Zombie…, Part4

Terminal 1, Bandar Udara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. 08.30 WIB.

Seorang pemuda berjaket biru baru saja tiba di Bandara Juanda. Ia melirik jam tangan analog yang ada di lengan kirinya masih menunjukan pukul setengah sembilan pagi. Masih tiga jam lagi sebelum pesawat berangkat menuju Jakarta.

Terlalu awal, memang. Tapi ia lebih baik menunggu di Bandara daripada ketinggalan pesawat. Sebenarnya masih ada alasan lain yang memutuskan ia untuk pergi lebih awal. Menghindari bertemunya dengan seseorang yang membuatnya batal untuk pergi hari ini.

Ia tahu orang yang ia hindari itu masih tidur saat pagi hari. Makanya ia lebih memilih untuk pergi lebih awal. Demi bisa pulang ke Jakarta dan tiket pesawat pun tak terbuang percuma.

Pemuda itu kini memilih duduk di sebuah kursi demi menunggu waktu keberangkatan. Ia taruh tas ransel hitam disebelahnya dan mencari sebuah earphone. Setelah menyambungkan earphone dengan handphone miliknya, pemuda itu memilih lagu dari band The Script untuk menemaninya saat ini.

Seperti biasa, saat menunggu pemuda berjaket biru itu gemar melihat berita-berita lewat handphone serta mengecek sosial media miliknya. Saat membuka salah satu situs penyedia berita, headline hari ini masih sama seperti kemarin. Narkoba kembali merenggut korban jiwa.

Akhir-akhir ini berita tentang narkoba dan demam berdarah memang menjadi trending topic. Soal narkoba, banyak orang-orang meninggal dunia akibat mengkonsumsi narkoba yang di oplos dengan sebuah minuman bersoda, serta lotion nyamuk. Hal ini memang tak aneh, beberapa tahun lalu juga kejadian ini marak terjadi.

Tapi yang paling hits saat ini adalah soal demam berdarah. Akibat demam berdarah pemerintah menghimbau para masyarakat untuk mengenakan pakaian tertutup. Meski pemerintah telah gencar menghimbau tetap saja masih ada masyarakat yang tak patuh akan himbauannya.

Bosan dengan membaca berita, pemuda itu memutuskan untuk mengecek sosial media miliknya. Hingga saat membuka Instagram, ia melihat foto dirinya bersama seorang wanita. Ya, wanita itu adalah orang yang saat ini masih tertidur. Orang yang bisa mencegah kepergiannya.

~Kemarin Siang, Di Kebun Binatang Surabaya.

“Makasih mba.”

Pemuda berjaket biru itu mengambil dua buah tiket serta selembar uang lima ribu dari petugas loket tiket. Setelah selesai membeli tiket, ia pun kembali menemui seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana.

“Nih tiketnya.”

“Makasih.” Gadis berponi rata itu menerima pemberian tiket dari si pemuda berjaket biru. “Jadi ga enak, aku yang minta temenin kesini tapi malah kamu yang traktir tiket masuknya.”

“Ga apa-apa kok, santai aja. Ya udah yuk masuk langsung.” Gadis itu mengangguk.

Mereka berdua akhirnya masuk kesebuah kebun binatang yang ada di Kota Surabaya. Baru saja beberapa langkah, mereka berdua sudah disambut dengan burung merak yang berada tak jauh dari pintu masuk.

Terlihat banyak sekali rombongan-rombongan dari anak-anak SD maupun TK yang datang ketempat ini. Tak sedikit pula yang datang bersama anggota keluarganya. Jika diperhatikan tempat ini sangat ramai oleh anak-anak, serta orangtua. Sementara yang seumuran si pemuda berjaket biru dan gadis berponi rata sangat jarang berada disini.

“Kesana yuk!” Si gadis menarik lengan pemuda itu ke sebuah tempat dimana orang-orang ramai mengantri di depannya.

“Tunggu-tunggu, jangan lari-lari Ipuy.” Ipuy adalah panggilan dari Yuvia.

“Ah… Ical lemah, wuuu.” Sementara Ical adalah panggilan dari Rizal.

“Emang mau ngapain kesini? Foto?”

“Iya dong, buat kenang-kenangan aja,” jawab gadis berponi rata itu.

Setelah selesai dari tempat itu mereka berdua kembali berjalan melihat beberapa koleksi satwa di Kebun Binatang Surabaya. Bisa dibilang koleksi satwa dikebun binatang ini cukup lengkap, mulai dari singa, jerapah, hingga orang utan.

Sampai pada akhirnya mereka berdua berhenti di depan kandang gajah. Duduk berdua di sebuah kursi yang ada di depan kandang itu. Kandangnya berukuran cukup luas, disana juga ada kolam tempat gajah berendam. Mereka berdua memutuskan berhenti sejenak disana sebelum kembali melanjutkan melihat-lihat seisi kebun binatang.

“Oiya, ngomong-ngomong kemana bodyguard kamu?”

“Ada di rumah, ya sekali-kali pergi keluar ga sama bodyguard.” Rizal mangut-mangut mendengar ucapan Yuvia. “Oiya, makasih ya.”

“Buat?”

“Udah anterin aku ke Surabaya.”

“Sama-sama, oiya ngomong-ngomong Ibu kamu kok tinggal di Surabaya?”

“Ibu aku punya perusahaan disini, jadi ya gitu sering pulang pergi Jakarta-Surabaya. Tapi lebih seringnya tinggal di Surabaya, untung punya rumah juga disini.”

“Oh gitu. Eh, kita lanjut jalan lagi yuk.”

Mereka berdua beranjak dari kursi itu. Kembali berjalan di Kebun Binatang Surabaya sambil mengobrol-ngobrol sepanjang jalan.

“Oiya, besok aku mau pulang ke Jakarta.”

Yuvia menghentikan langkahnya. Saat Rizal berbalik, gadis itu mengerutkan keningnya, menatap heran pemuda yang ada di depannya.

“Kenapa?” tanya Rizal.

“Kenapa pulang besok?”

“Emangnya kenapa, kan tugas aku udah beres, nganterin kamu dengan selamat sampai Surabaya.”

“Baru dua hari kamu disini Cal, ga capek apa langsung pulang lagi? Kuliah juga masih libur kan.  Rencananya besok aku mau ngajakin kamu makan malem bareng Ibu aku.”

“Emm… sorry, tiket juga udah dipesen, mau gimana lagi?” Rizal kembali menghampiri Yuvia.

“Jangan pulang besok!”

*****

Tiba-tiba televisi yang tergantung di ruangan itu menampilkan sebuah acara berita. Mata Rizal terbelalak saat melihat berita tersebut. Dikabarkan sebuah pesawat jatuh di kota Surabaya. Pesawat itu jatuh persis di sebuah perumahan.

“Bukannya itu perumahannya Ipuy?”

Kamera kini menyorot beberapa mobil pemadam kebakaran berusaha memadamkan api. Reporter yang berada disana mengabarkan kejadian itu terjadi di blok B. Rizal yang mendengar hal itu bisa sedikit bernafas lega, karna kediaman Yuvia berada di blok K, tentu sangat jauh dengan kejadian itu.

Terlihat di sekitaran pesawat itu ada beberapa mayat yang terlempar setelah ledakan terjadi. Tapi, para petugas disana memfokuskan untuk memadamkan api dahulu. Bukannya apa-apa, tapi mereka tidak akan bisa mendekat selama api itu terus berkobar.

Tanpa diduga, ada sesuatu yang bergerak merayap dari tempat pesawat itu terjatuh. Kamera juga sekarang mengalihkan fokusnya kepada sesuatu itu. Sebuah keajaiban ada seseorang yang merangkak meskipun kaki mereka terputus. Makin lama makin banyak, jumlahnya bukan satu dua, tapi ada belasan. Mereka bergerak merayap meskipun tubuh mereka terbakar api.

Sekarang beberapa petugas datang dan menghampiri mereka. Terdengar teriakan dari seseorang untuk menyuruh menyelamatkan orang-orang itu. Tidak lama beberapa orang datang mencoba menyelamatkan mereka.

Ada yang berhenti merangkak karna tubuhnya telah terbakar habis. Ada juga yang masih merangkak, dan orang-orang yang masih merangkak itu berusaha ditolong oleh beberapa petugas.

Mereka dengan giat memadamkan api disekujur tubuh korban. Saat mencoba mengangkat mereka keatas tandu, orang-orang itu malah melawan dan mengigit para petugas yang mencoba menolong mereka. Tentu petugas itu berteriak kesakitan, tak tanggung-tanggung tangan itu digigit hingga putus.

Sebuah kejadian aneh yang terekam oleh televisi. Bahkan seharusnya tayangan seperti ini tidak boleh terekam, karna akan menimbulkan keresahan warga. Tapi, bukannya mengalihkan sorot kamera, kameramen itu malah bengong melihat kejadian didepannya.

Kericuhan terjadi disana, petugas yang digigit itu langsung dibawa menuju mobil ambulan. Teriakan-teriakan mulai terdengar. Sementara orang-orang yang merangkak itu malah terus menggigit para petugas yang berusaha menolong mereka.

Hingga pada akhirnya terdengar suara tembakan yang terdengar di kamera. Ternyata seorang polisi berhasil menembak salah satu dari orang-orang merangkak itu.

Disebuah mobil ambulan dekat kejadian jatuhnya pesawat kini terdengar teriakan. Tak lama keluarlah petugas yang tadi berhasil digigit oleh penumpang pesawat jatuh itu. Tapi petugas itu keluar dengan mulut penuh noda darah. Bahkan bajunya juga sudah berwarna merah darah.

Petugas itu kini berhasil menangkap seorang wanita yang ada didekatnya dan menggigit leher wanita itu hingga meninggalkan bekas yang mengerikan. Dagingnya terlihat jelas, serta darah yang mengalir membasahi pakaian wanita itu.

Petugas aneh itu kembali berjalan berusaha memangsa beberapa orang disekitarnya. Namun mereka dengan sigap sudah berlarian tak tentu arah. Mereka berusaha meninggalkan tempat itu. Petugas itu pun mulai mengejar mereka.

Dua orang kemudian keluar dari mobil ambulan itu dengan wajah pucat dan mata yang tak menunjukan pupilnya. Terdapat bekas gigitan pada leher serta lengan mereka berdua.

Televisi di Bandara masih mempertontonkan kejadian yang tak masuk akal itu. Hampir semua orang yang melihatnya seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Begitupun dengan Rizal, ia langsung mencari kontak seseorang di handphonenya. Ia mengumpat sendirian setelah gagal menghubungi orang itu.

Rizal meraih ransel miliknya lalu berlari keluar Bandara. Sambil berlari ia mengecek sosial media miliknya. Bukannya apa-apa, ia percaya kalau informasi paling cepat ada di sosial media, meskipun harus pintar-pintar menyaring informasi tersebut.

Beberapa kicauan terlihat disana. Zombie di Jakarta, pasien-pasien di beberapa rumah sakit Surabaya kabur setelah menyerang dokter serta perawat, Surabaya diserang zombie. Rizal tak percaya setelah membaca beberapa kicauan populer itu. Tapi setelah kejadian yang ia lihat di televisi, ia sedikit percaya meskipun sebenarnya tak ingin.

Setelah mendapatkan taksi, Rizal langsung meminta supir itu untuk mengantarkannya ke perumahan tempat kejadian pesawat terjatuh. Sialnya bagi dia, di sebuah perempatan dekat Rumah Sakit terjadi keributan juga disana. Sehingga lalu lintas menjadi macet. Klakson mobil mulai bersaut-sautan.

Tak lama sebuah ledakan terdengar disana. Asap pun mulai mengepul. Kesabaran Rizal mulai habis, disaat ia sedang terburu-buru sekarang malah datang kekacauan yang lain. Ia pun akhirnya keluar dari taxi.

What the hell….

*to be continued.

 

Note:
Cerita ini udah sampe part empat, dimana phase awalnya telah selesai. Mulai Senin akan berlanjut pada tahap berikutnya, dimana kekacauan sudah terjadi dimana-mana.
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini.
Ditunggu, kritik dan sarannya.

Sekali lagi terimakasih.

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Zombie…, Part4

  1. gue masih kga bisa ngebayangin gimana caranya ntu zombie sekali gigit tangan langsung putus 😂😂😂 … pang pang, imajinasimu terlalu liar 😄
    betewe .. ternyata tebakan gue meleset. gue kira part ini buat si raja lalim … 😏 ternyata buat anaknya … 😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s