sangat kelelahan tapi aku sangat senang melihat dia senang tapi aku tidak tega kalau dibuat penasaran karena aku belum mengatakan kalu aku ingin dating dengan dia di tempat yang sama. Nanti aku hubungi Ikha untuk merancang semua rencanaku” kataku dalam hati.

Akhirnya aku telah sampai ke rumahnya Anin dan aku membangunkan dia karena sudah sampai tapi dia tidak bangun juga jadi mau tidak mau aku harus membopongnya ke dalam rumah Anin dan meletakkan dia di tempat tidurnya.

“Anin aku pulang dulu ya… maaf kalau aku harus membopongmu sampai ke kamarmu karena aku tahu kamu sangat kelelahan dan tidak enak kalau aku membangunkanmu. Selamat tidur ya semoga mimpi yang indah” kataku sambil mengelus rambutnya Anin.

Akhirnya aku meninggalkan rumah Anin dan langsung pulang ke rumah. Setelah sampai di rumahku, aku langsung menulis pesan singkat ke Ikha.

“Hei Ikha, aku mau bilang sesuatu”

Lalu Ikha membalas pesannya.

“Apa itu?”

“Malam minggu depan gue mau menyatakan untuk menjadi kekasihnya Anin”

“Heh? Lo mau pacaran sama Anin? Emang sudah bilang ke Anin kalau kamu mau pacaran dengan dia?”

“Belum karena aku sengaja membuat kejutan buat dia dan aku berencana untuk mendeklarasikanya di pantai. Aku butuh bantuanmu buat mendekorasi segalanya dan harus ada bunga mawar merah muda”

“Bunga mawar merah muda ya? Hmm sepertinya aku bisa memesannya ke toko bunga milik Ghaida. Dia tahu apa yang dibutuhkan buat kamu”

“Baguslah kalau Ghaida mau membantuku, aku akan ke rumahnya hari Sabtu pagi”

“Oke”

-Skip-

Awal minggu telah tiba dan tinggal lima hari lagi menuju hari Sabtu sekaligus malam minggu yang sangat spesial. Aku enggan bertemu dan berkomunikasi dengan Anin untuk sementara waktu sebelum hari Sabtu tiba dan aku mulai menyusun segala rencana hingga membeli sebuah hadiah untuk Anin nanti.

Kini hari Sabtu tiba kembali dan aku langsung ke rumahnya Ghaida untuk membeli bunga mawar merah muda yang akan menjadi dekorasi buat acara dating nanti di pantai.

“Pagi Ghaida apa kabar?” tanyaku.

“Baik Deni panjang umur kamu hehehe… ada apa Deni datang ke rumahku?”

“Hmm aku lagi mencari bunga mawar merah muda nih buat acara dating sama seseorang”

“Heh mau dating sama siapa? Cieeee Deni sudah punya pacar nih hehehe” kata Ghaida yang menggodaku.

“Aku dating sama seseorang gadis yang menurutku istimewa. Oh iya nanti kamu dekorasi di pantai ya. Bisa kan?”

“Tenang saja aku bakal bantu kamu kok. Sekali lagi selamat ya sudah dapat gadis impianmu, harapanku cuma satu yaitu jaga gadis impianmu”

“Makasih Ghaida. Ya sudah aku pulang dulu ya aku mau istirahat sejenak sambil menunggu kabar dari kalian”

“Oke nanti aku kabari kamu, hati-hati ya Deni dan selamat berkencan ria ya sama gadis itu hihihi”

“Iya deh”

Akhirnya aku meninggalkan rumahnya Ghaida dan langsung pulang ke rumahnya untuk beristirahat sejenak. Saat istirahat aku bermimpi lagi

“Dear pangeranku… mengapa kamu enggan mencium tuan puteri yang kamu baru saja menerimanya?”

“Maaf tuan puteriku, pangeran agak sedikit grogi untuk menciummu. Mungkin pangeran belum terbiasa dengan tuan puteri yang beralbino”

“Oh begitu ya, Ya sudah deh jika pangeran mau menciumku silahkan saja tapi jika masih grogi jangan dipaksakan”

Saat pangeran dan tuan puteri ingin mencium kembali, tiba-tiba saja nada handphoneku berbunyi yang membuat mimpi indahku kembali terganggu dan ternyata ada pesan dari Ikha.

Hai Deni ini Ikha… oh iya maaf ya kalau aku membawa Anin ke rumahku karena aku akan merias dia agar acara datingnya terlihat lebih segar. Kamu gak keberatan kan?.Untuk biaya kamu tenang saja karena aku akan tanggung sendiri dan untuk masalah kostumnya Anin juga aku yang sediakan kok. Ya ini demi sahabatku juga kok karena aku ingin sahabatku bahagia karena kebahagiaanlah yang paling utama. Oh iya aku mau bilang selamat ya sudah memilih gadis yang tepat buat kamu semoga kamu langgeng ya hubungannya.

Saat aku membaca pesan singkat dari Ikha, aku sangat senang karena ada sahabat yang sangat peduli denganku bahkan dia rela merias Anin untuk acara dating nanti.

Aku memutuskan untuk mandi karena bersiap-siap menuju ke rumahnya Ikha untuk menjemput Anin dan langsung pergi ke pantai untuk acara dating bersama dia. Setelah mandi aku langsung memakai baju jas berwarna hitam dan kemeja putih lalu aku menuju ke rumahnya Ikha untuk langsung menjemput Anin.

Saat menuju ke rumahnya Ikha aku mendapat sebuah pesan dari Ghaida.

Hai Deni ini aku Ghaida… oh iya aku baru saja selesai mendekorasi untuk acara datingmu di pantai. Selamat berkencan ria ya dan sekali lagi selamat buat kamu yang akan menjalin hubungan bersama gadis yang kamu cintai.

Setelah aku membaca pesan dari Ghaida kini mendapat pesan dari Ikha.

Hai Deni ini Ikha… maaf ya sebelumnya kalau aku mau beritahu kamu kalau kamu langsung pergi ke pantai karena biar aku saja yang mengantar Anin ke acara datingmu. Kamu tunggu aku dan Anin ya, satu lagi aku sudah menutup matanya Anin karena aku sengaja membuat dia terkejut dan ini bagian dari rencanaku kok

Setelah membaca pesan dari Ikha aku sangat kaget dan aku langsung tancap gas ke pantai. Saat mau ke pantai aku merasa gugup karena ini adalah acara dating dan ini adalah acara yang tidak akan dilupakan begitu saja.

Akhirnya aku sampai di pantai, aku melihat ada beberapa lilin kecil  dan bunga mawar merah muda di atas meja yang menghadap langsung ke arah laut. Kini aku menunggu Anin datang ke pantai, dan tak berlangsung lama akhirnya Anin datang dengan gaun berwarna merah muda dan memakai mahkota bunga mawar merah muda yang menghiasi rambut pirangnya.

“Wah kamu sangat cantik sekali serasa kamu seperti tuan puteri yang ada di cerita dongeng”

“Ah masa sih… Anin jadi malu nih. Aku senang bisa berada di pantai lagi tapi kali ini suasananya sedikit beda ya”

“Iya suasananya beda sekali… oh iya aku mau bertanya padamu”

“Apa itu”

“Hmm kamu merasa tidak kalau tempat atau suasana ini sama seperti yang ada di catatan kecil dalam bukumu?”

“Hmm iya hampir sama seperti dengan catatan kecil di bukuku”

“Sejujurnya aku membaca catatan itu tapi aku enggan mengatakannya karena aku sengaja untuk dijadikan sebagai kejutan”

“Heh kamu membacanya ya? Anin pikir kamu tidak membacanya tapi aku senang kamu membuat sedemikian rupa untukku”

“Hmm  Anin… aku ingin memberimu sesuatu padamu”

“Apa itu?”

“Ini sebuah hadiah kecil buat kamu dan bukalah hadiah itu”

“Heh kamu memberiku sebuah kalung yang ada kupu-kupunya. Makasih ya Deni, Anin sangat menyukai kalungnya dan aku berjanji aku seperti kupu-kupu yang cantik hehehe”

“Sebenarnya ada lagi sih buat kamu… ayo ikut aku tapi kamu tutup matanya ya”

“Oh iya, apa itu?” kata Anin sambil menutup matanya.

Aku dan Anin berjalan ke suatu tempat dimana saat itu aku menulisnya di atas pasir.

“Sekarang kamu boleh buka mata kok”

Saat Anin membuka matanya, dia sedikit terharu karena dia melihat sebuah tulisan yaitu Deni & Anin serta gambar hati yang besar.

“Deni… Anin tidak percaya kalau kamu membuat ini demi aku. Anin tidak tahu apa yang harus kukatakan karena aku merasa ada seseorang yang benar-benar yang mencintaiku bahkan aku tiap hari memimpikan ini. Kenapa sih kamu membuat ini?” kata Anin dengan sedih.

“Dear Anin… sejak aku kenal kamu saat bertemu di toko buku aku mengira kamu dari luar negeri tapi ternyata kamu seorang gadis yang memiliki riwayat albino. Dan aku akui aku sering mimpi itu jadi pada akhirnya aku sadar kalau aku benar-benar menyukaimu”

“Dear Deni… makasih ya kalau kamu sangat peduli denganku dan telah mewujudkan impianku sejak lama. Ya Anin akui kalau aku juga sering mimpi itu tapi Anin senang kalau ada seorang pria yang sangat baik padaku dan benar-benar sayang padaku meski aku hanyalah gadis yang beralbino. Kupikir aku tidak akan memiliki seorang pria yang akan mendekatiku karena aku terlalu pesimis pada diriku sendiri” kata Anin sambil memelukku dengan sangat sedih.

“Anin… kamu telah bertemu dengan pangeran yang kamu cari dan aku telah bertemu dengan tuan puteri yang unik dan kita telah melalui masa-masa yang indah serta masa-masa yang sulit tapi semua jawaban ada pada dirimu. Jadi maukah kamu menjadi kekasihku?”

“Deni… akhirnya kamu telah bertemu dengan seorang tuan puteri yang unik dan aku telah menemukan seorang pangeran yang sangat baik hati karena inilah mimpiku sejak awal dan kamu adalah pangeran yang tepat buat Anin. Jadi aku mau menjadi kekasihku”

Akhirnya aku dan Anin resmi menjadi sepasang kekasih, aku mencium keningnya Anin sementara Anin memelukku dengan erat. Setelah itu aku dan Anin menggelar makan malam bersama di tepi pantai dan ditemani dengan bunga mawar merah muda serta lilin-lilin kecil di atas meja.

 

-Selesai-

 

-Deni Kharisma-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s