Iridescent Part 19

PART 19 :  SOLUSI

24526

Gue sedang berbaring diatas bed, suster sedang memasangkan kembali infus yang tadi gue cabut dengan paksa. Setelah selesai dipasang infus lagi, suster mengecek kondisi gue. Ve dan juga Kak Elaine hanya melihat gue dengan sendu, entah memang kondisi gue ini tak memungkinkan untuk pergi dari sini.

“Lain kali kamu nggak boleh gerak yang berlebihan, nanti infusnya lepas lagi!” ucap suster menasehati.

“Iya, terima kasih suster” balas gue.

Suster itu pun meninggalkan ruang rawat gue, kemudian sebuah usapan terasa di pipi kiri gue. Ternyata Ve yang mengusap, dia tersenyum setelah itu.

 

“Kamu kayanya gak akan bisa pergi dari sini, mending kamu pulihin kondisi kesehatan kamu… Kalau masalah Verro, biar aku yang laporin ke polisi” ucap Ve.

“Masalahnya nggak semudah itu, Ve… kamu sendiri tau, Gaby udah jadi korban pertama dia. Dan itu sudah hampir dipastikan Verro pelakunya” balas gue.

“Dek, tolonglah…. sekali ini aja kamu dengerin kita! Jangan ambil keputusan yang dari kamu aja” Kak Elaine terlihat kesal sekali.

“Aku Cuma nggak mau semua itu benar Verro lakukan. Aku takut dia memang serius mau sakiti orang-orang yang aku sayang…” ujar gue.

“Tenang Wil, aku yakin Verro bakal di tangkap polisi atas perbuatannya” ucap Ve.

Dia lalu mengalihkan wajahnya dari gue.

 

“Kenapa?” tanya gue.

“Gapapa, aku Cuma berharap kamu tetap ada disini dan nggak nekat pergi dari Indonesia” ujar Ve.

“Udah, lagian kondisinya lagi gak fit. Jadi tenang aja, Ve” timpal Kak Elaine.

“Kalau gitu kamu istirahat ya Dek, Kakak sama Ve mau tengok Gaby di rumah sakit” ucap Kak Elaine.

“Denger tuh nasehat Kakak kamu…..” celetuk Ve.

“Iya iya…” balas gue.

“Kita jalan dulu. Jangan kabur!” Ve mencium pipi gue dan buru-buru mengalihkan pandangannya.

 

Mereka berdua pun pergi meninggalkan gue sendiri. Setelah memastikan mereka pergi, gue pun mengambil handphone gue yang diletakkan di meja samping. Gue berpikir untuk minta bantuan untuk pergi dari sini, tapi bingung harus minta bantuan ke siapa.

 

“Kira-kira siapa yang bisa bantu gue pergi dan nggak akan kasih tau ke siapa pun tentang keberadaan gue nantinya?” waktu terus berlalu, hampir tiap detik gue memikirkan beribu cara untuk kabur. Tapi sampai sekarang nggak juga kepikiran.

“Oh iya, dia pasti bisa bantu gue…. tapi apa gue punya kontak dia?”

Gue lalu mencari kontak orang itu, mulai dari nomor telepon, media sosial dan lainnya. Yang penting ada dulu.

 

Di otak gue terlintas nama orang yang pernah membantu gue saat terdampar di jalanan, dia yang gue maksud adalah Chika. Tapi dia kan sepupu Gre sama Ve, padahal gue ingin pergi sendiri tanpa melibatkan Ve. Akhirnya gue menemukan kontak Line Chika, ketemu juga deh. Tapi sekarang malah ada keraguan gue untuk meminta bantuan dia.

Tiba-tiba gue terpikir Shania, tapi bukan dia yang akan gue minta bantuan. Teman-teman sekelas Shania kan ada. Gue memang nggak akrab sama mereka, begitu juga teman-teman gue yang lain. Hal itu lah yang bakal jadi keuntungan untuk gue.

“Gue kan punya kontak Nadse, siapa tau dia bisa kasih bantuan. Atau alternatifnya gue bakal kepoin twitternya, biar dapat kontak temannya.” Batin gue.

Baru aja mau kirim chat Line ke Nadse, tiba-tiba pintu terbuka.

 

Ceklek

Muncul lah sosok Shani yang tiba-tiba datang kesini, dia lalu berjalan kemari.

“Hai, gimana kondisi kamu. Udah makin baik kan?” tanya Shani sambil meletakkan barang yang dia bawa di meja.

“Udah baikan kok, sayang” jawab gue. Handphone buru-buru gue sembunyikan di balik selimut.

Kami berdua lalu sama-sama terdiam, Shani mengambil kursi, kemudian dia duduk di sebelah gue. Dia kelihatan banyak pikiran, banyak melamun sendiri.

“Gaby gimana sekarang?” gue menatap Shani dengan Serius.

“Dia kritis, banyak kehilangan darah waktu perjalanan menuju ke rumah sakit. Dia dirawat di RS. Panti Rapih sekarang” jawabnya.

“Teman-teman yang lain berarti juga masih disana ya?”

“Iya, tapi nanti sebagian juga bakal jaga di sini kok. Cuma tadi aku mau duluan aja, jadi nggak bareng sama yang lain” balas Shani.

 

Shani lalu meletakkan kepalanya di samping gue, dia terus lihatin dan tiba-tiba dia menangis. Gue bingung ada apa sih dengannya?

“Ih, kamu kok nangis sih?” gue mengusap air matanya yang mengalir.

“Aku mau tanya sesuatu sama kamu. Tapi harus jawab jujur!” Shani tiba-tiba kenapa jadi serius ya.

“Tanya aja, aku jawab sejujur-jujurnya” gue iya kan aja permintaannya. Dia lalu bangkit.

“Tadi di dekat Lift, aku ketemu Kakak kamu sama Kak Ve. Apa benar kamu mau pindah ke Jepang?” tanya Shani.

 

 

DEG

 

Gue kaget sekali, tau darimana dia? Apa iya Ve dan Kak Elaine kasih tau tentang kejadian Verro kemari. Bagaimana gue harus menjawabnya?!

 

“Jawab!!! Kamu mau pindah kesana kan? Pindah sama Kak Ve. Begitu kan?!” Shani menatap gue dengan serius dan dia minta kepastian soal pertanyaannya itu.

“I iya…. tapi aku nggak ada niatan buat ajak Ve kesana, aku Cuma mau berangkat ke Jepang sendirian” jawab gue dengan tegas.

“Tapi kenapa?” Dia tak bisa menyembunyikan kekhawatiran nya.

“Aku nggak bisa jelasin semuanya ke kamu, maaf soal itu” ujar gue.

“Aku ini tunangan kamu, jadi aku juga berhak tau masalah kamu… siapa tau aku bisa bantu kasih solusi lebih baik. Please, jangan pernah buat keputusan sendiri” ucap Shani.

Apa yang dia katakan benar sekali, seharusnya memang gue nggak boleh buat keputusan itu sendiri. Memang sepertinya Shani berhak tau semuanya.

 

“Baik, aku bakal cerita ke kamu. Tapi aku mohon satu aja sama kamu, Shan. Tolong kamu mengerti sama situasi aku sekarang” ucap gue. Lalu Shani membalas dengan anggukan.

“Tadi Verro kesini, dia datang dan bilang ke aku, kalau aku harus jauhi orang-orang terdekatku. Dan itu termasuk kamu Shani… awalnya aku bingung harus jawab apa, itu karena Verro mau tembak Ve pakai pistol. Dan akhirnya aku janji bakal penuhi semua permintaannya. Itu kenapa aku mau pindah dari Indonesia” Begitulah penjelasan yang gue ceritakan ke Shani.

Dia tampak shock sekali, Shani sampai tak bisa berkata apapun.

 

“Pada intinya adalah aku Cuma mau melindungi orang-orang yang aku sayang. Dan aku nggak mau mereka di lukai sama penjahat macam Verro.” Jelas gue.

Shani menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, kelihatannya dia siap untuk berbicara sesuatu ke gue.

“Oke, kalau kamu mau cerita gini kan lebih enak. Dan aku mau bilang satu hal ke kamu….. Kita ini keluarga, kita hadapi semua masalah sama-sama. Kalau kita mau hadapi semua masalah Cuma sendiri, gimana mau cepat berakhir masalah itu? Kita kuat karna kita hadapi masalah sama-sama bukan sendiri!” Shani lalu tersenyum dan dia langsung memeluk gue dengan erat.

Gue nggak menyangka dia bisa sebijak itu, bahkan gue nggak kepikiran buat fight masalah ini bersama-sama.

 

“Makasih banyak Shani, aku sayang kamu ….” ucap gue membalas pelukannya.

“Sama-sama. Aku yakin, kita bisa melewati semua masalah ini” ucap Shani.

“Iya, Shan.”

“Kita nggak akan di beri cobaan melebihi kemampuan kita, ingatlah itu” ujarnya.

“Aku bakal ingat kamu dan juga Quote itu” balas gue tertawa.

 

 

~o0o~

 

Matahari sudah terbit, sinarnya menembus jendela kamar rawat gue. Shani masih tertidur disamping gue, sampai kemarin kami istirahat teman-teman tak kunjung datang. Mungkin saja karna nggak ada waktu senggang, gak apa lah…

Gue berharap cepat bisa pulang ke rumah, lagipula gue udah merasa sangat baikan. Lagipula pasti setelah selesai dari rumah sakit, banyak yang harus gue lakukan.

 

“Emhhhh, eh kamu udah bangun ….?” Shani membuka matanya..

“Udah agak lama sih, sambil tunggu kamu bangun” jawab gue.

“Ih, kok nggak bangunin aku aja sih” Shani lalu mencubit perut gue.

“Apaan sih, kamu aja yang kebo…” ejek gue.

“Nyebelin banget deh” balas Shani. Dia lalu bangun, lalu pergi ke toilet.

Tak lama dia kembali, Shani ternyata Cuma cuci muka. Cewek cantik mah enak, Cuma gitu doang tetap aja cantiknya gak hilang.

“Kamu Cuma cuci muka doang?” tanya gue.

“Sama gosok gigi tau….! ini juga mau ambil ganti dulu ditas, gak usah mandi tetep wangi kok, kalau Shani” jawabnya tertawa.

“Bebas deh kalau Shani” ujar gue.

“Ganti baju dulu ah, jangan kebelet pipis. Nanti yang ada kamu ngintip!” ucap Shani.

“Iya Shani” balas gue.

 

Dia kemudian masuk ke dalam toilet lagi, gue sekarang Cuma terdiam sambil menunggu ada yang datang.

Kemudian Dokter yang menangani gue datang bersama seorang suster. Mungkin dia akan memeriksa kondisi gue terkini. Tak lama setelah selesai Dokter tersenyum ke arah gue, maklumlah dia akan Dokter perempuan, masih muda pula. Mungkin gue ganteng kali ya, Pede gila :v

Abaikan…

 

“Kondisi kamu udah jauh membaik dari sebelumnya, dan mungkin tinggal tunggu masa pemulihan aja.” ucap Dokter memberitahu.

“Dok, kapan saya bisa pulang ke rumah? Kondisi saya kan udah baikan bukan, Dok?” tanya gue.

“Dengerin kalau Dokter bicara… Kan masih harus pemulihan dulu” Shani tiba-tiba nongol di hadapan gue.

“Eh Shan, bikin kaget aja kamu” ujar gue.

“Perhatikan itu, pacar kamu aja udah ngerti apa yang saya bilang tadi. Kamu harus tunggu sampai masa pemulihan selesai dulu, baru setelah itu boleh pulang” timpal Dokter.

“Iya aja deh kalau gitu” balas gue pasrah.

“Tapi masa pemulihan kamu bisa aja di rumah….” tambah Dokter.

“Beneran Dok, ini serius!!!” ucap gue antusias.

“Iya, seriuslah” jawab Dokter.

 

Suster lalu melepas infus yang menempel di tangan gue, dan Setelah itu Dokter dan suster meninggalkan kamar rawat ini, Shani lalu duduk disamping gue.

“Bisa pulang kan…” ucap Shani senang.

“Iya… aku gak sabar mau jenguk Gaby” ujar gue.

“Kamu buruan ganti deh… habis itu kita pulang. Semua administrasi udah di urus sama Mama kok” ucapnya memberitahu.

“Baik deh, aku ganti dulu yaa..”

“Ini” Shani memberikan gue pakaian.

 

Gue pun lalu ke toilet untuk ganti, setelah selesai gue keluar. Kemudian membantu Shani membereskan semua yang harus diurus dan kami berdua menunggu jemputan datang. Menunggu beberapa saat, Pak Tok datang ke kamar rawat gue, dia lalu membawakan barang-barang gue. Kami pun jalan keluar dari rumah sakit.

Sesampainya di tempat parkir, gue dan Shani masuk ke dalam mobil, Pak Tok memasukkan barang ke bagasi. Kemudian setelah selesai Pak Tok masuk dan menyalakan mesin, mobil pun mulai melaju dan menempuh perjalanan pulang.

Sekitar satu jam perjalanan di tempuh, akhirnya kami sampai di rumah. Kami lalu keluar dari mobil, dengan di bantu Shani kami masuk ke dalam rumah. Dia membantu gue berjalan, karena gue kesulitan kalau harus berjalan sendiri.

 

“Akhirnya sampai juga” ucap gue lega.

Kami berdua duduk di ruang tamu, santai sedikitlah.

 

“Udah tenang kan sampai di rumah” ujar Shani tersenyum.

“Nyaman kalau udah sampai di rumah…. kangen bantal aku di kamar”

“Bantal banyak iler aja di kangeni, aku kapan coba?” Shani melontarkan hal yang lucu di dengar.

“Hahaha, kamu ini ada-ada aja deh. Sini peluk” ucap gue.

Shani lalu menyenderkan kepalanya di bahu gue, dia lalu memejamkan matanya.

 

Bi Sri datang membawakan minuman dan camilan kemari. Baru sakit emang serasa jadi raja deh, tapi nggak enak malahan.

“Orange Juice ditambah Cookies buatan Bibi datang….” Kemudian Bi Sri menaruhnya di meja depan kami.

“Wihh, enak tuh kayanya” Shani lalu mengambil camilan yang dibuat oleh Bi Sri.

“Enakk” ucap Shani sibuk mengunyah.

“Suapi” Gue langsung membuka mulut, Shani lalu mengambil cookies itu dan menyuapkan nya ke dalam mulut gue.

“Enak… cookies buatan Bi Sri emang top deh!” puji gue.

“Ah biasa aja. Yaudah Bibi ke dapur lagi, mau masak untuk tamu. Sekalian buatin minuman teman-teman kalian” Bi Sri lalu meninggalkan kami berdua.

“Oh ya, baru ingat mau kasih tau ke kamu… Nanti Mama aku mau datang kesini loh, tadi soalnya aku cerita ke Mama, kalau kamu udah pulang ke rumah” ucap Shani.

 

Gue mengangguk, kemudian di depan terdengar suara mobil. Sepertinya ada yang datang, apa itu Mama Indira atau teman-teman? Tak lama sekumpulan orang masuk, ternyata yang datang itu teman-teman. Ada Faruk, Ricky, Viny, Kinal, Shanji, Tata dan Gre.

Mereka lalu menghampiri gue dan Shani, dan ikut duduk.

 

“Wah udah pulang aja nih anak, gimana keadaan lo?” tanya Ricky.

“Udah lebih baik sih, Cuma kalau buat jalan belum kuat lama-lama” jawab gue.

“Yang lain masih pada jaga-jaga di rumah sakit Gaby dirawat?” tanya Shani ke Gre.

“Iya Shan, kita bagi tugas nih. Yang lain jaga Gaby dan kita juga mau berjaga di sini” balas Gre.

“Sebelumnya kita udah diskusiin soal ini, dan akhirnya memang kita harus stand by kalau ada hal yang nggak di inginkan terjadi,” tambah Kinal.

“Wil, semalam Verro datang kan?” Faruk bertanya dengan serius.

“Huhhh. Iya, semalam dia datang dan hampir nyakiti Ve… dan dia juga ancam gue macam-macam” jawab gue.

“Tapi lo nggak kenapa-napa kan Wil?” tanya Viny.

“Nggak, gue gak kenapa-napa kok” balas gue tersenyum.

“Syukur deh kalau gitu, Wil… kita takut Verro bakal nekat” ujar Tata.

“Betul kata Tata, Verro sewaktu-waktu bisa nekat kaya tadi malam” ucap Shanji.

“Untuk sementara mending kita sebagian pulang ke Jakarta, itu penting karena kita menghindar dari ulah Verro” ucap gue memberi saran.

“Itu nggak mudah Wil, orang-orang suruhan Verro di Jogja kita nggak tau siapa aja” celetuk Gre.

“Gre benar, tapi saran Willy masuk akal juga. Dan baiknya memang harus di coba!” timpal Ricky.

“Oke, gue juga setuju… tapi lebih baik kita para cewek di prioritaskan lebih dulu pulang” ujar Tata.

“Ya udah, berarti kita pulangkan cewek lebih dulu…” ucap Faruk.

“Aku hubungi yang lain dulu ya…” Shani lalu menelpon teman-teman yang lain.

 

Setelah menunggu kabar, teman-teman yang berjaga di rumah sakit tempat Gaby di rawat setuju dengan saran dari gue. Kami semua yang berkumpul di rumah lalu membuat daftar siapa saja yang akan di pulangkan ke Jakarta.

Gue sempat membisikan sesuatu ke Faruk dan Ricky, gue meminta semua teman-teman lebih baik di pulangkan. Dan yang akan tetap berada di Jogja hanya gue, Kelik, Faruk saja. Yang lain tak perlu di libatkan dalam masalah yang berkaitan dengan Verro.

1 jam lebih berdiakusi semuanya telah sepakat untuk di pulangkan ke Jakarta.

 

“Sesuai apa yang kita diskusikan barusan, semua bakal di pulangkan ke Jakarta, kecuali Gaby. Dan yang akan tinggal disini Cuma 3 orang saja, mereka adalah Willy, Kelik, dan Faruk.” Ucap Ricky menyampaikan hasil itu.

“Aku juga bakal di pulangkan ke Jakarta, sayang?” tanya Shani melihat ke gue. Raut wajahnya membuat gue tak berani menatapnya lama-lama.

“Iya Shan. Itu lebih baik, kamu disana bakal ada yang jagain. Ada Gre, Veranda, Viny, Kinal, Tata dan yang lainnya.” Jawab gue.

“Semua bakal baik-baik aja kok Shan… percaya deh sama kita” ucap Gre tersenyum ke Shani.

“Kita pasrahin aja ke mereka bertiga, aku yakin masalah ini bakal cepet kelar” timpal Kinal dan Tata.

“Berdoa yang terbaik aja” ucap Viny.

Shani tersenyum mendengarnya, dia lalu mengangguk setuju. Kami semua sangat senang sekali, akhirnya Shani mau mengerti dan paham. Semoga masalah ini segera berakhir, gue udah lelah sekali untuk berurusan dengan Verro.

Dia terus saja mengganggu kehidupan gue dan teman-teman yang lain.

 

 

~o0o~

 

Malamnya kami yang berkumpul di rumah gue, makan malam bersama. Mama gue dan Mama Indira sudah datang beberapa menit yang lalu untuk menemani kami. Sebenarnya gue mau membicarakan sesuatu ke Mama Indira, gue mau menjelaskan dan ingin mengakui sesuatu.

Intinya gue mau mengakui kalau gue sempat berhubungan dengan Ve, dan tujuannya hanya ingin mengakui kesalahan. Dan ingin minta pendapat, gue harus bagaimana sekarang menjalin hubungan dengan putri nya.

 

“Mama Indira, bisa bicara berdua? Gue lalu menoleh kearah Shani, dia nampak menghentikan aktivitasnya.

“Bisa… mau bicara soal apa Nak?” tanya Mama Indira.

“Pokoknya penting, Ma” jawab gue.

“Yaudah, kita bicara diatas aja” balas Mama Indira.

Kemudian Mama Indira berjalan lebih dulu, gue kemudian mengekor di belakangnya.

 

…..

Sesampainya diatas, gue dan Mama Indira duduk di kursi balkon kamar gue. Dan momen ini sempat membuat gue tegang dan juga takut, pokoknya semua jadi satu lah.

“Nah, sekarang anak Mama Indira mah bicara kan apa?” ucapnya membuka obrolan.

“Maaf sebelumnya…. Sebenarnya aku mau mengakui sesuatu dan mau tanya apa solusi nya” ucap gue.

“Bilang aja apa adanya, Mama Indira bakal dengerin kamu” ujarnya.

“Jadi sebenarnya… aku mau ngaku kalau sebelum berangkat liburan ke sini, aku punya hubungan sama cewek lain Ma dan waktu itu aku terpaksa terima dia jadi pacarku,” ucap gue menceritakan ke Mama Indira.

“Loh, berarti waktu itu kamu udah tunangan sama Shani kan, Nak?” tanya Mama Indira.

“Iya, Ma… tapi beberapa hari lalu, aku udah putusin hubungan itu atas kemauan Shani” jawab gue.

“Aku menyesal soal itu, Ma” tambah gue.

Mama Indira hanya terdiam setelah gue menceritakan itu semua. Gue sangat tak enak hati, tapi memang dia harus tau yang sebenarnya.

“Kalau boleh tau, siapa gadis itu” tanya Mama Indira.

“Dia Jessica Veranda, kakaknya Gracia… Ma” gue takut sekali menyebut nama Ve yang harus terlibat.

“Kamu minta maaf sama Shani, kamu kan yang punya salah sama dia” ucap Mama Indira.

“Udah Ma…” balas gue.

“Yaudah kalau begitu, Mama Indira salut kamu mau mengakui kesalahanmu. Lain kali jangan lakukan hal yang sama” ujarnya menasehati gue.

 

Dan sekarang gue akan membicarakan maksud lain dari pembicaraan ini.

“Tapi sekarang ada masalah lagi, orang yang tembak aku datang kemarin malam. Dia mengancam sambil menodong pistol ke Ve. Dan dia minta ke aku buat jauhin semua orang-orang yang aku sayang, termasuk Shani. Aku janji bakal penuhi semua kemauannya, tapi aku ingkar sampai sekarang. Dan malam itu juga dia celakai Gaby”

“Astaga, terus apa yang bisa kita lakukan” Mama Indira tampak panik sekali setelah mendengar penjelasan gue.

“Tadinya aku mau mengurungkan buat lakukan ini, Ma. Tapi setelah di pikir-pikir lagi, aku memang harus lakukan rencana ku ini. Aku mau minta tolong ke Mama Indira” ucap gue.

“Apa yang mau kamu lakukan?”

“Aku mau pindah ke luar negeri Tan, dan pilihanku ada di Jepang atau Amerika. Tujuannya masih sama, semua itu aku lakukan karna aku nggak mau orang-orang yang aku sayang enggak di sakiti!” tegas gue.

“Apa Cuma itu solusinya, Nak?” Mama Indira pasti tak ingin menyetujui ini. Tapi gue harus mendesaknya.

“Iya Ma, karena aku yakin kalau orang yang ancam itu semua… nggak main-main” ucap gue.

“Aku nggak mau Shani disakiti juga Ma, tolong bantu aku. Ini yang terbaik” gue memohon ke Mama Indira.

Sedangkan Mama Indira tampak berpikir keras, dia lalu menghela nafas.

 

“Baiklah kalau itu kemauan kamu, Mama Indira bakal bantu kamu… tapi bagaimana dengan Shani?”

“Untuk sementara Shani jangan di kasih tau dulu…. paling enggak biar aku sampai bisa selesaikan semua masalah ini dan orang yang mengancamku ditangkap polisi”

“Baiklah, Mama Indira nggak akan beritahu siapa pun… termasuk Shani.” Ucap Mama Indira tersenyum.

“Kamu anak yang baik. Semoga masalah ini cepat selesai” tambahnya.

“Iya Ma…” balas gue.

“Mama Indira beritahu ini ke Mama kamu dan Tante Margareth” ujarnya.

“Kamu siap-siap aja…. packing semua kebutuhan kamu, nanti barang yang ada di Jakarta biar diurus sama Bi Ijah” ucap Mama Indira.

“Iya Ma, terima kasih sekali lagi…. dan terima kasih udah bantu aku” ucap gue.

“Sama-sama Nak” balasnya.

 

Mama Indira lalu memberitahukan ke Mama gue, dan pada saat itu gue sempat kena omel Mama…. tapi pada akhirnya Mama mau memenuhi keinginan gue untuk pindah, dan akhinya gue memilih Jepang sebagai tujuan gue. Menata hidup dari awal lagi….

 

 

 

~o0o~

 

Esok harinya, kami semua sudah ada di bandara Adi Sucipto. Gue mengantar teman-teman yang akan pulang ke Jakarta, termasuk Shani dan juga Ve. Mama gue dan Mama Indira juga ikut pulang bersama mereka. Segala yang mereka butuhkan sudah disiapkan, dan ini sudah sesuai rencana gue.

Mereka sudah siap dan tinggal boarding pass, Shani menoleh kearah gue. Wajahnya sangat sedih sekali, tangannya tak pernah lepas dari genggaman gue.

 

“Kamu bakal cepet pulang ke Jakarta kan, sayang?” tanya Shani.

“Iya, kamu tenang aja Shani….” jawab gue tersenyum.

“Yang lain udah pada tunggu kamu tuh!” ujar gue menunjuk ke teman-teman.

Shani tetap saja sedih, dia malah menghadap ke gue terus.

 

“Aku, Kelik dan Faruk disini bakal selesaiin semuanya. Kamu jangan khawatir” ucap gue sambil membalikkan badan Shani ke teman-teman.

“Jalan buruan, nanti malah di tinggal kamu” ucap gue mendorongnya perlahan. Tapi Shani memberontak, dia berbalik lagi dan memeluk gue.

“Aku tunggu kamu pulang” ucapnya.

“Iya iya Shani …” gue membalas pelukannya.

 

Shani mencium bibir gue, tak lama dia melepaskannya.

Akhirnya Shani melepas pelukannya, kemudian dia berjalan menyusul lainnya. Gue melambaikan tangan ke Shani, semoga dia mau melupakan gue…. Untuk sementara waktu.

Mereka lalu sudah tak lagi terlihat. Selamat jalan dan jaga diri baik-baik.

 

1 Jam Kemudian ….

 

Gue dan Faruk sekarang berdiri disini… di depan Bandara Adi Sucipto, sebentar lagi gue juga harus berangkat ke Jakarta dengan penerbangan lain. Faruk dan Pak Tok mengantarkan koper gue selama dua hari kedepan gue akan tinggal di kos-kosan punya keluarga Ricky. Sekalian mengurus paspor dan lain sebagainya.

 

“Sebentar lagi jangan lupa, lo berangkat ke Jakarta terus lanjut ke Jepang… biar yang di Jogja gue sama Kelik yang urus dalam 12 hari terakhir ini, sebelum masuk sekolah. Jangan lupa, jaga diri baik-baik…” ucap Faruk.

“Selamat Jalan ya Den Willy, jaga keshatan” ucap Pak Tok.

“Iya …. Tolong jaga Gaby sama Kelik disini.” balas gue ke mereka. Dan dibalas anggukan.

“Gue berangkat dulu….”

Kemudian gue pun berjalan untuk segera berangkat ke Jakarta…..

 

To Be Continued ….

 

 

Created By : Authornya (Id Line : mojo92 / Twitter : @wi_debie92)

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

9 tanggapan untuk “Iridescent Part 19

  1. Ciee liburan ke jepang, habis gajian+terima bonus …. terus gak ngajak-ngajak nih ke Jepangnya …

    Btw gue titip cewek jepang satu yeee, bawain ke rumah wkwkwk

    Lanjut terus dahhh wil

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s