Zombie Attack, Part8

Part 8 : Alpha Team Assemble

*Di Jakarta*

Sofia sedang memandangi fotonya bersama dengan kakak nya tercinta, ia sama sekali tak menyangka bahwa kakaknya akan meninggal secepat itu

“Kak, kenapa kakak ninggalin aku cepet banget. Aku lemah tanpa kakak, Cuma kakak yang bisa nmenguatkan aku, melalui cobaan hidup ini”. Air mata keluar dari kedua mata indah miliknya.

Tak lama kemudian pintu rumahnya di ketok oleh seseorang. Dengan cepat ia menghapus air matanya dan berjalan dengan langkah gontai menuju ke ruang tamu

“Bentar” kata Sofia

Tak lama kemudian ia membuka pintu itu. Terlihatlah seorang wanita yang di jaga oleh tiga orang pria.

“Ini benar rumahnya Rafles Saputra?” tanya wanita itu

“Iya bener, ini rumahnya kak Rafles, aku adiknya” balas Sofia

“Ooh… kenalin aku Melody Nurramdhani Laksani, kamu bisa panggil aku Melody” kata Melody sembari mengulurkan tangannya

“Ooh iya, aku Sofia Meifaliani, masuk dulu kak” ajak Sofia pada Melody dan ketiga ajudan nya.

“Kalian mau minum apa?” tanya Sofia ramah pada mereka

“Hmmm… nggak usah repot-repot. Cukup air mineral aja, haus banget abis rapat sama presiden” sahut Melody.

Melody menunggu Sofia kembali dari dapur. Tak lama kemudian dia kembali dari dapur.

“Ini kak, diminum” ujar Sofia yang lalu memberikan air mineral dalam kemasan kepada mereka berempat.

“Dia bener-bener mirip sama Rafles, dari wajah maupun dari sifatnya” bisik salah satu ajudannya.

“Iy…” ujar salah seorang ajudannya yang terpotong gara-gara tatapan tajam dari Melody.

‘Kakak ada apa ya datang ke rumahku?” tanya Sofia.

“Kita mau ngasih tau keadaan terkini dari Rafles sof” balas Melody.

“Aku tau keadaan kakak. Dia tadi malam waktu spanyol meninggal gara-gara di tembak sama kakaknya Gracia kan?” ujar Sofia ketus.

“Iya, tapi kamu tau nggak kenapa Dendhi nembak kakak kamu?” tanya Melody lagi. Sofia hanya menggelengkan kepala nya

“Sofia, kakak kamu sama Dendhi itu bisa di bilang orang terbaik di paspampres, jadi nggak mungkin kalo mereka ngelakuin sesuatu tanpa di pikir secara matang” ujar salah satu ajudannya Melody.

“Kakak belain orang kayak kak Dendhi?” nada bicara Sofia mulai meninggi, sedangkan Melody hanya menggelengkan kepala

“Diooon…  jangan ikut bicara kalau tidak saya suruh” ujar Melody yang menatap ajudan nya tajam

“Tapi bu, saya hanya mengnugkapkan argumen saya mengenai Rafles dan Dendhi” kata Dion.

“DION, CUKUPPP” bentak Melody. Sedangkan Dion lalu bungkam.

“Maaf atas keributan kecil tadi Sofia, kakak kamu terindikasi terkena virus D, virus yang di kembangkan oleh black organization. Virus itu membunuh manusia dalam waktu setengah jam, dan sepuluh menit setelah itu kakak kamu berubah menjadi mayat hidup, dan kalau dia dibiarkan, dia akan memakan Dendhi dan juga Michelle” ujar Melody Panjang lebar.

“Nggak mungkin, nggak mungkin” ujar Sofia menutup mulutnya, air mata keluar lagi dari matanya.

Get off my house now” Usir Sofia kepada mereka berempat.

“Baiklah, semoga hari mu menyenangkan” kata Melody yang lalu meninggalkan rumah Sofia, diikuti oleh tiga orang ajudannya.

 

*Di istana Negara*

 

Seseorang berada di ruangan khusus presiden. Ia duduk termangu menyesali kesalahan nya.

“Andai saja waktu itu aku mendengarkan saran dari bu Lidya dan bu Melody. Pasti keadaan tidak rumit seperti sekarang” ujar seseorang. Ia masih terus larut dalam lamunan nya sampai ketukan di depan pintu ruangannya terdengar.

“Permisi pak, anda sudah di tunggu oleh Panglima TNI di meeting room” ujar seseorang yang mengetuk pintu.

“Baik bu Lidya, bilang kalau lima menit lagi saya akan ke sana” balas Presiden.

“baik pak, saya undur diri” kata Lidya yang di balas anggukan oleh Presiden.

 

*Di Markas TNI*

 

Di Markas TNI, terlihat panglima TNI sedang memberikan pengarahan kepada anggota Kopassus dan Kopaska.

“Operasi kali ini di pimpin oleh kapten Zelado Adhi Permana, operasi ini di tujukan untuk membebaskan anak Presiden, namanya Michelle Christo Kusnadi dan juga membantu seseorang Dendhi Yoanda untuk keluar dari suatu pedesaan di Spanyol yang bernama El Pueblo, topografi di El Pueblo ini sedikit ekstrim, karena lokasinya berada di dekat pegunungan, dan juga desa ini sangat luas, nanti juga kita akan di bantu oleh tentara Spanyol.” ujar Panglima TNI yang lalu menampilkan Foto Michelle di slide presentasinya.

“Dan orang ini sedang dalam misi untuk menyelamatkan Michelle” Panglima TNI lalu memperlihatkan foto Dendhi.

“Bantu dia untuk menyelamatkan Michelle dan bawa mereka keluar dari sana” ujar Panglima TNI.

“Ijin bertanya Panglima” kata salah satu anggota TNI

“Silahkan”

“Di mana lokasi mereka saat ini?” tanya salah satu anggota TNI.

“lokasi mereka saat ini berada di sebuah kastil tak jauh dari desa ini, nanti saya akan berikan koordinatnya kepada pilot helikopter

 

*Di Spanyol*

 

Dendhi dan Michelle sedang tertidur di gubuk kecil yang lokasi nya tak jauh dari kastil, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, Alarm yang di setel oleh Dendhi berbunyi dengan keras, membangunkan Dendhi, sedangkan Michelle masih tertidur.

Heiii… wake up, it’s time to move”  ujar Dendhi yang membangunkan Michelle.

“Kak, nanti aja. Lima menit lagi” ujar michelle dengan mata yang masih terpejam.

SREEEEK…

SREEEEK…

SREEEEK…

Suara itu tidak asing bagi Dendhi karena dia pernah mendengarkan suara itu, sontak ia dengan cepat menggoyang kan tubuh Michelle dengan kasar.

“Cepet bangun, perasaanku nggak enak” kata Dendhi.

“Kak, itu suara apa ya? Makin lama kok makin deket” kata Michelle penasaran.

“Aku nggak tau, yang pasti perasaan ku nggak enak.” Balas Dendhi.

“Kak, dingin banget” ujar Michelle dengan wajah pucat.

“Ini, pake dulu jaket ku” ujar Dendhi yang lalu memberikan jaket parka hitam kesayangannya.

Mereka berdua lalu bergegas keluar, dan berjalan pelan, kira-kira lima belas menit mereka berjalan mereka menemukan sesuatu.

“Kak, rejeki buat kita kak, banyak roti, terus susu high protein, sama keripik kentang” ujar Michelle kegirangan, namun tidak dengan Dendhi, ia malah penasaran.

“Aku ambil ya” ujar Michelle yang lalu mengambil persediaan makanan itu

“Logo ini? Jadi yang aku sama Rafles liat kemarin itu bukan halusinasi” ujar Dendhi dalam hati.

“Kak, apa ini?” ujar Michelle yang lalu menunjukkan sebuah tabung sangat kecil berisi telur.

“Aku nggak tau, kasih ke aku sini, nanti biar di teliti di Jakarta setelah kita keluar dari sini” balas Dendhi. mereka lalu memakan beberapa makanan yang berada di dalam kotak itu.

Hp Milik Dendhi berdering.

Dendhi : ada apa Ve?

Ve : aku mau memberi informasi buat kamu, presiden membentuk tim kecil-kecil an yang beranggota sembilan orang yang di pimpin oleh Kapt. Zelado Adhi Permana, tim itu baru saja di berangkatkan di bandara Halim Perdankusumah. Ini adalah operasi gabungan, dan sekitar tiga dari otoritas Spanyol. mungkin nanti malam waktu setempat mereka akan membantu kamu

Dendhi : Roger That

Ve : ooh iya, ada yang ingin bicara denganmu

Presiden : selamat malam Dendhi

Dendhi : selamat malam pak. Senang melihat anda selamat.

Presiden : sebuah tim kecil sedang bergerak untuk membantu kalian. Semuanya berasal dari Kopassus. Di pimpin oleh Kapten Zelado Adhi Permana.

Dendhi : Kopassus? Baik pak. Saya akan menunggu sembari bergerak.

Presiden : tolong berikan pada Michelle, saya ingin bicara padanya.

Dendhi : baik pak

Dendhi lalu memberikan Hp miliknya pada Michelle.

Michelle : papaaaa…

Presiden : halo nak.. apa kabar?

Michelle : baik pa, papa sendiri di sana apa kabar?

Presiden : baik, papa di sini baik-baik aja.

Michelle : aku ragu bisa keluar dari sini. Banyak banget orang-orang aneh itu di sini pa

Presiden : jangan ragu nak, Dendhi itu orang terbaik di paspampres, kalian berdua pasti bisa keluar, dari situ, can you make it Den?

Dendhi : Always do sir, I’ll do my best.

Presiden : Good, papa tidur dulu ya nak.

Panggilan itu berakhir, Dendhi dan Michelle merasakan langkah seseorang mendekat dengan cepat.

“Michelle lariiii…” Ujar Dendhi yang lalu menarik tangan Michelle.

“kita kelamaan berhenti, mahkluk itu sudah deket banget” tambah nya lagi.

“mahkluk apa kak?” tanya Michelle

“yang kamu aku suruh sembunyi dulu” jawab Dendhi.

Sebuah Kastil menarik perhatian Dendhi, tanpa berpikir panjang Dendhi menarik Michelle ke arah kastil itu.

“kamu berdiri di sana, kerek tuas itu, aku bakal Tarik tuas di sini” perintah Dendhi yang di balas anggukan oleh Michelle.

Mereka berdua lalu menarik tuas yang berada di sisi kiri dan sisi kanan kastil itu, dan jembatan itu terangkat nyaris beberapa detik sebelum mahkluk itu mencapai jembatan.

Problem solved” ujar Michelle terkekeh.

Not yet, we should get out from this place first before you say Problem Solved” Ujar Dendhi sebal, sedangkan Michelle hanya membalas dengan cengiran nya (Belum, kita harus keluar dari tempat ini sebelum kamu ngomong masalah terpecahkan)

Mereka lalu berjalan menyusuri kastil itu. Dendhi sedikit menurunkan kewaspadaan nya sehingga ia di ketahui oleh seorang Castellan (castellan adaalah pimpinan dari prajurit kastil.)

Disparar” perintah castellan itu. (tembak)

I have bad feeling about this word” ujar Dendhi dalam hati, firasatnya menjadi kenyataan ketika ia melihat banyak catapult  beserta dengan batu besar dan dalam keadaan terbakar di tembakkan ke arah Dendhi dan

SHIIIT…  HIDE” Teriak Dendhi. mereka berdua bersembunyi balik bangunan kastil.

DAAAAAR….

Batu itu hancur persis hanya beberapa meter di depan mereka.

Are you okay?” tanya Dendhi yang di balas anggukan kecil oleh Michelle.

Follow me” perintah Dendhi.

Dendhi mencari spot yang bisa di gunakan untuk menembak para prajurit kastil itu, dia menggunakan handgun, dia sukses membunuh tiga tiga prajurit kastil itu. Tinggal mencari satu lagi. Ketika Dendhi membidik prajurit kastil itu, Dendhi terkejut.

RPG” Teriak Dendhi

“kak, RPG itu apa?” tanya Michelle.

“Cari tempat berlindung begooo” teriak Dendhi yang langsung menarik tangan Michelle untuk sembunyi.

“sorry-sorry le, itu reflek” ujar Dendhi.

Ternyata sifat Dendhi itu berdampak tidak baik untuk jantung Michelle, jantung Michelle berdebar dengan sangat kencang, dan wajahnya memerah.

“kamu kenapa?” tanya Dendhi.

“eh… em… aaa..aku capek” ujar Michelle terbata-bata.

“ya udah. Kamu di sini aja, kalo ada apa-apa teriak aja ya” ujar Dendhi yang di balas anggukan kecil oleh Michelle.

Dendhi keluar dari tempat persembunyian nya. Dengan cepat ia membidik kan Sniper nya ke arah drum besar yang ternyata isinya adalah bahan bakar.

DAAAARR…

Kak Dendhi, help me” Michelle berteriak, ternyata ia tengah di gendong oleh prajurit. Dendhi yang mengetahui reflek mencabut pisau dari sangkurnya dan melempar kan pisau itu ke arah prajurit kastil, pisau itu sukses menancap di kepala prajurit kastil yang membawa Michelle, Michelle terjatuh lalu berlari ke Dendhi.

Prajurit kastil yang datang semakin banyak, kondisi Dendhi sedang terjepit, Michelle yang ketakutan menggenggam tangan Dendhi kuat. Air matanya menetes jatuh.

“Apapun yang terjadi, aku akan bawa kamu keluar dari sini, bukan karena tuntutan misi, tapi karena jalan hidup itu kamu itu masih panjang” ujar Dendhi menenangkan Michelle, Nampak nya ia menyadari perubahan Bahasa tubuh Michelle.

Tanpa berpikir panjang, Dendhi langsung mengeluarkan Pistolnya dan mulai menembaki kepala prajurit kastil itu. Suara tembakan terdengar di halaman kastil yang luas itu. Dendhi tak menyadari bahwa ada prajurit kastil yang mendekati Dendhi dari kanan nya, dengan cepat prajurit itu mencekik Dendhi.

“Akh….” Dendhi mengerang kesakitan.

Dendhi membidik kepala prajurit kastil itu, namun dengan cepat membanting Dendhi.

“kakak, tolong aku” Michelle berteriak, lalu ia mendekati Dendhi, namun ia di pegangi oleh sepuluh prajurit.

“Gre…” gumam Dendhi pelan.

“KURANG AJAR KALIAN” Dendhi berteriak, dia lalu mengeluarkan pisau nya. Dia melibas semua prajurit kastil yang menghalangi jalannya ke Michelle. Lima menit kemudian hanya ada empat prajurit yang tersisa, melihat itu semua.

Retroceder” ucap prajurit kastil itu. (Mundur)

Prajurit kastil itu menjauhi Dendhi masuk ke dalam kastil, dengan cepat Dendhi mengeluarkan senjata Kriss SVD dan menembak empat kepala prajurit kastil itu. Michelle terbebas dari prajurit kastil itu. Dengan cepat Michelle berlari dan memeluk Dendhi.

“kak, makasiih ya” ucap Michelle memeluk Dendhi, ia menenggelamkan wajahnya di dada Dendhi.

“hei Gre, jangan nangis dong. Kakak selalu ada di sini buat kamu” ujar Dendhi yang tak sadar bahwa yang ada di hadapannya ini adalah Michelle, bukan Gre, adiknya.

“Gre?” tanya Michelle penasaran.

“eh… sorry-sorry. aku kira kamu Gracia” jawab Dendhi.

“gak apa-apa kak” ujar Michelle.

“ternyata kakak bisa brutal juga ya.” Tambahnya lagi

“brutal gimana?” tanya Dendhi penasaran.

“kak Dendhi ngebunuh semua prajurit kastil yang ada di sini itu Cuma pake Pistol sama Pisau aja” Balas Michelle.

“eh…” Dendhi yang kaget bergegas melihat ke sekitarnya. Dan benar banyak mayat-mayat yang tergeletak di sekitar Dendhi dengan luka tembak dan luka tusuk di kepala.

“kamu gak apa-apa kan? Gak ada yang luka kan?” tanya Dendhi

“nggak kok” jawab Michelle.

Mereka berjalan memasuki kastil. Baru saja beberapa langkah. Dendhi melihat titik dan garis.

“Kayaknya ini sandi Morse deh”  kata Dendhi dalam hati.

“Awas di dalam, bunga matahari”

“Maksudnya apaan ini oiii?” ujar Dendhi sebal.

“ini mah sandi morse kak, emangnya kakak gak diajari pas pramuka ya?” tanya Michelle sarkastik

“Oiii… kalo itu mah aku tau, ini maksudnya awas di dalem itu apa?” tanya Dendhi.

“Halah.. ngomong aja kalo kak Dendhi itu nggak tau sama sandi Morse” goda Michelle.

“Ishhh… ini anak nyebelin banget sih. Nggak, aku tau kalo itu sandi Morse artinya awas di dalam” ujar Dendhi sebal.

“Wiiih… kakak pinter” ujar Michelle bertepuk tangan.

“Lha.. dikira aku anak kecil yang baru belajar sandi Morse” ujar Dendhi dengan tatapan sebal, sedangkan Michelle hanya tertawa kecil.

“Hehehe… maaf kak” ujar Michelle sambil tertawa kecil.

“Udah ah. Langsung masuk aja” ajak Dendhi pada Michelle.

Mereka berdua masuk ke dalam kastil, setelah mereka masuk agak ke dalam. Terdengar suara tepuk tangan yang sangat keras dan diiringi tawa yang sangat keras. Lalu keluarlah seseorang dari balkon kastil itu diikuti oleh dua orang pengawalnya.

“well… well.. you looks awesome mr. Dendhi” ujar seseorang.

“who are you?” tanya Dendhi

mi nombre es Rusdi Maulana wahid” ujar seseorang itu.

“Rusdi Maulana Wahid?” tanya Dendhi.

“Iya, bisa di katakan aku ini raja di kastil ini” ujar Rusdi dengan bahasa Indonesia.

“Hah??? Kok kamu bisa bahasa Indonesia?” tanya Dendhi kaget.

“Iya, aku pernah kuliah di Universitas Indonesia, dan sepertinya aku dulu pernah ketemu sama kamu” ujar Rusdi

“Ketemu sama aku?” tanya Dendhi lagi.

“Jangan-jangan….” Ujar Dendhi mencoba mengingat-ingat.

 

FLASHBACK ON

 

Di salah satu sudut ruangan di Universitas Indonesia, seorang mahasiswa sedang di pukuli oleh beberapa mahasiswa lainnya.

“Jangan deketin Dhike kalo lo gak pengen muka lo bonyok semua.” ujar mahasiswa itu.

“Aku gak ngedektin dia, dia nya yang ngedeketin aku” kata orang itu lemah.

“Banyak bacot lo” ujar salah satu mahasiswa itu lalu memukul wajah Rusdi.

“Pukul dia, kalo nggak kalian semua aku laporin ke rektor supaya kalian di keluarkan dari universitas ini.” Ujar seseorang.

“Den, lo jangan ikut campur.” Bentak salah satu mahasiswa

“kenapa Rud? Dia ini satu almamater sama kita.?” Tanya Dendhi

“banyak bacot lo Den” kata Rudi yang lalu memukul Dendhi, tapi Dendhi dengan gampang nya menangkis serangannya. Dendhi memukul tengkuk Rudi sehingga Rudi pingsan. Teman-temannya kaget, mereka menatap Dendhi tajam.

“Apa? Kalian mau ikut campur juga?” tanya Dendhi. Sontak teman-teman Rudi, teman-temannya menggelengkan kepala nya cepat dan mereka membawa Rudi menjauh dari Dendhi

“Kamu bisa bangun?” tanya Dendhi

“Bisa kak” jawab Mahasiswa itu

“Jangan panggil aku kak. Panggil aja Dendhi” jawab Dendhi

“Ooh iya kak, eh… Den” jawab Mahasiswa itu

“Siapa nama kamu?” tanya Dendhi sopan.

“Nama aku Rusdi Maulana Wahid” balas Rusdi.

 

FLASHBACK OFF

 

“Jadi kamu yang waktu itu?” tanya Dendhi

Exactly” balas Rusdi

“Rusdi, biarin aku lewat, aku harus pergi. Aku percaya kalo kamu masih punya hati nurani walaupun kamu anak buah Saddler sekarang” kata Dendhi.

“Aku dulu punya hati nurani. Tapi sekarang nggak”  jawab Rusdi.

“Ooh iya, kalo kamu pengen hidup serahin Michelle ke prajurit aku, maka aku akan mengampuni kamu kak” kata Rusdi tertawa sinis, lalu meninggalkan Dendhi dan Michelle.

“Aku nggak mau kak sama mereka” jawab Michelle takut.

“Aku nggak akan nyerahin kamu ke mereka” Jawab Dendhi tegas.

 

To Be Continued

@Dendhi_Yoanda

Iklan

2 tanggapan untuk “Zombie Attack, Part8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s